Selama seminggu ffnet bebal smpe Ice kesel sendiri. Selalu ga bisa load atau web not found, like wtf dude.

Finally I can log in T-T

Sorry for the late update pls enjoy /peace out


Hujan masih membasahi bumi.

"Ejojo,"

Pria muda yang berbadan tegap itu, Ejojo, tertawa— menghardik. Kemudian ia berjalan mendekat. Sepatu mahal bersuara klak-klak-klak berlaga dengan trotoar, dan Gempa teringat bagaimana keempat jari di tangan kirinya dipaksa membuat suara serupa, bertahun-tahun lalu.

Sosok tinggi itu berhenti tepat di depan Gempa, yang menundukkan kepala, tidak ingin bertatap mata dengan manik kejam yang membuatnya menderita sepanjang sekolah.

"Ah, lama tak jumpa," serunya keras, mata berkilat-kilat berbahaya, "Bagaimana kabarmu, sobat?"

Gempa mengangguk kaku, lidah terlalu kelu untuk bicara.

Cukup baik tanpamu, batin remaja bertopi itu. Darahnya bergejolak, entah oleh amarah, dendam, atau takut –

"Masih tanpa orang tua, kulihat."

–lalu membeku. Gempa menyentakkan kepalanya, berdenyut panas, karamel bertemu cokelat gelap. Sosok gelap di balik pikirannya menggeram, murka terpendam. Sepertinya Ia juga membenci Ejojo. Demon juga membenci Ejojo.

Setiap kali kau ingin memelihara sesuatu, kau akan memberikan dia nama. Karena itu, kata orang, jangan sampai kau menamai iblismu.

"Bagaimana nasibmu sekarang? Kuharap tidak menggarap sampah, atau," Ejojo berhenti sebentar, mata mengerling. Pandangannya bergulir, mengamati tubuh Gempa dari atas ke bawah, membuat si remaja bertopi merinding jijik. Merasa kotor, seperti permen karet bekas di bawah sepatu sneaker kesayangannya. "Atau, kau tahu. Apapun demi menghidupi adikmu, kan?"

Mata Gempa berubah gelap, keruh dengan sesuatu. Menggelengkan kepala sejenak, ia kembali menatap sepatunya, manik karamel kembali terang. Ejojo mendengus, nampak jengkel dengan sesuatu.

"Ejojo—", ujar Gempa dengan suara agak serak.

"Kau tahu," Ejojo berkata mendadak, memotong, "Jangan kau sebut namaku. Mendengarnya keluar dari mulutmu yang kotor itu membuatku ingin muntah."

Gempa mengatupkan mulutnya, benci dan takut memotong apapun yang ingin ia ucapkan.

"Dulu kau ini tak berani balas bicara padaku, ada apa dengan perubahan ini, kawan?"

Aku bukan temanmu, dan tidak akan pernah jadi temanmu.

Ejojo tertawa. "Omong-omong. Kuharap aku bisa menemuimu lagi setelah ini. Entahlah, kapan ada waktu luang. Aku akan mencarimu, karena, hey, teman SMA harusnya saling menjaga kontak, kan? Probe dan Adudu pasti tak sabar bertemu dengamu lagi. Memang dasar sopan santunmu udah berubah, tapi. Yah. Kurang lebih kau masih sama saja bagiku, sama seperti masa putih abu-abu," ujarnya. Gempa tidak yakin apa yang harus ia katakan, apa yang orang lain akan katakan, seandainya berada dalam posisinya.

Ejojo berjalan menutup jarak diantara mereka. Hujan mulai mereda, tidak sederas beberapa menit yang lalu. Ejojo sekarang berada tepat membayangi Gempa yang lebih kecil. Tangan Gempa mengepal di sekitar tali ransel, tubuh kaku dan siap melawan bila perlu. Namun pandangannya masih terpaku ke lantai, dan ia nyaris tak berani bernapas.

"Seperti sampah," desisnya, meludahi lantai dekat kaki Gempa sebelum berbalik dan pergi.

Demon meraung. Mengacak-acak segala pikiran rasional dan dengan membara, dibakar emosi, memaksa jalan untuk keluar

Kemudian Gempa dengan gemetar mengeluarkan napas yang ia tahan sejak Ejojo membayanginya, dan Demon pun… diam.

Bunuh saja aku, batinnya, dada terasa penuh dengan emosi yang tak dapat ia jelaskan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Presented to you,

By IceFlowerGirl

.

.

.

Demons

.

.

.

Disclaimer: Boboiboy milik Animonsta

.

.

.

Warning(s): mention of depression, panic attack, slight mental breakdown, bullying, etc. I am a cruel writer I'm so sorry

DLDR.

.

.

.

.

.

.

.

.

4

.

.

.

Ejojo sering memperhatikan orang.

Sebuah kebiasaan yang dibawanya sejak zaman sekolah dulu.

Misalnya, satu cowok berkacamata di kelas sebelah terlihat pendiam, tapi dari langkah kaki dan postur tubuhnya, Ejojo tahu ia adalah pemain taekwondo. Pria berjaket di seberang jalan ingin membeli rokok. Kelihatannya ia sudah lama kehabisan, jelas dari rahangnya yang terus mengunyah permen karet dan mata berwarna keruh-kemerahan yang kesal.

Nenek di sebelah halte bus yang sedang menerawang. Walau matanya mengamati jadwal ketibaan bus, pandangannya melayang, tak fokus. Kemungkinan besar tersesat?

Anak kecil bersweater hijau sedang bermain petak umpet, mencari temannya yang sembunyi di balik gang kecil yang becek. Tiga, empat orang sekawan yang sedang membeli es krim. Satu orang di belakang mereka bukan bagian kawanan, hanya remaja biasa yang paling-paling mau beli minuman dingin.

Kau lihat, memperhatikan orang itu menarik.

Mungkin itulah yang membuat Ejojo menjadi orang yang berbahaya.

Ia tak segan memperingatkan orang atas kelemahan mereka. Mencari mereka yang berpotensi sebagai kawan, menjaga jarak dengan mereka yang cukup kompeten sebagai lawan. Membidik titik lemah tanpa ampun. Secara verbal atau non-verbal.

Melangkah pergi dari bocah bertopi yang baru saja ia intimidasi, Ejojo mendengus.

Rasa ketertarikannya bermula, ketika Gempa nyaris terjatuh oleh pukulan boxing Probe, berusaha mengedip-ngedipkan air mata kesakitan, suatu kala di masa sekolah. Ada rasa sakit luar biasa dan syok didalam sepasang manik berkaca-kaca. Tidak setiap hari kau berjalan di koridor lalu sebuah bogem mentah mendarat di tulang pipimu.

Tawa Adudu dan Probe menggema.

Gempa hanya menggeritkan gigi, kesakitan, merasa dendam dan benci.

Tapi.

Ada juga sekelebat bayangan yang bukan Gempa, mengirimkan lonjakan teror jauh dalam tulang Ejojo.

Menarik. Sungguh menarik, seringai Ejojo terobsesi kala itu, walau jantung berpacu lebih cepat, entah seru atau takut.

Setelah sekian lama pun, ia masih belum berhasil mematahkan kontrol anak itu.

Walau berbagai cara sudah ia lakukan, mata Gempa hanya menampilkan benci dan dendam, amarah dan rasa sakit, menyembunyikan sesuatu yang Ejojo tahu berada jauh di dalam sana. Bukan manusia.

Ada monster dalam anak itu, dan Ejojo berniat membuatnya mengamuk.

Ia akan menguasainya.

Bagaimana pun caranya.

Demons

Napasnya pendek. Putus-putus.

Masih tanpa orang tua, kulihat.

Pandangan kabur, kabut menutupi fokus.

Apapun demi menghidupi adikmu, kan?

Wajahnya terasa panas dan tenggorokannya sakit, menahan suara dan isakan agar tidak keluar.

Aku akan mencarimu.

Tarikan napas yang terengah bergetar di telinganya.

Sampah.

Jantung berpacu terlalu cepat. Paranoid. Takut. Bingung. Segala hal terasa sangat ekstrim.

Oh, pikir Gempa, sedikit histeris, aku sedang mengalami serangan panik.

Lututnya lemas. Nyaris terjatuh. Punggungnya menabrak dinding dingin di belakang. Ia merosot turun. Terduduk. Napasnya masih terlalu cepat dan pendek. Matanya mulai berair. Seluruh badan terasa panas. Dadanya sakit, rongga rusuk terasa terlalu sempit, menjepit, meremukkan paru-paru dan membuatnya tidak bisa bernapas.

Beberapa orang lewat memperhatikan. Ada yang menunjuk. Ada yang berbisik-bisik. Satu dua mulai bergerombol di seberang jalan. Memperhatikan.

kenapa sekarang kenapa sekarang jangan lihat aku uuuh tidaktidaktidaktidak—

Menginjak kegelisahan keras-keras, Gempa melototi mereka dengan mata berair dan kemerahan. Merasa malu, gerombolan lalu lalang itu pun pergi.

Butuh setengah jam sampai Gempa bisa memproses isi kepalanya yang berjejalan dengan… segala hal. Setengah jam lainnya, hanya duduk di depan bangunan pertokoan yang sedang tutup itu, sampai laju jantungnya mereda ke normal.

Ia mencoba berdiri, tetapi badannya terlalu lemah. Serangan emosional tadi memakan seluruh tenaga dalam tubuh Gempa. Ia kembali terduduk.

Jalanan yang sepi menghakimi Gempa dalam diam.

Angin dingin setelah hujan mengembus badannya yang lembab. Ia merinding.

Matanya perih. Tenggorokannya sakit, dadanya juga sakit, kepalanya serasa dihantam meriam, segalanya sakit dan Gempa lelah merasakan sakit.

Ia lelah mengubur segalanya dalam-dalam, lalu melupakannya, seolah beban ini adalah sesuatu yang bisa ia abaikan.

Gempa lelah. Muak.

Mengerang lemah, menguburkan kening yang terlalu hangat – demam? — di dalam lipatan lengan. Gempa berharap memutar waktu kembali. Dimana masalah terbesar baginya cuma marshmallow yang terlalu sedikit dalam cokelat panas, dan perasaan tidak sabar menunggu serial komik yang terbit minggu depan.

Masa-masa polos itu terasa jauh sekali sekarang. Ribuan tahun cahaya.

Seolah tidak cukup, hidupnya kini dibebani sesuatu- yang membuatnya hiperventilasi- sesuatu yang emosional- sesuatu yang membuatnya merasa— merasakan

Inikah yang namanya penyakit mental,— pikir Gempa getir. Sepertinya tidak ada gunanya lagi menyangkal fakta satu ini.

Terlebih.

Demon kembali mencakar-cakar kesadarannya. Menggumam tidak jelas. Menyeringai tajam. Mata seterang kilau emas. Sekelebat bayangan hitam.

Entah mana yang lebih mengerikan, iblis berupa manusia yang ada di dunia nyata, atau iblis tak berwujud yang bersemayam di dalam jiwanya.

Yang minta dikeluarkan.

Demons

Sepasang kaki bersneakers berhenti tepat di hadapannya.

"Um."

Gempa mendongak.

Ia kenal suara itu.

"Gempa? Ini beneran kamu, kan? Sedang apa disini?"

Seorang gadis berkerudung dengan hati-hati jongkok di dekatnya. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Aman. Menghargai ruang pribadinya. Sepasang mata gelap bertemu dengan miliknya, familiar. Tangan gadis itu terangkat ragu, merasakan dahinya yang panas. Gempa secara tak sadar menyandarkan kepalanya pada tangan dingin itu. Sedikit kenyamanan dalam badai berantakan— heh, dua kata itu kurang lebih mendeskripsikan hidupnya.

Dengan alis sedikit mengerut khawatir, gadis itu bertanya—

"Kamu baik-baik saja?"

"Kau baik-baik saja?"

Amarah membuncah dalam dadanya, seakan pertanyaan itu berarti Gempa bersikap tidak normal saat moodnya sedikit masam. Seolah ia tidak diizinkan memiliki perasaan, seolah segala emosi yang terpendam tidak akan meluap suatu hari.

"Iya, iya. Gempa tahu. Pekerjaan Atok penting. Maksudku,

"Kayaknya kamu demam," ujar sosok berkerudung itu, merogoh tas dan mengeluarkan sebuah smartphone pink, mengetik sesuatu. "Kupanggilkan jemputan ya, Gempa? Ke rumahku, minum yang hangat-hangat sekalian ngumpul bareng,"

… Yaya?

—aku baru saja lulus sekolah.

Gempa menatap mata cokelat hangat itu kosong. Yaya, teman masa kecil Ying. Sejak usia sepuluh tahun, Gempa kecil sudah mengenal Ying, teman sekelas SD-nya. Ia adalah seorang bocah Chinese yang bicara terlalu cepat, dan sedikit terlalu ceria. Tidak berapa lama berteman dengan Ying, ia memperkenalkan Yaya padanya.

Yaya tidak sekelas dengan mereka, namun hal tersebut tidak menghentikan kumpulan anak kelas 5 SD ini untuk menyapa dengan lambaian lewat jendela saat pergi ke kamar mandi, bersembunyi di kelas tetangga saat petak umpet, berkenalan dengan anak-anak lain, dan bermain. Membuat teman.

Yaya pada zaman SMA adalah seorang gadis yang suka menawarkan biskuit ketika ia shift jaga kasir di minimarket, dan tetap bicara padanya, walau Gempa sudah berpindah sekolah di SMA berandal. Tidak menatapnya berbeda walau wajahnya terkadang dihiasi memar. Yang tahu betapa Gempa menghindari kekerasan dan selalu melarutkan diri ke latar belakang. Yang pernah menawarkan foundation polos miliknya, untuk menutupi kebiruan pada wajah Gempa. Yang tertawa kikuk ketika mengetahui rasa biskuitnya tidak cocok untuk lidah manusia.

Bersama dengan Ying, mereka berdua merupakan sahabat yang tetap berada di sisinya, walau badai menjatuhkannya berkali-kali.

Yang menatapnya tidak dengan remeh, kasihan, atau iba, tapi dengan tulus, menawarkan persahabatan seperti remaja biasa.

Dan Gempa tidak berani meminta lebih, tidak berani berharap, karena terakhir kali ia berharap ditinggalkan sendirian, Ejojo kembali membuyarkan hidupnya.

Tapi salahkah Gempa untuk berharap Yaya yang ada di hadapannya ini nyata, bukan sesosok ilusi yang dirangkai otaknya yang kesepian?

Aku hidup sendiri dan menghidupi tiga orang adik,

Yaya, yang karena faktor keluarga, pindah ke luar kota selama dua tahun, adalah sosok yang sudah lama tidak ia temui, sejak sebelum Petir terlibat kecelakaan.

Memangnya hal buruk apa yang bisa terjadi?"

"Gempa?" tanya Yaya, nyata dan bernapas di sebelahnya.

Mengenali satu sosok yang familiar, penuh kenangan dan peduli padanya dalam lautan kekejian—

Segala-galanya. Semuanya buruk.

—mata Gempa menggenang dan ia pun meledak menangis.

Demons

"G- Gempa, ya Tuhan, ada apa—"

Demons

"—merupakan penyakit mental, sehingga lebih sulit dipahami kebanyakan orang. Satu faktor besar yang membuatnya sulit dipahami adalah, perbedaan mengalami depresi, dan hanya merasakan depresi.

Hampir semua orang merasa sedih dari waktu ke waktu. Diputuskan pacar, nilai ujian yang anjlok, kehilangan pekerjaan. Ada pula kalanya, perasaan sedih datang tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Lalu, keadaan akan berubah,dan perasaan sedih pun hilang.

Depresi dapat berlangsung mulai dari jangka waktu dua minggu ke atas, dan merupakan sebuah kondisi medis yang tidak akan hilang hanya karena kehendak anda—"

Skip 10 seconds

"—gejalanya bervariasi dari orang ke orang, hanya dengan sedikit perbedaan. Di antaranya;

Suasana hati muram, dan kehilangan kesenangan dalam sesuatu yang biasanya anda nikmati.

Tidak adanya keinginan atau nafsu makan. Merasa tidak berguna atau merasa sangat bersalah atas sesuatu hal, tidur terlalu banyak, atau terlalu sedikit.

Konsentrasi buyar dan lemah, kegelisahan dan kelambatan, kekurangan energi.

Atau kerapnya muncul pikiran untuk bunuh diri.

Jika anda mengalami setidaknya lima dari gejala di atas, menurut panduan psikiatris, anda bisa didiagnosis terkena depres—"

Skip 10 seconds

"—transmisi abnormal atau penipisan neurotransmitter tertentu, terutama serotonin, norepinefrin, dan dopamin, atau perubahan spesifik pada REM dan gelombang lambat pada siklus tidur anda, dan keganjilan hormon, seperti—"

Skip 10 seconds

"—berkaitan dengan interaksi kompleks antara gen dan lingkungan, tetapi kita tidak memiliki alat diagnosa yang bisa memprediksi akurat kapan atau dimana depresi akan muncul. Apabila berada dalam situasi atau lingkup stress yang tidak ditangani, penderita tidak jarang mengalami serangan panik. Penderita kerap merasakan kekurangan oksigen, tetapi kebalikannya, mereka kelebihan oksigen. Hiperventilasi, atau berlebihnya kadar oksigen dalam tubuh, disebabkan oleh stres, sehingga tubuh tidak memiliki kesempatan menyimpan karbon dioksida, dan akhirnya oksigen tidak dapat dialirkan lewat darah. Gejalanya antara lain mati rasa, mulut kering, pening atau sakit kepala, sakit di area dada, denyut jantung melampaui normal, rasa lelah, kesulitan menelan—"

Skip 10 seconds

Skip 10 seconds

"—rata-rata penderita penyakit mental membutuhkan sekitar lebih dari 10 tahun untuk meminta pertolongan apabila tidak disertai dukungan. Medikasi dan terapi saling melengkapi untuk meningkatkan zat kimia di otak. Dalam kasus yang lebih serius, dibutuhkan terapi elektrokonvulsif,"

Skip 10 seconds

"Jadi, apabila anda kenal seseorang yang sedang melawan depresi, dukunglah dengan lembut untuk mencari beberapa pilihan pengobatan tersebu—"

Skip 10 seconds

"—ka mereka merasa malu atau bersalah, tekankanlah, bahwa depresi merupakan sebuah kondisi medis, yang tidak berbeda dari asma atau diabetes. Ia bukanlah sebuah kepribadian atau kesalahan, dan mereka tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Bayangkan mengabaikan lengan yang patah.

Jika anda belum pernah mengalami depresi, hindari membandingkannya dengan masa ketika anda merasa sedih. Membandingkan pengalaman penderita depresi dengan kondisi sedih normal yang sifatnya sementara, dapat membuat penderita merasa sangat bersalah, karena mereka tidak bisa melewati 'keadaan yang begitu saja'. "

Skip 10 seconds

"Bahkan hanya dengan berbicara tentang depresi secara terbuka—"

Gempa menutup video online di laptopnya.

Demons

Telepon terus berdering. Gempa tetap mencuci gelas. Suara keran air terdengar keras membelah ring tone panggilan.

4 missed calls from Yaya

Yaya: Hei, dtglah lagi kalau ad waktu

Yaya: Kita blm sempat ngobrol kemarin

Beberapa menit berlalu.

Yaya: Bbb, aku msih doyan nasi, aku tdk mkn org

Yaya: *straight face emoticon*

Ponselnya berdering lagi lewat sepuluh menit. Gempa hanya menatapnya. Masih mengelap gelas yang sudah ia cuci sejak belasan menit lalu.

"Kak?" Petir memanggil. Samar-samar terdengar musik game. "Itu hape kakak berbunyi, ya?" Di latar belakang, Mario berseru sesuatu karena dipilih sebagai karakter bermain. Angin menggumam sesuatu tentang persembahan pada lucifer sebelum memilih karakter Luigi.

Gempa ragu sejenak. Kemudian ia menyahut. "Tidak usah dipedulikan," ucapnya. "Hanya... agen asuransi."

5 missed calls from Yaya

Yaya: … kmarin,

Yaya: Knp kamu kabur?

Mengabaikan ponselnya, Gempa berusaha tidak memikirkan bagaimana ia mengucapkan salam mau pulang segera setelah segelas cokelat panas dan satu pil obat demam.

Yaya: Alasan mau jaga adik itu ngarang kan?

Yaya: Aku kenal mrk, tiga malaikat itu tdk akan berbuat mslh

Yaya: … oke, kecuali petir

Yaya: dan mungkin angin

Yaya: Ah, mmng satu-satunya malaikat cuma tanah

Yaya: Kamu cukup istirahat?

Yaya: Btw

Yaya: Pembicaraan tadi blm selesai

Gempa meletakkan gelas. Mengacak rambut frustasi, menarik poni sedikit. Tangannya agak gemetar. Lalu ia beranjak dari dapur. Ke ruang depan. Mengambil jaket dan kunci rumah.

"Kakak keluar dulu, ya."

"Mau ke mana, kak?" Tanah bertanya, kepala tak bertopi menatap terbalik dari lengan sofa. Tangannya memilih sebuah item dan meluncurkannya pada lawan balap, tanpa melihat. Gempa menyunggingkan senyum melihat karakter Princess Peach milik Tanah memimpin jauh di depan Mario dan Luigi. Tinggal satu putaran terakhir sebelum finish. Tanah bersorak, perhatian kembali ke layar.

Petir yang duduk di lantai mendecak kesal. Memilih item, Mario menembakkan sesuatu pada Peach. Dengan mulus, Tanah membelokkan kart-nya dan jamur berwarna cerah itu beralih mengenai Luigi.

Angin nampak siap mencampakkan controllernya.

"Hanya berjalan-jalan," jawab Gempa, nadanya santai, bertolak belakang dengan perasaannya. Pintu tertutup. Langkah kaki berjalan menjauh.

Ponsel miliknya masih tergeletak di counter dapur. Layar smartphone menunjukkan 7 missed calls from Yaya.

Rangkaian "ting" berbunyi, tanda ada pesan masuk.

Yaya: Dtglah ke rmh kalau butuh tmn bicara

Yaya: Mungkin aku bs membantumu

Yaya: Maaf aku terkesan maksa td

Yaya: Ying jg ada disini loh

Yaya: Ei ini Ying, dtg sini la, kami butuh special hot chocolate buatanmu :)

Yaya: Dengan bumbu cinta!

Yaya: *devil emoticon* *devil emoticon*

Yaya: Abaikan Ying

Jeda selama tiga menit penuh, pengirim pesan mengetik dan menghapus dan mengetik dan menghapus sebelum mengirimkan pesan terakhir.

Yaya: Kami selalu disini kapanpun kau siap bicara

Setelah itu, tidak ada panggilan masuk lagi.

"AKU MENAAANG! HIDUP PEACH!"

"LUIGI PAYAAAH!"

"Aku benci Mario Kart."

.

.

.


A/N:

I hurt my chara cause I love him pls don't hate me

Bagi siapapun yang melewati masa-masa sulit, jangan takut bercerita atau meminta pertolongan pada ahlinya, atau pun keluarga dan temen dekat. Memendam masalah tidak akan menyelesaikan apa pun.

Dua tipe teman saat menghibur; Yaya dan Ying xD

Gempa masih keras kepala dan menghindari bantuan, yang harusnya ga boleh, tapi Ice adalah author yang kejam, dan masalah emosional tidak akan sembuh hanya dengan mengibaskan tangan, jadiii.

Tell me what u think, leave me a review