[Chaptered]
[Sequel : You Can't Hear]

Title : Love, Dream and Happiness
Chapter : 04/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Exile - Love, Dream and Happiness


- Sasuke PoV -

Dag Dig Dug! Nguing nguiiiing~
Doki doki, cuy!
Inilah yang kurasakan saat ini, di hari pernikahanku.

Aku terus membaca ulang pesan singkat yang dikirim Dobe tadi. Setidaknya ini bisa mengurangi rasa gugupku.

Hey, Suke! Kau gugup? Akupun begitu.. Hahaahaa...
Aku tidak sabar memperlihatkan wajah tampanku ini padamu.

Kulirik aniki yang sedang tersenyum tidak jelas, dari tadi dia terus tersenyum memandangiku.

"Keriputmu semakin jelas, aniki!",
"Kau membuat keriputku semakin eksis, otouto", senyumnya semakin melebar.
"Baka-aniki!",
"Kau mengejekku, otouto?",
"Kau terlalu banyak senyum, itu membuatmu tampak menyeramkan, aniki",
"Dan kau terlihat tampan ketika tersenyum, otouto", aniki mencubit gemas hidungku.
"Kau merusak dempulanku, baka aniki!", aku balas menarik pipinya.
"Waw, kalian mesrah sekali", seseorang menginterupsi kemesrahan kami.

Kulihat Sai datang dengan pakaian hakama berwarna dark blue.
"Hai, Sai!", sapa aniki.

Seperti biasa, Sai tersenyum palsu di hadapan kami. Aniki keluar sebentar agar Sai bisa berbicara denganku.

Sai memberiku sebucket mawar merah. Cih! Dia kira aku perempuan yang suka dengan bunga norak seperti ini!

"Thanks!", aku mengambil bucket tersebut dan melemparnya dengan malas ke meja.
"Aku tidak menyangka kalau kau masih hidup", Sai mengambil posisi duduk berhadapan denganku.
"Dugaanmu selalu meleset, Sai-yang~ Oh! Lama tidak mendengar kabarmu, kupikir kau sudah mati",

Dia hanya tersenyum. Aku bosan melihatnya tersenyum, jadi aku lebih memilih memainkan game dari tabletku. Sengaja kubesarkan volume game yang sedang kumainkan ini.

"Siapa yang mengundangmu? Seingatku, namamu telah kublacklist dalam daftar undangan", pandanganku masih terfokus pada game.
"Sebenarnya aku tidak ingin datang ke pesta yang hina ini, tapi orang tuaku yang memintaku untuk menggantikannya. Mereka sedang di luar negeri",

Kuso! Dia mau berperang rupanya! Fine! Akan kulayani!

"Oho! Dan kau tidak diajak? Keputusan mereka sangat tepat untuk tidak mengajak BEBAN sepertimu", sindirku.
"Setelah ini aku masih ada urusan penting di Kiri. Kemungkinan besar aku tidak bisa melihat prosesi dua pria yang saling mengikat janji sehidup semati, kemudian berwedding-kiss di hadapan kerabat. Kurasa pemandangan yang menjijikkan itu tidak perlu kulihat. Membayangkannya saja sudah membuatku mual.. Ueeekzzz~",

Cih! Ingin kusumpal mulut usilnya ini dengan kaos kaki Dobe! Biar dia muntah benaran!

"Kau tidak merasa jijik harus berciuman dan melakukan malam pertama bersama seorang pria?",

Mengapa harus jijik? Yang kucium kan Dobe bukan dia?
Malam pertama? Malam apa itu?

"Apa kalian tidak memikirkan tentang pandangan orang lain?",
"Aku sudah memikirkannya! Dan aku tidak peduli!",
"Bagaimana dengan keturunan?",
"Otou-san masih punya aniki",
"Lalu, bagaimana dengan pria itu? Kudengar dia anak tunggal",
"Itu...",

Baru kali ini aku merasa apa yang dikatakan Sai benar. Mengapa aku tidak memikirkan keluarga Dobe?

"Kau terlalu egois, jadi wajar saja kau tidak peduli dan tidak mau tahu tentang kehidupan orang lain",
"Aku tidak egois!"

Benarkah aku egois? Aku tidak egois! Iya kan? Iya kan?

"Egomu terlalu tinggi. Kau anak manja, lemah dan selalu bergantung pada kakakmu. Tidakkah kau kasihan melihat kakakmu yang bekerja ekstra sibuk mengurus perusahaan? Sementara kau hanya bersantai dan berfoya-foya, menikmati hasil kerja keras keluargamu"
"Aku tidak seperti itu!",
"Mereka menyayangimu itu karena kau sakit. Berapa banyak biaya yang mereka keluarkan untuk mengobati penyakitmu? Sebenarnya kaulah BEBAN di keluargamu",

Dengan kesal, kulempar tabletku ke wajahnya. Sialnya dia berhasil menangkapnya.

"Aku bekerja keras dan menyisihkan gajiku untuk membeli barang seperti ini. Kurasa kau mendapatkannya hanya dengan merengek pada papa atau kakak tersayangmu itu. Makanya kau begitu mudah melempar benda ini. Kalaupun ini rusak, kau tidak akan merasa menyesal karena kau bisa membeli yang baru lagi", Sai meletakkan tabletku di atas meja.

Kemudian dia berjalan pergi.
"Inilah yang membuatku benci padamu. Anak manja dan egois sepertimu, seharusnya mati saja", ucap Sai sakartis.

Aku merebahkan tubuhku di atas sofa. Perkataan Sai tadi membuat kepalaku sedikit pusing dan kedua mataku mulai memanas. Kucengkram dadaku yang terasa sesak.

"Mengapa aku harus mati? Aku hanya ingin mereka menyayangiku, apa aku salah?", lirihku.


"Matamu memerah?", aniki melihat kedua mataku dengan seksama.
"Benarkah? Aku sedikit mengantuk", aku melebarkan kedua mataku selebar-lebarnya.
"Hush! Nanti matamu keluar", aniki menyentuh kelopak mataku, tangan aniki terasa hangat.

Aniki kembali membantuku merapikan hakama yang kukenakan. Sudah berapa kali aniki merapikan penampilanku?
Haaah~ Aku benar-benar merepotkan~

Aku terlalu asyik dengan pikiranku sendiri, sehingga aku tidak mendengar perkataan aniki.

"Kau memikirkan sesuatu?", tanya aniki.
"Bukan hal yang penting!", ketusku.

Mengapa aku malah membentak aniki? Ah~ Kurasa aku butuh mendinginkan pikiranku.

Kukatakan pada aniki bahwa aku ingin keluar sebentar mencari angin segar. Ya, hanya sebentar saja. Aku butuh ketenangan.


Aku berjalan menelusuri sebuah jalan setapak, aku tidak tahu jalan ini akan membawaku kemana. Jalan ini cukup sepi dan tenang. Rasanya cocok untuk menenangkan pikiran.

Langkahku terhenti ketika aku menyadari bahwa kuil tempat pernikahanku sudah tidak terlihat. Suasana sekitar sangat sepi, banyak pepohonan yang berguguran.

Sepertinya aku nyasar. Mmm~ Aniki pasti akan mencari dan menemukanku. Ya, aku hanya perlu menunggu aniki.

"Kau anak manja, lemah dan selalu bergantung pada kakakmu"

Perkataan Sai tadi tiba-tiba melintas di pikiranku.

"Aku bisa pulang sendiri!", ketusku.

Aku berbalik melangkah ke tempat semula. Kupercepat jalanku dengan berlari, aku tidak ingin membuat mereka mencemaskanku.

BRaaaaK
Aku terjatuh karena bakiakku putus.

Cih! Aku tidak menyangka aku bisa terjatuh dengan tidak elit seperti ini!

Telapak tangan, siku, lututku, semuanya terasa perih. Aku kesulitan berdiri, kaki kananku sakit. Kuangkat hakamaku, ternyata lututku berdarah.

Kutiup-tiup lututku yang berdarah untuk mengurangi rasa sakit. Kuusap darahku dengan hakama, tidak peduli ini akan mengotori hakamaku. Darahnya belum berhenti, itu karena penyakit yang kuderita.

"Mereka menyayangimu itu karena kau sakit"

"Benarkah kalian menyayangiku, itu karena aku sakit? Ne, otou-san, dulu kau selalu keras dan memarahiku, tapi sekarang kau berubah. Aniki juga ikut berubah, kau selalu cuek dan tidak peduli padaku. Kalian berubah, apa karena aku sakit?",

Tidak! Aku tahu mereka tidak seperti itu! Otou-san menyayangiku karena aku anaknya. Aniku juga menyayangiku, itu karena aku adiknya yang paling imut dan menggemaskan!

"Berapa banyak biaya yang mereka keluarkan untuk mengobati penyakitmu? Sebenarnya kaulah BEBAN di keluargamu"

"Kalau aku bisa memilih, aku juga tidak ingin terlahir sakit seperti ini",

Kugigit bibirku agar isakanku tidak terdengar oleh siapapun. Sebenarnya karena apa aku menangis? Apa karena luka ini terasa perih?

"Sasuke!", terdengar suara cempreng yang memanggilku.

Mengapa dia malah datang di saat aku sedang berpose menyedihkan seperti ini?

"Kau berdarah, Suke!", Dobe menyeka lukaku dengan sapu tangannya. Melihat darahku yang masih terus keluar, Dobe langsung mengalungkan lenganku ke lehernya, bermaksud menggendongku di punggungnya.

Kudorong dia agar menjauh dariku.

"Tinggalkan aku~ Menjauh dariku~", pintaku pelan.
"Kau kenapa lagi, Suke?", Dobe menatapku cemas.
"Mengapa kau menangis?", Dobe menyeka air mata di pipiku.
"Pergi~", lirihku.
"Itachi-san mencemaskanmu ketika menyadari kau menghilang. Kau membuat kami cemas. Kita akan menikah, Suke~", bujuk Dobe.
"Aku tidak ingin menikah denganmu!",
"Mengapa, Suke? Apa lagi yang membuatmu ragu?",
"Pokoknya aku tidak ingin kau menikah denganku! Nikah saja dengan orang lain! Jangan sama aku!",

Baka! Aku bicara apa sih!

Dobe langsung membungkam mulutku dengan ciuman. Ciumannya menenangkanku. Sedari tadi aku butuh ketenangan, dan dia berhasil menenangkanku.

"Apa kau masih ragu padaku, Suke?", tanya Dobe menyudahi ciumannya.

Aku menunduk malu melihat wajahnya yang begitu dekat. Mengapa aku bisa mendadak tenang dengan cara mesum seperti ini?

"Aku akan memciummu terus hingga rasa ragumu itu hilang", Dobe mengkerucutkan bibirnya bersiap-siap ingin menciumku lagi.

Kudorong wajahnya agar menjauh dariku.
"Dasar Dobe mesum!",

Dobe tercengir dan memelukku, dia tidak tahu tanganku sakit karena terjatuh tadi?

"Aku mencintaimu, Suke~ Tidak ada yang lain yang bisa kucintai selain kau. Kau tidak boleh ragu padaku. Aku akan menikahimu, aku bersumpah akan membahagiakanmu dan selalu bersamamu hingga kau bosan melihat wajah jelekku ini",

Aku membalas pelukannya, kupeluk dia dengan erat.
"Maafkan aku~",


Karena kakiku sakit, Dobe menggendongku di punggungnya. Kupeluk erat lehernya agar aku tidak terjatuh.

"Ne, Dobe, mengapa kau mau menikahiku?", aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Karena kau limited edition!",
"Aku memang limited edition, tapi kita sama-sama laki-laki. Bagaimana pandangan orang tentang kita? Lalu, bagaimana dengan...keturunan?", aku sedikit aneh ketika menanyakan tentang keturunan.
"Oo, jadi inikah yang membuatmu ragu, Suke?",
"Maybe~",
"Mungkin ada yang mencemooh hubungan kita, tapi kau tidak perlu cemas, karena ada juga yang mendukung hubungan kita. Aku tetap mencintaimu dan selamanya akan selalu mencintaimu. Kumohon percayalah dan jangan pernah ragu sedikitpun padaku. Mulai sekarang kita akan selalu bersama menempuh jalan yang telah kita pilih ini",

Selama ini aku berusaha untuk tidak peduli dengan pandangan orang lain mengenai hubungan menyimpang seperti kami. Ya, aku tidak peduli, tapi tidak semudah itu. Bagaimanapun juga aku punya telinga yang bisa mendengar omongan mereka di belakangku, aku juga punya mata yang bisa melihat cara pandangan mereka yang berbisik-bisik menatap kami. Aku masih peduli dengan hal itu. Mungkin karena gengsiku yang begitu besar dibanding rasa percayaku pada Dobe.

"Maaf, selama ini aku selalu berjalan sendirian", lirihku.

Dobe menggesek-gesekkan kepalanya ke kepalaku.
"Jangan berjalan sendirian lagi, ya. Aku takut kau diculik orang",
"Tidak ada yang menculikku meskipun aku imut dan menggemaskan!",
"Hahahaaa... Semoga setelah menikahimu, wajahku bisa imut dan menggemaskan sepertimu",
"Kau tetap jelek, Dobe!",

Dobe mencium pipiku.
"Mengenai keturunan, kau tidak perlu cemas. Kita bisa mengadopsi anak",
"Tapi orang tuamu pasti menginginkan cucu kandung. Kau anak tunggal, kau satu-satunya harapan mereka untuk melanjutkan keturunan",
"Pemikiranmu terlalu rumit, Suke. Meskipun aku anak tunggal, menikahimu bukan berarti aku tidak bisa melanjutkan keturunan. Orang tuaku juga tidak mempermasalahkan status anak kita nanti",
"Tapi lebih baik kalau...",
"Kau ingin mengandung anakku?", sela Dobe.
"Aku laki-laki, Dobe!",
"Laki-laki juga bisa mengandung",
"Kalau laki-laki bisa mengandung, aku ingin kau yang mengandung!",
"Baiklah! Biar aku saja yang mengandung, tapi aku ingin kau jadi ibunya",
"Dasar, Dobe!",

Laki-laki mana bisa mengandung? Khayalanmu terlalu aneh.


Sesampainya di kuil.

Aniki langsung memelukku, wajahnya tampak cemas. Otou-san memarahiku habis-habisan, kemudian dia memelukku juga.

Aku telah membuat mereka cemas. Aku benar-benar beban, seperti yang dikatakan Sai.

Sai? Aku tidak melihatnya lagi. Semoga saja dia telah pergi.


Prosesi pernikahanpun dimulai, meski sempat tertunda 1 jam.

Di awal prosesi, kami disucikan oleh pendeta Shinto. Wajah Dobe tampak tegang, mungkin aku lebih tegang darinya. Kemudian kami mengikuti ritual san-sankudo, yaitu ritual menghirup sake sebanyak sembilan kali dari tiga cangkir yang disediakan. Aroma sake membuatku mual.

Setelah itu, pembacaan ikrar dan tukar cincin. Aku tidak menyangka Dobe bisa mengucapkannya dengan lantang dan tepat, kupikir dia akan lebih sering menyengir karena salah pengucapan. Tapi kali ini, dia terlihat serius, jauh dari kesan bodohnya itu.

Lalu? Bagaimana denganku? Ow, aku sih tidak perlu diragukan lagi! Aku kan Uchiha! Eits, tidak dink! Sekarang aku sudah menjadi Uzumaki! Uzumaki Sasuke! Catat itu di otak kalian!

Aku memutuskan untuk melepas nama besar keluargaku, karena aku merasa berbeda dari Uchiha yang lain, mungkin aku Uchiha yang paling imut dan menggemaskan. Bukannya aku tidak pantas atau ingin putus hubungan, aku hanya merasa lebih fresh menggunakan nama keluarga Uzumaki.

Setelah Dobe memasangkan cincin ke jariku, kini tiba giliranku untuk memasangkan cincin di jarinya. Saat aku memasangkan cincin ke jari manis tangan kanan Dobe, aku merasakan ada sengatan di kepala bagian kiriku, tanpa sadar cincin itu terlepas dari tanganku dan menggelinding ke arah para undangan.
"Ma, maaf~", sesalku.

Dobe langsung melompat dari mimbar untuk mencari cincin yang baru saja kujatuhkan. Aku hanya mematung menyaksikan kesibukan para undangan yang turut mencari cincin tersebut.

Cih! Ada apa denganku? Aku tampak seperti orang bodoh dan kikuk saja!

"Ketemu! Yatta Yatta!", seru Dobe kegirangan sambil melompat-lompat victory.

Para undangan tertawa melihat tingkah Dobe yang kekanak-kanakan ini. Aku hanya bisa tersenyum kecil. Dobe memang pintar menghibur dengan kekonyolannya.

Dobe menyerahkan cincin itu padaku.

"Hey, Mr. Tampan! Apa kau terlalu grogi melihat ketampananku?", goda Dobe yang lagi membuat para undangan tertawa.
"Terlalu banyak yang melihatku, aku jadi grogi", cibirku.

Dobe memelukku dan mengelus-elus punggungku.
"Kuharap pelukan ini bisa menenangkanmu", bisiknya.
"Hn",

Acara tukar cincinpun kembali dilanjutkan. Yosha! Kali ini aku berhasil memakaikan cincin di jari manis Dobe!

Setelah itu, anggota keluarga dan kerabat dekat kami saling bergantian minum sake, menandakan persatuan atau ikatan melalui pernikahan.

Tidak ada wedding kiss, karena ini adalah tempat suci dan sakral. Lagi pula aku tidak ingin berciuman di depan umum. Ini akan sangat memalukan.

Ritual yang singkat, tapi terasa lama bagiku. Kepalaku sedikit pusing karena kurang tidur.

Ah~ Setelah ini, aku ingin pulang dan tidur sepuas mungkin.


Dalam perjalanan pulang menuju mansion Dobe, tempat yang akan kutinggali untuk hari ini dan seterusnya bersama suami jelekku.

Aniki ikut mengantar kami, sepertinya dia cemas dengan kondisiku. Apa wajahku ini tampak seperti orang sakit? Aku hanya mengantuk dan...sedikit pusing...

"Kau lelah, Suke?", tanya Dobe sambil menarik kepalaku untuk bersandar di bahunya.
"Hn! Hari yang melelahkan", aku menyamankan diri di bahunya.
"Tidurlah! Jika sudah sampai aku tidak akan membangunkanmu, aku akan menggendongmu ala bridal",
"Hn! Aku bisa bangun sendiri",

Tapi kenyataanya, ketika tiba, aku malah menyuruh Dobe untuk menggendongku di punggungnya. Kepalaku berdenyut-denyut, tubuhku juga terasa berat untuk digerakkan. Aku terlalu capek akhir-akhir ini.

Aniki memberiku 2 butir tablet berwarna pink, obat itu untuk mengatasi rasa sakit di tubuhku. Meskipun sudah dinyatakan sembuh, tapi aku harus menjaga pola makan dan pola hidup, aku dianjurkan untuk banyak istirahat dan menghindari aktifitas berat yang melelahkan.

Sekarang kondisiku benar-benar buruk hingga harus minum obat, mungkin terlalu banyak pikiran, membuatku stress dan kurang tidur.


Sore harinya, Dobe membangunkanku untuk bersiap-siap karena malam nanti ada jamuan di kediaman keluarga Uzumaki.

"Aku masih lelah, padahal aku baru saja tidur. Huh!", protesku.
"Hey, Suke! Aku akan mentransferkan kekuatanku padamu!",

Sepertinya aku pernah mengalami ini.

"Papyuparapapa! Parapampam! Mentransfer energi kepada suamiku Sasuke si teme pantat ayam yang lucu, imut dan menggemaskan cetar membahana badai chidori! Wuluwuluwulu~", Dobe menari-nari tidak jelas, dia tetap konyol seperti dulu.

Ah! Aku memang pernah mengalami ini!
Tapi itu dimana ya? Mengapa aku jadi pikun begini?

"Searching!", Dobe mengkerucutkan bibirnya sambil berputar-putar.

Rasanya sedikit berbeda, tapi aku tahu maksud gerakannya.

Aku menarik lengannya agar dia berhenti berputar, ku dekatkan wajahnya ke wajahku.

"Pairing!", seruku sambil mencium bibirnya yang kerucut ini.

Dobe membalas ciumanku dengan lumatan.

"Kyaaaa! Kau mesum teme~", Dobe berekspresi seperti seorang perempuan yang teraniaya.
"Hey! Kau yang mesum! Kau melumat bibirku!",
"Kau ingin lagi?", kali ini dia berseringai.
"No, Thanks! I'm full!",

Aku segera mengambil pakaian dan ke kamar mandi untuk mandi.


Selesai mandi.

"Kupikir mandimu cepat", cibir Dobe yang sudah berpakaian formal, mengenakan kemeja merah lengan panjang bermotif garis-garis vertikal, celana dasar berwarna hitam.

Dobe sedang duduk di ranjang, sepertinya dia menungguku untuk mengobati lukaku.
"Hn! Sedikit masalah dengan ini", aku menunjuk celana panjang yang kulipat di atas lutut agar tidak mengenai luka di lutut kananku ini.
"Kemarilah! Biar kuobati",

Aku menghampiri Dobe dan duduk sebelah kirinya. Kusodorkan kakiku ke arahnya.

"Kalau ini sakit, teriak saja, kalau perlu jambak rambutku", pesan Dobe.
"Memangnya aku perempuan! Huh!",

Dobe mulai mengoles alkohol di lukaku. Awalnya dingin, tapi luka ini mendadak perih setelah alkohol itu meresap ke lukaku.

"Ini pasti perih, ya?", tanya Dobe sambil meniup-niup lukaku yang baru saja diolesi obat merah.
"It's OK! Aku masih bisa menahannya!",
"Kau ceroboh, Suke~",
"Huh!",
"Tapi kau kuat, sangat kuat!", Dobe tersenyum padaku.

Selain luka di lututku, Dobe juga mengobati luka lecet di kedua telapak tangan dan sikuku. Setelah itu, Dobe menyuruhku memasangkan dasi di lehernya sebagai imbalan telah mengobati lukaku. Aku mendengus sebal padanya ketika dia menciumku tiba-tiba, dia bilang wajahku menggugah selera.

"Please deh, kalau lapar jangan seperti ini!", protesku.
"Wajahmu begitu dekat..heheheee..", cengirnya.
"Aku sedang memasang dasimu!",
"Kau manis, Suke~", desahnya sambil menjilat bibirnya.
"Dobe! Kau makhluk langka yang paling mesum yang pernah kukenal!",
"Langka? Berarti aku limited edition juga donk!", seringainya.
"Huh!",

Mungkin besok dan seterusnya, aku bakal dimesumin olehnya.


Terputus


Apa weddingnya biasa-biasa saja?
Gak pake resepsi, soalnya sasUKE gak doyan pesta.
Gak pake malam pertama, soalnya ini ratenya bukan M.
Pake madu bulan, soalnya sasUKE mau ke Bali #masih planning

Mungkin sasUKEnya rada2 plin-plan dan mudah galaw. Naru harus lebih giat jadi motivator buat yakinin suaminya.

Akhir kata dari Sai : jangan benci aku, huhuhuuu...

Review, please ^^v