Oh Sehun
Xi Luhan
Romance & Angst/Hurt
Teen
Warning : Boys Love, Typo, Newbie Author, NO Genderswitch!
Don't Like? Don't Read!
Read and Review!
Enjoy!
Ichie Kurosaki presents
Seventy Days With You
Winter Season, December
Days 67
Pantulan bola yang melewati ring bergema di telinga Sehun. Dia lihat point dari klubnya yang berada di atas angin. Dia yakin timnya menang. Tak percuma Chen melatih mereka terus menerus. Dan ketatnya jadwal yang Chanyeol berikan. Dia perhatikan ke sekitar dan semua penonton.
Di mana Luhan-nya?
"SEHUN! FOKUS!" teriak Chanyeol membuatnya kembali memperhatikan permainan.
Namun itu tak menghentikannya mencari Luhan. Dan sepertinya Chen menyadarinya. Karena permainan mereka langsung turun. Ini permainan tim, dan Sehun mengacaukannya. Dia tak memperhatikan passing dari temannya yang membuat bola itu dengan mudah direbut.
Shooting yang dia coba diblock dan dribblenya dikacaukan. Maka Chen mengganti Sehun dengan anggota lainnya.
PRITT!
Pemuda berambut abu-abu itu melangkah cepat ke bangku. Lalu menghela napas kasar. Dia merasa kalah. Dia? Kalah?
Mana janjimu pada Luhan? Lalu kemana Luhan yang harusnya datang ke pertandingannya? Ini sudah babak kedua!
"Kau kenapa Sehun? Kau tadi baik-baik saja?" tanya Chen yang duduk di sebelahnya. Namun Sehun hanya bungkam. Chen mengerti kalau Sehun adalah murid yang paling susah didekati dan diajak bicara.
"Opso" jawab Sehun tanpa menatapnya. Membuat Chen menghela napas pasrah.
"Aku juga sedang sedih hari ini. Kekasihku baru saja kembali ke Beijing tadi pagi. Padahal aku baru saja ingin melamarnya. Akhirnya kami jadi pacaran hubungan jarak jauh. Menyebalkan sekali."
Chen melirik Sehun untuk mengetahui apakah pemuda tampan itu memberikan reaksi. Namun pemuda itu hanya terus menunduk.
"Dia kembali ke Beijing, karena saudaranya ada yang kritis. Awalnya mereka pindah ke sini dua bulan lalu karena berpikir akan mendapatkan perawatan terbaik. Namun karena dia makin parah, akhirnya saudaranya yang kritis itu dibawa lagi ke Beijing. Semalam dia hampir mati. Aku tak tahu dia masih hidup atau tidak. Namun, katanya jantungnya telah berhenti pagi ini."
Hal itu membuat Sehun menoleh kaget. "Memangnya saudaranya itu terkena penyakit apa?"
"Dia mengalami kerusakan hati. Itu karena kecelakaan yang pernah dia alami. Hatinya mengalami luka saat kecelakaan itu dan tak sembuh meski sudah dioperasi. Dia kembali ke Beijing karena mendapat donor hati. Namun sepertinya terlambat. Dia 'kan sudah meninggal."
Ada denyutan yang membuat hati Sehun merasa perih. Dan itu membuatnya kembali menunduk. Tapi perih itu tak kunjung hilang. Seolah ingin menyadarkannya akan perasaan buruk yang akan mendatanginya. Dia pikir itu karena dia merasa kalah.
ΩΩΩ
Seoul Hospital Unit
Days 66
Mata bulat Kyungsoo menatap kosong lantai putih gading di bawahnya. Suara-suara yang ada di sekelilingnya tak dia tangkap. Padahal Baekhyun terus terisak di sebelahnya.
"Aku tak tahu kalau akan jadi seperti ini. Demi apa pun! Aku hanya memberinya susu coklat hangat! Dan dia... Astaga! Dia muntah darah!" racau Baekhyun.
Ini malam hari. Kyungsoo dan Baekhyun berada di lorong rumah sakit. Cukup ramai rumah lorong ini. Menunggu seseorang yang berada di UGD. Teman yang baru mereka kenal. Yang tanpa mengetahui langsung dekat seperti saudara.
Ini di rumah sakit. Ada orangtua Luhan, kakak sepupunya dan sahabatnya dari China. Lalu ada Baekhyun dan Kyungsoo. Terakhir, ada Luhan. Dia ada di dalam UGD. Dia hampir mati.
"Luhan gege! Hiks!" seorang namja berambut hitam, duduk di bangku panjang dengan seorang namja lainnya. Dia menangis sesenggukan di pelukan namja yang berambut coklat gelap dan berpipi chubby. Mata namja itu sudah sembab.
Keduanya baru saja datang. Mereka yang ditelepon Ibu Luhan, Yixing, segera menyusul kemari.
Ini sudah tiga jam mereka menunggui Luhan. Yang kekurangan darah. Yang mengalami pembengkakan di hatinya.
"Baby Panda!" seru seorang pemuda yang baru datang. Mengalihkan semua yang ada di sana. Termasuk Baekhyun dan Kyungsoo. Pemuda itu berambut pirang dan bertubuh tinggi. Dia memakai jas putih seperti seorang dokter pada umumnya.
"Kris gege!" seru namja yang tadi menangis di pelukan namja berpipi chubby. Dia segera berdiri dan memeluk pemuda pirang itu. Kris.
"Kris? Kau sedang apa di sini? Astaga! Apa kau datang langsung dari China!?" seru ayah Luhan. Dia yang tadinya merangkul istrinya, melangkah menghampiri Kris.
"Iya. Sebenarnya aku sudah ingin kemari sejak kemarin. Namun aku harus mengoperasi pasienku. Dan kalian harus segera ke Beijing sekarang juga. Ini demi Luhan! Aku mendapatkan donor hati!"
Semua yang ada di sana menjerit bahagia. Namun ada juga ketegangan. Joonmyeon segera memesan tiket untuk kepulangan mereka semua kembali ke Beijing. Tapi mereka harus menunggu sampai besok pagi.
Seseorang keluar dari UGD. Itu adalah dokter yang menangani Luhan. Total ada empat dokter di sana. Wajah dokter itu memucat dan terlihat sangat lelah. Semua yang ada segera berdiri menyambut dokter itu.
"Bagaimana keadaan Luhan?" tanya Yixing. Dia ada dalam rangkulan Joonmyeon. Berusaha mempertahankan keadaannya.
"Luhan harus segera mendapatkan donor hati. Dia sedang koma. Menurutku, dia bisa bertahan selama yang dia mampu. Tapi tak akan sampai sebulan dengan keadaan seperti ini," jawab dokter itu. Dia melirik pada Kris. "Dan perkiraan dokter Wu benar. Dia tak akan bertahan sampai tiga bulan sejak operasinya yang terakhir di Beijing. Dia butuh organ hati baru."
"Kami sudah mendapatkannya, dokter Jung. Makanya kami akan membawanya besok pagi kembali ke Beijing. Sudah cukup perawatan intensif di sini. Sangat membantu karena berhasil membantunya bertahan selama ini. Bahkan dia terlihat seperti orang sehat. Dia tak mungkin bertahan seperti ini di Beijing" sahut Kris.
"Kalau begitu kami akan mempersiapkan keberangkatannya besok ke Beijing. Jam berapa kalian pergi?" tanya dokter Jung. Dia kemudian agak menyingkir ketika beberapa perawat dan dokter keluar dari UGD.
"Kami berangkat jam sembilan pagi" jawab Joonmyeon.
Seoul Sport National Center
Days 67
"Iya, maaf, Jongdae-ya, aku sudah berangkat dan sedang ada di bandara. Maaf baru sempat menghubungimu. Kyunsoo dan Baekhyun saja belum menghubungi kekasih mereka masing-masing. Sudah ya, aku ma-MWO? OMONA! JANTUNGNYA BERHENT-
Tuuut... Tuuuut...Tuuuut... Tuuuut..."
Chen tertegun. Dia kemudian menatap layar ponselnya dengan terkejut. Adik Xiumin meninggal?
"Chen hyung! Ayo, pertandingan babak kedua sudah di mulai!" ajak Kai yang menyadarkan lamunannya. Kai melihat sekali pada ponselnya, bersamaan dengan Chanyeol. Kemudian keduanya menghela napas dan melempar ponsel itu. "Fighting, Kai!"
"Aja! Aja! Chanyeol!" seru Chanyeol sambil melangkah keluar ruangan. Chen hanya diam saat Kai berlari menyusul yang lain. Dia kemudian menghela napas kasar. Luhan, adik Xiumin, telah meninggal.
"Aku harus segera ke Beijing. Tapi sedang ada pertandingan Nasional begini. Kapan aku bisa ke pemakamannya?"
ΩΩΩ
"Dia tak menghubungiku sejak semalam. Kekasih macam apa dia?" Sehun menoleh pada Chanyeol yang mendesah kesal.
"Kyungsoo hyung juga! Apa mereka bersekongkol, ya?" ujar Kai. Dia melempar asal komik Sehun ke ranjang.
Saat ini Sehun menyadari bahwa juga terjadi hal yang sama pada Luhan. Lalu mereka bertiga terkejut saat mendengar ketukan ibunya. "Sehun-ah, ada D.O dan Baekhyun! Cepat keluar! Ada berita buruk!"
Ketiga pemuda itu saling pandang. Kemudian mereka melompat menuju pintu dan keluar. Di ruang tamu, ada Kyungsoo dan Baekhyun. Keadaan keduanya tak bisa dikatakan baik. Wajah mereka pucat dan mata mereka sembab. Lalu kondisi mereka yang berantakan.
"Se-hiks! Sehun!" isak Baekhyun. Chanyeol segera menghampiri dan memeluknya.
"Baekki, tenanglah!"
"Sehun..." ujar Kyungsoo. Dia terus menunduk di sebelah Baekhyun. Kai langsung merangkulnya.
Sehun merasakan perasaan tadi pagi kembali lagi. Apalagi kedua namja ini terus memanggilnya. Namun dia tetap tidak bersuara dan hanya menatap. Dia menunggu apa yang akan mereka bicarakan. Namun Sehun tak bisa tidak merasakan perih yang datang dan bersarang di hatinya.
Kini Sehun merasakan sesak di dadanya. Padahal dia pikir dia tidak memiliki gangguan pernapasan.
"Luhan meninggal. Tadi pagi."
Sehun rasakan dia tidak bisa bernapas. Mungki juga tidak bisa hidup lagi.
ΩΩΩ
In that space where memories linger
Still as warm on my fingertips
You are here, here
Your scent, your face
"Terima kasih, kalian baik sekali sampai mau mengantar kami ke bandara. Luhan pasti juga senang. Dia sudah lebih dulu di pesawat" ujar pemuda yang bermata panda. Di sampingnya berdiri dokter Kris.
Kedua namja di depannya saling pandang. "Tidak apa-apa. Kami memang baru mengenalnya. Tapi kami langsung dekat dan saling menyayangi" sahut Kyungsoo.
"Kalian bisa langsung kembali pulang. Kami tinggal berangkat. Sampai jumpa lagi ne? Oh, ya, ini nomer pon-"
"KRIS! LUHAN! DIA-DIA! JANTUNGNYA SUDAH BERHENTI!" jerit Xiumin. Keadaannya sungguh berantakan dan matanya sembab. Ada bekas aliran air mata di pipinya.
Sontak Tao langsung terkejut. Kris langsung berlari bersama Xiumin ke dalam pesawat. Tao menyerahkan sebuah buku dan surat pada Baekhyun.
"Itu dari Luhan, untuk kekasihnya, Sehun" ujarnya dan air mata mengalir deras dari mata pandanya. Sedangkan Baekhyun dan Kyungsoo hanya bisa membeku. "Dia bilang aku harus menyerahkannya kalau dia sudah... hiks! Sudah meninggal..."
Baekhyun dan Kyungsoo tak bisa menahan ledakan air mata mereka.
ΩΩΩ
Please, look at me, look at me, look at me
I can feel you, like this, feel you, feel you
Struggling to catch your expressions
Struggling to catch your smiles
Days 70
Sehun tak pernah suka menunggu. Dia pikir menunggu itu membosankan. Menunggu itu membuang-buang waktu dan tenaga. Menunggu itu hal menyebalkan. Tapi dia selalu membuat Luhan menunggu.
Kini giliran dia yang menunggu. Menunggu kedatangan Luhan. Di taman tempat mereka biasa bertemu ini, Sehun duduk di tempat biasa Luhan duduk menunggunya.
You, who I struggled to understand
In the place where we were together
In the moment where I resembled you
When it felt too good being soaked in the rain
You are gone, gone
Ini jam delapan malam, di taman sepi di kota Seoul, hujan salju, dan Sehun duduk menunggu Luhan. Sudah lima jam sejak Sehun mendengar pernyataan Kyungsoo.
"Luhan meninggal. Tadi pagi."
Sehun tak percaya. Karena dia dan Luhan sudah berjanji akan bertemu. Maka Sehun menunggunya di sini. Di taman ini. Taman tempat biasa mereka bertemu. Luhan dan Sehun selalu menepati janji. Tak perduli akan seterlambat apa mereka.
Maka Sehun yakin. Luhan pasti datang, dan dia akan menunggunya. Menunggu Luhan sampai pemuda itu datang.
How am I supposed to erase you alone and live
In those moments where we once walked together
Like that, the things we made beside each other
Even the memories, even those regrets
Sehun tak menangis dan tak akan mau menangis. Dia hanya tak ingin mengakui Luhan sudah meninggal. Pemuda itu pasti bercanda. Pemuda itu pasti ingin membuat kejutan dan mengerjainya karena dia telah menyebalkan.
Lalu Sehun berdiri dan menyusuri langkahnya. Dia melangkah menuju rumah Luhan. Dia berharap menemukan pemuda itu sedang tertidur dan lupa ada janji bertemu dengannya. Sampai kakinya berhenti di depan rumah kekasihnya.
Rumah itu gelap dan tak ada cahaya. Rumah itu juga di gembok dan terlihat kosong. Ada plat kalau rumah itu di sewakan. Sehun malah tertawa kecil.
"Lelucon bodoh!"
Lingered there with me, missing you so much
Please, look at me, look at me, look at me
As ever, I can feel you, feel you, feel you
Sehun memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Dia merasa tak bisa bernapas. Ada sesuatu yang menekannya sehingga ia merasa kehilangan udara. Lalu dia terengah-engah memburu oksigen. Dia tak bisa bernapas. Dia kehilangan udaranya.
"Luhan..."
Dan melintas bayangan Luhan ada di benaknya. Luhan yang tersenyum, tertawa, memohon dan menatapnya. Sehun merindukan itu karena sudah lama dia tak bersama Luhan. Dia sangat merindukan Luhan. Sampai mau mati rasanya.
Merely resembling your words
Merely resembling your smiles
Merely resembling you
Lalu Sehun berbalik lagi. Mungkin Luhan sudah datang dan menunggunya di taman. Maka Sehun berlari ke taman. Dia tak mau membuat Luhan menunggu. Hingga dia sampai ke taman itu lagi dan terengah-engah. Namun Luhan tak ada di sana.
"Lulu hyung... Kau di mana?"
In the place where we were together
In the moment where I resembled you
When it felt too good being soaked in the rain
You are gone, gone
How am I supposed to erase you alone and live
When I miss you so much
"Hiks! Hyung! Mianhae hyung! Jebal! Jangan bercanda, hyung! Ini tidak lucu! Datanglah, hyung!" Sehun yang mulai frustasi dengan sesak di dadanya jatuh bersimpuh di atas tumpukan salju. Butiran-butiran salju berjatuhan membasahinya. Dia pukul-pukul dadanya sendiri dengan kepalan tangannya.
Your name, which I was barely allowed to speak, can't be erased
My name, only used by you, is asleep here
"Hyung! Jeongmal saranghae hyung! Luhan! Nado saranghae!"
Sehun melabrak gundukan salju di depannya. Lalu dia menjerit. Jeritan pilu yang menyayat hati. Kemudian dia menunduk dan bahunya bergetar. Dia. Oh Sehun.
"AAAARRRRRRGGGGGHHHHHH!"
Dan dia telah hancur.
"Aku mencintaimu, Luhan."
Ada tetesan air mata yang mengalir. Kini yang jatuh ke salju putih itu bukan darah merah. Melainkan air mata. Ada denyutan yang terasa mengerikan di dadanya. Dan lubang hitam menelannya. Lubang dari tempat Luhan bersemayam di hatinya.
Dia Oh Sehun. Menangis dalam diam. Yang lebih menyedihkan dari menangis kencang. Lalu dia berdiri dengan bergetar. Berdiri dengan kaki yang lemas dan terduduk di bangku itu lagi. Dan air mata terus mengalir dari mata seorang Oh Sehun. Dadanya terus terasa sesak dan pedih.
Oh Sehun yang telah hancur. Hancur karena kepergian Luhan. Yang terus disangkalnya.
In the place where we were together
In those moments where we could've walked together
I'm holding onto myself alone
In this place, even our future, my wishes have stopped
I'm standing here and you are gone
Gone-Jin
English Translation
To be continued...
Review Answer :
Wonhaesung Love : Ne, ini lanjut. Gomapta atas dukungannya. /nunduk/kejedot meja/
Park Haneul : sayang sekali cinta, kamu sudah menyimpulkan begitu! Tapi saya bukan orang yang mudah ditebak. Gyahahaha! Prolog dapat menyesatkan, nak! Tapi itu memang arwah luhan. (T^T) arwah gak bisa disentuuh. /tabok luhan/ditotok thehun/ gomapta dah ikutin cerita gaje iniii! /nangis bahagia/
Sjvixx : Yayaya! Nyesek dan saya tau itu. Kalo di ff banyak kan luhan menderita, kini sehun yang menderita dan GILAA! Hyahahaha! /tawa gak waras/awesomee/GEPLAKED/ thanks for review
Syuku : gomapta dah reviewww! /tebar garem/
Guest : yosh! Nih dah lanjoott! ^^ gomapta dah leview~! /tebar kembang/
Author's Note :
Annyeong Chinguuuuu! Tamat 'kan ceritanyaaaaaa... myeeaaaa!
Oh, ya, bakal ada lanjutannya. Tentang Sehun yang harus ngerelain Luhan. Dia bakal nunggu terus Luhan di situ soalnyaa. Kan kasian, jadi perjaka tuaa. =_=" ANDWAEE!
Akhirnya Luhan telah pergii... (TTATT)
Senengnya bisa nyiksa Luhan! (TAT) /plak/
Ichie bakal lanjutin ff ini. Nah, apa ada yang mau sekuel? Tapi maaf, untuk ff ini. Ichie gak bikin sekuel. Ichie hanya bikin lanjutan. /ngek!/
Review and Comment, nee! /tebar TOA/
Big thanks TO :
Reviews for Uljima Chagiya
joldyck
ShinJiWoo920202
Maple fujoshi2309
sjvixx
Syuku
kimyori95
.58
pinkupinku00
Su Hoo
Oh HunHan Zelus
Guest
Tanashiko Yui
Park Haneul
.58
EXO Cumi
Nedera
meliarisky7
Wonhaesung Love
