Halo! ketemu dengan BAKAuthor yang sableng ini. Dan saya akan menyajikan fic ini. Dijamin tambah seru, tambah menegangkan, tambah greget, tambah... Ah pokoknya langsung kita baca saja chapter 3 ini.


First Spirit

Disclaimer : Sekali lagi seperti yang Author lain katakan. Date A Live Bukan punya saya tetapi punya Kōshi Tachibana-Sensei.

Warning : Khayalan yang kurang,tidak jelas,typo,Author mabok (?), chara utama Date A Live lainnya tidak diceritakan, rate langsir ke T karena ada beberapa adegan keji, dll.

Pairing : OC X OC, lalu Kurumi? Dijadikan adiknya saja XD

Summary : Spirit pertama kembali bangkit. Ia adalah seorang laki-laki berparas tampan dan suka membuat kehancuran. Akankah Kotori Itsuka merekrut orang lagi untuk menyegelnya ataukah ia akan dibiarkan saja dan membuat kehancuran di bumi?


'Teett...tett...teett..'

"Baik,pelajaran hari ini ada di berkas no. 3 tentang kebudayaan jepang yang mulai hilang. Sekian, terima kasih,"kata sensei sambil berlalu meninggalkann ruang kelas 11-8. Ken langsung menata dokumen dan memasukannya ke dalam tas hitamnya. Tak lupa ia juga mengangklek tas yang biasa dipakai untuk membawa gitar elektrik, walaupun saya yakin isinya bukan gitar dan bergegas pulang.

Sewaktu ia berjalan di lorong kelas Ken tiba-tiba melihat seseorang yang membuat wajahnya langsung merona merah. Ia bertemu Yoshikuni Chinatsu. Yah kalian tahu kan Menurut tokoh utama kita Yoshikuni Chinatsu siapanya dia. Ia hanya menatapnya sebentar dan kembali pergi bahkan tanpa berkata "Oh" sekalipun yang yang bahkan biasa dikatakan Tobiichi Origami. Ken mencoba menarik nafas dan menghebuskan nafasnya untuk mencoba menyapa gadis dengan rambut kepang warna hitam tersebut.

"Chinatsu-san!"

Sialnya, gadis yang disapanya tidak mendengarkan suaranya atau mungkin ia tidak mau mendengarkannya! Langkah kakinya tidak menuju tangga sama sekali tetapi lurus. Ken mengerti ia adalah salah satu dewan siswa atau kalian bisa menyebutnya OSIS dan ia menjamin gadis yang disapa Chinatsu menuju ke ruang OSIS yang memang tinggal lurus.

Duh gusti ,kenapa Ken menyukai ketua kelas 11-4 yang seorang dandere?! Hanya tuhan yang tahu. Itu yang Ken selalu pikirkan. Mempersetankan gadis itu, ia terpaksa pulang sendiri dan tak ada teman yang menemaninya. Ia memang tidak mempunyai teman bahkan hanya musuh yang ia punya.

Menuruni tangga dari lantai 4 hingga rasanya dasar tangga itu tak berujung. Ken akhirnya berhasil mencapai tangga dasar. Hari ini ia tidak bernafsu untuk berburu AST lagi, ia memilih untuk pulang ke rumah saja dan mungkin ia harus berburu binatang untuk dibawanya ke rumah. Itulah yang biasa Ken lakukan sebelum benar-benar pulang ke rumah.

Tetapi rasa-rasanya ia juga tidak bernafsu untuk melakukan itu juga. Ia lalu melangkahkan kaki melewati gerbang sekolah. Ia bisa melihat sekilas seorang pemuda bersurai biru, tangan kanan dipeluk gadis bersurai ungu dengan model semi-pony tail, sementara tangan kirinya dipeluk juga oleh seorang gadis berambut putih pendek. terlihat dari tatapan mereka, mereka saling membenci satu sama lain. Tak lupa saya menyebutkan di depannya ada 2 orang gadis dengan rambut kuning dan dibelakangnya ada seorang gadis yang sayup - sayup berteriak "Darling!" beberapa kali.

"Cih,"

Segera ia menghindari arah pemuda itu. Ia menjamin jika ia berada lama - lama didekatnya, ia akan ikut ketularan virus pemuda yang diajari oleh gadis bersurai merah yang dikenalnya. Tanpa sadar ia melangkahkan kaki menuju sebuah kafe yang terletak tak jauh dari Raizen High School.

Pintu perlahan berderit dan hirup pikuk orang banyak terdengar. Ia lalu menuju salah satu meja dan duduk melepas beban pikiran dan raga. Lalu seorang pelayan datang menghampirinya.

"Selamat datang di kafe kami, adakah yang anda pesan,"tanya pelayan itu.

Ia menyodorkan berbagai macam menu yang mungkin ada yang belum ia kenal. Ia membolak - balikan daftar menunya dan menemukan yang satu yang mungkin yang ia kenal.

"Semangkok ramen. Lalu minumnya air putih yang dicampur es,"pesan Ken.

"Terima kasih, akan kami hidangkan,"jawab pelayan itu lalu berlalu.

Situasi yang ramai, situasi yang lumayan dibenci Ken. Dan orang-orang sekitar tidak menyadari kalau seorang pemuda yang duduk di meja nomor 12 adalah spirit yang siap menghancurkan tempat itu dan membubarkan massa kapanpun. Mungkin mereka terlalu lapar dan haus untuk mau tahu tentang hal itu.

"Azazel,"

"Ada apa, Ken?"

Sebuah suara gadis muncul dari dalam wadah gitar.

"bagaimana kalau kita akan berburu tupai? Aku sedang tidak nafsu untuk dihajar AST hari ini,"tanya Ken."

"Kenapa? Tidak dipedulikan lagi oleh Chinatsu?"balas Azazel

"Yah, begitulah,"jawab Ken lesu.

"Baiklah,"

Tak berapa lama kemudian seorang pelayan datang membawakan pesanan Ken dan menaruhnya dimejanya. Pelayan itu segera pergi setelah membungkukan badan terlebih dahulu.

Ken segera mengambil dan sumpit sekali pakai dan segera memakan ramen yang masih hangat itu dengan. Rasa panas dan gurih segera teresap dilidahnya. Setelah puas hingga tersisa setengah mangkok ia menyeruput kuah ramen dan meminum air putih dingin dengan cepat. Ken Beristirahat sebentar, mengambil nafas untuk persiapan penghabisan ramen.

'Jtarrr... Jtar... drererer... '

"Kyyaaa!"

"LARI! LARI! "

Diluar sana, orang-orang berlari panik menghindari sebuah bank. Bank itu ternyata didatangi perampok dan suara tembakan bagai senapan mesin terdengar. Mereka menembaki senapan mereka dengan membabi-buta bahkan kafe yang ada di seberang jalan ditembaki juga. Sontak semua yang ada disitu segera merunduk dan suara berdesing melubangi kaca-kaca hingga pecah.

Pengecualian untuk Ken. Ia tidak terlalu peduli dengan hal itu. Ia terus memakan ramennya dengan santai ditengah deru tembakan yag memekakan telinga. Orang-orang menatap pemuda itu dengan tatapan heran bercampur khawatir. Yah reader tahu sendiri kan mengapa Ken santai sekali.

'Ngguuweeesss... CLAASSSS!'

Saat Ken akan mengambil ramen dengan sumpit, tiba-tiba mangkuk ramennya hancur dengan sangat cepat dan ramen beserta kuahnya berceceran hingga kelantai. Ken membeku sebentar melihat makanannya tumpah.

"SIALAN! PADAHAL SEBENTAR LAGI RAMENKU AKAN HABIS!"umpatnya dengan keras.

Ia lalu berdiri dengan cepat lalu merogol sesuatu dari kantong celananya dan mengeluarkan sebuah dompet. Ditaruhnya uang sejumlah 100 yen di atas meja dan dompetnya dimasukan kembali kedalam saku.

"Terima kasih atas makanannya!"ucapnya dengan keras seraya berlari mengejar perampok yang telah menewaskan makanannya itu.

Mereka keluar dengan sekarung uang tiap orang dari bank dan segera pergi dengan 2 mobil sebelum polisi datang dan menangkap mereka. Siapapun yang menghalangi mereka ditembaknya tanpa ragu-ragu.

Ken meraih tas gitar yang ada di punggungnya dan ditarik resletingnya sementara ia berlari dengan kecepatan 4 km/jam diatas rekor kecepatan berlari tercepat yang dipegang Usain Bolt. Ia mengeluarkan Senapan M1903 Springfield dan dibenarkan kembali posisi tas gitar itu ke belakang.

"Ayo Azazel!"teriaknya

Senapan itu dilempar ke atas kemudian bercahaya biru sangat terang dan mengubahnya menjadi sepeda gunung. Ken segera melompat dan mendarat diatas sepeda itu.

Dengan berdiri membungkuk ke depan ia genjot sepeda itu menguber sepasang mobil perampok. Dua buah truk trailer disalipnya tanpa ragu. Yah ia seharusnya sudah pantas masuk tol dengan kecepatan secepat itu. Setelah menyalip sebuah mobil ia masuk ke lajur pertama tepat dibelakang sebuah mobil Lancer berwarna putih. Ia bisa melihat sekilas kalau speedometer mobil didepannya menunjukan angka 80.

Truk tronton wingbox menyalipnya dengan perlahan. Dengan perlahan ia berdiri diatas rangka sepeda tanpa kehilangan kecepatan dan keseimbangan sekalipun. Hal yang mustahil dilakukan bahkan seorang akrobatik sekalipun. Tangannya yang direntangkan mulai diturunkan dan kakinya segera ditolakan dari sepeda hingga tubuhnya terbang cukup tinggi.

Dengan keras ia mendarat diatas atap wingbox dan lekas ia berlari mengejar mobil hitam yang berada 100 meter di depannya. Sepedanya kembali bercahaya dan merubah bentuk menjadi sebuah meteor yang juga mengejar Ken. Meteor biru itu berubah kembali menjadi senapan jaman Perang Dunia II dan tepat terpegang di tangan kanan Ken yang tengan berayun. Kedua tasnya mulai mengeluarkan cahaya putih lalu pecah menjadi kepingan poligon dan menghilang

Ia lalu melompat menuju truk yang ada didepannya dan sebuah hembusan angin muncul dari kakinya dan mengakibatkan lompatannya bertambah jauh hingga masuk kedalam bak truk pasir. Tiger Sproong berhasil ia lakukan tanpa bantuan tangan dan Ken kembali berlari melompat dan kembali mendarat dengan mulus diatas truk wingbox.

Kali ini ia memutuskan untuk melakukan tindakan offensif dengan mengongkang senjatanya. Ia berlari sekencang-kencangnya dan saat mencapai titik akhir ia langsung menolak kakinya dan hembusan angin kencang menambah tenaga lompatannya yang memiliki trajektori 45 derajat.

Senjata api yang ada ditangan kanannya diarahkan kearah depan tepatnya ke arah pintu belakang mobil berwarna hitam berjenis van. Tiap detik dan detik perlahan terasa semakin melambat. Ken berkosentrasi setiap milidetik menyocokan pisir dan penjera dengan titik perkiraan target yang terhalang pintu mobil. Pelatuk pun segera ditariknya untuk mengubah segalanya.

'JJDUUURRRRR!'

Kilatan cahaya dari katrid .30-06 Springfield menghiasi pucuk senapan yang ada ditangan Ken. Sebagai efek dari Hukum Newton III tangannya terdorong 5 cm ke belakang. Sementara itu peluru meluncur dengan kecepatan mendekati 3204 kilometer per jam. Peluru itu menghantam pintu mobil, bukan maksudnya menembus pintu mobil dan juga menembus kepala salah satu orang yang ada didalamnya. Pria itu ambruk kearah depan karena saking kencangnya peluru.

Didepannya tidak ada titik pendaratan berupa kendaraan, yang ada hanyalah aspal. Jika ia mendarat di jalan yang terjadi adalah JEBREETTT... Ia akan tertabrak truk yang ada dibelakangnya. Tetapi Ken tak menkhawawatirkan hal itu.

Aura-aura berwarna biru muda turun dari kaki kanannya dan berkumpul di kedua telapak sepatunya. Cahaya itu kemudian memanjang menyenatukan diri satu sama lain dan membentuk papan, bukan maksudnya pedang berwarna biru muda yang ditapakkan oleh kedua kaki Ken layaknya Hoverboard. Ken yang tadinya menukik akan mencium aspal ditambah terlindas truk kini mulai terbang ke atas layaknya pesawat yang selesai menukik.

Dicondongkan badan ke depan, lalu kedua tangannya diarahkan ke belakang, hembusan angin langsung mendorong pedang yang dipijaknya dengan sangat cepat menuju mobil van yang pintu belakangnya terbuka. 2 orang dengan senjata RPK dan 1 orang dengan busur lengkap dengan realizer dikepalanya siap menantinya, mereka tahu Ken adalah musuh mereka dari benda yang berada di tangan kanannya dan dipakai untuk mengeksekusi temannya.

Ditariknya tuas pengongkang senjatanya dan selongsong katrid .30-06 Springfield keluar dengan cepat dan hanyut ditelan hembusan angin. Selagi ia menyalip sebuah mobil putih cepat-cepat ia dorong tuas pengongkang senapan Bolt-Action itu dan bersiap untuk tembakan selanjutnya.

Pintu tol sudah di depan mata dan 2 mobil van itu melabrak pintu tol tanpa belas kasihan hingga hancur. Sontak kejadian itu mengejutkan sebagian orang yang ada di situ. Ken mulai menaikan kentinggian Hoverboardnya dan melewati gerbang tol yang atapnya berada 1 meter dibawahnya. Kini jarak tinggal 50 meter.

2 orang pria mulai menarik pelatuk senapan mesinnya secara membabi-buta ke arah Ken sebagai serangan pembuka. Ken akan membalas serangan itu sekarang? Tidak. Ia mulai menurunkan ketinggian hingga tidak terlalu tinggi dari aspal mengarahkan ujung senjatanya ke kepalanya dan tanpa ragu-ragu ia tarik pelatuknya. Bukannya melukai diri sendiri malahan sebuah bola berwarna kuning transparan yang mengelilinginya hingga setinggi truk disertai suara dan kilatan hantaman peluru yang hampir mirip seperti hujan.

"Kalian cukup hebat juga yah," gumamnya pelan

1 orang lagi mulai mengambil sebuah tongkat putih dari punggungya dan ditaruhnya di busur lalu ditarik busur itu hingga maksimal. Ken kemudian memiringkan Hoverboardnya ke arah kanan menuju sisi kiri mobil Fortuner warna putih. Pria itupun segera melepas tali busurnya, bagian putih anak panah itu mengembang dan terlepas menjadi 4 bagian menampakan anak panah dengan bagian depan mengeluarkan cahaya laser dan bagian belakangnya menyemburkan api. Yah kalian para readers bisa menyebutnya dengan "Pedang saber yang diluncurkan lewat panah dan memiliki roket".

Melihat sekilas dan 10 detik setelah ia menembak dirinya Teritorrynya mulai memudar, Ken segera membelokan Hoverboardnya ke arah kiri menuju ke sebuah mobil Fortuner putih. Bunyi berdengung terdengar dan rasaya waktunya melambat. Sebuah panah dengan pucuk bercahaya ungu meluncur melewati punggungnya, Ken berusaha menghindari punggungnya dalam waktu yang sangat kecil ini. Lesatan panah melenggang kangkung melewatinya dan menghajar sebuah pembatas jalan hingga meledak hebat mengenai mobil yang ada di sekitarnya dan terpental.

"Tetapi tidak juga, masih kalah akurasi,"lanjutnya dengan suara pelan

Ken mengarahkan Hoverboardnya menuju sisi kiri mobil fortuner. Tembakan senapan mesin dilakukan saat Ken mencoba menuju sisi kiri mobil. Hasilnya bisa ditebak, ratusan peluru menghajar mobil secara membabi-buta. Ken bisa melihat pengemudi mobil itu melakukan gerakan ajeb-ajeb sebelum akhirnya kepala pengendara itu menghantam setir mobil dan kaca sisi kiri mulai pecah. Ken segera merunduk dan sedikit membelokan ke kiri untuk menghindari kaca-kaca pecah bertebaran.

-,Terbang ke arah pohon sekarang juga!

Firasat Ken mengatakan kemudian. Sebagai orang yang memiliki intitusi tinggi, Ken harus mempercayai hal ini. Ken menjauhkan diri dari mobil itu dan tak disangka mobil meledak hebat hingga terpental ke lajur kanan. Ia mulai mengarahkan lagi melewati bahu jalan, pembatas , dan ia terbang diantara deretan dahan pohon dan mengendalikannya secara hati-hati agar tidak terantuk atau mungkin tersandung cabang pohon atau yang tidak elit lagi adalaha menabrak pohon.

'Dredrdrdrdrdrdr...'

'sluv..sluvbzrkbzrkbrkzbzkzkz...paanggg...'

Tembakan mulai gencar dilakukan mengarah ke seseorang yang terbang diantara pohon bagai iblis, Ken mulai menarik tuas kongkang dengan tangan kiri dan sekali lagi selongsong peluru yang mulai mendingin keluar dan hilang. Ditengah tembakan senapan mesin ia kembali mengarahkan senapan itu ke arah mobil hitam. Matanya sekali-kali melirik ke arah pangkal senjata untuk mencocokan kembali pisir penjera dengan target. Dalam waktu sepersekian detik ia menarik pelatuk secepat mungkin.

'JDDUUURRR...'

Efek dari Hukun Newton III terjadi sementara peluru berdiameter terbang dan menghajar salah satu Machinegunner Man hingga terpental kebelakang. Ken segera menarik tuas kongkang dan mendorongnya secepat kilat dengan tangan kiri. Tanpa dibidik ditaruhnya senjata itu di pinggannya dan pelatuk pun ditarik dengan tangan kanan. Setelah itu ia segera melompat dan Hoverboard yang berbentuk pedang tersebut segera meluncur bak roket melesat dari pesawat dan mengenai bagian dalam Mobil van dan meledakan serpihan es. 1 orang segera ambruk dan jatuh ke aspal dan satunya lagi sekujur tubuhnya tertusuk serpihan es yang meledak itu.

Tinggal satu lagi. Pengemudi van yang mengetahui rekan-rekannya tewas satu per satu mulai mengambil pistol otomatis Uzi dan menembaki Ken. Tak ragu-ragu kembali ditarik dan didorong tuas kongkang senjata itu dan ditarik pelatuknya kembali hingga mengeluarkan suara yang amat keras. Hebatnya tanpa dibidik pun peluru tepat mengenai kepala korban hingga memuncratkan darah ke kaca sisi kiri.

Mobil mulai oleng ke arah kanan hingga terpental karena menabrak pembatas jalan dan ditabrak beberapa mobil dengan keji dari jalur berlawanan. tetapi perburuan belumlah benar-benar berakhir. Ken mulai mengadahkan kepala ke mobil satunya lagi. Terlihat samar-samar mobil berwarna hitam satunya lagi akan memasuki tanjakan lebar yang melingkar, tanjakan itu menuju jalan tol lainnya yang berada diatas jalan tol tersebut.

Sebelum benar-benar masuk putaran, Ken segera melakukan salto sementara telapak kakinya kembali membentuk aura es dan semakin lama membentuk Hoverboard kembali dan melesat memotong jalur tol lewat udara disusul acara mengongkang senjatanya. Diperkirakan mobil van sang digondol perampok itu akan masuk jalur ke selatan. Ia lalu mendekati sebuah truk tangki LPG 6 roda dan melompat memasuki kabin lewat sisi kanan lalu menghajar supir truk dengan tangan kirinya yang kosong dan membuangnya keluar. Sementara kenetnya? Ia tembak.

Ia mengendalikan truknya dengan kondisi sangat terdiam ditambah matanya yang setengah tertutup. Tiba-tiba ia melakukan banting stir ke kanan dan melompat keluar truk dan terbang ke pinggir jembatan dengan Hoverboard untuk menghindari ledakan. Truk itu terbang karena menabrak pembatas jalan dan ketika terjatuh segera ditabrak beberapa mobil salah satunya adalah mobil van milik perampok yang melaju cukup kencang dari arah berlawanan.

Ledakan membahana terjadi hingga siapapun yang berada di radius 3 meter langsung terpanggang habis. Api dengan cepat berkobar. Yah untunglah jalan pada saat itu lumayan sepi, sehingga korban jiwa tak terlalu banyak.

Di tengah jalan seseorang dengan busur dan berjalan tertatih tatih menatapnya dengan tatapan tajam Ken yang berada di sisi lain jembatan cable stayed. Ken mengambil ancang-ancang sementara pria dengan Realizer di kepalanya itu mulai mengambil sebuah salah satu anak panah di punggungya lalu menarik tali busur itu dan membidiknya.

Tetapi, Ken hanya melangkah menuju jembatan logam tanpa perlindungan dengan santai. Tidak ada apapun, tidak ada bentang alam ataupun benda untuk menghalangi peluru. Bahkan orang itu, salah satu anggota perampok yang selamat melarikan diri sebelum mobil yang ditungganginya meledak untuk menciptakan situasi ini hanya dapat terus memasang posisi kuda-kuda di tanah, dan sedikit keraguan dapat terlihat di belakangnya.

Tetapi, ia kelihatannya pemimpin salah satu komplotan perampok yang cukup beringas dalam menggunakan busur mekanik, sehingga pengalamannya membuatnya mengabaikan keraguannya. Sedetik kemudian, lesatan anak panah nya meluncur dengan suara kuat yang menyerupai dengungan mesin baling-baling, dan segera menyebar ke seluruh permukaan jalan.

Tetapi, Ken sendiri menghindari anak panah yang menyebar banyak sekali yang luncurkan dengan cara yang tidak disangka. Ia kemudian berlari ke kawat yang menyangga jembatan dan menggunakan tangan kirinya untuk memanjat secara melintir. orang itu dengan terburu-buru mencoba membidikkan senjata padanya, tetapi sulit untuk seseorang membidik seseorang dengan gerakan sangat lincah dan melepaskan 1 tembakan untuk membunuh musuh yang ada di atas. Tetapi sebagai akibat tembakan keduanya tidak mengenai Ken, Ken menggunakan hentakan tali untuk melompat ke jembatan pada posisi yang lebih dekat dengannya.

Pria itu itu berdiri untuk menunjukkan kalau dia tidak akan dibodohi untuk kedua kalinya dan melepaskan busur untuk ketiga kalinya. Tetapi, serangan ini telah diantisipasi oleh Ken. Dengan demikian ada celah kecil pada jalur penembakan dan tanah, sosok bersurai pirang itu bergegas menyerbu masuk tanpa jatuh menggunakan tangan kirinya untuk menyangga tanah dan berguling ke depan seraya mengongkang senjatanya dengan cepat. Ia hanya berjarak 20 cm dari orang itu ketika bangun.

"Sialan kau…!"

Orang itu mengeluarkan makian yang biasa digunakan dan mencoba menarik 3 anak panah jenis sebar sekaligus. Tetapi…

M1903 Springfield di tangan kanan Ken mengeluarkan kilasan diam.

Pada jarak sedekat itu, peluru-peluru senapan tidak akan sepenuhnya meleset. orang itu seketika terjatuh ke belakang ketika spesial efek kilat tersebar di seluruh badannya. Tetapi, bukan main, ia tidak berhenti malah kembali menarik busurnya kembali dan menyiapkan senjatanya di depan wajah Ken. Tetapi, ia terlalu lambat.

Ken sekali lagi mendekat dan menembak untuk kedua kalinya yang menyebabkan pria itu kehilangan keseimbangan. Ini adalah bagian paling menakutkan dari senapan. menyebabkan efek rasa sakit yang lama di samping kekuatan yang biasa, memperbolehkan seseorang untuk terus-menerus diserang tanpa daya.

Tetapi itu tidak akan bisa menghentikan nafsu egois dan membunuh dari orang itu, dan sudah terlambat. Ken terus mendekat dan perlahan menarik dan mendorong kongkang M1903 Springfield sebelum menekan pelatuk di depan orang itu untuk ketiga kalinya. Peluru berdiameter 7,62 milimeter meledak, meluncurkan kekuatan membunuh dan mengukir sebuah lubang di dahinya.

Pria itu, terpental sepanjang 1 meter dan terhempas ke tanah dengan lemas. Tangannya yang menarik busur itu mulai melemaskan tegangan tali busur dan membuat peluru itu aman untuk meluncur dengan kencang. Ia lalu memeriksa jenazah itu dengan seksama. Dengungan sirine perlahan terdengar dari kejauhan, itu adalah pasukan polisi yang mulai mendekat dan melaju dengan Realizer buatan DEM.

Dengan terpaksa Ken segera berlari dan melompat dari jembatan layang. Ia memasuki hutan dan hilang entah kemana perginya.


"Jadi begitu ceritanya ya?"

Seorang gadis dengan baju gothic lolita dan surai ikat dua selesai membisikan sesuatu kepada gadis satunya lagi yang bagai pinang dibelah dua.

"Ya diriku yang lain. Aku mengamatinya secara diam-diam. Sepertinya ia adalah Nii-san kita yang amat kuat bahkan dalam mode normal. Bukan juga, dia sepertinya tidak diperhatikan lagi lagi oleh Chinatsu-san,"

"Khukhukhu... Jadi begitu ya ceritannya? Baiklah kau kupersilahkan kembali berkeliaran asalkan tidak terlalu keterlaluan,"kata yang asli.

Kurumi yang selesai membisikan cerita itupun segera tenggelam ke aura hitam yang berada di kakinya.

"Terima kasih, diriku yang lain,"katanya dan ia benar-benar menghilang ditelan kegelapan.

Lalu Kurumi yang asli mengarahkan pandangannya ke arah bagunan-bangunan yang berada di bawah gedung pecakar langit yang ia tempati. Seliran angin malam menggoyangkan rambutnya dan terangnya bulan purnama pada malam itu mampu menerangi seluruh bagian wajahnya.

"Heh, baiklah Nii-san, aku akan membantumu dalam masalah ini. Walaupun kekuatanku tidak akan sekuat seperti sedia kala,"desah Kurumi pelan.

{}To Be Continued{}


Akhirnya selesai juga fic ini. Dan terakhir saya mohon berikan saran dan kritik dari para readers untuk menyempurnakan fic ini. Maaf jika updatenya lama. Sekian wassalam.