[Chaptered]
[Sequel : You Can't Hear]

Title : Love, Dream and Happiness
Chapter : 06/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Exile - Love, Dream and Happiness


Yuhuuu~ Sorry for late update #chuuu


- Naruto PoV -

Dalam perjalanan menuju rumah orang tuaku untuk jamuan makam malam bersama keluarga Sasuke.

"Kau gugup?", tanyaku pada Sasuke yang duduk di sebelahku.
"Apa aku terlihat seperti orang gugup?",
"Lalu? Mengapa kau diam saja?",
"Aku tidak gugup, aku hanya sedikit...bingung.. Ya, hanya sedikit bingung. Bagaimana caraku memanggil kedua orang tuamu?",
"Kau boleh memanggil mereka 'Papa Mama'",
"Tapi aniki bilang, aku harus memanggil mereka 'Daddy Mommy'",

Jiah! Sasuke dikerjai Itachi-nii lagi. Mengapa dia begitu percaya pada ucapan aniki tersayangnya yang usil itu?

"Gunakan 'Papa Mama', sama sepertiku",
"Hn!", angguknya.
"Ada lagi yang membuatmu bingung?",
"Malam pertama?", tanya Sasuke ragu-ragu.
"Ma, malam pertama? Heheheee...", aku jadi salah tingkah ketika Sasuke membahas tentang malam pertama.
"Malam pertama itu apa ya? Mengapa teman-teman ingin tahu tentang malam pertama kita?", cara Sasuke melontarkan pertanyaan ini tampak sangat polos. Apa dia belum pernah menonton film porno juga?
"Malam pertama itu...malam kita...bercinta...ahahhaaa...", tawaku garing.

Wajah Sasuke langsung memanas, dengan kasar dia memukul kepalaku.


Suasana jamuan makan malam yang akrab dan hangat, penuh dengan canda tawa. Kedua orang tuaku sangat suka melucu. Otou-san *Fugaku* tidak bisa menahan tawa mendengar lelucon yang dilontarkan kedua orang tuaku.

Itachi-nii juga tidak mau kalah melucu dari kedua orang tuaku. Kami semua sangat konyol. Aku bahagia melihat Sasuke tertawa selepas mungkin.

Awalnya aku sempat cemas ketika Itachi-nii memberi Sasuke obat untuk meredakan nyeri di tubuhnya. Itachi-nii bilang Sasuke terlalu capek. Mempersiapkan berbagai hal untuk pernikahan kami, Sasuke kurang istirahat, dia bahkan tidak bisa tidur tadi malam.


Malam ini, mama menyuruh kami untuk menginap di sini. Mama sangat suka sekali memandangi wajah manis Sasuke.

Huh! Dasar mama genit!

"Apakah aku terlihat tampan dengan piyama ini?", tanya Sasuke yang sedang mengenakan piyama berwarna pink buatan mamaku.

Aku berjalan mendekatinya, kupeluk pinggangnya dari belakang.
"Kau terlihat manis, sangat manis!", kujilat pipi kanannya.

PLaaaaK
Sasuke menepuk keningku.
Dia mendorongku menjauh darinya. Kemudian dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sasuke sengaja memposisikan tubuhnya di tengah-tengah ranjang, dan merentangkan tangan dan kakinya lebar-lebar, seolah tidak ada space untukku.

"Kau tidur di bawah!", perintahnya.
"Ini malam pertama kita, Suke~", rengekku.
"Tidak ada malam pertama! Aku tidak ingin tidur seranjang denganmu!",

Tanpa mendengar protesan Sasuke lagi, aku langsung melompat dan mendarat di atas tubuhnya. Memeluk tubuhnya yang hangat, mencium aroma tubuhnya yang memabukkan. Tidak peduli pada usaha Sasuke yang terus mendorongku agar aku menjauh darinya.

Kuhisap lekukan lehernya, seketika itu pula dia menjerit minta pertolongan.

"MAMA! PAPA!", jerit Sasuke.

Kututup mulut Sasuke dengan tanganku. Dia berusaha menyingkirkan tanganku dari mulutnya.

"Mam...",
"Suke, tenanglah!", kututup mulutnya lagi.

Sasuke meronta-ronta sambil menggeleng. Kakinya terus menendang tubuhku.

"Aku suamimu, Suke~ Aku tidak mungkin menyakitimu. Kita sudah menikah, bersikap dewasalah, Suke~", bujukku dengan halus agar dia tidak ketakutan.

Perlawanan Sasuke mulai melemah, hingga akhirnya dia berhenti menendangku. Dia menatapku dengan tatapan 'Jangan perkosa aku'.

"Aku mencintaimu, Suke~", kutatap matanya yang memelas ini.
"Kau mencintaiku kan?", tanyaku.

Sasuke mengangguk pelan. Kujauhkan tanganku yang menutupi mulutnya. Merasa telah bebas, Sasuke langsung menendangku hingga aku terjatuh dari ranjang. Dia berguling dan bersembunyi di dalam bedcover.

"Aku belum siap, Dobe!",

Aku tersenyum geli melihat tingkahnya yang begitu polos. Aku tidak marah padanya, meskipun dia telah menendangku, karena aku tahu dia masih belum berpengalaman dan tidak tahu tentang sex.

Aku mematikan lampu kamar, kemudian aku membaringkan tubuhku di sebelah kiri Sasuke.

"Oyasuminasai, Sasu-chan", kuusap-usap kepalanya sebelum aku memejamkan mata.

SReeeeK SReeeeK
Terasa pergerakan dari sebelah kananku. Sasuke menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku menyingkirkan bedcover yang menutupi kepalanya, aku ingin memberinya night kiss, tapi Sasuke tetap mempertahankan bedcovernya.

"Kau tidak ingin memberiku night kiss?", tawarku.

Sasuke meresponku dengan sebuah cubitan kecil di perutku.

Aku tidak memaksanya, karena aku takut dia akan mengusirku dari kamar. Untuk saat ini, biarlah aku tidur bersamanya, memeluknya, dan memberinya kehangatan.

Tak lama kemudian aku merasakan sebuah kecupan di bibirku sebelum aku terlelap.


Pagi harinya, aku bangun lebih awal dari Sasuke. Sasuke masih bergumul di dalam bedcover. Aku ikut masuk ke dalam bedcover. Sasuke masih tertidur pulas, dia tidak terganggu dengan kedatanganku.

Aku memandangi wajah malaikat yang sedang tertidur di hadapanku ini.
"Kau memang limited edition", kukecup dahinya.
"Aku sungguh beruntung telah memilikimu", kukecup pipinya.
"Aku mencintaimu, Suke~ Sangat mencintaimu", kukecup bibirnya.

Aku kembali memandanginya, aku tidak bosan terus memperhatikan bentuk dan lekukan wajahnya. Dia sungguh sempurna. Pantas saja mama terpesona pada kemanisannya.

Tubuh Sasuke mulai bergerak, dia berganti posisi menjadi membelakangiku. Aku mendekatinya, kupeluk tubuhnya dari belakang. Kuhirup aroma tubuhnya. Tanganku menyusup ke dalam piyamanya, kuraba-raba tonjolan di dada kirinya.

Sasuke langsung tersentak dan bangun sepenuhnya. Dia menonjok rahangku sebelum berlari keluar dan memanggil orang tuaku.

"Ada apa, Sasu-chan?", tanya mama sambil melindungi Sasuke di belakangnya.
"Dobe memperka...", Sasuke menghentikan perkataannya.
"Ah! Aku...mimpi buruk...", ralatnya. Dia tidak mungkin mengatakan pada mama bahwa aku memperkaosnya

"Naru, kau membuat Sasu-chan ketakutan!", ketus mama.
"Memangnya wajahku menyeramkan?", cibirku.
"Mama, aku tidak apa-apa. Aku rapopo", Sasuke sudah kembali tenang.

Melihat Sasuke tersenyum, mama baru percaya bahwa Sasuke baik-baik saja. Mama menyuruh kami untuk mandi dan turun sarapan bersama.

"Apa masih sakit?", tanya Sasuke menyentuh luka di bibir atasku, efek dari tonjokan mautnya tadi.
"Reaksimu terlalu berlebihan. Padahal aku cuma iseng saja", cibirku.
"Siapa suruh kau iseng!",
"Kau terlalu menggoda sih!l",
"Huh!",

Aku memajukan bibirku, memberi isyarat pada Sasuke agar memberiku morning kiss. Tapi Sasuke malah cuek, dia mengambil pakaian dan handukku, dan bergegas ke kamar mandi.

"Aku ikut, Suke~", aku berjalan mengejarnya.

BLaaaaM
Dia menutup dan mengunci pintu kamar mandi. Wajahku nyaris membentur pintu.

"Dasar, teme pantat ayam! Kau jahat! Uhuhuhuuu...",

Aku seperti seorang istri yang teraniaya saja.


Selesai mandi, aku mengobati luka di tangan dan kaki Sasuke.

"Hah? Ini kenapa?", tanyaku ketika menyadari ada bekas luka di punggung tangan kirinya yang mulus ini.

Selama aku bersamanya, mengapa bekas luka ini baru terlihat sekarang? Aku terlalu fokus pada wajahnya yang manis ini. Hahahaa..

"Mungkin berkelahi dengan Sai", jawabnya.
"Mungkin? Kau tidak serius menjawabnya!",
"Aku tidak begitu ingat",
"Lalu? Mengapa kau bisa berasumsi bahwa bekas luka ini karena berkelahi dengan Sai?",
"Itu karena bekas luka di dahi Sai. Sai bilang, waktu kecil aku melemparnya dengan patung tanah liat. Ya, mungkin saja dia membalasku dengan menusuk sesuatu yang tajam ke tanganku", jelas Sasuke sambil memperhatikan bekas lukanya.

Aku tidak menyangka bahwa Sai tega melukai Sasuke. Padahal kukira dia pria yang ramah dan penyayang.

"Mengapa kau melemparinya?",
"Tidak tahu. Mungkin dia membuatku marah",
"Kau suka sekali melempari orang ketika sedang marah",
"Kau seperti tidak tahu aku saja!",
"Kau harus berubah, Suke. Kalau kau terus bersikap kasar, aku takut kau dikasari balik",

Sasuke hanya mencibir ketika kunasehati. Dia memang keras kepala.

"Kalau kau kasar begini, bisa-bisa kau tidak lucu, imut, dan menggemaskan lagi", kutarik kedua pipi gempalnya ini.

Dahi Sasuke berkerut, dia sedang memikirkan sesuatu. Apa perkataanku terdengar menyakitkan baginya?

"Suke?", panggilku.
"Aku teringat sesuatu. Tapi aku lupa. Sudahlah! Aku lapar! Aku ingin makan masakan mama", Sasuke langsung berlari keluar kamar.

Aku merasa Sasuke mulai pikun. Dia selalu menjawab sesuatu dengan kata 'mungkin', jawaban yang diberikan kadang tidak tepat, dia juga tidak bisa membaca huruf kanji dengan lancar.

Apa penyakitnya itu, membuat ingatannya memudar?


Selama sarapan, papa dan mama tersenyum-senyum memandangi kami. Wajah Sasuke memerah ketika mama menanyakan malam pertama kami. Aku hanya menyengir saat Sasuke menginjak jari kakiku ketika aku berkata bahwa kami belum bercinta.


Malam harinya kami mengadakan pesta kecil-kecilan di sebuah cafe bersama teman-teman kuliah.

"Panda tidak datang?", tanya Sasuke pada Neji.

Sasuke tidak tahu bahwa Neji dan Gaara telah lama putus. Hubungan mereka ditentang oleh orang tua masing-masing. Gaara telah dinikahkan dengan seorang gadis. Sekarang mereka tinggal di Suna dan dikarunia seorang anak perempuan bernama Kaori. Sedangkan Neji telah ditunangkan dengan Tenten, anak rekan kerja papanya.

"Panda sibuk mengurus keluarganya di Suna", jawab Neji tersenyum, meskipun dia merasa tidak enak harus membahas sang mantan.
"Keluarga?", Sasuke tampak bingung.

Aku menarik Sasuke sebentar untuk menjelaskan hal yang tidak dia ketahui. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Neji karena Sasuke bertanya tenyang Gaara.

Sasuke merasa sedih mendengar kabar berakhirnya hubungan Neji dan Gaara.


"KANPAAAAAIIII!", teman-teman bersulang untuk pernikahan kami.

Sasuke merasa eneg ketika meneguk segelas sake.
"Kau seperti baru pertama kali minum sake saja!", ejekku.
"Sudah lama aku tidak minum, Dobe! Kali ini rasanya aneh!", bantah Sasuke.
"Rasa sake memang seperti ini, kawan! Terlalu lama di Jerman, kau sampai lupa dengan rasa sake. Hahahaaaaa...", tawa Kiba.
"Ayo, segelas lagi!", ajak Ino menuangkan sebotol sake ke gelas Sasuke.

Sasuke langsung meneguk habis sake di gelasnya. Wajah Sasuke mulai memerah, dia memang tidak kuat minum.

Aku menyuruh Sasuke untuk duduk, karena Sasuke sudah tidak bisa berdiri tegak. Awalnya Sasuke menolak dan ingin minum lagi, tapi Neji datang dan menyeret Sasuke untuk duduk.

Teman-teman mengadakan sebuah mini game. Yang kalah harus minum sake. Aku tidak mengikut-sertakan Sasuke, karena aku takut Sasuke akan banyak kalah, jadi aku mempercayakan Neji untuk menjaga Sasuke.

Di sela-sela permainan, pandanganku tak lepas dari Neji dan Sasuke yang sedang berbincang-bincang. Sasuke tampak mabuk, kuharap Sasuke tidak berbicara yang aneh-aneh..


Kini sudah lewat tengah malam. Pestapun telah usai. Teman-teman telah pulang, hanya tertinggal aku, Sasuke dan Neji. Sasuke tidur di pangkuan Neji, ini membuat Neji enggan pulang dan memilih menunggu hingga Sasuke terbangun.

"Aku iri padamu", Neji mengelus pipi Sasuke.
"Apa yang kau irikan?", tanyaku.
"Aku selalu bermimpi agar dia menjadi milikku, tapi ternyata dia lebih memilihmu. Kau sungguh beruntung", Neji tersenyum, tapi matanya tidak bahagia, dia menangis.

Neji, mengapa kau masih mencintai Sasuke?

"Aku tahu dia sudah memilikimu, aku ingin membunuh perasaanku padanya. Tapi, semakin aku berusaha, aku malah tersakiti. Aku tidak bisa mencintai Gaara sepenuhnya, aku bahkan tidak bisa mempertahankan cinta kami ketika orang tua kami menentang. Aku telah menyakiti Gaara. Aku benar-benar brengsek!",
"Jangan menyalahkan dirimu, Neji!",

Neji menyisir pelan rambut Sasuke.
"Seandainya saat itu aku menolak cintanya, mungkin aku tidak akan membuka hatiku untuk mencintainya. Tapi aku terlalu lemah, aku begitu cepat dan mudah jatuh cinta padanya",

Air mata Neji jatuh mengenai pipi Sasuke.
"Maafkan aku... Rasanya sakit...sakit sekali... Melihat kau menyentuhnya...menciumnya...memiliki dia seutuhnya.. Aku...benar-benar iri...hiks..hiks..",

Sasuke mulai terbangun mendengar isakan Neji.
"Neji, mengapa kau menangis?", tanya Sasuke menyeka air mata di pipi Neji.

Neji semakin kencang menangis. Ini pertama kalinya aku melihat tangisan Neji yang begitu memilukan dan menyayat hati.

Sasuke langsung bangun dan memeluk Neji.
"Dobe! Apa yang kau lakukan pada Neji!", omel Sasuke ketika melihatku yang hanya terdiam tanpa berkata apa-apa.
"Maafkan aku...hiks..hiks...hiks.. Maafkan aku, Neji...", tanpa sadar aku malah menangis.

Aku bisa merasakan apa yang Neji rasakan saat ini, karena aku juga pernah merasakannya. Rasanya sangat sakit ketika cinta kita bertepuk sebelah tangan dan tak terbalaskan.


Sesampainya di mansionku.
Kubaringkan Sasuke di ranjang, mengganti pakaiannya yang bau sake dengan piyamaku.

"Hey, Dobe!", seru Sasuke mengigau.
"Kau membuatku kaget, Suke!",

Sasuke langsung berguling ke kanan, dan bergumul di dalam bedcover.

"Neji, cup cup cup jangan nangis ya! Nanti aku belikan permen yang paaaaaaaling manis untukmu", rancu Sasuke.

Kutarik bedcover yang menutupi wajahnya. Meskipun dia dalam keadaan mabuk dan mengigau, dia selalu tampak manis saat tersenyum.

Kukecup bibirnya yang bau sake ini. Lidahku menjilati lekukan bibirnya. Dia sedikit mengerang dan mendorongku.

"Dobe~", Sasuke membuka matanya yang sayu.
"Ya?", semoga saja dia tidak meninjuku lagi.
"Jangan nakal! Kembalikan permen Neji!", Sasuke menepuk-nepuk wajahku. Meskipun dalam keadaan tidak sadar, tepukannya sangat kuat.

Kubawa Sasuke dalam pelukanku untuk menghentikan tepukannya.
"Maafkan aku, Suke~ Aku tidak mungkin menyerahkan permen semanis dirimu ini pada siapapun",

Apapun yang terjadi, aku tidak akan melepasmu. Aku ingin kau bersamaku, mengisi hari-hari di hidupku.


Keesokan harinya.
Aku bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Sasuke masih belum bangun, dia masih pusing karena efek sake tadi malam.

Itachi-nii meneleponku. Itachi-nii menanyakan persiapan kami untuk bulan madu nanti. Aku baru menyadari bahwa siang ini kami harus berangkat ke bandara.

Jashin! Mengapa aku bisa melupakan rencana bulan madu kami ini?

Setelah menyiapkan sarapan, aku langsung membangunkan Sasuke untuk mandi. Sementara Sasuke mandi, aku akan mengemas pakaian kami ke dalam 1 koper.

Persiapan sudah selesai, pakaian sudah dikemas. Ponsel, dompet, tiket dan passport sudah di ransel. Saatnya sarapan!

Aku menyeret koper dan menenteng ransel menuju dapur, di meja makan ada Sasuke yang sedang menungguku untuk sarapan bersama.

"Kepalamu masih pusing?", tanyaku ketika melihat Sasuke menyandarkan kepalanya di meja.
"Sedikit",

Kusentuh dahinya, suhu tubuhnya normal.
"Mau kuperiksa?",
"No, thanks!",

Aku menarik kursi dan duduk di sebelah kanannya.
"Kau butuh istirahat. Kita batalkan sa..",
"Aku baik-baik saja! Cepat sarapan! Aku sudah lama menunggumu!", bantah Sasuke cepat.
"Suke~",
"Jangan cemaskan aku, aku rapopo", Sasuke tersenyum padaku.

Meskipun Sasuke telah sembuh dari penyakitnya, tapi aku tetap cemas ketika melihatnya sakit.


Setelah sarapan, kami mampir ke rumah orang tuaku dan kantor otou-san untuk berpamitan. Setelah itu Itachi-nii ikut mengantar kami ke bandara.

Itachi-nii memang sayang adik! Dia kakak terbaik dari segala kakak yang pernah kukenal.


Sesampainya di Ngurah Rai International Airport, Sasuke langsung berteriak 'Hai, Bali! Aku datang lagi!'.

Orang-orang di sekitar tertawa melihat tingkah Sasuke. Aku tidak peduli pada pandangan mereka. Kami akan bersenang-senang di sini selam seminggu.

Honey moon! Bulan bercinta! Yeah!

"Hai, Bali! I'm comming!", seruku yang tidak mau kalah excited dengan Sasuke.


Malam pertama di Denpasar-Bali.

"Sasu-chan~", desahku di telinga Sasuke.

Sasuke tidak menyahutku, aku tahu dia belum tidur.

"Sasu-chan~ Ayo, kita bercinta~", desahku lagi.
"Tidak sekarang, Dobe!",
"Kapan, Sasu-chan?",
"Kapan-kapan!",
"Sukeeee~", raungku.

Mungkin dia capek.


Malam kedua.
Setelah aku selesai mandi, aku sengaja tidak memakai baju, bermaksud untuk memamerkan sixpackku pada Sasuke agar dia terangsang.

"Pakai bajumu, Dobe!", ketus Sasuke.

Huh! Dia lebih tertarik pada tabletnya daripada body sexyku ini.

Well, masih ada besok, Naru! Jangan terburu-buru, nanti Sasu-chan marah!


Malam ketiga.
Kukatakan padanya bahwa malam ini kami harus bercinta. Dia menyetujuinya. Aku senangnya bukan kepalang! Lalala~

Saat ini Sasuke sedang mandi. Sambil menunggunya mandi, aku browsing sebentar menggunakan tabletnya. Rasa penasaranku muncul ketika melihat recent history di browser.

Cara bercinta di malam pertama. Cara melakukan sex. Foreplay tips and techniques.

Semua halaman berhubungan dengan sex. Ternyata selama ini Sasuke sedang mempelajari ilmu tentang sex. Mengapa dia tidak bilang padaku? Aku kan bisa mengajarinya.

CekleeeeK
Pintu kamar mandi terbuka.
Aku langsung menyimpan tablet Sasuke di bawah bantal.

"Kau siap, Suke?", tanyaku.
"Hn!", Sasuke mengangguk pelan.

Kubaringkan Sasuke di atas ranjang. Perlahan kubuka kancing piyamanya. Bibir Sasuke mulai bergetar, kukecup bibirnya sejenak sebelum aku mencium lehernya.

"Do..be...", tubuh Sasuke sangat tegang.
"Rileks, Suke~", bisikku.

Kucium dan kuhisap leher Sasuke hingga meninggalkan bercak merah. Kujilat tonjolan di dada kanan Sasuke.

DuuuaaGH!
Sasuke menendang perutku hingga aku terjatuh.

"I, ini menjijikkan, Dobe... A, aku tidak mau!", Sasuke langsung mengancing piyamanya dan masuk ke dalam bedcover.
"Sex memang seperti itu, Suke!",
"Aku tidak mau! Jangan memaksaku!",
"Kau sudah dewasa!", aku menarik bedcover agar Sasuke tidak bersembunyi lagi.
"Jangan memaksaku, Dobe!",

PLaaaaK
Sasuke menampar pipiku saat aku hendak menyentuhnya.

"Dobe, aku...",
"Kau selamanya tidak akan dewasa!",

Aku mengambil kaos dan jaketku, kemudian aku berlari pergi meninggalkannya.

Rasanya sakit.
Mengapa dia harus jijik? Aku kan suaminya?


Keesokan pagi harinya, barulah aku pulang ke hotel. Tadi malam, aku memutuskan untuk tidur di bangku taman hotel.
Tidak, aku tidak bisa tidur semalaman. Pikiranku sangat kacau.

Aku berpikir bahwa aku terlalu egois dan mesum. Aku salah karena aku telah memaksanya melakukan hal yang dia tidak biasa lakukan. Nafsu ingin memilikiku terlalu besar, sehingga aku menyakitinya, membuatnya marah.

Aku harus minta maaf!

TiiiiNG TooooNG
Kutekan bell pintu kamar hotel.
Tidak perlu menunggu lama agar pintu terbuka.

Sasuke muncul di balik pintu. Wajahnya tidak seperti orang yang baru bangun tidur. Apa dia juga tidak tidur semalaman?

"Dobe, aku...",
"Aku minta maaf, Suke. Aku salah. Aku terlalu mesum. Hahahaaa...", aku memukul-mukul kepalaku.
"Ayo, coba lagi!",
"Hah!?",

Sasuke langsung menarikku masuk ke kamar setelah mengunci pintu. Dia membuka kancing piyamanya dan melempar piyamanya ke sembarang tempat, kemudian dia berbaring di atas ranjang.

"Aku tidak akan memukul ataupun menendangmu", janjinya.
"Aku tidak bisa memaksamu, Suke",
"Sekarang atau tidak selamanya!",
"Sekarang!",

Aku melepas jaket dan kaosku. Aku mulai mendekati Sasuke. Sasuke menatapku dengan tajam, seolah menyuruhku untuk tidak mendekat.

"Me, mengapa kau menatapku seperti itu?", tanyaku.
"O... Hn!", Sasuke memejamkan matanya.

Setelah tidak merasakan hawa berbahaya dari Sasuke, akupun mulai menyentuhnya.

Kucium bibirnya, dia membalas ciumanku, bibirnya sungguh manis, aku ingin lebih lama mengulumnya.

Setelah puas bermain dibibirnya, aku berpindah ke area leher dan dadanya.

Untuk tahap yang lebih intim selanjutnya, silakan berimajinasi sendiri. Ohohohooo...


Aku terbangun ketika hari sudah sore.

Sasuke masih tertidur sambil memelukku. Aku mengecup singkat kepalanya. Aku tersenyum geli melihat wajah Sasuke yang memerah tadi. Akhirnya aku bercinta dengan Sasuke, si teme pantat ayam limited edition! Yey! Ya, meskipun dia menjambak rambutku saat aku memasukinya..hahahaaa...

Aku menjauhkan Sasuke dari dadaku. Aku akan mandi, lalu pergi berbelanja bahan makanan, aku ingin membuat makan malam yang special untuknya.

Saat aku menyelimuti Sasuke, kulihat hidung Sasuke telah berdarah. Darahnya juga menempel di dadaku.

"Suke!", aku membangunkan Sasuke.
"Nggg~", erangnya.
"Buka matamu, Suke!",

Sasuke membuka matanya perlahan, mengerjap dengan pelan.
"Mana yang sakit? Katakan padaku!",
"Pantat...",
"Selain itu!",

Sasuke tidak menjawab, matanya kembali terpejam.
"Aku akan membawamu ke dokter!",
"Dobe... Obatku...",

Aku membongkar isi ranselku, setelah menemukan obat Sasuke, aku langsung menyuruh Sasuke untuk meminumnya.

Itachi-nii berpesan padaku, agar memberikan obat pink ini pada Sasuke jika Sasuke merasa kesakitan dan tidak mampu bergerak.

"Aku rapopo, Dobe~", Sasuke mencoba untuk tersenyum.

Aku menyeka darah di hidung Sasuke dengan tissue basah.
"Istirahatlah. Aku akan menyanyikan Brahms' Lullaby untukmu",

Sasuke-ku sakit, sebenarnya apa yang telah kuperbuat? Aku tidak becus menjaganya!

Aku seorang dokter, aku sudah menyembuhkan banyak pasien anak-anak, tapi, di saat kekasihku sakit, aku tidak bisa menyembuhkannya.

Aku dokter yang payah!


Terputus


Review please ^^v