Oh Sehun
Xi Luhan
Romance & Angst/Hurt
Teen
Warning : Boys Love, Typo, Newbie Author, NO Genderswitch!
Don't Like? Don't Read!
Read and Review!
Enjoy!
Ichie Kurosaki presents
My Miracle
Seoul University, Autumn Season
Saat bunyi bel. Para junior berhamburan dan junior-junior dari kelas lain berusaha mendekati Sehun. Luhan yang ada di depan kelas bersama Zitao memperhatikan kerumunan yeoja yang mengelilingi Sehun. Sejujurnya Luhan bingung bagaimana berhadapan dengan Sehun. Apalagi sekarang Sehun jauh lebih dingin dan sulit dijangkau dibanding dengan saat masa SMA dulu.
Ditambah lagi dengan mereka tahunya kalau Luhan itu...
Sudah meninggal.
Bagaimana perasaanmu saat orang-orang tahunya kau sudah meninggal. Dan Luhan yang sebenarnya juga meyakini itu sejak muntah darah ketika bersama Baekhyun dan Kyungsoo hanya bisa menerima. Karena nyatanya dia juga berpikir dirinya yang dulu sudah meninggal dan kini dia lahir kembali sebagai Luhan baru.
Bukan tanpa alasan dia bernama Xi Luhan. Bukan Kim Luhan. Ayahnya, Kim Joonmyeon yang orang Korea, bukan orang Korea lagi ketika dia koma. Makanya namanya berganti menjadi Xi Suho. Sehingga mau tak mau dia dan ibunya ikut berganti nama. Ini permainan Takdir untuk Luhan.
"Bisakah kalian menjauhiku? Aku sedang sibuk dan tak ingin diganggu" kata Sehun dingin. Semua yeoja itu terdiam kaku. Kemudian Sehun beranjak pergi dengan cepat.
"Dingin sekali Sehun sunbae" komentar Luhan pada Zitao. Dia bermaksud memberi tahu Zitao yang ada. Maksudnya, dulu Sehun memang dingin. Tapi tidak sampai sedingin ini. Bahkan tak pernah dingin sedikit pun padanya.
Sehun yang melintasinya mendengarnya dan berhenti, dia melirik sekilas pada Luhan. Luhan tentu saja terkejut dan mengkeret. Namun dia bisa bernapas lega saat Sehun kembali melangkah.
Luhan tak menyangka Sehun akan mendengarnya. Namun bukan takut sebenarnya. Kini Luhan malah bingung. Juga... sedih. Sehun sama sekali tak seperti yang terakhir kali dia ketahui. Sehun yang sedih dulu itu tak ada. Seolah itu memang hanya mimpi Luhan. Sehun sama sekali tak terlihat sedih. Bahkan sepertinya Sehun sudah lupa padanya.
Pada kekasih yang tak sempat dia putuskan karena keburu mati terlebih dahulu...
Cih! Luhan ingin sekali menangisi hidup Kim Luhan jika saja Kim Luhan itu bukan dirinya sendiri. Ralat. Luhan malah ingin menertawakannya. Ha. Ha!
Kini Luhan mengikuti Tour keliling kampus yang dilakukan oleh para senior mereka. Luhan senang sekali bisa kuliah. Ini adalah tahun pertamanya. Sedih rasanya tertinggal jauh dari Sehun. Namun Luhan akan berusaha mengejar Sehun yang sekarang. Dia adalah Luhan baru. Maka dia akan mendekati Sehun dari awal lagi. Karena kekasih Sehun sudah mati. Kim Luhan sudah mati dan yang ada hanya Xi Luhan.
"Nah, bagi kalian yang ingin jadi dokter, ini lab-nya" Sehun menunjukan dengan wajah datarnya. "Aku harap, bagi kalian yang ingin menjadi dokter. Kalian belajar bersungguh-sungguh agar bisa mengobati orang yang sekarat. Karena dengan begitu, kalian juga mengobati luka orang-orang yang menyayangi orang itu."
Luhan tertegun. Beberapa orang paham maksud Sehun dan merasa bersimpati. Namun ada beberapa yang merasa bingung. Baro menepuk bahu Sehun beberapa kali. Luhan tahu sekali apa maksud Sehun. Dia membicarakan mantan kekasih Sehun. Kim Luhan yang telah mati.
"Sehunni!" seru seorang pemuda bertubuh mungil dan berwajah imut berlari. Dia menerjang Sehun dan memeluknya. "Sehun! Tumben sekali kau kemari! Kau merindukanku, yaa? Aku juga merindukanmu!"
Luhan terkejut dan merasa curiga. Apa Sehun sudah punya kekasih?
Sehun menatapnya sekilas. "Ya, aku merindukanmu. Kau pergilah ke ruang praktek. Aku ingin mempraktekan sesuatu padamu."
Pemuda berpipi chubby itu terkesiap. "TIDAK!" Tepat saat itu Luhan melihat Sehun menepuk bokong namja Chubby itu.
"Ya. Kau akan mati" balas Sehun membuat pemuda itu melarikan diri. Para junior terkejut bukan main dan beberapa yeoja langsung merasa patah hati. Luhan ingin sekali tertawa, namun dia tahan.
"Ternyata Sehun sunbae itu Gay!" bisik salah satu junior. Luhan merasa ingin terbang ke langit karena itu artinya dia memiliki peluang bagus dan unggul banyak.
"Ya! Ada yang ingin bertanya?" tanya Sehun saat Baro sedang mengecek isi lab. Luhan mengangkat tangannya. Dia ingin sekali menarik perhatian Sehun. Dia juga ingin tahu apakah laboratorium itu juga merupakan rumah sakit.
"Saya! Sehun-ssi!" seru namja cantik itu. Beberapa yeoja melirik sinis kecantikannya. Namun Luhan tak perduli karena pernah merasakan yang lebih keji di Beijing dari pada hanya sekedar lirikan.
"Tidak ada? Baiklah, kita lanjut saja kalau begitu," sahut Sehun tanpa melirik Luhan sama sekali. Mahasiswa baru lainnya saling pandang bingung dan Luhan menurunkan tangannya kecewa. Yeoja-yeoja yang sinis pada Luhan tadi juga saling pandang bingung. Beberapa yang lain mengerling Luhan kasihan.
Satu kesimpulan yang mereka dan Luhan sendiri dapat; Sehun sunbae membenci Xi Luhan.
Luhan yang awalnya yakin dengan perhitungannya kini harus menghitung ulang. Ternyata dia memang tak pernah bisa menebak isi otak Sehun. Sehun yang dia kejar dalam mimpinya dengan yang di sini, ternyata dia tak mengenalnya. Sehun tetap misterius dan hanya bagai angan.
Zitao merangkul pundaknya dengan sedih. Namja cantik itu sendiri hanya tertunduk dan bingung. Dia merasa begitu tak mengerti. Ada apa dengan Sehun?
ΩΩΩ
"Bisakah kau benar-benar menjauhiku?"
Bukan itu kata-kata dari Sehun yang ingin Luhan dengar untuknya. Dari beribu-ribu pernyataan yang ada di dunia. Sehun memilih kalimat permintaan itu. Luhan yakin matanya yang membelalak dan tubuhnya yang menegang. "Wei shinme...?(Kenapa?)" bisiknya tanpa sadar.
Hanya pertanyaan itu yang bisa dia keluarkan di antara banyaknya pertanyaan yang berkecamuk di otaknya.
"Pardon? (Maaf)" tanya Sehun dan menyadarkan Luhan jika dia menggunakan bahasa mandarin.
"Maksudku, kenapa Sehun sunbae? Apa aku melakukan kesalahan besar sehingga kau membenciku?"
"Tidak ada, Xi Luhan. Hanya keberadaanmu mengusikku" jawab Sehun akhirnya.
"Sunbae, itu menyakitiku" sahut Luhan dengan mata membelalak. Dia merasa tak melakukan apa pun pada Sehun. Tapi keberadaannya sudah ditolak duluan. Dia kalah sebelum memulai.
"Aku jujur, Xi Luhan" balas Sehun dan membuang muka. Luhan baru kali ini merasakan kehidupan hati barunya yang berdenyut-denyut. Hati yang mencoba bertahan di tubuhnya dan membuatnya koma empat tahun. Hatinya yang tertoreh.
"Maaf, Xi Luhan" ujarnya dan melirik pada Luhan sekilas dan terkejut. Luhan pikir dia berlebihan karena menangis untuk pertama kalinya setelah bangun dari ambang kematian. Tapi rasa sakit karena perjuangannya sampai sini itu sia-sia. Hal itu benar-benar menyakiti Luhan. Dan Luhan terkejut saat Sehun memeluknya begitu erat. "Uljima! Aku akan melakukan apa pun agar kau tak menangis."
"Benarkah, Sehuna?" tanya Luhan yang begitu terkejut dan teringat saat Sehun memeluknya dulu. Dia begitu merindukan pelukan ini serta suara Sehun yang begitu lembut. Membawanya pada kenangan dulu, ketika mereka masih bersama.
"Tentu saja, Luhanni. Apa pun permintaanmu" Luhan merasa mengenal pelukan ini. Rasanya kembali ke lima tahun lalu. Ya, ini yang dia sangat rindukan. Pelukan Sehun yang hangat...
Luhan tersadar saat Sehun melepas pelukannya. Sehun membekap mulutnya dan melengos pergi membuat hatinya mencelos mencelos untuk pertama kalinya. Tidak! Luhan ingin pelukan itu kembali. Dia tak ingin kehilangan Sehun lagi!
"Tunggu! Sunbae!" seru Luhan berusaha mengejar diri Sehun. Namun Sehun sudah berlari meninggalkan Luhan di belakang gedung fakultas seni. Membuat Luhan berhenti melangkah karena merasa sia-sia saja. Air mata yang dia tahan berhasil lolos dari pertahanannya.
"Ayolah Xi Luhan! Masa kau kalah melawan Kim Luhan yang sekarat? Kim Luhan saja mampu menjadi kekasih Sehun hanya dengan waktu tak sampai 70 hari. Lalu, bagaimana denganmu yang sehat dan tak dikejar kematian?"
Luhan menggelengkan kepalanya pelan. Merasa miris pada dirinya sendiri. "Ini tak adil! Permulaanku tidak semulus yang dijalani Kim Luhan. Dan Sehun tidak membenci Kim Luhan seperti yang Sehun lakukan padaku. Juga, aku adalah ampas yang Kim Luhan sisakan."
ΩΩΩ
Balkon dari rumah mewah itu adalah bagian yang paling Luhan sukai. Baik siang atau pun malam, suasananya selalu menenangkan. Balkon ini menghadap ke halaman belakang rumah Luhan. Ada pohon setinggi pagar balkon itu di sisi kanan dan kirinya. Juga langsung menghadap ke timur.
Helaan napasnya terdengar begitu berat. Malam yang begitu dingin ini mengingatkannya akan malam kemarin. Tepat saat akhirnya Sehun tahu jika dia masih hidup.
"Kau mempermainkan aku, Kim Luhan" kata Sehun menatapnya penuh kepedihan. Mata Sehun yang memerah meyakinkan Luhan jika matanya sendiri memerah. Kini dia merasa jika mereka seperti sedang bercermin.
"Aku tak mempermainkanmu, Oh Sehun. Ini takdir" sahut Luhan dan air matanya mengalir. Deras seperti Sehun yang mengalirkan air mata. Luhan menangisi dirinya sendiri yang ditangisi Sehun. Seberapa hancur Sehun akibat dia dan berapa kali lipat kehancurannya berkat hancurnya Sehun?
"Bagaimana kau bisa membiarkan aku hidup hanya dengan separuh nyawa?" tuntut Sehun lagi dan meremas dadanya. Membuat Luhan dapat melihat jika Sehun menatapnya kosong dan tak sadar. Sehun benar-benar seperti kehilangan jiwanya. Ini adalah yang terburuk untuk Luhan. Jika dia boleh memilih, dia lebih baik mati saja dari pada harus melihat Sehun begitu hancur tanpanya.
"Tapi aku biarkan jiwaku tetap di sisimu. Bersama seluruh kepingan cintaku. Dan begitu kau mengembalikan semuanya. Aku kembali utuh hanya untukmu" balas Luhan dan meringis melihat Sehun menderita di depan matanya. Dia ingin sekali menenangkan Sehun jika dia masih di sini dan Sehun tak perlu takut.
Jiwa Luhan adalah jiwa Sehun.
"Tidak!" sentak Sehun. Dia berdiri tegak dan memejamkan matanya erat. Pemuda tampan itu menggeleng-gelengkan kepalanya menolak kenyataan yang ada. "Ini semua ilusi! Aku mulai gila! Tidak! Aku tidak mau mempercayainya!"
Ini yang Luhan paling takutkan. Sehun menolaknya.
"Sehunna! Ini aku Luhan! Aku Luhanni! Percayalah!" Luhan coba memeluk Sehun namun Sehun mendorongnya keras sambil tetap memejamkan mata.
"PERGI!" teriak Sehun keras. Dia meringkuk di sudut balkon yang gelap dan terdengar isakannya. Itu adalah pemandangan Sehun yang Luhan yakin adalah mimpi buruk untuknya.
Luhan menangis pilu. Tidak dia perdulikan teman-temannya yang berhenti melangkah di pintu balkon. Tujuh orang itu membeku ketika menyadari situasi yang ada.
"Sehun!" Kai segera menghampiri Sehun yang meringkuk. "Sehun, ayo kita pulang! Sadarlah!" seru Kai dan membawa pemuda itu pergi dari sana.
Ditengah tangisnya yang memilukan, Luhan rasakan Xiumin memeluknya. "Semua akan baik-baik saja, Luhan."
"Maaf, Lulu hyung. Kami harus kembali ke rumah Sehun. Karena Ahjumma menitipkan Sehun pada kami." Suara lembut Baekhyun sampai pada telinga Luhan membuat Luhan merasa seperti divonis penyakit menular mematikan dan tak boleh mendekati orang lain. Termasuk Sehun.
Baekhyun memeluk Luhan sebentar dan pergi bersama Chanyeol dan Kai. Lalu Tao ikut memeluk Luhan erat ketika ketiganya telah lenyap dari pandangan.
"Harusnya aku tetap di Beijing! Sehun jadi gila ketika bertemu denganku lagi! Aku membawa pengaruh buruk padanya! Apa yang telah kulakukan!? Hiks!" tangis Luhan yang merasakan hatinya tertikam sembilu makin dalam dan tembus.
"Tidak Luhan! Sehun hanya belum bisa menerima keadaan. Ini terlalu tiba-tiba untuknya" terang Xiumin padanya namun Luhan sendiri sudah mengerti yang terjadi. Ditambah keyakinannya jika itu semua salahnya.
"Tidak! Aku memang menghancurkannya! Karena aku, dia hidup selama empat tahun menjadi mayat hidup! Apa yang lebih buruk lagi? Dia jadi GILA!" Luhan tak dapat menahannya lagi. Dia menjerit ketakutan pada kenyataan yang ada untuknya.
"Tidak Luhan! Tidak!" Xiumin mengatakan kata-kata yang Luhan yakin bagai mantra amatir untuknya.
ΩΩΩ
Tomorrow
Luhan tahu dia itu namja bodoh. Ya, dia sangat bodoh. Sudah tahu mau mati, dengan egoisnya membuat orang bersedih akan kematiannya. Dia harusnya membuat semua orang membencinya dengan bersikap menyebalkan jadi tak ada yang menangisi kematiannya. Tidak sama sekali. Dan bahagia atas kematiannya.
Tapi Luhan tidak. Dia hanya ingin membuat orang-orang bahagia selama sisa hidupnya. Karena dia begitu menyayangi orang-orang di sekitarnya. Dan terlalu dalam mencintai Oh Sehun. Sehingga dia tidak bisa berhenti.
Tidak ada salju di Taman yang bernama Seoul Chun Park. Taman Chun. Yang biasa Sehun dan Luhan datangi. Taman tempat Sehun pertama kali bertemu Luhan. Tempat Luhan menyatakan cintanya dan mereka berpacaran.
ΩΩΩ
Flashback
Days 60
Ini kencan mereka. Yang Luhan yakini sebagai kencan terakhir. Ini kenangan indah mereka. Sambil berjalan menyusuri jalanan dengan tangan bergandengan mereka berbincang kecil. Dan Luhan sangat menyukainya. Jalanan daerah ini sepi.
Dia melirik Sehun yang berjalan di sampingnya dengan senyum dan berwajah cerah. Wajah Luhan cerah, hanya saja pucatnya wajahnya menghalangi rona bahagianya. Dia genggam erat tangan hangat Sehun.
"Luhan!"
Seruan itu membuat Luhan terkejut ditambah Sehun menariknya ke gang gelap dan mencium bibirnya. Ciuman yang lebih dalam dari yang pernah Sehun lakukan. Membuat Luhan merasa berputar di tengah-tengah kembang api dan suara kicauan burung-burung di sekelilingnya.
Sehun melepas ciumannya dan kulit Luhan terasa bergelenyar. Juga hembusan hangat napas pemuda itu yang begitu dekat dengannya di pipinya. Tangan pemuda itu meraba pungung bawahnya dan turun membuat Luhan membelalak.
"Aku tak tahu kau semesum itu!" seru Luhan saat Sehun menepuknya pelan. Namun Luhan yang merasa lemas hanya mengalungkan kedua tangannya makin erat.
Sehun tak menyahut dan kembali menciumnya panas seolah itu belum cukup. Ciuman itu membuat Luhan yakin bibirnya bengkak. Namun itu belum berhenti dan tangan keduanya ikut bermain. Oh! Luhan tidak tahu ternyata Sehun begitu seksi.
Tubuh Sehun berotot meski dia masih remaja. Juga padat dan berisi sekali namun tidak berlebihan membuat Luhan begitu mengaguminya. Luhan tepuk dada Sehun untuk memberi isyarat dia butuh udara.
Keduanya melepas tautan bibir mereka. Saling tatap dan tali tak terlihat yang merupakan benang takdir keduanya terhubung erat dan panjang menjuntai di antara keduanya. Saat itu Luhan berharap waktu terhenti dan dia bahagia selamanya dalam bekunya waktu.
Setelah ciuman kejutan dari Sehun itu, senyuman tak lepas dari wajah merona Luhan selama mereka melangkah menyusuri jalanan. Luhan sangat bahagia, ada perasaan dalam ciuman Sehun padanya.
Sehun melirik Luhan dan tersenyum geli. Mereka menuju pertokoan di pasar Myeongdong. Saat menemukan photo box mereka berfoto bersama. Luhan yang tidak puas dengan fotonya meminta berfoto lagi.
"Tidak perlu! Aku sudah tampan di foto itu" tolak Sehun namun akhirnya kembali berfoto atas paksaan Luhan.
Dua foto mereka cetak dan masing-masing menyimpan satu. Hari sudah gelap dan setelah mereka makan malam bersama, Sehun mengantar Luhan pulang. Keluar dari restoran favorit Sehun di tempat itu, Sehun merangkul bahu Luhan dan tertawa.
Dia kecup pipi Luhan. Namun mengernyit saat merasa Luhan begitu dingin. Dia tangkup pipi Luhan dengan telapak tangannya. "Kau dingin sekali."
"Benarkah?" Luhan tersenyum lembut pada Sehun dan memendam kepedihan. "Sangat dingin? Itu karena suhu di sini terlalu dingin."
Sehun tersenyum senang. "Ayo, kau kupeluk saja!" tukasnya dan merangkul bahu Luhan dengan tangan Luhan melingkari pinggangnya. Keduanya berjalan di pinggir pasar yang makin sepi itu karena malam sudah larut.
"Sehun, aku sangat mencintaimu. Jadi, apa pun yang terjadi nanti, percayalah kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu," kata Luhan pelan. Dia mencari kehangatan dari Sehun yang terasa lembut.
"Kalau begitu kau harus mendukungku di pertandingan nanti," Sehun mengacak rambut coklat madu Luhan. "Kau harus datang!"
"Aku selalu mendukungmu, jadi kau harus menang" Luhan tersenyum manis pada Sehun. Saat itulah Sehun mengecup bibirnya. Terasa begitu manis kecupan itu. Dan hangatnya sampai pada hati Luhan. Sekali lagi, Luhan berharap dan berdoa.
Dia memandang pohon natal di tengah Taman tempat dia dan Sehun berhenti melangkah. Sehun memandangnya bingung karena mereka akan sampai di rumah sebentar lagi. Dia lihat Luhan menatapi pohon natal di taman biasa mereka janjian.
'Luhan, aku berharap, kau akan selalu ada untukku... Selalu menjadi kekasihku dan pendamping hidupku...' Sehun memejamkan matanya dalam doanya pada malam natal ini. "Aku mencintaimu, Luhani..." bisiknya tanpa suara pada Luhan yang memejamkan matanya. Dia kecup dahi Luhan lembut untuk menyampaikan perasaannya.
'Aku harap, aku bisa hidup lebih lama lagi. Agar aku bisa selalu ada untuk Sehun... aku harap aku memiliki kesempatan kedua untuk menjadi pendamping hidup Sehun...' Luhan pejamkan matanya di rangkulan Sehun dan berdoa dalam hati di malam natal ini. 'Aku mencintaimu, Sehuna... selamanya...' bisik Luhan pada angin musim dingin dan merasakan kecupan di dahinya dari Sehun.
Keduanya berharap, lebih dari apa pun, bahwa doa mereka terkabul.
Flashback off
ΩΩΩ
To Be Continued
Author's Note :
Annyeong Chingu deul! Huahahaha! /dilemparin Tai Ayam/
Mianhamnidaaa! /sujud/baca tahlil/
Ichie bener-bener lagi gak bisa update karena Wai Fai (selingkuhan Lulu) sedang tidak konek. dan Ichie gak punya modem. HELLO! JAMAN GINI GAK PUNYA?! /kan gak semua anak kaya/digiles/
Ichi beneran minta mangap/plak/
minta maap maksudnyee. Nah, ini Ichie usaha banget buat update. berhubung bongkaran rumah udah mau selese dan internet Wai Fai udah di idupin lagi. jadi, selamat melepas kerinduan kalian. ini adalah update terakhir sampai dua minggu ke depan karena Ichie menghadapi UAS. dan minta do'anya supaya sabtu ini Ichie menang Fighting bela diri Indonesia di Bogor. Gomapta Readerdeul! Dukungan kalian adalah bayaran atas usaha dan kerja keras saya mikirin ending. BTW, chapter depan adalah chapter terakhir. Udah ending! Tunggu ndee!?
/tari saman/gelindingan bareng Jokowow di kantor kelurahan/nonton bokep bareng ustad solmed/
