Oh Sehun

Xi Luhan

Romance & Angst/Hurt

Teen

Warning : Boys Love, Typo, Newbie Author, NO Genderswitch!

Don't Like? Don't Read!

Read and Review!

Enjoy!

Ichie Kurosaki presents

My Miracle

Autumn Season, Seoul

Sehun tak pernah percaya pada firasat. Dia memiliki perasaan peka biasanya. Nah, biasanya dia tak suka pesta. Apalagi pesta pertunangan. Tapi, kali ini, dia memiliki perasaan bahwa dia hanya harus datang. Lagi pula, Chen itu pelatihnya dan dia merasa harus menghargai pelatihnya itu dengan datang ke pestanya.

Yah, seperti sekarang.

"KYAA! Xiumin hyung!" jeritan beberapa oktaf Baekhyun cukup membuat telinganya iritasi.

"KYAA! D.O! Baekki!" namun jeritan Xiumin membuatnya harus operasi telinga. Baik, itu berlebihan tapi jeritan Xiumin lebih parah dari Baekhyun. Itu satu hal yang menurut Sehun cocok dengan Chen hyung.

Ketiga namja imut dan lucu itu langsung saling berpelukan untuk melepas kerinduan mereka. Lalu muncul dua namja lain yang menghampiri mereka.

"OMONA! Baekki hyung! D.O hyung!" namja yang bermata panda juga ikut memeluk Baekhyun dan Kyungsoo. Sehun kenal namja itu, dia Zitao. Namun namja satunya, yang berambut pirang dan berkulit putih tertegun dan menatap Sehun.

Itu jenis tatapan yang sulit Sehun artikan. Namun Sehun merasa familiar dengan tatapan itu. Dia kenal tatapan itu namun tak mengerti artinya. Dia pernah melihat tatapan itu. Namun segera Sehun membuang tatapannya pada namja Xi itu. Ya, dia Xi Luhan. Bukan Kim Luhan.

Sehun kerap kali berharap kalau Luhannya kembali. Tapi itu tak mungkin. Dan sepertinya Baekhyun dan Kyungsoo sudah selesai dengan europhoria mereka bertemu Xiumin dan zitao. Karena keduanya membeku melihat Xi Luhan. Bahkan Chanyeol dan Kai.

"Ah, dia Xi Luhan. Dia murid ospek di kelasku" kataku memecahkan kebekuan. Keempat sahabatku itu memandangku terkejut. "Dan juga Zitao. Aku tidak tahu kalau kalian mengenalnya."

"Lu-Luhan!? Jinjja!" Baekhyun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Meski ada yang berbeda. Tapi dia persis Kim Luhan yang kita kenal 'kan?"

Sehun membuang mukanya. Dia merasa dadanya sesak dan matanya berkaca-kaca. "Aku permisi!" desisnya namun tahu kalau yang lain mendengarnya. Maka dia bergegas menuju toilet dan termangu menatap westafel.

Dia lihat ke cermin dan membayangkan Kim Luhan. Namja yang dia cintai. Namja yang dia rindukan dan kini rindu itu berpindah ke Xi Luhan. Itu salah, menurutnya. Kim Luhan yang berambut coklat caramel, bermata rusa, berpipi tirus dan berkulit terlalu pucat.

Dan dia menatap bayangannya sendiri. Tatapan yang dia tujukan ke cermin. OMONA! Itu tatapan Xi Luhan tadi padanya! Tatapan penuh rindu yang tertahan dan tatapan kepedihan juga cinta. Sehun yakin dia bukan orang bodoh.

Xi Luhan, yang bersahabat dengan Zitao. Tak mungkin ada dua nama sama dalam satu hubungan. Jangan-jangan, Xi Luhan juga Kim Luhan. Hanya saja, Xi Luhan lebih sehat dari Kim Luhan. Xi Luhan tidak mungkin Kim Luhan jika tidak menatapnya seperti tadi.

Maka Sehun cuci wajahnya dan mengacak-acak rambut permennya yang menjadi pusat perhatian. Dia merasa luar biasa gugup. Entah ada jiwa apa yang memasuki tubuhnya. Yang jelas kepedihan hatinya menguap entah kemana. Seolah dia tak pernah menderita selama lima tahun. Hanya karena membayangkan Kim Luhan adalah Xi Luhan.

Yang artinya belahan jiwanya, cinta matinya, hadir kembali.

ΩΩΩ

Sehun kembali dan memilih berdiri di belakang kerumunan. Dia tidak memutuskan kembali ke tempat teman-temannya berkumpul. Namun bukan berarti dia tidak penasaran dengan Xi Luhan. Ada alasan mengapa dia menghindari Xi Luhan.

Dia tidak ingin lebih dari hancur. Dia tidak ingin mengetahui kenyataan dan kemudian kembali ke masa kelamnya. Dia hanya takut tak bisa kembali. Sudah cukup satu Luhan. Dan dia tidak sanggup jika malah menghadapi kenyataan yang tak dia inginkan.

Dia memang pengecut dan dia tahu itu. Sama seperti sekarang. Bukannya mengejar dan mendekati Xi Luhan. Dia malah bersembunyi. Dia bukan hanya takut menyakiti diri sendiri. Namun dia juga takut jika melukai perasaan Luhan baru itu.

Jadi ini soal terluka. Bukan soal kebahagiaan menemukan yang baru. Semua pasti juga terkejut. Sehun kini lebih ke arah terguncang tepatnya. Bagaimana perasaanmu menemukan orang yang serupa dengan kekasihmu yang sudah meninggal? Sehun kini merasakannya dan dia merasa seperti naik Roller Coaster dan dibanting dari atas bersamaan. Kau tak bisa membayangkannya!

"Nihao! Oh Sehun" sapa seseorang dari sebelah Sehun. Di depan, para tamu heboh meneriakan 'Cium! Cium!' untuk Xiumin dan Chen. Sehun menoleh pada seseorang yang dia kenal baik suaranya. Karena itu suara yang dia rindukan selama lima tahun. Suara lembut yang sehalus dan selembut kapas.

Namja cantik dengan mata rusanya itu menatap Sehun. Ah, Sehun benar. Itu tatapan yang sama dengan tatapannya untuk Kim Luhan. Rambut pirang namja itu jatuh ke dahinya. Rambut pirang yang sama dengan rambut Sehun. Hanya tak ada warna-warni di depan dari rambutnya seperti rambut Sehun.

"Nihao, Xi Luhan" balas Sehun pelan. Dia tatap tajam mata rusa itu. Astaga! Itu mata Kim Luhan! Sehun mengalihkan tatapan kesekeliling dan tak ada yang memperhatikan mereka. Maka Sehun melangkah santai ke balkon rumah yang ada di belakangnya. Sehun suka tempat sepi dan sunyi. Itu membuatnya nyaman.

Sehun dengar langkah lembut lain di belakngnya. Rupanya Xi Luhan mengikutinya. Dia biarkan saja namja itu. Kini Sehun bersandar pada pagar balkon dan menemukan langit luas di atas kota Seoul yang gemerlap.

"Ah, Sehun. Ehm, boleh aku memanggilmu Sehun saja, sunbae?" tanya Luhan.

Sehun menoleh dan melihat mimik keragu-raguan pada namja itu. Tak mudah bukan, berkomunikasi dengan seseorang seperti Xi Luhan. Setelah semua apa yang terjadi pada hidup Sehun sebelumnya?

"Aku ingin memastikan sesuatu, Xi Luhan" jawab Sehun. Dia lihat jarak antara dia dan Xi Luhan yang mendekatinya. Luhan mendengar suara Sehun dan membuat ekspresi yang Sehun pahami. Ini benar-benar mengusiknya. Dan Sehun, seperti biasa, tak suka diusik.

Maka dia tarik tangan Luhan cepat, menahan belakang kepala pemuda itu, dan menempelkan bibir mereka. Dia lumat lembut bibir itu, berusaha mengenalinya. Dia menyukai bibir ini. Rasa manisnya, lembutnya, rapuhnya, dia kenal bibir ini.

Dia lepas pagutan bibirnya, tak memberikan kesempatan Xi Luhan merespon. Degupan jantung Sehun membuat Sehun takut sendiri. Dia tak menyangka...

Ini adalah Luhannya. Hanya Luhan. Kenangan-kenangan membuatnya merasa hancur.

"Luhan meninggal. Tadi pagi."

Dia tak pantas dengan kembalinya Luhan ini. Namun dia tak bisa jika harus kehilangan Luhan. Dan perasaan itu kembali lagi. Bagaimana mungkin ini Luhan!? Empat tahun dia berusaha meyakinkan diri jika Luhan sudah meninggal! Bagaimana mungkin dia kini hidup di depan matanya!?

Dan air mata itu mengalir dari mata Sehun. Di hadapan seorang Luhan. Dia saja tak bisa menerima kenyataan ada Luhan yang mirip Luhannya. Apa lagi kenyataan Luhan masih hidup! Dia benar-benar merasa dikoyak-koyak.

"Kau mempermainkan aku, Kim Luhan" kata Sehun penuh kepedihan. Dia tatap mata merah Luhan dengan mata merahnya. Kini keduanya seperti sedang bercermin.

"Aku tak mempermainkanmu, Oh Sehun. Ini takdir" sahut Luhan dan air matanya mengalir. Deras seperti Sehun.

"Bagaimana kau bisa membiarkan aku hidup hanya dengan separuh nyawa?" tuntut Sehun lagi dan meremas dadanya. Dia berada di awang-awang. Dia merasa separuh sadar.

"Tapi aku biarkan jiwaku tetap di sisimu. Bersama seluruh kepingan cintaku. Dan begitu kau mengembalikan semuanya. Aku kembali utuh hanya untukmu" balas Luhan dan meringis melihat Sehun menderita di depan matanya.

"Tidak!" sentak Sehun. Dia berdiri tegak dan memejamkan matanya erat. Pemuda tampan itu menggeleng-gelengkan kepalanya menolak kenyataan yang ada. "Ini semua ilusi! Aku mulai gila! Tidak! Aku tidak mau mempercayainya!"

"Sehunna! Ini aku Luhan! Aku Luhanni! Percayalah!" Luhan coba memeluk Sehun namun Sehun mendorongnya keras sambil tetap memejamkan mata.

"PERGI!" teriak Sehun keras. Dia meringkuk di sudut balkon yang gelap dan terdengar isakannya.

Luhan menangis pilu. Tidak dia perdulikan teman-temannya yang berhenti melangkah di pintu balkon. Tujuh orang itu membeku ketika menyadari situasi yang ada.

"Sehun!" Kai segera menghampiri Sehun yang meringkuk. "Sehun, ayo kita pulang! Sadarlah!" seru Kai dan membawa pemuda itu pergi dari sana.

Xiumin mendekati Luhan dan memeluk namja yang menangis pedih itu. "Semua akan baik-baik saja, Luhan."

"Maaf, Lulu hyung. Kami harus kembali ke rumah Sehun. Karena Ahjumma menitipkan Sehun pada kami."

Baekhyun memeluk Luhan sebentar dan pergi bersama Chanyeol dan Kai. Lalu Tao ikut memeluk Luhan erat ketika ketiganya telah lenyap dari pandangan.

"Harusnya aku tetap di Beijing! Sehun jadi gila ketika bertemu denganku lagi! Aku membawa pengaruh buruk padanya! Apa yang telah kulakukan!? Hks!" tangis Luhan menikam hati orang yang mendengarnya. Terlebih untuk Xiumin dan Tao.

"Tidak Luhan! Sehun hanya belum bisa menerima keadaan. Ini terlalu tiba-tiba untuknya" terang Xiumin tak ingin memupuskan Luhan.

"Tidak! Aku memang menghancurkannya! Karena aku, dia hidup selama empat tahun menjadi mayat hidup! Apa yang lebih buruk lagi? Dia jadi GILA!" jerit Luhan pada akhirnya.

"Tidak Luhan! Tidak!" Xiumin tak dapat menahannya lagi. Dia menangis juga akhirnya.

ΩΩΩ

Oh Yoona tak pernah menyangka anaknya akan jadi depresi seperti ini setelah kehadiran kembali seorang Xi Luhan. Ya, dia tadinya bernama Odelswack Nihana. Seorang gadis asal Jerman yang menikahi Oh Hyunsae. Tapi dia tak tahu jika suaminya akan meninggalkannya terlebih dahulu bersama anaknya ketika anaknya masih bayi.

Sehun tak tahu jika dia memiliki ayah kandung yang telah meninggal. Karena Yoona menikah lagi ketika Sehun masih berumur dua tahun. Sehun butuh ayah untuk pertumbuhannya. Tapi keputusan Yoona itu hanya membuat Sehun lebih menderita ketika dia bercerai dengan suami keduanya itu.

Sehun pikir Oh adalah marga aslinya. Yoona tak ingin Sehun lebih sedih lagi ketika tahu kalau ayah kandungnya telah meninggal. Yoona bukannya tanpa alasan lebih memilih tinggal di Korea dari pada memboyong Sehun ke Deutchland. Yoona tak akan membiarkan Sehun mengalami masa kejam seperti di Jerman di bawah naungan kakeknya.

Dan sekarang Yoona berpikir dia tak pernah bisa menghindarkan Sehun dari penderitaan apa pun. Sehun merasakan sakit yang dulu dia rasakan ketika Hyunsae pergi. Dan mengalami kontra batin antara ingin menyangkal dan trauma.

"Apa Ahjumma sudah mengetahui sesuatu?"

Yoona membeku. Rambut pirang platinanya, yang sama abu-abunya dengan rambut lama Sehun menutupi sebagian wajahnya saat dia memeluk Sehun yang meringkuk di sofa. Pertanyaan retosis dari Chanyeol membuat hatinya gelisah.

"Ahjumma tak terkejut sama sekali ketika aku menyebut nama Luhan. Ahjumma tak bertanya, Ahjumma juga sepertinya sudah tahu kalau Luhan masih hidup" lanjut Chanyeol membuat Yoona merasa seluruh tubuhnya melemas.

"Baekhyun, Kai, tolong bawa Sehun ke kamarnya" katanya dan melepas pelukannya pada Sehun.

"Aniya! (Tidak). Aku ingin tidur di kamar Eomma!" sahut Sehun dan baru beranjak berdiri ketika Yoona mengangguk padanya. Lalu Kai dan Baekhyun merangkulnya dan menaiki tangga ke lantai dua.

"Jadi, Ahjumma?" tanya Kyungsoo.

"Ayah Sehun adalah seorang diplomat, sebelum dia menjadi seorang arsitek di Korea" jawab Yoona membuat Chanyeol dan Kyungsoo mengernyit.

"Ahjumma, ayah Sehun bukannya seorang pengusaha?" Kyungsoo mengernyit bingung.

"Itu ayah tiri Sehun! Ayah kandung Sehun sudah meninggal ketika Sehun berumur satu tahun. Dia mati tertimpa beton". Yoona tertawa sinis. "Aku mengenal seorang sahabatnya yang juga seorang diplomat bernama Kim Joonmyeon yang memintanya mendesain rumah di daerah sini. Itu alasan kenapa aku dan Sehun pindah ke sini. Sebelum menikah dengan ayah tiri Sehun, aku dan Sehun tinggal di Chungnam. Lalu ke Busan, dan akhirnya kami ke Seoul.

Ayah Sehun tertarik memiliki satu rumah yang dia investasikan di Seoul. Makanya dia bangun rumah ini, dekat rumah Joonmyeon. Namun, Joonmyeon yang masih menjabat sebagai diplomat mendapat tugas ke Beijing. Makanya rumahnya kosong. Dan Joonmyeon adalah ayah dari Luhan."

Keadaan hening. Kyungsoo menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. "Dan Ahjumma membuat Sehun hidup dalam kebohongan!"

"Aku hanya tak ingin Sehun merasakan sakit yang kurasakan! Biar dia membenci ayah tirinya, asal bukan kesedihan ayah kandungnya mati! Sudah cukup aku merasakan sakitnya!"

"Tapi toh Sehun merasakannya juga! Lewat Luhan!" balas Kyungsoo menatapnya tak percaya.

"Dan apa yang terjadi? Dia hidup menderita selama empat tahun!"

"Dan Ahjumma yang membantunya bangkit setahun lalu" sahut Chanyeol. "Bukankah Ahjumma akhirnya membantunya menjadi kuat? Kalau Sehun bisa melewati itu, harusnya Ahjumma percaya kalau Sehun bisa menerima kematian ayah kandungnya. Dan menerima kenyataan kembalinya Luhan."

"Kalian tak paham bagaimana aku begitu mencintai Sehun" lirih Yoona dan menyisir rambut abu-abunya ke belakang. Rambut yang menegaskan jatidirinya sebagai orang Jerman.

"Tapi kami juga menyayangi Sehun, Ahjumma. Seperti Ahjumma juga menyayangi kami" Kyungsoo merangkul Yoona dan kemudian memeluknya.

ΩΩΩ

To Be Continue...

Author's Note :

WOOOOYYY! update kilat oooyyy! Ayooo! Review yang banyaaakkk! wkwkwk! kalian udah mau review dan kasih semangat aja Ichie udah seneng. Jadi semangat nulisnya! ^^ aahh~

Nah, sumpah tugas Ichie banyak banget! Jadi, kalian mau fluff? Atau romance yang menguras hati? Mau yang feel berasa banget? NAH!, Chapter depan adalah posisi Luhan atau Luhan Side story. Bakalan terungkap siapa Luhan baru ini. Kalau kalian baca Black and White Roses mungkin akan berpikir bagian atau cerita ini sama dengan verse lebih panjang. Tapi ini beda loooh~

Ini tentang perjuangan Luhan untuk membuat Sehun mencintainya dengan waktu kurang dari 70 hari. Uuuh~ Lulu sayang, kamu hebat dear! /peluk luhan/dijambak sehun/

Sabar aja, tunggu Chapter depan nee~~~!

Kiiip riviiiiiuuuwww! /teriak/tebar masako/nangis sambil motong bawang bombay/