Oh Sehun

Xi Luhan

Romance & Angst/Hurt

Teen

Warning : Boys Love, Typo, Newbie Author, NO Genderswitch!

Don't Like? Don't Read!

Read and Review!

Enjoy!

Ichie Kurosaki presents

My Miracle

ΩΩΩ

"Baik, sampai berjumpa lagi besok! Annyeong!" seru Sehun dan Baro pada para junior di kelas. Sehun bergegas keluar kelas dan melangkah cepat.

"Sehun sunbae! Changkaman!" seru seseorang dengan suaranya yang merdu.

Sehun mempercepat langkahnya melewati halaman keluar dari koridor. Namun dia berhenti saat mendengar orang itu tersungkur dan mengaduh. Dia menghela napas kasar dan berbalik. Orang itu berusaha bangkit sambil meringis. Sehun dekati namja bernama Luhan itu dan merangkulnya untuk membantunya berdiri.

"Ah, kamsahamnida, Sehun sunbae!" ujarnya gembira. Namun dia terkejut saat Sehun ingin melengos begitu saja. Dia segera menahan tangan Sehun. "Changkaman sunbae!"

Ini berat untuk Sehun. Dia tak menyukai kenyataan ini. Dan sekali lagi mencoba menyangkalnya. Sama seperti kematian Kim Luhan yang dia sangkal. Kini dia juga menyangkal eksistensi Xi Luhan. Apa Takdir sedang menyiksanya?

Kalau begitu, Selamat! Dia berhasil dengan sukses! Sekarang, bagaimana kalau kau membunuhku saja? Sehun mengacak rambut Rainbownya kesal dan berbalik menghadap Luhan tajam.

"Eh? Ehm, begini sunbae, aku ingin bertanya padamu secara langsung. Maaf, kalau ini mengganggumu!" ujar Luhan gugup dan menggigiti bibir bawahnya. Saat itu juga di belakang pemuda berambut pirang itu ada Baekhyun dan Chanyeol yang menoleh padanya.

"Bisakah kau langsung ke inti, Xi Luhan?" tanya Sehun pelan namun membuat Luhan bergidik. Sehun hanya tak ingin sahabatnya yang lain tahu tentang Luhan baru ini. Tidak untuk saat ini, setidaknya.

"Ah, yayaya! Aku ingin tahu kenapa kau membenciku!?" seru namja cantik itu. Wajahnya putih merona dan matanya yang bulat kecil seperti mata rusa memandang Sehun polos. Ada sirat takut di sana. Entah apa yang dia takuti.

Sehun baru kali ini merasakan keberadaan jantungnya lagi. Sudah lima tahun jantungnya tak segugup dan sepanik ini. Baekhyun dan Chanyeol melangkah pelan ke arahnya. Dia beralih menatap tajam Luhan yang menatapnya menunggu.

"Aku akan jawab nanti. Nah, bagaimana kalau sekarang kau lari dari sini sebelum aku menghukummu lebih parah besok?"

"Eeeh!" Luhan terkejut dan panik. Dia jadi tak tahu harus bagaimana.

"Sekarang! Xi Luhan!" seru Sehun kesal. Karena Baekhyun dan Chanyeol tinggal beberapa meter lagi dari mereka. Luhan segera berlari panik kembali ke depan kelasnya tempat Tao menunggu. Dia menghela napas lega saat Baekhyun dan Chanyeol mendekatinya dengan bingung.

Sehun mengamati Luhan yang berhenti di hadapan Tao dengan napas memburu. Rambut pirang pemuda itu begitu berantakan dan jatuh dengan halus. Rambutnya berbeda dengan rambut coklat Luhannya. Ya, Luhannya yang sudah tiada berambut coklat gelap serta kulitnya terlalu pucat.

Luhan yang bukan miliknya sekarang ini berkulit putih langsat dan terlihat segar. Bahkan dapat berlari-lari serta terlihat lebih ceria. Dia sedang mengeluh pada Tao dan sesaat kemudian malah tertawa. Sehun jadi rindu pada Luhannya.

Luhan yang bukan miliknya ini terlihat begitu... Hidup...

"HOY! Sehun!" teriak Chanyeol di depan wajahnya. Membuat Sehun menatapnya tajam langsung.

"Apa, Chanyeol?' tanya Sehun dengan poker facenya.

"Kurang ajar kau! Panggil aku hyung!" Chanyeol ingin sekali menggeplak kepala Sehun dan itu yang dia lakukan. Sayangnya Sehun sudah menghindar.

"Sehun! Aku dengar dari Chanyeol, tunangan Jongdae datang dari Beijing beberapa hari lalu. Dan kita diundang ke acara lamaran mereka besok malam. Kau mau datang? Kau harus datang. Xiumin ingin sekali kau datang!" Baekhyun tersenyum dan matanya menyipit. Imut sekali wajahnya. Sehun malah mengacak rambutnya dan melengos pergi.

"Ya! Sehun! Kau harus datang! Acaranya di dekat rumahmu!" seru Chanyeol.

Sehun menghentikan langkahnya dan berbalik. "Kalau begitu jemput aku dan berkumpul di rumahku."

ΩΩΩ

"Bisakah kau benar-benar menjauhiku?"

Sepertinya namja Xi ini tak mengerti bahasa Korea. Lihat saja matanya yang membelalak dan tubuhnya yang menegang. "Wei shinme...?(Kenapa?)"

"Pardon?"

"Maksudku, kenapa Sehun sunbae? Apa aku melakukan kesalahan besar sehingga kau membenciku?" Sehun tak mau memanggilnya Luhan. Sebut saja dia namja Xi, bukan Luhannya.

Sehun ingin sekali menjawab bahwa luh-ehm!-namja Xi ini melakukan banyak sekali kesalahan. Secara logika, bukan salahnya, tapi salah takdir. Tapi Sehun tutup mata bukan secara harfiah, dan menganggap itu salah lu-ehm!-namja Xi ini.

Sehun ingin sekali membuat daftar salah namja Xi itu seperti daftar belanjaan. Nah, kita sebutkan saja. Pertama, namja Xi itu juga bernama Luhan seperti Luhannya. Kedua, Luhannya sudah meninggal meski bukan di depan matanya dan Sehun tak mengharapkan itu. Lalu namja Xi ini datang dengan wajah serupa Luhannya. Jadi dia bukan Luhannya. Ketiga, namja Xi ini mulai mengusiknya dan membuatnya kembali seperti Sehun lima tahun lalu.

Dan banyak sekali dari dalam diri namja Xi itu yang membuat Sehun sebal. Namun, juga menyebabkan Sehun merasa sangat amat menyedihkan. Dan Sehun yang sekarang atau pun Sehun dulu. Yang jelas saat tak ada Luhan, adalah namja yang tak banyak bicara.

"Tidak ada, Xi Luhan. Hanya keberadaanmu mengusikku" jawab Sehun akhirnya.

"Sunbae, itu menyakitiku" sahut Luhan dengan mata membelalak.

"Aku jujur, Xi Luhan" balas Sehun dan membuang muka. Dia malah mengingat saat Luhan memeluknya. Ini bukan saat yang tepat untuk mengenang memori! Mengenaskan!

'Aku mencintaimu.'

Sehun tahu dia tak jujur saat itu. Saat Luhan menyatakan cinta untuknya. Untuk Oh Sehun yang tak pantas. Bukan tak jujur sepenuhnya, hanya menyembunyikan. Betapa naifnya dia dulu. Sekarang dia malah kekanakan begini dengan menyakiti Luhan baru.

"Maaf, Xi Luhan" ujarnya dan membeku saat namja Xi itu menitikkan air mata. Dia jadi terbayang wajah Luhan. TIDAK! Dia tak mau melihat Luhan menangis! Maka dia peluk namja Xi itu dengan erat. "Uljima! Aku akan melakukan apa pun agar kau tak menangis."

"Benarkah, Sehuna?" suara Luhannya yang bagai melodi mengalun menyentuh telinganya yang merindukan suara itu.

"Tentu saja, Luhanni. Apa pun permintaanmu" Sehun merasa mengenal pelukan ini. Rasanya kembali ke lima tahun lalu. Ya, ini yang dia juga rindukan. Pelukan Luhan...

Sehun tersadar dan melepas pelukannya. Dia membekap mulutnya dan melengos pergi dengan hati mencelos. Apa yang dia lakukan!? Luhan sudah meninggal! Kata-kata racun pembunuh itu. Ternyata masih berlangsung. Karena kata-kata itu membakar dirinya.

"Tunggu! Sunbae!" seru Luhan berusaha mengejar dirinya. Namun Sehun sudah berlari meninggalkan namja Xi itu di belakang gedung fakultas seni.

Tidak! Ini pasti kamuflase atau dia berimajinasi! Dia berjalan cepat saat sudah di koridor kampus yang lalu lalang. Banyak yang menyapanya namun dia abaikan. Rambut warna-warninya yang seperti permen kapas membuat wajah dinginnya terlihat kontras. Sekarang, mengecat rambutnya seperti ini sungguh tak berguna.

Dulu, setahun lalu, saat dia merelakan Luhannya dan berjalan maju, dia mengecat rambutnya. Waktu itu dia akan mengikuti lomba menari dan semua berharap padanya. Berpikir rambut abu-abunya mempengaruhinya, dia cat rambutnya penuh warna. Berasumsi itu akan membuatnya lebih ceria.

Dia berpikir itu hal konyol sekarang. 'Aku terlalu kekanakan.' Dia terkejut saat seseorang tiba-tiba merangkulnya. "Ya! Sehun!"

"Ne, hitam. Apa?" sahutnya dengan datar. Dia hanya melirik namja seksi(menurut orang itu sendiri) yang merangkulnya itu. Sedangkan, kekasihnya hanya menatap keduanya polos.

"Kami akan datang ke rumahmu sore nanti. Anak-anak basket setuju untuk ke rumahmu terlebih dahulu. Kecuali yang memutuskan langsung ke rumah tunangan Jongdae hyung. Jadi, hanya aku dan Chanyeol hyung yang ke rumahmu dulu."

"Kenapa aku tak membunuhmu dari dulu?" Sehun melirik Jongin sinis.

"Karena kau mencintaiku" Jongin nyengir pada Sehun dan beralih merangkul Kyungsoo sambil membawanya lari menjauhi Sehun. Saat itulah Jongin tertawa.

ΩΩΩ

'Aku tak tahu apa itu cinta'
'Aku tak paham itu sakit dan kepedihan'
'Aku tak mengerti apa itu bahagia dan penderitaan'
'Lalu kau datang dan mengajariku semuanya'
'Kau ajari aku bagaimana mencintaimu'
'Dan kemudian kau pun pergi'
'Kau buat aku paham bagaimana itu sakitnya kau tinggalkan'
'Kau buat aku paham bagaimana pedihnya sendirian'
'Kau buat aku mengerti betapa bahagianya aku ada di sisimu'
'Kau buat aku mengerti bagaimana menderitanya hidup tanpamu'
'Tapi kau lupa mengajariku satu hal'
'Kau lupa mengajariku bagaimana melupakanmu'

Sehun

Sehun memandang kosong ke sekeliling kamarnya yang gelap. Lima tahun lalu, tepat beberapa bulan setelah Luhannya meninggal, bayangan itu muncul. Bayangan yang lebih tepatnya di sebut arwah. Tapi Sehun tak percaya itu sungguhan arwah Luhan.

'Sehuna!'

Sehun yang sedang melamun memikirkan Luhannya tersentak. Ada sosok Luhannya yang mengenakan baju yang sama seperti terakhir kali mereka berkencan. Sosok yang berupa butiran cahaya dan tembus pandang itu berdiri di tengah kamarnya.

'Sehuna! Ini Luhanni!'

Sehun yakin dia sudah gila. Namun kebutuhan hatinya lebih mendesak. Maka dia peluk sosok itu namun dia malah menembusnya dan memeluk udara kosong. Dia malah mendengar tawa kecil dari suara merdu Luhannya.

'Maaf, Sehuna. Aku tak bisa menyentuhmu lagi sekarang.'

Sehun tahu itu suara Luhan yang menahan tangis. Dia menoleh dan tersenyum kecil. Senyum spesial hanya Luhan yang bisa melihatnya, kecuali ibunya. Sosok Luhan yang terang sangat bersinar di tengah kamarnya yang gelap. Luhannya yang bagai morfin untuknya yang kecanduan akut.

"Tak apa, Luhanni. Ada kau di sini saja, itu sudah cukup!" Sehun mencoba menyentuh pipi Luhan pelan. Terlihat seolah dia benar-benar menyentuhnya namun tak terasa. Sehun takut Luhan menghilang, maka dia tak bicara macam-macam.

Selama empat tahun Sehun terus dibuntuti sosok Luhan. Sosok yang hanya muncul ketika dia sedang memikirkan Luhan atau melamun sendirian. Namun dia tak peduli kalau itu hanya ilusinya semata. Dia butuh Luhan selayaknya dia butuh oksigen untuk bernapas.

Namun, setahun lalu. Sejak dia memutuskan merelakan dan melupakan Luhan. Sosok itu menghilang. Tapi malah muncul Luhan baru sekarang. Itu yang lebih membuatnya frustasi. Seolah Luhan tak akan pernah hilang dari hidupnya.

"Sehun!" suara ibunya yang terdengar dari balik pintunya membuatnya terkejut.

"Ne, Eomma! Waegureyo? (Iya, Ibu. Kenapa?)" sahutnya dan bangkit berdiri. Dia nyalakan lampu kamarnya dan membuka pintu. Dia persilahkan ibunya masuk ke kamarnya yang sangat rapi. Namun ibunya malah terdiam di tengah ruangan.

Ibunya memang bersikap tak biasanya sejak dia pulang kuliah beberapa jam lalu. Seolah menyimpan sesuatu yang sangat berat.

"Eomma?" tanyanya. Dia terkejut sedikit saat Ibunya menoleh padanya.

"Sehunku! Anakku! Eomma merasa gagal jadi orangtua yang baik sejak lima tahun lalu. Saat kau hampir mati dan seperti mayat hidup selama empat tahun!" Sehun tak menyangka kalau ibunya akan membicarakan hal ini. Ini pembicaraan yang selalu ingin dia hindari. Tapi nampaknya tak selamanya dia bisa menghindar. Jadi, lebih baik dia selesaikan saja sekarang.

"Eomma! Itu bukan salah Eomma!"

"Dengar! Kau sudah lebih baik satu tahun ini. Namun Eomma tahu itu justru lebih buruk. Eomma lebih suka kau terbuka. Bukannya memendam semua! Eomma tahu kau berjuang keras. Dan tahukah kau Sehun, kesempatan kedua itu sulit didapatkan. Eomma harap kau bersikap benar."

Sehun tak tahu apa maksud Ibunya. Namun dia malah ingat Namja Xi. Sehun rasa itu tak pantas. Dan dia juga tak mau dekat-dekat dengan si Namja Xi itu. Dia masih mencintai Luhannya. Entah sampai kapan. Meski Luhannya sudah meninggal. Tidak! Si Namja Xi itu bukan kesempatan keduanya! ...

Benar... kan?

"Dan satu lagi Sehun. Apa kau masih mencintai Luhan? Jangan Naif Sehun. Kau harus percaya takdir dan menerima kenyataan. Jangan selalu menyangkalnya."

Sehun sudah besar. Dia tahu mana yang baik dan yang buruk. Dia bukan remaja labil yang dulu menolak Luhannya. Dia tahu dia menolak kenyataan. Lagi. Bahkan sekarang dia menepis Luhan baru atau Si Namja Xi.

Sehun bisa membuat daftar kenaifannya seperti dia membuat daftar belanjaan. Lagi. Tapi dia terlalu naif. Jadi dia berbuat curang saja. Dia tak membuat list itu.

"Nah, bersiaplah ke pesta rumah tetangga yang ternyata temanmu sendiri itu! Eomma akan turun menyiapkan minuman untuk teman-temanmu yang akan mampir" Ibunya memeluknya erat lalu mengecup dahinya dan mengacak rambut warna-warninya. "Eomma masih suka rambut permenmu. Kau seperti anak kecil yang lucu. Tapi Eomma juga selalu mendukung apa pun pilihanmu karena kau sudah dewasa. Asal itu membuatmu bahagia. Kau tahu yang terbaik untukmu."

Sehun mendengar pintu berdebam lembut. Dia masih terpaku di sana. Berdiri membeku memikirkan kata-kata Ibunya. Baik, sekarang, ada yang tahu perubahan apa saja yang terjadi pada dirinya akibat kedatangan si Namja Xi Luhan Baru?

ΩΩΩ

Sehun memasang wajah datarnya pada Chanyeol dan Kai yang merangkulnya. Keduanya saling tersenyum senang. Sedangkan Baekhyun dan Kyungsoo hanya acuh. Mereka menikmati cemilan dan minuman yang disiapkan ibu Sehun untuk mereka.

"Ya! Sehun! Kau harus menikmati pesta Chen hyung nanti. Di sana banyak Yeoja seksi dan namja cantik kalau kau mau" goda Kai yang tak peduli lirikan pedas Kyungsoo.

Sehun hanya memandang Kai bosan. "Tak tertarik."

"Hey, Baekhyun, apa kau mendapat e-mail dari Taozi dan Xiumin? Mereka bilang mereka pindah ke Korea sebulan lalu. Tao kuliah di sini. Aku tak mengerti kenapa. Bukankah Korea meninggalkan kenangan sedih untuknya karena Luhan, kakak kandungnya, meninggal di sini?" pertanyaan Kyungsoo pada Baekhyun membuat Sehun tersentak kaget.

"Entahlah, D.O. Dia juga bilang akan mengenalkan seseorang pada kita 'kan? Katanya dia ingin menemui kita. Dia ingin bertunangan dengan Kris, atau nama Chinanya, Wu Yifan, dia selalu menekankan itu, tapi ada yang dia tunggu."

"Iya, 'kan, Kris sudah mapan dan ingin menikah. Apa lagi beda umur mereka cukup jauh. Tapi lebih muda Luhan dari pada dia" Kyungsoo tersentak saat menyadari Sehun tertegun. Dia segera menyikut Baekhyun.

"Eeh, maaf Sehun" ujar Baekhyun.

"Tidak, tidak apa-apa!" kata Sehun dan meminum coklat hangatnya. "Jadi, kalian dekat dengan keluarga Lulu hyung?"

Kyungsoo dan Baekhyun jadi merasa tak enak hati. Namun mereka mengangguk. "Sebenarnya aku dan Kyungsoo ingin menceritakan lebih detail lagi ketika kami tahu tentang kematian Luhan. Namun menyadari kau begitu terpukul, bahkan hanya ketika kami menyinggung namanya, kami menyimpannya sampai saat yang tepat," jelas Baekhyun.

Kyungsoo mengangguk lucu, "Iya. Kami dekat dengan Luhan setelah kau jadian dengannya. Kami khawatir padanya, karena dia tak punya teman setelah dekat denganmu. Maka, kami berinisiatif mendekatinya. Kami tahu kau sibuk seperti Kai dan Chanyeol."

"Terima kasih" Sehun tersenyum tulus. "Kalian begitu perhatian padanya. Aku berhutang banyak."

"Tidak perlu!" Baekhyun mengibas tangannya gemas. "Kami mengajaknya bermain dan suatu hari. Saat pertandingan kalian, kami berniat menonton bertiga. Malamnya, kami ingin berbelanja untuk acara menonton kalian besoknya. Tapi Luhan begitu pucat dan kami pikir dia kedinginan. Maka kami membelikannya coklat hangat. Kalian tahu apa yang terjadi? Ini jadi phobia-ku sekarang."

Kyungsoo merasa cemas sekarang. Dia lihat wajah baekhyun memucat. "Baek! Hentikan!" dia rangkul Baekhyun erat. "Luhan muntah darah saat itu juga dan kami membawanya ke rumah sakit. Lalu seluruh keluarganya datang. Ayah ibunya, adiknya, Zi Tao, dan kakaknya, Xiumin. Xiumin adalah kekasih Chen hyung. Dan Zi Tao berpacaran dengan Dokter Kris, dokter spesialis Luhan."

"Chen hyung?" Sehun terkejut bukan main. Dia ingat cerita Chen hyung ketika dia kalah bertanding hari itu. Hari kekasih Chen hyung kembali ke Beijing karena saudaranya meninggal.

'Aku juga sedang sedih hari ini. Kekasihku baru saja kembali ke Beijing tadi pagi.'

'Dia kembali ke Beijing, karena saudaranya ada yang kritis. Awalnya mereka pindah ke sini dua bulan lalu karena berpikir akan mendapatkan perawatan terbaik. Namun karena makin parah, akhirnya saudaranya yang kritis itu dibawa lagi ke Beijing. Semalam dia hampir mati. Aku tak tahu dia masih hidup atau tidak. Namun, katanya jantungnya telah berhenti pagi ini.'

'Dia mengalami kerusakan hati. Itu karena kecelakaan yang pernah dia alami. Hatinya mengalami luka saat kecelakaan itu dan tak sembuh meski sudah dioperasi. Dia kembali ke Beijing karena mendapat donor hati. Namun sepertinya terlambat. Dia 'kan sudah meninggal.'

Sehun terdiam merasakan denyutan perih di hatinya. Luhannya masih ada di hatinya. Masih bersemayam dan menggerogoti dirinya seperti monster yang hibernasi. Dia pikir dia harus bunuh diri jika ingin lepas dari kenangan Luhan.

True love will never die even the person we loved had long gone.

"Tapi entah kenapa mereka kembali lagi ke Seoul. Nah, kenapa kita tak segera pergi ke pesta bahagia Chen hyung?" tanya Baekhyun dan menarik Sehun yang masih membeku untuk berdiri.

"Ahjumma! Kami pergi sekarang!" teriak Chanyeol sambil ikut menyeret Sehun untuk pergi. Ibu Sehun balas berteriak. Dan membiarkan anak-anak itu pergi ke komplek sebelah. Ke pesta Chen.

ΩΩΩ

Author's Note :

HAAAYYYYYY! lagi Update Kilat! /menurut Ichie sih/plak/

hayooo! yang mau nimpuk Ichie siapaaaaa!? malah jadi panjang yak? nah, ada yang mau kasih saran buat penulisan Ichie yang berantakan? /geplak/

selamat menikmati. BTW, maaf buat chapter sebelumnya yang Ichie lupa edit. Typo memang selalu terjadi. /gaplok/ Padahal Ichie pernah ngelakuin kesalahan yang sama. Emang Ichie bebal. jadi Junior aja udah bego gak ketulungan. pantes aja sih, kalau Junior Ichie di sekolah bilang... "Baru kali ini ada senior bego begitu."

SAKITNYA TUH DI SINIIIII! /soundtrack gagal/

Review chingu...! pleaseeee! buat apa pun. yang penting review. entah komentar pedes atau pujian/ngarep!/ Ivhie tahu kalau Ichie tuh, masih Newborn yang SOK bikin Multichap /tanpa niat dan persiapan/

mohon sabar buat yang nunggu Sequel dari Let My Flower Speak dan Black and White Roses. Oh, ya, semua belum terjawab di Chapter ini. silahkan menebak-nebak.

Mau ngasih tahu ajaaa...

Spoiler gagal : Sehun itu gak gila. Atau dia berhalusinasi. Dia itu emang liat Luhan. Tapi bukan wujud asli. Kalian percaya kalau itu adalah arwah Luhan? Makanya, bukan cuma Sehun yang menderita, tapi Luhan juga. Gimana rasanya? RASANYA ketika akhirnya eksistensinya itu akhirnya ditolak Sehun dan gak diakui keberadaannya? SAKITTTT! NYESEK! /=_="/pengalaman yak?/

Kok TAU!? /Inilah polosnya Ichie ketika gak bisa nyimpen rahasia/

Yaudah. cukup bacotnya. ANNYEONG READERDEUL! REVIEWWWWWWW!