Evergreen
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Midorima Shintarou/Momoi Satsuki. Genre: Romance/Family. Rating: K+.
(Di saat Midorima Shintarou harus mengakhiri karir pianonya, dia bertemu dengan penari balet yang bernasib sama dengannya, Momoi Satsuki. Karir mereka harus diakhiri karena alasan keluarga. Kemudian, hidup mereka berubah. Namun tetap dipertemukan dengan orang yang sama.)
"Shin-kun, apa tidak apa-apa kalau buku-bukumu kutaruh di bawah meja ini saja? Kausuka membaca, daripada repot-repot membuka-tutup lemari yang agak jauh dari sofa, lebih baik taruh buku-buku yang sering dibaca di tempat yang gampang dijangkau."
"Hn. Buku-buku di tumpukan teratas di dalam kardus itu adalah favoritku. Taruh buku yang kusuka saja di meja. Sisanya masukkan di lemari."
"Siap!" Momoi tersenyum seraya mengangguk. Di tangannya sudah ada setumpuk buku tebal yang masih baru, namun tampak sekali sudah sering dibuka—sampulnya kumal dan beberapa halamannya terlipat karena Midorima amat malas untuk membeli bookmark. Momoi memindahkan semuanya sesuai perintah: menaruhnya di bagian bawah meja utama ruang tengah dan sisanya dia letakkan di dalam lemari di bawah televisi.
"Wah," Momoi tertegun saat menemukan beberapa benda yang ada di bagian atas kotak lain, setelah dia menyelesaikan urusan dengan buku-buku tadi. "Shin-kun juga suka memajang foto? Kupikir tidak," dia mengeluarkan dua sekaligus, kemudian menatanya di samping televisi. Dia kembali lagi, dan memekik girang setelah menemukan foto lain. "Shin-kun, kau masih menyimpan foto pertunjukan kita!"
Foto itu masih terbingkai rapi. Bersih. Bingkainya putih mutiara dan ada ukiran sulur pada tepiannya. Momen yang diambil pas sekali, ketika Momoi berpose di tengah-tengah tarian angsanya dan Midorima berkonsentrasi pada pianonya. Juru foto untuk pertunjukan langganan mereka memang amat cerdas menentukan citra yang pantas diabadikan.
"Itu foto yang berharga."
"Kalau begitu, kutaruh sebagai yang paling depan, ya, hihi," Momoi melompat-lompat kecil mendekati televisi, kemudian menjadikan foto itu sebagai primadona, menonjolkannya dari yang lain. "Midorin pasti sering membersihkan ini."
"Dulu itu kupajang di kamarku," Midorima menerangkan. Dia masih sibuk memasang beberapa perabot seperti rak kecil di dinding dengan tangga segitiga kecilnya, juga beberapa lukisan. "Di meja belajar."
"Aku terkesan," Momoi memandang Midorima—tapi yang dia dapati hanya punggung kekasihnya. Midorima sedang sibuk sendiri. "Nah, dua kardus yang di sini sudah selesai kukeluarkan. Sapu ada di mana, Shin-kun? Ada banyak debu dan kotoran di sini. Sepertinya gara-gara kardus ini tadi. Kau belum beli vaccuum cleaner, ya tidak? Oke, akan kubuat list nanti."
"Di ujung dapur," Midorima sesungguhnya ingin menanggapi soal vaccuum cleaner yang dikatakan lawan bicaranya barusan, namun memilih untuk diam. Momoi telah pergi menjauh.
Momoi kembali dengan benda yang dia cari. Mulailah dia melakukan agenda bersih-bersih selanjutnya dari sudut ruangan, dekat kamar Midorima.
"Shin-kun, aku mau bicara sesuatu," Momoi membungkuk, mencapai bagian bawah meja di depan televisi. "Tapi agak privat, ya. Soal hubungan kita. Wajar, bukan? Kita juga sudah cukup dewasa untuk ini."
"... Katakanlah."
Momoi menarik napas dalam satu kali, "Salah satu alasan mengapa aku senang bersama Shin-kun adalah karena ... Shin-kun belum pernah menyentuhku lebih dari berpegangan tangan—yang saat operasi tidak terhitung, ya, hehe, itu beda kasus."
Midorima menatap melalui pundaknya. Momoi sedang tak melihat ke arahnya, dan dia lega karena raut wajahnya yang tak karuan itu—kaget, malu, dan heran bercampur—tak perlu menjadi bahan penilaian Momoi tentang betapa kikuknya dia dalam hubungan dengan perempuan.
"Kita bahkan belum pernah ciuman, hihihi. Tapi Shin-kun tetap bersamaku meski tidak melakukan hal itu. Shin-kun tetap bertahan dan memperhatikan juga menjagaku. Itu artinya ... Shin-kun serius," Momoi akhirnya beradu pandangan dengan Midorima. Senyumnya terbentuk seiring Midorima yang mulai salah tingkah. "Shin-kun menginginkan seorang wanita dalam makna sebenarnya, bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu atau nafsu saja."
Midorima memandang arah lain. Dia membenarkan letak alat bantu penglihatannya namun ternyata hal itu tak cukup menolong dia untuk terhindar dari rasa kikuk.
"'Kan ada ... orang-orang yang mencari pacar hanya untuk 'mencoba'. Mereka hanya ingin kontak fisik. Itu, bagiku, namanya hanya mengandalkan nafsu. Yang seperti itu tak akan bertahan lama apalagi kalau sempat terpisah jarak sekian waktu. Ketika kontak fisik semakin jarang, mereka cepat bosan dan hubungan itu berakhir begitu saja. Itu hubungan yang bodoh menurutku."
Midorima memainkan sebuah skrup kecil di tangannya, serta memandang lukisan yang belum dia pasang di dekat tangga. Tinggal satu-satunya. Skrup kecil itu diputar berulang, Midorima berpikir sambil melakukannya. "Aku memikirkan hal yang sama. Mereka hanya ingin memuaskan nafsu, bukan kebutuhan tentang keberadaan."
"Wow, bicaramu dalam sekali," senyum tipis Momoi melengkung sesaat. "Seperti biasa, Shin-kun dan segala kata-kata sulitnya."
Midorima tak menjawab sampai Momoi selesai menyapu ruangan. Ketika dia berjalan kembali ke dapur untuk menaruh sapu, Midorima duduk pada salah satu bilah tangga. Momoi singgah sesaat. Momen seperti ini dirasanya sayang untuk dilewatkan. Angka jarak di antara mereka adalah kecil—Momoi memandang Midorima dari tempat di mana lengan mereka saling rapat dalam sentuhan yang nyaris tak disadari.
"Berarti Shin-kun belum mendapatkan ciuman pertamanya?" tanyanya, dengan nada penuh goda sambil menahan tawa.
"Tsk," Midorima membuang muka. "Itu bukan hal yang penting atau bisa dibanggakan."
Salah satu sudut bibir Momoi naik meninggi, lantas dia terkekeh. "Sama, kalau begitu."
Midorima menoleh dengan cepat. Kaget. "Kupikir ..."
"Tidak," geleng Momoi. "Aku juga belum pernah merasakannya. Aku cuma pernah satu kali pacaran sebelum ini. Dengan Takkun. Tapi, selama dengannya, kami lebih seperti kawan ... atau bahkan mungkin saudara. Bagi kami, pembicaraan yang lucu lebih penting daripada kontak fisik. Kami tidak ingin seperti kebanyakan orang."
Midorima mencari kebenaran di mata Momoi. Dan dia menemukannya. Di mata yang berbinar itu, yang di sekelilingnya dikotori debu-debu halus, tetapi tetap bisa diselami lama-lama oleh Midorima dan memberikannya ketenangan lewat suguhan kejujuran.
"Kita sama-sama belum," Momoi beranjak. Midorima sedikit menyesalinya. "Tapi aku percaya nanti pasti ada saat yang tepat untuk kita," dia tersenyum misterius, kemudian berlalu. Dia memasuki dapur. Sekembalinya dia dari sana, tangan Momoi kosong. Dia kembali menyinggahi Midorima yang belum bergerak dari posisi sebelumnya—
—dan mengejutkan Midorima.
Dengan sebuah kecup singkat sehalus sentuhan angin. Saatnya amat singkat. Bahkan, Midorima tak mempercayai bahwa hal itu sempat terjadi sampai dia menyaksikan senyum Momoi yang masih melekat di wajahnya yang sedikit memerah.
"K-kau ..."
"Maaf karena tiba-tiba. Itu kehendak sesaat," Momoi mengangkat bahu. Senyumnya sekarang sedikit menyiratkan rasa bersalah. "Apa aku membuatmu marah?"
Midorima merapatkan matanya sesaat. Hampir tak terasa lagi sensasi barusan, tetapi dia tahu bahwa hatinya hangat dan memberikannya perasaan yang lain. "Tidak."
"Itulah rasanya ciuman pertama, Shin-kun."
"Seharusnya kau juga mengatakan hal itu pada dirimu sendiri."
Tawa kecil meluncur, "Hihihi, itu untuk kita berdua. Hm, seperti itulah ciuman anak kecil, anak kecil yang baru jatuh cinta, yang masih malu-malu, yang belum tahu banyak hal, yang masih polos, yang masih jenaka, dan belum memikirkan terlalu banyak hal tentang resiko cinta di masa depan yang harus mereka jelang."
Midorima mengangkat pandangannya, mempertemukannya dengan Momoi, "Kita sudah tidak pantas untuk hal itu."
"Tapi cinta selalu bisa membuatmu merasa muda."
"Apa aku harus setuju?" Midorima turun dari tangga dan melipatnya. Dia sudah selesai dengan pekerjaannya sedari tadi, sebenarnya.
"Terserah Shin-kun," Momoi berjalan melewati kekasihnya. "Tapi aku berpikir seperti itu."
Midorima masih memandangi Momoi dan helai merah jambunya yang terurai bebas di balik punggung ketika gadis itu benar-benar melampauinya. Sesaat, dia berpikir, inilah saatnya.
"Satsuki," tangan Momoi ditahan.
"Ya, Shin-kun?"
"Ikut aku," Midorima mulai menarik pergelangan tangan yang dia genggam. Mereka berjalan melewati kamar pribadi Midorima, menuju sebuah bagian lain dari apartemen yang merupakan ruang tambahan. Midorima membeli dua apartemen sekaligus dan menggabungkannya menjadi satu—dan itulah yang membuat dia harus menunda kepindahannya sebab perombakan itu butuh waktu cukup lama. Suatu hal yang tak Momoi tahu apa peruntukannya.
Pintu yang cukup besar itu pun dibuka. Momoi tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya ketika akhirnya mengetahui ruang itu untuk apa.
"Ini adalah hal yang kunanti sejak awal aku merencanakan untuk hidup sendiri," terang Midorima ketika melepas tangan Momoi dan membiarkannya menjelajah. Momoi langsung duduk di kursi hitam yang menjadi satu-satunya tempat duduk tinggi di ruangan tersebut.
Tentu, inti dari ruangan itu adalah sebuah grand piano tua, yang masih cantik dan apik. Bahkan, mengkilat.
"Aku beruntung ayah tidak menjualnya sejak terakhir kali dia melarangku untuk memainkan ini. Dan sekarang, ketika aku hidup sendiri, akhirnya aku bisa bebas dengan hobiku kapanpun aku ingin melakukannya."
Momoi menekan satu tuts, merdu dan nyaring.
"Shin-kun tahu? Baru-baru ini aku membaca buku-buku tentang piano dan kunci-kunci dasarnya, untuk mengisi waktu cuti sakitku. Aku juga baru mempelajari lagu sederhana."
"Lagu apa?"
Senyum Momoi bak ekspresi seorang anak kecil yang baru mendapatkan sebuah hadiah kecil namun menarik, "Twinkle Twinkle Little Star."
Lelaki itu berjalan mendekat sambil menahan tawa. "Coba mainkan."
Momoi terlihat antusias dengan permainan sederhananya. Bagian awalnya dia mainkan dengan lancar, tak gugup sama sekali—padahal di sisinya berdiri seorang ahli piano (yang selalu dikaguminya).
Keinginan itu muncul begitu saja, ketika sesosok wanita itu menyentuh apa yang dia sukai. Kombinasi tak terduga; sebuah keindahan sederhana yang definisinya tak jauh dari kepuasan rasa. Putri Angsa sedang mencoba berdendang lewat jarinya. Midorima membungkuk, lepaslah semua rasa segannya karena di saat itu dia melampiaskan rasa kagumnya lewat kecupan balasan di tempat yang sama seperti sebelumnya.
Sedikit lebih lama dari yang Momoi beri waktu dia di tangga tadi, juga lebih menyentuh. Tidak seperti angin yang berlalu begitu saja.
"Shin-kun ..." Momoi berucap ketika punggung Midorima telah tegak lagi. "Hei, aku tidak menyangkanya."
"Semua terjadi begitu saja," Midorima menggeleng singkat. "Maaf dan terima kasih."
"Dua frasa yang terakhir itu tidak perlu," Momoi tertawa. Lagu Twinkle Twinkle Little Star benar-benar putus di tengah jalan, namun dia telah melupakannya begitu saja, rupanya. "Aku tidak marah. Aku senang. Kau tidak perlu ragu."
Senyum tipis muncul di wajah Midorima.
"Tapi Shin-kun," nada bicara Momoi menegas. Dia tidak main-main kali ini. "Jangan pernah berpikir bahwa mencintai dan berhubungan dengan seseorang itu hanya bisa dipuaskan lewat kontak fisik."
"Kurasa aku mengerti hal itu."
"Sentuhan itu kenikmatan sesaat. Cinta sejati yang nikmat sepanjang saat tak akan hilang hanya karena tidak menyentuh seseorang yang dia cintai."
"Aku paham."
"Dan ..." lanjut Momoi, "Sentuhan bukan dasar apakah kau benar-benar mencintai seseorang atau tidak."
"Aku juga tahu hal itu."
Momoi balas tersenyum.
Midorima menegaskan caranya memandang Momoi. "Karena itu, aku memilikimu bukan hanya untuk memelukmu, tetapi lebih karena aku ingin menjagamu."
Lantas, Midorima duduk di samping Momoi, tak peduli bagaimana raut wajah yang dibuat Momoi sekarang. Midorima dengan tenangnya berucap, "Aku akan memainkan lagu kita. Aku ingin bernostalgia. Masihkah kauingat tariannya?"
Momoi mengangguk cepat, mengabaikan perasaannya yang meledak-ledak. "Tentu. Aku masih sering menonton video rekaman pertunjukan kita di waktu luangku," dia bangkit dari bangku. "Mainkanlah, Shin-kun."
Midorima menekan tuts demi tuts dengan lihai. Musik itu benar-benar masih dikuasainya. Momoi pun demikian
Putri Angsa menemukan Pangeran Pianonya kembali di suatu ruangan di lantai enam gedung keperakan, di sebuah senja yang cerah. Mereka telah melewati banyak lika-liku, turun-naik—seperti lagu itu—tetapi, getar dan nada cinta mereka masih indah.
(Sama juga seperti lagu tersebut.)
Momoi menolak ketika Midorima menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang malam itu. Dia beralasan bahwa dia ingin pergi ke rumah teman perempuannya dahulu untuk mengurus beberapa hal tentang pekerjaan. Namun, sebelum pulang, Momoi menarik tangan Midorima dan menaruh sebuah amplop di atasnya.
"Apa ini?"
"Aku juga tidak tahu ini untuk apa, tapi ayahku menitipkan ini padaku untuk kuserahkan padamu. Katanya, isinya adalah surat izin untukmu. Kau boleh libur selama dua hari. Kau bebas tugas di satu hari setelah ulang tahunmu dan hari berikutnya."
"Untuk apa?"
"Entahlah," Momoi menggeleng. "Dan katanya, di tanggal 8 malam, Shin-kun diminta datang ke rumahku. Pakai pakaian resmi dan rapi. Aku juga tidak tahu untuk apa. Yang jelas, Ayah cuma menjelaskan bahwa dia akan mengadakan acara penting hari itu. Mungkin jamuan makan malam dengan rekan-rekan kerjanya? Ayah sering mengadakan itu dan aku selalu bosan di tengah-tengah acaranya. Untung Ayah mengundang Shin-kun, jadi kurasa aku tidak punya alasan untuk kabur dari acara jamuan itu, hihihi."
"... Kenapa aku juga diundang?" Midorima memain-mainkan amplop itu. Sesekali memindahkan pandangannya antara amplop dan wajah Momoi. Dia berusaha menebak apa maksud dari surat izin itu. Yang jelas, harapannya, ini tidak akan berakhir pada sesuatu yang negatif.
"Kau 'kan pacarku," Momoi menyengir geli. "Ya sudah, aku pulang sekarang. Sampai jumpa di hari undangan, ya! Dan selamat atas rumah barunya, semoga Shin-kun betah di sini~"
"Ya."
Momoi meninggalkan apartemen Midorima dengan lambaian tangan dan senyuman yang juga membuat Midorima tersenyum tipis bahkan sampai dia menutup pintu utamanya kembali.
Di atas sofa, dia membuka amplopnya. Isinya memang sama seperti yang dimaksudkan Momoi; selembar surat izin. Pihak kantor administrasi pegawai rumah sakit memberikannya izin untuk tidak bekerja, baik dalam kapasitasnya sebagai dokter jaga maupun asisten dokter di poliklinik bedah. Tidak ada alasan lebih lanjut. Penegasnya hanya kalimat 'memberikan izin kepada Midorima Shintarou untuk tidak menjalankan kewajibannya selama dua hari—" hanya sebatas itu, tak ada keterangan lain. Tetapi, surat izin itu ditandatangani langsung oleh direktur.
Berarti, memang ada campur tangan dari ayah Momoi.
Untuk apa, tapinya?
Midorima harus menyimpan rasa penasarannya untuk tiga hari lagi.
Pakaian rapi dan resmi, katanya, hingga pada akhirnya Midorima memilih untuk mengenakan setelan jas hitam dengan dasi hijau lumut. Sedikit-banyak mengingatkannya pada pertunjukan bertahun-tahun yang lalu, padahal dia memilihnya bukan dengan maksud untuk menyamai apa yang dia pakai di momen berharga waktu itu.
Dia berangkat sendiri pada pukul setengah tiga siang setelah ada komando dari Momoi bahwa acara akan dipercepat. Dia hanya mengabari pada orang tua dan adiknya lewat pesan singkat bahwa dia akan keluar kota tanpa secara spesifik mengatakan tujuannya. Semenjak tinggal sendiri, dia merasa bahwa dirinya lebih independen sekarang.
Momoi menjemputnya di stasiun dengan mobil bersama dengan sopir pribadi ayahnya. Momoi telah berpakaian rapi pula, dan berkata bahwa semua orang di rumahnya telah bersiap-siap dan setengah jam lagi acara akan dimulai. Rumah Momoi tak terlalu jauh dari stasiun, hanya lima menit jika menempuhnya dengan mobil dengan kecepatan sedang.
Di rumah sang kekasih, Midorima diminta oleh salah satu kerabat Momoi untuk ke atas.
"Apa kami tidak boleh menunggu di sini?" Momoi bukan bermaksud menolak, dia hanya penasaran akan alasannya. Bukankah acara utamanya diadakan di lantai bawah?
"Makanan yang khusus disiapkan untuk Midorima-kun dan kau sudah ditaruh di konter yang ada di lantai atas. Makanlah dulu di sana, Midorima-kun pasti lapar, 'kan?"
Midorima menggeleng, menolak penawaran wanita dengan gaun berwarna kombinasi fuchsia-hitam itu. "Saya sudah makan di rumah. Mohon untuk tidak merepotkan pihak Anda sendiri."
"Oh Midorima-kun, tidak usah terlalu formal. Kami di sini keluargamu juga," wanita yang kelihatannya masih muda itu ingin tertawa menanggapi Midorima dan jawabannya yang amat kaku. "Tidak apa-apa, makan saja. Sedikit juga tidak masalah. Aku yakin, kau pasti lelah setelah perjalanan naik kereta ke sini. Acara akan berlangsung sampai malam, jadi isilah energimu dulu sekarang. Takutnya ayah Satsuki terlalu asyik dengan acaranya sampai jadi terlalu malam dan kau tambah lelah, hihi. Bagaimana? Mau menerima tawaranku? Satsuki, temanilah dia di atas."
"Baiklah," Momoi yang memberikan persetujuan lebih dulu, "Apa makanan untukku juga ada? Aku juga lapar, nih."
"Ada, ada, tenang saja. Sudah disiapkan untuk kalian berdua. Nah, Midorima-kun, kurasa kau tidak punya alasan untuk menolak," dia tertawa kecil. "Ya?"
Midorima mengalah. "Baik. Aku akan ke atas."
"Ah, satu lagi," sang tante mencegah mereka untuk naik. "Jangan turun sebelum kupanggil."
"Kenapa?" Momoi yang sudah akan menggamit tangan Midorima pun menarik tangannya kembali. Midorima yang telah menapaki satu anak tangga terpaksa berhenti dulu. "Kau berkata seperti itu seolah-olah kami adalah artis atau penghibur acara ini, Tante," Momoi menahan tawa.
"Ini untuk kepentingan acara, jadi turuti saja, oke? Lantai dua adalah milik kalian selama kalian belum dipanggil. Aku tidak menerima pertanyaan lagi. Selamat menikmati waktu berdua!"
Momoi cuma menggeleng, "Harap maklumi dia sedikit, Shin-kun. Dia agak freak dan unik. Kami sudah terbiasa menghadapi ide-ide anehnya."
Midorima diajak Momoi menuju tempat yang dimaksud tantenya tadi. Sebuah konter, didesain seperti bar. Ada banyak gelas dipajang di lemari di dekat sana, cangkir-cangkir dan teko klasik juga termasuk sebagai pajangan pendamping. Koleksi ibunya, begitu keterangan Momoi. Dan yang meminta agar tempat ini dibuat adalah dirinya sendiri, ketika dia SD dulu, sebab dia iseng melihat sebuah desain rumah modern di majalah milik kakak sepupunya yang kuliah di jurusan arsitektur, dan jadi menginginkannya juga.
"Tambah saladnya, Shin-kun?" Momoi menawarkan, mangkuk salad itu dia dekatkan pada Midorima.
"Tidak, terima kasih," tolaknya dengan gestur tangan yang halus. Dia mengambil tisu untuk mengelap bibirnya—dia telah selesai makan. "Tapi apa aku boleh minta apel yang di sana?" tunjuknya pada keranjang buah yang diletakkan di samping botol sirup yang tinggi.
"Tentu saja," Momoi mengambilkan yang paling besar. "Shin-kun suka sekali apel, ya?"
"... Kau baru tahu?"
"Yaaa habisnya Shin-kun jarang menceritakan tentang dirimu sendiri, sih," Momoi mengerucutkan bibirnya, berpura-pura sebal. "Mulai sekarang, jangan ragu untuk berbagi, ya? Aku memang belum sepenuhnya berhak untuk tahu segala hal tentang Shin-kun, tapi tidak ada salahnya untuk menceritakan hal-hal yang disukai pada orang yang kausuka. Aku juga akan melakukan hal yang sama, karena menceritakan tentang dirimu adalah hal penting untuk orang yang menyukaimu, Shin-kun."
"Hn. Aku mengerti," Midorima menggigit sedikit apel merahnya. "Kurasa aku tahu sesuatu tentang dirimu."
"Hee?"
"Kau tidak suka makanan pedas, kau suka makan strawberry, dan kausuka permen. rasa susu."
"... Eeeh? Rasanya aku belum cerita soal itu—"
"—Tapi kau menceritakannya secara terbuka di jejaring sosial."
Momoi kemudian tergelak. "Aku memang terlalu banyak bicara hal tidak penting, ya."
"Kau seperti sebuah buku yang terbuka," terang Midorima, "Tapi kurasa itu bukan juga hal yang tidak penting."
"Begitu?"
"Karena hal-hal seperti itu penting untuk orang yang menyukaimu."
Maka Momoi pun menerbitkan senyum malu terbaiknya.
"Aku hanya mengembalikan kata-kata itu padamu," Midorima meminum air putihnya dengan pelan.
Momoi mengangguk. Dia diam sebentar, mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia tak juga harus terlalu senang secara berlebihan atas hal sederhana yang disampaikan Midorima.
"Kita turun sekarang."
"Eh? Bukannya kata tanteku—"
"Kau mematuhi perintahnya yang tidak punya alasan yang jelas begitu? Kurasa acaranya sudah dimulai. Aku mendengar ayahmu berkata bahwa dia sudah memulai acaranya ... dan sepertinya malam ini memang jamuan makan malam."
"Aku tidak mendengarnya ..." Momoi beranjak dari tempat duduk bundarnya, menuju pagar kecil yang setinggi pinggang di depan sana, melongok ke bawah. Sudah banyak orang yang berkumpul, ternyata.
"Aku mendengarnya tadi. Ayo."
"Tapi ..."
Midorima menatap Momoi lama-lama untuk menuntut jawaban yang tegas.
"Mmm, bagaimana kalau kita berkeliling di atas sini dulu? Aku ingin memperlihatkan rumah orang tuaku pada Shin-kun."
"... Baiklah kalau itu maumu. Kau terlalu taat pada aturan."
Momoi menggaet tangan Midorima, kemudian mencubit pipinya. "Tidak biasanya Shin-kun penurut begini, ya? Tapi lucu, aku suka."
"Tch," Midorima mengusir tangan Momoi dari wajahnya. "Tidak perlu mengatakan hal yang tidak perlu."
Momoi tetap tertawa. "Oh, iya, aku mau menunjukkan suatu tempat yang istimewa! Karena waktu di apartemenmu kau sudah menunjukkan ruang spesialmu, kali ini aku juga akan menunjukkannya. Ayo," Momoi menarik tangan Midorima, membawanya melewati sebuah kamar kemudian berbelok ke lorong kecil. lorong itu berujung pada sebuah ruangan lain yang pintunya besar. Sepertinya, ruang itu luas. Midorima memilih untuk tidak bertanya-tanya seperti anak kecil.
Momoi membukakan ruang itu untuk memperlihatkan bahwa ruangan itu kosong. Hanya ada sebuah lemari di dalamnya.
"Dulu, ini ruang bermainku," ucap Momoi. "Kata Ibu, dulu mereka ingin punya tiga anak, jadi mereka mendesain ruang ini cukup besar agar bisa digunakan untuk bermain oleh tiga orang sekaligus. Tetapi, kelihatannya mereka berubah pikiran setelah aku lahir. Maka, aku jadi anak tunggal," dia menuju ke ruang tengah, kemudian duduk di sana dengan hati-hati, gaun halusnya amat rentan kumal jika dia duduk sembarangan. "Karena aku mulai menyukai balet, aku minta agar semua peralatan di ruangan ini dikeluarkan dan diberikan pada orang lain. sehingga aku bisa puas berlatih sendiri di sini."
Midorima masuk lebih jauh. Ternyata, lemari yang dia lihat tadi memiliki pintu dari kaca. Ada beberapa tropi di sana.
"Ada album fotoku di sini," Momoi beranjak, mengejutkan Midorima yang sempat tertegun. Dia membuka lemari itu dan mengambil satu buku besar yang berada di dasar. "Album ini khusus menyimpan foto-fotoku saat pertunjukan, mulai dari pertunjukan pertamaku hingga yang terakhir."
Midorima duduk bersila di depan Momoi yang mulai menunjukkan momen-momen di dalamnya.
"Ah, yang ini saat aku jadi juara tiga kompetisi sekota ..." suara Momoi pelan. "Dan yang ini ... ketika aku berhasil jadi juara satu. Tariannya bertema tentang alam. Harmoni alam dalam khidmatnya musik, begitu temanya, kalau tidak salah ..." suaranya makin merendah.
"Ada yang salah dengan caramu berbicara," Midorima dengan lekas berhasil menangkap gejalanya.
Momoi mengangkat kepala, terlihatlah oleh Midorima bahwa mata gadis itu mulai berkaca-kaca. "Aku hanya rindu dengan balet. Aku rindu menari."
Maka Midorima pun menutup album itu tanpa aba-aba. "Jangan lihat ini lagi jika kau merasa sedih. Jangan melihat pada masa lalu lagi."
Momoi kemudian tersenyum. Setelah menyeka matanya, dia berkata, "Aku tidak sedih mengenang masa laluku dengan balet. Kalau aku sedih, berarti aku juga tidak suka melihat bagaimana balet membawaku, mempertemukanku, dengan seseorang yang berharga untukku ini, ya? Tidak," geleng Momoi. "Aku senang sekali dengan semuanya. Meski aku tidak bisa menari balet lagi, aku sudah bersama dengan seseorang yang dikenalkan Tuhan lewat balet padaku. Aku bahagia, sungguh."
Midorima mengambil album itu dari pangkuan Momoi, kemudian mengembalikannya ke dalam lemari. "Kurasa tidak perlu melihat terlalu jauh ke masa lalu lagi, karena kau sudah punya masa sekarang yang lebih menyenangkan daripada menyesali mengapa kau tidak bisa menari lagi."
Baru Momoi akan membuka mulutnya untuk menanggapi, suara dari luar mengusiknya, "Satsuki! Midorima-kun, kalian di mana?"
"Ayo," ajak Midorima, mengulurkan tangannya pada Momoi. Momoi menyambutnya dan mereka pun lantas berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Iya, Tante, aku di sini," Momoi menutup ruangan yang mereka tempati barusan.
"Oh, di situ, rupanya. Baguslah, sekarang, kami tunggu kalian di bawah," sahut tantenya dari sudut lorong. "Turunnya yang cepat, ya," suaranya memelan, pasti dia dengan terburu-buru meninggalkan tempatnya berdiri dan segera ke bawah lagi.
"Dia juga orang yang suka terburu-buru," jelas Momoi. "Harap maklum, Shin-kun."
Midorima mendelik ketika mereka dalam perjalanan menuju tangga. Matanya dengan lekas terbuka lebar ketika dilihatnya beberapa orang yang amat dia kenal di bagian bawah sana, sedang berbicara dengan ayah dan ibu Momoi.
"Kenapa, Shin-kun?"
"Orang tuaku."
"Ha?"
"Lihatlah di dekat tangga, di samping ayahmu."
"Kenapa ..." Momoi memicingkan mata. Dia menemukannya. "... bisa?"
Midorima menggeleng. "Aku sama sekali tidak memberitahu bahwa aku akan ke rumahmu. Mereka juga tidak pernah kuceritakan tentang tempat ini."
"Kita segera ke bawah," Momoi mempercepat jalannya. "Sepertinya mereka merahasiakan sesuatu dari kita. Aku juga tidak tahu apa-apa, Shin-kun."
Langkah mereka lekas. Tiba di setengah dari jumlah anak tangga, semua mata langsung tertuju pada keduanya.
"Nah, inilah maksud sebenarnya aku mengundang kalian," ayah Momoi mebuat langkah putrinya serta Midorima berhenti karena keheranan. "Aku ingin memperkenalkan kekasih putri tunggalku—yang mulai hari ini resmi menjadi tunangannya."
Midorima dan Momoi berpandangan, raut kaget belum beranjak dari wajah mereka. Momoi bahkan mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Midorima. Keningnya menggambarkan garis keheranan, lebih parah dari yang tadi.
"Ya, sebenarnya hari ini adalah acara pertunangan mereka."
Merasa bahwa mereka terlihat seperti sepasang bocah bodoh jika berlama-lama di atas sana, Midorima berinisiatif untuk turun duluan. Di saat seperti inilah, dia berharap dia bisa menunjukkan kedewasaannya dengan bersikap tenang dan berwibawa. Dia langsung menuju ayah dan ibunya di ujung sana.
"Kalian merencanakan semua ini?"
Ayah Midorima mengangguk. Ada seberkas rasa bangga di matanya ketika dia menyambut putranya turun. "Ayah Satsuki menceritakan padaku banyak hal tentang hubungan kalian, dan dia berinisiatif untuk melakukan sesuatu demi kalian, karena kudengar sebelumnya kalian sudah memiliki cincin yang sama secara diam-diam."
Midorima tak tahu harus menjawab dengan apa.
Ayah Momoi masuk di antara percakapan ayah dan anak itu. Dia mengambil tangan Midorima kemudian menjabatnya, dia tersenyum kecil, "Cuma ini hadiah yang bisa kuberikan untukmu, sekaligus permintaan maaf atas apa yang terjadi saat pertama kali kaudatang ke sini. Selamat ulang tahun, putraku," dia kemudian merangkul Midorima.
Pemuda itu tak mengedipkan matanya sebab ketidakpercayaan seolah menghancurkan logikanya. Namun, tetap saja, dia membalas rangkulan itu.
Di balik punggungnya, rambut Momoi dielus oleh seorang wanita.
"Satsuki, hei, kau menangis?"
Momoi menoleh. Orang ini cantik. Berkacamata dan dari wajahnya ... bisa diketahui dengan gampang bahwa dialah ibu Midorima. Momoi kemudian spontan memeluknya. "Maaf. Ah, Tante, terima kasih atas hadiahnya."
"Tentu, Sayang."
Di tengah hingar-bingar pesta, Momoi melangkah mendekati meja utama
"Shin-kun."
"Hn?"
"Mau memainkan piano untuk mengisi acara? Pemain musiknya sedang istirahat."
"Tidak. Tidak perlu."
"Kenapa? Orang-orang pasti akan senang mendengar permainan seorang jenius piano di acara yang berharga ini."
"Tidak, aku tetap menolak."
"Alasannya?"
"Kurasa ayah tidak akan senang melihatku bermain piano di tengah umum seperti ini."
"Oh ayolah Shin-kun, walaupun ayahmu keras padamu, dan dia tak terlalu suka melihatmu main piano, kurasa dia akan mengampunimu untuk hari ini. Kau bukan anak kecil lagi yang akan keterusan dan meninggalkan semua yang kau punya hanya karena sekali bermain piano, 'kan?"
"Tetap tidak."
"Sayang sekali—"
"—Aku hanya ingin bermain piano untukmu sekarang."
"... Oh?"
"Bermain piano adalah hal yang paling membuatku bahagia. Dan aku hanya ingin menunjukkan kebahagiaan itu di depan orang yang kusukai."
end.
A/N: masih ada satu epilog ya heuheuheu 0 w 0
