Oh Sehun
Xi Luhan
Romance & Angst/Hurt
Teen
Warning : Boys Love, Typo, Newbie Author, NO Genderswitch!
Don't Like? Don't Read!
Read and Review!
Enjoy!
Ichie Kurosaki presents
My Miracle
Seoul University, Autumn Season
Daun-daun yang berguguran mengotori jalan di sekitar taman itu. Bukan. Itu bukan taman tempat biasa Sehun dan Luhan bertemu. Ini taman di belakang kampus tempat biasa para mahasiswa bersantai. Dan Sehun kini memiliki tempat favorit baru. Di bawah pohon pinus di taman itu.
Pemuda bermarga Oh itu mengenakan kaca mata bening dan rambutnya berwarna-warni. Sangat kekanakan, namun itu yang membuat Sehun jadi pusat perhatian. Kini Sehun adalah mahasiswa jurusan seni dan koreografi. Sehun adalah seorang Dancer.
Sudah lima tahun berlalu dan Sehun tetap tak melupakan Luhan. Dia masih suka melewati taman itu. Taman di dekat rumahnya. Dan terakhir kali Sehun ke sana adalah tahun lalu. Tepatnya malam natal tahun lalu. Malam natal terakhirnya menanti Luhan.
Sehun tak bisa selamanya hidup dalam kenangan. Dia harus bangkit dan menerima kenyataan. Kalau Luhan telah meninggal. Kalau Luhan telah tiada dan pergi meninggalkannya.
Flashback Once Year Ago
Sehun melangkah santai menapaki pinggir jalan kota Seoul. Ramainya tengah kota malam itu. Dia kembali melangkah dan tak peduli tatapan para gadis. Melintasi lampu-lampu jalan dengan langkah semakin berat Sehun menghentikan kakinya hingga sampai pada taman itu.
'Sehun! Aku suka sekali pada lampu-lampu jalan yang kerlap-kerlip!'
Suara itu, suara Luhan yang terdengar persis di sebelahnya. Dan ketika dia menoleh, hanya ada jalanan sepi tanpa orang.
'Sehun! Aku di sini!'
Sehun menoleh ke sisi lainnya dan terkejut. Namja cantik itu tersenyum lebar. Bagi Sehun, sudah biasa Luhan muncul tiba-tiba seperti ini. Namja itu terlihat seperti ingin lenyap di bawah lampu taman. Seolah dia akan terhisap dan Sehun merasa ketakutan.
"Lu-Lulu hyung!" Sehun memeluk Luhan sambil memejamkan matanya ketakutan. Tapi detik berikutnya dia sadar dia melakukan kekonyolan. Karena dia memeluk udara. Dia buka matanya perlahan-lahan. Dan tetesan air mengalir dari matanya.
Dia menegakan badannya dan mengacak rambutnya. Sehun yakin dia sudah gila. Dia lanjutkan langkahnya hingga sampai di rumahnya.
"Sehun! Kau sudah pulang? Kenapa larut sekali?" tanya ibunya dari dapur.
Sehun dudukan dirinya di bangku dan bersandar. Dia pejamkan matanya sambil menghilangkan lelah.
'Kau lelah sekali, ya, Sehunna?'
Sehun ingin sekali memohon. Dia tahu Luhan sudah meninggal. Dan dia membodoh-bodohi dirinya sendiri. Tapi mendengar suara Luhan, melihat wajah cantiknya, meski hanya sekilas. Setidaknya itu memuaskan kebutuhan hatinya. Memohon mati saja dia.
"Sehun! Ini Eomma buatkan teh ginseng untukmu. Wajahmu pucat sekali! Ini kan bulan Desember dan udara pasti dingin sekali. Kau bisa sakit jika kelelahan seperti ini terus!" tegur ibunya.
Sehun membuka matanya dan menyesap tehnya. Dia rasakan kehangatan merayapi tubuhnya. Dia dengar desahan lelah dari ibunya.
"Sehun, Eomma ingin bicara" kata Ibunya dan melihat pergerakan Sehun berhenti. "Ini sudah empat tahun berlalu. Eomma tak bisa melihatmu menderita seperti ini terus! Kau hanya tak bisa menerima kenyataan. Kalau kau begitu terus, bukan hanya kau yang menderita, Luhan juga pasti tersiksa! Hanya satu caranya, Sehun, hanya satu caranya agar kau bisa terbebas dari penderitaan seperti itu!"
"Eomma tak mengerti! Dia sudah berjanji padaku! Dan aku sudah berjanji padanya!" sahut Sehun keras. Dia pegangi dadanya yang terasa berdenyut pedih. Lalu dia bingung bagaimana caranya bernapas. Karena dia begitu sesak.
"Bukan hanya kau yang sedih Sehun! Kami semua yang menyayangimu dan Luhan juga sedih! Kau hanya perlu melakukan satu hal dan semua akan terasa lebih baik!" Eomma bangkit dan duduk di sebelah Sehun. Dia rangkul bahu Sehun dengan raut menderita. Sehun mencengkram dadanya mencari udara. "Bernapas Sehun! Bernapaslah!"
Sehun mulai tenang dan menghirup dalam-dalam. "Aku benci Luhan! Dia yang membuatku lemah seperti ini!"
"Satu hal! Kau hanya perlu merelakan Luhan!" Eomma mengelus rambut abu-abu Sehun yang berantakan namun tetap terasa lembut. Dia kecup kepala anaknya satu-satunya. "Tidurlah, kau butuh itu!"
Sehun beranjak bangkit setelah meneguk habis teh ginsengnya. Dia melangkah gontai ke kamarnya. Kantung mata hitam melingkari mata indahnya. Ketika sampai di kamarnya yang gelap, Sehun menyalakan lampunya.
'Sehun, kau lama sekali!'
Sehun tak terkejut. Dia menutup pintunya dan melangkah ke kasurnya. Lalu merebahkan dirinya. Dia rasakan pelukan di tubuhnya.
Ini yang membuat Sehun sulit tidur. Bayangan Luhan yang datang tiap malam. Ini membuatnya gila.
"Satu hal! Kau hanya perlu merelakan Luhan!"
"Lu, apa kau benar-benar sudah meninggal?" Sehun tahu kalau pertanyaan itu membunuhnya.
'Menurutmu? Kalau aku belum meninggal, lalu aku yang sekarang apa?' Sehun tak merasakan kehangatan dari tangan Luhan yang melingkari pinggangnya.
"Kau membunuhku secara perlahan, kau tahu?" tanya Sehun dan air mengalir dari sudut matanya. "Aku harus apa?! Katakan Lu!"
'Se-Sehuna! Hentikan! Kau juga akan membunuhku!' Luhan bangkit dan menatap Sehun kalut.
Sehun bangkit dan menatap Luhan. Pemuda itu bercahaya, cahaya yang makin lama makin pudar. "Aku sudah gila! Aku berbicara dengan orang yang sudah mati!"
Kata-kata itu bagai racun di mulut Sehun. Kata-kata yang membunuh dirinya sendiri. Menyayat hatinya dan membakar dirinya hidup-hidup. Dia memegang wajahnya dan merasa tersiksa. Dia benar-benar merasa dibakar.
'Sehuna! Kau akan membuatku menghilang! Jangan menolak kehadiranku!' seru Luhan takut.
Sehun terdiam. "Jadi, kalau aku merelakanmu pergi, kau juga akan menghilang?" dia tatap Luhan dengan nanar.
'YA! Kau pikir kenapa aku terus muncul? Itu karena kau! Kau pikir eksistensiku ini apa?'
"Kau bercanda!" Sehun membuang wajahnya.
'Sehun, aku mulai lelah sekarang. Aku pikir itu karena keyakinanmu yang mulai goyah. Kau harus tahu, aku sangat mencintaimu.'
"Aku juga mencintaimu!" Sehun rasakan dia tercekik. Dia menoleh pada Luhan. Dan dia terkejut ketika Luhan makin menjadi bayangan kabur dan lenyap.
ΩΩΩ
One Last Year
Seoul, Winter Season
Sehun duduk sendiri di taman itu menatap hamparan putih salju. Dihadapannya berdiri sosok Luhan yang berjalan pelan ke arahnya. Luhan yang sama seperti empat tahun lalu. Bahkan penampilannya pun sama. Sehun berdiri menyambutnya.
"Hyung!" Senyuman Sehun menghiasi wajahnya melihat senyum Luhan padanya.
'Stopping the time, I go back to you'
'I open this book of memories and I open up your page'
'And in the book I'm in there,'
'In there with you'
Senyuman Sehun menghilang saat Luhan yang ada di hadapannya lenyap. Tatapannya kembali kosong. Dalam pikirannya berkecamuk akan hadirnya Luhan sampai ia berkhayal.
'I'm struggling to find you who I cannot see'
'I'm struggling to find you who I cannot hear'
Sehun terdiam dan tak beranjak dari taman itu.
"Hyung, bunga ini untukmu" kata Sehun dan mencium bunga itu. "Marry christmas!" Dan air matanya mengalir perlahan.
' "Aku mohon, jangan kau titikan air mata!" '
Sayup-sayup Sehun mendengar bisikan Luhan yang dihempaskan angin. Sehun kembali berpikir apa ini khayalannya juga tentang Luhan yang telah dia tunggu selama empat tahun.
"Hyung, terimalah bunga ini untukmu!" Sehun menyodorkan bunga itu pada udara kosong.
"Hyung, jebal!" Air mata Sehun mengalir deras. Dia mengisak. Dia hanya berharap Luhan menerima bunganya dan memaafkannya. Dia hanya ingin Luhan mengetahui bahwa dia juga mencintai Luhan.
"Hyung, jeongmal saranghaeyo" lirih Sehun. Air matanya mengalir deras. Dadanya terasa seperti di himpit. Dia tak bisa bernapas dan sesuatu terasa menyangkut di tenggorokannya. Air matanya terus mengalir hingga akhirnya dia menangis kencang. Menangis meraung-raung seperti anak kecil. Tangisan yang tumpah, setelah empat tahun dia menyimpannya.
'Air mata yang tertahan akhirnya terjatuh.'
Flashback off
Sehun bersandar di bawah pohon pinus dengan earphone di telinganya. Sebuah buku berada di tangannya. Hubungan International. Dia ingin sekali pindah jurusan dan dia tertarik menjadi seorang diplomat. Kedengaran mahal.
Bagi Sehun yang berotak cerdas, nilai tak terlalu jadi masalah. Dia tak menghiraukan beberapa mahasiswi yang cekikikan melihatnya. Sehun sudah tak tertarik pada wanita. Karena dia sudah sadar bahwa orientasinya melenceng.
Bahkan ibunya sudah mengetahuinya. Ibunya berpikir itu salahnya karena dampak dari perceraiannya. Memang Sehun kehilangan senyumannya sejak perceraian orangtuanya. Dan ayahnya malah seakan tak peduli lagi pada keluarganya. Hanya uang yang terus mengalir.
Ibunya sadar, betapa hancur hati Sehun sejak meninggalnya Luhan. Dan kini Sehun sudah lebih baik. Dia sudah menerima kepergian Luhan. Dia baru saja mengecat rambutnya jadi warna-warni sebelum menang lomba menari tingkat provinsi.
Setidaknya Sehun sudah mau tersenyum pada ibunya lagi.
Sehun sudah terbiasa mendengar bisikan-bisikan Luhan selama empat tahun. Melihat kilasan-kilasan bayangan Luhan yang mengikutinya setiap dia melamun. Hingga membuat semua orang khawatir akan kewarasannya.
Namun sejak malam natal tahun lalu, sejak dia memutuskan melupakan Luhan. Bisikan dan bayangan Luhan lenyap. Sehun tahu dia makin merasa kehilangan. Tapi dia harus menghadapi dunia nyata.
Dia yang sudah jenuh membaca buku kemudian memandang berkeliling. Ada Chanyeol yang melangkah santai ke arahnya bersama Baekhyun.
"Yo, Sehun!" sapa Chanyeol dengan senyum lebar idiotnya.
"Ah, hyungdeul" Sehun melepas earphonenya ketika dua sejoli itu sampai di depannya. Dia kemudian menegakkan tubuhnya.
"Sehun, kau besok dapat tugas mengospek anak-anak MOS tahun ini. Kau dapat kelas C bersama Baro. Datang pagi, ya! Ini daftar namanya" Baekhyun menyerahkan selembar daftar nama pada Sehun yang menerimanya ogah-ogahan.
"Ne, ne, ne" Sehun langsung menyelipkannya di buku diplomatnya. Dia kemudian berdiri ketika menyadari bahwa kelasnya akan segera di mulai.
"Kau mau kemana, Sehun?" tanya Baekhyun bingung.
"Kelas" jawab Sehun acuh. Dia melangkah malas menuju kelasnya. Sampai hilang dari pandangan keduanya.
"Aku bingung sekaligus iri pada Sehun. Dia selalu malas-malasan. Tapi tetap masuk top ten dalam nilai umum!" kesal Baekhyun.
ΩΩΩ
Sehun akui dia salah hari ini. Dia benar-benar kesiangan. Dan Baro bisa membunuhnya. Maka dia buru-buru merapikan buku untuk jadwalnya hari ini. Hanya ada satu kelas, dan itu kelas yang paling dia hindari. Bernyanyi.
Mengeluh, Sehun menarik tasnya dan tak sengaja menyenggol foto Luhan. Foto dalam bingkai itu terjatuh membuat Sehun sangat terkejut. Dia diam sejenak untuk merasakan debaran jantungnya yang berpacu cepat. Anehnya, tak ada rasa sesak ataupun perih di hatinya seperti jika dia ingat Luhan.
Dia kemudian melangkah pergi tanpa merapikan bingkai foto itu atau pun menutup pintu kamarnya. Dia kendarai motor Ducati hitam-abu-abunya dengan cepat hingga sampai di kampusnya. Dia segera melangkah cepat menuju lapangan. Dia lihat Baro sedang mengomando adik kelas mereka.
Sehun tak berbicara apa pun, tapi semua langsung menoleh padanya.
"Kau terlambat, sialan!" maki Baro. Ada Sandeul di sebelahnya.
"Aku baik dan sehat. Terima kasih" balas Sehun dengan wajah datarnya berdiri di sebelah Baro hanya untuk mendapat geplakan di kepalanya. "Brengsek!"
"Itu sehu-hmph!"
Adik kelas itu membuat keributan di baris belakang. Namun Sehun yang tahu jadi bahan omongan, tak mempedulikannya. Dia kemudia menghadap pada mereka.
"Perkenalkan, saya Oh Sehun. Dari Jurusan Seni, tahun ketiga" kata Sehun. Dia kemudian mengacuhkan para adik kelas itu. Sampai pada waktu mengabsen di kelas. Karena Sehun yang memiliki daftar absen.
"Ahn Seohyun!" seorang gadis modis berambut pirang mengangkat tangannya.
"Cha Dongwoo" namja yang bermata sipit dan mungil mengajukan diri. Sampai pada absen-absen terakhir Sehun mulai tak mengamati wajah dan mencoba menghapal. Terlalu banyak wajah!
"Xi Luhan!" Sehun tetap menatap absen ketika seorang namja bermata bulat dengan rambut pirang putih menyahut.
"Ne, Sunbae!"
"Zhu Myeong, terakhir!" Sehun mengangkat wajahnya dan menemukan seorang gadis berambut sebahu mengangkat tangannya. "Baik, sekarang kita akan masuk sesi perkenalan. Dari ujung!" dia menunjuk murid paling pojok.
"Ne, sunbae! Namaku Zhu Myeong," kata Zhu Myeong. Dia tersenyum-senyum. "Aku senang bernyanyi dan keturunan China. Aku masuk jurusan seni karena senang musik."
Sehun menatapnya sesaat dan mengangguk. "Terima kasih, Myeong. Bagus sekali. Selanjutnya!"
Sampai pada seorang namja berambut pirang yang duduk di tengah berdiri.
"Namaku Xi Luhan, Sehun Sunbae. Aku suka bernyanyi dan bisa bermain piano. Aku juga suka menari. Seharusnya aku masuk kuliah tiga tahun lalu. Namun, karena suatu hal, aku mengundurnya."
Sehun yang sedang mengamati absen bernama Xi Luhan segera mengangkat wajahnya saat namja bernama Xi Luhan itu memperkenalkan diri.
"Selanjutnya!" sahut Sehun dan kembali menatap absen.
Pemuda bernama Luhan itu menatapi Sehun tanpa berkedip. Semua junior di kelas itu juga agak bingung. Sehun bersikap dingin hanya pada pemuda bermarga Xi itu.
"Setelah istirahat, kita akan berkeliling universitas. Jadi jangan terlambat kembali ke kelas!"
Saat itulah bunyi bel. Para junior berhamburan dan junior-junior dari kelas lain berusaha mendekati Sehun.
"Bisakah kalian menjauhiku? Aku sedang sibuk dan tak ingin diganggu" kata Sehun dingin. Semua yeoja itu terdiam kaku. Kemudian Sehun beranjak pergi dengan cepat.
"Dingin sekali Sehun sunbae" komentar Luhan pada teman sebangkunya, Zitao.
Sehun yang melintasinya mendengarnya dan berhenti, dia melirik sekilas pemuda itu. Luhan tentu saja terkejut dan mengkeret. Namun dia bisa bernapas lega saat Sehun kembali melangkah.
Saat ini semua junior menatap antusias para senior mereka yang dari fakultas seni. Tak ada yang meragukan kemampuan mereka, serta pesonanya. Sehun memang terlihat kekanakan dengan rambut warna-warninya yang membuatnya menang kontes.
Tapi tak ada yang berani membantahnya. Tidak para junior.
"Nah, bagi kalian yang ingin jadi dokter, ini lab-nya" Sehun menunjukan dengan wajah datarnya. "Aku harap, bagi kalian yang ingin menjadi dokter. Kalian belajar bersungguh-sungguh agar bisa mengobati orang yang sekarat. Karena dengan begitu, kalian juga mengobati luka orang-orang yang menyayangi orang itu."
Beberapa orang paham maksud Sehun dan merasa bersimpati. Namun ada beberapa yang merasa bingung. Baro menepuk bahu Sehun beberapa kali.
"Sehunni!" seru seorang pemuda bertubuh mungil dan berwajah imut berlari. Dia menerjang Sehun dan memeluknya. "Sehun! Tumben sekali kau kemari! Kau merindukanku, yaa? Aku juga merindukanmu!"
Sehun menatapnya sekilas. "Ya, aku merindukanmu. Kau pergilah ke ruang praktek. Aku ingin mempraktekan sesuatu padamu."
Pemuda berpipi chubby itu terkesiap. "TIDAK!"
"Ya. Kau akan mati" balas Sehun membuat pemuda itu melarikan diri. Para junior terkejut bukan main dan beberapa yeoja langsung merasa patah hati.
"Ternyata Sehun sunbae itu Gay!" bisik salah satu junior.
"Ya! Ada yang ingin bertanya?" tanya Sehun saat Baro sedang mengecek isi lab. Namja dengan name tage Xi Luhan mengangkat tangannya.
"Saya! Sehun-ssi!" seru namja cantik itu. Beberapa yeoja melirik sinis kecantikannya.
"Tidak ada? Baiklah, kita lanjut saja kalau begitu," sahut Sehun tanpa melirik Luhan sama sekali. Mahasiswa baru lainnya saling pandang bingung dan Luhan menurunkan tangannya kecewa. Yeoja-yeoja yang sinis pada Luhan tadi juga saling pandang bingung. Beberapa yang lain mengerling Luhan kasihan.
Satu kesimpulan yang mereka dapat; Sehun sunbae membenci Xi Luhan.
Sahabat Luhan yang bermata panda, merangkul pundak sahabatnya dengan sedih. Namja cantik itu sendiri hanya tertunduk dan bingung. Dia merasa begitu tak mengerti. Ada apa dengan Sehun sunbae?
ΩΩΩ
To Be Continued
Author's Note :
Hahaha! Akhirnya sehun yang menderita sekarang. dia sudah GILA! HAHAHAHA! /plak/
mian-mian! update Ichie lama, yak? soalnya baru kelar ujian. dll. nah, ada lanjutannya kaaan?
keep review yaa! gak sad ending kok. soalnya ichie gak suka sad ending. wkwkwk!
annyeong, chingudeul! /kecup/geplaked/
