Evergreen
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Midorima Shintarou/Momoi Satsuki. Genre: Romance/Family. Rating: K+.
(Di saat Midorima Shintarou harus mengakhiri karir pianonya, dia bertemu dengan penari balet yang bernasib sama dengannya, Momoi Satsuki.)
"Pasien itu merepotkan."
Midorima mengangkat kepalanya. Dia menghentikan bacaannya pada kertas yang berisi riwayat penyakit beserta diagnosa menyeluruh seorang pasien yang baru saja keluar dari ruang bedah itu. Midorima tak menunjukkan ekspresi apapun, tetapi dalam hatinya, dia agak tak setuju.
"Dia terus-terusan melolong minta agar tidak usah dioperasi. Memangya dia pikir kita bekerja tanpa mempertimbangkan apapun? Memangnya dia pikir kita tidak bisa? Apa dia tidak percaya?"
Midorima menaruh kertas itu di atas meja kecilnya. Andai orang ini bukan atasannya, mungkin dia akan menggunakan cara lain untuk mengungkapkan ketidaksenangannya. Dia menarik napas untuk mempersiapkan diri agar mulutnya tak mengatakan hal-hal yang buruk. "Kurasa itu bukan kalimat yang seharusnya kaukatakan di belakang pasien."
Dokter itu menggoyangkan kursinya ke kanan dan ke kiri, senyum simpul terkulas di bibirnya, namun Midorima tidak bisa menebak, itu senyum untuk apa. "Keselamatan dia bergantung pada usaha kita. Mereka berhutang pada kita. Kita bebas mengatakan apa yang kita mau tentang mereka. Termasuk jika mereka rewel. Kita bebas mengungkapkan kekesalan."
"Kurasa kau tidak menaruh hakmu sebagai dokter pada tempatnya."
"Haha."
"Dan kupikir hak untuk menyelamatkan seseorang tidak ada hubungannya dengan hak untuk mengata-ngatai orang lain."
"Kau cerewet juga, Midorima. Kupikir kau anak baik yang akan selalu patuh. Apalagi pada atasanmu, si dokter tetap di sini. Kau cuma dokter yang baru magang, tidak usah terlalu menasehatiku."
Midorima tidak menjawab. Dia kembali memusatkan perhatiannya kepada kertas data pasien sambil mempertimbangkan, apakah ada cara lain selain membedah pasien yang punya masalah psikologis khusus terhadap pisau bedah tersebut. Andai saja operasi laser bisa dilaksanakan untuk menyembuhkannya, Midorima akan memilih itu. Akan tetapi, pasien tersebut mengaku tidak mampu secara finansial untuk membayar jenis operasi yang lebih canggih—membuat Midorima mencoba memutar otak, meski ia tidak yakin ada cara lain.
Lelaki berambut cokelat itu berdiri, nametag bertuliskan 'Arata' di jasnya bergoyang sedikit. Dia melirik sebentar pada asistennya. "Midorima."
"Hn."
"Apa kau senang berada di sini?"
Separuh wajah Midorima masih tertutup kertas dari sudut pandang Arata, namun matanya terangkat. "Tergantung dari sisi mana kau menanyakannya."
Arata tertawa kecil. Dia menjauh dari mejanya, memunggungi Midorima. "Tentu saja, kau pasti senang. Kau bisa masuk dengan gampang ke sini karena suatu hal."
Midorima mendelik.
"Kaupunya akses dengan orang dalam, 'kan?"
Kertas data pasien ditaruh Midorima lagi ke meja, dan ditekannya dengan kepala tangannya. "Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu itu," Arata telah mencapai pintu. "Tapi kau kurang beruntung di sini," dia menyeringai kecil, terlihat oleh Midorima karena atasannya itu sedikit menoleh pada dirinya.
Midorima membalas pandangannya dengan tatapan tak suka. "Kau mau ke mana? Kurasa waktunya istirahat belum tiba."
Arata tertawa lagi. "Sesukaku," dia makin membuat Midorima harus menahan rasa jengkel agar tak terlampiaskan keluar dari hati. Dia melanjutkan lagi, "Kau kurang beruntung, karena kau menjadi asistenku," dia memberi penekanan pada bagian terakhir, tepat ketika dia keluar dan menutup kembali pintunya.
Lelaki yang masih duduk di bangkunya itu mendengus. Kekesalannya memuncak—namun terhenti mendadak karena ponselnya yang ada di sudut meja bergetar. Ketika dia mengintip nomor pemanggilnya—tidak dia kenali. Asing. Apa ini nomor pasien tadi? Dia tidak yakin, karena dia tidak memberikannya barusan. Entahlah.
"Halo?"
"Shin-chan—"
Siapa lagi, memangnya?
"Kalau ini tidak penting, tutuplah, Takao. Aku sedang bekerja."
"Momo-chan!"
"Apa?"
Momo-chan terdengar agak asing di telinga Midorima. Tapi firasatnya agak kurang enak.
"Momo-chan—aa, maksudku Momoi, Momoi Satsuki, kaupasti kenal, 'kan? Dia ada di UGD sekarang! Aku bersamanya!"
Midorima langsung menutup telepon, dan bergegas meninggalkan ruangan.
Ada banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala Midorima ketika dia menyisir lorong UGD hanya untuk mencari Momoi, sambil meneliti baik-baik masing-masing biliknya agar dia tak terlewat. Tak lagi terpikirkan olehnya bahwa dia sebenarnya bisa menelepon Takao untuk memastikan di mana keberadaan Momoi. Keadaan panik memang kadang membutakan logika. Lelaki tersebut melintasi orang-orang yang juga terlihat panik di sepanjang selasar. Untuk pertama kalinya, bau antiseptik membuatnya pusing.
Dia menemukan Momoi di ujung, bilik paling sudut. Ada Takao di sampingnya. Midorima tak berkata apapun ketika dia masuk ke bilik itu.
"Apa kaulihat dokter jaganya, Shin-chan? Tadi dia bilang dia akan segera kembali setelah menangani pasien yang lain, tapi ini sudah sepuluh menit dia tidak kembali."
Midorima mendengus, terlebih ketika melihat baik-baik keadaan Momoi. Separuh tubuhnya kacau. Bagian dahi hingga pipi kanan diwarnai luka yang membujur tak rata. Tangan kanannya yang berdarah paling parah, beberapa pecahan kaca terlihat berkilat di sela-sela juluran darahnya yang masih belum mengering.
"Ck," dokter muda itu berdecak kesal. Dia tidak menanyakan apapun yang terjadi, dia langsung berlalu keluar. Takao memandangnya tak mengerti. Momoi, meski tengah duduk kesakitan dan berusaha menahan perih lukanya, mengerutkan keningnya sedikit.
Midorima keluar sebentar hanya untuk kembali lagi. Dia kembali mendengus ketika masuk kembali ke tempat Momoi. Tetapi, dia seperti orang bingung. Dia keluar sekali lagi, lantas masuk lagi dengan membawa alat dan bahan pengobatan untuk pertolongan pertama.
"Pfftt—"
"Ini bukan hal yang perlu kautertawakan, Takao," Midorima mengeluarkan obat antiseptik sekaligus beberapa gulung perban dan obat merah.
"Habisnya, Shin-chan panik begitu kelihatan sangat lucu. Seperti anak hilang, hahahaha!"
"Dilarang tertawa keras di ruangan yang tidak semestinya," tanggap Midorima dingin. Dia mulai menangani luka Momoi. "Dokter jaganya sibuk dengan pasien-pasien di depan. Ada sebuah kecelakaan besar. Apa yang terjadi, Momoi?"
Selalu ada kelegaan yang murni dan menyenangkan bagi Momoi setiap dia mendengar namanya meluncur dari bibir Midorima.
"Momo-chan juga termasuk korban itu, tahu."
"Aku tidak bertanya padamu."
"Shin-chan jahat."
Momoi sempat tertawa—namun tawanya langsung berubah menjadi ringisan ketika Midorima menangani luka di tangannya. "Ah, Midorin—hati-hati di bagian situ ... sepertinya ada pecahan kaca yang masuk ke dalam ... uhuk ..."
Midorima berhenti sebentar. Dia merapatkan kacamatanya ke wajah, lantas menyadari bahwa luka di sana cukup lebar dan menganga, ada pecahan kacanya terlihat di dalam.
"Kita tangani yang itu nanti," Midorima mulai membersihkannya lagi dengan hati-hati, kali ini dia berusaha melewati bagian yang menganga itu. "Kau belum menceritakan apa yang terjadi."
"Itu ..."
"Aku dan Momo-chan sedang makan siang di tempat langganan Momo-chan—"
"Kau bolos dari pekerjaanmu? Ini belum jam makan siang."
"Bukan," sanggah Momoi, "Aku baru saja pulang dari mengantarkan dokumen ke relasi dan atasanku mempersilahkanku untuk istirahat duluan. Lalu aku ketemu Takkun dan kami mengobrol banyak."
"Ada perampokan di tempat kami makan. Perampoknya brutal dan mengacaukan isi restoran, dia mendorong orang-orang yang menolak memberinya uang. Momo-chan termasuk—dia didorong ke arah kaca jendela besar di samping kami yang sudah kena tembakannya, dan Momo-chan mengenai bagian yang pecah itu. Perampok gila itu terlalu kuat mendorong Momo-chan. Jadinya ya—begini. Banyak orang jadi korban juga. Tuh, di depan ada banyak pasien, 'kan?"
"Ou," Momoi meringis dalam setengah bisikan ketika Midorima membersihkan keningnya. Beberapa pecahan kaca kecil bahkan menempel di sana.
"Tahanlah," Midorima mencoba mencabut kaca yang menancap.
"Aw!" pecahan itu berhasil dicabut dan Momoi mengaduh keras. Cukup besar, rupanya.
"Aku tidak akan mengambil resiko dengan melakukan hal yang sama pada tanganmu," Midorima membubuhkan obat merah pada pipi Momoi. "Sepertinya akan diperhitungkan kemungkinan dilakukannya pembedahan."
"Midorin dokter bedah, 'kan?" Momoi tersenyum masam, "Kurasa aku bisa mengharapkanmu."
"Kita lihat saja nanti," Midorima membalutkan perban pada bagian di dekat pergelangan tangan Momoi, luka di sana tidak terlalu dalam, hanya goresan kecil yang berdarah sedikit.
"Midorima?" seorang berjas putih memasuki bilik. "Biar aku yang menanganinya. Aku dokter jaga hari ini."
"Kumohon kau menangani yang lain saja. Biar aku yang mengatasi masalah di sini. Aku bisa melakukan pemeriksaan menyeluruh padanya."
"Tapi aku yang piket di UGD untuk waktu sekarang."
"Tapi aku juga dokter," Midorima menjawab datar. Dia tidak membuang waktu menatap pada dokter itu, yang kira-kira sebaya dengannya. "Aku bisa melakukannya."
"Ini bukan masalah bisa atau tidak, ini kewajibanku—"
"Banyak pasien yang lebih membutuhkanmu di luar sana. Tidak ada peraturan rumah sakit yang menyebutkan bahwa seorang dokter yang sedang tidak sibuk tidak boleh membantu dokter jaga di UGD jika terjadi lonjakan pasien karena kasus tertentu."
Dokter yang berada di ambang bilik itu melepaskan napas berat. "Baiklah. Tapi jangan salahkan aku di depan Arata-san kalau dia tahu asistennya menghilang hanya untuk membantuku."
"Ini kemauanku sendiri," tanggap Midorima enteng. Dia telah selesai dengan pipi Momoi dan kembali memeriksa keningnya, kalau-kalau ada serpihan yang tersisa di sana. Untunglah, tidak ada, dan dia akhirnya bisa melilitkan perban di sana. Rekannya itu pun meninggalkan bilik.
Sekali lagi, Midorima memperhatikan keadaan Momoi, yang tersisa dan belum sempat ditangani hanya bagian tangannya. Dia putuskan untuk melakukan tindakan di sana, sambil berucap, "Aku akan melakukan pemeriksaan keseluruhan atas kondisimu. Apa sakitmu tempo hari sudah sembuh?"
Momoi menyengir sesaat, "Midorin masih ingat, ternyata. Yah, sedikit. Perlukah itu dimasukkan ke dalam daftar diagnosa? Ini tidak ada hubungannya dengan luka-lukaku, Midorin."
"Memang tidak ada," Midorima membereskan beberapa kapas yang tadi dia taruh sembarangan di sisi tubuh Momoi. "Tapi itu akan membuatmu lebih baik karena semua penyakitmu ditangani. Ini akan jadi kesempatan untukmu menyembuhkan penyakitmu yang lain yang sebelumnya berusaha kau sembunyikan."
Momoi sedikit terkejut. Dia melongo sesaat. "Midorin tahu sesuatu?"
"Bukan hanya 'sesuatu'," Midorima mengoreksi sambil menaikkan bingkai kacamatanya, "Tapi 'beberapa'. Ilmu kesehatan dipelajari untuk membantu melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh umum."
Gadis itu tertawa kecil, "Baiklah, aku mengerti. Tolong, ya, Midorin."
"Aku harus mengatasi ini sekarang. Sebuah operasi kecil dibutuhkan saat ini juga."
"Apa kau yang akan menanganinya?" ada nada khawatir di pertanyaan Momoi.
"Hanya aku dokter yang ada di depanmu, dan aku yang akan melakukannya."
"... Baiklah."
Midorima memandangi tulisan-tulisan di kertas itu, meneliti tabel-tabelnya, dan sesekali membolak-balik kertas-kertasnya yang banyak dan disatukan oleh klip besar berwarna hitam. Angka-angka pengukuran dan tulisan yang dicetak di sana kadang membuat dahinya mengerut.
"Kau seharusnya berada di ruanganmu."
Midorima mendelik. Matanya kembali terfokus pada kertas setelah mengetahui siapa yang menghampiri. Setidaknya bukan sang atasan, dan dia tak perlu buang energi untuk memikirkan jawaban apa untuk kata-kata pedasnya.
"Kurasa dokter sepertimu tidak seharusnya lupa jam tutup poliklinik."
"Oh," lelaki yang juga berkacamata itu pun mengangkat pergelangan tangannya. "Sudah tutup, ya? Aku terlalu sibuk dengan operasi pasien sejak tadi pagi. Pasien yang kali ini luar biasa. Fraktura terbuka yang cukup parah pada tulang keringnya, operasinya sangat berat," pria berambut hitam itu pun melongok sebentar pada kertas di tangan Midorima, "Ah, seingatku kau juga ditugaskan untuk jaga di UGD."
"Itu nanti malam," Midorima menjawab datar. "Aku masih punya waktu bersantai sepanjang sore ini."
"Aku tidak melihat bahwa kau sedang bersantai."
"Memang tidak."
"Data pasien mana itu?"
"Baru masuk," Midorima membalik kertasnya berkali-kali sampai pada halaman terakhir.
"Banyak sekali datanya," sang rekan, yang matanya sepertinya amat tajam, berhasil mendeteksi sesuatu. "Pemeriksaan menyeluruh? Aku melihat bahwa data itu berasal dari poli radiologi, lab, poli bedah, penyakit dalam, memangnya separah apa?"
"Tidak separah yang kaubayangkan," Midorima melipat semua kertas itu, lantas memasukkannya ke saku jas putihnya. "Tapi aku yang memutuskan untuk memberi dia pemeriksaan khusus. Dia tidak apa-apa. Dia masih sadar, tapi ada banyak hal yang harus dibereskan di dirinya."
"Apa saja yang dia derita?"
Midorima menaikkan kacamatanya, "Dia kecelakaan dan beberapa pecahan kaca bersarang di tubuhnya."
"Oh, hanya itu? Itu bisa ditangani dengan gampang lewat operasi kecil yang bahkan bisa dilakukan di UGD, kurasa."
"Kalau hanya itu yang perlu kulakukan, aku tidak akan repot-repot melakukan ini semua," Midorima menepuk sakunya. "Sudah kubilang, dia punya banyak hal yang harus dibereskan dari segi kesehatannya secara umum."
"Ini hanya perasaanku, kau mengkhawatirkannya secara berlebihan atau memang keadaan dia cukup parah hingga butuh penanganan khusus?"
"Dia terkena bronkhitis," Midorima memandang lurus pada tembok selasar yang ada di hadapannya. "Dia baru saja memeriksakan diri beberapa hari yang lalu dan ternyata setelah pemeriksaan hari ini, penyakit itu malah semakin parah. Dua, bagian di mana dia terbentur di kecelakaan tadi, adalah lokasi di mana pernah terjadi fraktura tertutup sewaktu dia kecil. Setelah terjadi benturan, tulangnya sedikit bergeser. Perlu penanganan khusus."
"Oh, itu bagianku."
"Kita urus itu nanti," Midorima menanggapi secara dingin, entah mengapa. "Setelah pemeriksaan umum yang kulakukan sebelum aku melakukan operasi kecil padanya, dia bercerita bahwa dia punya riwayat diabetes mellitus dari kakeknya. Harus ada penanganan lanjutan karena dia punya banyak luka di tubuh sebelah kanannya, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Ada kemungkinan terjadi masalah pada lukanya kalau dia mewarisi gen diabetes itu dan sudah memiliki gejalanya."
"Itu bukan ranahmu," teman Midorima tersebut berkomentar.
"Aku sebagai dokter bedahnya juga ikut bertanggung jawab."
"Tapi secara tidak langsung. Ah, kau merambah bagian-bagian yang sebenarnya bisa kau serahkan pada dokter lain, Midorima."
"Aku hanya membantu mengarahkan dia pada dokter yang seharusnya. Aku bekerja di sini dan aku bisa merekomendasikan hal-hal yang sebaiknya dia dapatkan untuk kebaikannya sendiri."
"Sespesial apa, sih, dia, sampai-sampai kau mau-maunya merepotkan diri demi dia? Apa dia yatim-piatu? Anak kecil yang terpisah dari orang tuanya?"
Midorima menggeleng. "Aku hanya membantunya. Orangtuanya sudah datang tapi mereka menyerahkan padaku karena aku mengajukan diriku sendiri."
"Oh, berarti dia memang spesial. Pacarmu, ya?"
Midorima diam sejenak. Rahangnya mengatup rapat. Setelah sang rekan tertawa kecil, baru dia menjawab singkat, "Bukan."
"Berarti dia calon pacarmu."
"Ini bukan urusanmu," Midorima mulai berdiri tegak, setelah sebelumnya puas menyandarkan diri di tembok. "Imayoshi," ucapnya, setelah memunggungi dokter spesialis tulang itu. "Jika nanti dia harus menjalani operasi di bawah penangananmu, kuharap kau melakukan yang terbaik."
Midorima tak berkata apapun lagi setelah dia makin menjauh meninggalkan Imayoshi. Imayoshi tersenyum seraya menggeleng. "Kaumemang benar-benar naif, Midorima."
Midorima sudah meninggalkan Imayoshi semakin jauh, dan rekannya itu telah tak terlihat lagi setelah satu belokan lorong dilewatinya. Dia bermaksud untuk mengunjungi ruang rawat Momoi setelah ini, namun berhenti sebentar setelah melihat Takao keluar dari ruangan tersebut. Niatnya luntur sesaat.
"Wow, yo, Shin-chan!"
Midorima berjalan lagi, nyaris melewati Takao. "Kita perlu bicara sesuatu, Takao."
"Hooo, Shin-chan kangen denganku, ya? Boleh, boleeeeh, di mana, di mana?"
"Berisik."
Takao berbalik arah dan mengikuti Midorima. Tak jauh dari sana, ada sebuah belokan kecil di lorong dan berujung pada sebuah balkon sederhana yang hanya dibatasi oleh pagar putih rapat yang setinggi tiga perempat tubuh mereka. Midorima memunggungi balkonnya, bersandar di sana dengan tangan terlipat di depan dada dan kepala setengah tertunduk.
"Kenapa kau bisa kenal Momoi?"
"Hooo, masalah ini, ya—"
"Jangan banyak basa-basi."
"Dia mantan pacarku."
Mata Midorima membesar, namun tak dia tampakkan untuk Takao. Tetapi percuma, mata tajam Takao bisa dengan mudah mengetahuinya, membuat dia tertawa sebentar.
"Waktu itu kami satu SMP. Yah, sekitar dua tahun, sih, tapi harus putus saat kami di tingkat akhir karena orang tuaku harus bekerja di kota lain. Aku harus ikut. Kautahu, 'kan, pekerjaan orang tuaku membuat mereka tidak bisa tetap di suatu kota dalam waktu yang lama. Momo-chan bilang dia tidak berani ambil resiko hubungan jarak jauh. Dia bilang, kalau kami berjodoh, kami akan dipertemukan lagi dengan cara yang menarik."
Salah satu tangan Midorima mencengkeram lengannya lebih kuat dalam posisi tersilang itu. "Kurasa aku tidak memintamu untuk menceritakan masa lalu kalian panjang-panjang."
"Lho? Tadi Shin-chan yang minta, 'kan—"
"Secara singkat."
"Huuu," Takao mengerucutkan bibirnya. "Lalu, tadi waktu aku melintas di depan kantornya, aku melihat dia keluar. Aku tidak percaya, tapi itu benar-benar dia," senyum Takao mengembang. "Kami mengobrol banyak, dan kurasa hubungan kami tidak seburuk yang kubayangkan karena kami berpisah lama dan tidak melakukan kontak selama bertahun-tahun," Takao mengeluarkan ponselnya, tadi sempat terdengar dering pendek.
Fokus mata Midorima terletak pada apa yang menggantung pada ponsel Takao. Jangan-jangan ...
"Ini pemberian Momo-chan padaku sebelum kami berpisah."
"Seingatku dia ada di tasmu."
"Momo-chan yang menyuruhku untuk memindahkannya. Lebih lucu, katanya," jawab Takao enteng sambil mengetikkan sesuatu dengan cepat di layar ponsel hitamnya. "Apa lagi yang mau kautanyakan, Shin-chan?"
"Tidak perlu lagi," Midorima berdiri tegak dan langsung melangkah menjauhi Takao, tanpa basa-basi atau pamitan dan semacamnya.
Takao hanya mengangkat bahu, sedikit heran namun akhirnya tertawa sambil menggeleng dan meninggalkan balkon untuk segera pulang.
Midorima mengambil kesempatan untuk keluar sebentar sebelum jam jaganya tiba. Memang, dia pasti akan mendapatkan makanan nantinya jika dia tidak keluar sore ini, tetapi tentunya dia ingin sesuatu yang berbeda dari sekadar makanan rumah sakit biasa.
Dia berjalan dengan langkah santai, dia telah menanggalkan jas putihnya, kemeja biru muda tampak masih rapi di bagian dalam. Dia tak terlalu suka menampakkan status dirinya sebagai dokter di tempat umum. Midorima memandangi sekeliling, mencari tempat makanan yang sekiranya menunya lumayan dan tempatnya enak untuk bersantai. Dia capek seharian berhadapan dengan banyak hal rumit di rumah sakit sana.
Tetapi dia tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi. Seakan-akan, ketika dia melihat sekeliling, angka-angka dan huruf-huruf yang membentuk data kesehatan Momoi bermain-main di depan kacamatanya. Seakan menggoda perasaannya dan membangkitkan rasa gelisah. Gadis itu ternyata penyakitnya lebih rumit dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman hidupnya—termasuk saat yang mana dia harus melepaskan mimpinya menjadi balerina.
Kalau Midorima bilang, gadis itu komplikasi. Namun setidaknya setelah tes lebih lanjut yang diberikan secara khusus padanya tadi siang, kekhawatiran Midorima bisa berkurang karena Momoi untuk sementara ini kelihatannya masih jauh dari dampak buruk diabetes karena gula darah dan insulinnya masih normal, sehingga luka-luka itu tidak perlu dia khawatirkan.
Tetapi ada kemunculan hal yang lain lagi yang mengkhawatirkan Midorima. Momoi punya riwayat penyakit jantung.
Ah, merepotkan memang. Midorima jadi turut memikirkannya.
Momoi rapuh, simpulnya.
Dan itu menakuti Midorima akan sebuah ancaman perpisahan serta kehilangan yang baru. Ah, padahal mereka sudah berkali-kali terpisah dahulu, sebelum ini. Mungkin karena sudah pernah merasakan apa itu kehilangan karena masalah jarak, dia jadi tidak ingin merasakan kehilangan karena hal lain. Hal lain apa? Sebutlah hal itu sebagai kehilangan terberat akibat takdir.
Midorima pasti akan menjadi orang yang paling menyesal jika itu terjadi, jika Momoi tidak bisa menikmati sisa hidupnya dengan tenang karena penyakit yang tak bisa sembuh dan penderitaannya diakhiri dengan penamatan yang bernama kematian dalam keadaan tak bahagia.
Oh, apa dia membayangkan suatu hal secara berlebihan?
Namun itulah yang sedang terbayangkan oleh pikirannya, yang tak biasanya serumit ini.
Ini semua harus dikendalikan, pikirnya sambil menggelengkan kepala. Pikirannya, maksudnya, karena dia tahu dia mengkhawatirkan seseorang lebih dari yang seharusnya.
Ketakutan akan kehilangan ternyata tidak akan sirna dari pikiran segampang itu. Dia tiba-tiba ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat Momoi senang, jika dia tidak bisa melakukan banyak hal untuk menolong gadis itu. Statusnya yang masih belum menjadi dokter tetap di sana belum memberinya wewenang banyak dalam memilih pasien yang ingin dia tangani secara khusus.
Langkahnya terpaksa berhenti sebentar karena seorang lelaki yang keluar dari sebuah toko berjalan tanpa memperhatikan sekeliling. Yang dia lakukan hanyalah memandang apa yang dia beli dengan ekspresi bangga dan sumringah. Midorima pun baru menyadari toko apa itu.
Dorongan ingin menolong Momoi itu berkombinasi dengan sebuah perasaan tak tergambarkan yang mendesaknya untuk melakukan lebih banyak hal lagi untuk membuat Momoi tersenyum. Jangan tanya sebab dan cara perasaan itu berkembang, semua terjadi begitu saja.
Midorima pun memutuskan untuk masuk ke sana.
"Memang ada masalah pada tangannya," Imayoshi memutar bangkunya, menghadap Midorima sambil menenteng foto rontgen . "Kuputuskan untuk melakukan operasi. Nanti malam."
"Apa hanya melibatkan dirimu dan asistenmu?"
Imayoshi tertawa. "Aku tahu kau pasti akan menanyakan ini. Aku bisa membaca dirimu, Midorima. Aku mengerti. Aku menambahkan Arata dan kau dalam hal ini. Arata cukup ahli dalam pembedahan dan dia punya asisten seperti kau yang memang bisa diandalkan," Imayoshi meletakkan foto itu di meja, kemudian mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan santai di atas handle kursi hitamnya. "Dia sempat mengeluhkan sesuatu waktu diadakan perontgenan. Sepertinya masih ada serpihan kaca di dalam lukanya. Itu tugasmu dan Arata."
"Baiklah," ada kelegaan yang bisa terbaca oleh Imayoshi di wajah Midorima. Midorima pun berbalik.
"Hei, kau datang ke sini cuma untuk menanyakan itu?"
Midorima berhenti dan menoleh sedikit, "Memangnya aku punya urusan lain denganmu?"
Lagi-lagi, Imayoshi tertawa. "Kau memang naif."
"Terserah apa katamu."
"Hei, hei, hei~" Imayoshi berucap dengan logatnya yang khas, "Seharusnya kau berterima kasih padaku."
"Memang sudah kewajibanku untuk menolong seseorang. Kau hanya perantara."
"Wah, kau ketus juga. Pendirianmu keras, ya. Aku baru tahu. Tapi baguslah, itu cocok untuk profesimu sebagai dokter. Kau tidak akan mudah digoyahkan oleh orang-orang yang berusaha menghalangimu dalam melakukan tindakan."
Midorima tak menjawab.
"Siapkan dirimu. Aku akan minta pada kepala bagian UGD untuk memberikan izin padamu agar bisa mengikuti operasi jam sepuluh malam nanti."
"Hn."
Pintu ruangan Imayoshi pun ditutup. Imayoshi hanya tersenyum.
"Bilang saja kalau kau menganggap dia sangat berharga, Midorima, sampai kau mau berkorban hingga seperti ini."
Midorima membuka pintu itu sedikit, mengintipnya sesaat. Yang di dalam langsung menyadari, rupanya.
"Midorin?"
Daun pintu pun diperlebar bukaannya, "Imayoshi sudah memberitahu kemungkinan operasi untukmu?"
"Oh, dia sudah bilang begitu, sih," Momoi tersenyum masam, menambah miris penampilannya yang sudah dihiasi oleh perban-perban yang memerah di hampir seluruh sisi kanan tubuhnya yang terlihat, minus kaki. "Tapi aku belum tahu kapan. Eh, Midorin bukannya harus jaga di UGD, ya?"
"Masih setengah jam lagi," Midorima tidak masuk, hanya bersandar pada bingkai pintu. "Operasimu pukul sepuluh nanti. Mungkin Imayoshi atau asistennya—atau juga seorang perawat utusannya—akan datang lagi memberitahumu dan orangtuamu, tapi janganlah memberitahu mereka bahwa kau sudah tahu dariku, kecuali mereka bertanya."
"Begitu ..." tatapan Momoi kosong sesaat. Namun ketika dia tersadar, dia tersenyum lagi. Kali ini senyum yang lebih lega. "Baiklah. Kurasa aku siap. Aku sudah memikirkan ini."
"Orangtuamu mana?"
"Ayah sedang keluar. Ibu di kantin rumah sakit. Dia belum makan sejak mendengar aku diserang di restoran."
Midorima diam sesaat. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan—meninggalkan Momoi? Dia rasa itu masih terlalu cepat, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dia ucapkan.
"Midorin ikut dalam operasiku?"
"Ya."
Hening lagi.
"Midorin."
Midorima mengangkat alisnya. Momoi mengulurkan tangan kirinya yang terjerat oleh selang infus, melambaikannya secara kaku—dia berusaha sekuat tenaga, rupanya, karena infus itu amat merepotkanya—untuk meminta agar Midorima mendekat padanya. Lelaki itu menghampiri dengan langkah tegas.
Pemuda itu harus menahan rasa kagetnya agar tidak meluap secara berlebihan dan berefek pada wajahnya ketika Momoi menyelipkan jari-jemarinya pada tangan Midorima sendiri.
"Aku agak takut. Aku tidak pernah operasi sebelumnya. Tapi kalau begini ... entah kenapa, aku merasa lebih tenang. Aku senang karena aku punya Midorin di dekatku. Midorin 'kan dokter. Apalagi ... Midorin juga ikut menanganiku nanti. Aku bisa mengandalkan Midorin, 'kan?"
Tangannya hangat, dan Midorima tahu bahwa ini adalah titik di mana dia tidak yakin apakah dia bisa mengerti perasaannya sendiri. Yang dia tahu, dia nyaman. Mereka melakukannya sampai beberapa lama.
"Terima kasih, Midorin. Aku senang mengenalmu."
Momoi baru melepaskan Midorima ketika pintu ruang rawatnya terbuka. Saat itulah Midorima makin menyadari, bahwa dia harus melakukan yang terbaik untuk malam ini. Itu akan menjadi operasi yang berbeda dari yang biasa.
Operasi itu tidak berlangsung lama, sebab Imayoshi sudah biasa menangani hal yang seperti ini dan dengan bantuan Arata serta Midorima, beberapa serpihan kaca yang ternyata masih tertinggal di luka Momoi—yang lolos dari operasi kecil tadi siang—bisa dibereskan sepenuhnya. Momoi hanya mendapat suntikan anastesi spinal, yang membuatnya tetap sadar selama operasi namun tidak merasakan apa-apa yang dilakukan para dokter itu pada keseluruhan tangan kanannya, dan membiarkan dia bisa sesekali memandangi Midorima yang ada di sana, yang kelihatan sangat fokus dan seakan lupa sekeliling.
Momoi cukup senang kali ini, meski dia sedang mengalami sesuatu yang cukup menegangkan; dia bisa melihat bagaimana cinta Midorima terhadap apa yang sekarang dia miliki: dunia kedokteran. Senang rasanya melihat lelaki itu tetap bisa fokus walaupun impian masa mudanya bukanlah hal ini, juga begitu melegakan bisa tahu bahwa Midorima bisa mengalihkan dirinya dari piano dan tetap unggul di hal lain—meski dunia kedokteran ini pada faktanya adalah dunia yang memisahkan dia dengan piano.
Dirinya juga harus bisa seperti itu, putus Momoi.
Ditangani Midorima juga membuatnya merasa aman. Dia tahu, Midorima belumlah menjadi seorang dokter yang ahli, dia juga masih belajar, tetapi ada hal tertentu yang membuatnya tetap senang diberikan perawatan oleh Midorima walaupun fakta itu ada.
Midorima memejamkan mata sesaat ketika operasi itu sudah selesai seluruhnya, dan luka-luka itu telah ditutup rapi dengan jahitan yang dia sendirilah yang membuatnya. Akhirnya semua beres dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena semuanya baik-baik saja dan bisa dilalui dengan lancar.
Ketika Momoi sudah siap untuk dibawa kembali ke ruangan, dia melakukan sesuatu pada tangan Momoi, tanpa ada satu orang pun di dalam ruangan itu yang menyadarinya.
.
.
"Tidak apa-apa Ibu tinggal berdua saja?"
"Hu-um," Momoi, yang telah bisa duduk santai di tempat tidurnya pagi itu, mengangguk cepat. "Tidak apa-apa. Jam kerja Midorin juga masih cukup lama. Tinggalkan saja kami."
"Baiklah. Midorima-kun, titip anakku, ya, kalau ada apa-apa, kautahu apa yang harus kaulakukan."
Midorima hanya mengangguk. Dia sama sekali belum memakai jasnya. Dia sengaja datang begitu pagi ke rumah sakit hanya untuk menyelinap ke ruang perawatan dengan menggunakan otoritasnya sebagai dokter agar bisa masuk sebelum jam besuk dimulai.
Momoi baru saja bangun, itu pun kalau bukan karena kedatangan Midorima, dia masih pulas beristirahat di balik selimut merah jambunya. Sambil memandangi sekeliling, ia masih mencoba mengingat banyak hal, tidur membuatnya sedikit blank—lantas matanya tertumbuk pada jari-jari tangannya. Terlebih, pada salah satu jari kirinya yang terasa kebas dan kaku akibat pemasangan infus pada punggung tangannya itu.
"Midorin."
"Hn?"
"Apa operasi dengan bius seperti itu bisa membuat lupa ingatan?"
Pertanyaan yang konyol. Menggelikan, begitu komentar Midorima dalam hati. "Memangnya ada apa?"
Momoi mengangkat tangan kirinya tersebut. "Aku lupa bahwa aku punya cincin ini."
Midorima melirik pada jarinya sendiri. Dengan sengaja, dia angkat tangan kirinya untuk membenarkan kacamata, lain daripada biasanya—yang mana dia sering melakukannya dengan tangan kanan.
Momoi adalah seseorang yang senang mengamati. Sesuatu yang janggal itu tentu tak luput dari perhatiannya. Dahinya sempat berkerut sesaat, memastikan, namun ia yakin penglihatannya masih belum terganggu.
"Sama?" dia agak kurang percaya.
"Apa?"
"Cincin ..." tunjuk Momoi, agak ragu.
Midorima mengangguk.
"Kenapa bisa?" Momoi setengah tertawa.
"Aku yang membelikannya untukmu. Untuk kita."
"Ha?"
"Ini semacam ..." Midorima menaruh kedua tangannya di saku sambil memandang ke arah lain, menghindari mata Momoi yang melontarkan tatapan tanya yang amat intens padanya. "Pengikat? Entahlah. Mungkin semacam itu. Aku hanya merasa aku perlu berjanji padamu. Aku kadang merasa ... tidak suka kalau ada perpisahan lagi—juga kehilangan. Aku ingin ... menjagamu."
"Berjanji apa, Midorin?"
"Untuk melindungimu. Aku akan menyembuhkanmu dan melepaskan beberapa penderitaanmu."
Momoi tersenyum. "Aku baik-baik saja—"
"Banyak yang harus dikhawatirkan dalam dirimu, kau hanya menutupinya."
"... Wow. Kacamata Midorin ternyata lebih tajam daripada yang kukira," Momoi mengangkat tangannya pelan-pelan, takut darah akan mengalir pada selang infusnya, lantas mengusap cincin itu. "Cincinnya bagus, pasti mahal. Apa aku harus menggantinya?"
"Jangan pernah pikirkan itu."
Gadis itu tertawa kecil, "Hei, cincin yang sama itu biasanya hanya dipertukarkan oleh pasangan dalam acara tunangan atau pernikahan."
Suara Midorima tertahan di tenggorokan. Dia tidak tahu harus mengungkapkannya dengan cara apa. Dia bukan si cerdas bicara, dia bukan ahli perancang kata-kata. Dia bukan Momoi yang bisa berbicara dengan lancar dan berekspresi dengan baik.
"Jadi, apa ini bisa dianggap sebagai pertunangan?" Momoi menahan senyumnya.
Senyap sesaat. Momoi menanti jawaban Midorima nyaris tanpa berkedip.
"Kalau kau beranggapan seperti itu, maka sebutlah seperti itu."
Momoi tertawa, "Midorin, kautahu, ada kata yang lebih singkat daripada itu semua. Kau tidak perlu repot-repot mengatakannya."
Barulah Midorima mau mengarahkan pandangannya pada Momoi, setelah dia merasa bahwa dia bisa mengendalikan dirinya sendiri.
"Katakan saja 'ya'."
Midorima menarik napas panjang. "... Ya."
tbc.
A/N: hai wa juga mau punya dokter pribadi kek midorima O(-—(
(oh iya kalau ada preferensi medis yang salah, koreksi aja ya!)
