Salam semuanya! BAKAuthor Bocah-Dongo datang lagi! Kali ini fic saya buat sangggaaaatttttt panjang sampai satu bulan lebih dan ada beberapa masalah tentang login, jadi mohon maaf sebesar-besarnya. Kalau terjebak internet positif atau gagal loading setelah beberapa detik di klik saya sarankan memakai Webproxy{dot}net . Tetapi ini hanya untuk baca saja dan tidak bisa untuk mengetik fanfic. Kalau mau bisa ngetik pakai Extension "Anonymox" tetapi loadingnya agak lama, saran saya kalau pakai ini jangan buat facebook-an sebelum beberapa masalah akan terjadi. Baiklah ini dia ceritanya!


First Spirit

Disclaimer : Sekali lagi seperti yang Author lain katakan. Date A Live Bukan punya saya tetapi punya Kōshi Tachibana-Sensei.

Warning : Khayalan yang kurang,tidak jelas,typo,Author mabok (?), chara utama Date A Live lainnya tidak diceritakan, rate langsir ke T karena ada beberapa adegan keji, Update lama, dll.

Pairing : OC X OC, lalu Kurumi? Dijadikan adiknya saja XD

Summary : Spirit pertama kembali bangkit. Ia adalah seorang laki-laki berparas tampan dan suka membuat kehancuran. Akankah Kotori Itsuka merekrut orang lagi untuk menyegelnya ataukah ia akan dibiarkan saja dan membuat kehancuran di bumi?


Seorang gadis dengan tas hitamnya berjalan menuruni tangga 15 menit setelah bel dibunyikan. Derap kakikan dihentakan agak keras dan ia berjalan dengan tubuh tegap bak lelaki. Rambut kepangnya berayun mengikuti langkah kakinya yang menuruni tangga secara perlahan. Setelah ia berada di dasar tangga kepalanya ditolehkan ke kanan dan ke kiri melihat siswa-siswi yang berlalu lalang. Tiba - tiba ia menatap salah satu guru yang ia kenal sedang membawa beberapa buku yang diperkirakan setebal 1000 halaman setiap bukunya di tangannya dan segera berlari mengejarnya.

"Konnichiwa Reine-sensei! Boleh saya bantu?"sapanya seraya mulai melambatkan langkahnya ketika berjalan disampingnya.

Sementara wanita yang disapanya menatapnya dengan mata sayu.

"Arigatou gonzaimasu Chinatsu-san, maaf telah merepotkan anda,"jawab wanita yang surainya diikat ke arah sebelah lalu ia menyerahkan beberapa buku dan dibawa oleh Chinatsu.

"Tidak apa-apa Reine-sensei, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai siswa untuk membantu gurunya,"jawabnya dengan senang.

Mereka pun berjalan menuju ke ruangan kantor. Hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang terasa. walaupun sudah Built-it AC sampai 10 biji tetapi masih terasa panas, mungkin ini masih musim panas. Chinatsu lalu meletakan tumpukan buku tersebut di atas meja Reine.

"Konnichiwa Reine-sensei. Aku pulang dahulu,"katanya seraya membungkukan badannya.

Chinatsu sepertinya terlalu sopan.

"Ya, oh ya Chinatsu-san,"

Perkataan wanita itu membuatnya menghentikan langkah dan membalikan badannya.

"Are?"

"Jika ada orang yang bertanya kepada anda, anda harus membalasnya dengan baik dan benar agar orang itu tidak merasa diabaikan,"pesan Reine.

Chinatsu hening sebentar mencerna kata-kata yang dilontarkan guru yang juga menjadi pembina klub fisika, klub yang diikutinya tersebut.

"Umm... Baiklah Reine-sensei,"jawab Chinatsu kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan kantor.

Ia lalu berjalan menuju gerbang sekolah. Derap kakinya yang cukup keras menerbangkan debu walau sedikit. Seorang perempuan dengan baju sekolah berenda hitam berjalan dan tiba-tiba ia menyenggol pundak Chinatsu. Saking kerasnya benturan hingga poni gadis berpakaian hitam itu terayun dan mata berwarna kuning dengan motif jam itu samar-samar terlihat dan juga terdengan suara erangan. Langkah mereka segera berhenti dan mata kedua gadis itu saling bertatap muka.

"Maafkan saya,"kata Chinatsu seraya membungkukan badan.

"Arara... Kau gadis yang cukup sopan ya? Oh ya aku ingin bicara sebentar,"kata gadis yang menubruknya tadi.

"Berbicara apa?"tanya Chinatsu penasaran.

"Khikhi... Ikutlah denganku, sebaiknya jika ingin berbicara 4 mata jangan di sini,"

Chinatsu mulai merasa bergidik terhadap gaya bicara gadis itu. Yah ia benar-benar tidak kenal gadis itu. Yang hanya ia ketahui gadis yang ada dihadapannya itu pernah bersekolah di sini.

"Tidak, terima kasih. Aku harus pulang. Sepertinya jemputanku sudah menanti,"tolaknya dengan halus.

"Oh ayolah, aku memaksa. Aku tidak akan mencelakanmu,"

Tangan Chinatsu segera ditangkap olehnya dan ia ditarik oleh gadis itu. Chinatsu lalu meronta mencoba melepaskan diri, Tetapi ya tidak sekuat saat disered lelaki mesum. Walau begitu gadis itu tidak bergeming dan terus menariknya menuju sebuah sudut sekolah. Tangannya lalu ia lepaskan.

"Apa-apaan ini?"bentak Chinatsu.

"Yare-yare, tidak usah seperti itu. Aku hanya ingin mengulang ucapanku kalau aku ingin berbicara,"jawabnya lemah.

Memangnya tidak bisa disana?"

"Tidak, jangan sampai orang lain tahu apa yang aku bicarakan,"

Chinatsu mendesa sedikit untuk menenangkan dirinya. Ia lalu teringat kata-kata yang diucapkan guru fisikanya itu. Entah kenapa perasaannya mulai tidak enak.

"Baiklah, kamu mau mengatakan apa?"tanyanya.

"Hem, kita mulai dari yang pertama. Apakah namamu adalah Yoshikuni Chinatsu?"

Gadis itu hening sebentar.

"Ya, benar,"jawabnya.

"Sepertinya benar orang yang kita cari, diriku yang lain,"

"HAHH?!"

Seorang perempuan dengan baju gothic lolita dan surai kuncir dua datang dari sebuah celah diantara tembok. Setelah mengalami keterkejutan karena ada orang lain yang datang, Chinatsu mengarahkan pandangan ke arah sumber suara. Tangan gadis yang baru datang itu memegang sebuah Flintlock pistol.

"Apa yang ingin kau lakukan kepadaku?!"bentaknya.

"Tenanglah Chinatsu-san. Aku yang aslinya ingin bertanya,"kata gadis yang baru datang itu.

Lah, hanya masalah tanya-menanya bisa serumit ini.

Chinatsu segera mengambil posisi kuda - kuda ala seni ilmu bela diri Tae Kwon Do yang pernah ia ikuti di kelas 10, sekarang entah nasibnya seperti apa klub itu sekarang. Kurumi yang memakai baju sekolah itupun mulai tenggelam ke aura hitam di tanah tempat ia berpijak.

"Apakah kau menyukai Ken, Chinatsu-san?"

Pertanyaan itu membuat Chinatsu membeku sebentar. Sementara wajahnya mengkerut sebentar dan sedikit demi sedikit rona merah diwajahnya tampak. Mulutnya terkunci dan serasa tidak ada kunci pembukannya. Walaupun ia dikenal sebagai bocah yang periang, tetapi kali ini ia tidak bisa berbicara banyak. Kata - kata dari Reine sudah dilupakannya. Kurumi pun menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

"Oh, jadi kamu masih malu untuk mengatakannya ya? Apa karena tempat ini terlalu ramai untuk berbicara rahasia?"

Ia masih tidak bisa membuka mulutnya.

"Jadi..."

Dari tanah muncul tangan-tangan putih dan secepat kilat menahan dan membekap Chinatsu hingga ia tidak bisa berbuat banyak selain berteriak dengan mulut tertutup. Ia beserta tangan - tangan putih itu pun mulai tenggelam kedalam aura hitam tempat ia berpijak dan suara cekikikan melengking sayup - sayup terdengar.

"... Kita akan membicarakan ini di tempat yang tertutup sebelum Shido datang ke sini,"kata Kurumi.

Ia benar - benar tenggelam dibalik tanah.

"Aku akan membantumu, Nii-san tersayang," Kurumi lantas menari-nari sebentar dan menghilang dibalik bayangan gedung olahraga.


'Teett... Teet... Teett...'

"Shido, Shido!"

Interkom ditelinga kanan pria bersurai biru itu terdengar selagi ia sedang berbelanja beberapa kebutuhan barang pokok di sebuah minimarket sehabis pulang sekolah bersama dengan seorang wanita bersurai ungu dan diikat semi-pony tail dan memakai baju yang senada dengan si pria. Ia segera menyentuh telinga kanannya dengan jari tangan kanan dan mulai berbicara.

"Ada apa, Kotori?"

"Beberapa menit yang lalu Kurumi sedang menculik salah seorang murid Raizen Highschool yang memiliki status sebagai OSIS. Tetapi aku tidak yakin Kurumi memakan gadis tersebut karena biasanya Kurumi tidak akan pandang bulu siapapun mangsanya, dan tadi kami lihat gadis itu diajak oleh Kurumi yang palsu untuk menemui yang asli tetapi kemudian mereka menghilang. Sekarang Kurumi berada di atap sekolah. Cepat bernegosiasi dengan Kurumi sebelum gadis itu menjadi korban! Dan mungkin kehidupanmu di sekolah akan terganggu,"jelas Kotori panjang lebar.

"Lalu siapakah dia?" tawab Shido.

"Shido. Apakah kita juga harus membeli ini," gadis itu menunjukan sebatang daun bawang kearah Shido.

Laki-laki yang disebutkannya tidak menjawab.

Yah mungkin kita harus menyanyikan lagu ini "Salah apa aku, dicampakan, dibuang, , dimakan" lalu sayup-sayup terdengar suara sendawa yang cukup keras, walau itu terdengar berlebihan. Lupakan hal yang saya katakan tadi, tak ada manfaatnya sama sekali meski tidak akan menambah dosa XD. Kembali ke cerita.

Tampak gadis itu mulai berubah air mukanya menjadi Poker face dan menatap Shido seolah-olah ingin mengatakan "Kenapa kau tidak memperdulikan aku? Atau jangan-jangan dia selingkuhanmu?". Shido yang merasa tidak enak segera melihat Tohka. Shido sedikit terkejut melihat raut wajah Tohka yang aneh tetapi ia segera memakluminya.

"Tohka, ada apa denganmu?"

"Dari Kotori kan? Rencana menyegel spirit lagi?" Tohka langsung ceplas-ceplos.

"Maaf Tohka, tetapi ini lebiha parah dari yang kamu sebutkan tadi. Kurumi sedang berulah sekarang dan Kotori memperintahkanku untuk pergi ke sana. Jadi tolong bawa belajaan ini," Shido dengan santai menyodorkan belanjaan ini.

"Hati-hati ya Shido!"teriak Tohka saat Shido berlari meninggalkannya.

Shido berlari mendorong pintu minimarket. Ia berlari menuju sebuah gang sempit dan memastikan tidak ada orang di sekitarnya.

"Tolong teleportkan ke lokasi itu Kotori,"

Tba-tiba tubuh pemuda itu memutih lalu pecah menjadi kepingan-kepingan poligon lalu menghilang. Berada di samping tangga, kepingan poligon muncul dan menyatukan diri lalu seorang pemuda terlihat setelah warna putih pada tubuhnya memudar. Ia segera berlari menaiki tangga yang berada di sampingnya dengan berlari. Tak berapa lama pintu berwarna hijau digesernya dan apa yang dikatakan adiknya benar. Seorang gadis dengan pakaian gothic berwarna merah-hitam dan surainya diikat 2 namun panjang sebelah terlihat dan ia membalikan tubuhnya sehingga matanya yang berbeda warna terlihat.

"Oh, ternyata kau, Shido-kun. Apakah yang ingin kau lakukan disini? Apakah ada masalah?"tanya gadis itu.

"Cepat lepaskan gadis itu Kurumi! Kau tahu kamu mengincarku tapi tolong jangan bunuh gadis itu!"teriak Shido.

"Gadis yang mana? Ohh... Maksudmu Yoshikuni Chinatsu?"

Jeda selama beberapa detik pun terjadi.

"Emm.. Kotori? Apakah benar yang dimaksud Kurumi itu?"bisik Shido.

"Bodoh. Yang jelas ia, salah satu anggota OSIS yang tadi aku katakan,"kata Kotori lewat interkom.

"Ya, jadi tolong lepaskan Chinatsu sekarang juga! Karena dia tidaklah lezat buatmu,"

Alasan Shido terlalu kekanak-kanakan.

Tetapi Kurumi hanya menarik nafas perlahan kemudian dihembuskannya dengan mata terpejam kemudian mulai angkat bicara.

"Khkhukhu... Kau tahu Shido, ini bukan masalah tentang diriku. Tetapi ini lebih penting dari yang kau bayangkan,"

"Lalu apa? Kau ingin memakannya hidup-hidup hanya demi phantom yang dulu pernah kau sebutkan dan ingin mengulanginya lagi?"

Shido mulai memperkeras suaranya.

"Tenanglah Shido,"kata Kotori lewat interkom.

"Huh, kamu masih belum maksud juga? Aku menculik Yoshikuni Chinatsu bukan karena keinginan untuk diriku sendiri tetapi karena aku ingin membantu Nii-san,"

"Nii-san?!"

Membayangkan kata tersebut, pikiran Shido mulai terbang kearah salah seorang gadis dengan watak agak dewasa dengan surai berwarna biru dan diikat pony tail yang merupakan saudara kandungnya.

-,"Nii-sama!"

Emm... Itukan Nii-sama Shido bukan Nii-san.

-,Tunggu dulu, Nii-san maksudmu kakak?

Shido tiba-tiba melonjak terkejut setelah memaknai kata yang diucapkan Kurumi tadi. Apakah Kurumi benar-benar memiliki seorang kakak laki-laki? Jika iya kalau Kurumi saja seperti ini bagaimanakah kakaknya? Apakah seperti Godzilla? Apakah seperti Usui Takumi? Apakah memiliki wajah garang tetapi shota layaknya Raja Deviluke? Ataukah memiliki wajah terong kecabean kaya Gakupo? Kenapa Kotori, Reine, dan yang lainnya tidak memberitahukanya soal ini? Itu yang sekarang berputar-putar di otak Shido.

"Ehhh... Kau punya kakak?"pekik Shido agak keras.

"Ya, saya tidak berbohong soal itu. Walaupun bukan kakak kandung. Ngomong-ngomong soal Chinatsu, ia sekarang sedang kutanyakan beberapa hal. Saya tidak menanyakannya di sini karena ia tidak akan mau menjawab, jadi saya masukin saja ke dimensi lain. Tenang saja, ia tidak akan mengalami hal yang parah,"kata Kurumi seraya tersenyum senang

"Aku tidak peduli. Pokoknya lepaskan dia sekarang! Atau aku akan melompat dari ini!"ancam Shido.

"Tenanglah Shido, level emosinya masih tetap. Atau dengan kata lain ia tidak akan mengubah pandangannya walaupun engkau membentak. Tunggu saja dan kita lihat apa yang terjadi,"interkom yang ada di telinga Shido mulai mengeluarkan suara cukup keras.

"Khhukhukhu... Aku tidak akan mau melepaskannya sebelum sesi perrtanyaan ini selesai. Aku sudah tidak terlalu membutuhkanmu jadi silahkan melompatlah,"kata Kurumi dengan mata terpejam.

Shido akhirnya terdiam. Ia tak menyangka kalau Kurumi mengatakan hal seperti ini. Yah memang seharusnya ia duduk tenang melihat proses apa sajakah yang akan terjadi, lagipula . Sementara itu Kurumi membalikan badannya dan melihat ke arah kejauhan.

"Kau tahu Shido. Sifatmu seperti Nii-san walaupun kalau boleh jujur ia memiliki tabiat yang lebih buruk daripada kamu,"kata Kurumi perlahan.

"Ngomong-ngomong, siapakah Nii-san mu?"tanya Shido.

"Dia adalah Nii-san yang baik, dan selain kamu tidak ada orang sebaik ia sebelumnya. Ia juga bersekolah disini, dan kau seharusnya tahu ini ulah siapa. Nii-san menyukai Yoshikuni Chinatsu tetapi mereka berdua terlalu malu untuk berbicara satu sama lain jadi mereka saling acuh tak acuh. Jika dinalar memakai logika usianya seharusnya sudah menginjak 43 tahun. Ia dulu pernah menyelamatkanku dari belenggu kematian ayahku yang sudah membuatku seperti ini, walaupun ia juga pernah membunuhku sebelumya,"

"Apa katamu?!"mata Shido melebar berseberangan dengan pupil matanya yang segera menciut.

"Khuhkhu... Kau belum tahu tentang hal ini sebelumnya? Ia dengan kejam menembak mata sebelah kiriku yang berupa mata jam dengan pistolku sendiri. Kau tahu kan jika mata jam ku ini menyimpan banyak sekali waktu yang telah aku konsumsi. Bayangkan jika wadah waktu ini hancur, maka waktu hidupku akan tumpah dan dipastikan aku akan tewas. Tetapi dengan sangat baik hati ia memberikanku sebuah Sepphira Crystal tipe kegelapan walaupun ukurannya tidak terlalu besar. Dan hal itulah yang membuatku menjadi agak lemah dibanding sebelumnya. Walaupun begitu aku masih tetap menyayanginya.

Yah aku menyadari kalau aku yang salah sendiri karena telah menantangnya bertarung. Tetapi ayahku mengatakan jika satu ditambah satu sama dengan dua. Atau dengan kata lain kebaikan harus dilawan dengan kebaikan dan kejahatan harus dilawan dengan kejahatan. Dia telah membunuhku jadi mungkin suatu saat aku juga harus membalaskan dengan membunuhnya juga..."

Sementara itu...

{}Kurumi's Dimension{}

"Sekarang aku ingin mengulangi pertanyaanku. Apakah kau menyukai Ken?"sebuah suara yang cukup keras terdengar di sebuah dunia berwarna hitam polos.

Sementara gadis berambut kepang semeteran itupun merasa agak gentar dan tidak bisa menjawabnya. Mulutnya sekali lagi terkunci dan tidak bisa membuka mulutnya dengan baik.

"Jadi kau tidak mau menjawabnya ya? Apa perlu aku paksa?"

Dari tempat yang dipijak Chinatsu muncul tentakel-tentakel berwarna hitam dan langsung melilit tubuh kecilnya dengan sangat kencang.

"KKKYYYAAAAAA!LEPASSKAAAANN!"pekiknya sangat kencang.

Apakah dia akan melepaskannya begitu saja? Jelas tidak.

"Jadi, apa perlu saya ulangi lagi. Apakah kau benar-benar ingin menciumnya sekarang? Atau mungkin aku harus melakukan sesuatu yang lebih,"suara wanita itu terdengar lagi entah dari mana

Diantara bercanda atau tidak, jujur saya saja juga bergidik kalau gebetan saya ditanya seperti itu.

Perlahan-lahan sebuah tentakel menjulur merayap perlahan ke atas melewati kaki Chinatsu. Tentakel itu perlahan mengelus pahanya dan terus merayap ke atas.

"Tolong... Aku..."bisik Chinatsu terputus-putus seraya memejamkan matanya dan beberapa detik kemudian ia segera pingsan ditengah siksaan yang sangat menyakitkan bagi wanita.

(BAKAuthor Note : Scene bagian ini cukup saya potong sampai disini saja sebelum rules mewajibkan rate fanfic saya diganti ke M :v )

{}Back To Real World{}

"Lalu bagaimana kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu dengan ribuan orang yang kau bunuh dengan keji dan hanya kau manfaatkan untuk kepentinganmu sendiri?!"tanya Shido.

"Khukhu... Jangan potong pembicaraanku Shido-kun, aku belum selesai bicara. Dan penjaga kastilku pernah mengatakan bahwa empat kali empat sama dengan dua puluh empat. Atau dengan kata lain ketidakadilan selalu ada di dunia ini mau bagaimanapun caranya.

Khuhuhu... mungkin sebelumnya aku belum menceritakan masa laluku. Maaf kalau kelewatan,"

Sekarang di pikiran Shido mulai jelas seperti apakah kakaknya Kurumi. Dia pasti sangatlah kuat hingga spirit kelas S ini mampu dibunuhnya.

,- Tunggu sebentar, ia mengatakan kalau setela ia mati ia dibangkitkan kembali oleh kakaknya dengan Sepphira Crystal. Berarti kakaknya Kurumi mungkin adalah generasi selanjutnya dari phantom? Atau kemungkinan lainnya ia adalah spirit?! Jadi spirit ada yang laki-laki? Dan sekali lagi kenapa Ratatorsk tidak memberitahukannya?

Itu lah yang sekarang berputar-putar dikepalanya. Daripada ia memendam rasa ingin tahunya, ia memilih bertanya kepada Kurumi.

"Apakah kakakmu spirit?"

"Tepat sekali. Ia benar-benar sangat hebat. Ia masih tetap hidup walau sudah memberikan Sepphira Crystal nya kepadaku,"jawab Kurumi dengan lancar.

Tunggu dulu! Kalau seorang spirit masih hidup setelah memberikan Sepphira Crystalnya yang berupa nyawanya dan sumber kekuatannya kepada spirit lain dan masih tetap hidup berarti ia memiliki 3 kemungkinan. Yang pertama ia memiliki lebih dari 1 Sepphira Crystal. Kedua, ia menyegel spirit lain dan kekuatannya yang disegel itulah yang telah menghidupkannya.

Yang ketiga dan paling sederhana, karena TAKDIR. Nah para readers bisa menyimpulkan sendiri mengapa Ken mesih tetap hidup berdasarkan chapter-chapter sebelumnya. Jawaban aslinya? Tunggu chapter selanjutnya!

Tiba-tiba pintu terbuka perlahan dan nampaklah seorang pemuda setinggi kira-kira 8,5 kaki bersurai pirang dengan senapan M1903A4 Springfield tergengam di tangan kirinya. Raut wajahnya mengeluarkan intimidasi yang cukup hebat. Shido bisa melihat kalau mata kanan pemuda itu sama persis dengan mata kanan Kurumi walau mata kirinya berbeda. Mungkinkah ini kakaknya? Pikir Shido.

"Yare-yare. Apa lagi ini Kurumi?"tanya orang itu.

"Membantu Nii-san,khikhikhi..."jawab Kurumi.

"Membantu macam apa ini? Kamu malah membuat beban aku saja. Dan sering kuulangi jangan panggil aku Nii-san! Aku bukan mobil!"tandasnya keras.

Sekarang jelaslah yang dimaksud Kurumi "Nii-san". Ternyata ia cukup tampan juga untuk seorang lelaki. Rambutnya berwarna pirang kontras dengan rambut Kurumi. Bagian yang membuatnya sama dari mereka berdua adalah sebagian dari gaya bahasa mereka, warna kulit mereka, tipe senjata mereka, dan warna mata kanan mereka. Ia adalah spirit, dari tatapannya yang sayu tidak bisa membuktikan kalau ia adalah spirit hebat, kecuali jika disamakan dengan Tobiichi Origami. Pikir Shido.

"Shido, dia itu adalah spirit yang sangat berbahaya. Lebih baik kau kembali ke Fraxinus. Emosi spirit laki-laki itu terlihat meningkat dan kupastikan akan terjadi pertarungan hebat. Jadi tolong kembalilah sekarang juga. Setidaknya kau sudah memperoleh beberapa data tentangnya,"perintah Kotori.

"Tidak perlu,"

Sementara gadis dengan surai merah itupun terhenyak mendengar jawaban kakaknya tersebut.

"Aku tahu dia berbahaya. Tetapi aku akan menghalangi pertarungan mereka,"sambung Shido.

"Umm... Baiklah jika kau bisa, tetapi aku tidak akan mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Baka!"kata Kotori.

"Hemm... Terima kasih Kotori,"

"Oy, bocah Itsuka yang ada disana. Jangan bermain interkom terus dengan setan merah yang ada disana. Oh ya, terima kasih telah menahan Kurumi beberapa saat,"kata pria itu.

"Ehh... Apa yang kau katakan?"Shido sedikit terkejut.

"Yah kau tahu. Aku merasa tadi Chinatsu-san belum datang-datang juga padahal sudah jam 4 sore sekarang. Sampai-sampai saya ditanya oleh Nee-san nya yang menjemputnya. Aku segera datang ke sekolah lagi dan malahan Kurumi ada di sini. Jadi, bisa lepaskan Chinatsu-san sekarang? Kurumi Tokisaki? Ini perintah dari Nii-san,"

"Khukhu... Bukankah Ken tidak mau dipanggil Nii-san?"tanya Kurumi.

"Hehehe... Terpaksa,"jawab Ken singkat sambil nyegir kuda dan mengarahkan kepalanya ke sisi lain.

"Oke, Nii-san. Kalau mau mengambil Chinatsu. Setidaknya berlagaklah bagai pahlawan Tokutsaku yang siap menghajar lawan yang ada di depannya,"saran Kurumi.

"Dengan kata lain kau menantangku, begitu? Okeh, akan saya layani,"kata Ken sedikit menyunggingkan senyum.

"Khukhu.. Itulah Nii-san yang aku kenal,"jawab Kurumi dengan senang.

Sementara kita puas dengan foreground yang menggambarkan Ken dan Kurumi yang saling berhadapan 10 meter, jangan lupa lihatlah background dengan gambar pemuda Itsuka yang menatap adegan-demi-adegan dengan wajah suram. Ia tidak tahu ia sedang tidak dipedulikan atau mengambil bagian pembicaraan terakhir.

Kembali ke foreground. Ken perlahan menarik tuas kongkang senapan M1903A4 Springfield secara perlahan dengan tangan kanan dan tiba-tiba secara hampir tak kasat mata aura berwarna merah mengalir dari sela-sela lengan bajunya melewati tangannya dan memasuki ruang peluru yang terbuka. Setelah itu ia mendorong kongkang dengan cepat hingga terdengar hampir seperti bunyi ban sepeda yang digesekan ke tanah. Kurumi demikian juga bersiap dengan sepucuk flintlock pistol dan musket yang terpegang di kedua tangannya.

"Shido! Mereka bersiap untuk bertarung satu sama lain. Hati-hatilah!"peringat Kotori.

Mereka tiba-tiba segera melompat menutup jarak satu sama lain dengan sangat cepat.

"Hentikan!"

Mereka berdua segera menghentikan gerakannya dengan posisi yang aneh. Ken sedang menodongkan senapannya ke perut Kurumi sementara Kurumi sedang mengarahkan pistol ke kepalanya.

"Oy. Pemuda Itsuka harap menonton saja tidak usah protes, saya sedang sibuk. Kalau bisa beri dukungan antara kami berdua,"jawab Ken seenaknya udel.

"Yare-yare, apa yang kau lakukan Shido-san. Apakah perlu aku jaga dirimu?"tanya Kurumi.

"Buang saja atau lempar ke Fraxinus, hehehe..."candanya.

"Apa kalian tidak takut jika ada AST mendekat?!"teriak Shido.

"AST? Justru, mereka yang malah takut kepadaku, lagipula situ yang nantang saya,"jawab Ken.

"Khukhu... Anggap saja kami sedang bermain-main, Shido!"jawab Kurumi.

Mereka mulai berdiri normal menghadap Shido.

"Lalu kenapa kalian melakukan itu? Apakah perbuatan kalian itu akan melukai orang lain dan menghancurkan tempat ini?"

"Ahh... Itukan masalah gampang..."

Ken mulai memejamkan matanya sebentar. Suasana menjadi hening sebentar.

"AstralDress... Spitfire!"Ken segera membuka matanya.

Tiba-tiba 5 pilar yang ada di sekitar Ken masing-masing berwarna merah, hijau, biru, coklat, dan satunya lagi berwarna hitam tetapi tidak sempurna berputar seperti tornado setinggi 200 meter. Tornado itu terus membesar dan pilar-pilar berbagai warna itu semakin rapat dan gedung sekolahpun mulai retak.

'ngggguuuuuuwwwwueeeeennnnngggggggggeeeeeeennnnnnggggggg...'

Sirine gempa luar angkasa terdengar. Orang-orang yang ada di sekitar situ mulai berhamburan memasuki shellter dan beberapa fasilitas secara mekanis turun ke bawah dan ditutupi pintu besi.

"Ia akan memanggil gempa ruang angkasa?"tanya Shido terbata-bata dan lengannya menutupi wajahnya.

"Tidak. Memang saat menggunakan Astraldress seringnya seperti itu. Jika Sepphira CrystalInya lengkap, Nii-san bisa saja menghancurkan sekolah ini,"jawab Kurumi

Sementara itu tornado itu semakin lama semakin kuat. Dari dalam tornado bunyi metal dipukul satu sama lain terdengar sangat keras. Tak berapa lama kemudian gedung sekolah itu meledak cukup hebat hingga 5 lantai dari atas termasuk atap hancur. Sementara itu Shido terpental cukup jauh akibat ledakan setara bom JDAM 2 ton tersebut tetapi tiba-tiba tubuhnya tertangkap oleh seseorang.

Dari asap reruntuhan bangunan yang mengepul. Sayup-sayup tampak seorang pemuda dengan baju zirah abad pertengahan berwarna biru muda, jubah biru yang ada di belakangnya bergoyang tersapu angin. Sementara ditangannya senapan itu masih terpegang.

"Dan aku lebih suka memakai cara ini,"kata Ken.

Sementara Shido yang memejamkan matanya perlahan membuka matanya. Didapati Kurumi menahan tubuh Shido dengan memeluknya sehingga tidak jatuh.

"Kau baik-baik saja? Shido-kun?"tanya Kurumi.

"Yah, aku baik-baik saja, Kurumi,"

"Yare-yare Nii-san. Walaupun kau sudah membunuh diriku yang lain yang memang kurang ajar pada Shido-san, tetapi tolong jangan lukai Shido, Nii-san. Dan aku pasti suatu saat akan memakanmu bulat-bulat, Shido-san,"kata Kurumi.

"Baiklah, Kurumi, tolong turunkan aku,"kata Shido.

"Ya, Shido-san,"

Kurumi lalu dengan perlahan menurunkan Shido ditengah puing-puing bangunan. Sementara itu spirit laki-laki itu masih tetap terdiam di tempatnya. Tangannya masih menggenggam erat senapan itu.

"Hem, apa boleh buat. Kalau diriku yang lain sudah menantangku, maka aku tidak bisa mundur. Ayo kita lanjutkan,"kata Kurumi.

"Hehe.. Terserah lah,"kata Ken dan memalingkan wajahnya seraya tertawa kecil.

"Oy tunggu? Apakah kalian tidak ada cara lain?"tanya Shido.

"Tidak. kalau saya menang maka Chinatsu akan dibebaskan, kalau kalah yasudah kehormatannya terambil, selesai,"kata Ken menggampangi.

"Khihki... Shido, tolong dukung aku ya,"kata Kurumi.

"Oy,"

Mereka berdua segera menurunkan diri ke tanah lapang sekolahan memasang posisi kuda-kuda.

"Azazel... Rafale!"

"Zafkiel... Aleph!"

Secara mekanik muncul sebuah kubah tank yang melayang di samping Ken lalu diikuti suara seperti mengongkang pistol. Sementara itu dengan suara aneh juga muncul sebuah jam kuning besar dan dari angka romawi 1 muncul aura merah yang melesat memasuki ujung flintlock pistol Kurumi. Kurumi segera mengarahkan pistol ke kepalanya dan ia segera menarik pelatuknya dan menghilahg.

Ken yang mengetahui hal itu segera mengambil kubah tank dengan tangan kanan dan diarahkan ke tanah. Kurumi tiba-tiba muncul di belakangnya dengan senyum psyconya. Tetapi senyumnya taktala memudar setelah melihat ujung meriam itu diarahkan ke tanah. Ken segera menarik pelatuk meriam tersebut dan ledakan sangat besar terjadi. Kloning-kloning Kurumi segera muncul dan segera melindungi dirinya dari ledakan, walaupun ujung-ujungnya harus dikorbankan.

"Azazel... Talon!"

Ditengah kepulan asap mata Kurumi terbuka sebelah melihat apa yang ada disekitarnya dengan lengan menutupi wajahnya. Tiba-tiba kepulan asap itu terbelah dan seorang pemuda dengan kubah tank namun bagian meriamnya terganti oleh pedang hitam yang sama panjang siap diayunkan dari atas dan ia dilindungi oleh lingkaran berwarna keemasan. Kurumi langsung menyilangkan kedua senjatanya menahan terjangan dari bilah hitam sepanjang 2,5 meter yang diayunkan oleh kakaknya. Percikan api keluar dari pertemuan antar 2 senjata tersebut. Ken melakukan gerakan memutar ke arah kiri dengan kubah tang diayunkan ke bawah dan saat berhadapan dengan Kurumi ia mengayunkan kubah tank itu ke atas dengan mata pedang hampir mengenai Kurumi yang sedang mengelak menghindari.

Tak habis akal, Ken segera memutar tubuhnya berlawanan jarum jam dan mengayunkan senapannya secara horizotal yang bagian bawahnya berubah menjadi sebilah katana hitam tetapi bagian atasnya normal ke arah pinggang Kurumi dengan cepat. Bagian tajam itu tepat mengenai pinggang Kurumi dan dari situ merembes darah dengan perlahan. Perlawanan Kurumi tak sampai disitu, 5 buah tangan putih muncul dari tanah menangkap kedua tangan Ken dengan erat. Setelah itu Kurumi segera melompat menghindarinya dan beberapa kloning muncul dari tanah.

"Berpikirlah dua kali sebelum menyerangku, Nii-san,"kata Kurumi.

"Aku sudah tiga kali berpikir malah dan hasilnya positif,"sahut Ken dengan menyunggingkan senyum masam.

Kloning-kloning Kurumi itu segera menembakan senjatanya kearah Ken dengan sangat membabi buta tetapi peluru itu terhalang oleh lingkaran keemasan yang beberapa saat lagi akan memudar. Tangan kanan Ken segera melepaskan kubah tanknya dan benda itu segera melayang terbang.

"Azazel... Raptor!"teriaknya.

Tak lama kemudian secara mekanis kubah tank dengan senjata pedang itu berubah menjadi sebuah pesawat tempur. Ekor pesawat itu menyemburkan api yang sangat kencang dan melaju dengan akselerasi yang kencang ke langit. Sementara itu Ken masih tetap kelihatan baik-baik saja meskipun luka tembakan tersebar di sekujur tubuhnya. Di sekeliling tubuh Ken tiba-tiba muncul paku-paku es dan segera meluncur bak peluru menuju sekitarnya dan telak menghujani kloning Kurumi tanpa ampun.

"Azazel... Gripen,"kata Ken agak pelan

Kurumi beserta "kembarannya" melompat menjauhi terjangan es ke samping Shido yang ditaruhnya di puing-puing bangunan yang hancur akibat ulah Ken. Tembakan dari Kurmi beserta kloningnya kembali gencar dilakukan hingga tempat yang ditempati Ken mengepulkan debu.

"Hentika tembakan,"perintah Kurumi.

"Kurumi, apa kau baik-baik saja?"tanya Shido.

"Tenanglah sebentar, Shido-kun,"kata Kurumi.

Telinga Shido tiba-tiba menangkap sebuah suara dengungan dari atas langit lalu ia mengarahkan arah pandangnya ke situ. Semakin lama suara itu semakin kuat dan sebuah titik hitam muncul di atas langit.

"Arahkan tembakan ke atas sana, diriku yang lain. Shido, sebaiknya kita harus pergi sekarang,"kata Kurumi seraya memeluk Shido.

Tembakan dari kloning-kloning Kurumi kembali terdengar dan kali ini lebih hebat karena kloning-kloning itu muncul kembali dari beberapa puing-puing bangunan sekolah yang hancur.

"Zafkiel... Aleph,"

Sebuah jam besar diikuti suara aneh muncul dari samping kurumi dan mengeluarkan aura merah yang langsung masuk ke ujung pistolnya. Ia segera mengarahkan ujung piistolnya tersebut ke dahinya dan segera menarik pelatuk lalu hilang entah kemana.

"BUUUMMMMMBUUUUMMMMBUUUUUMMMMMMMBBBUUUUUUMMMMMM!"

Tak lama setelah itu 4 kilatan peluru berwarnah merah berurutan menghujam tempat itu dan meledak hebat hingga kloning-kloning yang ada disitu langsung musnah terbakar habis oleh peluru bertipe "Ledakan Hebat Bakar + Penjejak warna merah" tersebut. Kilatan benda hitam segera terlihat terbang beberapa meter dari atas tanah diikuti suara dengungan mesin jet yang sangat keras. Sementara Ken? Ia sudah menghilang dari tadi.

Mengesampingkan hal itu, Kurumi dan Shido muncul di sebuah lorong gedung yang masih selamat. Kurumi melepaskan pelukan eratnya ke Shido dan mulai berbicara.

"Shido-kun, kau tahu kalau tadi sangatlah berbahaya. Kau bisa saja mati kalau tetap di situ. Setidaknya kita masih bisa aman di sini,"kata Kurumi dengan seyumnya yag tulus.

"Kata siapa kau aman di situ?!"

Kedua mahluk itu segera mengarahkan kepala mereka ke arah sumber suara dan mendapati kalau seorang pemuda yang berusaha membunuh mereka berdua tengah menodongkan senapan M1903A4 Springfield dengan peluru berdiameter 7,62 mm siap terbang ke kepala Kurumi yang berjarak hanya 20 cm dari moncong senjata. Bagian bawah senjata yang tadinya terdapat sebuah bilah tajam melengkung kini menghilang

"Khukhu Nii-san, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga,"kata Kurumi dengan senyum penuh kemenangan.

Lantai lorong sekolah kembali mengeluarkan aura hitam dan muncul 3 orang yang mirip Kurumi dengan senjata masing-masing siap ditembakan ke Ken dari jarak 1 meter.

"Tetapi kau juga harus tahu kalau ada mahluk immortal yang ada di belakangmu,"kata Ken seraya tersenyum.

Seketika juga mereka berdua mengarahkan pandangan mereka ke arah belakang dan sebuah kubah tank melayang dan ujung meriamnya terarah ke Kurumi. Terlihat jelas kalau 2 buah minigun yang terletak diatas kubah tank berputar siap mengeluarkan amunisi.

"Inikah yang dimaksud immortal bagimu, Nii-san? Khukhu,"

Kurumi tiba-tiba memeluk Shido lalu melompat terbang melarikan diri dan otomatis 2 buah minigun segera menyalak hebat memuntahkan ceceran selongsong dari samping senjata, kubah tank itu mengarahkan diri kepada Kurumi yang terbang cukup cepat. Ken segera menarik ujung senjata salah satu kloning Kurumi seraya menusukan ujung laras M1903A4nya ke leher Kurumi lalu tanpa basa-basi ia tembak dan kloning itupun terjatuh dengan lubang berrwarna kemerahan di lehernya dan menghilang.

2 kloning sisanya mulai menarik pelatuknya ke arah Ken dengan membabi-buta. Tetapi Ken dengan sangat cepat segera melompat mundur ke dinding lorong lalu melompat lagi ke tiang lorong seraya mengongkang senapannya lalu menghentakan kakinya ke arah depan dan ia arahkan senapannya ke depan. Kloning-kloning itu kembali mengarahkan keempat senjata senjata dan menarik pelatuknya dengan cepat, tetapi itu terlalu rendah 10 cm.

Tangannya segera mencengkeram wajah kloning tersebut dan senapannya mulai menyalak mengeluarkan proyektil peluru dan menembus perutnya. Tanpa menunggu hingga kloning itu benar-benar mati diambil flintlock pistol dari tangan kirinya dan ia tarik pelatuknya didepan kloning satunya beberapa kali. Ditarik dan didorong kongkang senjatanya lalu ia simpan di sarung senjata yang ada di punggungnya.

"Azazel, ayo kita kejar bocah itu,"kata Ken melihat kubah tanknya yang masing-masing ujung senjatanya mengeluarkan asap.

Kubah tank itu terbang dang bagian bawahnya diarahkan ke tangan Ken dan ia segera menggegamnya dengan kuat. Tak berapa lama ia melompat dan terbang sangat cepat ke ketinggian 2000 meter. Kilatan peluru terlihat di sekitar badan Ken tetapi tidak membuatnya gentar. Ia mengarahkan ujung meriam ke arah sumber kilatan peluru.

"Azazel... Flanker!"

Setelah terdengar suara pistol dikongkang ia menarik tuas yang ada di pengangannya dan kilatan cahaya cukup besar terlihat disertai suara dentuman. Dari atas terbang kloning-kloning Kurumi yang menukik ke arah Ken tetapi mereka sebuah habis oleh 2 buah minigun yang menyalak hebat. Kurumi mulai terlihat sekilas beserta jam kuning besar dibelakangnya tetapi tak berapa lama sebelum ia berniat membidik senjata mautnya Kurumi sudah menghilang beserta jamnya.

,- Dari arah kanan ia datang.

Segera saja tanpa dibidik ia mengarahkan ujung meriam kubah tanknya ke samping kanan dirinya. Melihat Kurumi yang tepat berada di depan kubah tank ia segera menarik pelatuk dan peluru panah berkecepatan 6300 km/jam menembus perut Kurumi hingga mukanya terbelalak dan memuncratkan sedikit darah. Kurumi yang kesakitan itu mulai lemas jatuh menukik ke bawah dengan punggung menghadap tanah. Ken segera mengejarnya lalu di ketinggian 630 meter ia langsung menedang perutnya dengan sangat keras hingga jatuh sangat cepat dan menimbulkan suara berdebum yang keras disertai kebulan debu tanah.

"Bocah,"kata Ken pelan.

Ia mulai menurunkan ketinggian dan mendarat dengan halus.

"Kamu juga harus tahu batasanmu. Dan kamu seharusnya bersyukur aku tidak membunuhmu. Sekarang bisa kau bebaskan Chinatsu?"tanya Ken.

"Baiklah, hari ini kau menang. Tetapi lain kali kau pasti akan kalah, khukhukhu..."kata Kurumi dengan wajah tetap tersenyum walau mata kirinya terpejam menahan rasa sakit.

Dari tanah terlihat seorang gadis dengan tinggi 150 cm keluar dari aura hitam dengan posisi tidur. Perlahan tapi pasti seluruh badannya muncul dan aura hitam itu perlahan menghilang. Kini Chinatsu dalam keadaan pingsan.

"Chinatsu!"teriak Ken seraya menidurkan kepalanya di tangan Ken.

Perlahan mata gadis berwarna safir biru itu terbuka lemas menatap Ken.

"Kenn... Aku takut... "kata Chinatsu terbata-bata dengan suara lemas.

"Setidaknya kau aman disini,"kata Ken seraya memeluk tubuhnya dengan lembut.

Perut Kurumi yang berlubang tiba-tiba mengeluarkan api biru cukup besar dan semakin lama semakin kecil dan menghilang. Setelah api itu menghilang lubang pada perutnya kini menghilang. Untuk beberapa saat ia terdiam sebentar kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya ke Ken yang sedang memeluk Chinatsu.

"Baiklah, tugasku sudah selesai sampai disini. Jadi, aku mau pergi dahulu..."

Tangan kanan Ken segera menarik senapan dari punggungnya dan mengarahkannya kepada Kurumi. Ia yang melihat hal itu segera menghentikan langkahnya.

"Ada apa lagi, Nii-san?"

Ia tidak menjawab. Senjatanya ia goyangkan turun beberapa kali dan itu membuat Kurumi untuk mendekat.

"Aku tidak menyuruhmu membebaskannya saja. Ma deuce,"perintah Ken pelan seraya melepaskan pelukannya kepada Chinatsu.

"Baiklah, Nii-san,"jawab Kurumi.

"Ma deuce?"tanya Chinatsu dengan rona muka memerah menyadari apa yang pria itu perbuat.

"Nanti kau akan mengetahuinya,"kata Ken tenang dan dengan cepat mendekatkan bibirnya ke kening Chinatsu.

'Cup'

Yah, itu kecupan pertama bagi Chinatsu, dan juga Ken walau hanya di dahi tetapi itu sudah membuat Chinatsu membeku dengan wajah yang makin merah. Ciuman itu tak berlangsung lama, hanya 5 detik saja. Setelah itu kedua insan itu saling berpandangan dengan rona muka yang memerah.

"Selamat tinggal,"kata Ken seraya berdiri dan meninggalkannya beberapa meter.

"Zafkiel... Vav,"kata Kurumi seraya mengangkat senapan musketnya keatas dan flinlock pistol ke bawah dan dari belakang muncul jam kuning besar yang membuatnya terlihat seperti pukul 6.

Aura merah keluat dari angka romawi 6 dan memasuki pistolnya. Ia segera mengarahkan pistolnya ke kepala Chinatsu yang juga terkejut setelah melihat pistol yang cukup berbahaya diarahkan ke kepalanya. Mulutnya membuka ingin mengatakan sesuatu tetapi sebelum 1 hurufpun keluar dari mulutnya semua itu terlupakan.

"Jdorr.."

Chinatsu terdiam sesaat lalu ambruk pingsan dengan luka merah di kepalanya. Shido segera keluar dari persembunyiannya dan melihat apa yang sudah terjadi. Pistol Kurumi masih mengeluarkan asap putih bekas tembakan. Luka yang tadinya ada di dahi Chinatsu kini perlahan menghilang.

"KURUMI!"teriak Shido tetapi suaranya makin memudar.

"Khukhu, tenanglah Shido-kun. Ini adalah peluru ke-6, Vav. Dapat menghapus ingatan seseorang beberapa jam yang lalu. Seseorang akan pingsan setelah mendapat peluru ini, tetapi nanti 10 menit kemudian ia akan tersadar,"jelas Kurumi.

"Jadi, tugasmu Itsuka adalah membawah anak ini ke tempat yang aman, atau mungkin ke shelter lebih baik. Lebih cepat lebih baik tetapi pastikan juga jangan sampai kamu belum sampai tetapi ia sudah sadar. Beda lagi ceritanya nanti. Azazel... Raptor!"kata Ken.

Ken segera melompat ke atas kubah tanknya sementara itu kubah tanknya berubah secara mekanis menjadi sebuah pesawat tempur. Deru mesin jet segera terdengar sangat keras.

"Sayonara Shido-kun. Zafkiel... Aleph!"

Sebuah aura merah muncul dari angka romawi 1 terbang membelah menjadi 2 dan masuk ke pucuk masing-masing senjata Kurumi. Kurumi segera mengarahkan pistol ke dagunya sementara senapan musket ke Ken.

"Oy oy, saya luncurkan,"

"Aku sudah tahu itu, Nii-san,"

"Tetapi Kurumi!"teriak Shido.

Namun ia tak mendengarkannya dan segera menarik kedua pelatuk senjatanya tersebut.

"Jdordor!"


"Apa yang harus kita lakukan sekarang dengan spirit itu?" tanya seorang pria dengan surai panjang bak wanita.

"Kita masih mempunyai 2 pilihan. Yang pertama kita bersekutu dengannya atau membiarkannya berlalu lalang. Setidaknya kita sudah menginstal Arc Realizer sehingga kita masih bisa melumpuhkan spirit itu tanpa memakai Yggadrolium. Jujur aku membenci spirit itu,"kata Gadis bersurai merah.

"Ternyata kau pintar juga ya. Bagaimana kalau kita memakai pilihan yang pertama? Saya memahami keluhan anda tetapi bukankah kita perlu spirit itu. Aku dengar Ellen akan menerima senjata baru yang utama ditujukan untuk membunuh spirit itu,"tanyanya.

"Sepertinya kau benar juga. Aku merasa jika kekuatan dan Jumlah orang yang dibunuh Kurumi Tokisaki menurun drastis setelah dibangkitkan kembali karena tewas dalam pertempuran melawan spirit itu. Dan mungkin sebaiknya aku harus memasukannya ke daftar spirit yang tidak perlu disegel. Kita tunggu saja situasi dan kondisi yang tepat atau taruhannya kapal ini benar-benar jatuh ke tanah," Sahut gadis itu.

"Baiklah. Kita lihat apa yang akan dilakukan spirit itu,"

Pintu geser terbuka secara otomatis dan seorang perempuan yang diikat sebelah rambutnya terlihat. Mata sayunya membuat sangat dikenali orang di seantero Fraxinus.

"Kita mendapatkan kabar baik tentang spirit itu,"kata orang itu.

"Apa itu?"tanya gadis itu.

"Kita mempunyai seseorang yang pantas untuk menyegel spirit itu,"kata wanita dengan rambut yang dikuncir sebelah.

"Stuka?"

Dan wanita itu hanya menganggukan kepala.

"Baiklah jika itu benar, ada datanya?"

Wanita itu menyerahkan setumpukan kertas diatas meja gadis itu. Gadis itu menyambar tumpukan kertas itu dan membacanya 1 per satu.

"Ia bersekolah di sekolah yang sama dengan Shido?"

Tanya gadis bersurai merah itu.

"Sebenarnya ini adalah kebetulan yang cukup mengejutkan. Dan kulihat ia adalah murid yang cukup pintar dan..."

"Dan apa?"

"... Spirit Stuka menyukainya,"

""""""'HAAHH!""""""

Jawaban wanita itu mengejutkan semua pihak.

"App.. Apa?! Apakah dia mampu menyegel spirit yang mempunyai 5 Sepphira Crystal itu?" tanyanya terkejut.

"Ahhh... Komandan Itsuka... Bukannya hanya ada 4 saja ahh... Yang satunya sudah digunakan untuk menghidupkan Kurumi lagi..."

'CTTAAARRRRR!'

Dan pria yang secara tampang seperti wanita itu ambruk dengan pipi berhiaskan garis merah dan disampingnya adalah seorang gadis berkuncir dua yang sedang memegang sebuah pecut.

"Urusai! Nah apakah gadis itu mampu menyegelnya?"ulangnya lagi.

"Saya menduga ia sangat mampu untuk menyegel 4 Sepphira Crystal..."

"Tetapi Shido atau semua manusia juga bisa menyegel lebih dari itu,"

"Sekaligus komandan,"sahut Reine.

"Baiklah, kita akan mencobanya besok. kita bertaruh, jika berhasil apa yang akan kau lakukan?"

"Pasokan krim susu rapsel selama 1 bulan penuh untukku,"

"Jika gagal?"

"Ratatorsk jepang akan bangkrut dan aku akan dipecat,"

"Lalu bagaimana cara membujuknya ke Ratatorsk?"tanya komandan loli seraya mengambil chuppa cups baru dari sakunya.

"Serahkan kepadaku,"

{}To Be Continued{}


AKHHIRRRNYYAAA! *lebay* memecahkan rekor mengetik sebanyak 6k. Ohya skill Kurumi "Vav" saya terinspirasi dari alat penghapus ingatan dari film "Men In Black". Kenapa? Ingatan ada hubungannya dengan waktu, jadi aku masukan kemampuan ini ke zafkiel Kurumi. Ini hanya skill yang mungkin hanya di fanfic saya dan bisa saja salah apabila Kōshi Tachibana-Sensei menambahkah skill yang berbeda dari yang saya sebutkan. Oh ya mungkin saya akan update agak lama karena saya berencana akan membuat fic dari anime lain, tetapi secepatnya fic ini aka saya update. Segini saja bila ada tutur kata yang ambigu dan salah mohon dimaafkan. Jangan lupa Review dan promosikan ke yang lainnya. Sekian dari saya, wassalam!