[Chaptered]
[Sequel : You Can't Hear]
Title : Love, Dream and Happiness
Chapter : 10/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Exile - Love, Dream and Happiness
Di dalam mobil.
- Naruto PoV -
Sasuke sedang menatapku bosan, dia masih marah padaku dan enggan berbicara.
"Aku akan mengadopsi Menma", aku memulai pembicaraan.
"Dan aku akan menceraikanmu", sambung Sasuke.
"Dan aku tidak akan membiarkanmu melakukannya",
Sasuke menarik tuas pintu, berniat untuk keluar. Dengan cepat, aku menarik lengannya agar dia terduduk lagi.
"Apa sih maumu, Dobe!", ketus Sasuke menghempaskan tanganku dengan kuat.
"Aku mau kau bersikap dewasa, Suke", ucapku lembut, aku tidak boleh keras dengannya.
"Menceraikanmu, lalu fokus bekerja untuk membayar hutang-hutangku. Itu adalah sikap dewasaku!",
"Kau serius ingin bercerai?", aku sedih mendengar ucapannya.
"Hn! Sepuluhrius!", angguknya.
Aku memijit dahiku. Kepalaku rasanya ingin meledak. Memikirkan masalah ini dan itu, ditambah lagi, dengan sikap Sasuke.
Huf~
Suke, Suke... Kapan kau akan dewasa?
"Kau sudah tidak mencintaiku lagi, Suke?", lirihku.
"Aku mencintaimu, tapi kau...selalu membuatku sakit!", Sasuke memukul-mukul dadanya dengan kuat.
Kucengkram tangannya agar berhenti memukul dadanya sendiri.
"Sampai sekarang masih sakit, Dobe!",
"Pukul aku, Suke! Pukul aku sepuasmu jika masih sakit", aku menarik tangan Sasuke dan mengarahkannya ke wajahku, "Ayo, pukul aku!",
DuuuuaGH
Tanpa pikir lagi, Sasuke melayangkan tinjunya di rahangku.
Rasanya ngilu, padahal luka yang kemarin masih belum sembuh. Perasaan Sasuke, pasti jauh lebih sakit dari ini.
Meskipun ruang gerak terbatas, tetapi tinju, tamparan dan jambakan tetap dilayangkan Sasuke ke wajahku yang disertai dengan makian. Dan aku tidak akan menghindar, aku pantas mendapatkan rasa sakit ini.
Sasuke berhenti memukul, tangannya menutupi hidungnya yang berdarah.
Aku meraih tissue, membantu Sasuke menyeka darahnya agar tidak mengenai kemejanya. Sasuke menepis kuat, tangan yang satunya -yang tidak terkena darah- sibuk mencari sesuatu di laci dasbor.
"Brengsek! Dimana kau simpan obatku!", maki Sasuke yang tidak menemukan obatnya di laci dasbor.
Aku kembali mencari ulang, dan aku berhasil menemukannya di laci dasbor. Sasuke terlalu tidak sabaran dalam mencari sesuatu.
Kuambil 2 butir tablet berwarna pink ini dan menyodorkannya pada Sasuke, aku meraih botol minuman di belakang jok untuk Sasuke. Sasuke langsung meminum obatnya.
Setelah darahnya berhenti mengalir, aku menurunkan posisi jok, menyuruh Sasuke untuk berbaring. Kuambil tissue basah untuk menyeka darah di tangan dan wajah Sasuke. Kuseka juga darah di cincin pernikahan yang melingkar di jari manis tangan kanannya. Aku merasa lega karena Sasuke tidak melepas cincin ini.
"Penyakitku kambuh karena kau!", tuduh Sasuke yang kini memijit dahinya.
"Maafkan aku...",
"Aku tidak akan memaafkanmu!",
"Tidak apa",
"Meskipun anak itu tidak kau adopsipun, aku tetap tidak akan memaafkanmu!",
"Aku tetap akan mengadopsi Menma",
"Ya, sudah! Ceraikan aku, menikahlah dengan ibu dari anak itu. Lalu aku akan fokus pada pekerjaan untuk membayar hutang-hutangku. Kau dan aku berakhir, cerita NaruSasu ini end! Se-le-sai!",
Kutatap wajahnya yang pucat tapi tetap mapan -manis tampan-. Apa aku memang tidak pantas untuknya? Apa aku hanya bisa menyakitinya dan tidak bisa membahagiakannya?
"Kau ingin hubungan kita ini berakhir, Suke?",
"Menurutmu?",
Menurutku? Apakah harus bercerai? Apakah ini keputusan yang bijak?
Aku menurunkan posisi jok, kubaringkan tubuhku menghadap Sasuke.
"Terlalu banyak masalah di pikiranku. Aku tidak bisa berpikir lagi. Kepalaku hampir meledak, izinkan aku untuk istirahat sejenak. Bolehkan, Suke?",
"Hn",
Aku tersenyum kecil, sebelum aku memejamkan mataku untuk merilekskan tubuh sejenak.
Ya, hanya sebentar saja...
Ketika aku terbangun, hari sudah sore, jam 4. Aku tidak melihat sosok Sasuke di sampingku.
Suke, kau sudah tidak ingin bersamaku lagi?
"Apa hubungan ini harus diakhiri? Tapi aku...", tanpa sadar aku menangis, "...aku sangat mencintaimu, Suke...",
Kupukul-pukul dadaku, untuk menghentikan rasa yang begitu menyesakkan ini. Apakah Sasuke juga mengalami ini?
Aku ke ruangan Sai untuk menjemput Menma. Hampir saja aku melupakan Menma. Di ruangan Sai, aku tidak melihat Sasuke. Tidak apa, karena aku tidak tahu harus berkata apa saat bertemu dengannya? Aku takut dia akan mengungkit tentang perceraian. Aku tidak ingin membahasnya.
"Bertambah lagi", ucap Sai sambil menunjuk pipinya, dia bisa melihat pipiku bertambah bengkak.
"Ehehehe...", aku tercengir seperti orang bodoh, "Aku harus pulang. Dimana Menma?",
"Bersama Sasuke di dalam", Sai menunjuk sebuah pintu di belakangnya.
"Mereka baik-baik saja kan?", tanyaku.
Aku takut Sasuke akan mengasari Menma, dan aku juga takut ulah Menma akan membuat Sasuke marah besar.
"Mungkin", Sai berdiri untuk membukakan pintu yang ditunjuknya.
CeteeeK
Sai membuka pintu yang dikuncinya.
"Kau mengunci mereka?", tanyaku heran.
Sai hanya tersenyum menanggapiku. Sai memang suka tersenyum.
Aku melangkah memasuki ruangan yang meyerupai kamar. Ruangan bercat krem, ada lemari, 1 set home theater, sofa merah maroon di dekat ranjang queen size.
Di ranjang tersebut tampak sosok Sasuke sedang terbaring tidur, sedangkan Menma tertidur di sofa merah maroon itu. Posisi mereka saling berhadapan.
Aku berjalan mendekati Sasuke, kusentuh dahinya. Tidak panas, wajahnya juga tidak pucat lagi. Syukurlah~
Kubenarkan letak selimut di tubuh Sasuke, sebelum menggendong Menma pulang.
"Ng?", Menma mulai terbangun.
"Kita pulang, Menma", bisikku.
"Tidak mau!", Menma langsung melompat dari gendonganku dan kembali ke sofa.
"Menma tidak mau pulang! Menma mau di sini!", tolak Menma sambil memempel di sofa seperti cicak.
"Sepertinya, Menma suka dengan sofa itu", ucap Sai tersenyum geli.
Aku ikut tersenyem geli melihat tingkah Menma yang mengingatkanku pada Sasuke. Saat itu, aku mengajak Sasuke untuk mandi bersamaku, dia menolak dan malah menempelkan diri di ranjang.
"Daddy bilang, Menma harus ada di dekat daddy saat daddy bangun. Menma tidak boleh jauh-jauh, karena daddy akan marah jika tidak melihat Menma", jelas Menma yang masih setia menempel di sofa.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan Sasuke pada Menma selama aku tidak ada. Tapi aku merasa, Sasuke tidak mengasari Menma, dan Menmapun patuh pada Sasuke.
Aku tersenyum melihat kepatuhan Menma yang setia menunggu hingga Sasuke terbangun.
"Kau anak papa yang hebat!", kuusap-usap kepala Menma.
"Hn! Menma juga anak daddy yang lucu, imut dan menggemaskan", Menma tersenyum lebar.
Darimana Menma mengetahui kalimat yang sering diucapkan Sasuke itu?
Aku melirik ke arah Sai, Sai tersenyum seperti biasa. Apa saja yang telah diajarkan Sai saat aku menitipkan Menma padanya?
Sambil menunggu Sasuke bangun, aku dan Sai berbincang-bincang. Sai juga tidak terganggu, pekerjaan kantornya tidak terlalu banyak.
"Karena Sasuke tidak ingin menjawabnya, maka aku akan bertanya hal ini padamu",
"Apa itu?",
"Darimana kalian...-kau mengadopsi Menma?", tanya Sai.
JLeeeeB
Aku harus menjawab apa? Apa aku harus jujur?
"Kelihatannya Sasuke kurang menyukai anak itu",
"Bukankah Menma mirip denganku dan juga Sasuke? Hehehe...", cengirku.
"Hn! Sifat anak itu mirip dengan Sasuke. Sama-sama takut jelek",
Bagaimana jika Sasuke mendengarkannya? Bisa-bisa...
"Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Sebenarnya...",
Akhirnya aku berterus terang pada Sai.
"O, begitu", tanggapan Sai setelah mendengar penjelasanku.
"Aku telah menyakitinya, selalu menyakitinya", lirihku, memaksakan diri untuk tersenyum.
"Entah mengapa, aku merasa bahwa Neji lebih pantas untuk Sasuke",
"Maksudmu?",
Darimana Sai bisa tahu hubungan masa lalu Sasuke bersama Neji?
"Pernahkah Neji membuatnya menangis? Pernahkan Neji membuatnya sakit?",
Sai benar. Neji tidak pernah menyakiti Sasuke. Neji selalu tahu apa yang diinginkan Sasuke. Bahkan saat Sasuke sakitpun, Nejilah yang pertama mengetahuinya dibanding aku.
"Ini", Sai menyodorkan sebuah cincin padaku, itu adalah cincin pernikahan milik Sasuke.
"Kutemukan itu di tong sampah", jelas Sai.
Kutatap cincin itu, tersenyum miris. Padahal tadi siang, Sasuke masih memakainya. Apa hubungan ini memang tidak bisa dipertahankan lagi? Apakah harus berakhir? Tapi aku...tidak ingin ini berakhir.
"Menma mau daddy ikut pulang~", rengek Menma yang enggan melepaskan pelukannya di pinggang Sasuke.
"Daddy tidak bisa ikut", jelasku mencoba untuk bersabar mengatasi rengekan Menma.
"Daddy harus ikut!",
"Menma, jangan nakal!", tegasku.
"Menma tidak nakal!", bantah Menma.
Sasuke hanya diam, tidak mau berbicara. Pandangannya asyik pada game di tabletnya.
Kutarik Menma dengan paksa. Kuangkat tubuh Menma yang terus memberontak, kuseret Menma ke dalam mobil.
BLaaaaM
Kututup pintu mobil dengan kuat.
"Papa, Menma mau daddy ikut pulang~", rengek Menma mulai menangis.
Kutulikan rengekan Menma, aku ingin pulang secepatnya. Aku tidak sanggup melihat wajah Sasuke yang diam tanpa menganggap keberadaanku. Ditambah lagi, jari manisnya tidak mengenakan cincin pernikahan. Itu membuatku sakit.
Sesampainya di mansion.
"Papa pembohong! Papa bilang mau menjemput daddy pulang!", marah Menma berlari ke kamar.
Kuhempaskan tubuhku di sofa. Kutepuk-tepuk kepalaku yang terasa nyeri.
"Rasanya, ingin mati saja...",
Aku menyeduh ramen cup untuk Menma. Setelah itu, aku ke kamar untuk memanggil Menma. Dari tadi, Menma mengurung diri di kamar dan tidak mau keluar. Kuharap dia sudah tidak marah lagi saat aku membujuknya dengan ramen.
Menma sedang tidur sambil memeluk Kurama-chan yang telah dijahit oleh Menma. Menma sudah terbiasa menjahit sendiri.
Aku ikut berbaring di samping Menma. Memeluk tubuh mungilnya yang hangat. Memeluk Menma, sama seperti memeluk Sasuke, hangat.
"Ng? Papa?",
"Maafkan papa...", lirihku, "Papa tidak bisa membujuk daddy pulang",
Menma memelukku erat.
"Tidak bisakah daddy tinggal bersama kita?", tanya Menma.
Aku tersenyum sambil mencubit pipinya dengan gemas.
Aku punya Menma sekarang, apakah aku bisa melepas Sasuke? Tidak. Aku tidak mau melepas Sasuke.
TiiiiNG TooooNG
Bunyi bell.
Aku mengabaikan bunyi bell itu, aku enggan membuka pintu.
Ting Tong Ting Tong
Bunyi bell yang ditekan cepat, seolah-olah menyuruhku untuk segera membuka pintu.
"Menma, ayo makan", ajakku sebelum keluar untuk membuka pintu.
Menma mengikutiku dari belakang, lalu mengambil posisi duduk di meja makan.
CeKLeeeeK
Pintu kubuka.
"Lama sekali!", ketus Sasuke langsung menyerobot masuk.
"Daddy!", Menma langsung berlari memeluk Sasuke.
Sasuke menjauhkan Menma tanpa berbicara sepatah katapun, dia malah berjalan menuju kamar. Menma berniat mengikuti Sasuke, dengan cepat aku menariknya. Kusuruh dia untuk menunggu di meja makan.
Di kamar.
Sasuke termenung menatap sekeliling kamar.
"Tadaima!", ucapku.
Sasuke tidak menyahutku, dia berjalan menuju lemari pakaian yang rusak.
"Suke...", panggilku.
Aku tidak ingin melihatnya mengambil koper dan mengemas semua barang-barangnya, lalu pergi meninggalkanku.
"Jangan mengintip!", ketus Sasuke berjalan menuju kamar mandi.
Jessss...
Terdengar bunyi shower, pertanda bahwa Sasuke sedang mandi.
Apa yang ingin kau lakukan, Suke? Mengapa aku masih tidak bisa memahamimu?
"Papa, daddy masih marah?", tanya Menma.
"Entahlah", jawabku menyandarkan dahiku di meja.
Aku senang melihat kepulangan Sasuke, tapi aku takut jika tujuannya pulang hanya untuk membahas perceraian.
"Menma akan buatkan ramen untuk daddy! Daddy pasti belum makan", Menma hendak berlari menuju dapur tapi Saseke tiba-tiba melarang.
Sasuke sudah selesai mandi, dia mengenakan sweater kuning dan celana katun biru panjang yang longgar. Handuk biru menggantung di lehernya. Rambut pantat ayamnya masih basah. Kuharap dia menyuruhku untuk mengeringkan rambutnya.
"Kau memberi makan anakmu dengan ramen?", Sasuke menatapku dengan pandangan meremehkan.
"Hanya itu yang kupunya, untuk saat ini...",
Pandanganku tertuju pada jari manis tangan kanannya. Seharusnya ada cincin pernikahan kami, tapi dia sudah tidak memakainya lagi.
"Kalau caramu mengasuh anak seperti ini, lebih baik tidak usah mengadopsi anak", ucap Sasuke sarkastik.
"Cukup, Suke!", ketusku.
"Kenapa? Kau tersinggung?",
"Berhenti menyakitiku!",
"Menyakitimu?",
BRaaaaK
Sasuke meninju meja makan, hingga ramen cup yang ada di meja tumpah.
"Kaulah yang selalu menyakitiku!",
"Tidakkah kau sadar, bahwa kau juga menyakitiku, Suke?",
"Aku pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu, tapi kau malah berpacaran dengan orang lain. Berkali-kali aku katakan bahwa aku mencintaimu, tapi kau tidak mendengar, malah menghindar dan tidak peduli padaku. Aku selalu mengejarmu, menciummu, terus mengatakan bahwa aku mencintaimu, tapi kau marah-marah, memukulku, melempariku. Karena aku mencintaimu, aku terpaksa mengalah dan merelakanmu bahagia bersama orang lain",
Aku kembali teringat kenangan-kenangan saat kami masih di asrama.
"Aku tidak bisa berpaling darimu, seberapa kuat aku mencoba, tetap tidak bisa. Aku selalu mencintaimu, karena itu aku tetap bertahan dan menunggumu kembali. Aku mencintaimu, aku berani menikahimu, mengabaikan pandangan aneh orang lain. Aku mencintaimu, aku ingin hidup bersamamu, menjalani suka dan duka bersama. Aku mencintaimu, aku tidak ingin kau pergi, tapi kau malah ingin meninggalkanku",
Kucengkram dadaku yang meyesakkan.
"Tolong, pikirkan perasaanku juga",
Sasuke menarik kursi dan duduk berhadapan denganku.
"Aku ke sini untuk melihatmu. Aku tidak menyangka kau akan berkata seperti itu", lirih Sasuke tertunduk, "Jika kau merasa tersakiti, kau boleh..",
Tidak! Jangan katakan itu!
"Kau boleh mence...",
Dengan cepat kunaiki meja, menarik bahu Sasuke, membuat kepalanya mendongak ke arahku. Bola mata oniks kesukaanku ini telah basah. Mengapa kau malah menangis, Suke?
"Jangan...mencintaiku, jika aku...hanya menyakitimu...",
Kubungkam mulutnya dengan ciuman, agar dia berhenti berbicara aneh. Meskipun Sasuke terus memberontak, aku terus menciumnya, hingga akhirnya dia mengalah dan membalas ciumanku.
Seharusnya aku percaya, bahwa dia tidak akan meninggalkanku. Tapi, tetap saja aku takut jika berkata ingin bercerai.
Sasuke tersenyum kecut memandangi kondisi Kurama-chan.
"Jelek sekali jahitanmu", ejek Sasuke.
"Menma yang menjahitnya", jelasku.
"Anak itu?", Sasuke tampak tidak percaya.
"Hn! Menma, anak kita yang paling hebat!",
"Dia anakmu, bukan anakku!",
Sasuke merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Malam ini, kau tidur di luar", ucap Sasuke memeluk Kurama-chan.
"Hn!",
Aku mendekati Sasuke, kukecup dahinya, lalu mengucapkan selamat malam padanya.
"Papa, Menma mau tidur bersama daddy", pinta Menma.
"Daddy sedang galak, nanti kau dimarahi",
"Daddy memang galak, tapi daddy seperti malaikat jika sedang tidur",
Aku tersenyum geli pada ucapan Menma.
"Ayo!", kugendong Menma menuju kamar.
Di kamar, Sasuke masih belum tidur. Apa yang sedang dipikirkannya?
"Menma ingin tidur denganmu", ucapku sambil tersenyum. Menmapun ikut tersenyum, bahkan lebih lebar.
"Aku tidak ingin tidur dengan pengompol", tolak Sasuke.
"Menma sudah berumur 7 tahun. Dia tidak mungkin mengompol",
"Hn! Menma sudah besar", sambung Menma membenarkan ucapanku.
Sasuke menggeser tubuhnya, memberi tempat untuk Menma.
"Iyeeeey!", seru Menma melompat kegirangan.
Menma langsung naik ke ranjang, berbaring di samping kiri Sasuke.
"Oyasumi", kukecup dahi Menma sebelum meninggalkan kamar.
"Kau mau kemana, Dobe?",
"Aku akan tidur di luar",
Sasuke menarik tubuh Menma agar lebih merapat.
"Kau tidur di sampingnya! Aku tidak ingin bertanggung-jawab jika anak ini terjatuh saat aku sedang tertidur", jelas Sasuke.
Sasuke mangajakku tidur bersama? Apakah ini pertanda bahwa Sasuke mulai memaafkanku?
Aku langsung berbaring di samping Menma, takut Sasuke berubah pikiran.
"Oyasumi", ucapku.
"Daddy, Menma mau peluk Kurama-chan", pinta Menma.
Tanpa komentar, Sasuke langsung memberikan Kurama-chan untuk Menma. Sasuke mengganti posisi menjadi membelakangi kami.
"Oyasuminasai, daddy!", ucap Menma memeluk erat Kurama-chan.
Hey, Suke! Apakah kau mulai membuka hati untuk menerima Menma?
Kuharap kita tetap menjadi keluarga yang rukun dan harmonis, hingga Menma memberikan keturunan untuk kita.
Aku mencintamu, Suke!
Keesokan paginya.
Aku dan Menma sedang menyiapkan sarapan.
"Cihuuuuiiii! Ketemu! Ketemu!", seru Sasuke dari dalam kamar.
Tap tap tap...
Sasuke berlari menghampiri kami.
"Ketemu, Dobe! Ketemu!", seru Sasuke kegirangan sambil menunjukkan cincin di jari manis tangan kanannya.
Cincin itu sengaja kuletakkan di dekat wastafle, jika Sasuke melihatnya, kuharap dia akan memakainya. Ya, dia memang memakainya, tapi reaksinya...aneh..
"Kupikir aku menghilangkannya", ucap Sasuke.
"Menghilangkannya? Lho? Bukankah kau membuangnya ke tong sampah?", tanyaku merasa aneh dengan jalan cerita ini.
"Aku tidak mungkin membuang ikatan ini!", bantah Sasuke.
"Tapi Sai bilang, kau...",
"Sai? Apa saja yang Sai katakan padamu?",
"Ah! Sai-jisan bilang, Menma pasti bisa seperti daddy yang lucu, imut dan menggemaskan!", malah Menma yang menjawab.
Sasuke mengalihkan pandangannya ke Menma.
"Sai bilang seperti itu padamu?",
"Hn! Sai-jisan juga bilang bahwa daddy suka ini", Menma menaiki bangku kecil agar bisa mengusap-usap kepala Sasuke.
"Sai-jisan juga bilang, bahwa dia menyanyangi daddy", sambung Menma tersenyum lebar.
"O...begitu...", Sasuke berjalan meninggalkan kami, dia kembali ke kamar.
"Daddy marah ya?", tanya Menma merasa bersalah.
"Tidak, daddy hanya sedang berpikir",
"Apa yang sedang dipikirkan daddy?",
"Mmm~ mungkin tentang pekerjaan", jawabku asal.
"Oo...Pekerjaan daddy seperti apa?",
Menma memang anak yang bawel dan KEPO.
Sasuke menolak, ketika aku ingin mengantarnya ke kantor. Mungkin dia masih marah padaku.
Menma kuajak ke rumah sakit. Teman-temanku bilang, Menma mirip denganku, tentu saja, karena Menma anakku!
Menma memang anak yang penurut dan suka berceloteh, itu membuat para suster senang mengajaknya bermain.
Aku sengaja pulang lebih awal, agar aku bisa menjemput Sasuke.
Selama di perjalanan, Menma terus berceloteh tentang suster-suster cantik di rumah sakit. Jika Sasuke mendengarnya, mungkin dia akan mengejekku bahwa aku telah mewarisi gen mesum pada Menma.
Ah! Mengenai Sasuke, aku berhasil mengetahui apa yang terjadi saat Sai mengunci mereka di kamar.
Menma bilang, Sasuke hanya diam seperti memikirkan sesuatu. Menma terus mengajaknya berbicara dan bermain, tapi Sasuke enggan menanggapinya. Sasuke dengan pelan menyuruh Menma untuk diam, lalu Sasuke berbaring di ranjang. Sebelum tidur, Sasuke berpesan agar Menma tidak kemana-mana. Sasuke ingin melihat Menma di dekatnya, saat dia bagun. Menma mendorong sofa merah maroon itu ke dekat ranjang, dia duduk manis menunggu Sasuke terbangun, hingga akhirnya dia tertidur menyusul Sasuke.
"Menma ingin terus bersama papa dan daddy!",
"Daddy!", Menma langsung memeluk pinggang Sasuke saat melihat Sasuke sedang berbicara dengan Sai di lobby.
"Mengapa kau selalu memelukku?", tanya Sasuke.
"Karena Menma sayang daddy!", Menma tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang berjejer rapi.
Menma bilang, dia ingin pipis. Kubiarkan Menma bersama Sasuke, aku ingin Sasuke lebih dekat dengan Menma.
"Sepertinya kalian sudah berbaikan", ucap Sai tersenyum.
Aku jadi teringat mengenai cincin itu.
"Sasuke sama sekali tidak membuang cincinnya. Mengapa cincin itu ada padamu?",
"Aku mengambilnya saat dia tertidur", jawab Sai enteng.
"Mengapa kau membohongiku?",
"Hanya untuk melihat reaksi kalian saja",
Aku memang telah dibodohi oleh Sai, tapi aku tidak boleh marah. Berkat dia, aku jadi tahu makna cincin itu bagi Sasuke. Cincin itu bukan sekedar cincin pernikahan, tapi itu adalah ikatan aku dan Sasuke.
"Aku ingin memberimu sesuatu", ucap Sai.
"Sesuat...", belum sempat aku berkata, Sai sudah melayangkan tinjunya ke wajahku.
"Hey! Kau kenapa?",
Padahal bengkak di wajahku belum sembuh, malah Sai datang menambahkan sakitnya.
"Kau akan menerima ini, jika kau menyakiti Sasuke lagi", jelas Sai yang diakhiri dengan senyuman.
Aku membalas senyumannya dengan tersenyum.
"Aku akan berusaha untuk tidak mendapatkan ini lagi darimu!",
"Hn! Berusahalah!", Sai menepuk pundakku sebelum pergi menghampiri Menma dan Sasuke.
Sebelum pergi, Sai membisikkan sesuatu pada Menma. Menma menanggapinya dengan mengangguk.
Kuharap Sai tidak berpesan yang aneh-aneh pada Menma.
Terputus
NaruSasu tidak jadi cerai! Tidak jadi cerai!
~(‾▽ ‾~) (~‾ ▽‾)~
