Lego

(kuroko no basuke X free! crossover)

Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Free! © Ouji Kouji. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Characters: Momoi Satsuki – Matsuoka Gou. Genre: Friendship. Rating: K+. Other notes: little bit modified canon. continuation of Gemini.

(Mereka berdua menemukan mainan lego milik Daiki di kamar Satsuki, dan Gou mengajari Satsuki membuat sesuatu dari itu.)


"Wow ..." Gou melangkah sambil memandang sekeliling. Dia terkekeh kemudian, "Lagi-lagi kita punya hal yang sama. Kamar."

"Punyamu juga penuh warna pink?" Satsuki menaruh tasnya di atas kursi belajar kemudian menggantungkan jas sekolahnya ke balik pintu. Jaket dari dalam tas dikeluarkannya, lantas digantungnya begitu saja di pintu lemari pakaian. "Kita pasti punya lebih banyak hal yang yang kembar," senyumnya lagi.

Gou tertawa, "Tentu saja . Bahkan spreiku juga punya warna sama denganmu," dia menunjuk, "Tapi punyaku tidak pakai motif, cuma garis-garis."

"Aku juga punya yang bergaris!" Satsuki menghadap Gou, "Tapi warnanya bukan pink lembut seperti ini. Lebih mirip dengan warna rambutmu. Ah, iya, Gou-chan, silahkan duduk. Akan kuambilkan minuman."

"Terima kasih," Gou pun duduk melipat kakinya di atas karpet di tengah-tengah kamar.

"Tidak di sini?" Satsuki menunjuk sofa tunggal yang ada di sisi lain, dekat lemari.

"Tidak, tidak. Di sini lebih enak."

Gou menunggu, matanya bergerak tanpa bisa diam seolah sedang meneliti dan menganalisa kamar yang dia rasa juga tak terlalu jauh besarnya dengan miliknya. Sinar matahari masuk sempurna, jendela kamar itu menghadap barat dan warna tirainya terlalu muda untuk menghalau sinar oranye itu. Pendingin ruangan tidak dihidupkan, tetapi Gou merasa kedinginan. Dia pun menutup salah satu jendela namun tetap membiarkan tirainya tersingkap. Dia sudah kembali duduk saat Satsuki membawakan sirup dan dua stoples makanan; satu berisi kue kering dan satu berisi keripik.

"Maaf jendelanya kututup, Satsuki-chan. Agak dingin di sini."

"Ah, iya, tidak apa-apa. Nih, makanan. Maaf cuma cemilan, ya. Ibu sedang tidak ada di rumah, jadi tidak ada makanan besar yang bisa kuberikan."

"Mmh, ini pun sudah enak," Gou mengambil stoples kue kering. "Ng, Satsuki-chan, ini apa?" Gou menunjuk kotak karton sedang yang ada di pojok karpet. Dia mengangkatnya kemudian mengguncang-guncangnya. Berbunyi berisik.

"Ooh, itu. Coba buka. Isinya lego. Tadi malam aku beres-beres kamar dan menemukan itu di bawah tempat tidur bersama dengan mainan-mainan lain yang sudah diberikan Ibu ke panti asuhan tadi siang."

Gou membukanya, "Kenapa yang ini tidak diberikan?" dia pun mengeluarkan satu, yang warna merah, lalu memandanginya. "Masih bagus, ya."

"Itu punya Dai-chan," Satsuki menyuap satu keripik.

Gou kaget sesaat, namun tersenyum mencurigakan, "Waaah, punya Aomine-san tapi kenapa ada di sini, mmm?"

"Ketinggalan di sini. Sudah lama. Mungkin sejak kami SD. Dia pelupa. Dan aku terlalu malas untuk mengantarkan hal yang tak terlalu penting ini. Dia itu, PR kemarin saja bisa lupa, apalagi mainan lama."

"Lalu ini mau kau apakan?"

Satsuki mengangkat bahu. "Mungkin menyimpannya di tempat lain. Biar bisa digunakan lain kali. Atau diberikan. Atau dikembalikan. Kalau aku tidak malas mengantarkannya. Entah kapan, haha."

"Diberikan pada siapa?" Gou mengerucutkan hidung, "Kalau mau diberikan, kenapa tidak sekalian dengan yang dibawa ibumu tadi? Apa mau diberikan pada anak kalian kelak?"

Mendadak merah menjalari pipi Satsuki, dan dia melempar remah keripik ke arah Gou yang cuma tergelak lepas. Gou pun kemudian menghamburkan lego itu ke atas karpet, seraya mengajak, "Main, yuk. Dulu aku juga suka main ini dengan oniichan. Tapi waktu dia pergi belajar ke luar negeri, Ibu memberikan semua mainannya untuk keponakanku. Sudah lama, nih, aku tidak main ini."

"Hei—tadi katanya mau sama-sama belajar kimia?"

"Nanti saja," Gou memilah antara dua potong lego untuk memasangnya sebagai dasar. "Kita 'kan pusing dan capek setelah belajar seharian. Agak malam saja. Aku tidak apa-apa kalau pulang terlambat hari ini. Ibu menginap di rumah bibi dan oniichan di asrama."

"Apa tidak apa-apa pulang malam-malam sendirian?"

Gou mendongak, tersenyum menenangkan, "Rumahmu tidak jauh dari halte, 'kan? Ya tinggal naik bus, tidak perlu jalan kaki jauh-jauh sendirian yang berbahaya."

"Oh, baguslah. Aku ganti baju dulu, ya," Satsuki beranjak setelah meraup sedikit keripik. Dia membuka lemarinya dan langsung mengambil satu kaos hijau muda dan jeans tanggung. Sambil berjalan ke kamar mandi di ujung kamar, dia bicara, "Mungkin sebaiknya kau menginap di sini sekali-kali, Gou-chan."

"Kau juga sesekali harus menginap di rumahku, Satsuki-chan!"

"Ngg~" Satsuki menjawab dari kamar mandi sambil bersenandung. Hanya ada bunyi air yang tak lama kemudian dia pun keluar. Gou sudah membangun sesuatu dengan tumpukan lego tadi. Satsuki pun duduk di hadapannya.

"Satsuki-chan," Gou mengambil kepingan kecil dengan warna hijau untuk ditaruh di bagian atas bentuk abstrak simetrisnya. "Kalau kaubilang bahwa aku dan Haruka-senpai seperti puzel, kurasa aku tahu kau dan Aomine-san itu apa."

"Lego?"

Gou mengangguk. Lalu mengangkat dua potongan lego sambil memandang Satsuki. "Ini," lalu dipasangnya dua bagian itu hingga merekat kuat satu sama lain. Lalu dilepasnya, tapi dipasangnya lagi. "Kau adalah yang bawah. Kau yang melengkapinya sehingga dia bisa jadi orang yang hebat. Orang tinggi. Tinggi posisi dan kariernya. Kau, 'kan, yang selama ini membantunya? Sejak kecil lagi. Kalian memang utuh satu sama lain kalau berpisah, tapi kalian tidak bisa sehebat ini kalau tidak bekerja sama dan tanpa sokonganmu."

Satsuki menggaruk pelipisnya, lalu tertawa kecil. Tawa malu. "Dai-chan memang suka basket dari dulu. Aku cuma—"

"Ayolah Satsuki-chaaan, kau yang membantunya melakukan banyak hal dalam kesehariannya, 'kan? Itulah peranmu. Kalau tanpa kau, mungkin dia cuma bisa malas-malasan."

Satsuki mengangkat bahu. "Yah, mungkin kau ada benarnya," lantas dia tersenyum.

Satsuki memakan kue keringnya, dan Gou lanjut membangun sesuatu. Sesekali Satsuki membantunya. Hingga kemudian ada bunyi ketukan keras. Mereka sama-sama menoleh ke arah pintu. Satsuki memandang Gou, "Aku sudah terbiasa dengan ketukan yang seperti ini. Ya, masuk saja!" dia berteriak, kemudian setengah berbisik, "Dia akan kuhajar kalau masuk begitu saja tanpa mengetuk. Aku pernah melakukannya sekali saat aku akan ganti baju, dan dia jadi anak penurut setelah itu."

Daun pintu pun bergeser.

"Oi, Satsuki, pinjam catatan biologimu."

Gou—yang matanya melebar karena terkejut—langsung memandang Satsuki. Seolah bertanya dengan isyarat, inikah wujud asli dari lelaki yang selalu diceritakan Satsuki. Dia sudah cukup sering melihat Daiki dari foto-foto yang ditunjukkan Satsuki atau pertandingan basket di televisi, tapi dia tidak menyangka ternyata pemuda itu setinggi ini wujud aslinya. Oh, dia pemain basket, Gou kemudian merutuki dirinya.

"Catatan yang kemarin?" Satsuki terlihat santai sambil menuju meja belajarnya. Kemudian mengangkat salah satu bukunya. "Nih," dia melemparnya.

Daiki menangkapnya, namun tetap berjalan melintasi ruangan kemudian menarik kursi belajar di depan Satsuki, tanpa rasa berat sama sekali. Cuek. Enteng. Semudah kemauannya.

"Hei—"

"Aku akan menyalinnya di sini. Kalau kubawa ke rumah aku malas mengembalikannya malam nanti. Kecuali kaumau mengambilnya sendiri di rumah," dia mengeluarkan bukunya dari saku belakang celananya. Buku itu melengkung karena dijejal. Matanya cuma melirik malas ke arah Satsuki tetapi kemudian alisnya berkerut ketika menemukan ada orang lain di dalam kamar itu.

"O-oh, Dai-chan, ini teman baru yang kuceritakan itu. Gou-chan, ini Dai-chan. Aomine Daiki. Dan Dai-chan, ini Matsuoka Gou, manajer tim renang Sekolah Iwatobi."

"Salam kenal, Aomine-san! Aku sudah pernah mendengar tentangmu dari Satsuki-chan!"

Satsuki hanya memutar matanya, kemudian Aomine menjawab, "Hng, ya. Salam kenal."

Daiki sibuk menyalin di meja Satsuki, dan mereka berdua berbicara dengan suara pelan. Kadang tentang klub, kadang tentang kehidupan mereka, lalu kadang soal keluarga mereka.

Sesaat kemudian, apa yang Gou bangun dihancurkannya begitu saja, dilepaskannya potongan-potongan itu satu sama lain dengan cepat. Satsuki terheran-heran namun tak sempat bertanya karena Gou buru-buru menarik bahunya dan berbisik, "Sebaiknya kau mengembalikan ini pada Aomine-san."

"Oh? Pantas kau menghancurkannya—"

"Tapi aku menghancurkannya bukan untuk memasukkannya kembali ke dalam kotak dan mengembalikannya," Gou tersenyum misterius sambil meraup lego dan mendekatkannya pada Satsuki. "Aku akan mengajarimu membuat sesuatu. Kembalikan ini semua dalam bentuk itu untuk Aomine-san."

Kening Satsuki mengerut.

"Buatlah bentuk hati!" bisiknya kemudian menepukkan tangannya.

"... Hah? Memangnya bisa—dan, ow, kenapa harus dalam bentuk hati?!"

"Ayolaaah. Kau sudah membantuku dan Haruka-senpai dengan puzelmu, sekarang giliranku membantumu dengan lego. Akan kuajari sedikit, lalu kaulanjutkan, oke? Ini tidak akan lama, kok."

Gou mengajari Satsuki dengan tangkas. Separuhnya masih dibantu banyak oleh Gou, namun sisanya, Momoi-lah yang mengerjakan. Dan semua selesai ketika Daiki juga selesai menyalin catatan Satsuki. Gou menaruh benda itu di tangan Satsuki dan bahkan mendorong Satsuki untuk mendekati Daiki yang berdiri di dekat meja.

"Aish—Gou-chan," Satsuki mengibaskan tangan Gou pada pundaknya. Gou terkikik dan Satsuki mencoba mengatur napasnya. Oke, oke, kau sudah biasa bicara dengan Dai-chan. Jangan kelihatan bodoh.

"Nih. Aku dan Gou-chan membuat sesuatu—ow," Gou mencubit kaki Satsuki. "Mm, maksudku, ini buatanku. Ingat? Ini legomu. Kukembalikan padamu."

Alis Daiki terangkat, dan Gou menutup mulutnya agar tak terlihat cengiran lebarnya.

"Ayo, ambil," Satsuki mendekatkan benda itu pada Daiki.

"Ng. Aku sudah lupa aku punya benda ini. Yeah, baiklah. Aku pulang," Daiki mengambilnya, kemudian pulang begitu saja.

Satsuki menoleh pada Gou, "Jangan heran karena dia begitu, oke? Dia bukan orang yang gampang mengucapkan terima kasih. Dia lebih senang menunjukkannya dengan sikap."

"Mm, contoh?"

"Selalu bersamaku, misalnya?" Satsuki tersenyum kecil. "Setiap kali istirahat di sekolah, dia hampir selalu bersamaku walau aku bilang aku bisa sendiri. Dan dia juga bisa dengan teman-temannya, sebenarnya, tapi dia bilang dia lebih ingin ... yah, makan denganku. Walaupun itu artinya aku yang lebih sering membayarkan karena dia sering lupa membawa uang, tapi kalaupun saat dia membawa uang, dia menolak pergi saat kuusir."

"Aaawww, manisnya!" Gou menangkupkan tangannya di depan dada. "Agak mirip Haruka-senpai—dia jarang mengekspresikan apa yang dia rasa tapi keberadaan dia sudah cukup menjadi bukti bahwa dia berterima kasih pada orang-orang yang dia sayangi," dia tersenyum manis, "Dan lagi-lagi, kita menyukai orang yang setipe, hm?"

"Then we are Gemini."


Gou yang menutupkan tirai kamar Satsuki, dan dia menangkap sesuatu yang cukup menarik di seberang sana.

"Eh, Satsuki-chan, itu kamar Aomine-san, ya?" tunjuknya sambil memegang ujung tirai.

"Iya. Kamar kami berseberangan. Sejak kecil. Kautahu, dia pernah mengetuk jendelaku dengan sapu dan dia hampir jatuh dari jendela cuma untuk mengisengiku malam-malam. Waktu itu kami masih SD."

Gou cuma menggeleng sambil terkikik. "Tuh, lihat. Itu meja belajarnya, 'kan? Apa yang dia pajang di sana?" tunjuknya pada kamar di seberang yang tak tertutup tirai dan jendelanya.

Satsuki memicingkan matanya, dan menemukan lego yang baru dikembalikannya dipajang di bagian teratas meja belajar Daiki.

"Kau memang spesial untuknya, hm?" Gou mencubit pipi Satsuki, dan lawan bciaranya cuma tertawa kecil sambil balas mencubit lengan Gou.

end.