Evergreen
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Midorima Shintarou/Momoi Satsuki. Genre: Romance/Family. Rating: K+.
(Di saat Midorima Shintarou harus mengakhiri karir pianonya, dia bertemu dengan penari balet yang bernasib sama dengannya, Momoi Satsuki. Karir mereka harus diakhiri karena alasan keluarga. Kemudian, hidup mereka berubah. Namun tetap dipertemukan dengan orang yang sama.)
"Midorima, kenapa kau masih di sini? Bukannya jam shift-mu sudah selesai?"
"Memang," Midorima menurunkan bukunya. Tak ada yang menghalangi niatnya untuk membaca buku bertema kedokteran dengan bahasa asing sebagai pengantar bahkan di jam jaganya di ruang gawat darurat. "Tetapi aku tidak menemukan Arata di ruangannya. Ini belum jam tutup poliklinik tetapi dia sudah menghilang. Lebih baik aku menunggu di sini."
"Hah?" rekan sesama dokternya itu tampak tidak percaya—Midorima balas mengerutkan kening, tidak mengerti. "Kau tidak diajaknya? Bukannya kau asistennya?"
"Diajak apa?"
"Kau tidak tahu?"
"Yang kutahu hanya dia bekerja sendirian hari ini, seperti biasa, karena aku punya giliran jaga pada pagi hari."
"Tetapi jam jagamu bisa diberikan dispensasi kalau kau, sebagai asisten sah dan tetapnya, harus mendampinginya dalam operasi."
"Ya, memang. Arata selalu melakukan itu."
"Tapi hari ini dia tidak."
"Maksudmu?" Midorima menutup bukunya. Ia rasa masalah mulai tak lagi bisa dianggap tak serius. Ada yang janggal, ia rasa.
"Kau, sebagai asistennya, harus selalu ikut dia dalam operasi, 'kan? Untuk kepentinganmu juga."
"Memang seperti itu."
"Tapi kenapa hari ini dia tidak mengajakmu? Arata sedang ada di ruang operasi sekarang, operasi sudah dimulai sepuluh menit lalu. Kukira kau sengaja menghilang karena aku tidak melihatmu masuk ke ruangan itu, makanya kucari kau ke sini."
Gelengan terjadi sesaat sebelum Midorima menjawab, "Aku tidak diberitahu apapun tentang ini."
"Apa kau serius?"
"Ck," Midorima berdecak. Dia membuang muka, memusatkan pandangan pada tirai-tirai pembatas bilik yang menari karena pintu ruangan yang terbuka dengan lebarnya, menganga sepenuhnya. Tirai-tirai itu seakan mengejek dirinya yang mulai sensitif dan menumbuhkan banyak kecurigaan di dalam hati. "Intinya, dia tidak mengajakku kali ini."
"Apa kalian sedang punya masalah?"
"Dari sudut pandangku, tidak. Aku tidak merasa aku pernah mengecewakannya. Aku bekerja sesuai prosedur."
"Wah, aku tidak mengerti, jadinya," rekan Midorima itu mengangkat bahu. "Selamat bekerja, Midorima-san. Aku harus ke tempat kepala ruangan dulu. Ada yang harus dia tandatangani."
Membalas ejekan tarian tirai dengan tatapan tajamnya, Midorima berpikir lebih dalam. Dia mengendus aroma firasat yang buruk, lebih buruk dari bau antiseptik yang paling menyengat sekalipun.
Midorima kembali ke ruangan untuk kesekian kalinya. Dan beruntung, kali ini, dia menemukan Arata. Dia memandang punggung sang atasan sebentar, sambil melempar pertanyaan akan keanehan hari ini padanya lewat tatapan. Mulutnya belum siap membicarakan masalah yang mulai timbul karena dia pikir ini belum waktunya.
Dia berjalan lagi setelah menutup pintu dan menarik napas panjang. Arata tampk membereskan mejanya. Sebentar lagi jam kerja dokter khusus sepertinya akan selesai. Dia senior, dia tak akan kena jam jaga ruang gawat darurat, dan hanya bekerja sesuai dengan jam kerja sesuai ketetapan rumah sakit. Sesuatu yang kadang Midorima ingin dapatkan. Sedikit iri, harus diakui.
"Tinjauan mingguan," Midorima meletakkan map biru ke atas meja Arata. "Mohon, seperti biasa."
"Mm," Arata membuka map itu, lantas segera menutupnya kembali. "Baik. Tunggu. Aku membereskan ini semua dulu," dia menunjuk pada alat-alat kedokteran yang dia punya di atas mejanya.
"Aku akan ke toilet dulu," Midorima kembali meninggalkan Arata. "Toilet cukup jauh, semoga kau sudah selesai ketika aku kembali."
"Hm."
Midorima meninggalkan ruangan lagi, meninggalkan lembar tinjauan mingguan yang harus diisi oleh atasannya langsung, untuk diserahkan pada pembimbing khususnya nanti, berguna untuk keperluan studi lanjutannya dan rekomendasi agar bisa menjadi dokter tetap di rumah sakit tersebut. Suatu isian dan penilaian terhadap kinerja sang dokter muda setiap minggunya, digunakan untuk pemantauan perkembangannya dalam profesi yang dia geluti.
Bermenit-menit setelahnya, Midorima kembali lagi. Toilet untuk poliklinik terletak di ujung deretan ruang-ruang berobat itu. Jauh sekali. Setengah perjalanan, dia bertemu dengan Arata yang sudah menenteng tas di pundaknya.
"Lembarannya kutinggalkan di ruangan," Arata menunjuk ke arah belakang pundaknya dengan ibu jari. "Selamat sore."
Midorima hanya mengangguk. Dia memasuki ruangan dengan agak tergesa, dia harus menyerahkan lembar itu segera sore ini juga karena sang pembimbing khusus hanyalah punya waktu sore ini untuk membahasnya. Dia terpaksa membatalkan janji dengan Momoi—yang masih menjalani istirahat di rumah—hanya karena hal ini. Tetapi Midorima tahu, Momoi tak akan pernah keberatan jika dia menghubungkan alasan dengan pekerjaan atau studinya.
Pemuda itu mengerutkan kening ketika dia tak menemukan map biru di mejanya maupun meja Arata. Apa atasan mudanya itu salah?
Midorima membuka lacinya, loker bersama, lemari kaca, dan meja, bahkan di bawah tempat tidur untuk pasien. Tidak ada sama sekali.
Tetapi ia baru menyadari bahwa ada yang tak biasa di tempat sampah yang biasa,
Map birunya ada di sana. Di atasnya, selembar kertas digumpal, seakan dilakukan dengan tergesa. Tak salah lagi. Ya, kertas itu memang diisi dengan tinjauan yang Midorima harapkan. Tetapi, kenapa harus ada di dalam tempat sampah?
Hal-hal ini membuatnya yakin, ada hal yang lebih buruk daripada sebuah operasi yang gagal.
"Arata?" Midorima mendorong pintu. Poliklinik sudah hampir mendekati jam tutup hari itu, tetapi ternyata masih ada satu pasien yang ingin berkonsultasi, dia telah menunggu di depan. Midorima yang baru kembali dari berurusan dengan Imayoshi, harus mencari atasannya karena orang ini sebelumnya berurusan dengan Arata, bukan dirinya.
"Arata?"
"Apa dia ada?" pasien laki-laki itu bangkit dari tempat duduk untuk menunggu. "Kalau tidak ada, biar aku datang besok saja. Tidak terlalu mendesak juga, aku hanya konsultasi biasa tentang operasi tambahan dan minta saran darinya."
"Mungkin aku bisa membantumu," Midorima duduk di kursinya. "Arata sedang sibuk di luar, sepertinya."
"Aku juga mau berkonsultasi denganmu, sebenarnya, tetapi data-data tentangku ada dengan Arata, kelihatannya dia yang menyimpannya, ya tidak? Atau mungkin dia memberitahu tentang data-dataku padamu?"
Mustahil, putus Midorima dalam hati. Orang itu amat tertutup soal masalah pasien dengannya. Mungkin orang-orang bisa menilai mereka sebagai rekan sesama dokter yang bekerja sama dengan baik dalam praktiknya, akan tetapi, Midorima yakin bahwa semua orang susah percaya bahwa tensi hubungan dia dan Arata lebih dari yang bisa dibayangkan. Intimidasi kerap diberikan padanya, tekanan pun kadang dilancarkan sesekali. Bahkan, Arata tak mau memberi review atas dirinya lebih dari dua paragraf. Nilai akademik Midorima dipertaruhkan.
"Ya, dia yang menyimpan," Midorima membenarkan letak kacamatanya. "Maaf, sepertinya Anda baru bisa menemuinya esok."
"Baiklah, tidak apa-apa. Terima kasih, Dokter Midorima, saya permisi," pemuda itu membungkuk, lantas mundur teratur meninggalkan area sana. Midorima menarik napas. Sepuluh menit lagi jam tutup, dia pikir tak apa-apa menaruh papan tanda tutup di bagian depan pintu lebih cepat beberapa saat. Dia harus mencari Arata untuk membicarakan hal ini.
Dia sudah akan pergi sampai dia menemukan suatu tulisan mengejutkan di papan tulis kecil yang digantung di samping lemari peralatan kedokteran.
Jadwal Operasi: 4/26, Pasien: F. Shindou, 1:25 PM.
Itu artinya lima menit lagi. Midorima menahan napas. Dia melupakan sesuatu yang amat penting! Bergegas dia keluar dari ruangan dan menguncinya, tanpa repot-repot memajang tanda bahwa poliklinik bagian bedah sudah ditutup. Dia melesat pergi meninggalkan lorong itu, berbelok melewati taman kecil dan menuju bagian lain dari rumah sakit yang khusus, yang pada bagian depannya terpajang tulisan besar menyala 'Area Ruang Operasi', disertakan pula sebuah peringatan bagi para orang-orang yang tak berkepentingan agar menjauh.
Arata melintas dari sisi kanan. Sambil berjalan cepat, dia memasang sarung tangannya.
"Arata!"
"Hm?" Arata menoleh, dia tersenyum tipis, namun matanya tak bisa berbohong tentang kenyataan bahwa ia tak suka ditemui di saat-saat seperti ini.
"Maaf," Midorima mengujarkan kata yang sesungguhnya amat jarang dia lontarkan. "Aku lupa bahwa aku harus membantu operasi sore ini. Urusanku dengan Imayoshi baru selesai."
"Operasi apa?"
"Kau ..." Midorima mengernyitkan kening. "Bukankah sekarang kau akan melakukannya?"
"Iya, ini memang operasiku," Arata mengangkat bahu. Bunyi karet dari sarung tangan yang ia kencangkan terdengar keras. Seolah, dia sengaja melakukannya dengan terang-terangan untuk melampiaskan rasa yang negatif. "Tapi bukan untukmu."
Arata masuk melalui pintu utama dan meninggalkan Midorima dengan langkah cepat, tanpa memberi kesempatan untuk sanggahan barang sesaat. Dia mendengus diam-diam, dan menolak untuk menoleh.
Midorima ingat, dalam ketentuan yang dia tahu, dalam aturan lokal rumah sakit yang harus diterima dirinya dan Arata, ada pasal yang mengujarkan bahwa seorang asisten dokter sepertinya, tidak boleh dipisahkan dengan sang dokter pembimbing dalam kegiatan apapun yang berkaitan dengan pekerjaan dan bidang mereka masing-masing. Mereka harus saling membantu dan menjalankan tugas secara bersama-sama dan harus melibatkan satu sama lain, demi kebaikan bersama dan keperluan si asisten dokter sendiri.
Nyatanya, Arata telah melanggarnya hari ini.
Operasi hari ini berjalan lancar, walaupun tanpa kau. Lihat? Aku tetap bisa sendiri. Aku tidak perlu kau. Heh, memangnya kau siapa? Kau cuma orang yang ingin mendapat profesi tetap dengan cara melobi pemilik rumah sakit, ayah pacarmu itu.
Midorima mematikan layar ponselnya dengan tekanan keras, serta langsung meletakkannya ke atas meja tanpa mau repot-repot memikirkan balasannya. Dia hanya ingin tidur sekarang.
"Aku tahu, Midorin," clak, garpu itu diletakkan lagi ke atas piring. Jari-jemari Momoi yang lain mulai mengetukkan meja. Mata tajamnya menyembunyikan ketelitian yang besar di balik warna mawarnya yang kadang menipu orang-orang. Menipu; membuat orang-orang mengira bahwa dia adalah wanita lembut yang rapuh—padahal, dia peneliti yang tangguh.
"Tsk."
"Semua terlihat dari bahasa tubuhmu."
"Tch."
"Midorin tidak bisa diam dari tadi. Steak yang kaupesan baru tersentuh sedikit. Midorin gelisah, sesekali melihat ke kiri atau kanan. Ini bukan Midorin yang biasa."
Midorima melepaskan embusan napas yang berat. "Tidak ada apapun yang perlu kau khawatirkan."
"Bohong."
"Ti—"
"Berhenti membohongi dirimu sendiri," Momoi memotong daging lagi, dan melahapnya dalam sekali suapan yang besar, "Dan aku."
Momoi pun tersenyum kecil. Entah apa maksudnya, bahkan Midorima sendiri tidak mengerti. Gadis itu kemudian mengangkat tangannya, mengetukkan telunjuk pada apa yang melingkar dan mengkilat di salah satu jarinya. "Jadi ... cincin ini bukan bukti untuk saling mempercayai satu sama lain? Bukan bukti bahwa kita akan berbagi masalah?"
Midorima memperlihatkan rasa bersalah lewat pandangannya, namun belum mau juga buka suara. Momoi telah selesai dengan makannya, dan jus jeruknya ia habiskan hingga separuh gelas lebih. "Aku mau ke toilet dulu. Setelah aku kembali, kuharap Midorin mau menceritakannya padaku."
Ketika gadis itu berdiri, ternyata Midorima ikut berdiri juga.
"Mau ke toilet juga?"
Midorima merapat, "Seseorang di sini mungkin butuh bantuan untuk menjaga dirinya," dia berkata tanpa memfokuskan mata pada Momoi, hanya mengujarkannya sambil menaikkan letak kacamata ke puncak hidungnya.
Momoi tertawa kecil, "Ayolah Midorin, meskipun aku masih cuti bekerja, aku sudah baik-baik saja. Bahkan, aku bisa jalan-jalan keluar begini. Aku bukan anak kecil yang harus kau jaga."
Lelaki itu kemudian menambahkan lagi, "Aku tidak bermaksud sepenuhnya untuk itu. Aku harus menceritakan sesuatu yang tidak bisa kubeberkan di tengah umum."
"Mm, begitu rupanya. Baiklah."
Midorima berjalan bersisian dengan Momoi, lantas berhenti di depan ruang yang berisi bilik-bilik toilet khusus wanita. Kebetulan sekali, area sana sepi dan hanya ada satu orang keluar dari ruangan sebelah.
Tak butuh waktu lama bagi Midorima untuk menunggu, Momoi menyelesaikan urusannya dengan cepat. Sambil bersandar pada tembok di seberang Midorima, Momoi menatapnya dengan lembut. "Ceritakanlah. Aku siap mendengarkan."
Sedikit menunduk, Midorima melipat tangannya, "Arata. Ini ada hubungannya dengan dia."
"Oh, Arata-san? Aku tahu orang itu. Dia, waktu masih jadi asisten dokter sepertimu, sering datang ke kantor ayah. Aku sering bertemu dengannya secara kebetulan di sana. Aku juga sempat berkenalan. Kenapa dengannya?"
"Dia menekanku."
"Menekan bagaimanna?"
"Aku yakin dia membenciku. Dia mengabaikanku, meninggalkanku dalam beberapa kali operasi—itu melanggar peraturan. Dan dia membuang kertas tinjauan mingguanku ke tempat sampah. Dia tidak menginginkan keberadaanku. Dia menyebutku melobi ayahmu."
Mata Momoi terbuka lebar.
"Dan dia tahu hubungan kita."
"Tunggu, tunggu," Momoi menyanggahnya. "Aku tidak menyangka dia bisa sampai seperti itu. Kau tidak berbuat kesalahan apapun padanya, 'kan?"
"Aku tidak sebodoh itu untuk menyinggung atasanku sendiri hingga dia menjadi sentimen padaku."
"Mm, kukira, pada awalnya," Momoi menjeda sebentar, mengetukkan telunjuknya pada dagu. Selembar plester luka masih menempel di sana, masih baru. Midorima baru saja memperhatikannya. "Dia adalah orang baik. Apalagi yang dia lakukan padamu, Midorin?"
"Sejauh ini, baru sampai di situ. Tapi kita tidak akan pernah menduga apa yang akan dia lakukan. Dia ingin menyingkirkanku. Kelihatannya dia juga tak suka aku menjadi dokter tetap di sini. Jangan-jangan karena dia tahu bagaimana caraku masuk ke rumah sakit itu."
"Midorin ..." Momoi menggigit bibirnya. "Maaf—"
"Ini bukan kesalahanmu. Tidak ada sangkut pautnya dengan kau."
"Tetapi akulah yang melakukan ini untuk Midorin—"
Midorima menggeleng. "Tapi sisanya semua terjadi juga karena usahaku. Aku tidak mengetahui usahamu pada awalnya, aku mencoba berusaha keras, dan itu tidak masalah."
Kelopak mata Momoi merendah, lantas terpejam. "Oke. Aku mengerti. Aku akan membantumu mengatasi ini," dia mengembuskan napas panjang. "Midorin, kurasa kita harus kembali ke meja. Kakiku masih kurang kuat berdiri lama-lama."
"Oh," Midorima berhenti bersandar, dia maju. Tangannya mendorong lengan Momoi, "Ayo."
"Aku bisa jalan sendiri, kok."
Midorima tidak memberi tanggapan. Dia hanya diam sambil terus menggiring Momoi.
"Mm, Midorin, ngomong-ngomong soal hubungan ..."
"Ya, dia tahu hubungan kita."
"Bukan, aku tidak membahas itu," Momoi mengangkat tangan kirinya. "Maksudku, ini," dia mengetukkan telunjuknya pada benda mengkilat yang terpasang dengan rapi di sana. "Hubungan kita ini apa? Apa yang kemarin benar-benar bisa disebut sebagai pertunangan?"
"Sudah kubilang," Midorima lagi-lagi melakukan sesuatu pada kacamata berbingkai hitamnya. "Terserah kau menganggapnya seperti apa. Aku tidak mau kau mempermasalahkannya dari segi apapun."
"Tapi apa kau yakin itu pertunangan?" Momoi memandang Midorima lekat-lekat. Namun sayang, pemuda itu tak membalas tatapannya. "Pertunangan itu, setahuku, adalah acara yang rumit dan penuh persiapan. Itu adalah tanda ketika kau sudah siap dengan seseorang, Midorin. Apa kau yakin kau siap denganku? Apa kau pernah memikirkan tentang pernikahan sebelumnya? Apa aku wanita yang benar-benar ingin kau nikahi? Pikiranmu mungkin lebih sederhana dari ini, tetapi sebagai wanita, aku perlu tahu ini semua untuk apa."
"Bukankah aku sudah menjelaskan padamu?" Midorima mendelik sesaat. Matanya beralih lagi ketika dia rasa dia tidak bisa menatap Momoi sekarang, atau dia akan terlihat seperti bukan dirinya yang biasa. "Aku hanya ... tidak ingin kehilanganmu. Karenanya, aku mengikatmu."
"Kurasa kita harus membicarakan ini dengan serius."
"Apa yang ingin kau minta dariku?"
"Kepastian," jawab Momoi tegas, ekspresi wajahnya menunjukan perubahan yang tak dinanti Midorima. "Dan jawaban atas semua pertanyaan tadi."
Midorima menarikkan kursi Momoi, mempersilahkan gadis itu duduk duluan, lalu dia duduk pula di tempat dia sebelumnya, tepat di seberang si wanita. "Aku ... tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Aku belum pernah tahu bagaimana rasanya. Aku tidak pernah mengerti bagaiman berhubungan dengan lawan jenis."
"Hmmm?"
"Jadi aku tidak mengerti jatuh cinta itu rasanya seperti apa. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang kurasakan."
"Lalu?" Momoi masih menunggu.
"Aku benar-benar bodoh tentang ini."
"Hm, biar kubantu memancing perasaanmu sendiri, agar ktia sama-sama tahu. Dan yakin. Dan demi kebaikan kita berdua," Momoi memainkan garpunya di atas piring, membunyikannya suka-suka. Tangannya yang lain menopang dagunya. "Mencintai seseorang itu adalah ketika kau tidak ingin kehilangannya, ketika kau ingin memilikinya, bersamanya, dan segala tentangnya adalah hal yang bisa membuatmu tenang atau bahkan tersenyum. Jika kau setidaknya mengalami separuh dari syarat-syarat yang kusebutkan, berarti kaujatuh cinta, Midorin."
Pelayan-pelayan berlaluan di samping mereka dan di depan mata Midorima. Matanya mengikuti gerak para pekerja yang tangkas itu, tetapi pikirannya tetap pada satu poros; pada definisi perasaannya sendiri, sambil mencocokkannya dengan persyaratan yang dijabarkan Momoi.
"Kurasa, jawabannya adalah 'ya'."
Maka, Momoi pun tersenyum. Dari caranya meletakkan tangan di atas meja, dia mulai rileks, tampaknya. "Berarti, kita bisa disebut ... pacaran?"
"Aku tidak suka istilah yang terlampau umum itu."
Sang pasangan tertawa kecil. "Tunangan, kalau begitu?"
"Aku tidak mau memikirkan sebutannya."
Momoi cuma bisa tertawa lagi. Menghadapi Midorima yang punya sifat tak biasa begini adalah hal yang umum bagi kesehariannya.
Jika dirunut ke belakang, Midorima hanyalah orang asing yang kebetulan dia temui di sebuah pertunjukan, yang kemudian akrab dengannya, namun kembali jadi asing setelah jarak dan berbagai hal memisahkan mereka. Tetapi apa yang terjadi sekarang membuat hati Momoi terangkat, melayang ke suatu wadah yang tak pernah dia duga. Ditunangi di ranjang rumah sakit adalah peristiwa yang luput dari perkiraannya.
Sebagai wanita yang suka membayangkan banyak hal tentang masa depan, dia memimpikan peristiwa pertunangan yang seperti kebanyakan dilakukan, di sebuah taman atau ballroom, atau hall sebuah hotel yang prestisius, berikut dengan tamu-tamu yang dia kenal dan sayangi untuk ia bagi kebahagiaan pada hari itu. Tetapi, yang ada adalah yang bertolak belakang.
Dan, lelaki yang ia dapatkan adalah yang romantis, yang pintar menopang pendirian dirinya dengan kata-kata motivasi yang manis serta bisa menyangganya ketika dia haus akan kasih sayang. Nyatanya?
Bahkan dirinya sendirilah yang harus meyakinkan bahwa lelaki itu sedang jatuh cinta. Takkan ada kata-kata romantis karena lelaki ini pun pasti tidak tahu bagaimana cara termudah untuk meluluhkan hati wanita.
Namun, semua yang di luar ekspektasi itu sekarang tidak membuatnya kecewa atau menyesal. Dipilih oleh orang yang dia senangi adalah sebuah anugerah. Dia memang belum yakin, apakah dia benar-benar mencintai Midorima, tetapi yang jelas, dia juga tak ingin merasakan kehilangan. Syarat itu sudah cukup menjadi penjelas baginya untuk membuatnya sadar bahwa dia tak menganggap Midorima biasa dalam hidupnya.
Baginya, tak perlulah memikirkan tentang perasaan. Pasti ada jawaban seiring waktu berjalan.
"Baiklah, Midorin, sekarang sudah jelas, kita adalah dua orang yang menjalani hubungan dengan serius, bukan? Jangan ragu untuk membahas perasaan satu sama lain, kalau begitu. Mengerti."
"... Hn."
"Aku milikmu, dan kau milikku. Kita berjanji untuk bersama, kita sudah yakin bahwa kita akan menikah suatu hari nanti, entah cepat atau lambat, dan kita tahu bahwa kita saling membutuhkan dan tidak ingin kehilangan satu sama lain, bukan? Apa ada yang salah dengan kesimpulanku?"
"Kurasa tidak," Midorima menyembunyikan wajahnya dengan menutupinya dengan dalih membenarkan letak kacamata. "Terima kasih sudah menjelaskan."
Momoi tersenyum manis. "Baik, kita bisa bahas tentang pertunangan dan pernikahan lain kali, oke? Sekarang kembali ke masalah Midorin dan Arata. Aku punya rencana."
Sementara membahas hal barusan, Momoi masih sempat memikirkan hal lain—fakta yang membuat Midorin sedikit heran.
"Ini masalah internal aku dan Arata. Kuharap kau tidak melibatkan orang lain dalam masalah ini."
"Sayangnya, Midorin, aku ingin meminta sesuatu pada ayahku."
"Tidak."
"Hei, ini satu-satunya jalan keluar termudah."
"Dia akan makin membenciku."
"Selalu ada jalan tengah yang tidak merugikan kedua belah pihak, Midorin, kurasa inilah caranya."
"Tetapi kalau sudah melibatkan ayahmu, dia hanya akan makin memojokkanku."
"Dengarkan rencanaku dulu," Momoi menenangkan. "Dia menurut dengan ayahku. Dia mau mendengarkan. Tinggal kuminta saja ayahku untuk mengobrol dengannya dan membicarakan tentangmu. Akan kupandu pembicaraan itu. Akan kubuat ayah membicarakan tentangmu, menanyakan tentang hubungan kalian, dan meminta agar kalian tetap akur sampai masa magangmu selesai. Ketika masa itu sudah selesai, ayahku akan membuat paman memutuskan bahwa sebaiknya kalian dipisahkan. Entah menjadikanmu dokter tetap di sini dan memberikan dia posisi yang lebih tinggi di cabang rumah sakit yang lain, atau sebaliknya. Aku bisa membantu mengaturnya."
Midorima menatap Momoi lagi, sambil pelan-pelan menghabiskan makan malamnya. Masih saja dia mengembuskan napas yang lelah. "Aku akan mempertimbangkannya."
"Hmh, setahuku, kalau Midorin tidak menjawab 'ya', dia tidak akan melakukannya."
"Ck."
"Ya 'kan?"
"Aku ingin menyelesaikannya sendiri."
"Memikirkannya sendiri pun Midorin kelihatan gelisah sampai menjadi sangat berbeda begitu, bagaimana mau menyelesaikannya sendiri? Bukan cuma kau yang memahami dirimu sendiri, Midorin. Aku sedang ingin melakukan kebaikan untukmu."
"Kau sudah melakukan banyak hal untukku."
"Maka biarkanlah aku melakukannya lebih banyak. Aku tidak perlu alasan khusus untuk melakukannya, jadi kau juga tidak perlu alasan khusus untuk menerimanya,."
Midorima yakin, bahwa hatinya sedang mengatakan hal lain selain 'kagum' belaka. Dia tak bisa mendeskripsikannya secara tepat, namun dia bisa membaca terjadinya suatu hal yang berbeda dan belum pernah terjadi sebelumnya.
"Atau, ada satu jalan lain. Ganti dokter pembimbing saja."
"Itu merepotkan," Midorima menggeleng. "Prosedurnya amat panjang dan bisa jadi itu akan menghalangi tugas-tugasku di rumah sakit."
"Mm, begitu. Baik. Itu artinya kau juga tidak bisa dipindahkan ke bagian lain, ya 'kan? Bagian Imayoshi-san, misalnya. Dia spesialis ortopedi dan membutuhkan asisten yang juga mengerti soal pembedahan. Seingatku, asisten yang dia punya adalah perempuan dan sudah menikah. Mungkin punya dua asisten tidak apa-apa baginya, karena asisten perempuan biasanya tidak lebih fleksibel soal waktu kerja dibandingkan laki-laki. Apalagi, Midorin 'kan masih single, hihihi~"
"Itu memang bisa, tetapi sama merepotkannya."
"Tidak ada cara selain mendamaikan kalian, kalau begitu, ya tidak?"
"Kurasa."
"Hmmm," Momoi mengetukkan jemarinya dengan nada yang khas di atas meja. Hal yang sama dia lakukan pula pada pelipisnya. "Maaf, aku harus main licik kali ini. Aku harus menemukan titik lemahnya."
Diam-diam, salah satu sudut bibir Midorima terbawa ke atas. Senyum tipis yang tak terlalu tampak itu terlukis sekian lama. Walau, amat samar.
"Ah, kurasa aku menemukan caranya. Nanti kuceritakan."
"Seperti apa?"
"Nanti," senyuman Momoi misterius. "Aku akan membicarakannya dengan ayahku dulu, baru kuberitahu Midorin kalau hal itu disetujui, oke? Serahkan saja padaku."
Midorima mengangguk satu kali. Diam-diam, ujung jarinya yang ada di atas meja menyentuh ujung jari Momoi yang berada di dekat gelas. Sentuhan itu selembut angin, hampir tak disadari Momoi, tetapi Midorima mulai merasa lebih tenang.
"Kau jalan-jalan keluar lagi?"
Momoi melemparkan dirinya di sofa. Meski dia lelah setelah perjalanan dengan kereta paling malam menuju rumah orang tuanya itu, dia tetap tidak ingin tidur. Ibunya tengah membuatkannya teh di konter, dan ayahnya duduk menemaninya di sofa begitu dia menempati posisi itu.
"Cuma dengan Midorin, kok. Dia cuma mengajakku makan. Jarang-jarang, Bu, dia bisa diajak keluar belakangan ini. Dia makin sibuk. Kasihan dia, matanya mulai berkantung. Begitu, ya, rasanya jadi dokter magang."
Sang ibu menaruh cangkir teh beserta tatakannya di atas meja, tepat di depan Momoi, namun dia tak ikut duduk, "Ibu siapkan kamarmu dulu. Spreinya baru ibu cuci, yang baru belum dipasang."
"Mm, ya, terima kasih~"
Momoi pun menoleh pada ayahnya. "Ayah, ada yang ingin kubicarakan."
Perhatian sang ayah tertarik sebentar pada sesuatu yang memantulkan cahaya di jari Momoi. Rasa ingin tahu langsung menguasai pikirannya.
"Besok saja. Istirahatlah malam ini."
"Oke, oke, baiklaaaah~ memang ini agak panjang ceritanya, sih. Jadi, tolong dengarkan ini baik-baik besok, Ayah!"
Alasan bahwa Momoi adalah putri tunggalnya, lelaki itu hanya bisa mengangguk dan menahan sementara rasa curiga dan rasa penasaran yang mulai menguasai hatinya.
"Halo?" Momoi menyambut panggilan itu dengan suara yang agak direndahkan. Kalau ibunya tahu dia sudah masuk kamar namun belum tidur, bisa-bisa dia menjadi sasaran nasihat panjang-lebar dari ibu yang sudah seminggu tak ditemuinya itu. "Ada apa Midorin?"
"Besok aku akan datang ke rumahmu. Sore, setelah pulang shift. Aku akan ikut membicarakan itu dengan ayahmu. Sebuah kelancangan jika aku membiarkan kau berbicara sendiri, sementara itu adalah masalahku."
Momoi tersenyum sambil memainkan sudut bantalnya yang beraroma mawar—parfum khusus laundry yang baru, pikirnya pasti. "Baik. Kutunggu, ya. Baguslah kalau Midorin berpikir begitu. Aku sama sekali tidak memikirkannya, lho."
"Sampai jumpa besok. Kembalilah tidur karena aku tidak akan menggangumu lebih lama lagi."
"Mmm, aku belum tidur, sebenarnya. Aku menemukan koleksi buku lama yang menarik."
"Selamat malam."
"Selamat malam, Midorin, mimpi indah—"
"Hm."
"Midorin memotong kalimatku!"
"Ada yang perlu kudengar lagi?"
"Ada."
"Katakan."
Momoi meyakinkan diri. "Aku ... aku sayang Midorin."
Bagi seseorang yang menanti seperti Momoi, waktu jeda itu terasa lama sekali. Dia menunggu dengan gelisah.
"Ya. Uhuk—juga."
Momoi menahan tawanya dengan susah payah. Setelahnya, Midorima langsung menutupnya, dan barulah Momoi bisa melepaskan gelak tawanya. Midorima memang benar-benar tidak cerdas dalam melucu, tapi kadang tingkahnya pun bisa dijadikan bahan hiburan. Momoi bertaruh pasti wajahnya benar-benar lucu dan merah.
Ah, kapan dia terakhir kali mengatakan 'aku sayang kau' pada seseorang, ya? Momoi tidak benar-benar mengingatnya. Dan pertanyaan yang selanjutnya muncul di benaknya adalah; apakah dia pernah jatuh cinta juga sebelumnya? Apa dia ingat bahwa dia pernah menyatakan rasa sayang dengan tulus seperti ini?
Tak peduli dia pada pernah atau tidaknya. Yang jelas, sekarang dia bahagia.
Midorima datang tepat waktu. Bahkan, dia belum mengganti kemeja kerjanya. Dia memang langsung berangkat setelah pulang dari rumah sakit. Dia benar-benar memanfaatkan hari tanpa shift malam yang dia punya. Momoi menjemputnya di depan pagar, dan langsung memintanya masuk dengan menggiring Midorima dengan meletakkan tangan pada punggung Midorima.
Ibunya sedang tidak ada di rumah. Kliennya mengajukan sebuah pertemuan penting yang tidak bisa diabaikan. Terpaksalah ibunya tidak bisa bertemu Midorima sore ini.
Hanya ayahnya yang sudah menanti di ruang tamu. Bahkan, Momoi telah menyiapkan minuman dingin dan beberapa makanan ringan di atas meja sebagai penyambut.
"Duduk, Midorin."
Midorima membungkuk hormat pada ayah Momoi. Laki-laki yang sedari tadi menghabiskan waktunya dengan membaca koran pun mengangguk.
Wajahnya ramah dan tenang, sampai dia memperhatikan kesamaan antara kedua orang yang duduk di hadapannya ketika mereka duduk bersisian.
Cincin, tentu saja. Semakin dia perhatikan, semakin jelas fakta bahwa kedua perhiasan itu amat mirip satu sama lain. Baik dari bentuk, posisi permata, warna, dan modelnya. Nyaris tak bisa ditemukan perbedaan apapun. Keningnya mulai mengernyit.
"Hmmm, apa boleh kami mulai menceritakannya sekarang?" Momoi memecahkan kesenyapan dengan suara rendah nan sopan.
Alis sang ayah terangkat, "Baiklah, tapi setelah aku menanyakan sesuatu pada kalian?"
"Apa, ayah?"
"Kenapa kalian bisa memakai cincin yang sama persis?"
Momoi tersentak, dan Midorima mendelik cepat pada Momoi. Mereka berpandangan sesaat, ketika Momoi mengangguk, Midorima akhirnya membalasnya dengan mengembuskan napas panjang.
"Kami ... semacam, yeah, semacam bertunangan."
Jawaban Momoi mengubah ekspresi ayahnya.
Midorima memberi afirmasi berupa anggukan singkat.
"Bertunangan?"
"Begitulah," Midorima angkat bicara, karena dia yakin dia tak boleh selamanya diam dan hanya membuntuti perkataan Momoi dengan anggukan atau ujaran persetujuan yang pasrah begitu saja.
"Bertunangan, kata kalian? Kalian melakukan sesuatu yang penting tanpa melibatkanku? Apa yang terjadi hingga kalian melakukannya tanpa melibatkan orang penting?"
Suasana langsung berubah, seketika, dan membuat mulut keduanya terkunci. Masalah Midorima tenggelam dari pikiran mereka berdua, tergantikan oleh buih permasalahan yang baru lagi, yang lebih besar.
Yang mereka rasa sebagai bagian dari kecerobohan mereka sendiri.
tbc.
A/N: biar kujelaskan sedikit tentang kerjaannya Midorima.
Poliklinik rumah sakit buka setengah hari, sampai siang. Midorima ikut jadi asisten dokter di sana, dan karena dia masih dokter magang, dia masih diwajibkan untuk jaga di UGD di sore atau malam hari, tergantung jadwal. Sistem poliklinik yang buka sampai siang itu kucontek dari rumah sakit di kotaku, tapi yang lain-lainnya kubuat sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan plot. Kalau ada yang beda dengan kenyataan aslinya, silahkan berbagi hehe. Soalnya aku magang di rumah sakit dulu bukan sebagai praktisi kesehatan, jadi aku nggak mengetahui sampai ke akarnya.
