Evergreen

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.

Pairing: Midorima Shintarou/Momoi Satsuki. Genre: Romance/Family. Rating: K+.

(Di saat Midorima Shintarou harus mengakhiri karir pianonya, dia bertemu dengan penari balet yang bernasib sama dengannya, Momoi Satsuki. Karir mereka harus diakhiri karena alasan keluarga. Kemudian, hidup mereka berubah. Namun tetap dipertemukan dengan orang yang sama.)


"Pulang, Shin-kun?"

"Nanti."

Langkah Midorima tertinggal beberapa meter dari Momoi. Momoi memutuskan untuk memutar balik dirinya. Tatapannya masih dilayangkan untuk Midorima, namun lelaki itu belum mau keluar dari zona nyamannya sendiri—zona yang tercipta karena kekhusukannya dalam memandang dekor di balik punggungnya.

"Ada yang kurang dari hiasannya?" bahu Momoi menyapu lengan Midorima dengan gerakan yang amat halus. Sehalus bisikan angin senja pada bumi yang mengantuk.

"Tidak," Midorima menggeleng. Dekor hijau tua yang bergabung dengan merah jambu lembut di depan sana belum menjadi objek yang membosankan. Fokusnya tetap menuju ke sana meski Momoi beberapa kali memainkan tangannya di depan wajah Midorima.

"Atau kurang suka?"

"Tidak, tidak sama sekali. Bukan begitu."

"Lalu?"

Momoi turut menatap apa yang membuat Midorima enggan membagi perhatiannya seperti biasa. Mencari jawaban sendiri mungkin jalan terbaiknya. Dia mencari cela yang bisa saja ada di sana, mengharap bahwa itulah jawab sehingga dia tak perlu lagi repot-repot bertanya pada Midorima.

Sejauh pengamatan, tidak ada yang salah. Kain hijau tua besar menjulur dari langit-langit hingga ke belakang kursi panjang megah yang di atasnya ditata beberapa bantalan merah jambu dan dibingkai keemasan. Bunga merah jambu mengelilingi singgasana kehormatan. Dua pasang bangku lain dideretkan di masing-masing sisi kiri dan kanan bangku utama, sepasang pada satu sisi. Dan ukiran yang membingkainya persis seperti pola yang menghias singgasana terbesar.

Permadani merah melintang dari dekat kaki mereka berdiri sampai ke sana. Di kiri dan kanannya, kursi-kursi dengan nuansa kain penghias merah jambu sudah rapi disusun dan siap untuk dipakai. Tiga tangkai mawar kecil mengisi vas mungil di tengah-tengah setiap mejanya. Dekor bunga lain juga tersedia di lain tempat, di berbagai sudut dengan aroma yang setara wanginya. Semuanya sama: merah jambu. Daun-daun bunganya hijau segar.

"Kurasa tidak ada yang kurang. Shin-kun, kurasa ibuku akan bertanya-tanya kalau aku pulang terlambat sementara besok kita harus bersiap-siap mulai dari dini hari."

"Aku tahu itu."

"Maka katakanlah apa yang mengusikmu sampai-sampai kau tidak mau melihat wajahku begini. Ada yang salah denganku?" Momoi mengambil posisi di depan Midorima. Sayang, selisih tinggi mereka menjadikan dia tetap tak mampu mengubah agar pandangan Midorima membalas pandangannya. "Kita harus menyelesaikan masalah apapun, sekecil apapun itu sebelum esok hari. Karena besok hari yang benar-benar penting ... dan ... yeah, Shin-kun tahu, tipe A sepertiku menginginkan hal itu berjalan dengan baik dan celanya—kalau bisa—diminimalisir sesedikit mungkin."

"Ini bukan masalah yang berhubungan denganmu."

"Lantas?"

"Aku hanya ..." Midorima menggeser letak kacamatanya ke atas. "Aku tidak yakin aku bisa berdiri dengan pantas di atas sana besok. Denganmu."

"Hei, kedengaran seperti bukan Shin-kun yang kukenal saja," Momoi tertawa kecil. "Bukannya Shin-kun yang biasa orangnya tidak pernah ragu? Soalnya, kalau ragu, keselamatan dan kesehatan pasiennya akan terancam."

"Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku. Ini berhubungan dengan masa depanku."

"Mmm, kau serius sekali. Rilekslah, nanti kau capek sebelum waktunya."

Midorima menurunkan tatapan. Matanya bertemu mata Momoi. Tumbukan yang membangkitkan energi untuk sama-sama tersenyum. Lengkung bibir Midorima amat tipis. Setipis keraguan di wajah Momoi—gadis itu terlihat amat antusias dan yakin sejak tadi pagi, sejak pertama kali dia datang ke gedung ini untuk ikut membantu menyiapkan segalanya.

"Apa yang membuatmu ragu?"

Midorima bukan gundah; hanya saja ada guncangan keraguan lumrah seorang lelaki yang akan mengemban tanggung jawab baru dimulai sejak besok pagi.

"Aku bahkan belum mendapat pekerjaan tetap. Aku masih praktik. Aku masih belum mengejar studi di level yang lebih tinggi. Aku masih jauh dari kata 'baik'. Tapi aku sudah harus berdiri di depan sana mendampingimu besok. Besok. Besoknya. Dan seterusnya. Dalam hidupmu."

"Hello, apa yang membuatmu pantas untuk mendampingiku itu hanya harta dan status semata?" Momoi mengalungkan kedua tangannya di leher Midorima. "Aku yakin Shin-kun yang cerdas pasti bisa menemukan jawabannya sendiri."

"Dalam hal ini, aku yang mengemban tanggung jawab. Kau tidak tahu perasaan macam apa yang sedang kucoba untuk menahannya."

"Kau pikir cuma kau yang punya tanggung jawab mulai dari sekarang?" Momoi tersenyum tipis, menurunkan tangannya, kemudian meninju pelan lengan Midorima dan mencubit ujung telinga lelakinya gemas. "Aku juga harus bertanggung jawab menjadi pendukungmu mulai dari esok, esok, esok dan seterusnya, seumur hidupku. Bertanggung jawab untuk semua yang kau lakukan, karena akulah yang seharusnya menjadi penasihat dan penyokongmu dari belakang. Juga bertanggung jawab atas perasaanmu. Itu tugas seorang istri. Itu hanya beberapa dari sekian."

Midorima tak memberi tanggapan. Kegamangan sudah terlalu gamblang menjadi sebab dari kacaunya perasaan dan fokusnya.

"Kau merasa belum pantas karena kau menikahiku bahkan sebelum kau mendapat pekerjaan tetap, begitu, ya? Apa aku salah?"

"Kurang lebih ... seperti itu," untuk hal yang menggambarkan ketakutannya, dengan lekas Midorima mampu berucap. "Aku takut aku belum bisa bertanggung jawab untukmu dan masa depan kita. Kurasa aku belum pantas."

"Tapi lamaran yang kau lakukan di hadapan ayah dan ibuku tidak bisa kau tarik lagi, Shin-kun."

"Karena itulah aku jadi terlihat seperti ini. Kau boleh mengatakan bahwa aku ragu."

Momoi tergelak. Inilah saat di mana dia bisa menemukan Midorima yang bukan seperti biasanya. Bukan Midorima yang dia kenal. Bukan Midorima Shintarou yang kokoh pendiriannya dan keras kepala akan teori yang dia kuasai. Bukan Shintarou yang tegas terhadap pasiennya dan berani mengambil tindakan. Bukan pula Midorima yang cerdas bak cendekia karena dia selalu sarapan buku terlebih dahulu daripada seporsi nasi. Bukan juga Midorima Shintarou yang cuek akan aspek-aspek kehidupan dan hanya mengejar karir dokternya semata.

Dan saat-saat ini berharga.

Bukan karena dia merasa menang sebab berhasil melihat Midorima yang berbeda; namun lebih karena suatu hal: di saat-saat seperti inilah dia harus mulai menunjukkan tanggung jawabnya sebagai (calon) pendamping—dengan tidak membiarkan lelakinya jatuh hanya karena rasa ragu.

"Yang membuatmu pantas untukku bukan soal harta. Tapi—ehm, mungkin kaubisa menyebut ini murahan, tapi sebutlah seperti itu karena kurasa itulah kenyataannya," Momoi menjeda sebentar, membiarkan Midorima mencari jawaban dengan meneliti matanya. Dia tersenyum jenaka. "Tapi rasa sayangmu. Yang membuat seorang laki-laki pantas berada di samping perempuan adalah rasa sayangnya. Semakin besar rasa itu, semakin pantas kau mendapatkan dan didapatkannya."

Kalimat Momoi dibayar dengan tertegunnya Midorima. Organ pernapasannya berhenti berfungsi sekian saat.

"Ya, sebut saja itu kalimat yang ... err, terlalu murahan," Momoi menyilangkan tangan di balik punggungnya. "Tapi kau harus tahu bahwa itu benar. Jangan ragu dengan pernikahan. Aku tidak keberatan menikah walau Shin-kun belum mendapatkan pekerjaan sekalipun. Karena aku yakin, pernikahan pasti akan mengubah dan membawa banyak hal. Karena pernikahan, seseorang bisa lebih bersemangat untuk hidup meski dia belum mendapatkan cita-citanya—dan karena rasa tanggung jawabnya pada si cinta, dia pasti akan lebih terpacu lagi untuk mencari pekerjaan. Seseorang akan jadi lebih hebat kalau begitu."

Midorima masih menyimak.

"Jadi intinya, ada dua. Satu, Shin-kun jangan merasa ragu dengan pernikahan, karena pasti akan ada banyak perubahan tak terduga. Dua, Shin-kun dilarang merasa tidak pantas, karena Shin-kun sudah menyayangiku, Shin-kun sudah lebih dari pantas untuk berada di sana," dia berpaling sesaat untuk menunjuk singgasana yang akan mereka tempati esok hari.

Satu tarikan napas, satu embusan panjang, satu kalimat kelegaan, "Terima kasih. Maaf karena aku begitu bodoh dalam hal ini—sehingga lagi-lagi akulah yang bersandar padamu."

"Jangan memikirkan itu. Kita berbagi tugas mulai sekarang—Shin-kun sudah melindungi dan menjagaku dari dulu, dan aku akan membantumu di hal-hal yang kau tidak tahu. Mengajarimu tentang cinta, misalnya, hihi, aku tidak percaya aku mengatakan ini, tapi ini amat remaja sekali. Cinta, cinta, cinta terus."

"Tapi cintalah salah satu faktor yang membuat kita berdiri di sana besok."

Momoi mengangguk. Matanya menyiratkan kebanggaan; betapa Midorima telah mampu mengerti sekian hal tentang cinta.

"Jangan gugup, ya, Shin-kun. Tenanglah, besok pasti akan jadi hari yang istimewa. Tenangkan dirimu, oke, anggap saja, besok kita akan mengadakan pertunjukan di depan penggemar. Kau akan bermain dengan lagu terbaikmu dan aku akan menari tarian terbaruku. Anggap saja seperti itu. Mengerti? Besok adalah pagelaran drama tari yang terbesar dalam hidup kita."

Seulas senyum tipis terbit. Midorima menyunggingkannya tanpa ragu. "Sepertinya ... barusan kedengarannya lebih kepada kaulah yang sedang mencoba menenangkan dirimu sendiri."

Tawa polos Momoi yang renyah meluncur dari bibirnya. Dia menggaruk pelipis, wujud rasa malu dan kikuk sebab topengnya terbongkar. "Bohong kalau aku tidak gugup."

Midorima merangkul punggung Momoi perlahan, membawa dia untuk pulang sebelum terlalu larut. Membimbingnya berjalan dengan cepat, Midorima sesekali melirik Momoi. Ya, gadis itu memang memperlihatkan ekspresi campuran. Takut, gugup, semangat, tak percaya, kaget, sekaligus gembira.

"Besok akan jadi hari yang indah," Midorima menanamkan kecupan di puncak kepala Momoi. Wangi mawar tercium sesaat olehnya. Momoi tersenyum lebih manis.

Midorima memetik selembar daun dari hiasan yang berada di dekat pintu. Tak dia pikirkan bahwa tindakannya sama saja dengan mengurangi keindahan hari esok.

Daunnya panjang dan punya garis-garis putih sebagai penjelas area tulangnya.

"Kau tahu tanaman apa ini?" Midorima memutar-mutarnya.

Momoi mengerutkan kening. "Tidak. Para pendekor tidak memberitahuku. Aku juga tidak memilih daun itu sebagai hiasan. Itu pilihan Shin-kun ya?"

"Namanya Evergreen," Midorima mengiyakan sekaligus mengutarakan. Nama itu membuat Momoi menjentikkan jari.

"Aku ingat sesuatu. Evergreen; judul lagu penutup pertunjukan kita."

"Hn," Midorima menggenggam daun itu. "Tanaman ini tetap hijau di empat musim. Mereka berbeda."

Sejurus setelahnya, Momoi kembali memunculkan senyumnya ketika mereka berhenti tepat di depan lift. "Kurasa aku tahu kenapa Shin-kun memilih tanaman itu untuk hiasan."

"Kaubisa menebaknya."

"Shin-kun ingin agar cinta kita bertahan terus, selamanya, meski melewati suasana yang berbeda-beda dan tak selalu indah. Hm, aku benar; bukan?"

"Hn."

Momoi mendongak, berjinjit. Satu kecupan dihadiahkan. "Kau tidak juga terlalu polos dalam hal cinta, Shin-kun."

Jari Midorima yang baru saja menekan opsi lantai dasar pada lift merangkul jemari Momoi malu-malu.

"Aku ingin menyayangimu selamanya."

evergreen: ended.


A/N: terima kasih buat semua pembaca, pemberi review, yang memilih opsi favorit, semuanya nggak bisa kusebutin satu-satu karena aku yakin, pasti ada pembaca diam-diam di luar sana yang juga mendukungku sepenuh hati (stat fic ini sampe ribuan, aku kaget sekaligus bersyukur banget :')), dan mereka gak bisa kusebut karena aku gak tahu siapa. siapapun kalian, yang sudah pernah membaca dan mampir ke fic ini, terima kasih banyak! kalian sangat berarti dan memberiku semangat :"D semoga kalian juga mendapat balasan yang setimpal, aamiin / /w/ /

dan ada yang tahu lagu westlife, evergreen? recommended banget!

series baru, de bloemetje (kise/momoi), akan dimulai sebagai pengganti ini!