Oh Sehun

Xi Luhan

Romance & Angst/Hurt

Teen

Warning : Boys Love, Typo, Newbie Author, NO Genderswitch!

Don't Like? Don't Read!

Read and Review!

Enjoy!

Ichie Kurosaki presents

My Miracle

Seoul University, Autumn Season

"Terima kasih, Myeong. Bagus sekali. Selanjutnya!" suara senior yang mengospek bernama Sehun terdengar.

Sampai pada seorang namja berambut pirang yang duduk di tengah berdiri.

"Namaku Xi Luhan, Sehun Sunbae. Aku suka bernyanyi dan bisa bermain piano. Aku juga suka menari. Seharusnya aku masuk kuliah tiga tahun lalu. Namun, karena suatu hal, aku mengundurnya."

Sehun yang sedang mengamati absen bernama Xi Luhan segera mengangkat wajahnya saat namja bernama Xi Luhan itu memperkenalkan diri.

"Selanjutnya!" sahut Sehun dan kembali menatap absen.

Namja bernama Xi Luhan itu duduk kembali. Dia menoleh pada teman sebangkunya. "Tao! Dia tak mengenalku?"

"Aku tak tahu Luhan-ge!" Kata Zitao, "Sehun selalu menantimu! Dia harusnya mengenalmu! Kau hanya berganti nama marga!" jawab Tao sambil berbisik. Dia lirik Sehun yang santai berdiri di depan didampingi Baro.

Semua murid tertawa saat ada hal lucu yang dilakukan atau disahuti Baro. Namun Sehun tetap berwajah datar.

Luhan terdiam dalam menatapi Sehun. Ternyata dia benar. Tak mungkin Sehun mencintainya dan menantinya. Buktinya dengan kehadirannya di sini, Sehun sama sekali tak merespon. Dia kemudian menghela napas. Lalu apa yang terjadi dengan mimpinya? Mimpinya akan Sehun ketika dia koma?

Flasback On

Luhan menatap kosong Sehun yang terdiam. Hatinya sakit melihat Sehun yang tak beranjak dari taman itu.

"Hyung, bunga ini untukmu" kata Sehun dan mencium bunga itu. "Marry christmas!" Dan air matanya mengalir perlahan.

' "Aku mohon, jangan kau titikan air mata!" '

Luhan dengan pandangan kosong, berjalan mendekati Sehun. Dia sentuh wajah Sehun. Tapi tangannya tak bisa merasakan apa pun. Kosong.

"Hyung, terimalah bunga ini untukmu!" Sehun menyodorkan bunga itu pada udara kosong. Luhan mencoba menggapainya. Tapi tangannya tak bisa menyentuh apa pun. Hanya udara kosong.

"Hyung, jebal!" Air mata Sehun mengalir deras. Dia mengisak.

Luhan coba menghapus air mata Sehun. "Semua ini akan berlalu dengan cepat" lirih Luhan dengan mata kosong. Tak ada kilauan lagi dimata itu.

Luhan dengan lemahnya jatuh di atas salju putih itu. Tak berasa dingin. Dia lihat kepadatannya berkurang.

Luhan dengan mata basah memeluk Sehun.

"Hyung, jeongmal saranghaeyo" lirih Sehun.

"Nado, jeongmal saranghae jeongmalyo!" Luhan menghiraukan tubuhnya yang mengerikan menguap.

Luhan menangis sejadi-jadi nya. Tetesan terakhir air matanya terjatuh dibahu Sehun.

"Ini sudah berakhir..." bisik Sehun. Seolah bisikan itu yang menarik jiwanya keluar dari raga. Membuat Luhan merasa dirinyalah malaikat kematian Sehun.

Dan angin menyadarkan Sehun yang akhirnya pergi dengan tatapan kosong. Dan Luhan akhirnya benar-benar lenyap terbawa angin dengan tatapan pedih mengarah pada punggung Sehun.

Lalu semuanya gelap untuk Luhan.

Ketika Luhan membuka matanya yang terasa berat, cahaya menyilaukan membuatnya kembali memejam. Lalu dia buka lagi matanya dengan pelan dan membiasakan diri.

"LUHAN! LUHAN BANGUN!"

Lalu Luhan mendengar suara-suara yang ribut. Sebenarnya apa yang terjadi? Lalu di mana Sehun? Dia harus bertemu Sehun dan menghentikan tangisannya. Tapi, kenapa dia tak bisa menggerakan tubuhnya?

Apa yang terjadi padanya?

Dia mencoba membuka matanya yang terasa berat. Tapi cahaya silau begitu menusuk matanya. Maka dia pejamkan kembali matanya.

"Omona! Luhan!"

Luhan kembali membuka matanya dan melihat keluarganya berkumpul. Aah! Dia pikir dia sudah mati. Apa dia selama ini bermimpi melihat Sehun?

"Ah! Akhirnya, setelah koma empat tahun akhirnya kau bangun Luhan!" ujar ayahnya dan memeluknya. Dia masih tertidur karena menggerakkan tangannya saja dia lemah.

Luhan ingin bicara, tapi suaranya tak keluar sama sekali. Yang keluar malah suara tak jelas.

"Agh! Akk!" dia merengut kesal karena seberusaha apa pun dia tak bisa berbicara.

Lalu keluarganya tertawa. "Sudahlah, Luhan. Kau harus ikut terapi pasca koma terlebih dahulu. Sekarang kau istirahatlah!" ujar Kris.

Luhan hanya menatapnya tajam dan mendesah pasrah.

Sudah beberapa bulan Luhan menjalani terapi pasca koma. Ya, dia koma setelah operasi hatinya. Dia kini sudah bisa hidup normal kembali dengan hati yang utuh. Luhan sudah hidup kembali. Namun dia merasa kurang. Manusia memang tak pernah puas.

Dia merindukan Sehun. Dia berharap akan segera bertemu Sehun setelah sadar. Dia ingat ketika terakhir kali Sehun menerima eksistensinya. Saat Sehun akhirnya sadar dari dunia tak nyatanya.

Malam itu setelah Sehun pulang, Luhan menunggu Sehun naik ke kamarnya. Dia dengar derap langkah pemuda itu dan kemudian Sehun menyalakan lampunya.

'Sehun, kau lama sekali!'

Sehun tak terkejut melihat Luhan yang berdiri di tengah ruangan. Dia menutup pintunya dan melangkah ke kasurnya. Lalu merebahkan dirinya. Luhan kemudian memeluk tubuhnya.

Keadaan hening yang nyaman dengan Luhan merasakan kehangatan tubuh Sehun. Sampai Sehun menanyakan hal yang Luhan takutkan. "Lu, apa kau benar-benar sudah meninggal?"

Luhan tak ingin menjawab. Karena dia takut Sehun akan menolaknya. 'Menurutmu? Kalau aku belum meninggal, lalu aku yang sekarang apa?

"Kau membunuhku secara perlahan, kau tahu?" tanya Sehun dan air mengalir dari sudut matanya. "Aku harus apa?! Katakan Lu!"

Luhan tak pernah berniat menyakiti Sehun. Yang dia lakukan hanya memenuhi keinginan Sehun dengan janjinya. Sehun tak ingin dia pergi maka dia tak bisa pergi. Luhan terlalu mencintai Sehun hingga jiwanya terikat. Sudah empat tahun dia mencoba menepati janji dengan tetap menunggu Sehun di taman pada malam natal. Namun Sehun tetap tak merelakan kepergiannya.

'Se-Sehuna! Hentikan! Kau juga akan membunuhku!' Luhan bangkit dan menatap Sehun kalut. Jika Sehun menampiknya begini, maka dia akan lenyap. Karena Sehun sudah tak menginginkan dia lagi.

Sehun bangkit dan menatap Luhan. Matanya melebar seolah menyadari sesuatu. Dan Luhan yakin itu pasti karena Luhan yang merasa makin melemah dan menggelap. "Aku sudah gila! Aku berbicara dengan orang yang sudah mati!"

Entah kenapa Luhan merasa dia harusnya tak ada. Harusnya dia bukan di sini. Sehun terlihat sangat tersiksa dan Luhan merasakan hal yang sama ketika melihat Sehun seperti itu. Sehun seolah berada di tengah api. Dia memegang wajahnya dan merasa tersiksa. Dia benar-benar merasa dibakar dengan mulut menganga kepanasan.

'Sehuna! Kau akan membuatku menghilang! Jangan menolak kehadiranku!' seru Luhan takut. Dia bukan takut menghilang. Dia takut meninggalkan Sehun yang dalam keadaan seperti itu.

Sehun terdiam. "Jadi, kalau aku merelakanmu pergi, kau juga akan menghilang?" dia tatap Luhan dengan nanar.

'YA! Kau pikir kenapa aku terus muncul? Itu karena kau! Kau pikir eksistensiku ini apa?' Luhan benar-benar panik sekarang. Apa yang Sehun pikirkan? Apa yang telah mempengaruhi Sehun?

"Kau bercanda!" Sehun membuang wajahnya. Luhan yakin Sehun menyembunyikan banyak hal padanya. Karena Sehun terlihat seolah membawa beban dunia di pundaknya.

'Sehun, aku mulai lelah sekarang. Aku pikir itu karena keyakinanmu yang mulai goyah. Kau harus tahu, aku sangat mencintaimu.' Luhan merasa menggelap dan seolah tubuhnya dapat lenyap kapan saja. Dia merasa seperti butiran debu di pinggir jendela.

"Aku juga mencintaimu!" adalah suara terakhir yang Luhan dengar dan wajah Sehun yang menatapnya dengan mata membesar. Lalu Luhan merasa tersedot dan berada di kegelapan. Namun tak lama karena dia muncul lagi di ruangan yang sama. Dan menemukan Sehun yang tidur sambil menitikan air mata.

Tubuhnya yang sedang koma pasti merasa lelah namun masih bertahan. Luhan merasakannya. Tubuhnya yang mencoba terus bangun namun karena dia yang berkelana membuatnya lelah.

Luhan selalu mengingatnya. Kalimat Sehun yang selalu dia impikan. Luhan pikir berkelana dalam mimpi selama empat tahun dia koma begitu terasa nyata. Namun banyak yang dia lupakan. Karena semua terasa hanya seperti kilasan mimpi, yang pastinya akan dia lupakan ketika dia bangun.

Namun Luhan tak dapat melupakan yang satu itu. Apa itu benar hanya mimpi? Tapi terasa begitu nyata. Luhan ingin membuktikannya. Maka dia harus terus berusaha dalam terapinya jika ingin segera bertemu Sehun di Korea.

Meski sudah lima bulan. Luhan hanya mendpati dirinya baru bisa berdiri dan berjalan dua langkah. Dia mengutuki dirinya yang begitu lemah.

"Kenapa aku tak bisa berjalan dengan benar juga!?"

Luhan berjongkok karena merasa frustasi. Keluarganya menatapnya sedih. Apa lagi tongkatnya yang dia lempar begitu saja.

"Kau sudah menyerah?" tanya Kris. Dia membuat Tao menatap mereka berdua panik.

"Astaga, Kris mulai lagi!"

Terdengar suara tawa Luhan yang sinis. "Menyerah? Hah! Tak ada kata menyerah dalam hidupku. Aku tak pernah dibiarkan menyerah oleh takdir. Bahkan ketika ingin menyerah untuk Sehun saja. Aku langsung mati!"

"Luhan! Jangan bicara begitu, nak! Kau tak mati!" tegur Yixing.

Luhan mendengus sinis dan berdiri. Dia mencoba melangkah namun baru selangkah dia langsung terjatuh karena tak bisa menahan berdiri dengan kakinya. Dia merasa sangat kesal. Benar-benar kesal hingga tak mempedulikan rasa sakit akibat terjatuh. Dia merasa begitu lemah. Ini sama saja ketika dia masih ingin hidup namun dibayangi kematian karena sakitnya.

"Luhan! Kau baik-baik saja?" tanya Xiumin cemas. Dia menghampiri Luhan dan membantunya bangun. Berpikir kaki Luhan masih belum berfungsi dengan baik.

"Suara jatuhmu keras sekali?" ujar Zitao cemas. Kali-kali menurutnya jatuh dapat membuat patah tulang tubuhmu.

"Apa pantatmu perlu dioperasi?" tanya Kris yang diam saja memperhatikan Luhan. "Baik, cukup untuk hari ini terapimu. Kita lanjutkan minggu depan. Kau tahu pasienku mengantri, Luhan. Kujamin pangeran Sehun-mu masih sabar menunggu jika tak ingin putrinya cacat."

Semuanya tak memperdulikan ucapan Kris kecuali Luhan yang terdiam. Namun detik berikutnya Luhan hanya mendengus ketika Kris beranjak pergi begitu saja. Dasar dokter menyebalkan!

Flashback Off

May, Spring Season

Rumah besar minimalis yang megah itu terlihat nyaman. Dan keluarga Luhan menikmati itu. Xi Suho membantu istrinya Xi Lay mengangkut barang bawaan mereka. Setelah beberapa jam dan sore menjelang, semua duduk di ruang keluarga.

Ada Xi Taozi, dan Xi Xiumin serta Xi Luhan. Juga orang tua mereka.

"Jadi, kita akan mulai beraktivitas besok sebagai keluarga Xi. Marga keluarga baru kita. Taozi dan Luhan akan kuliah dua bulan lagi, okay! Jadi, setelah makan malam semua tidur. Ayah akan mulai kerja senin depan," kata Suho. Dia bersandar pada sofa mewah berwarna coklat cream dengan Lay yang menaruh kepalanya di dada Suho.

"Aku sudah mengundang Chen besok agar mampir ke rumah kita. Dia berpikir aku sedang mengelabuinya". Xiumin memiringkan kepalanya sedikit ke arah kanan di sebelah Taozi dan Luhan duduk di sofa tunggal. Luhan hanya meliriknya sambil meminum sirup di gelasnya yang dingin. "Sejujurnya aku ingin sekali mengerjainya."

"Jangan Min! Dia itu pacarmu sendiri, bagaimana mungkin kau bisa berpikiran begitu?" tegur Lay. "Lebih baik besok kalian membantu Mama membuat kue. Karena banyak sekali tetangga lama kita yang tak tahu kalau kita kembali pindah ke Korea. Terutama keluarga Oh" saat itulah tatapan Lay mengarah ke Luhan yang tersedak.

"Oh, keluarga yang penting. Bahkan lebih penting dari keluarga Kim Jongdae!" sembur Taozi yang memutar matanya. Dia mendelik pada Luhan, "Jangan harap! Aku tak tahu di mana rumah itu dan tidak akan mau ke sana. Jika kau belum resmi menjadi kekasih kedua Oh Sehun, karena yang pertama itu dirimu yang lama, Luhan-gege".

"Berhentilah bermain Hide and Seek, Xi Luhan!" ujar Suho. Dia bangkit bersama Lay menuju kamar mereka setelah mengucapkan selamat tidur.

Esoknya keluarga Xi benar-benar sibuk menyiapkan makan siang untuk keluarga besar Kim dan memasak banyak makanan. Jangan lupakan beberapa loyang kue coklat dan kue keju, serta kue beras korea yang terkenal. Halmoni Kim yang mengajarkan cara membuatnya pada Lay yang memang senang memasak.

Suho hanya datang sebentar ke kantor kedutaan Republik Rakyat China di Seoul untuk memastikan kembalinya dia di Seoul dan mengabsen. Jadi dia sudah pulang jam 11 siang sebelum seluruh keluarganya datang setelah berangkat jam 8 pagi hari ini. Dia sudah rindu seluruh keluarganya setelah empat tahun dia tak bisa kembali ke Korea.

Kini seluruh keluarga Kim tahu kalau penyakit Luhan sudah sembuh dan tak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Perlu dicatat, mereka belum sempat dikabarkan soal kematian Luhan yang tak jadi itu.

Setelah seluruh keluarganya pulang pada pukul 5 sore dan rumah berantakan, Luhan, Xiumin dan Taozi mendapat tugas mengantarkan piring penuh kue ke beberapa tetangga. Nah, Xiumin dan Taozi sudah sepakat. Bahwa, sebagai calon menantu yang baik, Luhan harus mengantarkan satu piring yang paling spesial dari Lay untuk Oh Yoona.

Kini di sinilah Luhan berdiri. Di depan pintu rumah keluarga Oh. Hanya dengan kemeja tipis berwarna putih dan celana kain putih, Luhan terlihat seperti malaikat jatuh. Jatuh dalam artian berantakan dan rambut pirang putihnya begitu acak-acakan.

Luhan sama sekali tidak ingin berpenampilan seberantakan ini di depan Eomma Yoon, begitu dulu dia memanggilnya. Kalau saja dia di beri kesempatan sebentar saja memperbaiki penampilannya sebelum mengantar kue. Dia yakin dia akan sedikit lebih pantas bertemu Eomma Yoon yang begitu memperhatikan penampilan Sehun.

Haah...

Hanya dengan mengingat nama Sehun, jangtung Luhan langsung terpacu adrenalin. Dulu, ketika dia masih menjalani terapi, betapa ia tidak sabar untuk sembuh dan bertemu Sehun. Namun kini, dia berharap menjalani terapi lagi agar mengulur waktu bertemu Sehun.

"Eh, ehmm, loh, kau siapa?" suara merdu seorang wanita membuat Luhan berbalik ke belakangnya dan menemukan seorang wanita berambut abu-abu yang wajahnya berubah pucat setelah melihatnya.

"Ah! Annyeong, Ahjumma. Saya dari block sebelah, baru pindah dan berniat memberi ini untuk keluarga anda. Ini dari ibuku" kata Luhan dan tersenyum begitu manis.

Wajah Yoona yang cantik dan berwajah barat kehilangan warnanya. Dia menutup mulutnya dan membuat kantung belanjaannya terjatuh namun tetap terbungkus tanpa berserakan. "Siapa Kau?"

"Ah, saya dari keluarga Xi. Kami baru saja pindah dari Beijing kemarin" Luhan tetap tersenyum. Dia menyodorkan kotak kuenya.

Yoona menatapi kotak itu beberapa saat dan mengambilnya. "Ah, terima kasih. Saya Oh Yoona. Kau bisa kembali ke sini lagi untuk mampir. Jadi, siapa nama lengkapmu? Namja Beijing." Yoona tersenyum dan menatap Luhan.

"Saya Xi Luhan."

Brak!

Kotak kue itu terjatuh bersama piring kaca di dalamnya dan wajah Yoona yang ingin pingsan. Luhan hanya dapat menangkap tubuh Yoona yang hampir limbung.

"Anda tidak apa-apa, Nyonya Oh?" tanya Luhan cemas. Lalu dia membantu Yoona memasuki rumah sederhana menyenangkan keluarga Oh. Dia dudukkan wanita paruh baya itu ke sofa ruang tamu dan melangkah ke dapur yang dia hapal letaknya. Dia juga hapal letak-letak barang di rumah itu dan memberikan segelas air hangat untuk Yoona.

Yoona menerimanya dan meminumnya sementara Luhan mengambil barang-barang di luar. Beberapa saat Yoona memperhatikan Luhan yang menaruh barang-barang itu di meja dapur sampai namja itu kembali duduk di sebelahnya.

"Kau tahu, Xi Luhan?" Yoona menatapnya. "Aku dulu mempunyai calon menantu untuk Sehun, anakku. Lalu Sehun mempunyai pacar. Awalnya aku bingung, ingin merestui pacar Sehun yang sesama namja atau memaksanya menikah dengan calon yang kusiapkan untuknya."

Luhan merasa jantungnya terjatuh. Kalau pun dia gelisah, dia tidak menunjukannya. Maka dia hanya mengangguk paham pada Yoona dan menunggu lanjutan ceritanya.

"Pacar Sehun ternyata jauh lebih cantik dari calonku sehingga aku menyerah. Kita semua tak tahu apa yang Tuhan sembunyikan untuk kita. Sampai aku tahu Sehun begitu mencintai pacarnya."

"Maaf, Nyonya Oh. Kenapa anda bercerita pada saya?" potong Luhan. Sejujurnya dia tidak mau tahu kelanjutan ceritanya karena tahu bagaimana akhirnya. Karena dia yang menjadi tokoh utama di cerita tragis itu. Dia yang membuat akhir ceritanya. Dia yang menghentikannya.

"Dengar!" Yoona mencengkram pelan lengan Luhan yang ingin beranjak. "Menurutmu apa yang terjadi selanjutnya?"

Dipandangi seperti itu oleh Yoona membuat Luhan seperti dihakimi. "Pacar Sehun mati?"

"Tepat sekali, Luhan" Yoona menyipitkan pandangannya. "Sehun baru kali itu mengenalkan kekasihnya padaku. Dan aku begitu menyayangi namja itu yang menemaniku ketika Sehun begitu sibuk. Dia bahkan hapal seluruh rumah ini. Meskipun umur pacaran mereka hanya dua bulan.

Sampai akhirnya dia mati dan membuat kami gila," Yoona tertawa sinis dan mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. Dia tatapi mata kelam Luhan dengan intens membuat Luhan ketakutan. "Jadi, bagaimana mungkin kau mengetahui gelasku yang khusus?"

Luhan tahu, dia tak bisa lari lagi.

To Be Continued...

Author's Note :

Annyeong chingu deul! Ichie comeback!

Mungkin kabar yang beredar gak mengenakan buat kalian. Dengar chingu! Hanya karena Luhan keluar dari EXO, bukan berarti HunHan Shipper bakalan lenyap. Ichie akan tetap publish FF HunHan yang lainnya walau pun Kris dan Luhan udah keluar dari EXO. Karena Ichie adalah HUNHAN SHIPPER FOREVER! /nabrak pintu/

Dan Maaf Ichie gak bisa bales semua Review kalian satu-satu. Tapi akan Ichie usahain balesin semua Review kalian meskipun itu udah kadaluarsa menurut kalian. Tapi sungguh! Jeongmal Gomapta buat yang udah Review. Itu adalah bayaran yang tak ternilai buat kerja keras Ichie buat FF ini dan FF yang lainnya.

Mungkin Chapter ini rada pendek. Tapi Chapter depan bakal Ichie panjangin dan ada Fluff yang menjurus ke Rate semi M gitu. nah, kalo gak mau baca bakal ada pembatas gitu jadi kalian langsung berhenti baca dan lanjut chapter berikutnya/kalo udah di publish/GEPLAK?/

So, REVIEEEWWWW! /nodong piso/keselek pispot/peyuk chingu/