[Chaptered]
[Sequel : You Can't Hear]

Title : Love, Dream and Happiness
Chapter : 08/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Exile - Love, Dream and Happiness


Chapter ini muncul oyang bayu iyeeey!


- Naruto PoV -

Rumah Sakit Konoha.

Tulalit...Tulalit...
Ponselku berbunyi.
Panggilan dari Sasukyut, ID yang kugunakan untuk nama Sasuke di contact ponselku.

"Moshi-moshi, Sasu-chan!", sahutku.
"Pulang se-ka-rang!", perintah Sasuke penuh penegasan.
"Sekarang? Tapi aku sedang...",

Tut tut tut..
Panggilan terputus.

"Ini pasti ada hal penting yang harus dibicarakan!",

Aku langsung melepas almamaterku, mengambil kunci mobil dan bergegas untuk pulang ke rumah setelah berpamitan pada asistenku.


Sesampainya di rumah.

"Tadaima! Sasu-chan!", panggilku dengan nafas ngos-ngosan, aku berlari untuk mempercepat waktu.
"Okaeri, Dobe!", Sasuke sudah berdiri di depan pintu menunggu kedatanganku.

Sasuke tiba-tiba menendang asetku.
"AW!", teriakku.

Belum sempat merasakan sakit di asetku, Sasuke langsung menarik lengan kananku dengan posisi membelakangiku, mengangkat tubuhku dan membantingku ke lantai.

Aku meringis kesakitan. Aku tidak menyangka Sasuke sekuat ini.
"Kau kenapa, Suke!", teriakku sambil memegang punggunggu yang nyeri.
"Wow! Papa keren!", terdengar sorak anak kecil.

Eh? Mengapa ada anak kecil di sini?

Di depanku ada seorang bocah laki-laki berumur sekitar 6-7 tahun. Berambut hitam jabrik, bermata oniks, mengenakan kaos polos berwarna biru dan celana pendek hitam.

"Aku bukan papamu!", ketus Sasuke.
"Papa~", bocah itu berlari dan memeluk pinggang Sasuke.

Bocah itu memanggil Sasuke 'papa'? Wajah bocah itu juga mirip dengan Sasuke.

"Suke, kau...selingkuh?", aku menatap Sasuke kecewa.

Sasuke mendorong anak itu hingga terjatuh menimpaku.
"Hey, bocah! Katakan siapa nama papamu!", ketus Sasuke.

Mengapa Sasuke tampak menyeramkan seperti ini? Saking marahnya, wajahnya terlihat seperti ingin menangis.

"Papa~", bocah itu menatap Sasuke, kedua tangannya terangkat mengisyaratkan Sasuke untuk menggendongnya.
"Siapa NAMA papamu!", ulang Sasuke sekali lagi penuh penekanan dengan kata 'nama'.
"U, Uzumaki Naruto", jawab bocah itu pelan.
"Haah?!", teriakku.

Bocah itu menatapku keheranan.
"Ka, kau yakin?", tanyaku pada bocah itu.
"Hn! Mama bilang, papa Menma itu Uzumaki Naruto", jawabnya.
"Siapa nama mamamu?",
"Shizuka",
"Nedeshiko Shizuka?", tebakku.
"Hn!", angguk bocah yang bernama Menma ini.

Ini gila! Ba, bagaimana Shizuka-san bisa punya anak? Tidak mungkin, bocah ini adalah anakku?

Sasuke terduduk lemas sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Memijit dahinya yang mulai sakit.

"Suke, kau baik-baik saja?", tanyaku.
"Ulahmu membuatku semakin cepat menuju kematian!",

Suke, mengapa kau berkata seperti itu?

"Papa?", Menma menghampiri Sasuke.
"Aku bukan papamu! Papamu itu dia! Si kuning sialan itu!", marah Sasuke sambil menunjuk kasar padaku.
"Kuning sialan?", tanya Menma bingung.

Menma menunjuk ke arahku.
"Paman jelek ini... papa Menma?",
"Dasar bocah nakal! Tidak sopan!", omelku.
"Papa~", Menma memberanikan diri untuk memeluk Sasuke.

Sasuke mendorong Menma agar menjauh darinya, tapi Menma malah memeluk Sasuke dengan kuat.

"Menjauh dariku!", Sasuke berniat melayangkan tangannya ke wajah Menma.
"Sasuke! Jangan sakiti anakku!", teriakku spontan.

Sasuke menghentikan gerakan tangannya. Dia menatapku terkejut. Kemudian dia menunduk. Menma mulai menjauh dari Sasuke ketika merasakan aura dingin yang keluar dari tubuh Sasuke.

"Dia memang anakmu...", lirih Sasuke.
"Suke, aku tidak tahu mengapa aku bisa mempunyai anak?", jelasku.

Sasuke tidak mendengarkanku, dia beranjak dari tempat dan mengunci diri di kamar.

Tak lama kemudian terdengar suara pecahan kaca dan teriakan sumpah serapah Sasuke dari dalam kamar.

"Papa bicara kotor?", kata Menma.
"Menma, tutup telingamu dan duduk di sofa sana!", perintahku.
"Hn!", angguk Menma sambil menutup kedua telinganya dengan tangan, kemudian dia berlari ke ruang tamu dan duduk manis di atas sofa.

"Suke! Kau boleh membanting atau menghancurkan barang sepuas mungkin, tapi kau tidak boleh melukai dirimu!", teriakku.
"SHANNARO!", teriak Sasuke disertai dengan hantaman yang keras dari balik pintu.


Aku menatap Menma dan Menma balas menatapku.
"Apa paman adalah papa Menma yang sebenarnya?", tanya Menma.
"Bukankah kau bilang, papamu itu bernama Uzumaki Naruto?",
"Hn!", angguknya.
"Aku Uzumaki Naruto",

Wajah Menma langsung mengkerut. Apa benar dia anakku? Sikap angkuhnya mirip seperti Sasuke. Jangan-jangan... Dia anak Sasuke. Ah! Tidak mungkin! Sasuke bahkan tidak tahu cara bercinta.

"Bagaimana kabar mamamu?", tanyaku.

Menma tampak sedih. Apa Shizuka-san sudah meninggal?
"Aku ingin berbicara dengan mamamu. Kau bisa mengantarku untuk menemuinya?",

Menma menggeleng.
"Menma tidak mau kembali pada mama!", tolaknya.
"Mengapa? Kau bertengkar dengan mamamu?",
"Menma takut...",

Aku berpindah posisi dudukku menjadi duduk di sampingnya agar aku mudah memeluknya.

Shizuka-san masih hidup.


Menma bilang umurnya sekarang adalah 7 tahun. Berarti Menma lahir ketika umurku 17 tahun. 17 tahun itu...Saat aku kelas 3 SMA. Saat itu pula, aku berpacaran dengan Shizuka-san yang umurnya terpaut 10 tahun lebih tua dariku.

Memang gila. Tapi inilah gejolak jiwa mudah seorang remaja yang baru saja menginjak usia dewasa. Teman-temanku terus menceritakan pengalaman mereka bercinta pada pasangan masing-masing yang umurnya di atas mereka. Karena rasa penasaran, akhirnya aku mencoba mencari pasangan bercinta, hingga akhirnya aku bertemu dengan Nadeshiko Shizuka, wanita penghibur di sebuah bar. Shizuka-san adalah wanita dewasa yang cantik dan arogan, itu membuatku semakin gencar untuk memacarinya. Karena aku tidak punya uang untuk menyewanya, maka aku harus ekstra tenaga untuk merayunya dengan kata-kata dan pesona mautku. Dia tertarik padaku dan kamipun pacaran.

Setelah kelulusanku, dia mengajakku untuk bercinta dan aku menerimanya dengan seringai mesumku.

Setelah bercinta denganku, beberapa bulan kemudian Shizuka-san menghilang tanpa kabar. Shizukan-san bilang, dia tidak tertarik pada bocah sepertiku. Rasanya kecewa, padahal aku sudah berusaha untuk mencintainya.

Setelah menginjak bangku kuliah, rasa ketertarikanku terhadap perempuan mulai menghilang. Aku tidak suka mereka yang bawel, tukang gosip, kasar dan angkuh.

Aku menyadari bahwa aku tidak normal adalah saat aku melihat Uchiha Sasuke -teman sekamarku- yang selalu memamerkan tubuh sexynya padaku. Rasanya aku ingin selalu berada di dekatnya. Aku telah jatuh cinta padanya. Aku ingin bercinta denganya.


CeKlek
Pintu kamar akhirnya terbuka.
Menampakkan sosok Sasuke yang tampak pucat, matanya membengkak. Dia pasti terlalu lama menangis.

"Suke, maafkan aku",

Sasuke menarikku ke dalam kamar dan membantingku ke atas ranjang. Dengan kasar, Sasuke menarik kemejaku dan menabrakkan bibirnya ke bibirku.

"Suke..mmmppp...",

Sasuke menyudahi ciuman kasarnya.
"Ayo kita buat anak!",
"Suke?",

Sasuke duduk di perutku.
"Aku tidak ingin anak itu! Kembalikan dia ke asalnya!",
"Suke, dia anakku...",

Sasuke menamparku.
"Aku ingin kau mengandung anakku! Anakku! Bukan anak orang lain!", teriaknya sambil membuka paksa kemejaku.
"Tapi dia anakku, anakmu juga",
"Ayo kita buat anak, Dobe sialan!", makinya.

Sasuke kembali menamparku, dia bahkan menjambak rambutku dan meninju-ninju dadaku. Kubiarkan dia memukulku sepuas mungkin.

"Kau menyakitiku! Selalu menyakitiku! Kau bilang kau cinta padaku, tapi kau malah selingkuh dan punya anak!",
"Suke, itu masa laluku",

BuuuuG
Sasuke meninju bibirku hingga berdarah.
"Kalau aku tahu masa lalumu seperti ini, aku tidak akan menikah denganmu!",

Sasuke menyingkir dari perutku.
"Bereskan semuanya, aku tidak bisa tidur", perintah Sasuke datar tanpa ekspresi.

Di depan pintu tampak Menma yang sedang berdiri, apa dia melihat pertengkaran kami?

"Papa-papa jangan berantem",
"Menma, kau sudah bangun?", aku mencoba tersenyum pada Menma agar dia tidak takut.
"Maafkan Menma~ Menma akan pulang sekarang", Menma berlari.

Aku bermaksud mengejar Menma, tapi Sasuke mencegahku.
"Biarkan dia pergi!",
"Menma anakku, anak kandungku, Suke!",
"Biarkan dia pergi!",
"Menma anakku!",
"Fine! Akulah yang akan pergi!", Sasuke memungut pakaiannya dari lemari yang telah rusak.
"Aku tidak akan membiarkan kalian berdua pergi! Kalian keluargaku!",
"Persetan dengan keluarga!",
"Jangan pergi! Kalau kau pergi, aku akan menyeretmu kembali!",

Aku langsung berlari mencari Menma.


Aku berhasil menemukan Menma, kubawa dia ke taman dekat mansion.

"Paman bukan papa Menma, Menma salah orang..hehehee..", cengirnya.
"Cengiranmu mirip denganku, kau anakku", kucubit pipinya.
"Menma tidak mirip dengan paman! Menma tampan, sedangkan paman jelek!",
"Tidak sopan", cibirku.

"- - -",
"Menma ingin pulang~",
"Ini sudah malam, menginaplah di rumahku",
"Tapi nanti pap.. Paman tampan akan marah",

Aku merasa geli mendengar Menma memanggil Sasuke dengan sebutan 'Paman tampan'.

"Paman tampan memang pemarah, tapi jika terus bersamanya, paman tampan akan berubah menjadi malaikat yang saaaangat imut dan menggemaskan", bujukku.
"Malaikat?",
"Hn!",
"Menma mau melihat malaikat!",
"Kita pulang?",

Menma sedikit ragu untuk menyambut tanganku. Aku langsung menggendongnya. Menma memeluk leherku.

"Menma ingin punya papa seperti teman-teman", lirih Menma.
"Kau boleh memanggilku 'Papa'",
"Papa~",

Ada kebahagian saat Menma memanggilku 'Papa'. Aku seperti ditakdirkan untuk menjadi papa bagi bocah ini.


Sesampainya di mansion.
Menma duduk manis di meja makan sambil menyantap sepiring spagetti, dia tampak kelaparan. Aku mencari Sasuke di kamar untuk mengajaknya makan malam bersama.

Kamar kami sangat berantakan, semua barang rusak dan pecah belah. Bantal, guling dan bedcover sobek-sobek. Sasuke bahkan tega menggunting-gunting Kurama-chan hingga sobek tak berbentuk.

Semuanya hancur dan berantakan, termasuk hati Sasuke saat ini. Ini semua karena kesalahanku di masa lalu.

"Sasu-chan?", panggilku sambil menggedor pintu kamar mandi.

Tidak ada sahutan dan tidak ada sosok Sasuke di sana.

Dia benar-benar pergi.

Aku memijit dahiku yang mulai sakit. Membayangkan kembali wajah Sasuke yang penuh amarah tadi.


"Paman tampan?", tanya Menma menghentikan makan malamnya.
"Paman tampan pergi sebentar", jawabku, aku menarik kursi dan duduk di sebelah kanan Menma.
"Karena Menma?",
"Hahahaaa... Ini bukan salah Menma, ini salah papa",
"Papa, besok pagi tolong antarkan Menma ke rumah mama, ya?", pinta Menma.

Aku mengangguk pelan. Aku memang harus bertemu dengan Shizuka-san.


Menma membantuku memungut potongan-potongan tubuh Kurama-chan ke dalam plastik besar. Sedangkan aku, memilah-milah barang yang masih bisa diperbaiki.

Karena sudah malam, aku menyuruh Menma untuk tidur di sofa, kututupi tubuh mungilnya dengan bedcover yang hangat.

Setelah selesai membereskan kamar, aku kembali menghubungi Sasuke, tapi ponselnya masih tidak aktiv.

"Sasuke, kita perlu bicara. Kumohon jangan lari dari masalah. Kau sudah dewasa, Suke. Aku mencintaimu~", pesanku pada mailbox.


Pagi harinya, aku mengesampingkan pekerjaanku di rumah sakit. Aku harus menyelesaikan masalah keluargaku secepatnya.

Aku dan Menma berangkat ke Ame tempat tinggal Shizuka-san sekarang, jarak tempuhnya 2 jam jika menggunakan mobil.

Shizuka-san tinggal di sebuah rumah kecil sederhana di tengah pemukiman padat.

Melihat kedatangan Menma, Shizuka-san langsung menjewer telinga kanan Menma dan memukul pantat Menma hingga Menma menangis.

"Jangan sakiti anakku, Shizuka-san!", aku menarik jauh tangan wanita berambut hitam panjang ini, wajahnya tidak berubah, dia masih cantik seperti dulu, meskipun ada lingkaran hitam di bawah matanya.
"Kau... Naruto?",
"Hn!", anggukku.


Shizuka-san menceritakan alasannya meninggalkan Konoha. Beberapa minggu setelah kami bercinta, ternyata Shizuka-san mengandung anakku, dia kebobolan. Dia tidak ingin menggugurkan kandungannya, dia takut aborsi akan membahayakan nyawanya. Akhirnya dia memutuskan untuk pindah ke Ame, melahirkan dan membesarkan anaknya sendiri. Dia tidak ingin melibatkanku karena saat itu aku masih muda dan tidak bisa menjadi orang tua untuk menafkahi anak.

Dia sengaja menamai anak kami dengan nama 'Menma', karena wajah Menma sangat mirip denganku, Menma juga suka ramen sepertiku.

Menma terus menangis ingin punya papa seperti teman-temannya. Karena Shizuka-san pusing mendengar rengekan Menma, akhirnya Shizuka-san mulai mencari keberadaanku.

Shizuka-sanlah yang menyuruh Menma ke Konoha untuk mencariku. Dia terlalu nekad menyuruh anak sekecil Menma untuk bepergian seorang diri.

"Kalau kau ingin merawat anak nakal itu, ya silakan saja!", ucap Shizuka-san cuek sambil menggigit kentang goreng, pandangan tertuju pada siaran drama TV.
"Menma bukan anak nakal!", bantahku.
"Akulah yang merawatnya dari bayi! Jadi aku lebih tahu dia daripada kau!",
"Dia anak yang baik",
"Ckck!",
"Kalau kau tidak menginginkan Menma, biarkan aku merawatnya!",
"Ambil saja Menma! Aku tidak butuh anak nakal yang cengeng itu! Aku sudah muak dengan masalah yang ditimbulkannya!",
"Baiklah! Aku akan mengambil Menma!",

Shizuka-san mengeluarkan semua pakaian Menma dan memasukkan semuanya ke dalam ransel, pakaian Menma tidak banyak begitu banyak.

"Semoga saja Menma tidak memperburuk keadaan suamimu!", Shizuka-san melempar ransel padaku.
"Maksudmu?",
"Dari info yang kudapat, kau menikah dengan seorang pria yang mengidap penyakit Leukemia",
"Sasuke memang sakit, tapi dia tidak akan menyerah karena Menma! Menma bukan...",
"Cukup! Bawa dia pergi dari sini! Kau mengganggu keseruanku menonton drama!", sela Shizuka-san.

Tanpa berpamitan pada Shizuka-san, aku membawa Menma pergi dari rumah itu.

Terdengar suara tawa Shizuka-san yang keras dari dalam.

Shizuka-san memang bukan mama yang baik.


Di perjalanan pulang menuju Konoha.
Kukatakan pada Menma bahwa dia akan tinggal bersamaku selamanya dan tidak akan kembali pada mamanya. Menma senang, karena tidak ada mama yang selalu memarahi dan memukulnya. Selama ini Shizuka-san mendidiknya dengan kekerasan.

"Kita akan tinggal bersama paman tampan?", tanya Menma.
"Bukan paman tampan, tapi 'papa'", ralatku.
"Papa? Paman tampan itu papa Menma?", wajah Menma tampak senang.

Menma ingin sekali punya papa seperti Sasuke.

"Bukan. Papa Menma tetap aku!",
"Lalu? Mengapa Menma harus memanggil paman tampan dengan sebutan 'papa'?",
"Itu karena paman tampan itu suamiku",
"Suami?",

Sulit juga menjelaskan hubungan kami pada Menma yang masih kecil ini. Kalau kusuruh panggil 'Mama', Sasuke pasti akan mengamuk.

"Ah! Panggil saja 'Daddy'",
"Daddy?",
"Daddy Sasu-chan",
"Daddy Sasu-chan", ulang Menma.
"Good, anak pintar!",


Sesampainya di mansion. Kulihat Itachi-nii sudah menunggu di depan pintu. Wajah Itachi-nii sangat cemas.

"Astaga! Kemana saja kau? Aku menghubungimu, tapi tidak diangkat. Sebenarnya apa yang...", ucapan Itachi-nii terhenti ketika melihat Menma yang sedang menggandeng tanganku.
"Siapa anak itu?", tanya Itachi-nii.
"Menma beri salam pada Itachi-jisan",
"Selamat siang, Itachi-jisan!",
"Jisan? Kau mengadopsi anak?",

Aku menggeleng.
"Menma anak kandungku", aku mencoba tersenyum pada Itachi-nii.
"Kau serius?",
"Hn! Menma anak mantan pacarku dulu",
"Astaga! Ternyata ini penyebab Sasuke ingin bercerai denganmu!",
"Hah?!",

Aku tidak menyangka Sasuke akan berbuat senekad ini!


Terputus


Narusasu ingin bercerai! Iyeeey! #plak