Chapter 2

Setelah melewati kondisi yang sangat suram pagi itu, Hermione berniat masuk ke kelas ramuan Profesor Snape sekarang.

Ia merasa sudah cukup baikan.

Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak masuk , karena kejadian pagi tadi, Hermione jadi sedikit terlambat masuk ke kelas ramuan itu.

Terlihat dari semua bangku yang sekarang hampir sudah terisi semua.

Hermione melihat ke arah teman-teman Gryffindornya, Harry dan Ron tersenyum meminta maap padanya, karena sejujurnya mereka tidak tahu kalau Hermione akan masuk kelas pagi pikir gadis itu masih terbaring sakit di asramanya, karena mereka dengar dari Malfoy bahwa putri Grynffindor itu mengalami demam tinggi semalam.

Hermione balas tersenyum dan mengisayaratkan pada temannya bahwa ia tidak apa-apa. Walalupun sejujurnya ia agak sedikit kecewa.

Lalu, pandangannya beralih ke meja paling belakang. Ada satu bangku kosong disana, tapi Hermione ragu apakah ia harus duduk disana atau tidak. Ia tidak masalah dengan letak bangku itu, yang menjadi masalahnya adalah orang yang duduk manis disana. Orang yang membuat paginya berantakan,ralat bukan hanya paginya tapi hidupnya juga, ia orang yang sangat ingin ia hindari, Draco Malfoy. Pria itu tengah duduk tenang disana, ia tampak tengah memikirkan sesuatu bahkan sampai tak menyadari keberadaan Hermione di kelas itu.

Kemudian seakan takdir tak pernah memihak padanya, profesor Snape yang terkenal sangat killer dan membosankan itu datang dan menatap tajam ke arah Hermione yang masih berdiri di tengah-tengah ruang kelas.

Hermione menghela napas, ia tak punya pilihan.

Jadi mau tak mau Hermione bergegas menuju bangku paling belakang itu. Dengan gugup ia duduk disana dengan sangat perlahan, disamping pria itu. Untungnya Malfoy sedang tidak duduk bergerombol dengan teman-teman Slytherinnya,setidaknya hal itu membuatnya sedikit bernapas lega. Karena berurusan dengan satu Slytherin saja sudah sangat merepotkan. Dan keberuntungan lainnya adalah Malfoy yang tidak menyadari keberadaannya, karena biasanya jika mereka bertemu atau berpapasan, pasti Draco akan langsung mengganggunya dan membuatnya tidak nyaman. Dimana pun itu.

Hermione kemudian berusaha mengabaikan keberadaan pria itu, ia mengeluarkan perkamen dan tintanya.

Gadis itu menatap lurus kedepan, memperhatikan profesor Snape yang tengah menerangkan materi dengan nada menoton dan membosankan dengan wajah serius. Sementara ia tak mendengar suara lelaki disebelahnya bergeming sejak tadi . Seperti yang sudah ia jelaskan tadi, ini sangat aneh. Biasanya Malfoy tidak akan diam saja jika berada disampingnya, pria itu akan sebisa mungkin membuat kegaduhan atau keributan yang akan membuat Hermione jengkel,tidak nyaman, terganggu atau marah saat itu juga.

Hermione melirik kesampingnya, hanya ingin memastikan keberadaan makhluk pirang platina itu.

Lalu kemudian gadis itu tertegun seketika, melihat Draco, musuh bubuyutannya itu tertidur pulas diatasmejanya.

Wajahnya tampak begitu lelah, dan ada lingkaran hitam di mata yang menghiasi wajahnya. Hermione teringat kembali akan kejadian tadi pagi, tentang penjelasan Draco yang merawatnya semalaman.

Apa karena itu Draco tertidur di kelas sekarang? Berarti semua perkataannya tadipagi itu benar.

Seketika terselip sedikit rasa bersalah dibenak Hermione, jika itu memang benar berarti ia sudah bersikap keterlaluan padanya.

Mungkin ia harus memikirkan ide untuk meminta maap pada Draco. Walau ia tahu mungkin itu bukan ide yang terbaik.

Tapi tidak ada salahnya mencoba.

Draco POV

Aku menatap diriku dicermin besar yang tergantung di dinding kamar ku, aku yakin aku tampan, kaya raya, pintar, kharismatik dan hampir seluruh siswi di Hogwarts bertekuk lutut padaku. Bahkan hanya dengan senyumku saja, mereka akan jatuh cinta dan rela memberikan apapun padaku. Yah, memang terdengar murahan tapi itulah kenyataanya. Aku selalu mendapatkan apapun yang ku inginkan, aku selalu mengendalikan para wanita sesukaku dan mereka tak akan pernah menolak. Aku ini selalu jadi yang terbaik, dalam hal apapun.

Kemudian dia datang, sejak pertama kali aku menginjakan kakiku di Hogwarts 5 tahun lalu ia sudah menatapku dengan tatapan benci. Tatapan yang tak pernah kudapatkan dari gadis manapun di tak paham apa yang membuatnya begitu membeciku. Ketika gadis-gadis lain sibuk mencari perhatianku, ia akan menjauh dan mengabaikanku. Ketika semua gadis memuja-muja ketampananku, ia menghina ku dan berkata bahwa wajahku tak lebih baik dari wajah para trolls. Ia selalu membuatku kesal, membuat ku merasa terhina, membuat ku merasa diabaikan. Dia itu sisi lain dari duniaku.

Granger tak pernah bisa melihatku seperti gadis lain melihatku, jangankan terpesona pada ketampananku, melirikku saja ia tidak pernah sudi. Dia tidak tahu betapa ia telah menyiksa batinku selama ini, aku sangat menginginkannya melebihi apapun di dunia ini tapi dia tak pernah menginginkanku sebesar aku mengingikannya. Natal 5 tahun lalu adalah awal dari segalanya, awal dari perasaan yang tak akan pernah terbalas ini.

Granger selalu menganggapku pria brengsek, ia selalu menatapku dengan tatapan jijik seakan aku adalah kotoran di matanya. Bahkan setelah aku merawatnya semalaman sampai aku sendiri demam, jangankan berterima kasih, ia malah menendang perutku dan memaki ku tanpa memikirkan betapa tersiksanya aku menahan diriku sendiri ketika aku harus berpelukan dengannya semalaman tanpa pakaian. Aku berjuang sangat keras menahan hasrat dalam diriku untuk tidak berbuat hal yang tidak ia inginkan, dan rasanya sangat menyakitkan.

Tapi jangankan memikirkan hal itu, Granger bahkan tak pernah sekalipun memikirkanku, sekalipun.

Aku menghela napas lelah, kemudian dengan terseok-seok berjalan menuju ranjangku. Ini baru pukul 8 malam tapi rasanya aku sudah sangat lelah setelah seharian tadi berlatih Quiditch di lapangan, tubuhku bahkan terasa memar dibeberapa bagian karena si otak udang Weasley itu menabraku hingga aku jatuh dari sapu terbangku, dan ia melakukannya dengan sengaja. Untung hanya kakiku yang saja akan kubuat perhintungan dengannya nanti.

Aku baru saja hendak memejamkan mataku ketika seseorang mengetuk pintu kamarku.

"Malfoy? kau ada di dalam?" Itu suara Granger.

Demi Salazar Slytherin itu suara Hermione Granger.

"Malfoy, kau di dalam?Ini aku, Granger." Suaranya begitu merdu, jika aku harus mati sekarang aku tidak apa-apa, asal bisa mendengar suara itu memanggilku terus, aku rela.

Kurasa aku mulai berlebihan sekarang.

"Baiklah, sepertinya kau sudah tidur. Aku akan..."

"Ada apa Granger?" Aku membuka pintu kamarku cepat -cepat, menatap Hermione yang berdiri diambang pintu kamarku lengkap dengan piyama tidur dan wajah gugupnya.

"Hmm, aku hanya ingin minta maaf." ucapnya gugup.

Aku tak pernah melihat Granger begitu gugup, sungguh ia tampak manis.

"Sayang sekali Granger, tapi aku menolak permintaan maaf sudah seharian, dan kau baru sadar dan meminta maaf. Kau sungguh keterlaluan." ucapku dengan nada datar.

Sungguh aku hanya bercanda mengatakan itu, aku hanya ingin melihat reaksi gadis itu.

Granger merenggut,

"Yasudah terserah kau saja Malfoy, yang penting aku sudah minta maaf padamu." ucap Hermione acuh.

Ketika gadis keras kepala itu hendak berbalik, aku menahan tangannya dan dengan gerakan cepat memeluk Granger dari belakang.

Seketika harum tubuh Granger menyerbak dihidungku, wanginya begitu memabukan membuatku rasanya ingin terus mendekapnya seperti ini.

"Malfoy..." geram Hermione.

"Hn-" aku hanya berdeham pelan, dengan sengaja kutenggelamkan wajahku ditengkuknya.

"Malfoy, aku baru saja meminta maaf padamu. Jangan membuatku menyesali perkataanku dan cepat lepaskan aku." pintanya.

"Hn-" lagi-lagi aku hanya bergumam.

Aku hanya ingin mengetes kesabarannya.

"Malfoy.."

"Hn-"

"Lepaskan."

"Hn-"

"Kau tuli ya, kubilang lepaskan." geram Hermione.

"Hn-" lagi - lagi aku hanya berdeham pelan.

Kemudian hening.

"Awww, shit Granger!" refleks aku melepaskan pelukanku pada menendang keras kakiku, tepat di kaki ku yang memar dan kau tau bagaimana rasanya, Sungguh.

Memilukan.

"Sudah kubilang kan, lepaskan. Tapi kau tak mau jangan salahkan aku. Aku datang kesini dengan baik-baik tapi kau selalu membuatnya rumit." ucap Granger dengan nada tak berdosa.

Aku menatap gadis itu sebal, bukan karena ia menedang tulang keringku tapi ketidak pekaannya itu selalu membuatku uring-uringan.

Aku bersandar ke pintu dibelakangku dan merosot begitu saja. Aku menarik celana trainingku ke atas dan melihat memar di kakiku yang semakin membiru .

Tadinya memar ini sudah agak baikan, tapi karena gadis Gryffindor ini, memarnya memburuk lagi.

Sekilas ku lihat Hermione menatapku dengan wajah khawatir, walaupun ia berusaha keras usahanya itu gagal total. Lalu ketika aku mendongak kearahnya ia pura-pura tak melihatku bahkan ia pura-pura melihat kearah lain, dan entah kenapa itu membuatku menyeringai.

"Malfoy apa kau baik-baik saja?" tanya Granger kemudian.

"Tidak setelah kau menendang kakiku yang memar, Granger. Dan aku berterima kasih berkat kau, sekarang memarku tambah parah." ujarku sarkastik.

"Itu bukan sepenuhnya salahku, siapa suruh kau memeluk ku seenaknya. Kau pikir aku ini boneka,ha?" ucap Granger kesal kembali.

Sungguh, emosinya gampang sekali terpancing.

"Aku tidak bilang kau boneka." ucapku membela diri.

"Tapi kau memperlakukan ku begitu, tidak bukan cuman aku. Tapi kau memperlakukan semua wanita seperti boneka. Kau memeluk mereka seenaknya, menidurinya dan mempermainkannya lalu ketika kau bosan kau akan membuangnya begitu saja. Tapi mereka terlalu bodoh sampai mau menanggapimu, tapi aku berbeda Malfoy. Aku tidak tertarik dengan apapun yang ada dalam dirimu, tidak sedikitpun." ujar menatapku tajam, seakan memohok ku dengan perkataannya.

"Granger, mungkin kau benar. Aku memang memperlakukan semua wanita itu seperti boneka, tapi tidak dengan kau. Aku tak pernah menganggapmu begitu." ucapku jujur.

"Kau pasti bercanda." Gadis itu memutar matanya, ia tampak tak percaya. Tak bisakah ia melihat kejujuran di mataku? Apa ia terlalu naif untuk menyadarinya?

"Aku serius Granger, maaf kalau selama ini aku memperlakukan mu seperti tak bermaksud, aku hanya..." perkataanku menggantung, aku tak tahu harus bagaimana menyelesaikan kalimat ini. Aku tak tahu akan bagaimana reaksi Granger kalau ia tahu perasaanku yang sebenarnya padanya.

Mungkin gadis itu akan muntah, atau pingsan bisa juga. Yang terburuk mungkin ia bisa kejang-kejang kemudian.

"Aku hanya?" Granger mengulangi perkataanku yang menggantung tadi.

Aku mendengus, kemudian bergumam pelan.

"Lupakanlah, lagipula itu tidak penting." Aku bangkit, kemudian menyeret kakiku paksa dan masuk kedalam tanpa mengatakan apapun. Kau tahu memar di kaki ku tak berasa apa-apa dibandingkan luka yang Granger buat di hatiku.

Tak pernahkah gadis itu berpikir apa yang membuatku brengsek seperti ini? Apa yang membuatku memperlakukan semua gadis seperti boneka, apa yang membuatku bersikap brengsek pada semua gadis dan terus menerus mengganggunya, itu karena...

Aku mencintainya.

Aku hanya ingin mendapat perhatiannya.

Dan masalahnya, aku tak tahu bagaimana harus bersikap pada orang yang kita cintai, bagaimana membuatnya sadar bahwa aku mencintainya, bagaimana mengungkapkan perasaan sialan ini padanya. Aku tak tahu sejak kapan gadis rambut semak itu mulai mengusik ketenangan hidup dan jiwaku, sejak kapan ia selalu datang dan mengganggu sekaligus menghiasi mimpi-mimpiku, mungkin juga sejak natal kali itu, aku tak tahu kenapa ia selalu hadir disetiap hal yang kupikirkan. Aku tak tahu apapun, selain kenyataan bahwa aku Draco Lucius Malfoy mencintai Hermione Jean Granger dengan sangat buruk.