[Chaptered]
[Sequel : You Can't Hear]
Title : Love, Dream and Happiness
Chapter : 07/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Exile - Love, Dream and Happiness
Langsung aja deh, gak usah pake sekapur sirih..hahaha..
- Sasuke PoV -
Kugerakkan tubuhku yang sangat berat, sedikit meringis pada sakit di pinggang dan pantatku. Aku tidak menyangka bahwa bercinta akan sesengsara ini.
"Suke, apa masih sakit?", terdengar suara Dobe samar-samar.
Kubuka kedua mataku, mengerjap-ngerjap untuk melihat wajah jelek di hadapanku. Si jelek ini memandangku dengan wajah cemas.
Kodorong wajah jelek itu agar menjauh dari hadapanku, kutarik bedcover yang menyelimutiku dan aku kembali bergumul di dalamnya. Tidak peduli pada gaya tidurku yang seperti keong.
By the way, anyway, busway, aku sudah berpiyama lengkap, mungkin Dobe memakaiannya, tapi mengapa dia tidak memakaikan CD padaku? Rasanya aneh ketika asetku tidak disangkar.
"Suke, apa kau baik-baik saja? Ayo, kita ke dokter!", Dobe menarik-narik pelan bedcoverku.
Aku keluar dari cangkangku. Kutoel-toel pipi Dobe yang kasar. Dia sama sekali tidak niat merawat wajah jeleknya ini.
"Mengapa kita harus ke dokter? Bukankah kau juga dokter?", tanyaku.
Tidak ada cengiran bodoh andalannya, wajahnya sangat kusut, berantakan dan semakin jelek. Mengapa dia terlihat sedih?
"Ada yang mengambil permenmu, Dobe?", aku mencoba menggodanya tapi dia sama sekali tidak berniat merubah raut wajahnya yang aneh ini.
Ah! Bicara tentang permen, aku berjanji pada diriku sendiri untuk membelikan permen yang paling manis untuk Neji! Ingatkan aku ya, minna-san!
"Dobe?", panggilku yang merasa bahwa aku tidak dihiraukan olehnya.
PLaaaaK
Kutampar pipinya untuk mengeluarkan 'setan sedih' di tubuhnya.
"Teme!", marahnya.
"Kau sudah sadar rupanya!",
"Mengapa kau menamparku!", dia masih tidak terima dengan tamparanku.
"Wajahmu aneh! Tidak ada senyum-senyumnya!", cibirku.
Wajahnya kembali aneh lagi.
"Sebenarnya kau kenapa, Dobe? Kau marah padaku karena aku menjambakmu tadi? Atau karena aku menamparmu? Eh, tidak dink! Aku kan baru saja menamparmu, wajahmu memang sudah aneh sejak aku bangun tadi",
Dobe tidak menjawabku, dia menyandarkan kepalanya di dadaku.
"Ne, Suke~ apakah aku pantas menjadi dokter?",
"Menurutmu?",
"Aku bertanya padamu, Suke~",
"Aku juga bertanya padamu, Dobe!",
Dobe terdiam sejenak sebelum menjawabku.
"Kurasa aku tidak pantas", jawabnya.
"Mengapa?",
"Karena aku tidak bisa menjagamu. Aku tidak bisa menyembuhkanmu. Aku mendadak bodoh dan cemas saat rasa sakit menyerangmu",
"Kau tidak perlu menjagaku, karena aku bukan anak kecil lagi. Kau memang tidak bisa menyembuhkanku, karena kau bukan Tuhan, aku juga bukan pasienmu, aku suamimu, aku tidak butuh perawatan apapun darimu. Kau memang bodoh, tapi kau tidak perlu cemas, aku sudah terbiasa dengan rasa sakit. Bukankah kau bilang aku kuat?",
Kudengar suara isakan pelan dari Dobe yang mencengkram erat bedcover di tubuhku.
"Kau tahu, Suke... Aku takut...sangat takut..kehilangan permenku yang paling manis...",
Mengapa tiba-tiba dia membahas permen?
"Cup cup cup...", kutepuk-tepuk pelan pundaknya yang bergetar.
Ingatkan aku untuk membelikan permen untuk Dobe-ku juga!
Huf~ Mengapa Neji dan Dobe menangis hanya kerena kehilangan permen?
Hari kelima di Bali.
Aku tidak bisa kemana-mana karena masih capek. Meskipun bosan seharian di hotel, setidaknya aku bisa memperbudak Dobe.
Sekarang Dobe sedang keluar untuk mencarikan makan siang untukku.
Sambil menunggu kepulangan Dobe, aku berchatting pada 'Itachimut', ID aniki yang tidak mau kalah saing dengan 'Sasukyut', IDku.
Sasukyut : Aniki, pinggang dan pantatku sakit :(
Jujur, setiap aku sakit, aku selalu mencari aniki. Bukannya aku anak manja atau apalah, aku hanya merasa bahwa aku memang membutuhkan aniki. Lagi pula sejak kecil, aniki selalu berpesan padaku untuk memanggilnya jika terjadi sesuatu padaku.
Itachimut : kalian baru saja bercinta?
Bagaimana aniki bisa tahu?
Sasukyut : ya. Apa efek bercinta itu membuat pinggang dan pantat sakit? ('o')a
Itachimut : iya, ditusuk-tusuk itu kan sakit..kekkeke...
Sasukyut : ciaaaattt!
Hari keenam adalah hari terakhir kami di Bali. Besok pagi, kami akan kembali ke Konoha. Aku sudah rindu pada anikiku tercinta.
"Ini untukmu, Dobe! Ini juga! Ini! Ini! Dan ini! Semuanya untukmu!", kuberikan banyak permen manis berbagai macam bentuk dan rasa kepada Dobe.
"Kau tidak bermaksud menyuruhku untuk membuka toko permen kan, Suke?", tanyanya sambil menampung permen pemberianku di kaosnya.
"Supaya kau tidak menangis saat permenmu ada yang hilang. Kau tahu, Dobe? Kalau kau menangis, wajahmu itu sangat, sangat, saaaaangat jeeelllek sekali!",
Dobe hanya mencibir kesal, aku lebih suka melihatnya seperti ini daripada melihatnya murung tanpa sebab, seperti kerasukan setan sedih saja!
"Nah! Ini untuk Neji! Kata ibu penjual, ini permen yang paling manis, warnanya juga warna kesukaan Neji!", aku tersenyum puas pada lollipop berwarna pink pucat yang kubeli.
"Neji suka warna ungu lho",
"Pink, Dobe!",
"Ungu, Sukeee!",
Aku mendengus sebal. Mengapa aku selalu salah mengingat?
Dobe marah ketika aku menepuk kepalaku yang bermasalah ini. Mengapa dia harus marah? Ini kan kepalaku, bukan kepalanya!
Tidak menghiraukan omelan Dobe, aku kembali membeli lollipop berwarna ungu, warna kesukaan Neji yang sebenarnya.
Aku mendarat di punggung Dobe saat dia sedang berbaring sambil menatap kushuk ponselnya. Dia meringis punggungnya kejatuhan beban berat sepertiku.
Kuganti posisiku menjadi menyandarkan kepalaku di punggungya. Dia menyimpan ponselnya, kemudian dia berbalik agar dia bisa memelukku dari depan. Tangannya mulai sibuk menyisir rambut indahku.
"Suke, kau suka anak perempuan atau laki-laki?", Dobe memulai topik pembicaraan.
"Laki-laki",
"Laki-laki? Mengapa tidak perempuan?",
"Perempuan terlalu berisik",
"Padahal aku ingin sekali punya anak perempuan",
Mengapa aku merasa aneh dengan pembicaraan ini? Aku malah teringat dengan perkataan Sai. Kami sama-sama laki-laki, bagaimana bisa punya anak?
"Suke, bagaimana kalau kita mengadopsi anak?",
"Aku tidak ingin membahas tentang anak!",
Aku berguling menjauh dari Dobe, aku bersembunyi di dalam bedcover.
"Suke?",
"Kau laki-laki dan kau tidak bisa mengandung, Dobe!",
"Aku tahu, makanya itu, ayo kita mengadopsi anak!",
"Tidak mau! Aku ingin punya anak kandung!",
"Kalau begitu, kau saja yang mengandung!",
"Aku laki-laki, Dobe!",
"Aku tahu. Kita sama-sama laki-laki, kita tidak bisa mengandung. Jika kita ingin punya anak, maka kita harus adopsi anak lain",
"Tapi itu anak orang lain",
"Kau tidak ingin mencoba menjadi orang tua, Suke?",
"Aku masih muda!",
"Suke, kapan kau akan dewasa?",
"Aku belum tertarik untuk menjadi orang tua. Aku bahkan belum bekerja. Bagaimana aku bisa...",
"Aku bisa menafkahi keluarga kita. Kau tidak perlu cemas, Suke~", sela Dobe.
"2 tahun lagi, kita baru boleh membahas tentang anak! Jangan sekarang!",
Aku tidak ingin mengadopsi anak di saat aku belum menjadi apa-apa.
Sesampainya di Konoha.
Setibanya di mansion kami, Dobe langsung mandi dan bergegas ke rumah sakit, karena ada panggilan mendadak dari pihak rumah sakit.
Karena bosan sendirian di mansion, aku menghubungi Neji untuk mengajakku berkeliling, sekalian aku ingin memberikan oleh-oleh untuknya.
Neji mengajakku melihat laut menjelang senja. Sambil menunggu sunset, kami berbicara banyak hal di dalam mobil.
"Kau suka?", tanyaku setelah menyerahkan lollipop berwarna ungu pucat pada Neji.
Neji tersenyum menatap lollipop pemberianku. Neji pasti suka karena aku memberinya permen yang baru.
CHuuu...
Neji mencium pipiku.
"Neji?", sedikit terkejut ketika Neji menciumku.
"Kau lebih manis dari permen manapun",
"Kalau kau ingin memujiku, please jangan gunakan kata 'manis' karena aku...",
CHuuu...
Neji menciumku lagi, kali ini di bibirku.
"Ne, Neji?",
"Aku menyukaimu, dan masih menyukaimu, Sasuke...", Neji menatapku dengan intens.
Aku palingkan wajahku darinya, aku tidak ingin melihat tatapannya yang seolah menuntutku untuk kembali padanya. Hey! Aku sudah menikah!
"A, Aku ingin pulang, Neji~",
Mengapa dadaku terasa aneh? Mengapa Neji masih menyukaiku? Mengapa aku merasa bersalah seperti ini?
"Kau tidak ingin melihat sunset?",
"Aku ingin pulang!", tegasku.
"Baiklah!",
Neji menyalakan mesin mobil dan mengantarku pulang.
Di perjalanan, suasana menjadi canggung dan hening.
"Maafkan aku", Neji mulai berbicara.
"Hn!",
"Aku hanya ingin kau tahu perasaanku saja",
"Hn! Aku sudah tahu",
"Huf~ Rasanya lega~",
"Hn",
"Kau marah padaku?",
"Ya, seharusnya aku marah, tapi aku tidak bisa menyalahkanmu, karena yang salah adalah wajahku yang tampan ini, sehingga banyak yang menyukaiku...ahahahaa...",
Semoga lelucon ini bisa mencairkan kecanggungan di antara kami. Aku tidak ingin membuat Neji berpikir bahwa aku benar-benar marah padanya. Aku juga tidak ingin marah padanya, karena itu akan merusak persahabatan kami.
"Kau memang lucu, imut dan menggemaskan!", Neji menarik pipiku dengan gemas.
"Aku sudah tidak lucu, imut dan menggemaskan lagi! Aku kan sudah dewasa, jadi aku ini tampan! Replace itu di otakmu, Neji!", cibirku.
Neji tertawa lepas.
"Kau memang tidak pernah berubah",
"Huh!",
Benarkah aku tidak pernah berubah?
Beberapa bulan kemudian.
Kehidupan kami sebagai suami-suami berjalan layaknya pasangan yang sedang berpacaran saja. Dobe selalu menggombaliku. Aku hanya bisa mencibir dan berusaha untuk tidak melempar barang ke arah Dobe.
Dobe juga tidak membahas tentang anak lagi. Dobe berkerja di rumah sakit sebagai dokter anak. Sedangkan aku, menghabiskan waktuku di kantor aniki.
Aku meminta aniki untuk merayu otou-san agar menerimaku bekerja di perusahaan, tapi aniki malah menyuruhku kursus memasak agar bisa memasak makanan yang enak untuk Dobe. Dasar baka-aniki!
Karena kegigihan dan sifat ngototku, akhirnya otou-san menyetujui permintaanku untuk bekerja di perusahaan.
Tapi untuk sementara, aku akan dibimbing oleh Sai.
Kuso! Dari sekian banyak manusia, mengapa otou-san harus memilih Sai!
Kini dia tersenyum kemenangan dan akan mulai memperbudakku.
"Aku tidak menyangka kau akan bekerja, kupikir kau akan bersenang-senang menikmati kekayaan keluargamu sampai mati", sindiran pertama yang kudengar di awal aku masuk kerja.
Aku tidak perlu menghiraukannya. Yang terpenting, aku harus menguras banyak ilmu dari si brengsek ini. Setelah aku sehebat aniki nanti, akan kubalas perbuatannya!
"Buatkan aku ice black tea less sugar!", perintahnya padaku.
"Aku bukan babu!", protesku.
"Itu tugas pertamamu, dan kau tidak mau mengerjakannya?",
"Aku bukan babu, apa kau dengar itu?",
"Pulanglah! Kau sama sekali tidak bisa membantuku! Ribut denganmu, menambah bebanku saja!", Sai mengibas-ngibaskan tangannya mengusirku.
"Fine! Black tea-mu segera datang!",
Bersabar untuk menang, Suke!
"Ini black teamu, Sai-yang~", kuletakkan secangkir black tea lengkap dengan 5 sachet gula halus di meja Sai.
Aku tersenyum pada Sai. Sebenarnya aku tidak ingin tersenyum padanya, tapi orang-orang bilang, senyumku manis dan bersahabat. Siapa tahu saja, si brengsek ini bisa kepicut!
Sai memperhatikan black tea buatanku, pandangannya melirik ke arahku seolah-olah bertanya 'apakah kau menaruh sesuatu di dalamnya?'.
Dia masih enggan meminumnya.
"Fine!", kuambil minuman itu dan kuminum seteguk.
Rasanya pahit, rasa tehnyajuga kental, tinggal ditambah gula saja.
"Tidak ada racun!", kusodorkan cangkir itu pada Sai.
"Kau menyuruhku untuk minum minuman bekasmu?", Sai menatap jijik pada minumannya.
Mengapa dia selalu memandangku rendah dan jijik?
Sudah cukup kesabaranku!
Aku menyiram wajah menyebalkannya itu dengan secangkir black tea. Dia malah mendorongku hingga aku terjatuh. Cangkir yang kupegang terlepas dari tanganku dan pecah. Dokumen-dokumen di mejanya juga jatuh karena tertarik olehku.
Pinggangku sakit karena menabrak pinggiran meja.
"Sasu-chan!", Sai tiba-tiba terteriak histeris, mengapa dia memanggilku 'Sasu-chan'?.
Sai menghampiriku, dia langsung menarik tangan kiriku secara paksa. Dia terpaku menatap telapak tanganku.
"Kau kenapa?", tanyaku terheran-heran.
Tanpa menjawabku, dia menarikku dalam pelukannya.
"Hey, kau kenapa!", kudorong agar dia menjauh dariku.
Aku tidak rela dipeluk olehnya!
Sai tidak menjawab pertanyaanku, dia malah berlari keluar ruangan.
Fine! Dia meninggalkanku dengan dokumen yang berserakan ini!
Kurapikan kembali dokumen-dokumen tersebut, kupungut pecahan cangkir di lantai, kukeringkan lantai yang basah dengan tissue.
Lihat! Betapa rajin dan bertanggung jawabnya diriku!
Rugi jika si brengsek itu tidak mau bekerja sama denganku!
Malam harinya, aku menceritakan kejadian di kantor tadi pada Dobe. Dobe bukannya membelaku, dia malah menyuruhku datang ke kantor Sai lagi besok untuk minta maaf. Dobe bilang aku tidak boleh kekanak-kanakan seperti itu, aku harus mengalah dan lebih bersabar untuk meraih sesuatu yang besar. Memang tidak salah sih dengan ucapan Dobe. Tapi, Sai pasti sudah mengadukan ini pada otou-san.
Tak lama kemudian, ponselku berbunyi.
Otou-san meneleponku, beliau bertanya tentang hari pertamaku bekerja bersama Sai. Apa otou-san tidak tahu kejadian tadi pagi? Apa Sai belum sempat mengadu?
Keesokan paginya.
Aku terbangun karena mendengar bunyi ponselku.
"Hallo?", sahutku.
"Sudah kuduga, kau anak malas yang tidak bisa bekerja", ejek Sai.
Kerja?
Kulirik jam waker yang terletak di meja ranjang yang sudah menunjukkan pukul 9 lewat.
Gawat! Aku terlambat bangun!
"Hey! Kau baik-baik saja?", tanya Sai.
Tumben sekali dia menanyai keadaanku.
"Hn!", gumanku sedikit berdehem karena tenggorokanku kering, "Aku...ada sedikit masalah..",
"Masalah?",
"Yang jelas, aku tidak akan mundur!", tegasku.
"Nah! Kalau begitu, aku akan menyiapkan pekerjaan untukmu",
"Tunggu aku, Sai-yang!",
Aku jadi merasa tertantang.
Setelah memakan bubur buatan Dobe yang sudah dingin, aku langsung bergegas ke kantor.
Aku naik taxi karena aku tidak ingin membuang waktuku untuk menunggu bus.
Sesampainya di kantor, aku memilih berlari menaiki tangga daripada menunggu lift. Ruangan Sai terletak di lantai 5, jadi aku bisa berolahraga sedikit.
Aku melihat Sai yang sedang berbicara dengan rekan kerjanya, aku hendak menyapanya, tapi tiba-tiba saja rasa mual menghampiriku.
Aku langsung berlari menuju toilet dan memuntahkan isi perutku di wastafle.
Seharusnya aku tahu bahwa larangan untuk berlari setelah makan, dan aku baru saja melanggarnya, inilah hasilnya.
"Kau baik-baik saja?", tanya Sai yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangku.
"Hn", anggukku.
"Kau sakit?",
"Tidak!",
Sai masih memandangku, akhir-akhir ini dia aneh. Ah! Dari dulu dia memang sudah aneh!
Sudah seminggu aku bekerja bersama Sai. Dia selalu menyuruhku melakukan pekerjaan yang aneh-aneh seperti membuatkan minuman untuknya, memijat pundaknya, membereskan mejanya yang selalu berantakan, bertanding main scramble yang selalu membuatku kalah score dengannya.
Tapi aku sudah terbiasa melakukannya, meskipun aku selalu mengomel sebelum melakukan itu. Dia hanya menyikapi dengan senyum palsunya itu.
Lihat saja nanti! Di akhir cerita, akulah yang akan tersenyum di atasmu!
2 minggu kemudian.
Barulah aku merasa kelelahan. Bekerja itu sangat melelahkan, tidak ada waktu untuk bersantai-santai.
Pergi pagi, pulang malam. Sesampainya di rumah langsung mengerjakan tugas kantor dan tertidur di meja kerja. Tidak ada waktu untuk bermesrah-mesrahan bersama Dobe.
Dobe juga begitu, dia kadang mendapat shift malam. Kami jarang bertatap mata, hanya berkomunikasi melalui ponsel.
Tak masalah, inilah yang dinamakan kerja keras dan profesional. Bersusah-sudah dahulu, bersenang-senang kapan-kapan.
Sai menyuruhku menemaninya ke anak cabang perusahaannya yang ada di Kiri. Selama 2 hari kami di sana.
Sai terus membanggakan kehebatannya padaku. Aku bosan mendengar omongannya. Aku tahu, dia sengaja membuatku iri.
"Kau mengantuk?", tanya Sai berbaring di ranjang seberang.
"Hn", aku menarik bedcover hingga menutupi kepalaku.
Malam ini dingin sekali, biasanya Dobe selalu memelukku.
"Lullaby and good night~ In the sky stars are bright~ 'Round your head~ Flowers gay~ Set you slumbers till day~"
Sai menyanyikan lagu 'Brahms' Lullaby'.
"Ternyata kau bisa bernyanyi juga", ejekku.
"Kau masih ingat dengan lagu itu?", tanyanya berhenti bernyanyi.
"Hn! Nyanyikan itu untukku!", perintahku.
Sai kembali melanjutkan nyanyiannya, suaranya halus dan tidak secempreng Dobe. Aku dengan cepat berlayar ke dunia mimpi. Bukan karena terbuai dengan suara halusnya, itu karena aku sangat lelah dan mengantuk.
Aku tiba di mansionku siang hari.
Perjalanan ke Kiri ini, membuat punggung dan pinggangku sakit.
"Papa!", tiba-tiba ada yang memeluk pinggangku dari belakang.
Kulihat ada seorang anak kecil berambut hitam jabrik yang sedang bergelayutan di pinggangku. Kedua mata oniksnya menatapku, kemudian tersenyum lebar dan mengencangkan pelukannya.
"Papa!", kata anak itu.
Hah?! Pa, Papa!?
Mengapa anak ini memanggilku 'Papa'?!
Terputus
Hayooo...
Siapa anak nyasar itu?
Darimana anak itu berasal?
Review please XD
