Evergreen
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Midorima Shintarou/Momoi Satsuki. Genre: Romance/Family. Rating: K+.
(Di saat Midorima Shintarou harus mengakhiri karir pianonya, dia bertemu dengan penari balet yang bernasib sama dengannya, Momoi Satsuki.)
"Bukunya di rak A5, ya, Momoi, yang sampulnya abu-abu. Kalau yang biru tua, itu edisi lama. Kalau mau jaga-jaga, siapa tahu materinya kurang, bisa cari di rak A7, baris paling bawah. Di situ ada buku lama, terbitan sepuluh tahun yang lalu, tapi isinya lengkap. Pinjam saja dua-duanya langsung kalau kautidak mau repot bolak-balik ke sana."
"Oke, oke," Momoi mengangguk sambil membenarkan letak tali tasnya yang agak melorot di bahu kanannya. "Thanks infonya, ya. Aku sudah mau ke sana, nih."
"Iya. Sukses, ya. Kututup dulu, aku harus menemui dosen setelah ini."
"Yup."
Langkah Momoi semakin cepat. Dia merasa harus segera tiba ke perpustakaan sebab waktu tak akan mau menunggu. Dia harus menyelesaikan karya ilmiahnya sebelum akhir minggu ini, atau nilai semester-semester penghujung kuliahnya akan dipertaruhkan. Jadi mahasiswa tingkat atas memang cukup merepotkan. Tugas, karya ilmiah dan sejenisnya, kegiatan organisasi yang masih harus ditangani, ah, kompleks.
Tinggal sedikit lagi dia akan mencapai perpustakaan dengan derap cepatnya, namun, "Momoi!"
Dia berhenti. Lantas menoleh. Pintu kantor ruangan organisasi tempat dia sering menghabiskan waktu dan berkumpul dengan teman-temannya terbuka. Salah satu temannya melambaikan tangan. "Sini!"
"Ada apa, nih, Rena-chan?" Momoi pun masuk, menunda sebentar keinginannya untuk ke perpustakaan karena dia yakin, setiap kali Rena memanggilnya, pastilah itu urusan yang penting.
Di saat bersamaan, pintu perpustakaan dilewati oleh seseorang. Dia keluar dan menyusuri jalan yang sama.
"Momoi!"
Kening Midorima berkerut, langkahnya untuk sesaat berhenti.
Ah, rasanya tidak mungkin. Mungkin itu hanya khayalan belaka. Apa dia terlalu banyak berpikir saat di perpustakaan tadi? Atau mungkin dia terlalu banyak mendengarkan lagu klasik melalui earphone, saat ia membaca modul pendukung untuk karya ilmiahnya—tadi, waktu dia menghabiskan paginya di perpustakaan? Bisa jadi. Lagu-lagu klasik yang hanya tersusun oleh nada-nada dari piano itu adalah sihir nomor satu untuk membangkitkan kenangan lama. Lagu-lagu itu sudah didengarkannya sejak kecil, banyak peristiwa hidup dia lewati dengan lagu itu sebagai temannya dalam menghadapi berbagai jenis suasana.
Tidak mungkin, pikir Midorima lagi. Tidak mungkin di tempat seperti ini. Mustahil.
Dia lanjut melangkah menyusuri selasar. Kafetaria adalah tujuannya. Terlalu banyak belajar membuatnya lapar.
"Aku mau yakisoba! Aku kangen ituuu~"
"Iya, iya, boleh," Rena menghitung uang di tangannya. "Uang sejumlah ini cukup, 'kan?"
"Pasti, dong," Momoi memandang uang itu dengan bangga. Ternyata, maksud Rena memanggilnya adalah untuk mengatakan bahwa mereka dapat honor tambahan dari ketua organisasi, yang memang termasuk golongan berduit. Kegiatan amal mereka beberapa minggu lalu berhasil dengan sukses dan bahkan bisa menarik minat para pengusaha besar untuk ikut berpartisipasi, berterima kasihlah pada usaha Momoi dan Rena.
"Yakisoba murah, kok," Momoi telah membayangkan masakan andalah kafetaria kampusnya itu. "Aku sudah kangen dengan itu, kapan ya terakhir kali aku makan itu? Lamaa~"
"Oke, deh," Rena melirik sebentar. "Heh, apa tidak repot bawa-bawa buku tebal begitu ke kafetaria? Banyak, lagi. Tidak muat, ya, di tas?"
"Iya. Lagipula, berat. Bahuku bisa sakit," Momoi memandang pada buku tebal yang barusan dia pinjam dari perpustakaan. "Tidak apa, tidak repot, kok."
"Nanti kalau lupa, bagaimana? Momoi 'kan pelupa," gadis itu menyikut kawannya. "Taruh dulu di suatu tempat, begitu. Di ruangan organisasi juga tidak apa. Kalau lupa menaruh di kantin jadinya gawat, tahu."
"Yaah, Rena-chan, aku tidak sepelupa dulu lagi, kok—"
"Taruh," Rena berhenti, kelopak matanya merendah, dia berkacak pinggang. "Aku tidak mau tanggung jawab kalau nanti kaulupa membawanya dan urusan tambah ribet. Itu 'kan modul buat karya ilmiahmu, punya perpustakaan, lagi."
"Aduh, iya, deh, iya," Momoi mengerucutkan bibir. "Temani aku kembali ke ruang organisasi, dong."
Aksi mengalah Momoi mendapat tanggapan bagus dari Rena. Dia setuju, dan mereka pun menyusur balik selasar, berbelok dari tempat mereka berada. Padahal, sebenarnya, kafetaria hanya tinggal beberapa langkah di depan sana. Tak jauh dari mereka.
Midorima memiliki ketajaman indera pendengar di atas rata-rata. Dia pemusik. Mantan, mungkin, kalau bisa dibilang. Telinganya sudah terlatih untuk mengenali nada-nada dan peka akan berbagai jenis bunyi.
Jadi dia yakin, dia tidak salah dengar suara-suara yang barusan ditangkap telinganya, ketika dia melintasi gerbang kecil kafetaria.
Suara itu ada. Ada, dia yakin sekali.
Namun, ketika dia mencari sumbernya, dengan menoleh ke kanan dan kiri bergantian, berkali-kali, lalu menajamkan pandangannya ke berbagai sudut dan tempat yang agak jauh, dia tidak menemukan sesiapa yang ia harapkan. Si pemilik suara itu ...
... Si Tuan Putri Angsanya yang lincah.
"Yah, hujan," belum sampai Momoi melangkah ke gerbang utama kampus, hujan turun. Langsung menjadi cukup lebat. Dia tidak membawa apapun untuk mengamankan dirinya dan buku-buku di pelukannya hingga sampai ke halte yang cukup jauh di depan sana. Gawat kalau literatur berharga ini jadi basah. Tasnya terlalu kecil dan tipis untuk buku yang kalau dijumlahkan tebalnya sampai sejengkal ini.
Apa kembali ke dalam saja, ya? Tapi dia sudah ingin buru-buru pulang untuk meelanjutkan 'proyek'. Kapan lagi, memangnya?
Fasilitas di kampus memang ada, tapi data lainnya tidak dia bawa, hanya tersimpan di laptopnya saja. Apa nekat saja? Momoi berada di antara dua pilihan yang sama-sama merugikan; menanti sambil membuang waktu tanpa bisa melakukan banyak hal yang berguna, atau menembus hujan dengan resiko yang berbonus: sakit dan buku-bukunya basah.
Oke, dua-duanya merugikan, tapi pasti ada salah satu sisi yang lebih banyak memiliki keuntungan.
Nekat saja, deh, pikirnya. Tidak terlalu jauh juga, kalau ditempuh dengan berlari, takkan terasa terlalu jauh. Jika bukunya basah dan terlalu parah, masih bisa dikeringkan. Daripada dia menunda pekerjaan lebih lama lagi, bukan?
Momoi melompat dari ujung koridor, tidak peduli lagi pada jatuhan bulir-bulir air yang mulai membasahi bahu dan kepalanya. Semakin terasa basah, tapi tujuan masih jauh—
—tapi kenapa basahnya berhenti tiba-tiba? Seperti ada yang melindungi.
Desau angin yang mengacaukan rintikan hujan seakan menyuarakan rasa kaget dengan cerdas sekali.
"Midorin?!"
"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini."
Yang terpikirkan oleh Midorima adalah tentang reaksi Momoi. Mungkin seperti yang sering dia saksikan dari anak-anak perempuan di sekitarnya? Menahan tangis, ingin memeluk tapi ragu, dan menutup mulutnya karena dia tak ingin suara terisaknya merusak pertemuan pertama setelah sekian lama yang berharga? Ya, biasa, seperti di drama.
"Midorin?! Ini benar-benar Midorin. 'kan? Ya 'kan? Aaa, aku kangen Midorin!"
Momoi berbeda, ternyata. Perkiraan Midorima salah. Gadis ini memang lain. Nah, sekarang dia memeluk Midorima sambil memekik kecil dengan riang dan tertawa senang. Tidak dramatis seperti yang diperhitungkan Midorima, tidak penuh haru seperti apa yang terjadi di perpisahan mereka sekian tahun lalu.
"Kenapa Midorin bisa ada di sini? Aduh, aku mau ngobrol banyak dengan Midorin! Jangan di sini, yuk? Kafetaria bagaimana?"
"Kau tidak sibuk?" Midorima agak kewalahan. Risih. Tidak biasanya seorang wanita yang bukan ibunya memeluk dia selama ini, dan wanita itu tampaknya tidak merasa bersalah sama sekali. Lihat, salah satu tangannya masih melingkar di pinggang Midorima dan dia mendongak sambil memajang senyum super lebar.
Ah, untunglah, Momoi langsung melepaskannya.
"Sibuk? Oh, iya, karya ilmiah—tapi ya sudahlah, tidak apa-apa, aku bisa ngebut mengerjakannya nanti malam. Sekarang Midorin lebih penting. Aku kangen Midorin, sungguh! Ngobrol, yuk? Midorin juga tidak sedang sibuk, 'kan?"
Lagi-lagi, gestur andalan Midorima dilakukan olehnya. Kacamata—yang tampaknya tidak berubah dari yang dia pakai bertahun-tahun lalu—dinaikkannya. "Itu lebih baik daripada mengobrol di bawah hujan, yang kedengarannya bodoh."
"Aa, Midorin tidak berubah, rupanya," Momoi menarik tangan Midorima agar mereka bisa bergegas pergi dari sana. "Masih suka berbicara hal-hal tersirat yang seperti itu."
Midorima mempercepat langkahnya, menyusul Momoi yang telah hampir berlari karena terlalu girang dan hampir membasahi dirinya sendiri, lagi, di bawah hujan yang amat lebat, nyaris lupa bahwa Midorima-lah yang membawa payung.
Tak banyak yang berubah dari Momoi, begitu yang Midorima lihat.
Dan Momoi pun melihat hal yang sama.
"Midorin sedang apa di sini?" Momoi tak menunggu apapun. Begitu tiba di salah satu meja yang jauh dari jendela (dia menghindari udara dingin, tentu saja), dia langsung duduk serta memesan minuman ala kadarnya, kemudian menyeret Midorima ke dalam topik pembicaraan yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang begitu ingin ia utarakan. Tidak adanya pertemuan selama bertahun-tahun menumbuhkan rasa penasarannya hingga setinggi bukit.
"Ini kampusku."
"... Hah?!"
"Kenapa?"
"Masa'? Lho kok bisa, kita sudah semester akhir, tapi masa baru sadar satu kampus? Midorin bohong, ah."
"Kebohongan tidak punya guna untuk saat-saat seperti ini."
"Tapi ini tidak wajar—"
"Aku di jurusan kedokteran. Ini wajar."
"Heee, pantas!" Momoi mulai tenang, setelah barusan dia dikagetkan oleh fakta yang tak masuk akal. Tiga tahun satu almamater tapi tidak pernah bertemu satu sama lain adalah kejanggalan yang besar. Namun, karena Midorima ada di jurusan kedokteran, itu wajar. Khusus untuk kampus para calon dokter, lokasinya berjauhan dengan yang lain, dengan fakultas tempat Momoi berada. Perlu naik kereta.
"Eh tapi—aku tidak lihat Midorin waktu upacara penerimaan beberapa tahun lalu. Kalaupun lihat, aku pasti langsung mengenali."
"Aku tidak ikut."
"Kenapa? Malas?"
"Aku tidak segila itu menghindari acara penting hanya untuk alasan konyol," terang Midorima datar. Matanya, sejak tadi, tidak meninggalkan sosok Momoi sesaat pun. "Aku dapat dispensasi karena ada urusan keluarga di luar negeri."
"Whoaa, pasti Midorin orang penting, sampai-sampai tidak menghadiri acara penting itu pun diizinkan. Setahuku, upacara penerimaan itu penting sekali dan susah untuk menghindarinya."
Midorima menghela napas, suaranya akan kalimat susulan direndahkan, "Rektor kampus ini adalah pamanku."
"Oooh—"
"Jangan berekspresi terlalu keras."
"Ups," Momoi menutup mulutnya, kemudian tertawa kecil. "Maaf. Mmm, Midorin sedang perlu apa ke sini?"
"Aku perlu sesuatu untuk karya ilmiah. Cuma ada di perpustakaan besar."
"Aku juga sedang dalam proses mengerjakan karya ilmiahku, berarti kita sama," masih tersenyum, Momoi menumpukan dagunya pada salah satu tangan di atas meja. "Midorin anak kedokteran, berarti hebat, bisa lulus sama-sama denganku—"
Kalimat Momoi terpotong karena pesanan mereka datang. Satu cangkir teh madu untuk Momoi dan moccacino untuk Midorima. Momoi sempat terkejut karena dia tidak menyangka bahwa lelaki itu suka minuman sejenis kopi begitu.
Momoi diam sebentar setelah menyeruput minumannya sedikit. Dia menatap bayang-bayangnya yang terlihat samar di permukaan teh wangi itu, sambil tersenyum. Lantas dia mengangkat lagi kepalanya, mempertemukan pandangan dengan Midorima.
"Aku tidak akan bisa berhenti mengatakannya meski sampai besok malam, Midorin. Aku rindu Midorin. Sangat."
Midorima bukan lelaki yang pintar berkata-kata. Dia kehilangan ide, namun baginya jika tidak menanggapi, maka itu pasti akan membuat Momoi kecewa. Lelaki itu mengangguk satu kali. Isyarat ambigu, tapi Momoi tahu bahwa dia tidak menderita rasa rindu itu sendirian.
Pembicaraan berlanjut ke hal-hal yang mereka lewati selama tidak bertemu. Kesibukan organisasi dan kampus yang menggila, tentang musik dan balet yang sudah mereka tanggalkan dari deretan mimpi untuk diraih di penghujung masa remaja, tentang pilihan orang tua mereka yang ternyata tak juga terlalu buruk untuk kehidupan keduanya. Memang, dialog hanya didominasi Momoi dan tanggapan Midorima hanyalah ala kadarnya, seperlunya, juga bukanlah serantai kalimat panjang, namun Momoi tidak bosan menghadapinya—sebab dia tahu, cara Midorima menatap adalah sebuah ungkapan bahwa dia ingin terus mendengarkan. Momoi membaca hanya dengan kekuatan firasat, sesungguhnya.
Tapi firasatnya nampaknya benar.
"Tapi sungguh, lho," Momoi melukis-lukis jendela bus yang dia beri embusan napasnya, mencorat-coret hal tak karuan di atas sana. Hujan masih terjadi, meski mereka telah tiba di setengah perjalanan pulang. Lagi, mereka duduk bersisian, lebih rapat kali ini—entah karena faktor dingin atau yang lain, mereka tak mempermasalahkannya. "Aku tidak menyangka kita satu kampus. Aneh rasanya kalau tidak pernah bertemu. Yeah, mungkin ada kemungkinan seperti itu, tapi aku ikut organisasi dan sering bolak-balik berbagai fakultas untuk berbagai urusan. Aku menemui banyak orang."
"Aku ikut pertukaran pelajar."
"Heee? Kenapa tidak bilang dari tadi—"
"Dua kali."
"Midorin hebat! Ah, kerennya," Momoi menepukkan tangan, kagum, dan lantas kembali mengekspresikan rasa kagetnya dengan berdecak sambil memandang Midorima bangga. "Pantas, sih, kalau kita tidak ketemu. Kemana saja perginya, Midorin?"
"Dua semester ke Inggris, satu semester ke Jerman."
"Aah, aku juga mauintar seperti Midorin," Momoi memyandarkan diri, ada gurat sesal di wajahnya. "Midorin pasti memang pintar. Piano saja hebat, ternyata wakru masuk jurusan kedokteran juga bisa unggul. Midorin juga pasti bisa banyak bahasa. 'Kan kalau keluar negeri begitu juga harus bisa bahasa asing. Aku? Yang aku bisa sepertinya cuma balet. Itu pun aku sudah tidak boleh menari balet lagi. Ilmu manajemen ternyata susah sekali. Aku hampir tidak bisa bertahan. Kalau aku lupa soal ibu dan ayah ... mugkin aku sudah pindah jurusan ke seni teater."
Midorima diam saja, pada awalnya, namun ketika Momoi akan berucap hal lain untuk menepis kebekuan, dia yang mengambil kesempatan duluan. "Tapi kau bertahan sampai sekarang. Kaubisa menulis karya ilmiah bersamaan denganku. Berarti semestermu lancar."
"Hehehe," Momoi mengetuk-ngetukkan jarinya di atas celana panjangnya, "Aku mati-matian berusaha, aku harus kerja keras. Itu pun nilainya pas-pasan. Sebenarnya aku pernah mendaftar seleksi untuk pertukarn pelajar ke Prancis, tapi gagal karena kualifikasi tidak memenuhi," dia tersenyum masam. "Beda dengan Midorin."
"Meninggikan orang lain secara berlebihan hanya akan membuatmu terlihat rendah. Padahal, kau tidak serendah itu."
Sesaat, Momoi melongo. Lantas dia tersenyum, lebih manis dari yang tadi. "Hm, inilah yang kusuka dari Midorin. Kata-katanya dalam, filosofis, itu membuat Midorin terlihat keren di mataku. Apalagi kalau Midorin main piano ... ah, benar, aku jujur!"
"Tsk," Midorin membuang muka, membuat Momoi tertawa. Di luar memang boleh terlihat suram, dingin, dan penuh akan aura beku hujan yang kelihatannya tak akan berhenti dalam waktu dekat, tetapi di dalam bus iu, di bangku depan, suasana berbeda terjadi.
Momoi berkata lagi, setelah dia meredakan tawanya dan mengatai 'Midorin lucu sekali' hingga beberapa kali, "Aku menyesal sekali waktu itu tidak minta nomor ponsel Midorin. Waktu itu aku cuma terlalu banyak memikirkan hal seperti 'Aduh, ini show terakhirku,', 'Aduh, aku tidak boleh lagi berada di sini setelah ini', dan 'Bagaimana hidupku nanti?', begitu. Setelahnya, aku coba-coba cari Midorin di dunia maya ... eh tidak ketemu juga. Putus kontak, deh, sayang sekali."
"Aku tidakunya akun-akun seperti itu."
"Heee, Midorin tidak punya akun sosial media?"
"Hn."
"Yeee, berarti dugaanku kalau ternyata Midorin itu kutu buku benar, ya, hihihi."
"Kalaupun iya, apakah itu salah?"
"Mm, tidak juga. Bagus, lagi, Midorin 'kan jadinya bisa tambah pintar," Momoi tersenyum lagi pada Midorin. "Ah, apartemenku sudah dekat, tuh."
Kening Midorima berkerut. "Rasanya, dulu rumahmu bukan di sini."
"Eh? Aa, Midorin ternyata masih ingat kalau kita pernah pulang berdua, ya, hihihi. Yang itu bukan rumahku, sebenarnya, lho. Aku asli Nagoya. Yang kubilang waktu itu, rumah tanteku. Ibuku menjemput di sana. Aku tidak tinggal di Tokyo."
"Oh ..."
"Makanya aku jarang ikut latihan di sanggarku dulu, aku tidak bisa sering-sering ke Tokyo karena aku masih belum boleh naik kereta sendiri. Ayah dan Ibu sibuk, tidak bisa sering-sering mengantar," Momoi melihat pada jam tangannya, dan memastikan bahwa dia masih sempat menyelesaikan beberapa halaman karya ilmiah sebelum jam makan malam. Ah, masih sempat saja, sepertinya. "Sekarang aku tinggal sendiri, Ayah menyewakan satu apartemen untuk kutinggali selama kuliah. Makanya dulu waktu pisah darimu setelah acara selesai, aku sedih karena kupikir aku tidak bisa lagi sering-sering ketemu Midorin."
Bus pun berhenti tepat di depan halte, haltenya sepi sekali, hanya ada dua orang yang menanti. Momoi berdiri, "Aku duluan, ya, Midorin. Sampai jumpa!"
Midorima hanya mengangguk, dia juga ikut berdiri dan keluar dari bangkunya untuk memberi jalan.
"Tunggu," Midorima baru menyadari sesuatu.
"Hm, ya? Ada yang tertinggal?"
"Pakai payung ini," tangan Midorima mengulurkan benda merah tua itu, yang masih basah dan tidak tertutup sempurna.
"Nanti Midorin pakai apa—"
"Kau lebih membutuhkannya."
Momoi memberikan senyum terbaiknya. "Terima kasih. Kupakai dulu, ya. Telepon saja kalau nanti kau butuh ini, aku akan mengantarnya ke rumahmu langsung, hihihi."
Midorima mendengus.
"Jaa!" Momoi pun turun, langsung membuka payungnya dan berlari meninggalkan halte, tanpa peduli bahwa banyak genangan air membahayakannya dan bisa saja mengotorinya tanpa ampun. Kentara sekali bahwa dia terburu-buru.
Midorima benar-benar mengagumi takdir mereka, tentang pertemuan kembali dan tentang dua orang yang telah sama-sama berubah dalam beberapa hal, masih bisa bersapaan dengan cara sama seperti bertahun-tahun sebelumnya.
Tetapi, dia menyesali satu hal lain.
Kenapa dia harus bertemu Momoi di saat seperti ini?
Mungkin, seharusnya ada waktu yang lebih baik lagi agar pertemuan ini tidak lagi terasa seperti pertemuan pertama mereka dulu—yang mana ternyata mereka bertemu hanya untuk berpisah lagi, dan kebahagiaannya semu sebab perpisahan telah menanti, telah siap menjemput bahkan sebelum mereka puas menikmati banyak waktu berdua dengan hal yang disenangi.
Kemungkinan besar ... pertemuan ini akan sama seperti yang sebelumnya.
Halaman depan perpustakaan yang selalu bersih dan rumput-rumputnya selalu tertata serapi helai-helai karpet yang nyaman memang selalu menjadi lokasi favorit hampir seluruh penghuni kampus. Momoi sudah mengetik sampai ke halaman terakhir dari bab awal karya ilmiahnya dengan konsentrasi yang baik—sampai akhirnya terbuyarkan dengan kedatangan seseorang yang langsung duduk di sisi kirinya. Midorima. Tubuhnya langsung disandarkan pada pohon besar, matanya langsung terpejam begitu punggungnya menyentuh batang besar kecokelatan yang agak dingin. Salah satu lututnya ditekuk dan tangannya bertumpu di sana.
"Midorin? Dari perpustakaan juga? Heee, Midorin tidak bilang-bilang kalau mau datang ke kampus sini."
"Mendadak," mata Midorima masih tertutup, "Awalnya aku ingin langsung pulang, tapi kurasa aku harus mengurus sesuatu segera."
"Ada urusan administrasi? Atau perlu sesuatu dari perpustakaan besar?"
Jawaban yang seharusnya diujarkan Midorima, bahwa dia ke sini untuk membicarakan sesuatu dengan seseorang yang sekarang tengah menatapnya bingung, disimpannya di dalam hati sementara.
Dia sudah mempertimbangkan banyak kemungkinan, keuntungan, kerugian dan akibat jika ia mengatakan hal itu sekarang, di saat dia dan tentunya Momoi sendiri masih berada di bawah atmosfer euforia tentang pertemuan kembali setelah sekian tahun dipisahkan jarak tanpa kabar sebagai pengobat rindu. Mungkin dia akan membuat gadis itu sedih? Menyesal lagi? Namun, bagaimanapun juga, sang fakta akan terungkap kelak, lekas atau lambat.
Membiarkan Momoi senang adalah hal yang cukup membuatnya puas, tetapi, jika dia melakukan apa yang telah dia putuskan sebelum datang ke sini, dia sendirilah yang akan menghancurkan itu semua.
Punggung tangan yang menempel di keningnya menjadi alarm yang membuatnya keluar dari arena peperangan pikirannya sendiri.
"Midorin sakit?"
Midorima menggeleng, diturunkannya tangan Momoi dengan gerak pelan. "Tidak."
"Lapar?"
"Aku akan pergi ke Swedia. Setengah tahun."
"... Hah?"
"Karya tulis kami memerlukan studi langsung, praktik di rumah sakit tertentu, sesuai dengan tema yang kami pilih, di rumah sakit yang ditentukan oleh kampus."
"Midorin bisa dapat yang di Swedia? Aaa, hebatnya! Lagi-lagi, Midorin dapat keberuntugan karena kecerdasannya, ya, hihi. Aku senang mendengarnya. Selamat, ya!"
"Seharusnya aku hanya bekerja di rumah sakit di Tokyo. Tetapi mereka punya sister hospital di Swedia dan memutuskan untuk mengirimku ke sana. Mereka mengatakan bahwa itu karena nilai-nilaiku."
"Tuh, 'kan, Midorin memang luar biasa. Selamat berjuang di sana, ya!"
"Setengah tahun, kautahu."
"Iya, aku dengar."
Midorima menoleh, memandang lawan bicaranya. Dia rasa ada yang salah. "Kau ... ah, lupakan. Aku pulang sekarang," dia memutuskan bahwa dialah yang berharap terlalu banyak di sini. Dialah yang berekspektasi berlebihan bahwa Momoi akan bersedih jika ia tinggalkan kembali. Dialah yang salah, yang berkesimpulan duluan sebelum menyampaikannya. Dia yang keliru memperhitungkan.
Tangan Momoi membuatnya berhenti menyusun langkah meninggalkan gadis itu.
"Aku akan menunggumu di sini, Midorin. Aku ... yeah, aku akan menunggu."
Momoi bukanlah orang yang akan ragu-ragu dalam menyuarakan apa yang ingin hatinya katakan, kecuali dia sedang dalam keadaan tak stabil. Jangan tanyakan bagaimana Midorima mengetahuinya, sebab dia ialah tipe manusia yang akan mengolah semua fakta pengamatannya diam-diam, tanpa dia beberkan sebelum dia puas mengamati dan mengetahui berbagai sebab dan akibat.
"Maaf."
"Kenapa—kenapa Midorin yang minta maaf? Hehehe—"
"Aku pergi lagi. Aku merusak ini."
"Merusak apa?"
"Kau mengerti itu, Momoi."
Yang membuat Momoi tertegun berikutnya bukanlah tebakan Midorima yang tepat sasaran—namun pada sebutan akan namanya. Ini kali keberapa dia menyebut kata 'Momoi'? Tunggu, memang sebelumnya pernah? Momoi tidak bisa memastikan. Apa dia lupa? Hm, hal tentang Midorima yang mana yang tidak dia ingat? Pertemuan yang hanya beberapa kali mengukir memori yang tak banyak, membuatnya mengingat semuanya hampir tanpa kealpaan.
"Yah, mungkin kau benar," Momoi melepaskan genggamannya. "Aku memang sedih—"
"Apa salahnya jujur dengan menunjukkan kesedihamu sendiri?"
"Aku tidak mau menyusahkanmu," Momoi tersenyum, pahit, ujung-ujung bibirnya bergerak-erak seakan senyum itu adalah sebuah paksaan. "Maksudku—aku tidak ingin membebanimu dengan kata-kata cengeng seperti 'aduh, Midorin, kita berpisah lagi!' dan semacamnya," Momoi menggeleng. "Siapalah aku ini untuk mengatakan hal-hal seperti itu? Aku tidak mau menghalangi Midorin dan prestasi-prestasinya. Aku bukan siapa-siapa untuk Midorin—dan yang bisa kulakukan cuma mendukungmu."
"Alasanmu sungguhan?"
"Iya. Tidak percaya?"
"Kau memikirkan alasan seperti iu, padahal aku baru mengatakannya tadi?"
Midorima sesungguhnya ingin bilang bahwa dia kagum karena alasan semacam itu bisa terpikirkan dalam waktu sangat singkat bagi Momoi. Gadis ini, kepribadiannya, cara dia memandang sesuatu, terlihat semakin menarik di mata Midorima.
"Ya. Semua terjadi secara spontan."
Midorima memandang pada kejauhan, "Minggu depan aku berangkat."
"Kalau begitu, boleh kuminta satu hal?"
Pemuda itu tidak langsung memberi jawaban.
"Ah, maaf, aku terlalu lancang—ya sudah, sih, tidak apa-apa. Tidak terlalu penting."
"Aku mengizinkanmu."
"Boleh? Hihihi, baiklah. Tolong buat setidaknya satu akun di internet. Biar kita lebih mudah ngobrol. Biar bisa video conference, mungkin? Nanti kalau Midorin bingung, aku bisa mengajarimu secara kilat sebelum minggu depan, hihihi~"
"... Akan kulakukan."
"Terima kasih!"
Midorima menoleh lagi, hanya untuk mengangguk sebagai balasan dari rasa terima kasih Momoi.
"Aku pasti merindukanmu, Midorin. Kupikir akan lebih parah dari yang sebelumnya, karena kita sudah bertemu kali ini, aku sudah senang bisa sering-sering ketemu atau menelepon Midorin, tapi ternyata—yah, ya sudahlah. Mungkin ini tidak akan seberat yang kubayangkan."
"Ini akan sama seperti yang sebelumnya."
"Ah, iya, sama. Kita bertemu secara kebetulan, kita bersenang-senang, tapi ternyata pertemuan itu singkat sekali."
"Bukan itu yang kumaksud."
Mata mereka bertemu. Ada yang memberi sinar optimis, ada yang masih menyisakan kesedihan meski agak sedikit disingkarkannya ke sudut mata, berwujud menjadi lapisan cairan bening yang siap jatuh.
"Salah satu dari kitaergi untuk kembali. Kembali bertemu lagi, sama seperti sebelumnya."
Midorima berangkat pada hari Sabtu minggu berikutnya. Momoi tak bisa mengantar karena dia harus menemui dosennya perihal pembahasan karya ilmiah. Memang mengecewakan, tapi semua terbayar ketika Midorima tiba di sana setelah belasan jam membelah angkasa, yang pertama kali dikabarinya adalah Momoi.
Midorima memenuhi keinginan Momoi; dia bahkan membuat tiga akun jejaring sosial sekaligus. Kadang dia mengabari Momoi lewat pesan singkat, kadang, di akhir minggu, setelah Midorima selesai shift sorenya dan Momoi telah selesai berjuang dengan bab demi bab karya ilmiahnya—mereka akan bertelepon sambil bertatap muka.
Tak jarang pula Momoi, yang masih belum hafal jam kerja Midorima serta perbedaan zona waktu, salah waktu dalam menelepon. Tapi Midorima mengampuninya, keberatan pun tidak. Dia akan menjawab singkat sambil mengatakan dengan sopan bahwa dia sedang dalam waktu kerjanya, Momoi akan kaget dan habis-habisan minta maaf, lalu Midorima akan meredakan gejolak rasa bersalah yamg membuat Momoi risih dengan mengatakan, "Tidak apa."
Beberapa ucapan "Selamat bekerja." dan "Selamat tidur." dikirimkan bergantian oleh keduanya pada satu sama lain, tidak setiap hari, namun selalu terjadi di setiap minggunya.
Jarak bukan masalah utama dalam era modern. Rindu juga, problema pertama yang harus diselesaikan, dikarenakan jarak yang merentang hampir setengah diameter bumi, sekarang tidak lagi menjadi hal yang menyesakkan jika kaubisa menghubunginya segera begitu gejala rindu itu muncul. Momoi merasakannya.
Memang, tak bisa menemui Midorima di waktu-waktu luangnya adalah hal yang agak mengecewakan Momoi, tapi ucapan 'aku baik-baik saja di sini' dari Midorima setiap dua pagi sekali, membuatnya tenang.
Kadang pula, Midorima mengirimkan pesan tentang saran lagu-lagu klasik yang bagus untuk Momoi. Momoi segera mengunduhnya, dan menjadikannya pengobat rindunya. Kadang-kadang, lagunya begitu pas untuk dijadikan lagu balet, dan dia akan menari sendiri di kamarnya, mengenang kembali keindahan seni tari yang sempat digilainya.
Momoi juga sempat beberapa kali mengirimkan foto-foto iseng yang diambilnya di saat dia sedang bosan, entah itu foto bunga, daun, atau apa saja yang terlihat olehnya di kala matanya ketika dia sedang bosan atau mengantuk setelah membaca atau mengetik terlalu banyak.
Enam bulan itu tidak dilalui dengan mudah, namun mereka bisa.
Tak ada satu pun yang sadar bahwa sesungguhnya rasa rindu yang mereka lewati, rasa ingin mendengar kabar atau suara sang rekan yang kadang mendesak, adalah ciri-ciri dari fakta bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain.
Saling menyukai keberadaan sang rekan di dalam hidup mereka masing-masing.
Ketika sejumlah satuan waktu telah terlewati, manusia baru sadar bahwa mereka telah melampaui banyak hal berat dan sulit.
Itu yang dirasakan Momoi dan Midorima, ketika mereka bertemu di upacara kelulusan.
"Midorin tidak banyak berubah, sungguh!"
"Hm," Midorima membenarkan letak kacamatanya. "Sama sepertimu."
"Midorin keren dengan jas itu. Aku serius. Aku jadi ingat The Fallacies."
Ah, musikal itu lagi, membangkitkan banyak kenangan bagi Midorima. Juga Momoi sendiri.
"Foto dulu, yuk, Midorin! Hihi, dari dulu aku selalu ingin foto berdua saja dengan Midorin. Yang waktu pentas dulu tidak sempat gara-gara aku cengeng, hahaha," Momoi mengeluarkan ponselnya, "Yuk. Aa, Rena-chan, tolong foto kami, ya!"
Midorima tak terlalu terbiasa dengan kamera, namun dia menurut saja kali ini. Dua orang itu tertangkap di dalam satu momen yang pas sekali, fotonya indah dipandang meski mereka sama-sama mengenakan pakaian formal.
Momoi memandang bangga pada hasil jepretan Rena. Setelah berterima kasih, dia biarkan gadis itu menikmati waktunya bersama teman-teman yang lain, dan dia memperlihatkan foto itu pada Midorima.
"Pangeran Piano dan Putri Angsa," katanya, sumringah, puas, dan bangga. Midorima seperti menonton kembali tarian balet Si Nona Angsa ketika sesaat melihat bagaimana mata Momoi yang memancarkan binar gembira waktu memandang dirinya.
"Ngomong-ngomong, Midorin, kali ini aku yang akan menceritakan apa yang sudah kuraih. Prestasi. Bukan cuma kau yang punya prestasi sampai bisa belajar ke Swedia."
"Hn?"
"Aku diterima tes tertulis dan psikotes di perusahaan developer nomor satu di Jepang! Perusahaan Harada itu!" dia melinjak gembira, tak peduli bahwa dia sekarang sedang memakai sepatu hak tinggi. "Hanya tinggal wawancara, semua selesai!"
Midorima terdiam sesaat. Sebuah kebohongan jika mengatakan bahwa nama perusahaan itu tidak familiar di telinganya.
"Selamat."
"Terima kasih-"
"Tapi kau harus tahu satu hal."
"Apa?"
Midorima memasukkan kedua tangannya ke saku, kepalanya sedikit dimiringkan. "Aku diterima menjadi asisten di rumah sakit yang ada di dekat perusahaan Harada."
Satu-dua detik dihabiskan Momoi untuk terkesiap. Matanya membulat dan gerak serupa terjadi pada mulutnya.
"Tempat kerja kita akan berdekatan!" Momoi sebenarnya begiu inin memeluk Midorima, tetapi begitu dia ingat suasana tempat mereka sedang berada, dia batal melakukannya. "Aku senang—"
"Tapi kau harus lulus terlebih dahulu."
"Aku akan melakukan yang terbaik! Lihat saja nanti, Midorin, kita akan bisa saling sapa dari jendela dekat meja kerja kita kapanpun kita mau!"
Itu memang konyol. Momoi bahkan menertawakan gagasannya sendiri. Dan ... tampaknya itu jug menghibur Midorima. Dia menyunggingkan senyum. Amat tipis, serta singkat, bahkan Momoi pun tak menyaksikannya.
Midorima merasa harus melakukan sesuatu agar Momoi dapat lulus. Ya, dia tahu ini cukup egois—tapi dia butuh itu. Dia sudah muak dengan jarak yang terus mempermainkan cerita mereka. Maka untuk alasan itulah, dia berada di ruangan itu, mencari sebuah berkas di deretan file yang rapi dari sebuah rak besar.
"Shin?"
Pintu terbuka, mata Midorima mengarah pada bagian sana.
"Apa yang kaucari? Wah, tidak kusangka kau akan datang berkunjung. Ini bukan rumah sakit, Dokter Muda. Kukira sekretarisku tadi cuma bercanda bahwa dia melihat keponakanku tercinta masuk ke ruanganku."
"Mana berkas para pelamar baru?"
"Ha? Untuk apa?"
"Di mana?" Midorima menegaskan niatnya. Dia tak butuh basa-basi. "Aku ingin melihat hasil tes seseorang."
"Di laciku. Cari file holder warna hijau. Semua berkasnya ada di sana," lelaki yang lebih tua itu duduk di salah satu sofa ruang kerjanya. "Apa yang kaubutuhkan dari data itu?"
Midorima menemukannya dengan mudah. Dengan tangkas, dia memindai seluruh berkasnya dan mendapati nama Momoi Satsuki di tengah-tengah tumpukan.
Tertulis beberapa coretan yang tak Midorima pahami di atas berkas Momoi. Dia menyerah. Ada nilai yang tertulis di ujung kertas, tak terlalu tinggi, namun rendah juga tidak. Dia tidak puas, "Bagaimana dengan seorang pelamar bernama Momoi Satsuki? Apa kau akan meloloskannya?"
"Oh, yang itu,"sang paman menyilangkan kaki, "Dia satu-satunya pelamar yang belum punya pengalaman kerja. Hasil tes tertulisnya rata-rata, psikotesnya juga standar. Kalau di wawancara nanti dia tidak meyakinkan, dia tidak akan lolos."
Genggaman Midorima pada kertas berkas Momoi menguat, "Tolong loloskan dia."
"Wah, ada hubungan apa dia denganmu, Shin?"
"Bukan sesuatu yang khusus, tapi aku ingin yang terbaik untuk dia."
Direktur itu tersenyum tipis. "Akan kulihat usahanya dulu."
"Aku memohon padamu."
"Yah, kuterima permohonanmu. Berdoa saja semoga dia total di hari wawancaranya."
"Dia sungguh-sungguh dan pekerja keras, aku bisa menjamin itu."
"Oh ya?"
"Aku mengenalnya dengan baik."
"Hm ... yah, kuhargai niatmu untuk memberi yang terbaik untuk kawan spesialmu itu. Ini akan jadi bahan pertimbanganku juga, Shin."
" ... Terima kasih."
Momoi lolos.
Selain karena usulan Midorima pada pamannya, direktur utama perusahaan itu, Momo juga mencoba melakukan yang terbaik di uji wawancaranya.
Midorima membiarkannya menjadi rahasia.
Namun, konsekuensi lain harus ditanggung. Itu diutarakan Momoi ketika dia menelepon Midorima tentang kabar kelulusannya.
"Tapi, Midorin ..."
"Hn."
"Karena perusahaan ini menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan dan tenaga asing," Momoi bercerita perlahan, Midorima mendengarkan, dalam hatinya dia bergumam aku tahu itu, sebanyak sekian kali. Momoi melanjutkan, "Aku harus ikut training di London selama sebulan."
Midorima tak terkejut. Matanya yang sedang tertumbuk pada langit-langit terlihat kosong, sebab pikirannya tak di sana. Dia pergi ke alam khayal di mana dia menerka wajah Momoi sedang seperti apa sekarang.
Pemuda iu berujar datar, "Kaupergi untuk kembali, bukan?"
Momoi tersenyum kecil, memgangguk. "Ya. Salah satu dari kita pergi lagi, cuma untuk kembali."
tbc.
A/N: kok rasanya puanjang bener ya yaudah gapapa anggap aja kado lebaran #bukan
