Evergreen

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.

Pairing: Midorima Shintarou/Momoi Satsuki. Genre: Romance/Family. Rating: K+.

(Di saat Midorima Shintarou harus mengakhiri karir pianonya, dia bertemu dengan penari balet yang bernasib sama dengannya, Momoi Satsuki. Karir mereka harus diakhiri karena alasan keluarga. Kemudian, hidup mereka berubah. Namun tetap dipertemukan dengan orang yang sama.)


"Midorima Shintaro," panggilan itu malah menjadi sebuah horor bagi Midorima. "Apa yang sudah kaulakukan pada putriku sampai-sampai kalian merahasiakan ini semua?"

"Tidak ada, ayah, kami—"

"Aku tidak bertanya padamu, Satsuki. Aku menanyakan itu padanya, harusnya dia punya lebih banyak keberanian untuk berbicara dengan seseorang yang penting, yang lebih tua darinya."

Momoi menunduk. Midorima menelan ludah. Setelah satu kali membetulkan letak kacamata, akhirnya keberaniannya terkumpul. Dia mulai buka suara. "Saya tidak melakukan hal yang di luar batas dengannya. Saya dan dia baik-baik saja, hubungan kami sebelumnya hanya sebatas teman saja, kami juga tidak pernah melakukan hal yang macam-macam. Saya ... saya merasa dia orang yang cocok untuk saya dan ... semuanya terjadi."

"Di mana kalian bertunangan? Kenapa tidak memberitahu ayah, Satsuki?"

"Di rumah sakit," Midorima menjawab mantap. Entah dari mana sumber keberanian yang lebih banyak itu datang. Dia hanya merasa bersalah melihat Momoi terpojokkan oleh ayahnya sendiri, sementara dia adalah laki-laki di sini. Meyaksikannya saja adalah kebodohan. Dia harus melindungi. "Ketika dia selesai menjalankan operasi."

"Waktu yang bodoh. Momentum macam apa yang kau manfaatkan itu, apa kau sadar? Apa yang mendasarimu melakukannya? Kau dokter. Kau pasti cerdas dan bisa mempertimbangkan hal rumit di luar ilmu kedokteran semata. Kau seperti anak kecil, apa-apaan itu."

"Maafkan ... kami," Momoi mencoba bersuara, meski rendah dan agak serak.

"Aku tidak marah secara spesifik padamu, Satsuki. Yang kupertanyakan keberaniannya adalah anak ini. Dia laki-laki. Dia mengambil seorang anak perempuan dari orang tuanya, dari ayahnya. Tapi dia tidak melakukannya dengan meminta izin terlebih dahulu. Tidakkah kalian mengerti, bahwa bertunangan itu adalah hal sakral yang harus diketahui dan disetujui oleh kedua orang tua kedua pihak sekaligus? Bertunangan itu adalah langkah final sebelum pernikahan, lantas, kalian terlihat seperti meremehkannya dengan melakukannya sendiri tanpa diskusi apapun."

Midorima mencoba menenangkan diri sambil menarik napas panjang. Namun, belum juga dia sempat mengujarkan barang sepatah kata, Tuan Momoi segera melengkapi tumpahan kekecewaannya.

"Aku merasa tidak dihargai."

Momoi menggigit bibirnya kuat-kuat. Suasana benar-benar berganti menjadi lingkupan atmosfer yang benar-benar tidak enak, sekacau setimba air yang diaduk-aduk dengan gila. Ulu hatinya sakit memikirkannya. Dengan susah-payah, dia menahan luapan emosi yang telah siap turun dari matanya, gigitan pada bibirnya semakin dalam.

"Aku kecewa. Pulanglah, Shintarou. Pikirkan kembali apa yang telah kau perbuat. Dan Satsuki, kau tidak akan kembali ke Tokyo sebelum semua ini diluruskan."

"Tapi ..."

"Introspeksi diri kalian."

Kalimat dingin tersebut adalah penutup pertemuan sore yang tiba-tiba menjadi menegangkan itu, ayah Momoi langsung meninggalkan ruang tamu tanpa memberi kesempatan apapun bagi keduanya untuk mempertahankan diri. Momoi dan Midorima saling berpandangan—Midorima bisa melihat genangan di sudut mata Momoi, hal yang membuatnya makin merasa bersalah.

Momoi menyambar Midorima dalam sebuah pelukan yang erat, "Maafkan aku dan ayah, Midorin, ini di luar perkiraan—"

"Tidak," sanggah Midorima, melonggarkan pelukan Momoi pada dirinya. Perlahan, dia lepaskan tubuh Momoi, namun masih memandang matanya. "Ini salahku. Ini keputusanku yang ceroboh. Aku tidak mempertimbangkan banyak hal. Ayahmu benar, aku hanya memutuskannya secara sepihak."

"Tidak, tidak, tidak," Momoi menggeleng. Dengan cepat dia mengusap pipinya agar tak terlihat payah karena menangis. "Ini ... mungkin bukan kesalahan siapapun, ini cuma kesalahpahaman yang pasti bisa segera selesai," Momoi menjulurkan leher untuk memeriksa, apakah ayahnya terlihat dan sedang melihat. Oh, tidak. Dia merasa sedikit tenang. Dia segera berdiri sambil menggenggam pergelangan tangan Midorima, lantas membawanya berlari ke luar.

Momoi berhenti di teras. Berdiri di depan Midorima, dia mengambil kedua lengan lelaki itu ke dalam genggamannya. Lengan kemeja Midorima mengumal, genggaman Momoi cukup erat, lebih pada usaha pelampiasan emosi ketimbang keinginan untuk memperlihatkan perhatian.

"Ayah adalah tipe yang menahan kemarahan. Dia tidak biasa melampiaskannya dengan berlebihan. Dia akan diam selama beberapa waktu, kemudian mulai membicarakannya lagi setelah dia agak tenang dan kepalanya mendingin. Aku jamin itu, Midorin, aku akan menyelesaikan kesalahpahaman ini sesegera mungkin agar masalahmu yang lain juga bisa diselesaikan dengan cepat."

Midorima menutup mata. Dia balas menggenggam tangan Momoi, amat kuat, untuk kemudian melepaskannya kembali. Dia sadar, masih ada beberapa luka di sana yang harus dia pedulikan, kalau tidak Momoi akan lebih terluka lagi. Momoi sudah punya luka batin, Midorima tidak ingin membuat luka fisiknya kambuh kembali.

"Kau sudah terlalu banyak melakukan sesuatu untukku."

"Karena aku mencintai Midorin. Aku menyayangi Tuan Piano-ku."

Sekelebat ingatan tentang tarian putri angsa dan musik klasik yang mengiringi membayangi pandangan Midorima.

"Apa ... yang harus kulakukan untuk ini?"

"Percayakan padaku," Momoi mengangguk cepat. Dia mulai tersenyum. "Ayah bukan orang yang kejam. Aku anak satu-satunya, dia pasti punya banyak pertimbangan kalau dia ingin memutuskan kita hanya gara-gara dia merasa tidak dihargai," Momoi bersuara rendah. "Aku ... aku yakin itu."

"... Semoga."

"Ya ... semoga. Aku akan bicara lagi dengan dia ... nanti," Momoi mengangguk lagi, dia kelihatan berusaha meyakin-yakinkan dirinya sendiri. Tak bisa dipungkiri, ada ketakutan yang juga mulai melesak di dalam batinnya. Bagaimana jika sang ayah benar-benar marah dan tersinggung serta langsung memerintahkan mereka untuk mengakhiri hubungan? Memang, tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya ayahnya akan sekejam itu, tetapi ... ini sudah menyangkut kehidupan putri semata wayang dari seorang ayah yang amat menyayangi anaknya sendiri. Posesifitas seorang ayah juga termasuk faktor yang harus diperhitungkan. Momoi menciut.

Momoi melepaskan embusan napas panjang. Dia berusaha tersenyum untuk mengurangi ketegangan dirinya sendiri, "Semua akan baik-baik saja. Midorin pulang saja dulu. Nanti kukabari lagi."

"... Baiklah."

"Hati-hati di jalan ... maaf, ya ... jadinya seperti ini."

"Aku tidak akan menerima kata maaf lagi. Itu tidak pantas diucapkan oleh orang yang tidak bersalah."

Momoi tersenyum masam. "Yah ... terima kash sudah mengingatkan. Telepon aku nanti kalau sudah sampai di rumah, ya. Langsung istirahat. Besok Midorin punya shift malam, 'kan? Jangan lupa makan. Vitamin yang kubelikan, masih ada, 'kan?"

"Ya ..." Midorima mulai memasang kembali sepatunya, menuruni teras dengan pelan, dan melangkah melewati halaman. "Aku pergi."

"Hmm."

Midorima melangkah dengan kecewa. Rasa sakit bersarang makin ganas di hatinya. Datang dengan maksud menyelesaikan masalah pertama, pulangnya masalah itu malah berkembangbiak.

Tetapi, langkah Midorima dihentikan tiba-tiba dari belakang. Tarikan pada pergelangan tangannya membuatnya tersentak dan refleks berbalik.

Namun, dia berbalik bukan untuk sesuatu yang sia-sia. Sebuah ciuman mendarat di pipi kanannya tanpa pernah dia duga.

"Aku sayang Midorin."

"Hn ... ya."

Senyum Momoi adalah suguhan terakhir sebelum dia menjauh meninggalkan pagar. Setidaknya, Midorima bisa melangkahkan kakinya dengan lebih ringan sekarang, meski pada pundaknya masih tersangga beban yang berat.


Momoi menyusuri rumah setelah dia terbangun lagi. Setelah Midorima pulang, dia segera masuk kamar dan mengunci diri untuk segera tidur sebelum otaknya memikirkan lebih banyak hal lagi yang hanya akan membuatnya menangis. Dia menjelajahi ruang demi ruang secara diam-diam, mencari di mana ayahnya. Akhirnya, dia menemukan beliau di ruang kerja dengan laptop di hadapan. Momoi mundur, tidak bermaksud mengganggu. Dia tidak berani. Kalau ayahnya masih menutup mulut dan tidak mulai bicara duluan, maka itu pasti artinya ayahnya masih belum bersedia membicarakannya lebih jauh.

Momoi tahu, yang ceroboh adalah dirinya dan Midorima. Sekarang bukanlah waktu untuk membereskannya. Dia rasa dia memang harus mundur saat ini, hanya untuk menyusun kata-kata yang baik agar bisa meluluhkan suasana.

Gadis itu sudah akan berbalik ketika ayahnya memanggilnya.

"Satsuki."

Oh, rupanya beliau menyadari keberadaannya. Tidak Momoi duga.

"Y-ya?"

"Masuk."

Langkah Momoi agak ragu pada awalnya. Namun, dia kemudian mencoba menenangkan diri ketika duduk di sofa yang tidak jauh dari meja kerja ayahnya. Dulu, ketika kecil, tempat ini adalah favoritnya. Setiap malam, di jam bekerja ayahnya, dia akan menyerbu ruangan dan berguling-guling hingga ayahnya tertawa dan menghentikan pekerjaannya untuk meladeninya. Atau, mengajaknya bermain.

"Masalah apa yang ingin kaubicarakan denganku sebelumnya?"

Sang ayah sudah menenang, rupanya. Momoi sedikit lega.

"Soal Midorin dan karirnya di kantor. Arata tidak suka dengannya dan kelihatannya dia ingin mengacaukan pekerjaan Midorin sebagai asisten dokter. Dia melanggar ketentuan, sudah dua kali dia melakukan operasi tanpa Midorin. Bahkan ... dia membuang kertas tinjauan harian punya Midorin yang harus diisinya."

Bunyi mouse yang diklik berkali-kali menjawab pertanyaan Momoi. Ayahnya diam, cukup lama. Sempat membuat Momoi nyaris putus harapan.

"Kalau kalian berdua tidak memutuskan hal penting sendiri begini, mungkin aku bisa langsung membantu kalian."

"Ayah ..."

Sang ayah berhenti bekerja sesaat. Dia menenggelamkan diri di kursi hitamnya yang besar, kedua tangannya terlipat di depan dada. "Itu sama saja dengan dia tidak menganggapku, orang yang harusnya dia hormati. Aku ayah dari wanita yang dia pilih, yang dia cintai. Harusnya dia mempertimbangkan keberadaanku lebih dalam lagi. Dia akan mengambil seseorang dari orang tuanya, kenapa dia malah melakukannya diam-diam?"

"Midorin tidak seburuk itu ..."

"Ya, dia memang tidak buruk. Dia hanya ceroboh dan kikuk sekali. Dia harus lebih banyak belajar dulu tentang hal-hal seperti ini sebelum dia mengambil seorang wanita untuk menjadi miliknya."

"Midorin terlalu banyak belajar ilmu eksak, kurasa," Momoi berusaha menahan senyumnya. "Midorin memang seperti itu, dia benar-benar tidak paham soal cinta dan sebagainya. Kekurangannya di situ."

"Sudah kuduga," Tuan Momoi. "Kalau begitu, biarkan dia belajar dulu. Biarkan dia mencari tahu lebih banyak hal tentang melamar seorang wanita, tentang tatakrama dan sebagainya."

"Ya ..."

"Dan lepaskan cincin kalian."

"Ha?"

"Perlukah aku mengulanginya lagi?"

"Tapi—tapi ... ayah, tidak, tolong jangan lakukan itu. Kami sudah—"

"Saling mencintai, begitu, 'kan? Aku tahu. Ayah mengerti. Ayah juga bisa merasakannya, tapi bisakah kau mengerti rasa sakit hatiku? Ini belum diketahui ibumu. Bagaimana kalau dia tahu nanti? Ini sama saja dengan sesuatu dicuri darimu. Kau punya suatu barang, tapi tiba-tiba seseorang meminjamnya dan bermaksud memilikinya tanpa seizinmu. Walaupun kau menyukai orang itu, tetap saja kau merasa kecurian, bukan?"

Momoi tercenung. Kesepuluh jari-jemarinya terjalin satu sama lain dan saling mencengkeram dengan kuat. Dia menggeleng. "Aku ... tidak mau putus."

"Kau mau mempertahankan hubungan yang belum direstui orang tuamu? Ini baru dari sisi keluarga kita, bagaimana kalau orang tua Shintarou tahu, huh? Aku bukannya tidak menyukai atau membenci dia, aku hanya ingin dia membenahi dirinya dahulu sebelum membawa seorang wanita dalam kehidupannya. Dia masih punya banyak tanggungan, salah satunya karirnya."

"Tapi semua bisa diselesaikan meski kami masih berstatus tunangan, bukan? Tolong, ayah, dia tidak melakukan hal yang buruk. Ini hanya disebabkan oleh kepolosannya."

"Satsuki," laki-laki itu berujar dengan suara yang dalam. "Aku akan menyelesaikan masalah Shintarou dengan Arata kalau kalian melepaskan cincin itu. Ini belum saatnya bagi kalian untuk bertunangan. Usiamu berapa? Masih belum sampai dua puluh tujuh—usia yang ayah yakin sudah cukup matang untuk menikah. Masih jauh. Midorima masih perlu mendewasakan dirinya dan mematangkan karirnya dulu."

"Jadi ayah bilang dia belum dewasa?"

"Ya."

"Cincin ini adalah bukti bahwa dia sudah lebih baik dari remaja biasa yang egois dan hanya mementingkan keinginannya sendiri dalam soal percintaan, Ayah. Pahamilah dia. Pahamilah kami, aku dan dia."

"Seorang laki-laki belum bisa disebut dewasa kalau dia belum berani mengatakan bahwa dia menyukai seorang wanita kepada ayah wanita itu sendiri."

"Dia memang kurang di situ, Ayah. Tapi bukan berarti dia tidak bisa bertanggung jawab."

"Aku tidak membicarakan soal tanggung jawab di sini. Aku hanya ingin kedewasaannya dalam meminta seorang anak gadis pada orang tuanya sebagai bukti bahwa dia tidak main-main."

"Cincin ini bukti bahwa dia tidak main-main," Momoi menyergah, meski dengan nada yang dibuatnya sehalus mungkin.

"Mungkin dia memang tidak sepenuhnya main-main. Tetapi dia tidak serius."

"Kalau dia tidak serius, cincin ini tidak akan dia berikan padaku ..."

"Dia serius tapi caranya salah, Satsuki," suara ayahnya lebih tegas kali ini. Setengah menghardik. "Aku tidak akan menerima Shintarou sebagai orang yang ingin memilikimu sebelum dia berbicara denganku secara langsung dan mengadakan acara yang sesungguhnya. Memasangkan bukti dan tanda itu di depanku, bukan secara diam-diam seperti itu."

"Lalu biarkanlah kami melakukannya sekali lagi. Aku siap dalam waktu dekat, Ayah, aku bisa—"

"Tidak dalam waktu dekat, anakku. Dia perlu waktu untuk memahami banyak hal tentang menjadi seorang suami, apalagi untuk menjadi seorang ayah. Untuk hal ini saja, dia seenaknya mengambil keputusan sendiri, bagaimana nantinya? Pembelajaran mengenai kedewasaan tidak akan bisa didapat dalam waktu singkat."

"Tapi kami bisa tahu bagaimana caranya dewasa dengan adanya masalah ini, Ayah. Maka tolonglah, kumohon, izinkan kami tetap seperti ini, dan akan kubawa Midorin ke sini untuk sekali lagi bicara baik-baik dengan Ayah ..."

"Aku sudah kehilangan separuh kepercayaanku padanya sekarang. Kepercayaan pada dia sebagai laki-laki yang menyukaimu dan menyayangimu. Kuanggap dia belum benar-benar serius. Ini demi masa depanmu dan dia juga, tahu. Bagaimana kau bisa bahagia sementara yang ada di kepalanya hanya ilmu-ilmu eksak dan belum ada sesuatu tentang berkeluarga dan berumah tangga? Sudah ada buktinya, Satsuki."

"Lantas ... apa yang harus kami lakukan untuk mengembalikan kepercayaan itu?"

"Lepaskan cincin kalian."

Momoi berdiri. Dia berusaha untuk tidak meledak sekarang. "Aku akan bicara tentang ini dengan Midorin. Sementara itu, aku akan tetap memakai cincin ini, sebelum aku menyelesaikannya dengan dia. Selamat malam."

Anak gadis itu segera meninggalkan ruang kerja ayahnya. Sang ayah memandang sesaat, kemudian memejamkan mata dalam-dalam, dan menghirup napas sebanyak yang paru-parunya mampu. Ya, ada rasa berat yang membebani hatinya. Dilema mengacaukan perasaannya. Tapi apa boleh buat, dia menginginkan ini, melakukan ini, semuanya demi kebaikan anaknya sendiri.


"Arata, aku akan ke Tokyo sekarang. Aku akan ada di ruangan di samping ruang adikku. Tolong temui aku di jam istirahat siang poliklinik."

"Ah, Tuan Momoi. Tidak menyangka akan mendapat telepon dari Anda di pagi hari seperti ini."

"Hm, ya, hanya ingin menyambung komunikasi denganmu saja. Sudah lama aku tidak ngobrol denganmu, rasanya."

"Oke, oke. Akan saya temui. Sampai jumpa, Tuan."

"Hm."


Arata meninggalkan Midorima begitu saja siang itu. Hubungan mereka masih buruk. Tidak ada yang mereka bicarakan selain urusan pekerjaan selama setengah hari itu. Dia berjalan cepat menyusuri koridor, memasuki lift, dan melewati orang-orang dengan cuek hanya untuk menuju ruangan perjanjian.

Midorima tak mempermasalahkannya. Tepatnya, tidak mau memikirkannya. Dia punya satu kasus untuk dipelajari, pasien yang baru saja datang sesaat sebelum jam istirahat mempunyai diagnosa yang tak biasa dan dia diserahi tugas oleh Arata untuk menyelesaikannya.

Ya, setidaknya dia punya hal untuk dipikirkan selain melarut-larutkan diri di dalam permasalahannya sendiri.

Arata memasuki ruangan yang tepat berada di samping milik direktur itu. Ruangan tersebut sebenarnya untuk para tamu, namun, si pemilik asli rumah sakit, alias saudara dari direktur itu sendiri, sering menggunakannya sebagai tempat istirahat ketika dia datang berkunjung.

"Aah, selamat siang, Tuan Momoi. Lama tidak berjumpa. Saya sangat ingin bertemu Anda sejak lama. Ada keperluan apa?"

"Yah," Tuan Momoi mempersilahkan tamunya untuk duduk di seberangnya. "Hanya ingin mengobrol. Aku suka memantau perkembangan hal-hal yang terjadi di rumah sakitku sendiri."

"Hm, aku mengerti," Arata duduk pada posisi yang sopan. "Saya kira ... untuk sesuatu yang penting," dia memberi penekanan khusus pada bagian penghujung kalimatnya.

"Hm," Tuan Momoi menyibukkan diri dengan ponsel. "Bagaimana kabar pekerjaanmu?"

"Baik. Semuanya lancar, seperti biasa."

"Asistenmu?"

Arata tertawa kecil. Dari satu sisi, kelihatannya tawa itu sinis. "Dia baik. Tapi terlalu beruntung."

Mata Tuan Momoi terangkat sesaat, tetapi turun kembali ke ponselnya. Wajahnya tetap tenang. Jarinya melompat makin lincah ke kiri dan kanan layar gadget-nya. "Beruntung bagaimana?"

"Yaa, saya rasa Anda mengerti."

Tuan Momoi diam saja bahkan ketika melihat Arata tersenyum.

"Anda terlalu memanjakan anak itu."

"Shintarou, maksudmu?"

"Anda tahu siapa yang saya maksud," Arata tak menanggalkan senyum dari wajahnya. "Anda terlalu memanjakannya. Anda memberinya kemudahan dalam berkarir di sini."

"Tidakkah kau ingat bahwa kau juga mendapat hal yang sama?"

"Tapi aku masuk ke sini dengan usahaku sendiri. Aku baru meminta bantuan Anda setelah saya sudah cukup lama menjadi dokter magang di sini."

"Oh."

"Maaf jika ini membuat Anda tidak nyaman," Arata tersenyum lagi, lebih tipis kali ini. Dia merasa dia berhasil. Sedikit.

"Shintarou masuk juga dengan usahanya sendiri."

"Oh, kalau begitu, apa peran putri Anda dalam hal ini?"

"Dia hanya memberiku rekomendasi tentang kelebihannya, aku juga melihat kemampuan Shintarou sendiri sebelum memutuskan apa dia layak bekerja di tempatku atau tidak. Terlebih lagi, Shintarou sama sekali tidak memintanya. Ini murni kehendak putriku sendiri yang menginginkan sesuatu yang terbaik untuk orang yang berharga baginya."

"Yah, begitulah yang semua orang katakan ketika ada seorang relasinya masuk ke dalam lingkungan kerjanya. Alasannya selalu seperti itu. Tidak mengetahui, atau atas permintaan orang lain, padahal sama saja. Itu berbau nepotisme, tetap saja. Cuma dalihnya yang berbeda. Istilahnya tetap sama."

Kali ini berganti keadaan, Tuan Momoi yang tersenyum. Senyumnya tenang dan menunjukkan wibawa, walau tak bisa terlalu jelas dilihat. Namun dia tidak tergesa, meski Arata sedang mendesaknya.

"Arata, aku punya usulan. Kautahu unit cabang rumah sakit ini, yang ada di Sendai?"

"Ya, tentu saja."

Arata belum mengingat apapun, lelaki itu kelihatan puas. "Mau kupindahkan ke sana? Dengan jabatan yang lebih tinggi. Kau akan kujadikan kepala instalasi bedah. Kebetulan, di sana ada banyak posisi kosong dan terpaksa dipegang seseorang secara ganda."

"Oh, bo—" bicara Arata terhenti mendadak. Matanya menunjukkan perubahan perasaan yang amat kentara.

"Teringat sesuatu tentang rumah sakit di Sendai?"

Arata menjalinkan jari-jemarinya, "Yeah, begitulah."

"Kau tinggal memilih. Mau tetap tinggal di sini dan menjadi atasan Midorima sampai dia selesai magang, atau ke rumah sakit di sana dan bertemu mantan istrimu. Pilih saja, aku membebaskanmu."

"Wow. Anda adalah pemberi pilihan yang rumit," Arata menyandarkan diri. "Tapi, ketimbang bertemu lagi dengan perempuan brengsek itu dan menjadi rekan kerjanya, lebih baik aku berada di sini."

"Nah, kau yakin dengan pilihanmu?"

"Tetapi aku kurang yakin aku bisa tahan di sini. Midorima. Aku tidak bisa bertahan dengannya."

"Masalahnya apa?" Tuan Momoi menaruh ponselnya di atas meja. Dia mengambil kaleng minumannya dan membukanya, meminumnya sedikit. Meski tidak muda lagi, minuman soda dingin masih menjadi favoritnya. "Apa Shintarou berbuat kesalahan padamu? Apa dia ceroboh dan mengganggumu?"

"Hidup dia terlalu mudah. Dia mendapatkan apa yang dia mau, level karir yang dia inginkan, dan bahkan dia juga bisa mendapatkan putrimu sebagai pacarnya dalam waktu singkat. Aku benci kehidupan yang hanya mengandalkan orang lain dan tidak berusaha semaksimal yang dia bisa begitu."

"Satu hal yang harus kau ketahui, Arata, aku sudah memutuskan hubungan dia dan putriku."

"Wah, benarkah? Kalau begitu, memang benar dia adalah seseorang yang memanfaatkan keadaan. Dia memacari putrimu hanya untuk mendapatkan posisi yang dia inginkan."

"Kesannya memang seperti itu, tapi apa kau tidak mendengar, bahwa yang memutuskan adalah aku, dan bukan dia. Kalau dia yang memutuskan, boleh jadi adalah pemanfaat kesempatan. Tetapi jika aku yang memutuskan, aku punya pertimbangan lain. Dan alasan itu tidak ada hubungannya dengan karirnya di rumah sakit ini."

"Begitu. Ternyata dia bukan calon menantu yang baik, ya. Saya terkesan."

"Dia baik, hanya saja dia perlu waktu," Tuan Momoi menjeda sebentar lagi untuk minum, "Dia baik dan perlu kesempatan. Salah satunya, kesempatan darimu."

"Apa yang bagus dari dirinya sampai Anda begitu mengandalkannya?"

"Tidakkah kau tahu bahwa dia berstandar luar negeri karena pernah dua kali belajar di Eropa? Dia mau menjadi bawahan di sini. Menjadi yang kau suruh-suruh, menjadi orang yang kau sisihkan, menjadi orang yang kau abaikan dan ingin singkirkan. Padahal, jika dia mau dan dia adalah orang yang seperti kau sangkakan, dia tidak akan mau magang sebagai asisten. Dia pasti akan mengusulkan diri untuk menjadi dokter tetap secara langsung. Ditambah lagi, dia mengenal siapa pemilik rumah sakit ini."

Arata tak bergerak. Jemarinya yang tadi bergerak gelisah pun sekarang berhenti.

"Sekali lagi kutanyakan, apa yang membuatmu membencinya?" tatapan Tuan Momoi mulai tampak mencoba untuk mengintimidasi. "Dia tidak berbuat kesalahan. Dia masuk bahkan sebelum tahu bahwa dia pemilik tempat ini adalah ayah dari perempuan yang dekat dengannya. Dia diterima dengan cara yang biasa, yang sama sepertimu. Dia tahu belakangan setelah mereka berbicara lebih jauh tentang kehidupan satu sama lain. Aku memutuskan untuk menerimanya karena memang dia memenuhi kualifikasi. Dia punya skill yang baik, tidakkah kau sadar ketika sedang bekerja bersamanya?"

Arata ingin mengatakan "Tch," sepuas hatinya, tapi demi kesopanan, dan mengingat jasa Tuan Momoi yang pernah dia minta beberapa tahun lalu, akhirnya dia memilih untuk diam dan tidak berkata apapun.

"Tapi kalau kau benar-benar tidak betah dengannya, aku bisa memindahkanmu ke Sendai."

"Tidak, terima kasih," Arata menggeleng. "Aku benci perempuan yang memutuskan hubungan secara sepihak dan suka egois itu."

"Jadi, kau memang lebih memilih untuk tetap jadi atasan Midorima?"

"Apa boleh buat."

"Dari jawabanmu, sepertinya kau masih belum rela."

"Aku tidak punya pilihan yang lebih baik lagi."

"Maukah kau bersikap lebih baik padanya?"

Arata tertawa sebentar, "Sepertinya putri Anda ambil bagian dalam kasus ini."

"Sedikit," Tuan Momoi membenarkan posisi duduknya. "Tetapi ini lebih pada pertimbanganku sendiri. Aku belum memberitahunya bahwa aku menemuimu hari ini. Ini semata-mata kulakukan untuk kebaikan dia dan rumah sakit ini, rumah sakit ini perlu kemampuan dan ilmu seperti yang dia miliki. Dia beberapa kali belajar di luar negeri namun mau memulai semua dari bawah di sini. Aku ingin melihat usahanya sebagai dokter bedah. Aku tidak ingin seseorang menghalangi dia berkarya di bidangnya."

Arata mengembuskan napas yang panjang. "Baiklah. Akan kucoba."


"Midorin."

"Ya."

"Apa aku mengganggu?"

"Tidak, aku sudah selesai makan."

"Maaf, ya, SMS selamat pagimu tadi terlambat kubalas. Aku ketiduran lagi. Aku terlalu banyak tidur hari ini."

"Jangan dipikirkan."

"Ba-baiklah ..." Momoi memandang langit-langit kamarnya. Beberapa kertas mengkilat yang dibentuk bintang masih bergantung di atas sana, padahal Momoi membuatnya semasa dia SMA. "Ah, Midorin, aku sudah bicara dengan ayah tadi malam."

"Apa yang ayahmu katakan?"

Momoi menelan ludah. Matanya berkabut sesaat. "Jangan kaget, ya."

"Apa?"

"Dia ... minta kita melepaskan cincin ini. Pertunangan ini harus putus. Bukannya putus dalam artian kita tidak boleh berhubungan lagi, tetapi hanya ... yah, kita diminta introspeksi. Ceritanya panjang. Kapan kita bisa bertemu untuk membicarakannya? Aku tidak bisa mengatakan semuanya di telepon. Rumit."

"Sudah kuduga."

"Ha?"

"Itu sudah masuk perhitunganku," Midorima berujar datar.

Momoi tertegun. Kali ini, dia gagal lagi membuat Midorima kaget dan mengeluarkan ekspresi yang lain. Namun, diam-diam dia tersenyum. Lagi-lagi dia mendapati Midorima memikirkan segalanya dengan baik dan memperkirakan berbagai kemungkinan dengan teliti. Semua menambah kadar kekagumannya.

"Aku yang akan bicara dengan ayahmu nanti. Aku akan datang ke sana besok, aku tidak punya shift malam hari itu. Sekarang giliranku untuk menyelesaikannya."

"Tapi ayahku adalah tipe yang sulit dinegosiasi ketika dia sudah punya keputusan ..."

"Selalu ada jalan, Momoi."

Panggilan akan namanya dengan suara yang datar namun itu memberikan ketenangan lain untuk Momoi. Dia yakin dia bisa mengandalkan Midorima. "Baiklah. Kutunggu kedatanganmu lagi, Midorin. Semoga semuanya akan selesai kali ini."

"Ya. Kau bisa mengandalkanku kali ini."

Momoi membalik posisi menjadi tiarap. Senyumnya terbit. "Midorin tahu sesuatu?"

"Hn?"

"Kalimat Midorin tadi membuatku ... membuatku makin senang dengan Midorin."

"A-apa kaubilang?"

Midorin tergelak. Dia merasa menang kali ini. "Itu membuatku merasa Midorin seperti ... ah, dewasa. Aku suka mendengarnya. Aku jadi yakin kaubisa meyakinkan ayah."

"Y-ya, kita lihat nanti. Sudah dulu, aku mau ke ruangan."

"Iya, iya, oke, baik," Momoi mengalah untuk mengakhiri sambungan telepon sekarang. Padahal, dia masih ingin berbicara lebih banyak lagi. "Selamat bekerja."

"Selamat beristirahat."


Momoi keluar kembali dari kamarnya sore itu. Masih belum ada satu pun anggota rumah yang datang, meski bolak-balik dia keluar-masuk kamar berulang kali. Perasaan sepi dan bosan sebagai anak dari dua pebisnis sibuk sudah menjadi hal yang biasa dialaminya.

Setelah dia menghabiskan satu porsi pizza, dia masuk kembali ke kamar—namun dia berhenti. Terdengar suara seseorang masuk.

Ayahnya.

"Sore, Ayah," dia menuruni tangga lagi. "Dari mana?"

"Kau yang kebanyakan tidur," sang ayah melewatinya, kemudian duduk di depan televisi ruang tengah. "Ayah sudah pamitan denganmu tadi pagi, ayah baru dari Tokyo."

"Oh."

Sang ayah masih memilih untuk bungkam akan apa yang barusan dia urus.

"Ayah, aku punya suatu rahasia yang belum pernah kuceritakan, bahkan dengan ibu sekalipun."

"Apa ini berkaitan dengan Shintarou?"

"... Ayah bisa membaca pikiranku dengan baik."

"Apa itu?"

Momoi memutuskan duduk di samping ayahnya, kepalanya sedikit tertunduk. "Sebenarnya ... apa yang kulakukan untuk Midorin, juga dia lakukan untukku."

"Maksudmu?"

"Aku meminta ayah untuk mempertimbangkan dia untuk masuk ke rumah sakit kita sebagai dokter magang yang suatu saat pasti diangkat menjadi dokter tetap. Dia juga melakukan hal yang sama untuk pekerjaanku. Atasan di tempatku bekerja, dia ... adalah pamannya."

"Pamannya?" Tuan Momoi tampak terkejut.

"Iya. Aku sama sekali tidak tahu sebelumnya. Tahu-tahu, setelah aku sudah bekerja di sana, dia bercerita tentang itu. Dia meminta pamannya untuk meloloskanku dalam tes final. Mirip dengan yang kulakukan. Dia sudah membantuku dalam pekerjaanku sekarang."

Ayahnya terdiam.

"Jadi ... kumohon, semoga ini bisa jadi pertimbanganmu, Ayah. Hm, apa aku sudah pernah menceritakan bagaimana Midorin memberiku cincin ini?"

Kalimat Momoi menguap di udara. Dia putuskan sendiri untuk melanjutkannya. "Aku bahkan tidak tahu bahwa kapan dia menyisipkannya. Tahu-tahu, cincin itu sudah ada di jariku. Begitu kutanya, dia bilang bahwa itu adalah untuk bukti. Untuk pengikat. Untuk penjamin bahwa dia akan melindungiku, karena dia tidak ingin kehilanganku. Dia tidak tahu apa yang harus dia berikan sebagai penjamin, tapi akhirnya cincin yang dia pilih."

Belum ada tanggapan.

"Aku yang pertama kali menanyakan ini padanya, 'apa ini artinya pertunangan?' dan dia cuma menjawab, 'terserah kau mau menganggap apa', jadi pada awalnya, bukan niat dia untuk membuat sebuah pertunangan diam-diam. Yang menyatakan bahwa itu adalah pertunangan hanya aku. Aku yang menyebutnya pertunangan, padahal ... bisa saja itu hanya tukar cincin biasa sebagai hadiah. Banyak pasangan lain yang memiliki barang secara berpasangan, 'kan?"

Tuan Momoi pun menyalakan televisi dengan suara yang disetel rendah.

"Aku juga tidak pernah membayangkan bahwa pertunanganku akan terjadi di meja operasi," Momoi setengah bercanda sambil menutup mulutnya karena merasa geli. "Tapi aku senang Midorin menyukaiku. Kuharap ayah mengerti, mungkin yang kali itu bukan pertunangan sebenarnya, tapi Midorin sama sekali tidak punya maksud untuk 'mencuri' seorang anak gadis begitu saja. Ini semua hanya karena kesimpulan bodohku."

Momoi pun berdiri, dia tersenyum pada ayahnya. "Besok Midorin akan datang lagi. Dia akan membicarakan semuanya. Semoga ayah mau menerima dan mendengarkannya. Dia kedengaran sangat dewasa waktu bilang akan bicara dengan ayah langsung."

Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di balik punggung, masih menatap ayahnya dengan penuh harap, "Ayah, Midorin tidak pernah menyukai seorang wanita pun sebelumnya. Dia tidak mengerti banyak hal tentang menyatakan rasa kasih sayang. Sampai saat ini pun, dia belum pernah benar-benar mengaku padaku, tapi aku bisa melihat dari matanya, dia serius padaku."

Momoi berjalan mundur, "Selamat malam, Ayah. Aku sayang Ayah."

Yang Tuan Momoi rasa, ketika memandangi putrinya menaiki tangga, adalah satu kesimpulan: anak gadisnya telah siap menyeberang ke 'rumah baru' untuk kehidupannya. Dia tengah jatuh cinta. Dan dia telah menemukan pelabuhannya.


Midorima menepati janjinya. Momoi telah memberitahu sang ayah bahwa Midorima akan datang dalam beberapa menit ketika pemuda itu mengiriminya pesan bahwa dia telah turun dari kereta.

Yang membukakan pintu adalah Tuan Momoi langsung.

"Selamat sore."

"Hn."

Momoi meluruhkan kecanggungan dengan membawakan dua cangkir minuman, dan segera mundur untuk menyaksikan segalanya dari kejauhan saja, karena dia paham, pembicaraan antara dua lelaki adalah bukan urusan yang harus dia campuri. Midorima mendehem setelahnya, sambil menyiapkan diri. Dia membenarkan duduknya, untuk kemudian membungkuk dalam-dalam.

"Sebelumnya saya minta maaf."

"Aku mengerti."

"Saya tahu, apa yang saya lakukan adalah salah. Saya hanya terlalu terburu-buru. Saya bersedia melepaskan cincin itu untuk sementara, tetapi saya ingin Anda tidak meminta hubungan kami untuk berubah. Saya sudah mengalami beberapa kali perpisahan dengan Momoi, dan saya tidak ingin mengalaminya lagi."

"Alasanmu, Anak Muda?"

"Saya ingin mengenalnya lebih jauh, meski kami bukan sepasang tunangan lagi."

"Sekarang kau mengerti di mana kekuranganmu, bukan?"

"Ya."

"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Saya akan bekerja keras dan membuktikan bahwa saya pantas."

Senyum tipis terlihat di wajah Tuan Momoi.

"Hanya itu yang ingin kau katakan?"

Midorima menelan ludah. Matanya terpejam dalam beberapa detik. "Saya ... belum pernah mengatakan ini pada wanita manapun. Ini yang kali pertama, dan saya memutuskan untuk menyampaikannya langsung pada orang yang masih punya kewajiban atas dia."

"Katakan saja."

"Saya mencintai Momoi Satsuki."

Di atas sana, di tepi pagar kecil pembatas lantai atas dengan area kosong di atas lantai pertama, Momoi tidak bisa menahan senyumnya. Bahkan dia merasa kaki-kakinya tidak bisa menopang tubuhnya dengan baik. Gejolak rasa itu amat menggelitik perutnya.

"Hm, hm, hm, baik, baik, baik. Aku bisa mengerti perasaan masa muda kalian. Aku akan mengubah keputusanku."

Bahu Midorima tampak melemas.

"Tidak perlu melepas cincin itu. Tapi jadikanlah itu sebagai janji bahwa kau akan menjadi penjamin untuk masa depan anakku satu-satunya."

"Baik," Midorima memperlihatkan ketegasannya.

"Tapi, satu hal lagi. Jangan sebut diri kalian satu sama lain sebagai 'tunangan'. Pertunangan macam apa yang dilakukan di meja operasi, ha? Lakukanlah hal itu nanti, di tempat yang lebih sesuai, yang lebih pantas, dan acara yang lebih besar."

Perlahan, Midorima memperlihatkan hal yang amat langka untuk ditemukan dari dirinya: seulas senyum yang sederhana, namun memperlihatkan kepuasan yang tak biasa.

tbc.


A/N: sekadar memperjelas kalau ada yang bingung kenapa ayah momoi baru sadar soal cincin sementara mereka sebagai orangtua pasti hadir waktu Momoi masih dirawat; adalah karena mereka memakainya sama-sama, di hadapan ayah Momoi langsung. kemiripan sesuatu itu baru disadari ketika kedua hal itu berdampingan, kan? itulah maksudku. dan lagian, Midorima sering melepas cincinnya waktu bekerja—apalagi waktu operasi—karena memakai cincin bagi dokter bedah waktu operasi itu bisa berbahaya buat pasiennya (aku pernah baca tentang ini).

dank u! o/