[Chaptered]
[Sequel : You Can't Hear]

Title : Love, Dream and Happiness
Chapter : 09/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Exile - Love, Dream and Happiness


Ntah mengapa aku lebih suka Sasuke sama Sai #plak

Tapi bagaimanapun, ini tetap NaruSasu (з´⌣`ε)


- Sai PoV -

TiiiiNG TooooNG
Bell apartmentku berbunyi.

Kutinggalkan sejenak laporanku untuk membuka pintu.

Kulihat sosok Sasuke yang mengenakan kemeja lengan panjang soft blue -pakaian tadi pagi-, penampilannya sangat berantakan dengan kemeja yang dikeluarkan dan tanpa dasi, wajahnya juga pucat dan kusam, kedua matanya membengkak dan memerah, seperti zombie.

"Hai!", sapanya.
"Ada apa?", tanyaku dingin, enggan membalas sapaannya.
"Bolehkah aku...istirahat sebentar?", pintanya.

Aku mengernyit, apa aku salah dengar?

"Ini bukan hotel", tolakku sambil berpangku tangan, menatapnya dengan angkuh.

Dia sangat aneh, sangat..

"Kamarku...berantakan... Aku butuh istirahat...", jelasnya, bibir pucatnya bergetar.
"Kau bicara apa?",
"Untuk malam ini saja",

Melihat kondisinya, aku mengizinkannya untuk masuk. Sasuke langsung berbaring di sofa merahku. Sasuke pernah ke sini, jadi dia sudah terbiasa dengan letak ruangan di sekitar.

"Kau sakit?", tanyaku.

Matanya terpejam, mulutnya sedikit terbuka, nafasnya terasa berat. Kusentuh dahinya yang berkeringat, tapi tidak demam.

"Kau kenapa?",
"Aku...lelah", jawabnya pelan dengan mata terpejam.
"Istirahatlah!",

Aku mengambil selimut dan bantal dari kamarku. Kuletakkan bantal di kepala Sasuke dan menyelimuti tubuhnya yang gemetaran.

"Kau kedinginan?",

Dia menggeleng pelan.

"Aku di ruanganku, kalau kau butuh sesuatu, kau bisa ambil sendiri",
"Hn",
"O, ya! Jangan ngompol, sofaku itu mahal", sindirku, berharap agar dia menyindirku balik, tapi dia hanya diam.

Apa penyakit lamanya itu kambuh lagi? Tidak, bukankah mereka bilang sakitnya telah sembuh?

Apa sebaiknya aku menghubungi Itachi-nii? Tidak, ini bukan urusanku! Dia adik Itachi, bukan adik Sai!

Yang seharusnya aku lakukan adalah kembali ke ruanganku dan menyelesaikan laporan untuk besok.

Men-training Sasuke, memakan banyak waktuku, selain itu membuat pekerjaanku terbengkalai. Sasuke tidak bisa apa-apa, membuat black tea untukku saja dia tidak bisa cepat, dia terlalu lelet untuk urusan itu. Menulis kanjipun dia bisa salah, apa benar dia mendadak lupa dengan budayanya sendiri?

"Huf~", aku memijit dahiku yang berdenyut.

Kurang tidur membuatku pusing. Ini sudah jam tidur untukku, tapi pekerjaanku belum selesai.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam.

"Jaga kesehatan, jangan sampai sakit, sakit itu tidak enak lho!"

Entah mengapa aku selalu mengingat perkataan Sasuke saat aku memaksakan diri untuk bekerja tanpa mengenal waktu. Selama ini, tidak ada yang menasehatiku untuk menjaga kesehatan.

Aku menyudahi pekerjaanku, kepalaku mulai nyeri, aku harus istirahat.

Aku keluar dari ruanganku, menghampiri Sasuke yang sedang tertidur di sofa. Kusentuh dahinya untuk memastikan bahwa dia tidak demam. Wajahnya masih pucat.

Apa sebaiknya aku menghubungi Itachi-nii saja?
Ah! Ini sudah malam, aku tidak ingin mengganggu Itachi-nii. Lagi pula, itu bukan urusanku.

"Come on, Sai! Sadar!", aku mengetuk-ngetuk kepalaku pelan.

Dia bukan adikmu lagi!


Keesokan paginya, aku terbangun ketika mendengar alarm berbunyi. Saking lelapnya, aku bahkan tidak mendengar alarmku telah berbunyi 10 menit yang lalu.

Aku bergegas menyiapkan pakaian dan segera mandi, kurasa aku akan telat hari ini.


Di dapur, aku melihat Sasuke yang sedang duduk di meja makan, kepalanya bersandar di atas meja. Apa dia tertidur?

Di meja makan terdapat 2 tudung saji yang kuyakini ada isinya. Tapi aku tidak tahu apa isinya?

"Aku mencium bau sesuatu", ucapku basa-basi.

Sasuke tersentak bangun, dia menaikkan kepalanya.
"Ohayou, Sai-yang!", sapa Sasuke tersenyum merekah, wajahnya masih pucat seperti tadi malam.
"Jangan mengubah namaku seenak perutmu!",

'Sai-yang' adalah pemaksaan kata 'sayang' yang diambil dari bahasa Indonesia, artinya adalah 'Dear'. Sangat menjijikkan jika Sasuke memanggilku seperti itu.

"Aku tidak mengubah namamu, aku hanya menambah surfix 'yang' pada namamu",
"Tidak ada surfix seperti itu!",
"Tapi itu cocok untukmu",
"Itu sangat menjijikkan, apa lagi yang mengucapkannya orang yang menjijikkan sepertimu!",
"Mengapa kau baru protes sekarang!",
"Karena aku baru tahu artinya",
"Apapun yang terjadi, aku tetap memanggilmu 'Sai-yang'",
"Cih! Dasar homo!",

Tidak banyak berdebat lagi, Sasuke berdiri, mengambil posisi untuk membuka kedua tudung saji.

"Kau beruntung, karena kau orang pertama yang menyicipi masakanku",
"Masakanmu?", aku mulai merinding membayangkan manusia yang tidak bisa apa apa ini memasak untukku.

Dia mulai membuka kedua tudung saji. Tampak 2 piring roti panggang yang menyerupai...

"Taraaa! Sandwich buatan Uchi..eh..Uzumaki Sasuke yang paling imut dan menggemaskan, eh tidak dink! Yang paling tampan, keren dan limited edition! Spesial untuk Uchiha Sai-yang!", serunya yang tak kalah heboh dari MC acara quiz.

Aku mengambil sepiring di hadapanku, mengamati sandwich horror yang dibuatnya, tersenyum mengejek pada hasil percobaannya ini.

"Cih! Ini sandwich? Kau belum pernah melihat sandwich?", ejekku sambil meletakkan sepiring sandwich horror itu secara kasar.

Senyum di wajahnya mendadak luntur.

"Ini hanya roti panggang isi salada, tomat dan telur. Tidak ada daging ataupun tuna", jelasku membongkar isi sandwich horror yang dibuatnya.
"Ini sandwich! Selama di Jerman, aku makan sandwich yang seperti ini!",
"Jangan samakan aku yang sehat dengan pesakit sepertimu!",

Dia diam tidak membantah, perkataanku berhasil menusuknya lagi.

"Iya, kita memang berbeda...", Sasuke menggabungkan sandwich horror itu ke 1 piring, mengemasi semua yang ada di meja makan, setelah itu dia ke dapur.

Aku mengikutinya diam-diam, aku ingin menertawakannya saat dia membuang sandwich horror itu ke tong sampah.

Tapi ternyata, dia tidak membuangnya, dia memakannya dengan cepat dan lahap. Aku tahu, dia pasti sangat marah dan kesal.

"Uhuk..uhuk..", dia tersedak.

"Kapan kau akan pergi dari sini?", tanyaku, sebenarnya aku tidak bermasud mengusirnya, aku hanya suka membuatnya marah, jika dia marah dan tidak bisa membalasku, itu adalah suatu kemenangan besar bagiku.

Dia langsung berbalik memunggungiku, dia belum menjawabku, mulutnya masih sibuk mengunyah.

"15 menit lagi", jawabnya.

Aku kembali mengejeknya.
"15 menit? Itu terlalu lama. Kau membuatku telat. Mengapa kau selalu menyusahkanku?", aku melirik jam tanganku yang hampir menunjukkan pukul 8.

"Menyusahkan? Apa perlakuanku selama ini menyusahkanmu? Apa yang harus aku lakukan agar aku tidak menyusahkan di matamu?", tanyanya datar, dia tidak melanjutkan makanannya, hanya mengepalkan kedua tangannya.
"Kau anak manja yang...",
"Mati? Apa aku harus mati?", selanya.
"Aku membencimu. Anak manja dan egois sepertimu, seharusnya mati saja. Dulu aku pernah mengucapkan ini padamu, apa kau masih ingat?",

Dia tidak menjawabku, tubuhnya mulai oleng. Tangan kirinya bertumpu pada pinggiran tempat cuci piring agar tidak jatuh, tangan kanannya naik mencengkram kemejanya.

"Aniki...berbohong padaku...lagi..", suaranya bergetar.
"Kau terlalu bodoh sehingga kau mudah dibohongi",

BRuuuuK
Sasuke menjatuhkan tubuhnya, kini dia terduduk menyandarkan kepalanya, tangan kanannya masih mencengkram dadanya.

Apa sakitnya kambuh?

"Hey!", panggilku.

Kuhampiri dia, kulihat pipinya telah basah dengan air mata.

Sejak kapan dia menangis?

"Mengapa kau menangis?", aku ingin menyeka air matanya, tapi aku merasa bahwa ini tidak perlu melakukan ini.

Pandangannya lurus menatapku.
"Aniki bilang...Sai menyayangiku... Waktu aku kecil, Sai menina-bobokanku, Sai membacakan dongeng untukku, Sai mengajariku membaca dan berhitung, Sai selalu bermain bersamaku, Sai pintar menghiburku ketika aku menangis, Sai tidak pernah memarahiku, Sai juga tidak pernah meninggalkanku sendirian, Sai menjaga dan melindungiku... layaknya seorang kakak menjaga adiknya...",

Cih! Apa yang Itachi-nii ceritakan padanya?

"Apa benar kau 'Sai' seperti yang dikatakan aniki padaku?", tanyanya.
"Apa aku terlihat seperti 'Sai' yang kau dengar?",

Sasuke tersenyum kecil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kau benar, aku terlalu bodoh sehingga aku mudah dibohongi..hahahaa..", diusap air mata di pipinya.

Dia berdiri untuk mengambil sisa sandwich.
"10 menit saja, setelah itu...aku akan pergi", dia kembali mengunyah sandwichnya.

Dia tersedak lagi. Aku bisa mendengar isakan kecil meskipun mulutnya dipenuhi sandwich.

Kutarik bahunya agar dia menghadapku. Pipi gempalnya kembali basah, dia menangis tertahan.

"Kau tampak jelek ketika menangis", ejekku.

Dulu aku suka berkata seperti itu ketika Sasuke menangis, dia akan mengusap air matanya dan berhenti menangis, kemudian dia akan bertanya padaku "Sasu tidak jelek kan?". Sasuke sangat takut jelek.

"Aku tidak jelek!", tegasnya sambil mengusap air matanya, dia memang takut jelek.

Meskipun dia mengusap air mata di pipinya, tetap saja air mata itu mengalir jatuh ke pipinya lagi. Dia tidak bisa menghentikan tangisnya.

Kupeluk dia, mendekapnya dengan erat, kuusap-usap punggungnya.

"Dasar, jelek!",
"Hiks...hiks...Ini...terlalu sakit...", isaknya sambil memelukku dengan erat, mencengkram kuat kemeja belakangku.
"Apa yang membuatmu sakit?",

Mengapa aku bertanya seperti itu? Jelas-jelas, akulah penyebabnya.

"Perkataanmu...hiks...hiks.. Dobe...aniki...mereka...pembohong...sakit...tubuhku...sakit...",

Maafkan aku.

"Nii-chan di sini...", bisikku sepelan mungkin di tengah isakannya.

Seandainya waktu bisa diputar ulang, aku ingin kembali ke masa kecilku, saat aku bersama Sasuke.

Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku, kesalahan yang membuatnya pergi menjauh dariku.


Sambil berbaring di sofa, aku memandangi gantungan ponselku berbentuk melon yang terbuat dari flanel.

Benda norak, itu yang pernah Sasuke katakan untuk gantungan ini. Seandainya dia ingat, benda norak ini adalah buatannya, hadiah pertama yang dia berikan untukku.

Tapi sayangnya dia tidak ingat, dia telah lupa semuanya. Lupa dengan masa kecilnya saat bersamaku. Lupa bahwa dia pernah memanggilku 'nii-chan'. Ya, dia lupa.

DrrrrT DrrrrT
Ponselku bergetar.
Panggilan masuk dari Itachi-nii.

"Halo?", ucapku.
"Sai? Apa Sasuke bersamamu?",

Aku terpaksa membohongi Itachi-nii, Sasuke memintaku untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada siapapun, termasuk kakak kesayangannya ini.

Cara bicara Itachi-nii terdengar cemas, dia berpesan padaku untuk mengabarinya jika aku melihat Sasuke. Kemudian panggilanpun ditutup.

Sebenarnya apa yang membuat Itachi-nii cemas, apa Sasuke melakukan hal yang bodoh?

Aku langsung berlari ke kamarku, tempat Sasuke sedang beristirahat. Tadi pagi, dia hampir pingsan, dia hanya bilang bahwa dia butuh banyak istirahat. Aku bahkan tidak masuk kantor untuk menjaganya, aku tidak ingin meninggalkan dia sendirian yang sedang sakit.

Saat aku memasuki kamar, Sasuke telah bangun. Dia memencet hidungnya yang berdarah.

"Maaf, aku mengotori ranjangmu..hehehee..", ucapnya tercengir.

Aku mengambil sebaskom air es dan handuk kecil untuk mengompres dahinya.

"Mengapa tidak memanggilku?", tanyaku kecewa.

Saat dia sakit, dia sama sekali tidak mau memanggilku. Padahal aku di sampingnya, menjaganya, aku ada untuknya.

"Aku tidak ingin menyusahkanmu",

Kalau saja dia tidak sakit, mungkin aku sudah menjitaknya.

Aku keluar sebentar untuk mengambil air hangat dan handuk kecil. Kubasuh wajah dan tangan Sasuke dengan handuk basah yang hangat. Luka di punggung tangan kirinya masih membekas, tidak hanya itu, ada beberapa bekas suntikan di lengan putihnya.

Dia pasti kesakitan. Mengapa anak bodoh seperti dia harus sakit separah ini?

"Mengapa kau menangis?", tanya Sasuke setelah dia menyentuh pipiku tiba-tiba.

Rasa kesal membuatku tanpa sadar menangis. Aku kesal, mengapa Sasuke bisa sesakit ini? Mengapa sakitnya tak kunjung sembuh?

"Bukankah mereka bilang kau telah sembuh?", lirihku.
"Sepertinya... Aku dibohongi lagi..hahahaaa...", dia tertawa seolah-olah itu hal yang biasa.

Kami-sama, Sasuke sudah cukup lama menderita karena penyakitnya. Apakah tidak ada kesembuhan untuknya?

"Sakitku tidak bisa disembuhkan. Perlahan tapi pasti, aku akan mati mendahului kalian semua",
"Tutup mulutmu!", aku hendak menamparnya tapi terhenti ketika kilasan ingatan masa kecil saat pertama kali aku menampar Sasuke, saat itu wajah polos Sasuke tampak terkejut dan ketakutan.

Padahal tidak sampai sebulan dia bekerja bersamaku, dia telah berhasil mencuri simpatiku. Setiap ulah yang dibuatnya, aku selalu ingat dengan masa kecilku bersamanya.

Aku berdiri dari tempat duduk, bernafas dengan perlahan. "Jangan mati sebelum melunasi semua hutang-hutangmu. Hutang pada keluargamu yang telah membesarkan, merawat dan membiayai pengobatanmu. Juga hutang pada keluarga barumu yang sekarang",

Aku mengambil piyama dari lemari untuk dipakai oleh Sasuke, kemejanya telah kotor terkena darah.

"Jangan mati dengan meninggalkan hutang sebanyak itu", kulempar piyama ke sampingnya.

Dia tersenyum tipis.
"Hari ini aku merasa bahwa perkataanmu adalah benar, semuanya benar. Apa aku boleh mempercayaimu?", tanyanya sambil melepas kemejanya dan mengganti dengan piyamaku.
"Terserah padamu",
"Hn, nii-chan...",

Sudah lama sekali aku tidak mendengar panggilan itu.

"Apa kau lebih suka dipanggil seperti itu?", tanyanya.
"Aku bukan kakakmu!",
"Kau tidak suka? Mmmm~ Ternyata kau lebih suka jika kupanggil 'Sai-yang'",

Aku mengambil kemeja kotornya, kemudian aku menarik bedcover yang menutupi tubuhnya.
"Selain bedcover, apa saja yang telah kau kotori?",
"Bantal", Sasuke menunjuk sebuah bantal di samping kirinya.

Aku mengambil bantal yang bernoda darah. Aku akan melaundry semua barang yang dibuat kotor olehnya.

Sasuke kembali berbaring, memejamkan kedua matanya.
"Izinkan aku menginap 1 malam lagi"
"Biaya menginap akan kupotong dari gajimu",
"Hn", dia meringkuk membelakangiku.
"Kau baik-baik saja?",
"Hanya sedikit nyeri, ya...sedikit...",
"Sebaiknya kau menghubungi suamimu, kudengar dia seorang dokter",
"Aku tidak perlu dia",
"Kalian tertengkar?",
"Dia memperparah penyakitku... Aku tidak butuh dia",
"Kalau kau tidak membutuhkannya? Mengapa kau menikahinya?",
"Itu kesalahanku, kesalahan terbesarku",
"Kau memang tidak bisa berpikir dewasa, dasar kekanak-kanakan",

Sasuke tidak berkata lagi.

"Kalau kau merasa sakit sekali, tolong panggil aku, aku tidak ingin kau mati di kamarku",
"Hn",

Kukeluarkan bedcover yang baru dari lemari, kubentangkan menutupi tubuhnya.
"Jangan dikotori lagi!",


DuuuuK
Aku merasakan kepalaku terbentur sesuatu. Tubuhku seperti terangkat. Kubuka perlahan mataku. Tiba-tiba tubuhku terjatuh, tapi aku tidak merasa sakit.

"Hai...hehehee...", cengir Sasuke mencoba untuk mengangkat tubuhku lagi.
"Apa yang kau lakukan?", aku menjauhinya, menolak untuk diangkat, pandanganku sedikit buram.
"Tidur di sofa membuatmu demam, aku bermaksud memindahkanmu ke kamar", jelasnya.
"Lalu kau menggendongku dan menjatuhkanku?",
"Aku tidak sengaja menjatuhkanmu, aku tersandung pintu",
"Bukan kau yang tersandung, tapi kepalaku! Kau membenturkan kepalaku ke pintu",
"Aku tidak sengaja!",

"Huf~", kupijit dahiku yang mulai berdenyut, tubuhku memang sedikit hangat dari biasanya, "Seharusnya kau membangunkanku",
"Kau demam, aku tidak mungkin membangunkanmu",

Aku masuk ke kamarku dan berbaring di ranjang. Sasuke mengambil sebaskom air dan handuk kecil untuk mengompresku.

"Kau mau minum obat? Atau kupanggilkan dokter?", tanya Sasuke.

Aku menggeleng pelan.
"Aku hanya perlu istirahat",
"Tidurlah! Aku akan menjagamu",
"Kaulah yang seharusnya tidur! Aku tidak perlu dijaga olehmu!",
"Kau sakit karena aku",
"Hn!", anggukku.
"Aku harus bertanggung-jawab",
"Terserah! Kalau kau besok tidak masuk kantor karena sakit, aku tidak segan-segan untuk memecatmu!",
"Aaa~ Jangan pecat aku, kalau aku dipecat, aku tidak dapat uang untuk membayar hutang-hutangku",
"Makanya, jangan sakit!",
"Hn! Aku kuat!",

Ya, kau memang kuat, tapi kau juga cengeng!


Keesokan harinya, kupinjamkan Sasuke kemejaku karena kemejanya sedang dilaundry. Sasuke bilang, malam ini dia tidak akan menginap di rumahku, dia akan pulang. Sebenarnya aku ingin dia tinggal lebih lama lagi, karena aku hanya sendirian di sini. Bosan kerena tidak ada yang mengajakku berbicara, tidak ada hal lain yang bisa kukerjakan selain berkutat pada laptop dan laporanku.

Pagi ini, aku kembali mentraining Sasuke, terasa sedikit lebih ringan, mungkin aku sudah membuka hati untuknya, atau bisa saja otak Sasuke mulai terbuka untuk menerima perintahku.

Rasa benciku perlahan mulai memudar, sebenarnya aku tidak bisa membencinya. Benar kata orang, sangat sulit bagi diri sendiri untuk membenci orang yang sudah terlanjur kita sayangi.

Sampai sekarang, aku masih menyayanginya, tapi aku malu untuk mengakuinya.


Aku mengajak Sasuke untuk makan siang bersama, aku tidak ingin dia makan makanan yang tidak sehat untuk tubuhnya. Aku harus mengontrol pola hidupnya. Aku tidak ingin dia sakit lagi!

"Daddy! I miss you!", seru seorang bocah berumur 7 tahun, bocah itu langsung memeluk pinggang Sasuke.

Daddy? Mengapa bocah ini memanggil Sasuke dengan sebutan 'Daddy'? Siapa bocah ini sebenarnya? Mengapa bocah ini begitu mirip dengan Sasuke? Apa bocah ini...anaknya?

"Suke, kita perlu bicara", ucap seorang pria berambut kuning jabrik, dia Naruto.

Sasuke menarik lengan bocah itu agar tidak memeluknya, kemudian dia mendorong bocah itu ke arah Naruto tanpa berkata apa-apa.

"Suke, kau sudah dewasa, jangan melarikan diri dari masalah, sekecil apapun itu harus diselesaikan", Naruto menarik tangan Sasuke agar Sasuke tidak pergi.
"Cukup, Dobe! Jangan membuatku bertambah sakit!", desis Sasuke.

Ternyata si Dobe yang dimaksud Sasuke adalah Naruto. Mengapa Sasuke memanggilnya 'Dobe'?

"Menma, bermainlah sebentar dengan paman itu. Sai-san, tolong titip anak kami", pesan Naruto, kemudian dia menarik paksa Sasuke untuk ikut bersamanya.

"Sai-jisan?", bocah yang bernama Menma itu menarik-tarik tanganku, "Papa dan Daddy tidak bertengkar lagi kan?",

"Bertengkar?", aku bingung dengan pertanyaan Menma.
"Gara-gara Menma, papa dan daddy bertengkar. Daddy nangis, papa juga nangis, Menma sedih", mata Menma mulai berkaca-kaca.

Aku terjongkok untuk menyamakan tinggi Menma.
"Menma ingin papa dan daddy tinggal bersama, Menma sayang papa dan daddy",
"Mereka memang suka bertengkar, tapi mereka juga saling mencintai", kuelus rambut hitam jabriknya.

Wajah dan model rambutnya memang mirip dengan Naruto, tapi warna rambut dan matanya mirip dengan Sasuke.

Kuusap setikik air mata yang turun mengenai pipinya.
"Jangan menangis, ketampananmu akan luntur",

Menma menyeka air matanya.
"Menma ingin tampan, setampan daddy!",

Aku tersenyum geli melihat Menma, dia mirip seperti Sasuke. Sama-sama takut jelek.

"Kau suka tomat?", tanyaku.

Menma menggeleng.
"Menma suka ramen",
"Daddy suka tomat lho",
"Ah! Menma juga suka tomat, seperti daddy!",

Anak ini benar-benar lucu, dia mengingatkanku pada Sasu-chan, si Sasuke kecil.

Aku penasaran, darimana mereka mengadopsi anak seperti Menma?


Terputus


Review please ^^v