Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Genre : Romance & Angst
Warning : Typo, BL, Boy x Boy, YAOI, RnR, DLDR!
Ichie Kurosaki presents
Seventy Days With You
Autumn, Seoul
November
Seorang pemuda yang cukup tinggi berkulit putih susu sedang berjalan santai menuju sekolahnya. Ini masih sangat pagi. Namja bernama Oh Sehun itu mengeratkan jaketnya yang menutupi seragam sekolahnya. Pagi ini sangat dingin. Mengingat ini adalah hari-hari di bulan terakhir di musim gugur dan memasuki musim dingin. Sehun tak menyukai musim dingin apa lagi natal.
Dia acuh saja ketika banyak yeoja yang memperhatikannya. Bukannya Sehun tak menyukai yeoja. Hanya saja dia bosan dan agak(baca=sangat) muak dengan para yeoja yang mengejar-ngejarnya. Dia sudah sering bergonta-ganti yeojachingu. Kebanyakan yeoja itu yang memintanya jadi kekasihnya lalu Sehun yang akan memutuskan hubungan mereka.
Sehun bosan. Dia juga tak suka dengan yeoja yang mengatur hidupnya dan sangat berisik. Yeoja itu akan menuntut banyak hal padanya dan Sehun tak menyukainya. Lalu setelah benar-benar muak, Sehun akan meninggalkan yeoja itu. Tak jarang juga Sehun menemukan yeoja itu berselingkuh darinya.
Sehun berhenti melangkah saat butiran salju turun di hadapannya. Dia berdiri di pinggir taman yang ada di daerah sekitar. Sehun menyukai taman di sini karena di sebelahnya ada lapangan. Taman dan lapangan itu sering sepi karena daerahnya jauh dari pemukiman. Apa lagi ada taman lain yang ada di tempat yang lebih strategis.
Begitu Sehun menoleh dia tertegun. Dia menemukan seseorang yang sedang duduk di kursi taman dan tak sadarkan diri. Sehun segera mendekati orang itu. Orang itu sangat cantik dengan raambut coklat pendeknya. Sehun kira orang itu yeoja andai saja dia tak mengenakan seragam yang sama dengan Sehun.
Karena tak tahu harus membawa namja cantik itu kemana akhirnya Sehun memutuskan pulang lagi dan membawanya ke rumahnya. Ibunya terkejut saat melihatnya pulang lagi dan membawa seseorang.
"Omona Sehun-ah! Itu siapa yang kau bawa!?" tanya ibunya terkejut. Dia segera membantu Sehun membawa namja pingsan itu ke sofa dan menidurkannya.
"Mollayo, Eomma. Aku melihatnya pingsan di taman" jawab Sehun dengan wajah datarnya. Dia segera mendapat jitakkan dari ibunya. "Apo Eomma! Waegure?"
"Kau masih bisa saja berwajah seperti itu saat keadaan begini" ibunya mengernyit heran pada anak satu-satunya itu. "Eomma rasa Eomma mengenalnya. Kalau tak salah dia tetangga yang baru pindah ke sini itu. Eomma akan menelepon mereka. Kau tunggu dia di sini, Sehun!"
"Lalu aku harus memasang wajah seperti apa?" gumam Sehun. Dia duduk di sofa tunggal di depan namja itu. Tak lama karena namja itu kemudian sadar dan terkejut. Dia segera duduk saat melihat Sehun. "Kau sudah bangun, ini minumlah" Sehun menyodorkan gelas.
Namja yang menurut Sehun berwajah cantik itu menerimanya dengan canggung. "Maaf, aku pasti merepotkanmu! Aku baru pindah ke sini dengan keluargaku. Karena terlalu bersemangat aku jadi berangkat terlalu pagi. Ah, kau berseragam sama denganku. Apa kau satu sekolah denganku? Kenalkan! Aku Kim Luhan!"
Sehun menyambut uluran tangan Luhan, "aku Oh Sehun. Ya, kita satu sekolah".
"Oh, syukurlah kau sudah bangun. Ayah dan ibumu akan segera datang" kata ibu Sehun yang datang. "Apa kau satu sekolah dengan Sehun? Kau baru pindah ke sini kan?"
Sehun diam saja saat Luhan bercengkrama dengan ibunya. Luhan memiliki kulit yang pucat, tapi berbeda dengan putihnya Sehun. Namja itu bermata indah dan seperti rusa. Sehun suka sekali saat Luhan tersenyum.
"Ayah akan datang, ya. Aku akan bereskan semua ini" Luhan melipat selimut yang tadi dipakainya. Tak lama sampai ayah dan ibu Luhan datang dan memeluknya.
"Aku Kim Joonmyun, Nyonya Oh. Terima kasih sudah menolong Luhan, ini istriku, Yixing. Kami baru pindah dari china ke sini untuk-"
"Ayah, aku tak apa-apa" Luhan memotong ucapan ayahnya. "Aku yang terlalu bersemangat. Aku akan berangkat bersama Sehun. Dia satu sekolah denganku" Luhan menatapku dengan tatapan mata memohonnya. Aku merasa tak kuasa menolak tatapan itu. Aku mengangguk.
"Ne" kataku singkat. "Ayo, Luhan. Kau sudah sehat 'kan? Kita berangkat, nanti terlambat" kataku. Lalu kami pamit dan aku menggenggam tangannya yang terasa dingin. Atau tanganku yang suhunya tinggi?
ΩΩΩ
Sehun Point of view
Aku sedang duduk di kelas dan merasa bosan karena Kang seongsaengnim belum juga datang padahal bel sudah berdering cukup lama. Aku memandang ke luar jendela kelas dan mengingat saat perjalanan berangkat tadi. Tak hentinya Luhan bertanya banyak hal yang aku jawab seadanya.
Ternyata Luhan satu angkatan denganku. Karena aku murid akselerasi yang mengalami percepatan, jadi Luhan lebih tua setahun dariku. Dan aku harus memanggilnya hyung. Sebenarnya aku tak terima karena Luhan terlihat sangat kekanakan dan aku merasa bodoh memanggilnya hyung.
Sampai aku tak sadar jika kami sudah sampai gerbang. Kenapa rasanya cepat sekali? Apa karena Luhan yang tak berhenti mengoceh? Namja china yang tingginya tak lebih dari tinggiku. Aku sengaja meninggalkannya saat sampai gerbang dan mengatakan di mana ruang guru. Dia terlihat bingung saat aku meninggalkannya begitu saja.
Aku tak ingin dia diserang para yeoja maniak itu. Padahal baru sehari dia sekolah, aku tak ingin dia mendapat masalah karenaku.
"Ayo, perkenalkan namamu!" seru Kang seongsaengnim membuatku terkejut. Aku lihat dia di depan kelas bersama Luhan.
"Annyeong! Naega Xi Luhan imnida, bangapseumnida!" lagi-Luhan tersenyum ceria. Senyum yang aku sukai. "Aku baru pindah ke sini dari China. Mohon bantuannya!"
"Nah, Luhan, kau bisa duduk di sebelah Jongin" kata Kang seongsaengnim. Jongin segera mengangkat tangannya menunjukan diri. Namun semua bingung saat Luhan menggeleng. Aku tetap memasang wajah datarku meski aku juga bingung. "Kenapa Luhan?"
"Aku ingin duduk di sebelah Sehun!" seru Luhan menunjukku membuatku terkejut namun tak berubah ekspresi. Sepertinya hanya aku dan Luhan yang tak memasang wajah terkejut. Namun semua kemudian hanya diam saat Kang seongsaengnim mengangguk dan membiarkan Luhan duduk di sebelahku.
"Kau tak keberatan 'kan, Oh Sehun?" tanya Kang seongsaengnim padaku.
"Ne, Kang seongsaengnim" jawabku. Kemudian Luhan kembali ceria dan duduk di sebelahku. "Hyung, kuharap kau tak menyesal" bisikku padanya.
"Kenapa aku harus menyesal, Sehunnie?" dia balas berbisik padaku dengan menutupi tangannya di wajah. Membuatnya terlihat jelas sekali kalau dia sedang berbisik, seperti anak kecil.
"Kau akan mendapat banyak masalah karena aku berandalan di sekolah ini" kataku dengan suara pelan. Dia membesarkan matanya yang indah itu. Dia terlihat sangat terkejut.
"Kenapa kau tak bilang? Kau harus bertanggung jawab! Aku masih ingin hidup tenang dan bahagia" bisiknya dengan mimik wajah lucu. "Aku tak mau masuk penjara! Aku belum menikah!"
Aku tak dapat menahan tawaku. Aku segera tertawa dan makin geli saat melihat wajah bingungnya.
"Oh Sehun! Apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Kang seongsaengnim menatapku tajam. Seluruh kelas menatapku takjub.
"Mianhamnida, Kang seongsaengnim. Tidak ada" jawabku dengan wajah poker lagi. Luhan mengerjap-ngerjap lucu padaku. Aku ingin sekali mengantonginya dan membawanya pulang!
"Jangan berbisik-bisikan lagi! Fokus pada pelajaran!" seru Kang seongsaengnim. Lalu semua kembali memperhatikan pelajaran.
ΩΩΩ
"Hey, Luhan-ah! Kau sudah kenal Sehun dari mana? Dia bisa dekat sekali denganmu?" tanya anak-anak sekelas pada Luhan yang ada di sampingku.
"Tadi pagi" jawab Luhan. Dia hanya menatapiku yang bangkit kemudian melangkah keluar kelas. aku tak suka berada di tengah keramaina. Saat aku melintasi koridor, banyak yeoja yang menatapiku.
"Sehun!" aku berhenti melangkah dan melihat Jongin atau Kai menghampiriku. "Hey! Ternyata kau sedang dekat dengan seseorang, ya?" tanyanya dengan seringai yang membuatku mengernyit.
"Apa maksudmu?" aku balik bertanya dan kembali dengan poker faceku.
Dia berdecak melihat wajahku. "Kau tahu, Luhan! Yang membuatmu tertawa seperti tadi! Aku saja tak pernah melihatmu tertawa! Kau membuat satu kelas terguncang, kau tahu?"
Aku tak merubah ekspresiku, "aku tak terguncang" jawabku.
"Aish! Kepala batu! Oh, ya, kita akan mengikuti pertandingan tingkat ibukota. Jadi, jangan buat Chanyeol marah dengan datang terlambat saat latihan nanti sore!"
"Nanti sore? Aku usahakan. Tapi aku rasa aku akan terlambat" kataku dan melangkah menuju atap. Mencari ketenangan diri. Kai tak mengejarku lagi. Kai adalah salah satu anggota basket inti yang cukup dekat denganku. Apa lagi kami dulunya teman SD. Kai tahu dulu aku tak seperti ini. Makanya dia berusaha dekat lagi denganku, berharap aku berubah.
Angin musim dingin membuat atap gedung sekolah saat ini lebih dingin. Aku tak bisa tiduran seperti biasa di lantai. Aku diam saja saat mendengar langkah kecil yang mengikutiku.
"Sehun-ah! Mau makan bersamaku? Aku tak mungkin menghabiskan bekal ini!" suara itu. Aku bingung kenapa dia mendekatiku terus. Tapi anehnya, kenapa aku tak keberatan? Biasanya jika ada yeoja yang menempeliku sepertinya, dalam mode berlebihan dan memuakkan, aku akan mengusirnya dengan kasar. Atau mendiamkannya sampai dia bosan sendiri.
"Kau harus makan banyak, hyung!" kataku dan duduk diikutinya yang duduk di sebelahku. Aku memakan makanan yang dia suapkan untukku. Lalu dia juga makan untuk dirinya sendiri. "Dengan badan sekecil itu, pantas saja kau pingsan".
"Aku akan makan banyak! Asal kau mau menemaniku makan" dia tersenyum lagi padaku. Aku rasakan sesuatu berdesir di dadaku. Apa ini? Namun aku menepisnya. Tanpa sadar tanganku mengacak rambutnya. Helaian rambutnya begitu lembut di tanganku. Lalu bibirku tersenyum kecil melihatnya yang makan dengan lahap.
ΩΩΩ
Author Point of View
Sudah seminggu Luhan kenal dengan Sehun. Namun Luhan hanya berani mendekati Sehun di kelas dan di atap lalu pulang bersama. Tak jarang Luhan dilabrak banyak gadis yang cemburu karena Luhan bukan anak basket. Namun, labrakan itu berhenti setelah Sehun mengancam agar jangan menyakiti Luhan.
Tak banyak yang mau menemani Luhan karena hal itu. Ia juga sering ditatapi sinis banyak yeoja fans Sehun. Luhan kini mengerti apa maksud Sehun saat pemuda itu berbisik padanya. Luhan tentu ada maksud mendekati Sehun. Dia menyukai Sehun. Bahkan mencintainya sejak Sehun tersenyum padanya di atap sekolah.
Dia sedang menunggu Sehun yang sedang berbicara pada leader klub basketnya. Entah apa yang Sehun bicarakan. Tak lama sampai Sehun membalik tubuhnya dan melangkah ke arahnya dengan senyum. Luhan tahu Sehun jarang tersenyum dan melihat pemuda itu hanya tersenyum untuknya, dia merasa bahagia sekali.
"Ayo, aku antar pulang" Sehun memegang tangannya lagi. Tangan Sehun terasa sangat hangat saat menggenggamnya. Luhan tersenyum pada Sehun.
"Sehunnie!" panggil Luhan dan Sehun menatapnya. "Kau mau menemaniku ke taman sebentar?" tanyanya dan menatap Sehun memohon. Sehun benci tatapan itu karena dia tak pernah bisa menolaknya. Dia hanya mengangguk dan tersenyum saat Luhan langsung memeluk lengannya dengan senang.
Luhan dan Sehun duduk di bangku taman. Tempat yang sama saat Sehun pertama kali menemukan Luhan pingsan. Luhan masih memeluk lengan Sehun mencari kehangatan dari Sehun. Hawa begitu dingin dan butiran salju perlahan-lahan turun.
"Sehunnie" Luhan melepas pelukannya dan menatap mata Sehun langsung. Luhan tak mendapat poker face Sehun, dia hanya menemukan Sehun menatapnya dengan mata teduhnya. Luhan tak pernah melihat lagi poker face Sehun secara langsung. Sehun tak pernah menggunakannya lagi jika di hadapan Luhan. Terakhir kali Luhan melihatnya hanya saat Sehun meninggalkan Luhan di gerbang sekolah di hari pertamanya.
"Apa hyung?" Sehun mengangkat salah satu alisnya. Dan Luhan menyukai ekspresi apa pun yang Sehun perlihatkan padanya.
"A-a-aku... ehm-begini" Luhan mengutuki degupan jantungnya yang kencang. Apa lagi pipinya terasa panas. Apa dia merona? Duh, kenapa dia harus segugup ini?
"Luhan hyung? Apa kau sakit?" Sehun menyentuh dahinya dan menunjukan kebingungannya. Dia khawatir kalau-kalau Luhan sakit. Harusnya dia tak menyetujui Luhan untuk berada di taman saat sedingin ini!
"Bukan itu!" Luhan merasa jengkel. "Aku menyukaimu, Sehun" kata Luhan langsung dan menatap mata Sehun dalam. Sehun membeku dan merasakan degupan jantungnya mengeras. "Aku begitu menyukaimu!" Luhan menutup matanya dan membuang wajahnya. Mukanya pasti memerah sekali!
"Maaf, hyung. Aku bukannya membencimu. Namun, aku tak mau berpacaran. Itu merepotkan dan menyusahkan. Aku sudah sering mengalaminya. Pacar itu pasti menuntut banyak hal dan mengganggu. Sudah banyak yeoja yang menjadi mantan kekasihku. Dan semuanya tak ada yang menyenangkan". Sehun memasang ekspresi tak enak dan mengacak rambut Luhan.
Luhan begitu terkejut atas penolakan yang diterimanya. Apa lagi alasan Sehun yang tak dapat dia terima sedikit pun. Dia menahan tangan Sehun yang ingin beranjak berdiri. "Tunggu! Aku namja. Aku berjanji tak akan menuntut apa pun padamu. Kalau kau tak suka, kau bisa mencobanya dalam waktu 70 hari. Dan memutuskanku pada hari ke 70. Bagaimana? Aku hanya ingin menjadi kekasihmu. Kau bisa berpura-pura mencintaiku."
Sehun menatap Luhan menimbang-nimbang. Lagi pula, selama yang diingatnya dia selalu merasa nyaman di dekat Luhan. Dia tersenyum pada Luhan, "baik. Aku juga menyukaimu".
Luhan tersenyum lebar dan memeluk Sehun. "Gomawo, Sehunnie!" Senyumnya semakin lebar takkala Sehun balas memeluknya lebih erat.
"Apa kau punya permintaan lain, hyung? Selain memintaku menjadi kekasihmu, heum?" tanya Sehun menggoda Luhan. Merasakan Luhan menggeleng di pelukannya dia tertawa. "Oh, ya, hyung, aku belum bertanya. Kenapa kau pindah ke Seoul?"
"Eum, karena aku kecelakaan dan mengharuskan aku menjalani perawatan yang lebih baik di sini" jawab Luhan dan makin melesakkan kepalanya dalam dada Sehun.
"Eh? Jadi karena itu kau pingsan. Kau sudah sehat 'kan?" Sehun rasakan Luhan mengangguk lagi.
Namun Sehun tak dapat melihat tatapan Luhan yang sendu. "Aku punya permintaan, aku ingin kita kencan!"
'Aku mengalami kecelakaan, Sehun. Dan itu merusak sistem kekebalan hatiku. Dan hidupku, hanya tinggal dua bulan saja.'
ΩΩΩ
To be Continued...
Author's Note :
Annyeong! Ichie balik lagi nih! Makasih semua yang udah Review di tiap FF Ichie. Buat sequel dari Black and White Roses bakal Ichie usahain. Juga sequel Let my Flower Speak.
Hubungan judul ff Black and White Roses itu adalah...=,=
Mawar hitam itu artinya kesedihan dan duka cita. Biasanya bunga ini di berikan buat orang yang habis berduka setelah salah satu anggota keluarganya meninggal. Jadi ini artinya kedukaan setelah Luhan meninggal.
Dan mawar putih itu 'kan artinya cinta suci. Ini cinta suci Sehun buat Luhan! Jadi intinya Black and White Roses itu ada di tengah cinta Sehun dan Luhan. Itu bungan dua-duanya Sehun taro di makam Luhan. /hiks/
Review yaa! Ichie mohon maap kalo bakal lama Update nih FF. Kasih saran buat kelanjutannyaaa! Otak buntuuu! /gantung diri/
Ada yang tahu arti dari kata "Jug Eum"?
Review juseyooooo!
Love you allll!
