Evergreen

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.

Pairing: Midorima Shintarou/Momoi Satsuki. Genre: Romance/Family. Rating: K+.

(Di saat Midorima Shintarou harus mengakhiri karir pianonya, dia bertemu dengan penari balet yang bernasib sama dengannya, Momoi Satsuki. Karir mereka harus diakhiri karena alasan keluarga. Kemudian, hidup mereka berubah. Namun tetap dipertemukan dengan orang yang sama.)


Midorima adalah tipe yang keras untuk dirinya sendiri. Dia mengatur kegiatannya sehari-hari, apa yang harus dia lakukan berikut prioritasnya. Kapan dia makan, kapan dia mengistirahatkan diri, serta apa yang tidak perlu dia kerjakan pada hari ini, semuanya masuk ke dalam sebuah catatan yang dijaga baik-baik di dalam kepala, termasuk dalam urusan makan.

Hari ini dia sengaja sarapan lebih banyak, agar dia tak perlu mengganjal perut dengan porsi yang besar di siang hari. Sebab? Dia harus menyempatkan diri untuk pergi keluar di jam istirahat siang. Makan siang di kantin seperti biasanya akan memakan banyak waktu, pasti dia tak akan sempat memenuhi agendanya yang satu itu.

Agenda untuk berkunjung, sebenarnya.

Hm, ya, berkunjung. Berkunjung ke kantor sebelah.


Roti yang dia bawa dari rumah, yang dia makan sepanjang perjalanan singkat itu, akhirnya habis tepat ketika dia sampai di depan pintu dengan papan nama kecil bertintakan nama si empunya ruangan. Hanya dengan sekali ketukan, jawaban terdengar, "Silahkan masuk."

"—Midorin?"

Midorima menutup pintu di balik punggungnya. Dengan sekali lempar, dia memindahkan bungkus roti menuju tempat sampah di dekat jendela. Masuk dengan sempurna, tanpa cela.

"Tadi kukira siapa, hihi, coba buat janji dulu. Jadinya 'kan aku bisa menyiapkan sesuatu untukmu," Momoi bangkit dari kursi kerjanya dan menaruh kertas-kertas yang tadi ada di dalam genggamannya begitu saja ke atas keyboard, untuk lebih dekat pada Midorima, duduk di sofa yang berseberangan. "Ada apa?"

Mata Midorima memicing. Momoi masih punya beberapa perban di tangannya. Bahkan plester luka pun masih menempel di bagian wajah. "Ke sini," dia pinta seraya menunjuk pada area kosong di sisinya.

"Huh?" Momoi tak mengerti, namun memilih untuk menuruti. Midorima meminta tangannya dengan isyarat. Momoi mengulurkan bagian yang masih cedera itu, sesuai permintaan.

"Kapan terakhir kali kau mengganti perbannya?"

Momoi mencoba memamerkan senyum terpolosnya. "Kemarin pagi. Hehe. Aku lupa. Aku terlalu sibuk mengerjakan laporan dan yang lain-lain. Deadline sudah semakin dekat ... dan aku sudah lama tidak masuk. Aku tidak enak merepotkan atasan-atasanku terus."

Jari-jari Momoi berada di atas telapak tangan Midorima, dan dengan sifat profesionalisme ala dokter yang dimilikinya, Midorima melepas kain pembalut luka yang telah agak kotor itu. Perlahan, namun pasti, kain itu pun luruh dari tangan Momoi. Memperlihatkan luka yang sudah mengering setengahnya.

"Astaga, kau membawa perban segala ke sini? Dan, oh, obat luka juga?" dia tak percaya ketika Midorima mengeluarkan segulung perban dan mulai memakaikannya pada tangannya, setelah mengaplikasikan obat luka secukupnya. Semuanya dikerjakan dengan telaten dan rapi, lebih lembut dari yang Momoi pernah rasakan sebelumnya.

"Dengan pertimbangan bahwa kau yang pelupa bisa saja tidak mengganti perban ini dalam jangka waktu yang lama. Kau tahu seberapa banyak kerugian yang bisa terjadi kalau perbanmu kotor?"

Momoi menyembunyikan tawanya dengan punggung tangan, "Hei, seorang praktisi ilmu keuangan tidak biasa memikirkan sampai ke arah sana. Karena itulah, aku butuh seorang dokter. Dokter pribadi," dia memberi implikasi yang terselubung pada kalimatnya. Sengaja mengatakannya sambil menyertakan senyum misterius. "Tapi sepertinya aku sudah menemukan dokter yang tepat."

"Tsk."

"Terima—oh, tunggu, tunggu," Momoi mundur mendadak. Dering ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja memotong kalimat terima kasihnya untuk Midorima. Dia pergi sebentar dan kembali sambil memandangi layar. Cuma pesan, ternyata. Kemungkinan besar, pesan kilat, obrolan yang mengandalkan aplikasi tertentu. Dia mengetik balasannya dengan cepat, kemudian mengembalikan perhatian pada Midorima. "Midorin."

"Hn?" Midorima tampaknya masih senang mengamati masterpiece-nya pada tangan Momoi.

Momoi sudah membuka mulutnya, tetapi dering ponsel mengusik lagi. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, dan cuma mengembuskan napas. "Nanti saja, ah. Abaikan saja itu. Kurasa bicara denganmu lebih penting sekarang."

Dering lagi, dering lagi. Beruntun. Terdengar berkali-kali di antara jeda bicara antara mereka berdua. Momoi hanya melirik sesaat, namun tetap membiarkannya saja. Layar yang masih menampilkan aplikasi chatting itu menyala-nyala, memberi akses bagi Midorima untuk mengetahui dengan siapa sebenarnya Momoi sedang mengobrol.

' Takkun '

Salah satu otot di kening Midorima menaik.

Dia mulai menghubungkan beberapa kejadian. Saat kecelakaan Momoi, lalu nama itu, dan kembalinya Takao ke Jepang untuk beberapa waktu.

Dia yakin instingnya tidak salah.

"—rin? Midorin? Kau mendengarkan?" Momoi memainkan tangan di depan mata Midorima.

"Oh. Ya. Apa yang ingin kaubicarakan?"

"Soal dua hari yang lalu."

Tentu, pembicaraan yang cukup membuat Midorima tegang sekaligus senang pada akhirnya itu belum hilang dari ingatan. Malah, sesekali, di saat dia tidak memikirkan sesuatu yang penting, kilas balik tentang pembicaraan itu tampil begitu saja di depan matanya. Diputarkan kembali tanpa dia minta.

"Aku senang melihat caramu berbicara dengan Ayah," senyum Momoi menenangkan pikiran tak enak yang tiba-tiba muncul di benak Midorima. "Terima kasih pernyataannya, aku sangat terharu."

Midorima mengalihkan matanya dari Momoi, dan melakukan pelarian seperti biasa—menaikkan letak alat bantu penglihatannya. Jika diteliti lebih jauh, tinta merah muda tipis mewarnai bagian bawah kulit pipinya. "Jangan terlalu berlebihan."

"Sungguh, aku benar-benar suka itu," tangan Momoi mencari keberadaan jemari Midorima di atas sofa. Begitu menemukannya, dia menyentuhnya dengan sentuhan yang selembut angin. Dia tidak berani lebih jauh. "Dan sepertinya yang senang akan hal itu bukan cuma aku. Ayahku juga. Ayah jadi lebih sering bertanya tentangmu. Aku bercerita tentang hobi Midorin, pertemuan pertama kita, caramu bermain piano, penampilanmu waktu pentas duet pertama sekaligus terakhir kita—dan Ayah mendengarkannya baik-baik."

Dering lagi. Layar ponsel menyala. Jendela pembicaraan dengan si pemilik kontak bernama Takkun lagi-lagi terlihat oleh Midorima. Meski begitu, dia mencoba tetap fokus pada dialog.

"Dan kau tahu sesuatu, Midorin? Ayah minta nomor ponselmu, hihi~ katanya jaga-jaga. Kalau-kalau terjadi sesuatu padaku, Midorin bisa jadi orang pertama yang dia hubungi."

"Begitu ..." Midorima menjawab ala kadarnya. Perhatiannya tidak konsisten pada satu objek belaka.

"Bagaimana dengan masalahmu ... dengan Arata-san?"

Midorima benar-benar dikembalikan ke alam nyata setelah mendengar nama itu disebut. "Dia ... entah. Mungkin ayahmu melakukan sesuatu padanya? Semua kembali seperti biasa dan bahkan dia jadi lebih sering berbagi denganku, lebih daripada yang pernah dia lakukan sebelumnya."

"Hm, Ayah memang suka merencanakan sesuatu secara rahasia," Momoi berdiri. "Nanti kutanyakan. Midorin mau kubuatkan minum? Teh, ya?"

Mulanya dia ingin menolak, namun dia baru ingat bahwa dia belum meminum apapun semenjak menghabiskan makan siangnya yang ala kadarnya barusan. Dia mengangguk.

"Syukurlah kalau begitu. Artinya semua sudah kembali seperti biasa, 'kan?" Momoi mengaduk seduhan panas di cangkir putih polos sambil berjalan. "Ayahku juga ... sepertinya mulai melunak dan memberi dukungan. Ayahku tidak pernah lagi menyinggung soal melepas cincin," gadis itu langsung mengangsurkan cangkirnya untuk Midorima. Dia tersenyum kemudian. "Aku benar-benar lega. Midorin—kau memang bukan pacar pertamaku, yah, kau yang kedua, sejauh ini. Tapi kau yang terbaik, sejauh ini."

Midorima merasa beruntung karena dia minum dengan pelan. Kalau tidak, dia yakin bahwa dia pasti akan tersedak.

Dia, sebagai pemula dalam urusan cinta, tentu menganggap semuanya sebagai 'hal pertama yang luar biasa'. Tetapi ketika mengetahui bahwa bukan dialah yang pertama, dia tidak bisa mengingkari bahwa dia cukup terluka.

Dan Midorima yakin dia mengetahui siapa yang pertama itu.

Ada dering lagi. Momoi tak menghiraukan, malah Midorima yang terlihat amat sensitif terhadap notifikasi itu.

Aha, terlebih, seseorang yang membuat dia tidak menjadi yang pertama, sekarang ada di tengah-tengah mereka.

Siang itu tak terasa seindah yang dibayangkan.

"Midorin."

"Ada yang salah dengan caraku membalutkan perban?"

Momoi tertawa kecil, "Bukan. Aku cuma mau memastikan satu hal. Pertanyaannya bodoh, sih."

"Jika begitu, pasti aku dapat menjawabnya dengan mudah. Dengan cepat."

Momoi tertawa kecil. Menertawakan kepercayaan diri Midorima yang entah bangkit dari mana. "Kita benar-benar pacaran, 'kan?"

Jawaban Midorima tak datang secepat yang dia janjikan.

"Halo, katanya kaubisa menjawabnya dengan mudah, Tuan Dokter?"

Satu tarikan napas, "Ya."

Senyum Momoi melengkung lebih tinggi. "Hanya memastikan. Hanya ingin tahu kalau Midorin tidak menyesal."

"Untuk apa aku menyesal?"

"Yah, siapa tahu saja," Momoi mengangkat bahu, "Ketika berhadapan dengan ayahku, kau merasa terbebani dan memutuskan untuk meregangkan hubungan sementara cuma karena takut."

"Aku tidak sepengecut itu."

"Mmm, baiklah, baiklah. Aku mengerti. Aku sayang Midorin."

"... Ya."

Momoi tak terlalu butuh jawaban. Dia tahu sifat-sifat Midorima.

Isi hati Midorima memang sedang memendungkan pikirannya. Andai tak ada pengusik kecil tadi, mungkin dia akan benar-benar mengatakan hal balasan.


"Halo."

Midorima perlu menunggu seusai salam pembukanya. Terdengar suara yang agak berisik, mungkin Momoi tengah kerepotan membereskan sesuatu ketika menjawab telepon tersebut. Midorima sedikit menyesal. Menyesali dirinya yang agak tak sabar karena menelepon di tengah-tengah jam kerja—padahal jam pulang Momoi tinggal sedikit lagi. Andai dia bisa bersabar lebih lama lagi.

"Halo—maaf, maaf, Midorin, aku sedang membereskan dokumen-dokumen di dalam lemari. Duh, ada yang jatuh, sih, makanya jawabannya agak lama. Ada apa?"

"Sepertinya aku mengganggu. Kututup saja. Kubicarakan nanti sesudah jam pulang."

"Yaaah, aku jadi tidak enak. Soal apa, sih? Aku tidak kerepotan, kok," separuhnya bohong, "Ada sesuatu yang penting? Aku sudah mengganti perbanku sendiri, kok. Jangan khawatir," Momoi tergelak ketika duduk bersimpuh di depan lemari untuk kembali meneruskan kewajibannya.

"Makan bersama setelah jam pulang?"

"Wah ..."

"Kau kedengaran ragu."

"Mm, sebenarnya kalau Midorin bilang lebih awal, aku bisa mengatur waktu. Tapi ... mm, bagaimana, ya?"

"Kalau kau ada janji dengan yang lain, bisa kubatalkan."

"Eit, eit, aku tidak memintamu membatalkannya," geleng Momoi, menyergah cepat dan tangannya sesaat berhenti bekerja. "Begini. Takkun—Takao-kun—mengajakku untuk makan. Sebentar lagi dia pulang ke Beijing. Yah, katanya mau nostalgia sedikit. Tapi kurasa Takkun tidak akan keberatan kalau aku juga mengajakmu. Dia bertanya banyak tentangmu dan bertanya-tanya kapan kaupunya waktu luang, supaya bisa dia temui. Karena dia malas mengontakmu, takut kau sedang sibuk, dia hanya bertanya lewatku. Sepertinya ini akan jadi kesempatan bagus agar kalian bisa bertemu lagi. Bagaimana? Mau, ya, Midorin?"

Pandangan Midorima menusuk tembok. Tak ada kedipan. Beruntung, Arata sedang tidak ada di ruangan. Dia tidak perlu merasa menjadi korban dari sorot mata Midorima yang tak enak dilihat.

"Midorin?"

"Sepertinya aku punya janji dengan klien sore ini. Maaf. Lain kali akan kuatur waktunya lagi."

"Yah—tidak mau bertemu Takkun, Midorin?"

"Sepertinya dia lebih punya kepentingan terhadapmu. Terima kasih."

Cara Midorima menutup telepon membingungkan Momoi. Akan tetapi, pekerjaan lebih menuntut perhatiannya ketimbang pacarnya sendiri. Momoi telah terbiasa dengan sifat Midorima yang sering mendadak tak tertebak dan punya rencana yang aneh. Atau, mendadak lebih banyak diam meski tak ada kesalahan yang terjadi. Dia menganggap semua adalah biasa.


Seluruh klinik telah tutup. Arata telah pamit dua puluh menit lalu. Sayang, hasrat Midorima untuk pulang telah menguap habis, rasa yang kacau mengubah idenya tentang segera kembali ke rumah dan menyapa tempat tidur. Dia jadi lebih memilih berdiam diri di ruangan dengan sebuah buku. Buku tentang filsafat ilmu kedokteran itu diharapnya dapat mengalihkan dirinya dari rasa tak nyaman.

Saat ini, Momoi pasti sedang makan dengan Takao.

Apa yang sedang mereka lakukan? Mereka bicarakan? Mereka rencanakan? Mereka setujui? Apa masa lalu mereka akan terulang lagi? Apa status 'mantan' itu akan lebur dan berganti dengan—oke, semuanya berlebihan. Kekhawatiran yang melampaui batas. Midorima yang dahulunya antipati terhadap perasaan hati sekarang mau tak mau harus terlibat dalam problema percintaan.

Mungkin Midorima tak perlu jauh-jauh menggali definisi cemburu. Dia mulai tahu seperti apa gejolaknya, yang membuat hati mendidih dan sel-sel di dalam otak tidak mampu menjalankan fungsi berpikir yang normal. Yang berujung pada pesimisme, iri dan kegilaan tak terdefinisi.

'Sedang apa mereka sekarang?' adalah pertanyaan yang bercokool paling tinggi di menara rasa penasaran di dalam benaknya. Midorima mulai mencari cara.

Momoi adalah perempuan yang cukup aktif di dunia maya. Midorima sudah sering memperhatikan kesibukan Momoi dengan ponselnya di beberapa kesempatan pertemuan mereka. Momoi bahkan sering menceritakan tentang kesehariannya di akun microblogging-nya.

Bagus. Siapa tahu Momoi mengunggah foto bersama Takao saat sedang makan berdua sehingga dia bisa mengukur serta menganalisa seberapa dekat keduanya melalui foto yang ada nantinya. Momoi adalah orang yang terbuka, dia pasti takkan ragu mengungkapkan apa yang dia rasa di dunia maya, dengan batas-batas yang dia tetapkan sendiri. Midorima melirik ponselnya di sudut meja. Benda itu akan membantunya kali ini.

Maka Midorima pun memulai pengintaiannya. Dia amat tak terbiasa dengan ini, tetapi dia merasa dia harus melakukannya agar rasa penasarannya terpuaskan. Dia bersiaga di akun miliknya, yang memang mengikuti akun Momoi. Berharap bahwa akan hal yang terjadi.

Dia, yang awalnya cukup fokus pada buku, sekarang benar-benar nyaris seratus persen teralihkan. Frekuensi lirikannya terhadap layar ponsel meninggi. Dia menunggu, menunggu, menunggu. Kalau pertemuan itu adalah spesial, Momoi pasti mengatakan sesuatu saat ini. Midorima mengerti cara Momoi berekspresi. Gadis itu cerdas dalam menyusun kata-kata singkat sebagai pengungkap bahwa dia sedang senang, dan biasanya dia akan meng-update-nya saat itu juga.

Tetapi, tetap saja, tidak ada hal yang terjadi meski Midorima telah menyingkirkan bukunya dan benar-benar fokus pada ponsel, pada akun jejaring sosialnya yang sesungguhnya telah lama tak dia buka.

Apa pertemuan dengan Takao kali ini tidaklah spesial?

Atau dirinya saja yang mengkhawatirkan terlalu banyak hal tentang hubungannya dengan Momoi, serta kedatangan Takao kembali?

Midorima tak bisa menemukan jawabannya sendiri. Dia hanya bisa melampiaskan pertanyaannya pada layar ponsel yang kini telah mati.


Malam minggu. Mall. Jalan berdua. Keramaian.

Sama sekali bukan kombinasi yang pas untuk dicocokkan dengan Midorima Shintarou. Akan tetapi, apa yang tidak bisa seorang Momoi Satsuki ubah dari diri Midorima? Midorima mengalah untuk ikut dengan kehendak Momoi tentang keempat hal itu tanpa paksaan sama sekali. Midorima lebih senang menghabiskan malamnya di kamar dengan buku atau mendengarkan musik klasik, akan tetapi permintaan Momoi amat sulit untuk dia tolak.

Maka di situlah dia sekarang. Kepalanya diasapi oleh kabut kebisingan dari orang-orang hedonis yang lupa waktu. Matanya disilaukan oleh lampu pusat perbelanjaan yang dinilainya hanya memboroskan energi. Berbagai produk yang tak dirasanya perlu ditawarkan berlebihan oleh para sales ketika mereka berjalan menyusuri bagian depan beberapa departement store. Membuatnya terganggu. Bau roti bercampur dengan aroma parfum. Kombinasinya tercium aneh, sama anehnya dengan bau rumah sakit yang dihadapinya tiap hari.

Tetapi, semua demi Momoi.

"Midorin, perlu kupilihkan sofa yang bagus untuk apartemen barumu?"

Oh, ya, Midorima melupakan hal penting untuk dirinya sendiri. Dia mendadak disadarkan. Minggu depan dia akan pindah ke apartemen baru yang dia sewa dengan uang sendiri. Midorima merasa bahwa inilah waktunya untuk mandiri. Dia sudah punya penghasilan dan harus mendewasakan diri dengan hidup sendiri.

"Atau tirai dengan warna kesukaanmu?"

Jadi ini alasan Momoi mengajaknya untuk jalan-jalan ke mall?

"Midorin, suaraku terlalu pelankah?"

"—Uh, tidak. Aku mendengarnya. Boleh," Midorima melirik ke kanan-kiri, mencari departement store yang kira-kira menjual barang yang dia cari, dengan produk yang menarik. "Tapi jangan yang terlalu mahal."

Momoi memperlihatkan senyum bangganya. "Aku yang bayarkan kali ini."

"Apa? Tidak, jangan—"

Momoi menggoyangkan telunjuknya di udara, "Midorin, aku baru dapat uang."

"Jangan pakai gajimu untuk keperluanku."

"Bukaaan, ini bukan gaji. Apalagi bonus. Memangnya Midorin lupa ini tanggal berapa?" Momoi menepuk tasnya. "Asuransi kecelakaan. Uangnya baru dicairkan kemarin karena aku baru mengklaim setelah aku sembuh. Tapi karena kemarin aku berobat dan operasi di rumah sakit keluargaku sendiri, uang asuransi ini jadi tidak terpakai, hihihi. Lumayan banyak, lho. Jadi kuputuskan untuk membelikan sesuatu untuk Midorin—balasan karena sudah merawatku dengan baik."

Momoi menatap Midorima lekat-lekat. Sebelum lelaki itu sempat mengutarakan apapun, dia langsung menyambar lagi, "Jangan menolak. Aku juga ingin memberikan sesuatu untukmu. Kubelikan sofa saja, ya, untuk apartemen barumu. Midorin boleh pilih yang mana saja."

"Y-ya kalau begitu maumu," Midorima melakukan sesuatu pada kacamatanya. Seperti biasa. "Aku akan mengikutimu."

"Nah, bagus," Momoi menepuk bahu Midorima. "Oh, ya, ngomong-ngomong, kemarin Takkun juga mengajakku ke sini malam ini. Katanya dia mau mencari oleh-oleh untuk teman-temannya di Beijing. Tapi dia tiba-tiba membatalkannya."

Kening Midorima mengernyit. Bibirnya merapat membentuk makna yang mengguratkan bahwa ketidaksenangan mulai menghancurkan mood-nya yang sempat mencerah tadi.

"Siapa tahu kita bisa bertemu dengan—astaga, beruntung sekali kita—Takkun! Takkun, di sini~" belum khatam kalimatnya, Momoi menemukan Takao, tak jauh dari sana, lantas langsung melambaikan tangannya penuh semangat. "Takkun!"

"Whoa! Shin-chan, Momo-chan!" balas si rambut hitam dari kejauhan.

Momoi menyikut Midorima, "Kau sempat menolak untuk bertemu dengannya beberapa hari lalu. Midorin lucu, ah, masa sahabat sendiri tidak mau ditemui? Takkun kangen denganmu, tuh, hihi."

"Jangan percaya omongannya," ujaran Midorima cukup ketus, "Lebih dari separuh kalimatnya adalah candaan tak berguna."

"Dasar. Biarpun begitu, Midorin pasti juga kangen, aku bertaruh," Momoi berjalan lebih cepat, Takao pun telah mendekat.

"Tuh, 'kan, untung aku membatalkan janjiku dengan Momo-chan kemarin. Soalnya sudah kuduga pasti Shin-chan mau mengajaknya bermalam minggu di sini."

Grep.

Momoi mendongak. Wajah Midorima tidak memberikan jawaban atas keheranan tiba-tiba yang melandanya.

Ini pertama kalinya.

Pertama; selama Momoi mengenal Midorima.

Pertama kali baginya—Midorima menjalinkan jari-jarinya di jemari Momoi. Bahkan, genggamannya jadi lebih erat seiring mata Momoi yang membulat tak percaya.

"Satsuki yang mengajakku, bukan aku."

"Heeee?" Takao menampakkan seringai mengejek. "Hah, sudah kuduga. Heh, ya sudah, aku tidak akan mengganggu kalian," Takao mulai melangkah lagi. Ditepuknya pundak Midorima beberapa kali. "Aku juga sudah mau pulang. Pasti kalian baru ingin menikmati malam ini, 'kan? Selamat bersenang-senang."

Midorima cuma mendelik.

"Yaaah, sayang sekali, Takkun, padahal kupikir kita bisa jalan-jalan bertiga."

"Kapan-kapan saja, ya, Momo-chan," Takao berhenti di balik punggung Midorima. "Aku harus beres-beres di rumah, barang-barangku masih berantakan."

"Kau tidak pernah mengubah kebiasaanmu."

"Oh, Shin-chan, kau masih ingat banyak hal tentangku? Astaga, aku terharu—ya, ya, ya, orang-orang yang santai dalam menikmati hidup adalah pemenang. Aku ingin selalu menikmati hidupku tanpa merepotkan diri, hahaha," dia menyikut lengan Midorima. "Oh, ya, Shin-chan, Shin-chan—aku mau ke rumahmu besok. Jam berapa kau pulang?"

"Besok aku lembur."

"Yaaah, kapan, dong?"

"Lusa Midorin tidak ada jam malam. Takkun baru pulang esok harinya lagi, 'kan? Masih sempat, kok."

"Whoa, Momo-chan hafal jadwal Shin-chan, keren!" Takao pun mengangguk. "Baik, aku akan datang lusa jam delapan, ya! Selamat menikmati malam minggu, kalian berdua!"

Takao tak mendapatkan balasan dari Midorima. Hanya Momoi yang menjawab dengan lambaian dan kalimat singkat, "Sampai jumpa!"

Setelahnya barulah Momoi sadar bahwa tangannya masih dirantai oleh jemari Midorima.

"Satsuki."

Momoi mendongak sambil berusaha meredakan lompatan jantungnya yang mengacau.

"Y-ya?"

"Mulai sekarang, panggil aku Shin."

"Wah—aa, bo-boleh. Shin-kun, bagaimana? Kurasa begitu lebih manis," Momoi masih belum mengerti sepenuhnya mengapa nada bicara Midorima berubah.

"Hn."

Saat mendelik pada tangan mereka yang terayun perlahan secara bersamaan, Momoi menemukan jawabannya.

"Midorin—ah, maksudku, Shin-kun—maaf ya."

"Untuk apa?"

"... Sepertinya kau cemburu."

"Tidak."

Momoi mendengus geli. "Jangan bohong."

"Hmph."

"Aku tidak punya maksud apa-apa dengan Takkun. Aku hanya menemui dan bicara dengannya sebagai sahabat. Kami punya banyak kesamaan dalam cara bergaul, oleh karena itu kami masih tetap akrab sebagai kawan meski dulu kami pernah pacaran. Mungkin ... kalau bisa kusebut ... dia kakak kembarku. Kaubisa lihat dari cara kami bergaul dengan orang, 'kan?"

Harus Midorima akui, jawabannya ya. Takao dan Momoi adalah dua orang yang pernah dan masih dekat dengan dia yang cenderung menutup pribadinya dari sekeliling. Mereka tipikal orang yang berinteraksi secara terbuka dengan orang, suka memanggil yang lain dengan nada ceria, dan gampang tersenyum. Ya, mereka memang mirip dari segi itu.

"Aku juga punya banyak teman laki-laki di kantor, dan sifat-sifatnya mirip dengan Takkun. Orang-orang seperti Takkun cocok dengan kepribadianku. Sebagai sahabat. Seperti kata beberapa sumber, tipe A dan O itu nyambung satu sama lain."

"Aku tahu itu."

"Nah—jadi jangan cemburu lagi, ya," Momoi menarik pipi Midorima, membuat laki-laki itu menggerutu sebal. "Tapi sepertinya aku memberi pelajaran baru untuk Shin-kun kali ini."

"Apa maksudmu?"

"Yaaa, katanya, sih, cemburu itu bukti kalau kau benar-benar mencintai seseorang. Shin-kun juga masih belum banyak belajar tentang cinta, 'kan? Mungkin dengan yang kali ini, Shin-kun jadi tahu rasanya cemburu itu seperti apa, hihi."

Secara batin, lagi-lagi Midorima harus mengibarkan bendera putih; dia menyerah. karena itu semua terdengar seperti kebenaran bagi dirinya. Namun, secara lisan, jangan harap Midorima mau langsung mengakuinya.

"Ah, astaga—aku kedengaran seperti wanita jahat tadi," Momoi memukul kepalanya sendiri. "Aku hanya bercanda Shin-kun, aduh, maaaaf!" dia tersenyum masam, penuh harap akan pemberian maaf.

"Tapi aku bersyukur," Momoi mengangkat kedua tangan mereka yang masih bertaut. Kilat cincin terlihat. "Itu artinya, apa yang ingin Shin-kun nyatakan lewat cincin ini berarti benar adanya. Shin-kun ... memang mencintaiku, 'kan?"

Midorima balas memandang, maka Momoi pun tersenyum. Lelaki itu mengangguk perlahan.

Sudah tidak ada lagi yang patut dikhawatirkan. ya?

Mungkin ya, mungkin tidak.


"Apa kacamatamu bertambah tebal karena kau mengonsumsi buku ini setiap hari, Shin-chan?"

Midorima mendengus.

"Masih lebih senang menghabiskan waktu dengan buku dan musik klasik?"

Midorima menekan ujung bukunya.

"Masih suka main piano?"

Midorima menggeram. Bukunya ditutup dengan cepat dan kasar, Takao di sudut sofa sedikit tersentak. "Kalau kaudatang ke sini hanya untuk mengacaukan jam belajarku, pulanglah."

"Tidaaaak, aku tidak bermaksud seperti itu," Takao menyilangkan tangan di balik kepalanya. "Aku cuma mau menghabiskan waktu di sini. Dengan kawan lamaku. Tidak boleh?"

"Aku tidak merasa bahwa alasanmu hanya sesingkat dan sepadat itu."

"Masa?" Takao membiarkan tawa jahil lepas dari mulutnya, "Mungkin hanya perasaan Shin-chan saja."

"Aku yakin itu."

"Serius. Alasanku hanya itu. Heeei, sudah lupa kalau waktu sekolah dulu kita ini sahabat? Yang selalu pergi berdua? Atau kau sudah tidak menganggapku sahabat lagi? O, o, jahat sekali."

"Bukan seperti itu," Midorima lantas meletakkan bukunya ke atas meja. Lantai menjadi fokus pandangannya. "Kau membuang waktumu percuma jika hanya duduk-duduk sambil menggangguku. Bukan cuma waktumu. Waktuku juga Bercerita ya bercerita. Berbagi ya berbagi. Jika ada yang ingin ditanyakan, segera lakukan. Jangan melakukan hal tak berguna."

"Whoa, Shin -chan jadi lebih sensitif sekarang," Takao tergelak. Kelihatannya dia amat bangga memojokkan Midorima.

"Sebelum kau bercerita, bernostalgia, dan melakukan hal-hal serupa, aku ingin bertanya satu hal. Jawab dengan kejujuran."

"Huh? Wah, Shin-chan jadi serius lagi. Makin dewasa aura seriusnya makin mengerikan. Apa kau juga begini pada pasien-pasiennmu yang cerewet?"

Midorima memilih untuk tak peduli pada bagian terakhir tuturan Takao. "Apa hubunganmu dengan Mo—Satsuki," dia berdehem, "Dengan Satsuki," ulangnya, sambil membunuh kecanggungan dengan meninggikan frame kacamatanya.

Seringai Takao muncul dengan cepat. "Mm, Momo-chan, ya?" dia sengaja menggantung sesaat, begitu senang bermain-main dengan perasaan Midorima. Bukan Takao namanya jika tidak bisa mendeteksi celah waktu di mana dia bisa menggoda Midorima dengan ejekan konyol sepuasnya. "Aku menyukai Momo-chan."

Midorima mendelik tajam. Kesepuluh jari-jemarinya yang terjalin satu-sama lain menjadi lebih tegang, lebih kuat cengkeramannya. Bibirnya merapat. Sesaat, napasnya berhenti di tenggorokan. Di sisi samping kanannya, Takao menggembungkan pipi. Pipinya merah, dia tampak kepayahan.

"PUAHAHAHAHAHA—"

Maka, Takao meledak karena dia tak mampu lagi menahan kendali. Dia lepas kontrol lantas tertawa terbahak-bahak hingga matanya berair. Tawanya benar-benar lepas dan renyah, sampai tubuhnya terbungkuk-bungkuk dan perutnya sakit. Sensasi geli membuatnya ingin berguling-guling, tetapi dia tahan agar tak membuat kekacauan lain di rumah sahabatnya sendiri.

"—puhaha—haha ... ha ... aduh, aku harus berhenti tertawa, aduh, maaf, maaf, Shin-chan, maaf, aku terlalu berlebihan," Takao berusaha duduk tegak dan menghapus sisa-sisa air mata yang memenuhi sudut penglihatannya. "Akhirnya, pertama kali seumur hidupku, aku berhasil melihat Shin-chan CEMBURU. Cem-bu-ru. Cemburu karena seorang wanita. Astaga, yang tadi itu langka sekali. Ternyata begini, ya, Shin-chan kalau cemburu. Aku beruntung aku bisa menyaksikannya sebelum aku tua."

Seandainya semua perabot di hadapannya bukalah perabot berharga yang dibeli dengan uangnya sendiri, Midorima pasti tak akan pikir panjang lagi untuk memutuskan melemparkan semuanya kepada Takao. Dia terlalu cerdas untuk tidak memahami bahwa jawaban Takao tadi hanyalah pemancing untuknya. Dia merasa begitu bodoh.

Memang, harus diakui, dia memang bodoh, sih. Tak ada manusia sempurna yang memahami semua hal sekaligus. Secerdas apapun Midorima dalam urusan anatomi, setinggi apapun nilainya dalam berbagai mata kuliah baik di dalam maupun luar negeri, tetap saja, ada hal yang nilainya hanya ditakar sebagai huruf 'E' dalam hidupnya. Tak perlu kata tanya untuk mencari tahu bidang apa itu. Semua, yang di sekeliling Midorima, telah tahu jawaban tunggalnya.

"Pffft—oke, oke, aku harus berhenti. Ah, maaf, sekali lagi maaf, aku sakit perut, nih. Shin-chan ternyata bisa cemburu juga. Aaah, akhirnya kawanku bisa tahu pahit-manisnya cinta itu seperti apa. Senang melihat sahabatku yang dulu cuma peduli pada buku sekarang punya perempuan yang dicintainya."

Midorima diam seribu bahasa. Malu telanjur bercampur dengan kesal, perbendaharaan kata-kata di kepalanya kacau mendadak hingga dia tak tahu harus dengan apa dia memberi tanggapan.

Takao menarik napas, berharap hal itu bisa membuatnya benar-benar berhenti tertawa. "Aku hanya bercanda tadi. Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksimu. Aku mau mengukur seberapa serius kau dengan Momo-chan. Ternyata, sampai seperti itu, ya. Aah, baguslah, berarti kau tidak main-main."

Midorima melepaskan tautan kesepuluh jemarinya. "Ya, aku memang tidak pernah main-main," dia berujar tenang. Entah kekuatan dari mana. "Termasuk, main-main soal niat untuk menghajarmu kali ini."

"Huaaa, ampun, ampun!" Takao langsung turun dari sofa dan berlutut sambil mengangkat tangannya yang ditangkupkan. "Ampun, ampun, aku masih belum mau mati, aku masih belum mau dipotong-potong dengan pisau operasi Shin-chan!"

Midorima benar-benar sakit kepala akan kegilaan malam ini. Apa dunia kuliah memperparah mental Takao? Hanya pertanyaan itu yang benar-benar mendesak di dalam hatinya.

"Aku bercandaaa, sungguh! Duh, aku benar-benar tidak serius," Takao masih duduk di lantai, dengan kaki yang terlipat menyilang. "Aku suka Momo-chan ... dulu, tapinya. Dia lebih cocok jadi sahabatku, kurasa. Dia bisa mengerti dan menerimaku yang sukanya main-main juga bercanda. Dia bisa mengimbangi candaanku. Aku merasa seperti melihat adikku sendiri di dirinya—yang sering kuajak bercanda kalau di rumah. Dia ramah pada semua orang yang dia senangi. Itu membuatku senang curhat dengannya. Karena dia sangat menyenangkan untuk jadi teman—aku bahkan lupa kalau aku dulu pernah menjadi pacarnya dalam waktu lama."

Bahu Midorima melemas.

"Aku bahkan sudah tertarik dengan seseorang di Beijing—yah, mungkin kapan-kapan akan kuceritakan pada Shin-chan kalau aku serius dengannya. Sekarang, yang lebih penting ... apa aku bisa pulang dari rumah ini dengan selamat?"

Midorima mendelik dengan serius. "Tidak akan. Kecuali kau mau memasakkan sesuatu untukku. Aku tuan rumah, dan tuan rumah berhak memberi hukuman."

"—Tapi tulang kakiku tidak akan dijadikan tumbal, 'kan?"

"Cepat lakukan. Sekarang."

"Hi-hiyaaaa!" Takao berlari ke dapur. Midorima mengembuskan napas lega. Dia merasa rantai rasa malu yang mengikat di lehernya mulai melonggar.

Takao melongok sebentar dari sela tirai pemisah dapur dengan ruang tengah, senyum jahil belum pergi dari wajahnya, "Tapi kautahu, Shin-chan? Cemburu adalah indikasi bahwa kau benar-benar mencintai seseorang. Mengerti?"

Midorima berpura-pura tidak mendengar.

Selanjutnya, yang terdengar dari dapur adalah campuran suara beradunya pisau dengan alas memotong, air yang dituangkan, serta nyanyian Takao yang amat konyol dan iseng luar biasa, yang kurang lebih terdengar seperti, "Yiha, aku berhasil menggurui Shin-chan dalam hal ini!"


tbc.