Evergreen
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Midorima Shintarou/Momoi Satsuki. Genre: Romance/Family. Rating: K+.
(Di saat Midorima Shintarou harus mengakhiri karir pianonya, dia bertemu dengan penari balet yang bernasib sama dengannya, Momoi Satsuki.)
Sambil mengalirkan musik menuju puncak, Midorima sesekali melirik pada Momoi yang tengah larut dalam dunianya sendiri. Leher jenjangnya bak angsa yang anggun yang sedang menari lincah sebab begitu senang menikmati alam danau yang asri. Lompatannya dalam setiap pola koreografi selincah parkit-parkit kecil yang riang. Midorima bisa mengatakan determinasi besar wanita itu dalam dunia tari-menari hanya dengan melihat cara dia menikmati musik sambil memejamkan mata namun tetap terus menari.
Sesekali pula, dalam gerakan tarinya yang penuh penghayatan, Momoi membuka mata dan menyaksikan betapa terlatihnya jari-jemari lentik Midorima menjamahi tuts untuk mengantarkan musik yang apik untuk telinga seluruh pendengar. Jiwa lelaki itu sepertinya memang hanya untuk bermain nada, terbukti dari sinar matanya yang mantap ketika terarah pada barisan tuts putih-hitam tersebut.
Dan Miyaji, yang menyaksikannya dari sudut ruangan, mengakui bahwa pilihannya untuk menggabungkan dua orang yang amat relevan dalam bidangnya masing-masing ini begitu tepat. Walaupun kenyataannya, kombinasi seperti ini mustahil untuk terulang dua kali.
"Aku suka sekali musik yang dimainkan Midorin!" Momoi berujar riang setelah menenggak hampir separuh dari isi botol minuman isotonik dingin yang baru saja diberikan Miyaji. "Sejak kapan Midorin belajar piano?"
"Umur lima tahun," jawab Midorima. Dia minum dengan tenang, dan tiga kali reguk dirasanya cukup.
"Wah, pantas mainnya bagus begitu. Dari kecil sekali, sih. Hihi. Kalau aku baru belajar balet waktu kelas 3 SD, makanya kemampuanku belum seberapa, nih."
Midorima mendelik. "Kurasa kau hebat."
"Yeee, hebat dari mana?" Momoi mencibir. "Tidak. Aku masih harus belajar. Tapi sayangnya ... ah, entahlah. Mungkin kesempatan itu tidak ada lagi."
Midorima mengganti objek sasaran perhatiannya dari kertas berisikan barisan not kepada Momoi. Gadis itu tak sadar. Memandangi botol yang berembun adalah yang sedang dilakukannya, bulir-bulir embun yang menetes membuatnya tersenyum sesaat. Senyum dengan makna tak tertebak.
"Momoi-san, Momoi-san, bisakah kauajari kami gerakan yang susah tadi?"
"Oh, ya, boleh, boleh sekali! Yuk! Midorin, kutinggal dulu, ya~"
Panggilan dari para penari latar itu menghentikan dialog mereka yang tadi terjeda. Midorima tertinggal sendiri di sudut, kertas partitur di pangkuan siap menemaninya lagi. Sambil meluncurkan minuman itu menuruni kerongkongannya lagi, Midorima menatap kepergian Momoi, ternyata bukan cuma dia orang yang kurang beruntung soal obsesi masa depan, rupanya.
"Midorin, apa sih yang membuat Midorin terus main piano?" gadis itu mempertanyakan hal lain lagi di waktu istirahat mereka yang berikutnya. Midorima mulai mempertanyakan fakta mengapa gadis tu lagi-lagi datang kepadanya padahal faktanya dia sudah lumayan mampu menyesuaikan diri dengan penari-penari perempuan lain. Tetapi Midorima bukanlah orang yang akan langsung melepaskan pertanyaan tanpa meneliti diam-diam dahulu—dengan mata tajamnya di balik kacamata berbingkai hitam itu.
"Karena hobi," lelaki itu berujar pendek, Momoi sudah membuka mulutnya untuk merespons, tapi ternyata Midorima lanjut berucap—tak Momoi sangka sebab dia kira Midorima adalah tipe yang hanya akan menjawab dengan sepatah-dua patah kata— "Dan karena itu memang bagian dari cita-citaku."
"Oo," Momoi mengangguk. Botolnya yang telah kosong dia main-mainkan di tangan dalam gerakan ke arah kiri-kanan, "Eh, lihat Miyaji-san, tidak? Aku mau minta minuman lagi. Punyaku habis, nih, hehe ..."
Mata Midorima beredar ke sekeliling ruangan, termasuk pada ruangan kecil lain yang terlihat dari tempat duduknya—yang pintunya terbuka penuh—yang biasanya digunakan Miyaji sebagai tempatnya menggubah atau mengaransemen musik untuk pertunjukan. Miyaji tak ada di mana pun.
"Dia pergi."
"Yah—"
"Kaubisa minta minumanku," sambil menaikkan kacamatanya menggunakan jari tengah, Midorima menggeser posisi botol di atas lantai, mendekati Momoi.
"Waah, terima kasih sekali, Midorin! Aku tidak akan minta banyak-banyak, kok," gadis itu langsung menerima pemberian tersebut, dan meminumnya dua tegukan. "Ah, segarnya," dia menyeka bibirnya dengan punggung tangan. "Um, latihan di sini pakai aturan jam, tidak? Kalau di tempat Moritaka-senpai, biasanya kalau pukul enam kami akan pulang, dan target-target tertentu harus dicapai sebelum pukul enam tiba. Lima belas menit lagi pukul enam, sih," Momoi mendelik pada jam dinding kecil di dekat piano.
"Kami latihan secara bebas. Bisa berjam-jam kalau belum selesai."
"Oh begitu ..."
"Tapi jika kita bisa menguasainya sekarang, kurasa pulang pukul enam bukan masalah."
"Hmmm, oke! Aku ke sana dulu, ya, Midorin, mau memastikan kalau mereka sudah bisa gerakan-gerakannya, biar kita bisa cepat pulang!"
Momoi pergi, dan Midorima merasa haus lagi. Diminumnya isi botol miliknya tersebut—namun dia tertegun sesaat setelah menghilangkan dahaganya.
Ia mencium aroma strawberry. Begitu dia menyeka bibirnya yang sedikit basah akibat minum tadi, dia masih mencium adanya aroma strawberry, yang kelihatannya menempel di punggung tangannya.
Wangi.
"Wah, Midorin lewat sini juga?" Momoi kaget begitu mendapati Midorima berjalan di belakangnya setelah dia berpisah jalan dengan teman-teman barunya.
"Aku akan naik bus dari halte di depan sana."
"Whoa, berarti kita satu jurusan!" Momoi tersenyum gembira, dia berheti sebentar, menunggu agar Midorima sejajar langkahnya dengan dirinya. Rambutnya yang terikat tinggi terayun-ayun terbawa angin dan berantakan, namun tampaknya dia tak peduli sedikit pun untuk menanganinya, membereskannya. Padahal dia sedang berada di depan seorang lelaki. Biasanya, kebanyakan perempuan akan jaga imej, bukan?
Mereka berdua berjalan bersama-sama menuju halte yang sesungguhnya tak terlalu jauh itu. Midorima tak membicarakan apapun, sementara Momoi mendendangkan musik pertunjukan mereka dengan suara rendah.
Bus datang tepat waktu. Midorima mempersilahkan Momoi untuk masuk duluan, meski dia tak mengucapkan apapun lagi.
"Sini, Midorin!" Momoi, yang telah duduk di dekat jendela, menepuk bangku kosong di sebelah posisinya. "Kita ngobrol lebih banyak, yuk."
Midorima tak perlu mengungkapkan sesuatu untuk setuju. Dia langsung melakukannya. Ini lebih baik ketimbang duduk di samping orang asing, bagi Midorima sendiri.
"Midorin bilang kalau cita-citamu jadi pemain piano, ya? Aku dukung, lho! Midorin pasti jadi pemain yang terkenal. Nanti kapan-kapan aku mau nonton pertunjukan Midorin, ah."
Midorima memandang jalanan yang mereka lalui, bangunan-bangunan yang seolah bergerak cepat, dan orang-orang yang sibuk di tepian jalan sana. "Sepertinya itu tak akan terjadi."
"Lho?"
Midorima menyandarkan diri pada bangku. Lagi-lagi, tangannya membenarkan letak kacamata meski tak ada yang salah dalam posisinya. "Takkan ada lagi piano. Kita sama."
"Sama ...?"
Midorima hanya mengangkat alisnya. Lantas, mengangguk. Ada jeda beberapa lama.
"Kenapa?"
"Kalau kauingin menggapai cita-cita, kau perlu dukungan dari orang terdekat. Tapi aku tidak mendapatkan itu."
Momoi menarik napas dalam-dalam, yang tampak kemudian adalah senyum tipisnya yang penuh akan campuran perasaan. "Kenapa sama, ya?"
Momoi tahu Midorima tak akan menjawab. Ya, satu menit berikutnya, dia nanti, tak ada juga respons pelengkap. Menit berikutnya juga. Berikutnya lagi. Dan seterusnya, sampai Midorima mengeluarkan sebuah buku kecil dan selanjutnya konsentrasinya berporos pada objek itu. Momoi sengaja diam saja, tak mau mendesak terus. Tak enak. Ini pun dia rasa sudah terlampau jauh melewati batasan yang wajar untuk dua orang yang tiga kali bertemu.
"Sayang sekali, ya, Midorin," Momoi mengatakannya sebagai penutup, karena dia melihat bahwa dia telah dekat dengan tujuan pulangnya.
Midorima melirik. "Kadang ada hal yang tak bisa kauterima di kehidupan, tapi harus kaujalani."
Momoi mengangguk, "Aku sudah mempelajari itu," dia berdiri ketika bus sudah direm. "Aku sampai. Duluan, ya, Midorin! Sampai ketemu di gladi bersih!"
"Hm."
Momoi Satsuki sempat melambai ketika dia telah turun dan memandangi Midorima, kaca bus memisahkan mereka. Midorima ingin mengangkat tangannya, namun ragu, dan akhirnya dia biarkan saja lambaian gadis itu tak berbalas. Hanya diberinya sedikit perhatian dengan menatap gadis itu sampai punggungnya tak terlihat.
Empat hari lagi gladi bersih. Akhir pertemuan mereka yang pertama (dan mungkin yang terakhir) sudah semakin dekat.
"Bagus. Nyaris sempurna," Miyaji menurunkan tangannya yang sedari awal terlipat ketika mengawasi mereka semua latihan. "Kurasa tidak ada yang perlu kukhawatirkan. Kalian sudah semakin siap untuk pertunjukan lusa," ujarannya begitu pasti. "Kutunggu permainan terbaik kalian nanti. Setelah ini, cukup satu kali latihan, dan kalian boleh pulang. Sepuluh menit," pinta Miyaji singkat, kemudian meninggalkan ruangan. Dia masuk ke ruang pribadinya dan langsung menutupnya dengan enteng.
Momoi langsung mengambil handuk yang tergeletak sekadarnya di atas tas marunnya. Midorima turun dari bangku pemain piano, kertas partitur dibawanya serta. Midorima kadang begitu perfeksionis, meski Miyaji menyatakan bahwa permainannya minim cela, dia kadang masih menganalisa musik dari awal, berulang kali, hanya memastikan bahwa dia telah hafal musiknya secara keseluruhan dan meyakinkan dirinya bahwa dia tidak dan tidak akan mencacatkan permainannya dengan kesalahan sepele yang luput dari perhatian orang-orang.
Momoi memandang seluruh ruangan dengan puas sekaligus perih. Ini adalah kali terakhir dia menginjak lantai dansa khusus balet, merasakan atmosfernya, merasakan peluh menjelajahi wajahnya dari atas hingga ke dagu setelah puas mengikuti irama lagu dengan gerakan tubuhnya, serta alunan lembut musik pengiring yang selalu membuatnya rindu dan terpanggil.
"Kalau kau lapar, makanan ada di ujung sana. Di dalam lemari es. Memandang tembok adalah sesuatu yang tidak berguna."
Leher Momoi berputar untuk menghadapkan wajahnya pada sumber suara. Hening sesaat. Kemudian, dia tergelak.
"Apa yang lucu?"
Momoi berbalik dan duduk di hadapan Midorima, bersila, senyum masih menjadi hal utama yang dia tunjukkan pada si pemanggil. "Tidak kusangka Midorin juga bisa bercanda."
"Apa itu salah?"
"Hihi," Momoi menggeleng. "Tidak. Tidak salah, kok. Hanya saja, itu di luar dugaanku," pancaran sinar mata Momoi tertuju tunggal pada Midorima, "Kukira Midorin orangnya pendiam, misterius, suka buku dan piano, lalu tertutup dan suka begini," Momoi mempraktekkan kebiasaan rekannya, gerakan menaikkan kacamata yang biasa dilakukannya di saat-saat tertentu.
Midorima mendengus. Karakternya bisa ditebak dengan sempurna oleh Momoi.
"Aku cuma merenung, Midorin," Momoi melipat kakinya dan menopangkan dagu pada lututnya. "Sebentar lagi aku harus meninggalkan dunia balet. Padahal ... aku benar-benar menyukainya."
"Kautidak sendiri," sanggah Midorima.
"Ya, sih, aku tahu Midorin juga ... ah, rasanya bagaimana, Midorin? Apa yang kau rasakan sekarang? Sedih? Biasa saja?"
Midorima meletakkan kertas yang tadi digenggamnya ke atas piano, dengan asal-asalan. "Banyak. Aku tidak bisa menjelaskannya."
Momoi memandang Midorima lekat-lekat, lagi. "Sepertinya ini pertemuan pertama dan terakhir kita, ya? Padahal ... aku berharap bisa mengenal Midorin lebih jauh, bersama-sama main musik dan balet dengan Midorin ... juga mengadakan pertunjukan lainnya denganmu. Karena—apa, ya? Entahlah. Dalam musik, aku merasa sangat cocok dengan Midorin. Aku bisa menari dengan bebas hanya ketika pemusik yang mengiringiku juga menghayati musiknya. Musik yang dimainkan seseorang dengan sepenuh hatinya berbeda dengan yang cuma asal main, Midorin pasti mengerti itu. Dan karena seniku bergantung pada musik, aku harus mencari seseorang yang penuh penghayatan agar aku juga bisa total."
Penjelasan panjang Momoi disimak dengan sangat baik. Satu kali menarik napas panjang adalah permulaan untuk jawaban dari Midorima, "Kalau aku dimita jujur, aku juga merasakan hal yang serupa. Tampil denganmu adalah pengalaman yang menarik."
"Aku setuju!" sambar Momoi. "Sayang sekali, ini pertunjukan terakhirku ... aku—ah, nah, kan, padahal aku tidak ingin menangis lagi kalau mengingatnya," Momoi menyeka wajahnya dengan gerakan keras.
"Ini juga akan jadi pertunjukan terakhirku."
"Eh?" Momoi menghentikan gerakan tangannya. "Sama lagi, Midorin!"
"Hn."
"Boleh tahu, kenapa Midorin tidak bisa main piano lagi? Aku juga akan menceritakan ceritaku—ah, aku duluan saja, ya? Hm, ibuku tidak suka aku menari balet terus. Aku sudah dewasa, katanya, dan aku harus lebih memikirkan masa depanku dan pekerjaan yang bisa menghidupiku kelak, yang bisa membuatku mapan dan mandiri. Ibu mau aku kuliah di jurusan yang berhubungan dengan ekonomi dan aku harus konsentrasi ... dengan cara meninggalkan balet."
Midorima bukanlah manusia dengan sifat mudah kagum atau tertegun akan sesuatu sebab dia menetapkan standar sendiri, yang berbeda dari anggapan orang-orang dalam menganggap apakah sesuatu itu bisa bersifat impresif baginya. Tetapi kali ini, dia tertegun sungguhan. Walaupun ekspresinya tak menunjukkan hal tersebut secara gamblang.
"Kalau Midorin kenapa?"
Midorima melakukan kebiasaanya, kacamatanya dinaikkan, dan Momoi jadi tersenyum sebentar setelahnya. "Kalau kau mencari tahu tentang alasanku, alasanku sudah ada di ceritamu."
"Haaa? Maksud Midorin?"
"Pikirkan sendiri," Midorima acuh-tak-acuh menanggapi. Meskipun begitu, dia tetap menghadap Momoi dalam berbicara. Masih menatapnya lama.
"... Hm, karena orang tua yang punya jalan lain untuk kita?"
"Hn."
"Midorin diminta jadi apa?"
Sesaat, Momoi berharap bahwa jawaban Midorima adalah bidang yang sama dengan dirinya. Alasannya sederhana; agar mereka bisa kembali dipertemukan, dipersatukan lagi agar Momoi merasa berkawan dalam menyusun kembali keping mimpinya yang telah remuk ditekan keadaan.
"Dokter."
Ah, beda. Telanlah rasa kecewa iu, Momoi Satsuki. Kau akan kenyang karenanya.
"Aku baru kali ini, lho, menemukan orang yang sama persiiiiis denganku dalam banyak hal. Eh, kenapa, ya? Rasanya asyik, lho. Aah, sungguh, andainya aku bisa mengenal Midorin lebih jauh!"
Kalimat Momoi menguap, lenyap ditelan keheningan. Midorima bukanlah tipe penanggap yang baik.
"Kita latihan lagi. Buat yang terakhir ini menjadi yang terbaik," Midorima berdiri dan kembali mencapai pianonya.
"Hu-um!" Momoi bangkit. Nampaknya mood-nya telah kembali, "Oke, Midorin, aku siap! Aku akan melakukan yang terbaik."
Aku juga, Midorima membiarkan jawabannya terungkap secara rahasia, hanya bersembunyi di dalam benak.
Tak ada yang lebih Momoi sukai selain melihat kain merah muda menutupi tubuhnya, kalau dalam urusan pakaian. Warna favoritnya ada beberapa, tapi kalau untuk urusan pakaian, dia selalu menjatuhkan pilihan pada warna merah jambu lembut. Ada banyak faktor penyebab, salah satunya adalah karena warna matanya, baginya warna soft pink adalah jodoh terbaik fuchsia.
Apalagi kalau kain itu rupanya adalah baju balet. Seperti yang dia kenakan sekarang, dan dia sedang sibuk mencari bagian mana yang kurang pas dari dirinya dengan mematut diri sambil berputar-putar di depan cermin.
Rambutnya sudah rapi, digulung di puncak belakang kepala. Mahkota kecil disisipkan di ubun-ubunnya, dan pemoles wajah pun sudah dipoleskan ke wajahnya dengan baluran yang tak terlalu mencolok, namun pas untuk kulitnya yang pucat. Rok dengan kain transparan yang ditumpuk sudah menghiasi pinggang hingga setengah lututnya, berwarna merah jambu yang sedikit lebih tua dari yang melekat di tubuh bagian atasnya. Transisi antara merah jambu muda dengan fuchsia.
Apa yang kurang, ya? Lipgloss beraroma strawberry pun sudah dipoleskan pada bibirnya. Hm, mungkin secara fisik, semua sudah siap?
"Sudah waktunya siap-siap di dekat panggung," seseorang menyeruak tirai, "Sudah banyak penonton yang datang."
Momoi berbalik. Matanya berkedip cepat. "Waah, Midorin tampan sekali kalau begini!"
Midorima langsung mendengus, membuang muka dan tentu saja, tak lengkap jika ekspresi seperti itu tidak ditambah dengan gerakan menaikkan kacamatanya. Jas hitam yang tak dikancing, serta dasi warna ivy dan sepatu mengkilat tentu amat cocok untuknya. "Tsk," ucapnya dengan nada rendah. "Ayo."
Momoi mengangguk. "Hm, ayo! Semangat, ya, Midorin!" dia langsung berlari kecil menyusul sosok Midorima. Dia berjalan pelan setelah mencapai rekannya, tertinggal satu langkah, memang, tapi itu lebih karena dia sengaja.
"Midorin ..." panggilnya. Lirih. Berat. "Midorin sedih, tidak?"
Midorima berhenti sebentar, melirik dan menggeleng. Langkah mereka pun sejajar. "Tidak,"jawab pemuda itu tenang.
"Hmm—yah, laki-laki sepertinya lebih pintar mengatur perasaan, ya—"
"Bukan masalah itu," sanggah Midorima, "Simpan sedihnya untuk nanti. Berbahagialah dulu karena sekarang kau akan menghibur orang-orang. Jika kau bersedih sekarang, tidak akan ada hasil maksimal."
Momoi mendongak.
"Bersenang-senanglah agar kaudapat membuat memori terakhir yang paling baik."
Gadis itu tertegun.
Tepat setelah kalimat itu selesai, tangan Midorima hinggap sesaat di puncak kepala Momoi, mengelusnya dalam gerakan yang seringan angin, dan melepaskannya sebelum Momoi benar-benar sadar akan apa yang dilakukan Midorima untuknya.
"Kau ... benar. Terima kasih, Midorin!"
Mereka tiba di dekat jalan pintas dari backstage menuju panggung, menarik napas panjang sebelum bergabung dengan kru dan penari lain untuk menjalankan ritual yang biasa dilakukan sebelum tampil; saling menyemangati dan berdoa.
Pertunjukan tari The Fallacies berjalan seperti yang dibayangkan. Tentang putri kerajaan angsa bermata merah muda yang menuntut kebebasan dari dunia palsunya di kerajaan—yang menuntutnya untuk selalu terlihat ceria meski tak boleh keluar dari istana, dan hanya boleh mengenal dunia lewat cerita dan jendela. Dia melarikan diri ke padang rumput yang hanya dihuni oleh merpati-merpati putih, dan dia merasa bebas karena dia bisa menunjukkan dirinya yang sesungguhnya di sana, menangis karena kesepian, tertawa ketika para merpati menghibur, dan dia boleh mengekspresikan rasa bahagianya dengan menari sepuasnya, tanpa topeng yang harus dia kenakan setiap kali ada kunjungan dari negara tetangga bahwa dia baik-baik saja meski dipingit. Pertunjukannya penuh haru dan bahagia, semua emosi disajikan dengan baik oleh tarian Momoi dan tentunya musik Midorima.
Beberapa cela memang ada, namun banyak hal positif menjadi penutupnya. Harmonisasinya sempurna, penoton berhasil dibuat terpana, dan emosi cerita yang sesungguhnya bisa ditampilkan secara luar biasa.
Momoi melupakan rasa sedihnya—mengikuti saran Midorima. Dia tahu ini yang terakhir dan dia harus mundur dari panggung balet yang telah mengajarkannya banyak hal, tetapi diredamnya sekuat mungkin. Ia igin memberi kesan terakhir yang baik untuk semua orang yang mendukungnya.
Dia harus bahagia ketika tampil.
.
Dan dia memang berhasil melakukannya.
.
.
Pertunjukan usai, dan berakhirlah karir Momoi sebagai sang penari balet yang telah mengasah talenta hingga menjadi luar biasa di usia muda. Dia harus menanggalkan mimpinya demi membahagiakan orang tua.
.
Lalu ketika sesi penutupan dan ucapan terima kasih pemain tiba, dan semuanya bertautan tangan, Momoi menggenggam erat tangan Midorima. Sekuat-kuatnya. Pelampiasan sedihnya tumpah di sana, menggantikan air mata yang memang belum bisa ia keluarkan di saat-saat seperti ini.
Midorima menyadarinya, dia melirik sesaat, dan memaklumi bahwa ini lumrah terjadi.
Pegangan Momoi makin erat ketika mereka membungkuk untuk ucapan terima kasih yang terakhir.
Midorima membalas genggaman itu.
.
Maka kisah mimpi Momoi dan Midorima pun benar-benar tamat ketika tirai panggung diluruhkan dan tepuk tangan penonton yang membahana memenuhi gedung.
Mereka berhasil.
Namun jalan mereka putus.
.
.
Di ujung ruang rias, ketika Momoi melepaskan mahkotanya, dia mendapati Midorima datang padanya, entah karena maksud apa. Lelaki itu hanya berdiri di belakangnya, menatapnya, tanpa satu pun kata-kata diungkapkannya.
Momoi menyerbu Midorima dengan sebuah pelukan. Menangis ketika wajahnya dia kubur di tubuh Midorima. Membasahi kemejanya.
Tapi Midorima tak keberatan. Seolah dia telah tahu bahwa ada kesedihan yang disimpan Momoi dan kalau itu tidak dia bantu tangani, akan ada rasa sedih yang meledak tanpa terkendali nantinya. Sebab Midorima juga bisa merasakannya, dia peduli pada Momoi.
Midorima sudah beberapa kali mengusap punggung Momoi ketika dirasanya tangisan itu makin deras, bermaksud menenangkan, tetapi Momoi tak bergeming.
Mereka dalam posisi itu untuk beberapa lama. Bahkan ketika ruangan telah menjadi sepi dan beberapa orang telah pulang.
"Maaf sudah membuat bajumu basah, Midorin," sesal Momoi. "Mau kucucikan?"
"Aku bisa menitipkannya di laundry."
"Oh," Momoi memandang lurus ke depan, melintasi jalan tengah di gedung pertunjukan yang mana karpet merahnya belum disingkirkan. Seluruh penonton dan bahkan para penari dan kru sudah pulang semua. Mereka yang terakhir.
"Sepertinya, ini memang yang terakhir, ya, Midorin? Setelahhya, kita akan sibuk dengan urusan masing-masing. Ibu memintaku les ini-itu dan bahkan belajar bisnis dari rekan-rekan kerjanya. Kita ... tidak akan bisa bertemu di dunia yang sama lagi."
"Mungkin."
Momoi mendongak, memandang Midorima dengan mata yang masih sembab. "Senang bisa mengenalmu, Midorin. Mungkin ... kita tidak akan bisa bertemu lagi."
Mereka telah mencapai bagian luar gedung. Ibu Momoi sengaja menjemput hari ini, sebab ini adalah yang terakhir untuk anaknya. Mobilnya telah terparkir di tepi jalan, hanya beberapa meter dari tempat mereka berdua berdiri sekarang.
"Ada hal-hal yang tak mustahil."
"Mm? Midorin percaya kalau kita akan bertemu lagi nanti?"
"Mungkin, kalau kita bisa, itu akan menjadi takdir lain."
"Maksudnya?"
"Siapa yang bisa menebak?"
Momoi tersenyum kecil, Midorima adalah orang yang suka bermain teka-teki, dia hafal sekali. Ah, bahkan hanya mengenalnya kurang dari sebulan pun, Momoi sudah bisa membaca banyak sifat dan kebiasaan serta tingkah lakunya. Andai bisa melakukannya lebih jauh lagi, pikirnya, tanpa terungkap lewat suara sedikit pun.
"Selamat tinggal, Midorin," Momoi mulai berjalan menjauhi Midorima, menuju mobil ibunya, tangannya dilambaikan.
"Hn."
Midorima masih menatap pada arah yang sama, bahkan ketika objek itu telah menghilang dari area pandangnya. Momoi tak berani memberi tatapan balasan.
Karena dia takut dia tak akan bisa bergerak dari jalan yang harus diakhirinya sekarang ke jalan yang diminta ibunya. Dia takut tak bisa memindahkan diri jika tersenyum pada Midorima di saat-saat terakhir.
.
.
Selamat tinggal, sepatu balet. Selamat tinggal, musik lembut pengiring tarian.
Selamat tinggal, Tuan Pemain Piano.
.
Di sisi lain jalan, di sudut lain sisa-sisa sinar matahari masih menyinari, Midorima menyesal dia tak mengatakan banyak hal.
tbc.
A/N: hastaga aku bener-bener nggak nyangka ternyata tanggapannya lebih dari yang kuduga ;_; terima kasih banyak ya aduh bisakah aku menyayangi kalian (ngek) thanks a lot! oh iya sekadar note, inspirasi fic ini berasal dari lagunya westlife, judulnya evergreen. bagi yang belum denger, ayo denger! baguuuus XDb
