Jimin bukan pemuda mesum, kok.

.

Kalau Jimin sedang tidak sengaja sedang memperhatikan Yoongi atau tiba-tiba pikirannya tertuju pada Yoongi, ia selalu berpikir. Dan juga selalu memperkirakan.

Atau lebih tepatnya membayangkan.

Membayangkan bagaimana rasanya jika Jimin sendiri mendorong tubuh mungil Yoongi ke sudut dinding dan menciumi bibirnya kasar atau lembut.

Menghirup wangi tubuhnya sampai Jimin benar-benar merasa mabuk...

Menghisap setiap titik sensitifnya di kulit pucat yang seputih susu itu sampai berwarna terang...

.

Ah, Jimin jadi penasaran bagaimana rasanya.

.

.

Tolong jangan berpikiran buruk dahulu terhadap Jimin, ia hanya mengikuti naluriahnya sebagai lelaki, kok.

Oke?

.

.

.

.

Jimin | Yoongi | Boy's Love | Most of Slice of Life | Ficlet collection | other member's appear

.

Do not plagiarize!

.

Enjoy!

.

.

.

.

"Melamun, eh!"

Sebuah tepukan mendarat di bahu Jimin.

Tanpa perlu menoleh, Jimin tahu siapa pelakunya.

"Tidak." Jawab Jimin malas. Ia bangun dari rebahannya agar terduduk di atas sofa dan membiarkan Taehyung-orang yang menepuknya tadi duduk di sebelahnya.

Taehyung hanya mengangkat bahu tak peduli melihat respon Jimin. Tetapi sesaat kemudian ia menyeringai.

'Kerjain ah!' Pikir Taehyung iseng.

.

"Jiminie~"

Jimin mendelik mendengar panggilan Taehyung. Menatapnya cemberut karena panggilan seperti itu hanya Min Yoongi seorang yang boleh melakukannya.

"Berhenti memanggilku begitu."

Taehyung terkekeh. "Tau kok buat yang spesial~" godanya.

"Aish, ganggu aja deh." Ucap Jimin sebal, masih dengan wajah cemberutnya.

"Aku gangguin kamu yang lagi diem gitu?" Taehyung memutar mata dengan malas. "Lagi mikirin yang 'iya-iya' ya?" Godanya lagi.

"Apaan sih. Sana main gih sama Jungkook!" Usir Jimin. Sebenarnya sore ini mereka baru saja tiba di tanah Thailand, dan malam ini mereka diberi istirahat seharian di hotel.

Jungkook yang kebetulan lewat dan mendengar namanya disebut-sebut segera menghampiri kedua 'Hyung'nya itu. Di tangannya ada sebungkus snack manis dan ia kemudian mengambil duduk di sebelah kiri Jimin di sofa tersebut. Membuat Jimin duduk di apit oleh dua member termuda grupnya itu.

"Main apa, Hyung?" Tanya Jungkook dengan ekspresi khasnya sambil memakan camilan di tangannya.

Taehyung menjulurkan tangannya untuk ikut mencomot isi camilan di genggaman Jungkook.

"Nggak, itu Jimin sedang melamun sedari tadi. Bukannya bantuin Yoongi-hyung buat beresin barang-barang. Jadi aja Hobi-hyung yang membantunya." Celetuk Taehyung asal.

Namun hal tersebut diangguki semangat oleh Jungkook. Yang membuat Taehyung membulatkan bibirnya karena celetukannya yang berniat untuk mengerjai Jimin ternyata benar adanya. Padahal kan ia sedang tak 'bekerja sama' dengan si Magnae.

"Iya, tadi aku lihat Hobi-hyung membantu Yoongi-hyung di kamarnya. Dia juga membereskan barang-barangmu, Jimin-ah." Ucap Jungkook santai dengan panggilannya yang sering lupa untuk memanggil Jimin dengan sebutan 'Hyung' untuknya.

.

Jimin tersentak. Ia tak sadar kalau ia berpikir dan melamun hingga ia melupakan dan membiarkan Yoongi membereskan semua barangnya sendirian. Padahal mereka kan baru saja tiba.

"Tuh, dasar Jimin pemalas." Taehyung mengatai.

Jimin tak mempedulikannya dan ia beranjak dari sofa, meninggalkan Taehyung dan Jungkook kemudian berjalan cepat menuju salah satu kamar yang ditempatinya bersama Yoongi selama di Negeri Gajah Putih ini.

.

.

"Tumben dia diam begitu." Komentar Jungkook setelah Jimin beranjak pergi.

Taehyung mencomot camilan manis itu lagi kemudian menjawab komentar sang Magnae.

"Itu berarti ada sesuatu yang dia pikirkan, hahaha." Tawanya riang.

"Sok tahu." Sergah Jungkook.

"Hei, kita ini seumuran, tahu!"

.

.

"Omong-omong Jung, kau dapat darimana camilan ini? Sepertinya aku juga bawa yang seperti ini deh." Taehyung memasukkan makanan ringan itu kembali ke mulutnya.

Jungkook mengernyit kemudian menunjukkan cengiran polos dengan gigi kelincinya itu. Lucu sekali.

"Hehehe, ini memang camilan milikmu, Hyung."

.

.

.

.

Yoongi duduk di sisi ranjang dan merenggangkan kedua tangannya keatas seperti kucing. Ia baru saja selesai membereskan barang-barang miliknya—dan juga milik Jimin yang mereka bawa. Hoseok juga tadi sempat membantunya. Sedangkan Jimin ia biarkan begitu saja.

Sebenarnya Yoongi membiarkan Jimin karena ia pikir, Jimin terlihat lemas dan banyak pikiran juga kelelahan. Dan itu membuatnya tampak lebih diam. Jadi Yoongi membiarkannya untuk istirahat lebih lama.

.

Yoongi menoleh ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Ia kemudian tersenyum begitu melihat Jimin yang membuka pintunya dan masuk.

Jimin balas tersenyum, ia menutup pintu dibelakangnya kemudian menghampiri Yoongi dan duduk disampingnya.

"Maaf, Hyung. Seharusnya aku membantumu tadi." Jimin menunjukkan wajah menyesalnya kepada Yoongi.

Yoongi tidak marah. "Tak apa. Mau makan?"

Jimin tersenyum. Tumben sekali Yoongi mengerti dirinya. Biasanya kan ia senang mengomeli Jimin. "Aku tak lapar."

"Haa yasudah. Kau istirahat sana." Yoongi berdiri. Ia berjalan kearah balkon kecil yang ada di kamar itu. Namun Yoongi hanya berdiri di balik pintu kaca yang dibiarkan tertutup rapat itu. Karena cuaca di luar sore ini sedang turun gerimis. Tak peduli kalau sekarang ini sedang musim panas.

.

Yoongi menempelkan kedua telapak tangannya di pintu kaca balkon, ia menatap pemandangan kota Negeri Seribu Pagoda itu dan kemudian bergumam yang menyebabkan uap udara dari mulutnya menempel di kaca.

"Dingin..." Gumamnya pelan.

.

Jimin mengikuti Yoongi dan berdiri di sampingnya. Ia meraih bahu Yoongi dan mengusapnya pelan, kemudian Jimin ikut menatap pemandangan bangunan tinggi dan jalan raya dari lantai 8 hotel ini.

"Apa kau senang berada disini, Hyung?" Jimin menoleh kearah Yoongi dan tersenyum hangat.

"Tentu saja—" Yoongi menolehkan kepalanya namun ia mendadak tergugup begitu saja melihat wajah Jimin berjarak begitu dekat dengan wajahnya. "Um, yeah..." Yoongi jadi bingung harus berkata atau melakukan apa.

Jimin semakin melebarkan senyumnya melihat Yoongi yang tergugup begitu. Jimin jadi berdebar menatapnya. Tetapi ia tahu apa yang harus ia lakukan.

"Hyung..." Jimin mengangkat sebelah tangannya untuk meraih pipi Yoongi dan hanya butuh waktu dua detik berikutnya untuk Jimin mempertemukan kedua bibirnya dengan lembut.

.

Yoongi sedikit kaget dengan tindakan tiba-tiba dari Jimin. Tetapi Yoongi hanya bisa menerima ciumannya, karena Jimin begitu lembut diawal, dan entah kenapa ada rasa rindu yang terselip ketika Jimin mulai menggerakkan kedua bibirnya di atas bibir Yoongi. Rindu yang seolah hanya Jimin yang merasakannya.

Dan Yoongi segera membalas ciuman itu juga meraih leher Jimin untuk ia rengkuh agar ciuman mereka semakin dalam.

.

Jimin meraih pinggang Yoongi dan meletakkan tangannya di kedua sisinya. Dan Jimin juga memberikan remasan kecil di pinggulnya ketika Yoongi mulai membalas ciumannya.

.

Jimin membawa tubuh Yoongi untuk menyandar di pintu kaca balkon dibelakangnya. Masih dengan tanpa melepaskan ciumannya dan Jimin menghimpit Yoongi disana.

Lama-kelamaan ciuman Jimin terasa semakin intens dan menggairahkan. Ia terus bermain dengan bibir Yoongi disana. Melumati dengan bibirnya sendiri, terkadang menghisapnya lembut bergantian di setiap bagian bibir Yoongi untuk membuat bibir mungil itu terlihat semakin merekah dan memerah.

.

Yoongi frustasi dibuatnya, Jimin terlalu lembut untuknya. Ia jadi merasa terus menginginkan lebih dari ciumannya. Tak peduli nafasnya yang sudah terengah sekalipun.

.

.

Jimin semakin tersenyum lebar merasakan Yoongi mulai gusar dalam ciumannya. Ia sudah terbuai dengan ciuman lembut mereka.

Selanjutnya Jimin mengeratkan pegangannya di pinggang Yoong dan dengan hati-hati Jimin mengangkatnya tanpa melepaskan ciuman mereka. Oh, Yoongi bahkan begitu ringan untuk Jimin.

.

Yoongi yang merasa tubuhnya terangkat melayang dari lantai segera melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jimin. Dan mengeratkan kedua lengannya di leher kekasihnya itu.

.

Jimin mulai melepaskan tautannya dengan bibir Yoongi dengan lembut, seolah jika ia melepaskannya begitu saja akan menyakiti Yoongi.

Dan bibir Jimin beralih untuk menciumi garis rahang Yoongi seraya ia membawa dirinya dan Yoongi yang berada dalam gendongannya untuk duduk kembali di tepi ranjang. Membuat Yoongi kini duduk di pangkuan Jimin.

"Jimin..." Panggil Yoongi pelan. Ia memeluk tubuh Jimin dan menyandarkan dagunya di bahu Jimin.

"Hm..." Jimin mengeratkan kedua lengannya di pinggang Yoongi yang masih duduk di pangkuannya itu, ia kini mengecupi leher Yoongi dengan manja. Menghirup aroma camomilenya yang menguar disana.

"Kau kenapa sih hari ini?" Tanya Yoongi, ia menggesekkan dagunya di bahu Yoongi.

Jimin terkekeh dan semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Yoongi.

"Terima kasih, Hyung telah hadir menemaniku. Aku mencintaimu." Bisik Jimin lembut dan melanjutkan kecupannya di leher Yoongi.

.

Yoongi merona. Tetapi di sisi lain ia juga sedikit bingung. Hari ini Jimin benar-benar tak bisa di tebak. Tetapi Yoongi tak peduli, yang penting Jimin baik-baik saja dan ia akan merasa lega.

Dan setelahnya Yoongi hanya bisa mengeratkan pelukannya dan mengusap-usap punggung Jimin dengan sayang sebagai jawaban dari pernyataannya tadi.

.

.

.

.

End.

Let's find another ficlet! Hahaha.

.

.

.

.

Nb :

Lagi hehe. Maaf ya kalau makin aneh .-.

Kalian nyadar gak sih? Ficlet ini saya bikin judulnya sesuai abjad loh, pengennya sih bisa sampe Z hahaha kalo bisa ._. *terus* *penting gituh*

Sudahlah, mari kita nungguin Bangtan comeback. Teasernya sungguh menggoda. Danger~ Danger~ xD

Terima kasih ya sudah membaca sampai sini. Kritik, saran, ide dan masukannya selalu ditampung hehe.

Review, please? :3

.