[Chaptered]
[Sequel : You Can't Hear]
Title : Love, Dream and Happiness
Chapter : 05/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Exile - Love, Dream and Happiness
Sai pengen eksis juga donk.
Jadi chapter ini special Sai PoV.
"Sasu benci nii-chan!", teriak bocah laki-laki berumur 6 tahun pada seorang bocah laki-laki yang seumuran dengannya.
Wajah bocah itu memerah, kedua matanya sembab, pipi gempalnya basah kerena air mata. Sang nii-chan asyik dengan pikirannya sendiri, hanya terdiam dan memasang wajah datar menyikapi bocah yang sedang terisak di hadapannya.
Bocah itu marah dan melempari patung tanah liat ke arah sang nii-chan. Saking fokusnya sang nii-chan pada bocah yang menangis ini, dia tidak bisa mengelak, akhirnya patung itu menghantam dahinya hingga berdarah.
"Sasu tidak mau tinggal bersama nii-chan! Nii-chan jahaaaat!", raung bocah itu, kemudian dia berlari meninggalkan sang nii-chan.
- Sai PoV -
TiiiTiiiT...TiiiTiiiT...
Bunyi alarm membangunkanku di pagi hari.
"Padahal aku baru saja tertidur~", keluhku.
Dengan bermalas-malasan, aku berjalan untuk mengambil pakaian dan handukku. Kemudian aku berjalan menuju kamar mandi.
Kubasuh wajahku agar rasa kantukku menghilang. Kutatap wajahku yang basah.
"Morning~", aku tersenyum pada bayanganku yang terpantul di cermin.
Narsis? Tidak! Aku tidak narsis! Aku hanya ingin memberi semangat untuk diriku sendiri.
Kusingkirkan poni yang menutupi dahiku. Kusentuh bekas luka di dahi sebelah kiriku. Setiap kali aku melihat bekas luka ini, aku selalu teringat dengan sifat menyebalkannya, Uchiha Sasuke, adik sepupu yang kusayangi dulu.
Hari ini, dia akan menikah.
Awal perkenalan kami, yaitu saat kami berumur 5 tahun. Dia dititipkan oleh keluarganya di rumah kami, di Suna. Orang tuanya ingin menyekolahkan Sasuke di TK yang sama denganku. Mereka takut tidak ada yang menemani Sasuke, karena mereka adalah orang tua yang super sibuk, sedangkan Itachi-nii -kakak laki-laki Sasuke- sibuk dengan sekolahnya, lagi pula akan memudahkan Sasuke dalam bergaul, karena kami seumuran.
Aku senang dengan keputusan ini. Papaku bilang, aku harus menjaga Sasuke dengan baik, memperlakukannya sebagai adik kandung sendiri.
Hn! Aku akan melindunginya, karena aku ingin sekali punya adik. Sasuke adalah adik yang manis. Aku menyukainya.
"Sasu-chan belum tidur?", aku dapat mendengar suara isakan pelan Sasuke yang terbaring di sebelahku.
Meskipun Sasuke anak yang penurut, tapi dia terlalu manja dan cengeng. Mungkin perlu waktu untuk dia beradaptasi.
"Mr. Roary...hiks.. belum datang?", tanya Sasuke.
Mr. Roary adalah boneka dinosaurus pemberian Itachi-nii di hari ulang tahunnya yang ke 4. Sasuke tidak bisa tidur tanpa memeluk Mr. Roary. Selama di sini, dia selalu menangis hingga akhirnya dia tertidur dengan sendirinya. Fugaku-jisan -Papa Sasuke- berjanji akan membawakan Mr. Roary yang tertinggal di Konoha, tapi sampai hari ke 3 Sasuke tinggal, Mr. Roary tidak kunjung datang. Dasar PHP!
Kubawa Sasuke dalam pelukanku.
"Di Konoha, Sasu-chan punya Mr. Roary. Tapi di Suna, Sasu-chan punya nii-chan",
"Nii-chan berbeda. Mr. Roary...hiks..hiks..", meskipun Sasuke sempat memprotes, tapi dia tetap memelukku.
Kuusap-usap punggungnya agar isakannya berhenti.
"Lullaby and good night. In the sky stars are bright. Round your head, flowers gay. Set your slumbers till day", aku menyanyikan lagu 'Brahms' Lullaby', lagu yang ingin kunyanyikan untuk menina-bobo-kan adikku kelak.
Aku tidak menyangka lagu ini benar-benar bisa menidurkan Sasuke.
Ini sudah 2 minggu, Sasuke di sini. Dia sudah terbiasa tidur tanpa Mr. Roary yang kusembunyikan di atas lemari, tempat yang tidak bisa dijangkau Sasuke. Aku tidak ingin Sasuke memeluk boneka itu, aku hanya ingin menidurkannya dengan caraku sendiri, cara seorang kakak.
Setiap malam sebelum tidur, aku selalu memeluk dan mengusap-usap punggungnya, aku juga menyanyikan lagu 'Brahms' Lullaby' sebagai penghantar tidur untuknya.
"Nii-chan! Nii-chan! Sasu mau itu!", seru Sasuke antusias ketika kami melewati mesin minuman yang terletak di depan mini market.
Aku senang dia memanggilku 'Nii-chan', meskipun umur kami hanya terpaut 4 bulan. Sebenarnya aku yang memintanya untuk memanggilku 'Nii-chan'. Hehehee...
Sejak dulu aku menginginkan seorang adik, tapi orang tuaku tidak ingin mengabulkannya. Mereka bilang, mengurus diriku seorang ini saja sudah sangat merepotkan, apa lagi jika ditambah seorang lagi? Apakah anak adalah hal yang sangat merepotkan bagi orang tua?
"Jus tomat! Jus tomat! Nii-chan!", Sasuke melompat-lompat sambil menarik-narik bajuku.
Aku merogoh saku celanaku untuk mengambil beberapa koin. Kumasukkan koin tersebut ke dalam mesin, kemudian aku menekan tombol pilihan jus tomat.
KLuuuuNG
Sekaleng jus tomat keluar dari mesin.
"Iiyeeey!", Sasuke langsung mengambil jus tomat, tapi dia tampak kesulitan untuk membukanya.
Aku membantu Sasuke membukanya.
"Arigatou, nii-chan!", Sasuke meneguk cepat jus tomatnya, sepertinya dia haus.
"Hn!", gumanku.
"Nii-chan, arigatou!", ulangnya.
"Hn!", anggukku.
Wajah riang Sasuke mendadak murung. Apa jusnya tidak enak?
"Nii-chan! Nii-chan!", teriak Sasuke ketika aku baru saja pulang bermain bola. Sasuke tidak ikut bermain, karena sedang menunggu kedatangan Mikoto-san -Mama Sasuke-.
Sasuke menarikku ke kamar kami di lantai 2. Sepertinya Mikoto-san sudah pulang, karena aku tidak melihat keberadaanya.
"Bagaimana cara mengambil gambar dengan menggunakan ini?", Sasuke menyerahkan sebuah ponsel flip padaku.
Beruntung ponsel flip ini mempunyai fitur dan settingan standar, jadi aku bisa dengan mudah menjelaskannya. Setelah mengajarinya cara mengambil gambar, Sasuke ingin berfoto denganku. Sebenarnya aku tidak suka difoto, tapi aku lebih tidak suka melihat wajah murung Sasuke.
"Iiyeeeey!", Sasuke tersenyum puas pada foto selfie kami.
"Sasu suka nii-chan yang tersenyum seperti ini!", Sasuke memperlihatkan foto tadi padaku.
Di foto itu, aku dan Sasuke tersenyum. Aku tidak menyangka aku bisa tersenyum seperti ini, biasanya ekspresiku selalu datar tanpa senyum.
Sasuke menarik gemas pipiku.
"Teruslah tersenyum, nii-chan!", pinta Sasuke.
Tersenyum?
Ya, hanya tersenyum! Itu tidak berat bukan?
"Hn!", anggukku tersenyum.
"Iiyeeeey!",
Sasuke merebahkan diri dengan pahaku sebagai bantal, tangannya masih tidak mau menjauh dari pipiku, kini dia sedang menoel-noel pipiku.
"Dei-nii galak dan selalu marah-marah, tapi ketika berfoto bersama aniki, Dei-nii tersenyum, galaknya menghilang. Sasu minta okasan belikan ponsel, biar bisa berfoto dengan nii-chan. Sasu ingin nii-chan tersenyum, habisnya kata teman-teman, nii-chan galak sih, padahal nii-chan itu baik", celotehnya.
"Nii-chan galak ya? Hahahaaa...", tawaku garing.
"Iiyeeey! Nii-chan tertawa! Sasu berhasil! Arigatou, Shiro-chan!", Sasuke mencium ponsel barunya yang kini dinamainya 'Shiro-chan'.
"Ada-ada saja, adikku ini!", kucibit gemas hidung peseknya.
Semenjak aku merubah ekspresi datar dan angkuh menjadi ramah dan murah senyum pada siapapun. Semuanya mulai berubah, aku punya banyak teman. Biasanya aku selalu dijauhi teman-teman sekelas karena wajahku menakutkan seperti mayat.
Ini karena Sasuke yang terus menarik pipiku ketika aku tidak mau tersenyum.
Sasuke demam karena kehujanan. Mama memarahiku karena aku tidak menjaga Sasuke dengan baik. Padahal aku sudah memayungi Sasuke agar tidak kehujanan, dan memberikan jaketku padanya, tapi tetap saja Sasuke demam. Seharusnya aku tidak perlu menuruti keinginan Sasuke yang ingin ikut berbelanja denganku.
"Aniki~", ngigau Sasuke.
"Ini nii-chan", kusentuh pipinya yang hangat.
Sasuke enggan membuka kedua matanya. Mulutnya terus memanggil-manggil Itachi-nii, sang aniki.
"Aniki~jemput Sasu~ Sasu sakit~",
"Nii-chan di sini, Sasu-chan",
"Aniki~",
Kututup mulut Sasuke yang terus-terusan mengucapkan kata 'aniki'.
Aku tidak ingin Sasuke terus memanggil orang yang tidak bisa mendengarkannya.
Panggil aku, Sasuke! Aku mendengarkanmu! Aku ada di sini!
Beberapa hari, setelah Sasuke sembuh dari demam.
Di kelas.
"Ah! Nii-chan! Jangan bergerak, Sasu belum selesai!", protes Sasuke yang sibuk melukis wajahku.
Sensei menyuruh kami untuk melukis sesuatu. Sasuke memutuskan untuk melukisku. Aku juga ikut melukis wajah Sasuke.
"Sudah selesai?", tanyaku.
"Belum, sedikit lagi", Mata Sasuke menatap wajahku dengan seksama, wajahnya tampak serius, gayanya yang seperti pelukis profesional ini membuatku tertawa geli.
Beberapa menit kemudian, lukisan Sasuke telah selesai.
"Sensei! Lukisan Sasu selesai!", Sasuke langsung berlari ke depan kelas, padahal aku ingin melihat hasilnya.
Sensei menyuruh Sasuke untuk menceritakan lukisan yang dibuatnya. Sasuke menunjukkan lukisannya pada kami semua. Seorang anak laki-laki berwajah bulat, berambut hitam jamur, mata anak itu sebulat koin, ada garis melengkung ke atas di wajahnya. Apa itu aku?
Meskipun berantakan dan tidak mirip wajahku, tapi aku senang dia mau memilihku di antara banyak objek di sekitarnya.
"Uchiha Sai, nii-chan Sasu yang baik hati dan tidak sombong! Nii-chan selalu menyanyikan lagu nanana~ nananana~ *irama Brahms' Lullaby* di malam hari. Pagi harinya nii-chan membangunkan Sasu untuk ke sekolah. Mandi dan makan bersama nii-chan. Nii-chan juga membantu Sasu mengikat tali sepatu. Sepanjang jalan nii-chan terus menggandeng tangan Sasu, nii-chan takut Sasu diculik orang karena Sasu lucu, imut dan menggemaskan. Belajar dan bermain bersama nii-chan terasa saaaangat menyenangkan!", celoteh Sasuke seperti seorang story telling.
"Dia pembantumu?", tanya Suigetsu mengejek.
"Nii-chan! Bukan pembantu, Sui!",
"Caramu bercerita seperti menceritakan tentang seorang pembantu yang menjaga anak manja", ejek Suigetsu lagi, kemudian terdengar tawa dari teman-teman sekelas.
Sasuke melempari wajah Suigetsu dengan penghapus papan tulis di dekatnya.
"Sui iri karena tidak punya kakak seperti nii-chan!", teriak Sasuke.
"Mengapa Sasu mengasari Sui? Cepat minta maaf pada Sui", tegur sensei.
"Sensei, Sasu tidak salah~", protes Sasuke memelas.
"Sasu melempari Sui dengan penghapus, itu menyakiti Sui. Sesama teman tidak boleh saling menyakiti. Sasu mau jadi anak nakal, ya?", jelas sensei.
"Sasu tidak nakal!", teriak Sasuke.
Sasuke berlari ke arah Sui.
"Sakit, ya?", tanya Sasuke membersihkan sisa kapur di rambut Suigetsu.
"Sasu minta maaf, tapi lain kali Sui jangan berkata seperti tadi lagi, ya? Sasu tidak suka",
Suigetsu hanya mendengus. Aku tersenyum melihat sikap Sasuke. Dia membelaku, aku senang!
Sepulang sekolah, Sasuke langsung berlari ke kamar setelah mengucapkan 'Tadaima'. Dengan antusias dia menempel lukisan kami buat di sekolah di dinding meja belajar.
"Nii-chan pintar melukis Sasu!", puji Sasuke sambil menatap kagum pada lukisan wajahnya buatanku tadi di sekolah.
Bukan sombong, aku memang pandai melukis, bakat dari mamaku. Tapi sayang, papa tidak suka jika aku melukis. Beliau ingin aku menerusi perusahaanya, karena aku anak tunggal satu-satunya yang beliau miliki.
Aku mencubit gemas pipi gempal Sasuke, aku suka mencubitnya. Dia imut sih!
Sasuke mengusap-ngusap kepalaku. Aku sedikit heran dengan tingkahnya ini. Kalau orang tuaku melihat ini, mereka pasti akan menegur Sasuke karena telah bertindak tidak sopan.
"Ketika aniki bangga dan sayang pada Sasu, aniki akan mengusap-ngusap kepala Sasu. Sasu bangga dan sayang nii-chan!", Sasuke masih betah mengusap-usap kepalaku.
Aku juga mengusap-usap kepalanya.
"Sasu, adik nii-chan tersayang!",
Sasuke tersenyum senang bagai seekor kucing yang diusap-usap. Ternyata dia suka diusap-usap.
"Okasan, suruh aniki ke sini~ Sasu kangen~", rengek Sasuke pada mamanya di telepon.
"Aaa~ Okasan~ Sasu ingin bermain bersama aniki~",
Mengapa harus Itachi-nii lagi? Apa aku tidak bisa menjadi kakak kesayanganmu?
Itachi-nii tidak pernah mengunjungi Sasuke. Bahkan dia tidak pernah menelepon Sasuke terlebih dahulu, selama ini Sasukelah yang menghubungi Itachi-nii. Sasuke bercerita panjang lebar pada Itachi-nii, tapi Itachi-nii hanya mendengar saja dan diakhiri dengan pesan agar Sasuke jangan nakal. Itachi-nii juga tidak pernah mau tahu tentang keadaan Sasuke.
Rasanya aku ingin meminta Itachi-nii untuk memberikan Sasuke padaku. Itachi-nii tidak pantas menjadi kakak bagi Sasuke. Hanya akulah yang pantas! Hanya aku!
Lagi lagi Sasuke melempari Suigetsu, kali ini dengan buku. Aku tidak tahu apa penyebabnya? Ketika ditanyai wali kelas, Sasuke hanya menangis sambil memanggil-manggil mamanya.
Sepulang sekolah, Sasuke langsung mengurung diri di kamar. Aku membujuknya dengan jus tomat kesukaannya agar dia mau bercerita, tapi dia malah menangis.
"Okasan...hiks...hiks...",
"Ada apa, Sasu-chan?", aku mengelus-elus punggungnya.
"Sasu mau pulang, nii-chan~",
"Pulang? Lho? Ini kan rumah Sasu-chan",
Sasuke menggeleng kuat.
"Sasu ingin berkumpul bersama otou-san, okasan, dan aniki~",
"Nii-chan juga kakak Sasu-chan kan?",
"Tapi Sasu ingin bersama mereka...hiks..hiks.. Sui bilang, mereka membuang Sasu...hiks...hiks... Mereka tidak ingin bersama Sasu, kerena Sasu nakal... Sasu tidak nakal kan, nii-chan?",
Kuseka air mata di pipinya. Rasanya ingin menghajar Suigetsu yang telah membuat Sasuke menangis seperti ini.
"Sasu-chan tidak nakal. Semua menyayangi Sasu-chan. Mereka tidak mungkin membuang Sasu-chan. Sasu-chan itu...lucu", kutoel hidungnya.
"...imut...", kucubit pipinya dengan gemas.
"...dan meeeeenggemaskan!", aku gregetan memeluknya.
"Sasu tidak nakal... Sasu lucu, imut, dan menggemaskan", Sasuke membalas pelukanku.
Akhirnya Sasuke berhenti menangis, aku senang bisa menghibur Sasuke ketika dia menangis.
Iiyeeeey! Aku kakak yang baik!
Ketika jam istirahat, Suigetsu datang merebut dan memakan bento milik Sasuke. Suigetsu suka sekali mengganggu Sasuke.
"Ah! Tomat Sasu! Huuueee~", Sasuke langsung menangis ketika tomatnya dibuang oleh Suigetsu.
Aku marah dan langsung melayangkan tinjuku ke wajah Suigetsu. Suigetsu membalas tunjuku dengan menendang perutku. Terjadilah perkelahian di kelas kami.
"Nii-chan! Sasu takut! Okasan! Aniki! Tolong!", raung Sasuke ketakutan.
Aku tidak bisa melihat dengan jelas keberadaan Sasuke. Suigetsu terus memiting leherku. Aku kesulitan bernafas, pandanganku mulai kabur. Dalam pendengaranku terus terdengar tangisan Sasuke. Dengan sekuat tenaga, kudorong tubuh Suigetsu hingga pitingannya terlepas. Aku terjongkok karena tubuhku lemas.
PRaaaaNG
Ada sesuatu yang pecah ketika aku mendorong Suigeitsu.
"KYaaaa! Berdarah! Sasuke berdarah!", teriak seorang anak perempuan.
"Sasuke berdarah?", gumanku, kuharap aku salah dengar.
"OKASAN! SAKIT! TANGAN SASU! AAAA!", jerit Sasuke sekuat mungkin.
Aku mencoba berdiri dan berjalan mendekati kerumunan. Dadaku sakit mendengar jeritan Sasuke yang memilukan. Aku sangat terkejut ketika melihat telapak tangan kiri Sasuke berdarah. Pecahan gelas menembus tangan kecilnya.
Aku langsung memeluk Sasuke yang masih menjerit dan menangis kesakitan. Aku melukai Sasuke! Aku gagal melindunginya!
"Aniki, sakit~",
Mengapa bukan 'nii-chan' yang kau panggil?
"Nii-chan di sini", bisikku.
Sasuke! Kumohon, pangil aku! Jangan 'Okasan' ataupun 'Aniki', mereka tidak ada di sini! Hanya ada 'Nii-chan'!
Karena kecelakaan itu, keluarga Sasuke langsung datang ke Suna. Mikoto-san marah dan menamparku, beliau marah karena aku telah melukai Sasuke. Sebenarnya aku tidak sengaja, aku hanya mendorong Suigetsu. Tapi aku tidak menyangka tubuh Suigetsu jatuh menabrak Sasuke. Sasuke terjatuh menimpa pecahan gelas yang -mungkin- terjatuh akibat perkelahian kami.
Mama hanya diam saja ketika aku ditampar. Mama malah ikut memarahiku. Tidak ada yang membelaku.
Aku ingin menangis, tapi aku tidak boleh menangis. Aku tidak ingin dinilai cengeng! Aku adalah kakak yang kuat!
Sesuatu yang dingin tiba-tiba menyentuh pipiku, menyadarkanku dari lamunan.
"Sasuke bilang, kau suka jus melon", Itachi-nii memberiku sekaleng jus melon.
"Arigatou", Aku mengambil jus pemberian Itachi-nii.
"Maaf, adikku telah merepotkanmu", Itachi-nii tersenyum lembut.
"Sasuke tidak merepotkan!", bantahku.
Itachi-nii malah tersenyum lagi.
"Mungkin, okasan akan membawa Sasuke kembali ke Konoha",
"Jangan ambil Sasuke!",
"Mengambil Sasuke?",
"Kumohon...jangan... Jangan ambil Sasuke~ Berikan Sasuke padaku, Itachi-nii~", pintaku terisak, tangisan yang ingin kutahan akhirnya pecah.
Rasanya sesak ketika Itachi-nii berkata ingin membawa Sasuke pergi.
"Aku...ingin punya adik... Aku...ingin menjadi seorang kakak...",
Itachi-nii memelukku.
"Sasuke bawel lho",
"Aku senang mendengar celotehannya",
"Sasuke manja dan cengeng",
"Aku bisa mengatasinya",
"Sasuke juga...",
"Stop! Jangan menjelek-jelekkan Sasuke!",
"Hahaaahaa...", Itachi-nii tertawa pelan.
Mengapa Itachi-nii tertawa?
Kami-sam, kumohon, jangan biarkan siapapun mengambil Sasuke dariku.
Keesokan harinya, Sasuke sudah boleh pulang dari rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang dikatakan Itachi-nii sehingga Mikoto-san tidak jadi mengambil Sasuke.
"Aniki mau pergi?", tanya Sasuke, wajahnya memerah menahan tangis.
"Aniki harus sekolah besok",
"Aniki tidak ingin bermain bersama Sasu?",
"Aniki tidak bisa bermain. Kau bisa bermain dengan Sai",
"Sasu mau aniki...hiks...hiks...",
Itachi-nii melirikku, tatapan matanya mengisyaratkanku untuk menjaganya.
"Jangan nakal ya, otouto! Jya!", Itachi-nii langsung pamit.
"Aniki~", Sasuke berusaha mengejar Itachi-nii.
Aku berlari mencegah Sasuke. Kukatakan padanya bahwa dia jelek ketika menangis. Sasuke segera mengusap air mata dan ingusnya, dia berhenti menangis.
"Sasu tidak jelek kan?", tanya Sasuke polos.
"Senyumnya mana?",
Sasuke tersenyum lebar.
"Tinggal sama nii-chan ya?", bujukku.
Bukannya mengangguk, tapi Sasuke malah bertanya.
"Mengapa aniki tidak mau bersama Sasu?",
"Itachi-nii sudah besar. Sasu kan masih kecil. Main sama nii-chan saja ya?", aku tidak tahu harus membujuknya seperti apa?
Sasuke akhirnya mengangguk pelan.
"Sasu ingin cepat besar biar bisa bermain bersama aniki!",
Kuelus-elus kepalanya sampai dia tersenyum.
Jika kau besar nanti, kuharap kau melupakan anikimu itu.
"Iiyeeeey! Sudah sembuh!", seru Sasuke memamerkan telapak tangan kirinya.
Meskipun lukanya telah mengering dan sembuh, tapi luka di punggung tangannya ini meninggalkan bekas. Luka ini mengingatkanku akan kebodohanku, aku menyesal telah membuat tangan mungil yang putih dan mulus ini cacat.
Sekarang kami adalah murid kelas 1 di SD Sunagakure.
"Iiyeeey! Sekolah baru! Kelas baru! Seragam baru! Teman baru!", seru Sasuke berjalan sambil melompat-lompat.
"Sasu-chan, nanti bisa ja...",
BRuuuuK
Sasuke terjatuh.
"Huueee~", Sasuke langsung menangis karena lutut dan sikunya berdarah.
Sasuke tetap cengeng seperti biasa. Aku bingung bagaimana caranya agar dia tidak cengeng?
Huf~
Aku akan dimarahi mama lagi~
Setiap kali Sasuke terjatuh, lecet dan terluka, Mama pasti akan memarahiku. Mama bilang, aku tidak becus menjadi seorang kakak dan beruntung beliau tidak memberiku seorang adik.
Aku tidak perlu adik lagi, karena aku sudah punya Sasuke.
Ulang tahun Sasuke sebentar lagi. Mama ingin membuat pesta yang wow untuk Sasuke. Berbeda dengan ulang tahunku yang tidak disadari oleh orang tuaku. Tapi aku tidak peduli, karena Sasuke mengingatnya. Dia memberiku sebuah kalung berbandul buah melon. Ini kado paling spesial dari kado yang pernah kudapat.
"Ne, Sasu-chan, ada sesuatu yang kau inginkan?", tanyaku.
"Sasu ingin digendong!", jawab Sasuke dengan tatapan penuh harap.
Aku menggendong Sasuke di punggungku, dia berat juga. Aku harus membesarkan badanku agar aku lebih mudah menggendongnya kelak.
"Adakah sesuatu yang Sasu-chan inginkan tapi masih belum mendapatkannya?", tanyaku lagi, semoga dia tidak menjawab 'tomat'.
"Mmmm~apa ya?", pikir Sasuke.
"Hayooo~",
"Ah! Sasu ingin bermain bersama aniki!", seru Sasuke.
"Yang lain?",
"Sasu ingin aniki memakai kostum badut sambil bermain sepeda roda satu!",
"Yang lain?",
"Sasu ingin melihat hanabi bersama aniki!",
"Yang lain, Sasu-chan!",
"Sasu ingin aniki...",
"Aniki, aniki, aniki! Yang ada di pikiranmu hanya aniki!", ketusku.
Sasuke langsung melompat turun dari punggungku.
"Nii-chan...", Sasuke menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Kemudian Sasuke berlari ketakutan.
"Baka!", umpatku pada diriku dan juga pada Sasuke.
Tingkah menyebalkan Sasuke membuatku lepas kontrol.
Malam harinya, Sasuke tidak ingin tidur bersamaku. Dia memilih untuk tidur di kamar orang tuaku. Sasuke mengadu pada mama bahwa aku membentaknya. Mamapun memarahiku.
Ada rasa kesal di benakku. Aku tidak salah, mengapa aku harus dimarahi? Yang salah itu Sasuke karena dia terus menyinggung aniki tersayangnya itu! Aku marah pada Sasuke, dia tidak pernah menganggapku kakak terbaiknya!
Keesokan harinya, aku terpaksa mengalah dan meminta maaf pada Sasuke. Sasuke menangis dan memelukku. Dia memintaku untuk tidak membentaknya lagi. Dia sangat takut...
Sebenarnya aku ini kenapa? Aku tidak ingin membuatnya menangis, tapi aku malah membentaknya.
Kurasa jiwa seorang kakakku mulai berubah.
Hari ini ulang tahun Sasuke. Aku memberinya boneka tomat yang besar.
"Iiyeeey! Arigatou, nii-chan! Sasu suka!", Sasuke memeluk gemas boneka tomat pemberianku.
Pestanya sangat meriah, penuh dengan makanan manis. Padahal Sasuke tidak suka manis. Dasar mama payah!
Setelah pesta berakhir, Sasuke tampak murung karena keluarganya tidak bisa datang. Itachi-nii menghubungi Sasuke untuk minta maaf karena tidak bisa datang, Itachi-nii mengirimkan sebuah kado untuknya. Wajah Sasuke kembali berseri, dia tidak sabar menunggu kedatangan kado dari sang aniki tercinta.
Kuharap kado itu tidak pernah datang.
Tapi, keesokan harinya, kado itu datang. Sebuah buku dongeng yang cukup tebal. Setiap malam Sasuke selalu memintaku untuk membacakan 1 dongeng sebelum tidur.
Dia sudah tidak tertarik mendengar nanyianku lagi.
Pagi ini, Sasuke tampak lemas, dia ditegur sensei karena tertidur di kelas.
Sasuke tidak memakan bentonya, dia hanya tidur, menyandarkan kepalanya di meja.
"Sasu-chan sakit?", tanyaku.
Kusentuh dahinya, terasa hangat. Dia demam.
"Kita pulang ya?", aku menariknya berdiri, tapi Sasuke malah mendorongku.
"Nii-chan, Sasu ingin aniki~", pinta Sasuke.
"Itachi-nii sibuk!", tegasku.
"Sasu ingin aniki jemput Sasu!", Sasuke meninggikan suaranya.
"Nii-chan saja yang...",
"Sasu mau aniki! Tidak mau nii-chan!", teriak Sasuke emosi.
Ini pertama kalinya Sasuke berteriak padaku.
"Sasu-chan nakal! Tidak patuh pada nii-chan!",
Sasuke marah dan mendorongku hingga terjatuh.
"Sasu tidak nakal! Sasu ingin aniki! Aniki!", Sasuke marah dan mendorong meja, aku cepat berdiri sebelum meja itu mengenaiku.
PLaaaaK
Aku menampar pipi gempal Sasuke.
Tanganku bergerak sendiri. Pikiranku sangat kacau!
"Ma, maafkan nii-chan!", aku berlari meninggalkan Sasuke yang mematung menatapku.
Aku kakak yang jahat ternyata!
Tidak! Aku tidak jahat!
Aku seperti ini karena Sasuke yang menyebalkan, dia sudah tidak menyayangiku lagi!
Setelah kejadian itu, aku merasa ada jarak di antara kami. Sasuke tidak bawel seperti dulu, dia lebih banyak diam.
Dia mulai menjauh dariku, dia malah semakin dekat dengan mama. Mama mencurigai bahwa aku mengasarinya lagi, tapi Sasuke dengan cepat membelaku, dia bilang dia hanya kangen mamanya.
Karena tidak ingin membuat Sasuke sakit gara-gara kangen, akhirnya mama membawa Sasuke ke Konoha untuk bertemu keluarganya.
Aku tidak melarangnya. Aku juga tidak merasa takut jika Sasuke tidak kembali lagi ke sini. Tidak ada suara berisik yang terus merapalkan kata 'aniki' lagi.
Aku kenapa ya? Apa aku sudah tidak menginginkan Sasuke lagi?
Sudah 3 hari, Sasuke di Konoha.
"Dia tidak akan kembali", gumanku sambil menatap sendu kedua lukisan yang tertempel di dinding dekat meja belajar.
Pandanganku teralih pada buku dongeng milik Sasuke.
"Ini sudah tidak berguna lagi!", aku merobek-robek buku dongeng itu dan membuangnya ke tong sampah.
Kujatuhkan diriku di atas ranjang. Kupejamkan kedua mataku, mengingat kembali kenanganku bersama Sasuke.
"Dia bukan adikmu. Dia adik orang lain. Kau terlalu lama bermimpi, saatnya kau bangun, Sai!", aku tersenyum kecut pada diriku sendiri.
Obsesiku membuatku terlihat konyol.
2 hari kemudian.
Sepulang dari sekolah, aku dikejutkan dengan keberadaan Sasuke di kamarku.
Dia terduduk di lantai sambil terisak, tangannya sibuk menyusun lembaran buku dongeng yang kurobek kemarin.
Aku menghampiri dan menariknya berdiri.
"Itu sudah robek!",
"Sasu mau betulkan!",
"Nii-chan belikan yang baru!",
"Ini kado aniki! Sasu...",
Kudorong dia hingga terjatuh di atas ranjang. Aku memungut robekan-robekan buku dongeng di lantai dan membuangnya ke tong sampah. Sasuke marah dan memukul-mukul kepalaku. Aku menghentikan tingkah brutalnya ini dengan sebuah tamparan di pipinya.
"Sakit, nii-chan...hiks..hiks..", Sasuke memegang pipinya yang panas.
"Sasu-chan nakal! Nii-chan marah!",
"Sasu tidak nakal!",
"Sasu-chan nakal, cengeng dan manja! Nii-chan benci itu!",
"Sasu benci nii-chan!",
Kau benci padaku? Seharusnya akulah yang membencimu.
Kau tidak pernah menganggapku penting. Di otakmu hanya ada Itachi-nii.
BuuuuG
Sesuatu yang keras menghantam dahiku.
Di dekat kakiku, kulihat sebuah patung tanah liat berbentuk bebek yang dulu pernah dibuat Sasuke untukku. Sasuke baru saja melempar patung tersebut di dahiku.
"Sasu tidak mau tinggal bersama nii-chan! Nii-chan jahaaaat!", raung Sasuke, kemudian dia berlari meninggalkanku.
Sasuke mengadu pada mama bahwa aku menamparnya. Dengan tegas aku membantahnya, kukatakan bahwa Sasuke berbohong, dialah yang melempariku dengan patung tanah liat hingga dahiku berdarah. Ini pertama kalinya mama membelaku. Mama menegur Sasuke dengan halus, tapi Sasuke malah menangis. Dasar cengeng!
Aku benci orang yang cengeng dan manja!
"Mama, Sasu-chan nakal, Sasu-chan sudah tidak sayang padaku lagi", aku merengek dan memasang wajah sedih.
Ini pertama kalinya juga aku merengek pada mama. Biasanya aku tidak pernah merengek, karena merengek adalah sikap yang paling kubenci.
Sasuke suka merengek pada siapapun, semua yang diinginkannya didapat dengan mudah hanya dengan merengek dan menangis. Mungkin inilah yang membuatku mulai tidak suka padanya.
"Sasu tidak nakal!", teriak Sasuke.
"Sasu-chan, jangan berteriak", tegur Mama halus.
"Sasu tidak nakal...hiks..hiks... Aniki~", Sasuke kembali menangis.
Huf~ Aku muak mendengar tangisannya.
"Sasu mau pulang~ Sasu tidak mau tinggal di sini lagi~ Tidak ada yang menyayangi Sasu~", Sasuke langsung berlari keluar rumah.
Mama memijit dahinya yang pusing. Mama menyuruhku untuk mengejar Sasuke.
Mama tidak punya perasaan, padahal dahi anak kandungnya ini baru saja diobati!
"Hey, anak nakal!", teriakku.
Sasuke menghentikan langkahnya, dia berbalik menatapku.
"Sasu tidak nakal!",
"Lalu? Ini apa?", kuperlihatkan luka di dahi kiriku yang sudah diplester.
Kucengkram bahunya dengan kuat, hingga dia meringis. Kutatap dia dengan tajam, tubuhnya bergetar ketakutan.
"Aniki, Sasu takut huuee~", dia kembali menangis.
"Kau mau diam, atau kutampar!", bentaku sambil melotot padanya.
Sasuke semakin kuat menangis. Tidak segan-segannya aku menamparnya.
"Sakit, nii-chan..hiks..hiks..",
"Jangan menangis!", aku mengambil ancang-ancang untuk menamparnya lagi.
"Jangan pukul Sasu...hiks..hiks...Sakit...hiks..hiks...", Sasuke memelukku, tangisnya tidak kian mereda.
Kudorong dia agar menjauh dariku.
"Kau nakal! Aku tidak sayang lagi padamu!",
"Nii-chan...",
"Jangan panggil aku 'nii-chan'!",
"Nii-chan...maafkan Sasu...hiks...hiks...", dia bermaksud untuk memelukku lagi, dengan cepat kudorong dia.
"Aku tidak ingin punya adik yang nakal dan cengeng sepertimu!",
"Sasu tidak nakal...",
"Kau nakal dan menyebalkan! Tidak ada imut-imutnya! Kau tidak menggemaskan!",
Sasuke menyeka air mata dan ingusnya, kemudian dia tersenyum padaku.
"Sasu sudah imut..hiks..hiks...dan menggemaskan?", tanyanya cegukan.
"Kau tetap anak nakal dan menyebalkan! Tidak pernah berubah!", aku memandangnya dengan sinis.
"Nii...",
"Kita pulang!", aku menarik tangannya dan menyeretnya pulang.
Dia tidak melawan lagi. Dia diam, hanya terdengar suara cegukannya saja. Tangannya terasa dingin, aku bisa menebak sebentar lagi dia pasti akan sakit.
Tebakanku benar, Sasuke sakit, dia masuk angin karena kebanyakan menangis. Tenggorokannya juga sakit, karena banyak berteriak.
Mama tidak menyalahkanku, mama tahu bahwa Sasuke gampang sakit.
Keesokan harinya sepulang sekolah, aku sudah tidak melihat keberadaan Sasuke. Kata mama, Itachi-nii datang untuk menjemput Sasuke tadi pagi.
Akhirnya anak nakal dan menyebalkan itu telah pergi. Tidak masalah dengan rasa sepi, pada dasarnya aku adalah anak tunggal yang mandiri. Aku tidak perlu adik, karena adik itu merepotkan.
Beruntung, orang tuaku tidak memberiku adik.
Akhir tahun ini, kami kembali bertemu di sebuah acara tahunan keluarga besar Uchiha.
Sasuke sudah tidak memanggilku 'Nii-chan' lagi, dia memanggilku 'Sai', dengan embel-embel 'yang' ketika dia senang.
Dia bilang dia hanya punya 1 kakak yaitu Itachi-nii. Dia sudah tidak menganggapku lagi.
Bergelayutan manja di punggung Itachi-nii. Menangis ketika keinginannya tidak dikabulkan. Melempari barang ketika dia marah.
Mengapa dia semakin menyebalkan?
2 tahun kemudian. Liburan musim panas. Mama menyuruhku untuk menginap di rumah Sasuke, mama tahu hubunganku dengan Sasuke sangat tidak baik. Aku juga tidak tahu kapan dan mengapa hubungan kami berubah menjadi musuh?
"Kau suka memakai benda norak seperti itu?", tanya Sasuke menunjuk gantungan melon berbahan flanel yang tergantung di ranselku.
Dulu Sasuke suka sekali memberiku benda yang berbentuk melon, buah kesukaanku.
"Benda norak ini buatanmu", jawabku tersenyum.
Sasuke tidak suka jika aku tersenyum, padahal dulu dia menyukainya.
"Ow, benarkah? Aku tidak ingat kalau aku pernah membuatnya",
"Masa kau tidak ingat?",
"Kalau aku ingat, aku tidak mungkin mengatakan benda itu benda norak!",
Ini memang sudah lama, tapi apa benar dia tidak ingat? Aku saja masih mengingatnya.
Sasuke merebahkan diri di ranjang, dia baru saja menjemputku di stasiun.
"Pijat kakiku, Sai-yang!", perintahnya.
"Gunakan kata 'Tolong', jika kau meminta bantuan orang lain", tegurku sambil tersenyum.
"Hn. TOLONG, Sai-yang!",
"Maaf, kau meminta pertolongan pada orang yang salah", aku tersenyum lagi padanya, dia hanya mendengus.
Aku berkeliling melihat barang-barang di kamarnya. Ada sebuah lemari kaca yang berisi piala dan piagam, dia pintar juga, tapi dia tidak lebih pintar dariku.
Kemudian aku menuju rak buku, aku iri padanya, dia bisa mengoleksi manga sebanyak ini. Orang tuaku melarangku untuk membeli ataupun membaca manga. Manga bisa membuat orang malas belajar. Selain manga, aku juga menemukan koleksi dvd tokusatsu dan game. Dia sungguh beruntung punya mama seperti Mikoto-san, yang terus membela dan memanjakannya.
Di meja belajarnya ada banyak foto, dari foto sekarang hingga dia masih kecilpun ada. Ah! Ada Mr. Roary juga!
"Mr. Roarymu kemana? Apa kau membuangnya?", tanyaku, dia masih tidak menyadari bahwa Mr. Roarynya masih kusimpan di atas lemari.
Tidak ada jawaban darinya, kudekati dia, ternyata dia tertidur. Kuturunkan bajunya yang tersingkap memamerkan perutnya. Pandanganku beralih pada punggung tangan kirinya, luka itu masih ada.
Kurebahkan tubuhku di sebelahnya. Kutoel pipinya yang masih gempal seperti dulu.
"Hey, anak nakal dan menjengkelkan! Kau sudah tidak ingin memeluk tomatmu?",
Boneka tomat pemberianku tertinggal di Suna, dia tidak membawanya ketika pulang ke Konoha. Ternyata apa yang selama ini kuberikan, tidak cukup berarti baginya.
Kudendangkan irama Brahms' Lullaby hingga aku tertidur.
Setiap kali kami berhubungan, entah itu secara langsung ataupun via e-mail, kami pasti saling menyindir dan menghina. Memamerkan kehebatan masing-masing. Sasuke merasa kesal ketika Fugaku-jisan terus memuji kehebatanku.
Aku hanya bisa tersenyum melihat kekesalannya.
"Bukankah kau suka aku tersenyum seperti ini?", tanyaku.
"Aku tidak suka!",
"Dulu kau menyukainya", aku tersenyum lagi.
"Aku tidak ingat!",
Dia selalu saja mengatakan bahwa dia tidak ingat ketika aku menyinggung masa kecil kami.
"Apa benar kau tidak ingat, Sasu-chan?", bisikku di telinganya.
"Sasu-chan? Brrrr", dia mendadak merinding.
"Dulu aku memanggilmu 'Sasu-chan', dan kau memanggilku 'nii-chan'",
"Huf~ Ternyata masa kecilku begitu menjijikkan. Aku bersyukur karena aku tidak mengingatnya",
Cih! Dasar pembohong! Aku tahu dia tidak ingin mengungkit masa lalu, karena dulu aku pernah menamparnya.
Dia pasti kesal jika mengingatnya kembali.
Mikoto-san meninggal ketika umurku 13 tahun. Saat menghadiri upacara pemakaman, kukira Sasuke akan menangis meraung-raung sambil berteriak memanggil mamanya, tapi ternyata dia hanya menangis dalam diam.
Kalau seperti ini, aku tidak bisa mengejeknya.
Liburan musim panas tiba. Seperti biasa, mama menyuruhku ke Konoha lagi dengan alasan untuk menemani Sasuke yang sedang berduka. Fugaku-jisan bilang, Sasuke sering mengurung diri di kamar, dia seperti menutup diri dari keluarganya. Mama menyarankanku untuk bermain dengannya. Seharusnya mama tahu bahwa Sasuke tidak membutuhkanku. Yang diperlukan Sasuke adalah Itachi-nii yang saat ini sedang kuliah di Kiri.
"Kau ingin kusuap seperti dulu?", tanyaku.
Kata Fugaku-jisan, Sasuke belum makan dari kemarin malam. Nafsu makannya hilang-timbul.
"Mengapa okasanku diambil?", lirih Sasuke, tatapannya sendu menatap jendela kamarnya yang silau.
Dia masih berduka, padahal ini hampir 1 tahun Mikoto-san meninggal.
"Karena kau nakal, manja dan menyebalkan", ejekku.
"Aku tidak nakal!", Sasuke melemparku dengan bantal, aku berhasil menangkap bantal sebelum mengenai wajahku.
"Kau nakal! Disuruh makan saja kau tidak mau! Apa kau masih menyebut dirimu tidak nakal?", aku melempar bantal dan sukses mengenai wajahnya.
Sasuke bergegas turun dari ranjang untuk mengambil makan siangnya.
"Aku tidak nakal!", Sasuke melahap makanannya dengan cepat.
Sifatnya tidak pernah bisa berubah, dia mudah sekali untuk dipengaruhi.
Sedang asyik-asyiknya tertawa melihat kerakusan Sasuke, tiba-tiba darah kental mengalir dari hidung Sasuke dan jatuh mengenai makanannya.
Apa lemparanku tadi yang membuat hidungnya berdarah?
Aku langsung meraih tissue di dekatku, kusingkirkan nampan dari pangkuan Sasuke sebelum menyeka darahnya. Pipinya terasa hangat, dia demam.
Mengapa dia sering demam?
Fugaku-jisan bilang, Sasuke tidak tahan dengan cuaca panas. Padahal ketika di Suna dulu dia tidak pernah sakit, mungkin karena dia malas dan manja, lebih sering di dalam rumah ketimbang keluar bermain.
"Kau tidak ingin mengajakku berkeliling?", tanyaku mulai bosan.
"Aku lelah!",
"Sepertinya aku akan menghabiskan libur panjangku di sini hanya untuk mengawasimu mengerjakan tugas sekolah!",
"Aku tidak minta kau ke sini!",
"Kalau bisa memilih, aku juga tidak ingin di sini",
"Ya, sudah! Pulang sana!",
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang.
"Pulanglah ke Suna! Tinggalkan aku sendirian! Jangan peduli padaku lagi! Mereka saja tidak peduli padaku!", teriak Sasuke yang tampak frustasi.
Aku berjalan menghampirinya. Kusentuh dahinya.
"Masih normal", gumanku.
Sasuke menepis kuat tanganku dari dahinya.
"Selesaikan PRmu, setelah itu ajak aku berkeliling!", perintahku.
Dia mendengus lalu melanjutkan PRnya. Aku mengernyit melihat tulisan tangannya yang sulit dibaca. Tampang tidak secantik tulisan tangan.
"Apa yang kau tertawakan?", tanya Sasuke.
"Kebodohanmu", jawabku tersenyum.
Sasuke langsung melempar buku ke wajahku. Tidak terima dengan perlakuannya, kurobek buku tersebut.
Cukup adil bukan?
Beberapa hari kemudian, di tengah malam. Aku terbangun kerena mendengar isakan di sebelahku.
Kunyalakan lampu meja untuk memastikan isakan tersebut berasal dari Sasuke. Dugaanku benar, Sasuke sedang menangis.
"Kau kenapa? Ngompol?", tanyaku.
"Sakit~", lirihnya sambil memeluk bedcover dengan erat.
"Kau sakit perut?", kusingkirkan bedcover yang dipeluknya, bajunya basah karena keringat.
Dia kepanasan, tapi masih saja pakai bedcover. Dasar baka!
"Mana yang sakit?",
Bukannya menjawabku, Sasuke malah mendorongku menjauh darinya.
"Aniki, sakit~",
Dari dulu hingga sekarang, mengapa masih Itachi-nii?
"Tidak ada 'aniki'! Hanya ada 'nii-chan' di sini! Sai!",
"Sai~ Panggil aniki~ Ini sakit...sakit sekali...", pinta Sasuke menangis.
"Panggil saja sendiri!", aku melompat turun dari ranjang.
Aku memutuskan untuk tidur di sofa ruang keluarga daripada harus tidur bersama orang menyebalkan yang terus memanggil kakak tersayangnya itu.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal agar Fugaku-jisan tidak bertanya macam-macam. Aku sudah tidak betah tinggal berlama-lama di sini. Kukatakan pada Fugaku-jisan bahwa aku ada urusan dengan teman sekolah.
"Aku pulang SEKARANG", tegasku pada Sasuke yang sudah bangun, tapi dia masih betah berbaring di ranjang.
Dia mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Wajahnya lebih pucat dari biasanya.
"Nii-chan...", lirih Sasuke, kemudian dia tersenyum tipis.
Aku kaget ketika dia memanggilku seperti itu. Sudah lama dia tidak memanggilku 'nii-chan'.
"Apa aku dulu...memanggilmu seperti itu?", dahinya mengkerut, bibirnya digigit seperti menahan sakit.
"Lupakan!",
Aku berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil perlengkapan mandiku. Saat aku keluar, Sasuke sudah tidur kembali.
Dasar pemalas!
Wajar saja kau sakit! Kerjamu hanya mengurung diri di kamar!
Akhir tahun tiba.
Huf~ lagi-lagi aku harus bertemu Sasuke, padahal musim panas tadi aku baru saja bertemu dengannya.
Wajahnya pucat, dia pasti sakit lagi. Aku baru tahu dari sepupuku yang lain bahwa Sasuke itu memang sering sakit-sakitan, apalagi semenjak kepergian Mikoto-san, anak itu jadi pemurung dan suka bermalas-malasan di kamar, nilai akademisnya menurun, keluarganyapun tidak peduli padanya. Dia pantas mendapatkannya!
Kasihan sekali! Seandainya dia jadi anak yang penurut saat itu, mungkin dia tidak akan kesepian karena aku terus bersamanya.
"Setiap kali kita bertemu, kau selalu sakit", aku menegurnya ketika melihatnya merenung sendirian di belakang vila penginapan.
Dia sakit, tapi dia malah berdiri merenung di luar dengan cuaca dingin. Apa dia kurang perhatian dari keluarganya sehingga dia harus menyakiti dirinya untuk mencari perhatian?
"Ada yang aneh pada tubuhku", ucapnya datar, tatapannya lurus ke depan.
"Kau tidak sedang curhat denganku kan?",
"Tubuhku sakit, seperti ada yang menusuk-nusukku. Rasanya ingin mati saja",
"Mati saja kalau kau mau",
"Hn", dia tersenyum menatap langit.
Keheningan menyelimuti kami. Rasanya bosan kalau tidak mengejek atau membuatnya marah daripada melihatnya termenung seperti mayat hidup.
"Hey, bodoh! Aku sudah dipastikan diterima di SMU Senju, bagaimana denganmu?", tanyaku.
Dia hanya diam, tapi setidaknya aku bisa mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Kudengar dari Fugaku-jisan bahwa prestasimu semakin menurun. Bahkan kau tidak masuk 10 besar. Kurasa kau tidak bisa diterima di SMU Senju tanpa uang pelicin", aku mulai memanas-manasi Sasuke.
"Aku tidak minta pendapatmu!", ketus Sasuke mulai terpancing.
Tubuh Sasuke oleng ke samping, kini dia terjongkok dan bersandar di dinding.
"Kau baik-baik saja?", tanyaku.
Dia tidak baik-baik saja. Dia sakit.
"Kau berdarah!", teriakku karena dia mimisan lagi.
"Ini sudah biasa!", dia menyeka darah dengan punggung tangannya.
Ya, aku sudah biasa melihatnya mimisan, tapi itu membuatku cemas. Darah adalah hal penting untuk tubuh, bagaimana bisa dia menghambur-hamburkan darah sebanyak ini?
Sasuke mencoba berdiri, tiba-tiba tubuh Sasuke lemas dan terjatuh menimpaku.
"Hey, kau mengotori baju!", omelku.
"Sasuke!", teriak Itachi-nii dari kejauhan.
Aku merasa memang ada yang tidak beres dengan tubuh Sasuke ketika melihat darah kental mengalir dari lubang telinga kanannya.
Dia kenapa?
Fugaku-jisan bilang Sasuke terkena demam berdarah, tapi aku tidak semudah itu percaya, karena wajah Fugaku-jisan terlihat depresi. Pasti terjadi sesuatu pada Sasuke.
Ya, ada sesuatu yang disembunyikan dan aku berhasil mengetahuinya setelah browsing mengenai gejala-gejala yang dialami Sasuke.
Leukemia, penyakit yang diderita Sasuke. Aku tidak menyangka bahwa mantan adikku ini menderita penyakit mematikan.
BRaaaaK
Kulempar laptopku dengan kesal.
Tidak peduli pada papa yang akan memarahiku karena aku telah merusak barang pemberiannya.
"Mengapa kalian tidak menjaganya dengan baik!", teriakku frustasi.
Liburan musim panas, aku dan keluargaku menginap di rumah keluarga Sasuke. Orang tuaku ingin melihat keadaan Sasuke, mereka tahu penyakit yang diderita Sasuke, tapi mereka merahasiakannya dariku. Fugaku-jisan yang memintanya, beliau tidak ingin siapapun tahu hal ini termasuk Sasuke.
Rasanya tidak adil bagi Sasuke, dia sakit parah tapi mereka membuatnya seolah Sasuke baik-baik saja.
Aku hanya bisa mengejek dan membuatnya marah. Aku ingin membencinya dengan sepenuh hati, karena jika suatu saat nanti dia pergi jauh, aku tidak akan tersakiti.
Siapa yang tidak senang, jika musuh bebuyutan kita lenyap?
Liburan musim panas berikutnya, aku tidak lagi menginap di rumah Sasuke dengan alasan tugas kuliah. Aku tidak ingin melihat wajah sekarat Sasuke. Orang tuakupun juga tidak memaksa, karena mereka tahu bahwa kami sering bertengkar, itu akan memperburuk kondisi Sasuke.
Papa menyuruhku untuk fokus pada kuliah, karena aku adalah pewaris tunggal perusahaan.
Setiap orang pasti memiliki perasaan rindu, entah itu pada teman ataupun musuh sekalipun.
Akupun begitu, ketika aku bosan -rindu-, aku mengirim e-mail pada Sasuke. Isinya tentu saja berisi sesuatu yang membuatnya iri.
Aku senang dia merespon e-mailku walaupun isinya berupa sindiran sakartis yang membuat rasa benciku semakin meningkat.
Saat ulang tahun Sasuke yang ke 19, aku menghubunginya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Aku berharap dia bisa mencapai umur 20 tahun, aku juga mengatakan padanya bahwa dia sakit parah, tapi dia malah marah dan menutup panggilan.
Dia harus tahu bahwa waktunya tidak banyak. Aku tidak ingin dia manja dan bermalas-malasan ketika keluarganya sedang sibuk memperjuangkan hidupnya. Dia harus mandiri dan berjuang sendiri, karena yang sakit adalah dia.
Akhirnya Sasuke tahu bahwa dia sakit parah. Sakitnya semakin parah sehingga dia harus dirawat di rumah sakit.
Saat Natal, Sasuke mengirim e-mail dan foto padaku. Isinya sangat membuatku iri. Dia bisa berkumpul bersama keluarga dan temannya, sedangkan aku sibuk di meja untuk menyusun laporan kuliah dan beberapa pekerjaan di kantor papa.
Aku meminta papa untuk mengizinkanku magang di kantornya. Aku ingin menjadi pebisnis di usia muda seperti Itachi-nii yang selalu diandalkan.
Keluarga Sasuke absen mengikuti tradisi akhir tahun, mereka ingin merayakan malam pergantian tahun di rumah sakit bersama Sasuke yang masih dirawat.
Mengapa baru sekarang mereka peduli pada Sasuke? Apa mereka ingin membuat Sasuke bahagia sebelum dia meninggal?
Papa bilang Sasuke akan berangkat ke Jerman untuk berobat. Kuharap dia sembuh, karena mulutku sudah gatal untuk mengejeknya. Aku ingin memamerkan kehebatanku padanya, agar dia tahu bahwa aku jauh lebih hebat dari Itachi-nii, aniki pujaannya itu.
Setelah menamatkan kuliahku, aku ditugaskan papa untuk training di anak cabang perusahaan di Kiri.
Sebelum pindah ke Kiri, aku membersihkan kamarku yang telah kutempati dari kecil. Banyak sekali barang-barang kenangan di sini.
Ada Mr. Roary yang masih tersimpan di lemari. Aku memasukkan barang-barang peninggalan Sasuke ke sebuah kardus. Banyak sekali mainannya. Aku ingin mengembalikannya, tapi aku takut Sasuke akan membuangnya, karena dia memang benar-benar tidak ingat.
Mengapa dia bisa melupakannya sedangkan aku tidak bisa?
Sudah 1 tahun, Aku tidak pernah mengubunginya, entah itu via e-mail ataupun telepon. Kabar yang terakhir kudengar dari Papa adalah keadaan Sasuke memburuk.
Aku tidak mau tahu keadaannya lagi, aku tidak ingin mencemaskannya. Aku harus fokus pada pekerjaanku!
Karena depanku adalah memimpin perusahaan, bukan mengurusi dia.
2 tahun kemudian, aku malah mendapat kabar dari papa bahwa Sasuke akan melangsungkan pernikahan. Papaku mencemo'ohi Sasuke karena dia menikahi seorang pria. Bagi papa, hubungan sejenis itu sangat hina dan menjijikkan.
Papa menyuruhku untuk menggantikannya datang ke pesta pernikahan Sasuke, karena beliau mual melihat pesta itu.
Sebenarnya Sasuke tidak mengundangku dan aku juga tidak mau datang ke pesta itu, tapi aku tidak bisa membantah perintah papa.
Tidak apa-apa, aku juga ingin bertemu dengannya.
Ketika melewati toilet wanita, aku mendengar pembicaraan beberapa wanita. Aku tidak mengintip, aku hanya mendengar suara mereka yang berbicara cukup keras, karena dinding toilet terbuat dari kayu.
"Wah sayang sekali ya Minato-ji, garis keturunannya hanya sampai di Naroto-kun",
"Benar juga ya, mereka kan sama-sama lelaki, bagaimana bisa punya keturunan?",
"Yah, namanya juga cinta!",
Menikah adalah cara untuk memperpanjang garis keturunan, jika sudah tahu tidak akan punya keturunan, untuk apa harus menikah? Sasuke terlalu bodoh, dia tidak memikirkan sampai ke sana!
Ternyata selain aku, ada juga yang mendengarkan pembicaraan ini. Seorang pria berambut jabrik kuning berpakaian tradisonal. Dia tersenyum bodoh padaku. Apa dia mempelai Sasuke?
"Wanita memang suka menggosip", kataku berjalan meninggalkan pria tersebut.
"Uchiha Sai!", panggilnya.
Aku menoleh ke belakang. Dia berlari pelan menghampiriku.
"Uzumaki Naruto! Yoroshiku!", salamnya berojigi.
Ternyata dia memang mempelai Sasuke.
Pria yang riang, humoris, bodoh dan... jelek...
Sudah lama tidak melihatnya, terakhir kali kulihat, dia sangat kurus dan wajahnya pucat seperti zombie. Sekarang tubuhnya berisi, wajahnya tampak segar, rambutnya sedikit lebih pendek. Dia tampak dewasa mengenakan pakaian tradisional yang serba putih. Tapi sifatnya tetap manja dan menyebalkan seperti dulu, dia tidak pernah berubah.
Saat aku menyapanya sambil tersenyum hangat, dia malah menanggapiku dengan wajah cemberut yang tidak bersahabat.
Aku bersyukur bahwa dia sudah sembuh dari penyakit mematikan itu. Jadi, boleh kan aku mengejeknya lagi?
Kukatakan padanya bahwa aku malas datang ke pesta yang menjijikkan ini. Dia balas menyindir dan mengataiku 'BEBAN'. Akhirnya terjadilah perdebatan. Aku terus menyindirnya bertubi-tubi, dia terdiam dan tidak membalas perkataanku. Perkataanku adalah benar adanya.
"Mereka menyayangimu itu karena kau sakit. Berapa banyak biaya yang mereka keluarkan untuk mengobati penyakitmu? Sebenarnya kaulah BEBAN di keluargamu",
Dia marah dan melempar tablet yang dimainkannya ke wajahku, tapi aku berhasil menangkap tablet tersebut. Dia suka melempari siapapun yang membuatnya marah.
"Aku bekerja keras dan menyisihkan gajiku untuk membeli barang seperti ini. Kurasa kau mendapatkannya hanya dengan merengek pada papa atau kakak tersayangmu itu. Makanya kau begitu mudah melempar benda ini. Kalaupun ini rusak, kau tidak akan merasa menyesal karena kau bisa membeli yang baru lagi",
Dia masih membatu, kedua tangannya mencengkram hakama dengan kuat. Dia marah, tapi dia tidak berhak memarahiku, karena sebenarnya dialah yang salah. Sejak awal dia sudah salah.
"Inilah yang membuatku benci padamu. Anak manja dan egois sepertimu, seharusnya mati saja", pesan terakhirku sebelum meninggalkan ruangan.
Jika saja dia tidak manja dan egois, mungkin aku akan tetap menyayanginya seperti dulu.
Terputus
Chapter ini panjang ya...hahahaa...
Jangan lupa review ya ^^v
