Pada dasarnya, Yoongi itu juga termasuk orang yang jahil. Ia biasanya melakukan hal itu untuk kesenangannya sendiri.
.
Tak peduli walau terkadang (sering) kejahilannya malah mengumpan balik kepadanya.
.
.
.
.
Jimin | Yoongi | Boy's Love | Most of Slice of Life | Ficlet collection | other member's appear
.
Do not plagiarize!
.
Enjoy!
.
.
.
.
Jimin masih mengusap kedua matanya begitu ia keluar dari kamarnya. Keadaan dorm masih sepi karena ketika Jimin melirik jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Biasanya di jam segini member lain masih tertidur pulas di ranjangnya masing-masing. Apalagi kalau ada jadwal siang.
Tetapi Jimin terbangun karena merasakan tidak adanya kehadiran Yoongi.
Dan benar saja, Yoongi tak ada diatas ranjangnya ketika Jimin membuka matanya.
Aneh sekali bukan seorang Min Yoongi terbangun lebih awal daripada Jimin.
.
Jimin masih sangat mengantuk. Ia menjatuhkan dirinya diatas sofa dan memejamkan kedua matanya kembali. Jimin pikir Yoongi mungkin sedang berada di toilet, makanya ia tak menemukannya. Jadi Jimin memutuskan untuk tidur sejenak sembari menunggunya, karena Yoongi pasti akan membangunkannya kalau melihat Jimin tertidur diatas sofa.
.
.
Dan sampai satu jam kemudian Jimin terbangun kembali pun belum ada tanda-tanda kehadiran Yoongi.
.
.
.
.
Jimin baru saja menyelesaikan kegiatan mandinya. Ia mengusap rambutnya dengan handuk kecil yang ia sampirkan dilehernya kemudian berkeliling dorm. Membuka setiap pintu di ruangan tersebut dan memanggil-manggil nama Yoongi.
"Hyung! Yoongi-hyung!"
Dan membangunkan semua member yang merasa terganggu oleh teriakan sopran milik Jimin itu.
.
Dan juga sampai semua member terbangun dan hampir menyelesaikan sarapan mereka, Yoongi sama sekali tak menampakkan jari kelingkingnya sekalipun.
.
.
.
.
"Yoongi-hyung benar-benar tidak ada di dorm!" Seru Taehyung heboh.
"Ponselnya aktif tetapi ia tak mengangkat panggilanku." Seru Namjoon kalem.
"Omong-omong ini sudah lewat tengah hari..." Hoseok bergumam sambil menghitung didalam pikirannya berapa jam kepergian Yoongi. "Kira-kira pergi kemana dia? Tanpa sepengetahuan kita?"
Semua member yang berkumpul memenuhi sisi meja makan itu mulai tampak berpikir, kecuali Jimin.
Jimin sedari tadi hanya menggigit jarinya dengan wajah khawatir. Di pikirannya banyak bayang-bayang negatif karena Yoongi seperti menghilang begitu saja tanpa jejak.
.
"Mungkinkah ia di culik?" Terka Seokjin yang paling pertama. Membuat Jimin menatapnya gusar.
Taehyung langsung mencela. "Maksudmu di culik dari dorm?"
"Tentu saja, jelas-jelas semalam Yoongi tidur di dorm." Jin menjawab.
Taehyung menggeleng dan kembali mencela. "Kalau di culik, kenapa cuma Yoongi-hyung saja? Padahal kita semua ada di dorm yang sama?"
"Mungkin karena Yoongi itu manis?" Ucap Jin spontan. Yang membuat Jimin semakin gusar duduk di kursinya. Ia baru saja membuka mulut untuk menjawab komentar Jin namun suara sang Magnae telah menginterupsinya lebih dahulu.
"Bagaimana kalau Yoongi-hyung sendiri yang berinisiatif untuk pergi keluar?"
Nah. Ini baru tanggapan yang punya kemungkinan lebih besar. Tetapi...
.
Kemudian terlihat Hoseok yang memutar kedua bola matanya. "Memangnya dia mau bangun pagi?" Tanyanya. Yang membuat semua member mengangguk mengiyakan.
"Mungkin kalau ada hal yang lebih penting baginya, Yoongi-hyung rela untuk bangun pagi." Taehyung memberi hipotesisnya kembali.
"Misal?" Hoseok bertanya.
Taehyung mengusap dagunya sebentar. "Menemui orangtuanya mungkin?"
Member lain tampak setuju-setuju saja.
"Membeli sesuatu untuk kebutuhannya? Atau menemui pacarnya yang lain di back street?" Lanjut Taehyung dengan wajah santainya yang diakhiri dengan tatapan tajam dari Jimin mengarah padanya.
"Coba bilang sekali lagi, maka aku akan memukul hidungmu, Tae."
.
.
.
.
Di tempat lain di waktu yang sama...
.
.
"Serius Min Yoongi, apa niatmu mengajakku untuk makan di luar? Hanya berdua?"
Tanya seorang lelaki agak tambun di hadapan Yoongi. Mereka kini sedang berada di restoran cepat saji untuk sarapan—atau sekaligus makan siang— bersama. Lelaki itu adalah Manajer nya BTS.
Yoongi menelan kunyahan roti keringnya dan terkekeh. "Aku ingin mengerjai semua member, Hyung. Terutama Jimin..."
Yoongi jadi terkekeh kembali. Membayangkan bagaimana khawatirnya wajah Jimin saat ini mengkhawatirinya.
"Jadi kau pura-pura kabur begitu?"
Yoongi menggeleng. "Pura-pura menghilang lebih tepatnya."
Sang Manajer menepuk dahinya. Anak asuhannya yang satu ini memang selalu semaunya. Tadi pagi-pagi sekali Yoongi sudah mendatangi apartemennya dan mengajaknya untuk pergi. Kirain untuk apa, ternyata hanya untuk mengerjai. Membuatnya repot saja.
.
"Lagipula ini akan menyenangkan, aku juga sedang ingin makan disini." Ucap Yoongi santai.
"Kembalilah ke dorm, Yoon—"
"Tidak mau." Potong Yoongi santai.
"Aish, mereka pasti mengkhawatirimu dan juga sebentar lagi pasti akan meneleponku dan—"
Ponsel hitam yang terletak diatas meja itu berkedip. Ada panggilan masuk.
-tuh kan! Mereka meneleponku!" Ucapnya sebelum kemudian ia menerima panggilan itu dan sengaja me-loud speak-nya dengan volume yang cukup untuk mereka dengar berdua.
.
Yoongi diam dan mulai mendengarkan pembicaraan telepon yang ternyata di lakukan oleh Namjoon itu kepada Manajernya.
"Yo, Leader! Ada apa?"
"Hyung, bisakah kau datang ke dorm sekarang?" Tanya Namjoon dari seberang telepon, samar-samar terdengar kasak-kusuk disana.
"Wae? Terjadi sesuatu?" Tanya Manajer-hyung. Ia menunjuk-nunjuk Yoongi tanpa bersuara.
Yoongi yang ditunjuk seperti itu hanya mengendikkan bahunya dan melanjutkan sisa makanannya sambil tetap mendengarkan percakapan telepon tersebut.
.
"Jimin sakit..."
Yoongi seketika terdiam. Apa katanya? Jimin sakit?
Semalam Yoongi masih mengobrol dengannya, Jimin terlihat baik-baik saja kok. Seperti biasa.
.
"Ada apa dengan Jimin? Sakit apa?" Tanya Manajer-hyung agak serius. Ia menatap Yoongi serius dengan jarinya yang masih menunjuk kearah Yoongi seolah berkata, 'Dengar, ini tentang kekasihmu!'
"Sejak semalam kami pulang latihan, ia memang tak terlihat makan apapun. Dan sejak pagi tadi ia terus muntah-muntah. Sekarang juga mimisan..." Jelas Namjoon panjang lebar.
.
Yoongi seketika membeku. Ia berdiri dengan tiba-tiba. Benarkah Jiminnya seperti itu? Dan Yoongi malah meninggalkannya. Tak berada di sisinya. Jimin pasti kecewa karena tak ada Yoongi ketika ia sedang membutuhkannya. Yoongi jadi merasa menyesal...
.
Manajer-hyung yang melihat Yoongi tiba-tiba berdiri seperti itu segera mengakhiri pembicaraanya dengan Namjoon.
"Baiklah, aku akan segera kesana. Tolong jaga Jimin sebentar."
.
"Nah, sekarang pulang ke dorm, oke?"
Yoongi mengangguk cepat. Manajer-hyung segera berjalan menuju kasir dan mengeluarkan dompetnya untuk membayar semua makanan mereka.
Kemudian menuju parkiran dan segera pergi dari sana untuk melaju dimana apartemen dorm BTS berada. Sekaligus membawa Yoongi pulang.
.
.
.
.
"Mon-hyung apa-apaan sih. Kenapa harus aku yang jadi objek sakit-sakitanmu." Jimin cemberut.
Namjoon yang sedari tadi paling kalem diantara yang lainnya hanya mengendikkan bahu setelah pembicaraannya selesai bersama Manajer-hyung. "Aku jamin kalau Yoongi-hyung akan datang bersama Manajer-hyung sebentar lagi. Lihat saja." Ucapnya yakin.
"Masa' sih, tapi Yoongi-hyung 'kan—"
"Kau saja yang mudah dikerjai oleh Yoongi-hyung. Dia jadi memanfaatkan sikapmu yang khawatiran itu." Namjoon memotong ucapan Jimin dan menjelaskan hasil hipotesisnya sendiri.
"Dia juga mungkin melibatkan kita semua agar tipuannya sempurna dan kalian semua percaya. Tetapi Hyung satu itu tak pernah berhasil mengerjaiku hahaha." Jelas Namjoon. Ia mengakhirinya dengan tawa.
Member lainnya hanya menatap leader mereka dengan tatapan 'benar juga, ia tak pernah dikerjai oleh Yoongi-hyung'.
"Kita juga mengerjai Manajer-hyung dong kalau begitu?"
Nah. Kesimpulan yang bagus dari sang Magnae. Membuat member lainnya menganggukinya dengan semangat. Jarang juga ada momen untuk mengerjai Manajer-hyung mereka.
.
Dan kemudian mereka semua membubarkan diri dari ruang makan itu. Mendesah lega karena semuanya telah terbaca, walau belum tentu pasti juga kebenarannya. Mereka hanya tinggal menunggu Manajer-hyung datang. Kecuali Jimin, ia menatap mereka semua dengan bingung.
"Lho, kenapa bubar? Lalu aku gimana? Yoongi-hyung nanti—"
Ucapan Jimin lagi-lagi dipotong. Kali ini oleh Jin. "Yoongi saja dipikiranmu. Tunggu saja, nanti juga ia datang."
Jimin menggigit jarinya kembali. Ia jadi tak sabar untuk menunggu Manajer-hyung datang. Dan ia berdoa semoga apa yang diperkirakan Namjoon memang benar adanya dan Yoongi akan datang bersama Manajer-hyung mereka.
.
.
.
.
"Hyung, maaf sebelumnya mengerjaimu. Tetapi kami telah lebih dahulu dikerjai oleh Yoongi-hyung dan kami ingin mengerjainya kembali dan membuatnya pulang. Lagipula Jimin merepotkan kalau tak ada kekasihnya. Yoongi-hyung ada bersamamu kan?"
Sebuah pesan membuat Manajer BTS itu menggelengkan kepalanya. Anak-anak itu selalu saja membuatnya repot. Ia segera mengetik balasan untuk Namjoon.
Manajer-hyung dan Yoongi kini baru saja memasuki mobil yang memang dibawa oleh sang Manajer. Bersiap untuk pergi menuju dorm yang tak pernah terasa sepi itu.
"Letakkan ponselmu, Hyung. Dan segeralah kita pergi dari sini. Ppalliwa!" Yoongi terlihat sebal dengan lelaki yang duduk dibalik stir di sebelahnya itu masih memainkan ponselnya.
"Iya, iya." Manajer-hyung meletakkan ponselnya dan mulai menstarter mobilnya. "Tadi disuruh pulang nggak mau." Sindirnya.
Yoongi hanya mendelik tak suka.
"Ngebut ya!"
.
.
.
.
TING!
.
Jimin buru-buru menghampiri pintu depan dorm ketika ia mendengar belnya berbunyi tanda ada tamu.
Jimin melebarkan kedua matanya bahagia melihat Yoongi benar-benar datang bersama Manajer-hyung mereka.
Dan Jimin baru saja ingin melangkah lebih dekat namun Yoongi telah lebih dulu memeluknya tanpa basa-basi. Menenggelamkan wajahnya di bahu Jimin.
"Kau baik-baik saja?" Bisik Yoongi pelan, sangat pelan dan hanya Jimin yang bisa mendengarnya. Bertanya dengan khawatir tentang keadaan Jimin.
Jimin tersenyum dan mengeratkan tubuh Yoongi dipelukannya juga mengusap pelan punggungnya, memberi kehangatan yang nyaman.
"Tentu saja aku tidak baik-baik saja kalau kau meninggalkanku seperti tadi, Hyung."
Yoongi hanya menggelengkan kepalanya, tetapi kemudian ia membalas pelukan erat dari Jimin dan menghembuskan nafas lega. Jimin ternyata baik-baik saja.
.
Yeah, kalau begitu berarti...
Yoongi yang dikerjai dong?
Ia sudah heboh memikirkan Jimin begini-begitu...
Tetapi ya sudahlah.
Yang penting ia lihat Jimin sehat-sehat saja dan tak perlu ada hal yang harus ia khawatirkan sekarang.
.
.
"Ekhem, bisakah kalian menyudahi acara pelukannya untuk menyingkir dari depan pintu dan membiarkan aku masuk?"
.
.
.
.
End for this chapter.
.
.
.
.
Nb :
Helo helo oooooow BTS comeback! ;_;
I can't say anything, anymore... *guling-guling*
.
Btw, chap ini agak aneh deh rasanya ya? ._.)a haha.
Yasudahlah, terima kasih ya sudah membaca sampai sini. Kritik, saran dan idenya selalu diterima dengan baik.
Review, please? :3
.
