Oh Sehun

Xi Luhan

Romance & Angst/Hurt

Teen

Warning : Boys Love, Typo, Newbie Author, NO Genderswitch!

Don't Like? Don't Read!

Read and Review!

Enjoy!

Ichie Kurosaki presents

Seventy Days With You

Winter Season, Seoul

Luhan mengeratkan jaketnya dan memandang langit yang menjatuhkan butiran salju. Sudah lebih dari dua jam dia menunggu Sehun yang janji kencan dengannya. Luhan merasa kedinginan. Dia pikir bibirnya mulai membiru karena bergetar menahan hawa dingin.

Apa Sehun melupakan janjinya?

Luhan harap Sehun tidak mengecewakannya di kencan pertama mereka. Dia lirik jam tangannya dan menunjukan pukul 5 sore. Sehun terlambat dua jam. Sehun tak mengangkat teleponnya sama sekali. Dan menunggu membuat Luhan resah.

Taman ini adalah tempat janji mereka bertemu. Tempat Luhan menyatakan perasaannya dan tempat Luhan bertemu pertama kali dengan Sehun. Dan Luhan tak ingin membuat kenangan menyakitkan di tempat ini. Apa lagi kenangan mengecewakan dari Sehun.

Apa Luhan terlalu naif?

Jika terus seperti ini, Luhan mulai takut. Bukan takut akan Sehun yang mengecewakannya. Tapi Luhan takut kalau dia sendiri yang mengecewakan Sehun. Hanya kurang dari 70 hari yang Luhan punya demi membuat Sehun mencintainya. Luhan harap Sehun tak akan meninggalkannya selama itu.

Luhan ingin dia sendiri yang meninggalkan Sehun.

Egois hm?

Tidak, Luhan bukan ingin mencampakkan Sehun. Itu adalah hal terakhir yang akan dia lakukan jika dia gila. Luhan tiupkan udara pada tangannya yang terbaluk sarung tangan. Dia merasa kedinginan yang menusuk tulangnya. Dan dia mulai merasa tak tahan menunggu lagi. Bukanya dia tak sabaran. Hanya saja, ada kekecewaan yang harus dia telan bulat-bulat.

Ini kencan pertama mereka dan Sehun membuatnya menunggu. Itu artinya Sehun tak menganggap kalau kencan mereka spesial.

Oh, Luhan lupa. Sehun kan hanya berpura-pura mencintainya. Dia sendiri yang meminta Sehun begitu. Ha ha...

Luhan usap pipinya saat merasakan tetesan hangat mengaliri pipinya. Dia yang meminta ini...

ΩΩΩ

Sehun mendengus saat Kai dengan bangganya memasukan bola basketnya ke Ring. Dia lihat jam di dinding lapangan indoor. Jam 5 lewat 15. Dia lihat Chanyeol yang menenggak air mineralnya. Dia jadi merasa tenggorokannya mengering.

"Chanyeol hyung! Aku pulang duluan!" seru Sehun. Dan melangkah menuju bangku untuk mengganti bajunya.

Chanyeol menatapnya, "oh, ya. Besok latihan sepulang sekolah! Kita semakin dekat dengan pertandingan. Kau yang paling sering bolos!" serunya. Dia merasa gusar saat Sehun tak acuh dan menghilang dari pandangannya.

"Kau pasti mau berkencan dengan pacarmu si murid baru itu kan?" itu yang Kai ucapkan pada Sehun ketika pemuda itu kembali dengan pakaian rapi. Dan hal itu membuat Sehun tersentak. Kai bersumpah demi celana dalamnya kalau itu pertama kalinya dia melihat Sehun panik.

Sehun tak ingat kalau dia ada kencan dengan Luhan hari ini. Yang dia pikirkan ketika ada baju yang sudah siap adalah untuk latihan demi turnamen basketnya. Chanyeol yang meneleponnya dan memaksanya datang. Karena Luhan tak menghubunginya sejak kemarin, dia jadi tak ingat. Dia bahkan tak yakin jika Luhan ingat.

Karena Luhan tak mengatakan apa pun. Sehun jadi berpikir dalam larinya menuju taman, apa Luhan juga lupa? Tapi Luhan sangat gembira ketika mengajaknya berkencan. Apa Luhan serius waktu itu?

Dia mengumpat dan memaki-maki ketika melihat jam sudah pukul setengah enam. Dia janjian dengan Luhan jam tiga. Baik, penggal saja kepalanya sekarang. Bodohnya dia!

Namun dia berharap, sangat berharap kalau Luhan tak datang. Karena dengan begitu semua lebih baik. Lebih baik Luhan melupakan janjinya, daripada menunggunya berjam-jam ditengah salju musim dingin. Bunuh saja dirinya kalau sampai Luhan sakit.

Namun semua hanya harapannya. Nyatanya, semua tak selalu terjadi sesuai keinginan kita. Dia lihat Luhan bergelung dalam jaket tebalnya, menunggunya dan kedinginan. Dia segera berlari dan memeluk Luhan. Tubuh pemuda cantik itu terasa sangat dingin.

"Se...hun... kau datang?" suara lirih Luhan itu membuat Sehun merenggangkan pelukannya.

"Maafkan aku! Sungguh maafkan aku!" seru Sehun dan kembali memeluk Luhan erat. Berusaha menghangatkan tubuh pemuda itu. Selama beberapa menit dia terus seperti itu sampai suhu tubuh Luhan kembali normal.

Luhan berharap ini bukan mimpi. Dan tubuh hangat Sehun menyadarkannya kalau ini kenyataan. Dia ingin sekali menghentikan waktu. Jadi dia selalu seperti ini, dalam pelukan hangat Sehun. Selamanya.

"Saranghae, Sehunna" ucapnya lirih di telinga Sehun. Dia ingin sekali Sehun membalasnya. Dia ingin seperti pasangan kekasih lainnya yang saling mengucapkan cinta. Dan pasti bahagia sekali ketika dipeluk seperti ini. Dia jadi merasa hidupnya begitu berharga.

"Aku tahu, Luhannie. Arra" balas Sehun.

Namun Luhan kembali ditampar kenyataan. Dia lupa kalau ini hanya drama yang dia buat sendiri. Dia juga harus banyak bersyukur karena Sehun mau memerankan perannya dengan baik. Dia lupa, kalau Sehun hanya berpura-pura mencintainya.

Dan Luhan yakin jika hidupnya memang benar tak begitu berharga. Jadi, tak mungkin dia mencampakkan Sehun. Kalau Sehun saja tak mencintainya.

ΩΩΩ

Days 6

Luhan tersenyum bahagia dan memberikan tanda Universal di samping Sehun yang hanya menarik satu sudut bibirnya.

"Jjang!"

"Ah, gomawo, ahjuma!" ujar Luhan dan menerima kembali smartphonenya. Ahjuma yang tadi memfoto mereka berdua tersenyum lebar dengan anak gadisnya yang masih kecil.

"Kau seorang namja? Aku pikir kau wanita. Kalau kau wanita, kalian serasi sekali" komentar ahjuma itu. "Apa kalian pasangan?"

Luhan dan Sehun terkejut. Reaksi ahjuma itu juga biasa saja mengetahui tebakannya benar. Lalu ahjuma itu tertawa.

"Anakku juga seperti kalian. Aku Kim Seokmin. Anakku yang pertama, laki-laki. Dan mencintai laki-laki. Haha, aku merestui mereka, karena hanya ingin dia bahagia" kata ahjumma itu agak miris. "Nah, kami permisi dulu!"

Luhan menatapi ahjumma itu lama. Lalu memandang Sehun yang terdiam tanpa ekspresi. Keduanya memandang kepergian ahjumma itu.

"Sehun, ajak aku naik bianglala!" kata Luhan menarik-narik lengan Sehun. Dia tersenyum riang ketika Sehun tersenyum padanya.

'Sehun, aku terus berkhayal...

Yang menuju mimpi kalau kita berdua mencari restu orangtua...

Yang mencari bunga tidur kalau kau dan aku hidup sampai tua...

Aku terus membayangkannya...

Sambil memandang wajahmu...

Dan mematrinya dalam benakku...

Agar ketika kau pergi...

Aku masih memiliki bayanganmu...

Dan kenangan yang pernah kita ukir...

Akan menjadi tanda cinta kita...

Cinta semu darimu...

Dan cinta sepihak milikku...

Luhan'

ΩΩΩ

Days 40

Sehun terus mendribble bolanya dan menatap Chanyeol sinis.

"Hey, Park idiot. Kenapa kau ada di depanku?" tanyanya.

Chanyeol menegakkan badannya. "Apa!? Tentu saja menghalangimu! Dan kurang ajar kau Maknae! Aku lebih tua darimu!" seru Chanyeol kesal.

Shoot!

"Ah! Kau benar. Aku lupa!" sahut Sehun. "Tapi, aku dapat three point. Dan itu karena keidiotanmu, hyung!"

Plak!

"Dasar maknae kurang ajar! Deng-"

"Sehunna!"

Baik Chanyeol atau pun Sehun serta anak-anak basket, semua menoleh pada seorang namja cantik yang ada di pintu masuk lapangan basket Indoor.

"Itu pacar Sehun" sahut Kai. Dia kemudian mendribble bola yang memantul dari ring. "Sudah dua hari tak masuk, kemana saja kau Kim?" tanyanya pada Luhan yang berjalan masuk lapangan.

"Ah, aku membolos Kai. Hehe!" Luhan tersenyum. Dia kemudian memeluk Sehun yang terkejut. "Aku kangen Sehunna, makanya aku kemari!" dia nyengir lebar.

"Wah! Mesranya. Maaf, Luhan. Kami sedang sibuk-sibuknya untuk turnamen bulan depan. Jadi kau bersabarlah, ya!" kata Kai.

"Luhan, lepas pelukanmu. Aku berkeringat!" seru Sehun sambil mengacak rambut Luhan.

Luhan melepas pelukannya dan memberikan minuman botol pada Sehun. Sehun menerimanya dan meminummnya. "Tunggulah aku di sana!" katanya dan mengembalikan minum itu pada Luhan.

"Ayo, latihan lagi maknae kurang ajar!" seru Chanyeol kesal.

ΩΩΩ

Luhan berjalan riang di sebelah Sehun dan merasa bangga ketika menemukan banyak tatapan iri dari para yeoja. Luhan kemudian berhenti melangkah ketika melihat taman biasa tempat mereka bertemu.

"Sehunnie! Ayo ke taman!" serunya membuat Sehun berhenti melangkah dan berbalik.

Sehun kemudian mengikuti Luhan yang duduk di bangku taman yang dingin. "Aku juga ingin bertanya sesuatu padamu."

Luhan kemudian menatap Sehun penasaran. "Apa itu, Sehunnie?"

Sehun memandang Luhan tajam membuat Luhan menelan ludahnya susah payah. "Kemana kau dua hari lalu? Aku bahkan tak bisa menghubungimu sama sekali dan rumahmu pun sepi."

"Aku dan keluargaku ke Hongkong" jawab Luhan dan menatap kearah kanan. Berusaha membuang pandangan dari Sehun.

"Untuk apa?" tanya Sehun dan menyentuh dagu Luhan lembut. Dia alihkan Luhan untuk menatap matanya.

"Untuk mengurus sesuatu di sana. Masalah keluarga dan sebagainya. Kau tau 'kan aku berasal dari sana?" jawab Luhan dan menatap iris gelap milik Sehun. Dan menemukan pantulan dirinya sendiri di mata itu. Tatapan pemuda itu membawanya jauh kedalam.

Dan Luhan rasakan sentuhan dingin di bibirnya. Dia temukan wajah Sehun yang memutuskan jarak dengannya. Bibir tipis pemuda itu mengecup bibirnya. Mata Luhan membola.

Sehun menciumnya?

Sehun men-MWORAGU!?

"Aku harap kau tak berbohong" ujar Sehun menatap Luhan dalam.

"Eh? T-tentu saja tidak!" balas Luhan. Dan diam-diam, tangannya menyentuh dada bagian ulu hatinya dengan erat.

'Aku juga berharap Sehun...

Berharap kita bisa bersama selamanya...

Sampai aku dan kau tua...

Punya anak cucu...

Itu harapan indah...

Dan satu yang paling indah diantara yang lain...

Yang ada di dalam kotak pandora hatiku...

Aku harap...

Kau mencintaiku...

Luhan'

ΩΩΩ

Author's Note :

Ichie Comeback! Jjang-jjang!

Mianhaeyo... lama update. Sumpah demi kancut adek, Kur 2013 itu nyusahin! Jadi banyak tugas dan bikin capek. Belum lagi masalah keluarga di rumah. /curcol/

Mian, bawa-bawa masalah. Ichie harap reader ngerti. Bagi yang nunggu fanfic ini. /gakada/

Oh, ya. Reader maunya happy end atau sad end? Ichie sih maunya happy end. ^^b

Tapi kan... udah ada spoiler di chap catuuu...! =_="?

Yaudah, ini sebenernya chapter 2. jadi terbalik gitu updatenya. (TAT) /geblek!/ tapi gak papa. yang penting masuk ke cerita. wkwkwk!