Evergreen

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.

Pairing: Midorima Shintarou/Momoi Satsuki. Genre: Romance/Family. Rating: K+.

(Di saat Midorima Shintarou harus mengakhiri karir pianonya, dia bertemu dengan penari balet yang bernasib sama dengannya, Momoi Satsuki.)


Memang, semua tidak seperti candaan Momoi waktu dahulu, tentang mereka yang bakal bisa saling memandang dari jendela ruang kerja masing-masing. Momoi juga tak terlalu serius akan itu, sebab dia tahu pasti Midorima lebih sibuk dari dirinya, Midorima—sebagai dokter—tidak akan mungkin duduk diam saja seharian seperti dirinya. Midorima harus menangani banyak hal, banyak orang, dan banyak masalah, berlawanan dengan dirinya yang hanya dijatahi urusan tentang laporan keuangan saja setiap hari.

Lagipula, ruang kerja Momoi bukanlah ruangan yang langsung menghadap ke rumah sakit.

Jadi, sekiranya kegembiraan bahwa mereka akan lebih sering bertemu karena tempat bekerja yang berdekatan itu hanya harapan semu belaka. Pada akhirnya, tidak ada pertemuan khusus yang bisa mereka adakan setiap hari sebagai aksi balas dendam atas beberapa kali perpisahan yang terjadi dalam rentang waktu cukup panjang dan sering di masa lampau.

Ya, memang begitu adanya.

Karenanya, momen yang mana dirinya telah ditunggui di lobi untuk diajak pulang bersama adalah sebuah kesempatan langka yang akan disambut dengan senang oleh Momoi. Seperti hari ini. Selama hampir satu bulan bekerja, hampir tidak pernah ada hal serupa. Komunikasi hanya lewat pesan atau dunia maya dan itu pun tak lebih dari sapaan singkat belaka, tak lebih dari basa-basi untuk pelengkap hari.

"Tidak biasanya Midorin menjemput, hihi," Momoi berjalan di sisi Midorima sambil memakan sebuah roti. Makan siang yang tidak memadai membuat dia lapar sebelum waktunya. Hari ini banyak hal yang harus diselesaikan, membuat dia lapar sebelum waktunya.

"Tsk. Shift-ku sudah selesai."

"Aku masih belum mengerti cara kerja Midorin. Midorin jadi asisten dokter, tapi kenapa pakai jam juga? Bukannya praktik dokter di poliklinik rumah sakit itu cuma sampai siang hari?"

"Kalau kujelaskan, apa kau akan puas?"

Momoi tergelak. "Aku 'kan cuma mau tahu~"

"Aku dapat dua tugas. Asisten dan jaga ruang gawat darurat. Jaga ruang tidak setiap hari, tapi kadang ada yang memanggilku untuk jadi asisten di ruang operasi."

"Whoa, Midorin sudah pernah mengoperasi orang?"

"Secara langsung, belum."

"Oh iya, ya, Midorin 'kan belajar spesialis bedah waktu pertukaran pelajar dulu. Pantas, sih. Hati-hati, ya, Midorin, kalau nanti mengoperasi orang. Jangan kelupaan. Nanti gawat kalau alat operasi ketinggalan di tubuh pasien. Bahaya."

Midorima menaikkan kacamatanya, memandangi Momoi dari sudut mata adalah hal berikutnya yang dia lakukan. "Aku bukan seperti seseorang yang pelupa sampai-sampai mengeluh dan panik di media sosial cuma gara-gara lupa di mana dia menaruh jaketnya, yang dia kira terbawa oleh temannya."

"Jangan ingat-ingat itu, Midorin," Momoi menyikut lengan Midorima. "Sifat pelupaku tidak separah itu, kok."

"Tapi setidaknya lebih parah dariku."

"Terserahlah."

Midorima berjalan beberapa langkah lebih dulu, karena Momoi sengaja melambatkan langkahnya sebab dia memastikan bahwa barang-barang, dokumen serta data laporan yang harus dia teruskan di rumah semuanya lengkap terbawa di dalam tas. Semuanya karena Midorima menyinggungnya soal sifat pelupanya yang kadang-kadang kambuh. Bisa bahaya kalau data-data yang harus diserahkan besok malah tertinggal di kantor, dan dia baru menyadarinya saat di rumah.

Midorima berhenti sebentar ketika dia menyadari Momoi tidak ada di sisinya.

"Ah, tidak ada yang tertinggal. Oke, kali ini aku tidak jadi pelupa. Yuk, Midorin," Momoi melangkah lebih cepat agar bisa sejajar dengan sang rekan. "Oh, halo, Yuko-chan!" dia berhenti lagi, salah satu teman kerjanya baru memasuki pintu utama, dan Midorima terpaksa harus menunggu lagi. "Analisis laporan persediaan yang kubuat sudah kutaruh di mejamu. Dicek ulang, ya."

"Oke, dear," perempuan berambut sebahu itu pun menarik tangan Momoi, menjauhkannya sedikit dari Midorima, kemudian mendekat pada telinga Momoi, "Jadi ini pacarmu?"

"Bukaan!" Momoi refleks langsung mengangkat tangan dan melambaikannya dengan cepat sambil mundur dari Yuko. "Bukan. Dia cuma temanku," dia lantas mendekat lagi pada Yuko, setengah berbisik, dia terangkan satu hal, "Dia teman pentasku waktu aku SMA dulu. Kami cuma secara kebetulan ketemu lagi. Dia dokter—ah, maksudku asisten dokter—di rumah sakit sebelah."

"Wah, lumayan, tuh, Satsuki-chan," Yuko mencubit lengan Momoi. "Ambil duluan, gih, sebelum diambil orang lain."

"Bicara apa, sih, dasar Yuko-chan," Momoi hanya tersenyum gemas.

"Ayolah, jangan pura-pura bodoh, kau sudah dewasa. Dia juga sudah mapan. Ayo, kapan lagi, Satsuki-chan. Mumpung punya calon, jangan disia-siakan. Klaim duluan."

"Heh, sudah, jangan pikir yang macam-macam. Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi besok."

"Aduh, apa yang kaubicarakan tidak ada hubungannya, ih, dasar."

"Ada," Momoi tersenyum penuh arti. "Siapa tahu saja besok aku dilamar oleh pengusaha kaya, atau ada kabar tiba-tiba tentang Midorin yang ternyata selama ini punya tunangan rahasia. Kami tidak punya hubungan apa-apa, jadi jangan sangka macam-macam, oke? Jangan sebarkan gosip di kantor, Yuko-chan."

"Yeee, Satsuki-chan ternyata takut kujadikan bahan berita, ya, hihihi."

"Ya 'kan seperti yang kubilang tadi, siapa tahu ada yang berita mengejutkan yang kubilang tadi, 'kan gawat kalau ada berita kalau kami punya hubungan macam-macam. Anggap biasa saja, ya! Kami cuma teman yang dulu sempat lama terpisah."

"Ah, ya sudahlah, capek sebenarnya berdebat dengan Satsuki-chan, kau selalu punya senjata untuk melawan. Sudah, ya, aku mau ke atas dulu. Hati-hati di jalan, Satsuki-chan!"

"Yaaa~ sampai jumpa besok, Yuko-chan!"

Midorima masih menungguinya di dekat pintu.

"Yuk, Midorin, maaf lama, ya. Namanya juga pembicaraan perempuan, hehehe. Sebenarnya tadi aku juga tidak akan marah kalau Midorin pulang. Jalur bus kita juga beda, 'kan?"

"Tidak."

"'Tidak' apanya?"

"Aku akan ikut denganmu hari ini."

"Ikut?"

"Aku ingin mengunjungi apartemenmu."

"Eh, iya, ya, Midorin 'kan belum pernah ke rumahku. Aa, aku senang sekali, ayo, ayo!"

"Tapi aku tidak akan lama. Aku hanya ingin melihat. Aku punya janji dua jam lagi."

"Tidak apa-apa! Aku tetap senang, kok. Terima kasih sudah mau berkunjung, Midorin!"


Satsuki menulis: Weekend! Time to visit my parents~ yang shift malam hari ini jangan kebanyakan minum kacang merah kalengan, ya :P

Midorima Shintarou membalas: Tidak seharusnya kau menulis kalimat terakhir itu.

Satsuki membalas: weeeee :p

.

Momoi hampir tertawa terbahak-bahak di dalam kereta membaca komentar Midorima. Hei, apakah lelaki itu malu dengan kesukaannya? Lucu sekali. Momoi sudah sangat hafal kebiasaan Midorima yang pasti selalu menomorsatukan minuman jenis itu setiap kali dia mendekati vending machine. Kebiasaan itu pertama kali diketahui di latihan bersama mereka sewaktu persiapan pentas dulu, alih-alih menganggapnya konyol, Momoi mengatakan bahwa dia senang melihat Midorima memiliki kesukaan yang berbeda dari kebanyakan orang. Menarik, Midorin—anggap Momoi, meski itu membuat Midorima menampakkan wajah sebal sebab Momoi mengatakannya sambil tersenyum jahil. Yeah, Momoi tahu dia salah memajang ekspresi.

Dua kali sebulan, setiap weekend—tiap Sabtu sore—Momoi selalu pulang mengunjungi orang tuanya. Kantornya hanya memberlakukan jam kerja sampai jam makan siang pada hari tersebut, sebuah keberuntungan untuk Momoi.

Ibu, aku sudah di kereta.

Tak lama, balasan pun diterima, Apa kau bersama teman yang ingin kaukenalkan itu? Hati-hati, ya.

Tidak, Midorin mendadak dapat shift malam. Kapan-kapan nanti kuajak dia lagi.

Ya, pulang ke rumah sendiri memang selalu menyenangkan untuk Momoi, tetapi yang kali ini ada sedikit pengusik untuk kegembiraannya—Midorima tidak bisa ikut, padahal Momoi telah mengajaknya dari jauh-jauh hari. Sekadar memperkenalkan kawan dekat, bukan masalah, 'kan?

Momoi yakin, kalau rencana seperti ini sampai ke telinga Yuko, pasti dia dengan entengnya akan menyatakan bahwa kawannya yang satu ini akan mengenalkan calon suami pada orang tuanya. Sambil memikirkan hal ini, Momoi menyandarkan diri pada bangkunya. Kalau Yuko tahu, apa ya kira-kira sanggahan yang harus dia berikan? Dia dan Midorima 'kan cuma teman biasa.

Ah, teman, ya ...,

Sambil memandangi stasiun yang mulai terlihat bergerak, Momoi mulai merasa ada yang tak enak dalam hatinya ketika fakta bahwa 'mereka hanya teman'itu diujarkan oleh pikirannya.

Mereka memang masih teman belaka.


Secangkir teh hangat dan sepiring cookies adalah pelengkap sambutan sang ibu pada Momoi yang baru saja tiba. Tanpa repot-repot mengganti bajunya, dia langsung menikmati waktu bersantai bersama kedua orang tuanya. Dia anak tunggal, kadang dia menginginkan keramaian yang lebih di rumah—terlebih ketika dia pulang untuk berkunjung, tetapi tak apalah kalau memang harusnya begini—orang tuanya sudah cukup memberinya kehangatan keluarga yang dia rindukan.

"Mana, katanya Midorima mau ikut?" ayahnya datang dari arah dapur. Koran yang belum selesai dia baca sebelum berangkat tadi pagi dibawanya. Tampaknya dia ingin membaca koran sambil menemani putri dan istrinya di ruang tengah.

"Ah, iya, Midorima—aku selalu lupa nama dia. Bagaimana kerjanya, Satsuki? Kautidak salah merekomendasikan orang di rumah sakit kita, 'kan?"

Momoi mengangguk cepat, antusias dan pasti. "Tentu saja. Dia pekerja keras. Orangnya teliti, dia juga pintar sekali, hihihi. Tanya saja ke direktur. Apa boleh aku segera bilang ke direktur kalau sebaiknya dia segera dinaikkan posisi jadi dokter tetap saja?"

"Jangan secepat itu," ayah Momoi menyanggah sambil membolak-balikkan korannya. "Dia baru satu bulan bekerja, Nanti ada yang tidak suka. Kalau mereka tahu kalau kau berperan dalam hal ini, bisa runyam. Nanti semuanya minta posisi. Ayah yakin pamanmu tidak akan suka dengan hal ini. Dia pun menerima Midorima hanya karena kau, keponakan kesayangannya, yang meminta langsung."

Momoi melirik pada ibunya, yang tampaknya juga setuju dengan sang ayah, terbukti dengan anggukan kepalanya.

"Yaaa, baiklah. Tapi dia pasti jadi dokter tetap di sana, 'kan? Demi masa depan Midorin sendiri."

"Kita lihat saja nanti."

Momoi menyunggingkan senyum tipis untuk ayahnya.


Senja kali ini dilapisi mendung yang tipis. Lini-lilin kelabu berkejaran di bidang barar, matahari sudah tenggelam separuh di horison, dan jalanan telah penuh oleh pejalan-pejalan kaki yang bergegas. Beberapa kendaraan di jalan telah dinyalakan lampunya. Kafe tempat Momoi berada juga sudah mulai ditambah penerangannya, pijar putih menerangi beberapa sudut. Secangkir kopi Italia telah habis separuhnya, separuh puding cream vanilla pun mengalami hal serupa. Konsep laporan sedang dibuatnya di atas kertas, dengan pena biru, wujudnya masih berupa coretan tak jelas.

Dia sedang mencari inspirasi sambil memandang apa-apa yang ada di sekitarnya ketika mendapati Midorima tengah berdiri di depan vending machine yang ada di depan kafe.

Momoi melambaikan tangannya berkali-kali, berharap Midorima memperhatikannya. Masa bodoh demgan rasa malu. Setelah berulang-ulang melakukannya, gerakan yang semakin mengganjil itu akhirnya tertangkap mata Midorima. Momoi segera memberi kode agar Midorima masuk. Pemuda itu mengikuti kemauannya,

"Sudah selesai kerjanya? Malam ini shift lagi di ruang gawat darurat?" Momoi memandang Midorima, separuh wajahnya tenggelam di cangkir kopi. Ketika diletakkannya kembali gelas tersebut, dia tak menunggu jawaban Midorima. Dia memanggil seorang waiter. "Satu lagi pudingnya untuk dia, ya," begitu pesannya. "Midorin tidak perlu minum, 'kan, sudah ada kacang merah itu?" dia agak geli.

"Hn."

Momoi kembali mengembalikan perhatiannya pada Midorima, "Kau belum menjawabku, Midorin."

"Aku libur shift malam ini."

"Oh," Momoi mengangkat penanya kembali, lantas menuliskan beberapa hal lagi di atas kertasnya.

Midorima membuka kalengnya. Bunyinya agak berisik, yang ternyata tidak juga cukup mengganggu Momoi. "Laporan?"

"Iya, Deadline-nya lusa."

"Sepulang kerja masih kerja. Kapan kau menikmati hidupmu?"

"Ayolah Midorin, ini tak akan lama~" Momoi menuliskan sesuatu dengan cepat, kemudian mendadak dia jatuhkan pulpen itu, perhatiannya dengan segera teralih kepada beberapa waiter yang berkumpul di meja pemesanan. Midorima tak mengerti, tingkah Momoi begitu tak terbaca. "Pelayan!" panggilnya. Lantas dia menatap Midorima sebentar, "Aku lebih suka bekerja sambil mendengarkan musik."

Kening Midorima berkerut.

"Ya, Nona? Anda dan kekasih Anda perlu sesuatu?"

"Apa pemusik kalian di sebelah sana tahu lagu-lagu Chopin? Tolong bilang pada mereka untuk memainkan itu, ya," Momoi mengendikkan dagu ke arah sekelompok pemuda-pemudi yang berada di sudut lain kafe. "Terima kasih. Oh, satu hal lagi, kami belum—ah, maksudku tidak pacaran. Terima kasih pengertiannya."

"Baik, Nona, akan saya sampaikan," pelayan itu mundur.

"Aku pelanggan mereka, aku sudah sering minta lagu ini-itu pada mereka."

"... Aku tidak mengira kalau kau juga suka lagu klasik."

"Aku balerina, ingat?" Momoi tersenyum kecil. "Aku juga suka lagu-lagu klasik karena aku suka latihan sendiri dan membuat gerakan sendiri dengan lagu-lagu seperti ini," gadis itu menulis lebih banyak hal lagi di atas kertasnya. Dari gerak kepalanya, tampaknya dia mulai menikmati lagu Chopin yang telah dimainkan oleh para pemusik tersebut.

"Kalau kau menyukai musik, kau harus benar-benar menikmatinya."

"Hee?"

"Kalau kau sambil bekerja dan memikirkan hal-hal rumit, kenikmatan lagunya akan hilang."

"Hmm, kau menyuruhku untuk berhenti membuat ini, Midorin?"

"Semua tergantung padamu."

"Hahaha. Midorin orang yang demokratis, ya."

"Bukan suatu hal yang lucu. Aku hanya memberi saran."

"Iya, deh, iyaaa," Momoi menaruh lagi pulpennya. Dia lantas meregangkan kedua tangannya. "Nih, aku berhenti."

Midorima tak memberi jawaban apapun, Dia menyesap a yang ada di tangannya. Tak lama, pesanannya datang, Momoi juga tengah sibuk menghabiskan puding miliknya.

"Midorin, Midorin 'kan tipe pemikir. Aku mau tahu pendapatmu, boleh?"

"Tentang?"

"Aku ini tipe yang sering terlalu khawatir dengan apa yang akan terjadi. Aku memang merencanakan segalanya, aku juga suka menyusun jadwalku sendiri, aku juga punya target setiap tahun dan bulannya. Mungkin ... Midorin bisa bilang kalau aku ini terlalu teratur. Tapi karena aku terlalu banyak merencanakan hal begitu, aku jadi sering takut kalau-kalau aku gagal dan hal-hal yang kususun jadi kacau ... dan kalau-kalau ada halangan, aku takut; apa aku bisa melewatinya? Apa aku bisa bangkit lagi setelah itu?"

Midorima meletakkan garpunya. "Kau pasti bergolongan darah A."

"Heeee, Midorin bisa membaca!"

"Sudah nyata sekali. Tipe A adalah perencana yang melakukan semuanya sampai detil. Perfeksionis."

"... Kok benar sekali, sih ..." golongan darah bisa punya sifat-sifat tertentu begitu, ya."

"Kecocokan antargolongan darah juga ada. Ada beberapa pemilik golongan darah tertentu yang tidak bisa menjadi teman baik karena sifat-sifat mereka."

"Midorin golongan darahnya apa?"

"B."

"Apa A dan B bisa jadi rekan yang baik?"

Midorima menurunkan pandangannya kepada piring di hadapannya. "Ada yang bilang tidak. Sifat A yang terlalu taat aturan kadang berbenturan dengan B yang self-centered. A selalu tepat waktu, B punya cara sendiri dalam pengaturan waktunya, sering membuat mereka tidak akur."

Momoi malah tertawa. "Tapi Midorin ... kenapa aku nyaman-nyaman saja ya dekat-dekat dengan Midorin begini? Padahal menurut teori yang Midorin bilang itu, kita mungkin lebih sering bertengkar."

"Kadang, ada hal yang tak sesuai teori."

Momoi mengangkat bahu. "Mungkin. Nah, kembali ke apa yang kutanyakan tadi, menurut Midorin, aku harus bagaimana?"

"Hiduplah untuk hari ini."

"Mm? Jangan terlalu sering membuat rencana jangka panjang, ya?"

"Mungkin."

"Yah ... akan kucoba, deh," Momoi melipat kertas coretannya, kemudian memasukkannya ke dalam tas. "Kalau begitu, aku akan santai sore ini, laporan ini tidak selesai malam ini—sesuai targetku—juga tidak apa-apa. Kata Midorin 'kan aku harus santai dan menikmati hidup," dia tersenyum kecil, "Dan menikmati musik ini."

Dalam waktu yang amat singkat, ada senyum yang amat tipis diperlihatkan Midorima. Bahkan Momoiun tak sempat menyaksikannya.

"Kalau begitu, aku juga harus melupakan targetku untuk menikah tahun depan—atau paling lambat satu setengah tahun lagi."

"Tidak kukira kau ternyata sampai seterikat itu pada target-targetmu."

"Hahaha, ya seperti yang kubilang, Midorin, aku ini terlalu terikat aturan. Aku juga suka mencoba hal baru. Dan kupikir—menikah adalah hal baru yang menarik. Aku ingin tahu rasanya disayangi, dibutuhkan seseorang dalam ikatan yang pasti. Aku ingin jadi ibu, aku ingin menciba tiga peran sekaligus, menjadi istri, ibu dan wanita karir. Bagiku ... itu kedengarannya menyenangkan."

"Itu tidak akan segampang yang kaukira."

"Iyaa, aku tahu, hihi. Tapi aku ingin mencoba," Momoi menyuap sepotong puding. "Midorin punya target untuk menikah?"

Midorima menggeleng. "Aku masih ingin mempelajari banyak hal sebagai dokter. Aku ingin mengabdi secara total ke rumah sakit itu dulu."

"Midorin benar-benar antusias dengan karirnya, ya. Pasti enak di sana, makanya Midorin betah. Ah, aku memang tidak salah merekomendasikan Midorin ke rumah sakit itu—"

Ups.

Mata Midorima menajam. "Rekomendasi apa?"

"Ee—itu ... hm—" Momoi terperangkap oleh ulahnya sendiri. Kelepasan. Ah, ini berbahaya.

Midorima menarik napas. "Baiklah, pantas saja semuanya terasa mencurigakan. Tapi ini artinya kita impas."

"Mencurigakan? Impas?" Momoi sedikit teralih dari rasa risihnya.

"Beberapa dokter di sana sudah mengenalku sebelum aku mengenalkan diri. Aku langsung diberikan beberapa pekerjaan dan menjadi asisten dalam beberapa operasi penting, padahal aku orang baru dan sebenarnya mereka punya lebih banyak tenaga yang berpengalaman," Midorima menaikan kacamatanya. "Dan kita impas ... karena sebenarnya pemilik perusahaan tempat kau bekerja itu adalah pamanku, dan aku datang padanya sebelum kauikut tes wawancara."

Hening bertahan cukup lama.

Ternyata, setelahnya Momoi tertawa. Dan dia mengulurkan tangan dan menarik tanan Midorima untuk dia paksa berjabat bersama. "Midorin, kita memang impas. Direktur rumah sakit itu adalah pamanku ... dan yang membangun serta pemilik rumah sakit itu ... adalah ayahku."

Raut rasa kaget terpatri seketika di wajah Midorima.

"Ya ... aku tidak ingin melihat orang secerdas Midorin berlama-lama mencari pekerjaan yang pantas. Aku ingin segera melihat Midorin berkarya sesuai bidangnya ... aku senang melihat Midorin berusaha. Kaucukup menikmatinya, 'kan?"

"... Ya."

Momoi sedikit memiringkan kepalanya, "Aku juga senang bekerja di tempat itu. Semuanya ramah dan aku bisa menerapkan ilmuku dengan baik di sana. Yaaah, walaupun cukup bantak tantangan deadline-nya, sih. Tapi aku menikmatinya, kok. Terima kasih banyak, ya, Midorin."

Midorima mengalihkan pandangan dari Momoi. "Kurasa aku juga harus mengatakan hal yang sama."

"Impas, hm?"

"Ya."

Masih tersenyum, "Kita melakukan ini demi kebaikan masing-masing, 'kan? Karena kita sama-sama menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain."

"Karena kita peduli."

Matahari tenggelam dengan menyertakan rasa hangat yang manis untuk dicatat di kenangan harian sepasang manusia yang tengah menghabiskan sisa puding putih mereka di meja nomor delapan itu. Lagu Chopin masih setia menemani mereka sampai mereka keluar.


Sebuah operasi pemasangan pen untuk seorang korban kecelakaan baru saja selesai dilakukan, beres tepat pada jam makan siang. Meski sudah mencuci bersih tangannya—dan memperhitungkan fakta bahwa dia pun tak terlalu banyak terlibat dalam pembedahan—dia masih merasa kurang nyaman.

Maka, dalam perjalanannya menuju kantin rumah sakit yang cukup jauh dari ruang kerjanya itu, dia berbelok menuju kamar mandi, bermaksud mencuci tangan di sana. Dituangkannya sabun sampai banyak dan mencucinya hingga lebih dari dua menit. Kadang, Midorima menjelma jadi penggila kebersihan yang cukup ketat dalam mengatur kadar kehigienisan dirinya, apalagi setelah menjadi dokter dan ikut dalam beberapa operasi.

Adalah ketika dia mengeringkan tangannya, dia mendengar namanya dipanggil.

"Shin-chan?"

Midorima menoleh.

"Aaa, benar-benar Shin-chan! Heeei! Apa kabarmu, Kawan?" pemuda itu langsung mendekati Midorima, mengambil tangannya, menariknya untuk berjabat dan kemudian merangkulnya. "Hahahaha, kau memang benar-benar jadi dokter, rupanya!"

Wajah Midorima masih datar, namun dia membalas jabatan tangan itu dengan hangat. "Berhenti memanggilku begitu, Takao.."

"Shin-chan tetaplah Shin-chan, ya, masih marah kalau kupanggil begitu hahahaha—hei, hei, keren sekali kau sekarang, sudah jadi dokter. Aku masih kuliah, nih—pulang sebentar cuma gara-gara adikku sakit."

"Kausuka mengulur waktu. Sedang apa kau di sini?"

"Seperti yang kubilang, adikku sakit. Aku buru-buru terbang dari Beijing cuma gara-gara ini. Kelihatannya sih cuma sakit biasa. Tapi sepertinya dia terlalu rindu denganku sampai sakit hahahaha! Eh, aku tidak bisa lama-lama, dia sudah menungguku di poliklinik. Minta nomor ponselmu, dong, Shin-chan, ponsel lamaku tercebur di sungai, nomormu hilang."

"... Konyol."

"Hahahaha, iya, iya, aku tahu itu bodoh. Nih, ketikkan nomormu, ya," Takao memberikan ponselnya.

Sambil mengetik, Midorima berujar, "Ternyata, banyak hal yang tidak berubah."

"Kau juga, Shin-chan."

"Dan malah tambah parah."

"Whoa, jangan bilang itu aku—"

"Memang kau."

"Shin-chan jahat."

"Kau memakai gantungan kunci kelinci merah muda di tasmu, kurasa itu sudah lebih parah. Seingatku kau bukan penyuka hal-hal feminin. Apa orientasimu sudah berubah?"

"Hoi—enak saja. Ini pemberian seseorang yang berharga. Sudah bertahun-tahun. lho, Shin-chan—tapi selalu kusimpan sampai sekarang. Nih, lihat, ini juga masih bersih, aku rajin mencucinya—"

Midorima menyerahkan kembali ponsel Takao, memotong kalimatnya, "Jangan sampai kau membuat adikmu menangis di sana."

"Whoa—iya, iya, oke, jaa, Shin-chan, sampai ketemu lagi nanti!" pemuda itu berlari meninggalkan Midorima.

Midorima hanya berdecak.


Gedung tempat Momoi bekerja dapat dilihat dengan leluasa dari jendela ruang praktik dokter atasan Midorima. Di saat jeda antara satu pasien dan pasien lainnya—seperti kali ini—adalah waktu di mana Midorima biasanya melirik ke arah sana.

Dia memicingkan mata. Pintu utama kantor itu terlihat jelas dan banyak sekali orang yang keluar-masuk dari dan ke sana—Midorima tak bisa mengenali semuanya karena jarak dan ketinggian menjadi penghalang, namun, mustahil kalau sosok berambut merah jambu itu bukan pengecualian baginya.

Setahunya, Momoi tak pernah keluar kantor di jam-jam sibuk begini. Dia berada pada divisi yang mengharuskan pekerjanya berada di dalam ruangan sepanjang hari. Lagipula, ada kantin di dalam gedung, para pegawai tak perlu repot lagi. Kenapa Momoi keluar? Lengkap dengan tasnya, pula. Seakan ingin pulang.

Ini memang hal kecil tetapi Midorima tetap menganggapnya sebagai keganjilan yang patut diperhitungkan.


"Hei, hei, dokter mana yang beruntung memeriksa keponakan direktur yang cantik itu?"

"Kurang tahu. Tadi waktu dia masuk ke area poliklinik, aku tiba-tiba dipanggil. Aku tidak sempat melihat dia masuk ke bagian yang mana?"

"Ah, sayang sekali!"

"Cantik-cantik bisa sakit juga, ya. Ah, coba aku dokternya."

Langkah Midorima berhenti. Dia berbalik arah.

"Siapa yang kalian maksud?"

"Oh halo, Midorim-san," salah satu perawat itu menyapa hangat, "Itu, Momoi-san, tadi dia datang ke sini."

Midorima diam sebentar, lantas langsung melengos pergi. Tak peduli pada tatapan heran orang-orang yang tadi dia hampiri. Masa bodoh, mana dia peduli? Dia lebih peduli pada ponselnya—nah, lihat, dia sedang menelusuri kontaknya dan kemudian menekan opsi 'panggil' pada nomor yang dipilihnya.

"Moshi-moshi, ada apa, Midorin—uhuk—?"

"Kenapa tidak memghubungiku kalau kausedang sakit?"

"Aa—uhuk—bukan sakit yang parah, kok—uhuk."

Midorima memaksa, namun Momoi tak mau mengakui apapun, bahkan sampai panggilan ditutup. Tidak juga saat Midorima mengirimi pesan singkat menjelang Momoi tidur.

tbc.


A/N: maaf updatenya lama orz