Heeeeeeeey guyss

Haven't updated in a month

I am trash

*nongol dari dalam lubang di dasar laut, lemparin update chapter 2 ke arah readers*

Enjoy!


Kebanyakan orang menjalani hidup sehari-harinya sesuai dengan jadwal. Daftar kegiatan. Rutin.

Walau kita semua terbiasa dengan yang namanya "rutin", bagi sebagian orang, kegiatan yang itu-itu saja bisa membuat... jengkel. Muak merupakan gambaran yang lebih tepat, mungkin. Ada semacam perasaan yang ingin memberontak, layaknya seekor elang liar yang dikurung dalam sangkar. Bagi orang-orang tertentu yang membenci rutin, hal tersebut seringkali tidak bisa diutarakan, tidak bisa dijelaskan atau diceritakan dengan perkataan.

Kalian pasti merasa bingung, kenapa tidak melakukan hal lain? Bukan hal yang terlalu sulit, kok, untuk mengubah atau keluar dari rutin yang membosankan.

Seandainya persoalan Fang semudah itu.

Sebagai seorang anak CEO terkenal, Fang memiliki 'jadwal' yang tidak bisa ia hindari. Segala kegiatannya dimonitor oleh kamera pengawas yang tersebar di dalam rumah, pelayan, bahkan, tak jarang, bodyguard. Ia sangat jarang bertemu dengan ayahnya. Ibunya memang selalu di rumah karena ia tidak bekerja, namun segala keputusan -bahkan sampai hal terkecil seperti mengganti merek sabun mandi- harus melapor ke ayahnya terlebih dahulu. Baik itu lewat pesan atau sekretarisnya, bisa jadi juga langsung ke orangnya sendiri. Hanya untuk melaporkan hal sekecil itu.

Konyol.

Ayahnya adalah seorang pria sukses yang tidak menyukai perubahan dalam kehidupan pribadinya.

Yang dianggap Fang sangatlah merepotkan.

Bayangkan saja bagaimana mungkin ia bisa merubah hidupnya kalau sabun mandi saja tidak boleh beraroma lain selain citrus dan lavender? Tidak akan mudah, tentunya. Mustahil, mungkin.

Setiap pagi kala ia membuka mata, pelayan pilihan ayahnya sudah berdiri di samping tempat tidurnya dan menyeduh secangkir teh lemon. Satu sendok teh madu, diaduk dengan sendok perak ke arah kanan, empat kali. Perangkat minum teh di rumahnya memang ada beberapa, dengan warna yang beragam, menyesuaikan dengan suasana sekitar dan mood. Namun bentuk keramiknya tetap sama, dengan teh yang sama. Pelayan yang sama. Hari-hari yang sama. Hidup yang sama. Tidak berubah.

Saat kegiatannya pada hari itu dibacakan seorang maid, Fang menanggapinya dengan anggukan malas sambil menghirup teh lemon hangat.

Entah ia sudah terlalu muak dengan hal yang serupa setiap harinya, tapi apa mungkin temperatur minuman ini sama dengan yang kemarin?

Ia ingin menjerit kesal ke dalam bantalnya, sekarang.

Tapi hal itu akan membuat orang-orang mengiranya gila, jadi Fang menahan dirinya. Tahan Fang. Tahaaan.

Kegiatan hariannya tidak banyak berubah. Antara sekolah, kursus bahasa asing, eskul olahraga, pulang ke rumah, kursus privat musik, makan malam (beberapa bulan sekali bersama ayahnya), dan tidur. Kadang, waktu antara kegiatan diputar balik atau kursus dibatalkan karena hal tertentu.

Tentu saja ia juga aktif hang out bersama teman-temannya, tapi, diluar itu...

Perubahan yang dinanti itu entah kapan datangnya, pikir Fang sambil menghela napas, menopang dagu dengan tangan dan menatap keluar jendela mobil. Mengharapkan ada malaikat yang jatuh atau hujan bola api dari langit mungkin akan lebih mudah daripada-

Ban limosin yang diduduki pemuda itu mendadak melengking keras, bergesek dengan jalanan aspal karena rem mendadak. Suara metal berlaga dengan metal, yang diyakini Fang sebagai tiang jalan dan moncong limo yang ia naiki, mengguncang keras kendaraan tersebut. Siku Fang yang ditahan pegangan pintu mobil selip, mengakibatkan remaja itu jatuh ke depan.

Ia tidak memekik seperti anak perempuan. Tidak sama sekali. Ia memekik seperti lelaki sejati. Yap.

"Ya Tuhan! Apa yang-" umpatan sopir pribadinya dari kursi pengemudi terdengar senyap di telinga Fang, roda gigi di otaknya berputar perlahan dan berhenti dengan sebuah klik. Ia membenarkan kacamatanya yang terselip jatuh ke hidung saat mobil terguncang, matanya mengerling tidak percaya. Apa mungkin?

Inikah perubahan yang ia nanti?

Suara tangis anak-anak mendarat di telinga Fang.

... tunggu tunggu, kecelakaan semacam ini bukan perubahan yang ia inginkan!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Presented to you,

By IceFlowerGirl

.

.

.

Demons

.

.

.

Disclaimer: Boboiboy milik Animonsta

.

.

.

Warning(s): OOC? Injuries, hospital scene. FangGem bertemu di akhiran chapter :3 slight imply of panic attack, etc.

DLDR.

.

.

.

.

.

.

.

.

2

.

.

.

.

.

Ya ampun. Apa lagi sekarang?

Rasa pening dan berat menggemburkan seisi kepalaku, seolah ada sekelompok badak yang sedang menari tap di balik tengkorakku. Bukannya aku tidak terbiasa, mengingat rasa sakit ini tak pernah absen sejak minggu lalu, selalu mengganggu setiap kali aku baru bangun dari tidur. Menggeliat dalam selimut, aku melenguh kesakitan dan berusaha untuk duduk. Tidak bisakah aku tidur dengan damai sampai alarm berbunyi? Persetan juga denganmu, denyut. Aku juga membencimu.

Tangan kananku memijit pelipis, berusaha menjinakkan pening. Memalingkan kepala usai perjuangan untuk membuka mata, manik karamelku bertatap muka dengan jam yang bergantung di dinding.

Aku berkedip. Mengucek mata.

Jam enam lewat lima menit.

Sial.

Aku telat bangun.

Demons

Mengomel kekanakkan dalam hati, Gempa mengisi rak minimarket dengan stok dari dalam kotak persediaan. Hari ini bukanlah hari keberuntungannya. Bukan berarti dia beruntung setiap hari, tapi kalian bisa mengerti maksudnya. Bangkit dari posisi jongkoknya, Gempa mengembalikan kotak ke dalam ruang barang.

Ia tidak bangga dengan insomnia yang membuatnya tidak mengantuk di saat kerja, namun bila harus jujur, Gempa sudah lupa bagaimana rasanya tidur nyenyak selama delapan jam. Tubuhnya yang butuh istirahat berkata lain dengan otak yang sudah kebal terhadap rasa kantuk di tengah hari. Tenaga fisik Gempa termasuk di bawah rata-rata dari remaja seumurannya. Syukur saja, sekolah dan pekerjaan sampingannya tidak memerlukan banyak aktifitas yang meraup tenaga.

Omong-omong soal sekolah. Ia nyaris terlambat pagi ini. Jam bekernya tidak berbunyi gara-gara kehabisan baterai. Entah ia harus bersyukur atau merutuki denyut keras kepala yang sudah memaksanya bangun sebelum mendengar bunyi alarm.

Awal hari yang kalang-kabut itu berakhir dengan uang saku lebih yang Gempa berikan pada adiknya untuk membeli makan siang dan malam. Untuk sarapan, mereka menghabiskan segelas susu coklat yang dituang dari kotak kemasan. Setelah diminum empat orang, susu coklat ukuran dua liter tersebut nyaris habis, dan Gempa mengulang daftar kecil belanjaan di dalam benaknya sembari mengisi keranjang belanja.

Mungkin ia memang kesulitan dalam perekonomian, tetapi mereka berkecukupan untuk saat ini, dengan sisa warisan yang masih tersimpan apik di bank untuk keadaan darurat, dan tabungan Gempa dari gaji bulanannya. Masalah belanjaan dan makanan tidak perlu dihemat untuk sekarang ini.

"Hmm, alat tulis, susu coklat, minyak..."

Bos minimarket tempat Gempa bekerja adalah seorang pria berdarah India yang berkumis tebal dan terkadang bisa berubah sangat menyeramkan. Mengingat fakta bahwa ia memiliki anak yang seumuran dengan remaja bertopi terbalik itu, sang bos sangatlah memanjakannya. 'Seandainya anakku itu bisa bertanggung jawab dan serajin dirimu,' ucapnya kala Gempa menerima gaji pertamanya tahun lalu. Ia hanya bisa menahan tertawa melihat akting dramatis bosnya yang 'meratapi nasib memiliki anak malas tidak berguna tukang makan'.

"Sekali-sekali masak daging ayam, ah. Lada, garam..."

Adiknya pasti senang. Besok adalah hari libur kerjanya. Ia berencana memasak makanan kesukaan mereka dan mengajak mereka keluar untuk jalan-jalan.

"... baterai, dan beberapa snack favorit mereka."

Berjalan ke kasir setelah mengambil keperluannya, Gempa meng-scan belanjaannya sendiri dan memasukkan uang ke mesin kasir. Ia tidak tahu apa ditempat lain pekerja diperbolehkan membeli keperluan di tempat kerja mereka sendiri, tapi bossnya mengizinkan, bahkan memberi diskon pekerja, jadi, yah. Kenapa harus menolak niat baik seseorang?

Ia melirik jam digital di dinding. Pukul empat lewat tujuh belas.

Ponselnya berdering.

Mengeluarkan ponsel layar sentuh berkelas sederhana itu, Gempa mengerutkan kening kala mendapati nomor tidak dikenal menghubungi dirinya. Ia menggeser tombol angkat dan mendekatkan smartphone tersebut ke telinganya.

"Halo?"

Demons

Fang mengumpat dalam hati. Walaupun ia sangat mendambakan untuk tidak hadir dalam kursus bahasa asing, bukan dengan cara seperti ini yang ia harapkan. Duduk di ruang tunggu dengan tidak tenang, remaja tersebut berdiri ketika ia dihampiri oleh seorang dokter.

"Dok, bagaimana dengan...?" Fang membiarkan kalimatnya menggantung, yakin bahwa pria di hadapannya sudah mengerti apa yang ia maksudkan.

Dokter itu menggerakkan kepalanya sedikit dengan seulas senyum yang berusaha menenangkan, "Tidak ada luka berat pada para korban. Dari enam korban yang terlibat, dua menderita luka ringan dan satu orang mengalami benturan di kepala." Menyadari pandangan tidak nyaman Fang, dokter melanjutkan, "Jangan khawatir, mereka hanya cedera pada tendon penghubung tulang dan trauma kepala ringan. Mungkin akan ada efek samping dari obat-obatan, yang membuat mereka kesulitan fokus untuk beberapa jam, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Fang membiarkan dirinya lega sesaat. Ia mengerutkan kening, merasa ada yang kurang. "Tiga lainnya bagaimana, dok?"

"Ketiga korban lainnya adalah anak-anak, diperkirakan berusia enam sampai tujuh tahun." Senyuman dokter berubah agak kecut, "Berbeda dari orang dewasa yang dapat menghindari hantaman secara langsung, anak-anak ini tidak seberuntung itu.

"Salah satu mengalami retak pada tulang rusuk dan benturan kepala ketika mendarat di aspal, membuatnya kehilangan kesadaran di tempat kejadian. Dua lainnya terseret ketika tertabrak, dan memerlukan jahitan untuk beberapa luka yang besar. Shock pada saat kecelakaan membuat mereka tidak bisa berhenti menangis. Yang mengkhawatirkan adalah, seorang anak -Angin, kalau tidak salah- berusaha melawan dan tidak mau ditangani. Pada akhirnya kami memberi mereka anestesia, semacam obat bius, dengan dosis ringan untuk menidurkan mereka. Karena kami tidak bisa menanyakan informasi untuk menghubungi orang tua mereka, perawat dari unit UGD memutuskan untuk memeriksa ransel yang mereka pakai pada saat kejadian."

"Dr. David!" Dokter menoleh, mendapati seorang suster sedang berlari ke arahnya.

"Kami menemukan nomor telepon di dalam tas sekolah anak-anak tadi. Setelah dihubungi pihak administrasi, wali mereka sedang dalam perjalanan kemari,"

Dokter lanjut usia yang diketahui bernama Dr. David nampak lega, memperbolehkan Fang untuk menunggu di kamar ketiga anak, untuk meluruskan persoalan pada wali mereka, katanya. Seandainya ia tahu betapa Fang ingin pulang ke rumah sekarang.

Demons

Ia tidak pernah menyangka akan izin pulang kerja lebih cepat karena hal ini.

Halo? Apa ini "Kak Gempa", keluarga dari Boboiboy Petir, Angin dan Tanah?

Gempa mengatur napasnya yang tidak teratur sehabis berlari, tangan kiri menopang tubuhnya yang lelah di lutut sementara tangan kanan mencengkram ponselnya. Layar menunjukkan satu titik merah yang berkedip, GPS diatur untuk mencari lokasi sebuah rumah sakit yang letaknya kurang ia ketahui.

Kami menghubungi anda untuk menyampaikan bahwa mereka terlibat dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Ia mengusap wajahnya kala mendapati lampu penyeberangan masih belum berganti warna. Cepatlah, batinnya, kesal bercampur khawatir berat. Jantungnya masih berdegup kencang dan bayangan kecelakaan dua tahun lalu bekelebat kencang di balik matanya. Telepon yang lima belas menit lalu ia terima berputar ulang, lagi, untuk sekian kalinya, layaknya rekaman suara.

Kami sebagai pihak administrasi Grand Element Hospital memerlukan kehadiran anda untuk mengkonfirmasi beberapa hal mengenai kondisi adik asuh anda.

Mengangkat kepala dari posisinya yang tertunduk barusan, Gempa memfokuskan pandang ke eksterior Grand Element Hospital yang menjulang tinggi hingga lantai dua puluh lima. Jalan masuknya berupa sebuah pintu putar besar dengan kaca buram, mengarah masuk ke meja administrasi. Bangunan rumah sakit itu bergaya Eropa, berlapis jendela kaca di seluruh sisinya. Cat hitam melapisi dinding dimana kaca tidak melekat. Memang, hitam bukanlah warna yang umum di rumah sakit manapun, namun warna gelap tersebut malah menambah kesan indah rumah sakit elit tersebut. Di puncaknya tertera "Grand Element Hospital", dengan sebuah logo berupa gabungan lima elemen di sampingnya. Gempa meluruskan postur tubuhnya, masih mengatur napas, memperhatikan bagaimana huruf -huruf dari tulisan bersinar kuning pucat itu melengkung, meliuk elegan. Di senja yang mendung, rumah sakit ini nampak seperti menara yang berpendar lembut, sewarna matahari tenggelam.

Harap jangan panik, dan berhati-hatilah dalam perjalanan.

Lampu penyeberangan berganti hijau, dan Gempa menggelengkan kepala, karena ini bukan waktunya untuk mengagumi sebuah gedung. Ia menyeberangi jalan yang memisahkan dirinya dari gedung itu, dari adik-adiknya. Persetan dengan pekerjaan di restoran hari ini. Absen satu hari tidak akan membahayakan posisinya, terlebih karena ia termasuk pekerja yang bersungguh-sungguh dalam bertugas. Keluarganya lebih penting.

Nomor kamar? Tentu, adik-adik anda sedang dirawat di kamar... nomor 1208.

Gempa mendorong pintu putar dan memasuki rumah sakit.

Kami mengharapkan kehadiran anda segera.

Demons

Menunggu supir menjemput ayahnya kemari dari kantor pasal kecelakaan, Fang bersandar di dinding luar kamar 1208. Ayahnya tidak akan senang, Fang yakin, dan supir yang ketahuan ceroboh memainkan ponsel sambil mengemudi itu akan kehilangan pekerjaan setelah urusan ini selesai. Uang bukan masalah, seperti biasa, namun Fang belum bisa pulang sebelum berbicara dengan wali anak-anak di dalam kamar yang dindingnya sedang ia sandari. Korban lain sudah berusia diatas golongan remaja, dan memutuskan tidak menuntut setelah Fang melambaikan cek senilai tiga kali lipat dari biaya rumah sakit di depan wajah mereka.

Masalah utama dan satu-satunya sekarang adalah wali kembar tiga itu. Setahu Fang, melahirkan anak membutuhkan tenaga yang luar biasa dan rasa sakit yang mengerikan, apalagi kembar tiga, jadi ada beberapa kemungkinan yang akan ia hadapi. Antara ibu perkasa yang overprotektif, ayah yang murka atas terlukanya ketiga anak, atau bahkan mungkin keduanya. Bisa jadi juga orang tua kaya yang angkuh, yang ingin menuntut ke pengadilan dengan pengacara terbaik di kota ini.

Ah, siapa peduli, ayah Fang sudah kenal dekat dengan pengacara terbaik di negara ini.

Sekali lagi Fang menghela napas dan menyiapkan mentalnya, bersiap menemui orang-orang yang mungkin saja muncul karena terinspirasi dengan hasil imajinasinya barusan.

Tetapi Fang tidak menyiapkan diri untuk wali yang ternyata hanyalah seorang remaja yang nampak seumuran dengan dirinya, bertubuh lebih kecil dan terlihat sangat panik, berlari masuk ke dalam tanpa menyadari keberadaan Fang sama sekali. Ia sempat memproses pakaian pemuda itu, topi terbalik, celana hitam panjang dan baju putih -seragam sekolah?- yang tidak terkancing, menampakkan semacam seragam kerja berwarna kuning. Seorang dokter, Dr. David, menyusul tepat di belakangnya, berusaha menenangkan remaja bertopi yang nyaris histeris itu.

Ia mengatupkan kedua tangan di depan mulutnya, dan selang beberapa detik, remaja misterius itu menemukan kembali suaranya, memeluk kedua lengan sambil mendekati kasur pasien dengan kaki gemetaran. "Oh tidak, tidaktidaktidak. Apa yang- ke- kenapa Petir diperban seperti itu? T- T- Tanah dan Angin tidak bangun, a- aku yakin mereka memberitahuku hanya ada satu anak yang t- ter- terluka-! Ah, d- dokter!"

Serangan panik sesaat itu mengaburkan pandangannya terhadap dunia luar, sehingga ia baru menyadari keberadaan pria lanjut usia tersebut ketika Dr. David menyentuh bahunya. Lututnya lemas, dan Fang yakin ia akan jatuh ke lantai kalau bukan karena tangan dokter yang menahan kedua bahunya. Dengan air mata yang nyaris jatuh dari sudut matanya, si topi terbalik mendadak terlihat seperti seseorang yang baru diberi beban seluruh dunia untuk ditahan di kedua pundaknya yang masih belia.

"A- apa yang terjadi?"

Demons

Aku sedang menyeberang jalan, menggandeng Tanah dan Angin saat lampu menyeberang sudah jadi hijau.

Kata Kak Gempa, kalau lampu hijau artinya jalan. Para mobil akan dapat warna merah, jadi mereka akan berhenti. Tapi...

Mobil itu datang begitu cepat.

Seketika aku sadar aku dan adik-adik tidak akan bisa menghindar.

Mendorong kedua saudaraku ke belakang, aku dengan tiga orang dewasa lain yang sedang menyeberang tidak sempat melarikan diri.

Mobil mewah aneh yang panjang itu mengklakson nyaring, seolah suara itu bisa menghentikan mobil. Aku bisa melihat pengendara mobil menginjak rem dengan keras, tapi-

Suara debaman keras membuat telingaku berngiang.

Aku merasa sangat ringan, dan sepersekian detik setelah membentur jalan, aku sadar kalau aku terpental.

Pekikan ban yang keras menarik perhatian, mobil hitam itu melengkung tak terkontrol di jalan dan menabrak tiang lampu jalan.

Adik-adikku terserempet dan jatuh.

Mereka menangis.

Padahal aku sudah janji dengan Kak Gempa untuk menjaga mereka. Semoga kakak tidak marah. Aku tidak bisa mengecek luka mereka dan meniupnya seperti yang kakak lakukan saat aku terjatuh. Aku tak bisa bergerak.

Dua detik berlalu sejak aku tiduran di aspal. Rasa sakit perlahan menjalari tubuhku, dan terengah, aku berhenti menggerakkan kepala, yang terasa sangat, sangat berat, untuk berbaring sejenak. Samar-samar aku merasakan cairan hangat keluar dari hidungku. Ergh, padahal, kan, aku tidak pilek, jadi apa ini? Luka-luka di tubuhku menyengat saat aku bernapas. Sakitnya seperti saat hari dimana mama dan papa bermain petak umpet dan tidak kami temukan lagi. Tapi rasa sakitnya bukan sakit aneh yang di dalam dada, tapi di sekujur tubuh. Terutama di dekat perut atas. Ada yang rusak, sepertinya. Bunyinya aneh seperti biskuit cokelat yang kupatahkan untuk camilan semalam. Krek, begitu.

"Petir!"

Jeritan Tanah yang memanggil namaku dan keributan orang-orang sekitar yang mengerumuni kami merupakan hal terakhir yang kudengar sebelum aku menutup mata -terlalu lelah, terlalu sakit, terlalu nyaman- dan tidur. Diselubungi lembaran-lembaran kabut tebal, dingin, disertai perasaan mati rasa.

Demons

Jujur saja, remaja bertopi ini terlihat tidak lebih sehat dari para kembar. Kulitnya agak pucat dengan bayang hitam di bawah matanya. Ia nampak letih, dan kehabisan napas, seolah habis berlari jarak jauh. Ia mengingatkan Fang akan seseorang yang seharusnya berbaring di ranjang seharian, dengan jarum infus tertancap di pergelangan tangan.

"-dan setelah banting setir ke arah kanan, mobil menabrak tiang. Sepertinya kedua kembar terserempet pada saat itu," jelas Fang.

Kakak dari kembar tiga mengusap wajah, bersandar pada kursi yang sedang ia duduki. Ia nampak bisa saja tertidur disana sekarang, dengan segala efek adrenalin dari panik yang menguras tenaga dan fisiknya yang, jujur saja, terlihat butuh istirahat.

Ia kembali membenarkan posisi duduknya dan memainkan topi adiknya, mirip seperti yang sedang ia kenakan. "Terima kasih sudah membiayai perawatan adik-adikku sampai lunas," ujarnya, menyunggingkan senyum lelah.

Fang membuka mulutnya, tapi tidak ada perkataan yang keluar. Ia tidak menyiapkan diri untuk sebuah senyuman. Sial, si topi terbalik membuatnya nampak seperti orang bodoh. "A- ah, tidak, ini sudah menjadi keharusan."

Fang memutuskan untuk memanggilnya Topi. Karena ia tidak tahu nama remaja ini.

"Memang benar. Tapi kau tidak melarikan diri, jadi aku tetap harus berterima kasih," lanjut Topi.

"Bagaimana mungkin aku bisa kabur kalau mobilku sedang memeluk tiang?"

Ia nampak baru menyadari hal itu, sambil nyengir sedikit. "Ah, benar juga sih."

Senyap menghuni ruangan, hanya suara bernafas dan kedip monitor jantung yang terdengar di ruangan.

Tangan kanan Topi mengusap rambut adiknya yang terluka paling parah, mata agak sembab sehabis menangis mengerling khawatir. Ia menggigit bibir bawahnya, entah secara sadar atau tidak. Duduknya tidak tenang dan terlihat gugup. Ia tidak nyaman berada disini, bahasa tubuhnya jelas meneriakkan hal tersebut.

Fang memecah hening.

"Namaku Fang,"

Topi tersentak, sadar ia belum memperkenalkan diri. Mengulurkan tangan, Topi menerima jabatan tangan Fang.

"Namaku Gempa. Boboiboy Gempa."

Akhirnya Fang mendapatkan sebuah nama untuk sosok remaja bertopi terbalik yang misterius ini.

.

.

.

A/N:

Yoooooooooo- ( / '0')/ Lama tak jumpa #plak

Maafkan Ice yang ga bisa cepet updet ;-;

Eiii~! Anyway! Style penulisan PoV Petir sengaja dibuat sedikit lebih sederhana, karena ini kan sudut pandang anak-anak... tapi failed. 'u';

(I'm trying to improve here guys)

Oh iya, Ice ga tau gimana pihak RS menghubungi keluarga korban, jadi jujur aja yang tadi itu hasil imajinasi Ice. Whoops.

(... still trying.)

Thanks for all of your support in first chap, guys! XD

Review, fav or follow please? :3

.

Edit: Ice pakai style penulisan baru, kelihatan tidak? Agak lebih straight to the point, tanpa kata-kata filler. (Personally, Ice kurang suka. Mungkin chap depan akan kembali pakai style biasa ^-^; Pendapat readers bagaimana?)