"Lagi ngapain, Hyung, hm~"
Yoongi berjengit kaget mendengar bisikan tiba-tiba dari Jimin, membuat punggungnya tersentak ke belakang dan bertemu dengan dada Jimin yang seenaknya memeluknya dari belakang itu.
"Yah!" Yoongi memukul lengan Jimin yang melingkar di perutnya. "Kau selalu membuatku kaget, Bodoh!"
Jimin tertawa, "Aku tak berniat begitu, kok."
Yoongi mendengus.
Jimin terkekeh, ia kemudian merendahkan kepalanya ke leher Yoongi dan mengendus manja disana. "Hm~ wangi sekali. Hari ini kau mandi susu lagi ya, Hyung?"
Yoongi memutar kedua bola matanya dan menggeliat pelan menahan geli dan juga ia mencubit lengan Jimin dengan gemas. "Sejak kapan aku pernah mandi susu."
Jimin terkekeh kembali, ia kemudian memberi kecupan ringan di leher Yoongi sebelum ia menjauhkannya dan membalik tubuh Yoongi ke hadapannya dengan memegang kedua bahunya.
.
Yoongi kembali tersentak, ia baru saja akan mengumpati Jimin namun ia sendiri terdiam begitu saja ketika harus mendongak untuk menatap Jimin.
.
Tiba-tiba Yoongi merasa aneh menatap Jimin saat ini.
.
.
Jimin yang melihat Yoongi mendadak terdiam begitu tak menyia-nyiakan momen tersebut. Ia segera mendekatkan wajahnya dengan Yoongi.
Menggunakan kesempatan.
.
"Hyung..."
Jimin mengecup di sepanjang garis rahang Yoongi. Sedangkan Yoongi masih terdiam dan menatapi Jimin yang menciuminya itu dengan pandangan anehnya.
.
Sungguh.
Ada yang berbeda dari Jimin, pikirnya.
Dan Yoongi baru menyadari hal itu.
.
.
"Em Hyung... seperti ada bau hangus—"
Yoongi melebarkan kelopak mata sipit sayunya dan mendorong Jimin kasar agar menjauh darinya.
"Sial, nasi gorengku!"
.
.
Oh.
Ternyata Yoongi sedang memasak nasi gorengnya di dapur dari sebelum Jimin menghampirinya dan membuatnya melupakan masakannya walau hanya sebentar.
.
.
.
.
Jimin | Yoongi | Boy's Love | Most of Slice of Life | Ficlet collection | other member's appear
.
Do not plagiarize!
.
Enjoy!
.
.
.
.
Yoongi duduk di salah satu kursi meja makan di dapur dorm itu dengan menopangkan kedua sikutnya di atas meja dan kedua telapak tangannya di dagunya. Ia menatap malas Jimin yang sedang sibuk memotong sesuatu entah apa itu di dekat kompor.
.
Yoongi baru saja memarahi Jimin karena telah membuat masakan nasi gorengnya mengering karena gosong begitu saja. Dan Yoongi kemudian meneriaki Jimin dan menghukum Jimin untuk memasakkannya kembali sebuah makanan.
.
Fiuh, membuat kesal saja. Keluh Yoongi.
.
.
Yoongi menghela napas masih dengan menopang kedua tangannya di dagu dan menatap punggung Jimin yang masih sibuk sendiri itu. Sesekali terdengar erangan sebal darinya karena kesulitan dengan masakannya sendiri.
.
Yoongi jadi teringat lagi.
Benar-benar ada yang berbeda dari Jimin.
Terutama fisiknya...
Ugh, Yoongi jadi sebal memikirkannya.
.
Bagaimana tidak sebal, Yoongi baru saja menyadari kalau...
Kalau ternyata Jimin itu mendadak menjadi lebih tinggi darinya?!
.
Itu berarti Yoongi menjadi member terpendek begitu?
.
Heol.
.
.
.
Jimin meletakkan sepiring spaghetti dengan banyak potongan sosis dan brokoli itu di atas meja di hadapan Yoongi. Entah apa yang dipikirkan Jimin sengaja memasukkan brokoli dan menumisnya bersama mie spaghetti seperti itu.
"Hyung! Ini makanannya untukmu. Sekarang makan ya, aku suapi."
Jimin ikut duduk di samping Yoongi dan mulai meraih garpu untuk melilit spaghetti buatannya.
Namun seketika Jimin menatap Yoongi bingung karena kekasihnya itu terlihat menghela napas sebal.
.
"Jimin," panggil Yoongi.
Jimin menoleh, "Iya, hm?"
"Berapa tinggi badanmu sekarang?" Tanya Yoongi datar, ia balas menoleh ke arah Jimin yang duduk di sebelahnya.
"Ah!" Jimin tersenyum senang. "Kebetulan kemarin coordi-noona mengukur tinggi badanku, dan tinggiku bertambah tiga senti, yeah~"
Yoongi memutar malas kedua matanya. Ia kemudian berdiri. Yang membuat Jimin kembali menatapnya bingung.
"Kenapa memangnya, Hyung?" Tanya Jimin. Ia mendongak sebelum akhirnya ikut berdiri di hadapan Yoongi.
.
Yoongi agak mendongak untuk menatap Jimin.
Uh, ternyata Jimin benar-benar tumbuh tinggi.
Sialnya kini ia telah mendahului tinggi badan Yoongi.
.
Padahal...
Dulu ketika Yoongi pertama kali bertemu dengan Jimin. Bocah itu benar-benar terlihat seperti bocah. Wajah dan sikapnya sangat kekanakkan (sekarang juga sikapnya masih kekanakkan, kecuali wajahnya yang semakin tampan—ekhem), ia juga terlihat imut dan lebih pendek dari Yoongi. Yang membuat Yoongi senang memukul kepalanya.
Tetapi kini...
Aih.
Yoongi benar-benar baru menyadarinya.
.
Kini Jimin telah berbeda.
Jimin tumbuh dengan baik. Lihat saja lengan dan perutnya yang terbentuk dengan baik itu... Ukh, Yoongi sedikit iri untuk yang ini.
Sekarang ditambah jimin yang tumbuh semakin tinggi juga...
.
Duh,
Sejujurnya yang membuat Yoongi sebal itu kenapa semua itu tak terjadi pada dirinya?
.
Maksudnya, Yoongi tetap terlihat biasa saja semenjak ia bergabung dengan membernya yang sekarang. Tak terlihat ada pertumbuhan yang berarti di tubuhnya.
Ia tetap Yoongi yang pucat, wajah bulat, otot lengan tak seberapa, punya kaki mungil—
.
Ugh, hentikan itu. Yoongi jadi semakin sebal memikirkannya.
.
.
"Hyung?"
"Yoongi-hyung?"
.
Yoongi mengerjap ketika Jimin menggoyangkan pelan bahunya. Ia kemudian kembali mendongak untuk menatap Jimin.
Jimin mendekatkan tubuhnya. "Apa yang kau pikirkan, Hyung?"
"Tidak." Jawab Yoongi cepat.
"Hei, kau baru saja melamun didepanku, aku tahu ada yang mengganggu pikiranmu, ya?" Tebak Jimin.
Yoongi menggeleng. Ia ingin berbalik untuk beranjak dari dapur namun Jimin menahan lengan atasnya.
"Huh, cerita dong, Hyung. Kenapa sih?" Jimin menggerutu.
Yoongi juga balas menggerutu. "Aku sebal."
"Kenapa?" Jimin mengerutkan alisnya.
"Karena..." Yoongi menatap datar Jimin dengan pandangan malasnya. "Kau bertambah tinggi."
.
.
.
"Mwo?" Jimin sedikit melebarkan kedua matanya terkejut mendengar jawaban dari Yoongi. Dia yang bertambah tinggi kenapa Yoongi harus sebal?
.
"Memangnya kenapa kalau aku bertambah tinggi? Ck, aku harus meminta Manajer-hyung untuk merubah biodata officialku supaya aku tidak di ejek Maknae dan—eh eh mau kemana, Hyung?"
Jimin kembali menahan Yoongi yang ingin melengos pergi itu.
"Aku mau tidur." Ucap Yoongi datar. Berusaha melepas genggaman Jimin di lengannya.
"Kenapa sih?" Paksa Jimin. Masih menahan lengan atas Yoongi.
.
Yoongi berhenti dan menatap Jimin.
Duh, ini dia.
Yoongi sebal karena ia harus gugup ketika harus mendongak untuk menatap Jimin...
Tidak terlalu mendongak juga sih, tetapi tetap membuat Yoongi gugup kalau harus menatap Jimin dengan mengangkat dagunya.
Ugh, posenya malah terlihat jadi seperti Yoongi yang menantang...
.
.
"Hyung?" Jimin menghela napas, kemudian memegang kedua bahu Yoongi dan meremasnya pelan. "Kau tak suka kalau aku bertambah tinggi?"
Yoongi mendengus kemudian ia mengalihkan tatapannya kemana pun asal tidak dengan menatap Jimin.
"Baiklah, aku tidak akan meminta Manajer-hyung untuk mengganti biodataku—"
"Bukan itu, Bodoh!" Yoongi membentak dan refleks mendongak menatap Jimin. Tetapi sesaat kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya dan menggerutu entah apa di mulutnya.
.
Jimin mengerutkan dahinya menatap tingkah Yoongi. Untuk sesaat ia terdiam dan berpikir ada apa dengan 'Hyung' kesayangannya itu sebelum akhirnya Jimin menyeringai.
.
Jimin tahu alasannya.
.
"Hyung. Coba tatap aku." Pinta Jimin. Masih dengan kedua tangannya di bahu Yoongi.
"Ish." Gerutu Yoongi. Ia mencoba mendorong Jimin untuk menjauh namun Jimin malah balas mendorong Yoongi hingga pinggangnya bertemu dengan ujung pinggiran meja makan.
"HEI—"
"Tatap aku dulu, Hyung!"
.
Mulai lagi deh.
Jimin dengan sikap semaunya. Kalau begini 'kan sebagai pihak dewasa, mau tak mau Yoongi harus mengalah kalau Jimin mulai keras kepala.
.
Yoongi menghembuskan nafas kasar kemudian mendongak untuk menatap Jimin langsung di kedua manik hitamnya. Sesuai permintaannya.
.
Ugh, Yoongi jadi berdebar lagi 'kan.
.
Jimin melembutkan tatapannya. Kedua tangannya yang masih berada di bahu Yoongi perlahan merambat naik menuju leher Yoongi dan menahan rahangnya dengan lembut agar tetap mendongak untuk menatap Jimin.
"Jimin..."
Jimin tersenyum. "Bukankah kalau seperti ini terlihat lebih baik?"
Jimin kemudian mengusap kedua pipi Yoongi dengan kedua ibu jarinya. Membuat kulit putih pucatnya itu lama-kelamaan memerah merona.
Yoongi hanya bisa terdiam mendengarkan dan balas menatap Jimin dengan pandangan sayu alaminya.
"Aku jadi bisa lebih jelas melihat wajahmu dan—"
.
Cup.
.
"Juga lebih mudah untuk menciummu." Bisik Jimin setelah memberi kecupan singkatnya di bibir tipis Yoongi. Ia juga terkekeh.
Membuat Yoongi merengek gemas dan langsung memeluk leher Jimin dengan erat karena Jimin benar-benar menggodanya.
"Kau menyebalkan."
.
.
.
.
End.
.
.
.
.
Nb :
Lagi lagi hehe. Kalo dikit-dikit gini ternyata cepet ngalir idenya daripada series, LOL.
Omong-omong saya memang tetep nulis disini kok, selama pc masih sanggup tembus internet sehat hahaha
.
Ternyata, musik awal di MV Boy in Luv itu jadi musik awal intro Dark and Wild ya? Haha
Cinta deh sama bighit, mereka bikin album BTS dari debut sampe sekarang semuanya saling berkaitan isinya. Keren lah, beneran gak bakal nyesel ngefans sama mereka dari awal :"D
Btw, Min Suga rambutnya item lagi ya?! AAAAH
.
Yasudahlah, daripada berisik, terimakasih sudah membaca sampai sini. Kritik, saran, dan sumbangan idenya masih banget ditampung.
Review, please? :3
.
