Oh Sehun

Xi Luhan

Romance & Angst/Hurt

Teen

Warning : Boys Love, Typo, Newbie Author, NO Genderswitch!

Don't Like? Don't Read!

Read and Review!

Enjoy!

Ichie Kurosaki presents

Seventy Days With You

Winter Season, Seoul

Days 60

Luhan kembali lagi. Kembali menunggu seperti 20 hari lalu. Menunggu kedatangan Sehun. Dan dia membodohi dirinya sendiri. Berharap bahwa Sehun akan datang cepat. Padahal dia sendiri yang membuat perjanjian itu. Dan mempertaruhkan, bukan hanya perasaannya. Namun juga nyawanya.

Dia memang bodoh. Dia eratkan jaket bulu coklatnya. Berusaha mengurangi hawa dingin. Namun sepertinya percuma. Dan hal itu membuatnya mengingat pelukan Sehun yang menghangatkan dirinya. Ingatan itu sukses membuat air matanya mengalir.

"Hiks! Sehun-ah, cepatlah..." dia lihat jam menunjukan pukul 6. Sehun terlambat 1 jam.

"Hiks! Sehunnie, saranghae... Bahkan di malam natal pun kau tetap terlambat dan mengecewakanku."

Pohon natal yang bersinar meriah di taman sepi itu tak dapat mengobati hati Luhan. Justru menambah kepedihannya.

...

Flashback on

Days 50

"Sehunna! Apa kau tak bisa pulang bersama lagi hari ini?" Luhan menatap Sehun yang sedang merapikan alat-alat tulisnya ke dalam tas.

"Tak bisa! Aku harus latihan. Dua minggu lagi pertandingannya!" kata Sehun tanpa menatap Luhan. "Kau tak perlu menungguku. Kau harus langsung pulang, arraseo!?" kali ini Sehun menunjuk Luhan dengan jarinya. Lalu Sehun meninggalkan Luhan begitu saja.

Luhan menatap kepergian Sehun dengan sedih. "Bogosippo!"

Dia kemudian berjalan keluar kelas dengan gontai. Dan terkejut ketika seorang namja imut menghalangi langkahnya. Namja itu menatapnya meneliti dari atas sampai bawah.

"Apa benar kau Kim Luhan?" tanya namja imut itu. Dia menunjuk dada tengah Luhan.

Luhan mengangguk kaku. Apa lagi beberapa yeoja menatapnya sinis. Lalu namja itu menariknya menjauh dari keramaian ke suatu kelas. Dan di kelas itu ada satu namja lagi. Namja yang sangat manis menurut Luhan. Kelas yang sepi membuat pikiran-pikiran buruk menghampirinya.

"Annyeong haseo, Kim Luhan" sapa namja itu dengan ekspresi datar. Dua namja imut itu tak menunjukkan senyum.

"Annyeong haseo. Waegure? Kugo nuguya?" tanyanya takut.

"Ah, kau takut ya?" namja imut itu tertawa. Mungkin agak menyebalkan tawanya. Luhan kemudian ingat namja ini. Keduanya merupakan murid-murid populer. Murid yang Luhan tak ingin membuat masalah dengan mereka.

"Baekhyun! Berhenti!" ujar namja manis satunya. Dia memiliki mata yang sangat besar dan bulat. Luhan menyukai mata itu. Namun tak suka tatapan tajamnya.

Namja imut itu berhenti tertawa. "Mianhae, Kyungsoo-ya! Namja cantik ini lucu!" ujarnya. "Nah, Luhannie, Byun Baekhyun imnida, bangapseumnida!" lanjutnya dan tersenyum manis. Namja itu berbadan pendek dan sangat imut. Luhan menyukai senyumnya.

"Do Kyungsoo imnida, bangapseumnida" kata namja bermata besar. Dia menatap Luhan dan memiringkan kepalanya. Luhan kini sadar, tatapannya adalah tatapan polos, bukan tatapan tajam.

"Nah, aku ingin memberitahumu sesuatu. Karena kekasih kita sedang sibuk latihan-"

"Tu-tunggu. Apa maksudmu kekasih kita?" Luhan memotong omongan Baekhyun.

"Eeeh? Kau tak tahu?" Baekhyun menatap Luhan bingung dengan memiringkan kepalanya. "Aku kekasih Chanyeol!"

JDER!

"Aku kekasih Kai" lanjut Kyungsoo.

"EEH? Tapi kata Kai, kekasihnya itu D.O, salah satu namja famous itu" balas Luhan pada Kyungsoo.

"Luhannie, kau sekolah di sini sudah dua bulan. Dan kau belum tahu siapa itu D.O?" tanya Baekhyun sangsi.

"Kau D.O!?" Luhan terkejut menunjuk Kyungsoo.

Kyungsoo hanya mengangguk. (0_0)

"Anak-anak basket memiliki kekasih yang populer seperti mereka" kata Luhan sedih. Dia menghela napas kasar membuat Kyungsoo dan Baekhyun saling pandang. "Sedangkan Sehun berpacaran denganku yang biasa-biasa saja ini!"

"Luhannie, kau itu populer!" seru Baekhyun tak percaya.

"Eeeh? Dari mana?" tanya Luhan tak percaya.

"Kami sih, tak mempedulikan itu. Begini, karena kita di posisi yang sama. Kami akan menemanimu. Kau pasti kesepian karena Sehun tak ada di sisimu 'kan? Makanya kami akan menemanimu" jawab Kyungsoo.

"Apa Sehun yang memintanya?" tanya Luhan berbinar. Berharap Sehun mengingat dan peka jika dirinya pasti kesepian.

"Bukan, tapi Kai" jawab Kyungsoo langsung memudarkan binar di mata Luhan.

"Begitu, ya?"

Flashback Of

...

Lampu-lampu jalan memenuhi taman itu. Membuat taman itu terlihat meriah. Namun tak banyak orang berada di taman itu. Hari sudah beranjak malam dan jam menunjukan pukul 7 malam. Luhan mencoba menghubungi Sehun namun nihil. Ponsel Sehun tak dapat dihubungi.

Luhan rasakan dadanya sakit. Tepat di ulu hatinya. Lalu dia terbatuk-batuk.

"Uhuk! Uhuk!" Luhan membekap mulutnya dan merasakan sesuatu mengalir di tangannya. Cairan kental warna merah mengaliri tangannya. "Uhuuk! Ukh!"

Namja manis itu terjatuh dari kursinya dan memuntahkan cairan ke atas putihnya salju. Dia hanya dapat tersenyum miris melihat darah yang mengalir dari tangan dan bibirnya.

...

Flashback On

Days 59

Dia menatap pemuda tampan di sebelahnya. Dia tahu kalau Sehun sedang sibuk-sibuknya latihan demi pertandingannya seminggu lagi. Tapi Luhan juga ingin dapat perhatian Sehun. Dia tahu dia tak berhak. Karena Sehun tak memiliki perasaan yang sama dengannya.

Tapi setidaknya Sehun tahu kalau dia kekasihnya.

"Sehunna" panggilnya membuat pemuda itu menghentikan gerakannya merapikan meja.

"Ada apa Luhannie? Aku harus ke tempat latihan setelah ini" sahut Sehun.

Luhan ingin sekali bisa membaca pikiran. Dia ingin membaca pikiran Sehun. Dia ingin tahu apa yang Sehun pikirkan tentang dirinya, tentang sikapnya, tentang arti dirinya untuk Sehun. Dan, apakah dia berharga untuk Sehun. Tapi, nyatanya, dia bertahan hidup lebih lama lagi saja tak bisa. Apalagi membaca pikiran orang lain.

"Besok, pada malam natal, bisakah kita bertemu? Aku mohon. Sekali saja. Aku sangat merindukanmu. Merindukan berdua saja denganmu. Di taman biasa kita bertemu. Aku akan menunggu sampai kau datang" kata Luhan. Dia kemudian beranjak bangkit dan meninggalkan kelas.

Flashback Off

Luhan kemudian mengelap darahnya dengan saputangan dan tissue yang dibawanya. Dia kemudian membuang tissue-tissue itu di tempat sampah. Dia berdiri di dekat tempat sampah itu sambil memandangnya miris.

"Menyedihkan!" katanya. "Aku memang pantas mati."

Lalu dia melangkah ke toko kecil di sana bermaksud membeli minuman hangat dan menghilangkan bau amis bekas darahnya. Bau itu membuat Luhan mual. Dia kemudian membeli segelas Capuccino hangat dan kembali ke taman tadi.

Dia pikir dia akan kembali menunggu. Namun pemuda itu sudah duduk di bangku taman. Sambil membuang gelas Capuccino hangat yang sudah dia minum setengah, dia berjalan mendekati pemuda itu. Pemuda yang memberinya semangat bertahan hidup, sekaligus menyerah pada kenyataan.

"Luhan" sapanya dan berdiri lalu mendekap Luhan erat. "Aku pikir kau telah pergi!"

'Aku memang akan pergi. Tapi tidak sebelum mengucapkan perpisahan padamu.'

"Aku 'kan, akan selalu menunggumu, Sehun-na!" sahut Luhan membalas pelukan Sehun. Dia merasakan kehangatan yang mengalir dari tubuh Sehun. Dia coba mengingat-ingat semua yang ada pada Sehun. Sebagai kenangan dan kekuatannya. Untuk yang terakhir.

"Haa~h, aku juga merindukanmu, Luhan. Tapi Chanyeol hyung tak memberi kelonggaran sama sekali" kata Sehun dan membawa Luhan duduk.

"Oh, ya, Sehun. Kuharap kau tak melupakan kesepakatan kita. Ku rasa kau bisa memutuskannya sekarang. Aku tidak mau membebanimu" sahut Luhan langsung.

Sehun menatap Luhan. Pemuda cantik itu tak menatapnya sama sekali. Sehun merasa Luhan berbeda hari ini. Seolah ada yang hilang. Namun dia acuh saja dan menatapi Luhan yang sedang mengamati bintang di langit.

"Aku akan mengatakannya ketika aku menang Pertandingan nanti! Kau harus datang ke pertandingan. Aku akan menyatakan sesuatu di sana." Sehun tersenyum pada Luhan. Namun pemuda China itu tak melihatnya karena tak menatap Sehun.

"Aku mencintaimu, Sehun" kata Luhan. Kemudian dia menghadap Sehun yang hanya menatapnya. Pemuda itu terlihat ingin mengatakan sesuatu namun tertahan. Luhan berharap sekali Sehun membalas pernyataannya. Namun dia harus menelan kekecewaannya bulat-bulat. Karena Sehun hanya tersenyum simpul.

"Apa kau ingin jalan-jalan?" tanya Sehun. Dia kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya untuk Luhan.

Namja cantik itu balas tersenyum. Meskipun hatinya terasa sedih saat ini. Namun dia mencoba menikmati waktu dan detik-detik terakhirnya bersama pemuda yang dicintainya. Pemuda yang tak membalas pernyataan cintanya.

To Be Continued...

Author's Note :

Miaaan! Ini ngebut sumpah! Makanya jadi ancur begini. Ini Udah lanjuut! Dan sepertinya Chapter 3-4 akan tamaat. Jeng! Jeng! FF ini gak akan panjang-panjang (eeh?) mian kalau chapter ini sangat pendek. karena banyak halangan. gomapta atas review dan dukungannya! /tebar garem/

Review pleaaassseeeeeeee!