Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?

Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality.

Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.

Awesomely beta-ed by Sanich Iyonni. Enjoy!


DARI BAGIAN SATU

"Tapi," Shikamaru melanjutkan. Ia kini menggenggam kuat tangan Temari, merasakan jari-jari gadis itu bersandar di telapak tangannya. "Aku lebih tidak menyukai ketidakjelasan tak beralasan yang membuat seluruh hidupku jadi semakin merepotkan," tutupnya.

Sepasang turquoise Temari membulat sedikit.

Pemuda itu menoleh, lalu menatap serius, membuat jantung Temari berdebar sedikit lebih keras. "Jika mereka menolak—" ia mulai. "—kita buat mereka tidak punya pilihan selain menerimanya."


.

#

.

Ujung Mimpi

©fariacchi

Dua: Situasi

.

#

.


Nara Shikamaru menggaruk kepalanya frustasi.

Matahari baru saja meninggi ketika pemuda itu duduk tegang di atas futon-nya. Kamarnya yang bernuansa kayu mulai dimasuki udara hangat dari luar. Tidak terlalu hangat, namun jelas menunjukkan hari telah seharusnya dimulai.

Shikamaru tidak bisa tidur. Ia baru tiba di kamarnya beberapa jam lalu, setelah menghabiskan malam dengan sesuatu yang bahkan tak pernah dibayangkannya lewat mimpi.

Baiklah—ia pernah bermimpi. Semua laki-laki dewasa pernah. Namun untuk merealisasikannya sungguhan ….

Ia menggaruk kepalanya lagi. Sulit dipercaya ia benar-benar sudah melakukannya.

"Jika mereka menolak … kita buat mereka tidak punya pilihan selain menerimanya …."

Setan macam apa yang merasuki pikirannya ketika mengucapkan kata itu delapan belas jam yang lalu? Shikamaru curiga bahwa yang disajikan di kedai itu bukanlah teh, tapi sake.

Ia menghela napas. Sake atau bukan, segalanya sudah terjadi. Mereka sudah melakukannya, dan ia harus siap menanggung risikonya.

Bangkit berdiri, dengan malas Shikamaru meregangkan tubuhnya. Rasanya masih agak ganjil untuk terbangun tanpa teriakan dari Nara Yoshino. Menatap sinar matahari yang menembus kisi-kisi ventilasi kamarnya, Shikamaru teringat kembali betapa kedua orangtuanya masih tampak menghindar.

Shikamaru ingin bicara, ingin meminta alasan masuk akal dari kedua orangtua yang melarangnya untuk suatu keputusan yang sangat penting dalam hidupnya. Tapi Shikamaru menyadari bahwa orangtuanya tidak cukup terlihat ingin bicara—bahkan untuk sekadar memarahi dirinya yang tidak pulang semalaman.

Memutar tubuh, Shikamaru menghela napas panjang lagi.

"Merepotkan—" ia menggerutu sungguh-sungguh sebelum berjalan malas menuju kamar mandi.

.

#

.


Pintu kayu tebal berwarna kemerahan berderit perlahan ketika sesosok pemuda mendorongnya dengan tangan kanan yang kuat.

"Permisi, Hokage-sama," suara itu terdengar bersamaan dengan masuknya sosok pemuda jangkung yang membawa beberapa tumpuk kertas di tangan kirinya.

Pemuda itu adalah Shikamaru. Ia sedang menjalankan rutinitas—yang menurutnya tidak lebih merepotkan dari misi keluar desa—sebagai penasehat bagi Rokudaime Hokage muda yang sudah memimpin desa selama lima tahun terakhir.

Benar, Rokudaime. Entah bagaimana, petinggi Negara Api berakhir dalam keputusan untuk tidak mengakui Danzou sebagai seseorang yang pernah memimpin Konoha—meski hanya sekejap sebelum yang bersangkutan dilaporkan tewas terbunuh.

Yang disebutkan itu adalah seorang pemuda berambut pirang dengan mata safir cemerlang—Uzumaki Naruto namanya. Meski sekarang semua orang memanggilnya dengan marga ayahnya yang juga merupakan pahlawan Konoha yang dikagumi: Namikaze.

"Ini laporan terakhir dari Anbu di perbatasan desa," ujar Shikamaru seraya melangkah dan meletakkan berkas itu di atas meja kerja Naruto.

"Lagi?!" Naruto mengerang. Menghela napas, ia menopang dagu dan melirik malas pada gunungan dokumen di mejanya.

Shikamaru tersenyum kecil. Ternyata, bahkan sebuah transformasi mengejutkan—dari sekadar shinobi yang membutuhkan waktu lama untuk lulus dari akademi hingga kini bertitel Hokage—tidak sanggup mengubah sifat Naruto yang satu itu.

"Selamat bekerja, Hokage-sama," Shikamaru berujar dengan nada yang sedikit jahil.

"Oh, ayolah, Shikamaru! Jangan ikut-ikutan seperti itu! Cukup si Teme itu saja yang selalu menggodaku!" Naruto menggerutu sebelum menenggak habis isi gelas tanah liatnya.

Belum sempat Shikamaru merespons, sebuah suara muncul dari arah jendela. "Memanggilku, Hokage-sama?"

Itu adalah Uchiha Sasuke dalam seragam Anbu—tanpa topeng. Seringai khasnya seolah menggarisbawahi panggilannya kepada Naruto, yang terkesan seperti mengejek.

Namikaze Naruto memutar kursi empuknya hingga menatap Sasuke yang berdiri tenang di luar jendela besar ruang kerja Hokage. Pemuda itu berpijak pada beranda kecil yang terbuat dari semen dan melipat kedua tangannya di dada sebelum melangkah masuk begitu saja melalui jendela kaca yang terbuka lebar.

"Hei! Jendela bukan pintu masuk, Sasuke!" seru Naruto.

Agaknya Sasuke tidak peduli karena ia tetap melangkah dan dalam sekejap, ia sudah berdiri di samping Shikamaru yang tingginya tidak berbeda darinya.

"Jadi, ada apa?" ujar Sasuke singkat.

Naruto memajukan bibirnya sedikit. "Teme! Aku tidak memanggilmu! Berhentilah mengagetkan seperti itu!"

"Oh, ya? Rasanya aku mendengar kau memanggilku, Dobe."

Naruto menggebrak mejanya. "Jangan mulai lagi, Teme!"

"Hn. Usuratonkachi."

"Sasuke—!"

Shikamaru tersenyum kecil. Rasanya benar-benar seperti keajaiban bisa mendengar hal-hal seperti ini lagi di sudut Konoha.

Sudah lima tahun berlalu sejak Uchiha Sasuke kembali ke desa. Perang Dunia Ninja Keempat yang menakutkan itu sudah berakhir. Uchiha Madara akhirnya tinggal nama, terkubur bersama rencana juubi-nya—kali ini untuk selamanya. Konoha kehilangan banyak pahlawan mereka. Ketiga sannin akhirnya resmi bergabung kembali di dunia sana. Aliansi Lima Desa Ninja diperkuat, membantu menstabilkan Konoha setelah kekacauan. Uzumaki—bukan, Namikaze Naruto disambut sebagai pahlawan. Dengan segera ia dilantik menjadi Rokudaime Hokage—yang diakui, disambut hangat oleh empat desa anggota Aliansi lainnya.

Mengenai Uchiha Sasuke …. Terima kasih kepada Naruto dan Kazekage yang mati-matian beragumen di depan Aliansi, hingga akhirnya ia berhasil terhindar dari mendapatkan hukuman mati untuk ulahnya yang cukup merepotkan.

Dan sekarang, Aliansi Lima Desa Ninja terbentuk. Dunia shinobi stabil. Damai, tanpa perang dan gangguan berarti.

Hampir sulit dipercaya.

"Teme! Sana bertugas!" suara itu membuyarkan lamunan Shikamaru. Hanya sebuah seringai pendek yang tertangkap mata Shikamaru sebelum sosok Uchiha Sasuke menghilang dalam kepulan asap.

"Kalian ini benar-benar merepotkan," Shikamaru akhirnya angkat bicara.

Naruto mulai meraih dokumen-dokumen di mejanya. Ia sedikit membolak-balik sebelum mulai menekankan stempelnya.

"Dasar. Sudah lima tahun, masih saja ia menggodaku seperti itu!" gerutunya.

Shikamaru tersenyum lagi. Kemudian ia teringat sesuatu, "Sakura mana?"

Haruno Sakura. Ninja medis yang namanya mulai dikenal di seluruh penjuru dunia shinobi sebagai penerus seorang Tsunade-himeninja medis yang luar biasa. Bisa dikatakan, gadis itu menjadi sekretaris Naruto sejak ia menjabat sebagai Hokage.

"Sakura-chan sedang ada misi jangka panjang bersama Sai dan Yamato-taichou," ujar Naruto.

"Sai?" Shikamaru mengangkat alis. Bukankah ia akan menikah dengan Ino sebentar lagi?

Seperti mengerti maksud Shikamaru, Naruto menjawab, "Tenang saja, aku sudah mendengar berita pernikahan itu." Naruto meletakkan lagi selembar kertas di tumpukan-yang-sudah-distempel. "Ia akan kembali dalam dua minggu."

Shikamaru maju beberapa langkah untuk ikut meraih beberapa dokumen yang dipisahkan oleh Naruto. Menganalisis laporan juga tampak menjadi bagian dari pekerjaan seorang Nara Shikamaru—terima kasih pada kecerdasannya yang mencengangkan itu.

Naruto berhenti setelah membubuhkan stempel di lembar ke-tiga puluhnya. Ia meletakkan benda itu begitu saja dan mulai meregangkan tubuh. Jubah merah dengan aksen hitam yang dikenakannya sedikit bergoyang.

"Cepat sekali, ya—?" Naruto memulai.

Shikamaru mengalihkan pandangan dari sederet tulisan dengan sandi rahasia yang sedang dibacanya.

"Semua tidak terasa. Dalam sekejap semua mulai berada di jalan kehidupan masing-masing. Menikah, memiliki keturunan, lalu kisah diulang kembali—"

Shikamaru mengangkat alis lagi. Sejak kapan seorang Naruto memiliki diksi semacam itu?

"Kau benar." Meski heran, Shikamaru membenarkan perkataannya. Seketika, ia teringat kejadian-kejadian yang menimpanya sehari lalu. Penolakan tidak beralasan—entah apa yang akan terjadi, Shikamaru tidak bisa memprediksinya.

Naruto tiba-tiba saja menopang dagunya dengan kedua tangan dan menatap lurus Shikamaru. "Aku benar-benar tidak menduga Ino mau menikah dengan Sai," ia memamerkan gigi-giginya yang putih.

Shikamaru tersenyum tipis, "Aku juga."

"Yah—Sai baik kok, meski dia agak—kurang ajar …." Naruto memandang Shikamaru dengan pandangan kau-tahu-apa-maksudku.

Shikamaru hanya tertawa kecil. "Wanita memang sulit ditebak."

"Setuju," ujar Naruto.

Shikamaru kembali pada kertas di tangannya.

Beberapa detik baru berlalu ketika Naruto mengajukan pertanyaan dengan nada polosnya, "Kau sendiri akan menikah dengan Temari-san, kan?"

Kertas di tangan Shikamaru terjatuh—berserakan di lantai kantor.

Senyum Naruto melebar. "Sudah kuduga—"

Shikamaru menghela napas. Mendengar nama Temari secara tiba-tiba itu mengingatkannya pada kejadian semalam. Ia tidak tahu dari mana Naruto mendapatkan gagasan seperti itu.

Shikamaru baru saja menjulurkan tangannya untuk membereskan dokumen di tangannya yang terjatuh ketika tiba-tiba Naruto memekik kecil, "Ah! Aku baru ingat."

Shikamaru mengangkat satu alisnya, lalu memandang Naruto dalam diam—menunggu.

Naruto bersuara dengan agak serius, "Pertemuan Aliansi sudah ditentukan waktu dan tempatnya." Ia berhenti untuk mencari sesuatu di tumpukan dokumen di meja kerjanya. Pemuda itu meraih sebuah surat dan mengulurkannya ke Shikamaru.

Tangan Shikamaru meraih kertas itu, membacanya sekilas. "Kau ingin aku mengurus materi Pertemuan Aliansi?"

Namikaze Naruto mengangguk. "Kali ini, setiap desa akan mengajukan materi yang ingin dibahas bersama. Aku ingin kau menyusun apa yang kira-kira bisa dibawa Konoha." Ia mengambil napas sejenak. "Soal akomodasi dan teknisnya, aku sudah minta Iruka-sensei yang mengurus. Kau bisa berkonsentrasi dengan materinya saja."

Shikamaru tampak mengamati isi kertas di tangannya. "Tak lebih dari dua bulan lagi? Sedikit mendadak," komentarnya.

Mengangkat bahu, Naruto menggerutu, "Memang dipercepat. Raikage sepertinya memiliki kegiatan besar di desanya sehingga mengajukan perubahan waktu." Naruto memandang Shikamaru setelah hening sesaat, lalu melempar seringai pendek. "Ngomong-ngomong, Temari-san mewakili Suna untuk membantu persiapan, seperti biasa. Jadi, kalian akan punya banyak waktu bersama."

Kali ini Shikamaru berhasil tidak menjatuhkan kertas di tangannya. Berdecak, pemuda itu melipat kertas dan mengantonginya. "Jangan menggodaku, Naruto," sahutnya.

Naruto tertawa.

"Sebaiknya aku pergi mengurus ini," ujar Shikamaru seraya berjalan menuju pintu dan menancapkan pandangan pada kertas-kertas. Pekerjaannya mulai menumpuk, dan sepertinya akan merepotkan.

"Oke! Tolong ya, Shikamaru," Naruto berujar cerah.

Pintu terbuka dan Shikamaru baru saja akan melangkah keluar sebelum ia terpikir sesuatu dan berhenti. Agaknya sedikit balas dendam tidak akan menggigit. "Ah, aku lupa," ujarnya seraya menoleh.

Naruto memiringkan kepalanya, meski satu tangannya memegang pena dan siap menandatangani dokumen di mejanya.

Menyeringai, Shikamaru berujar, "Kau sendiri, kalau tidak cepat-cepat, seisi desa akan benar-benar mengira kau punya hubungan khusus dengan si Uchiha itu, lho."

KRAK.

Pena di tangan Naruto patah menjadi dua. Shikamaru dengan santai menutup pintu dan terkekeh pelan ketika di seantero gedung Hokage terdengar suara keras, "SHIKAMARUUUUUUUU!"

Sayang sekali, bagi Nara Shikamaru, sekali-kali menggoda seseorang bukanlah sesuatu yang merepotkan untuk dilakukan.

.

#

.


"Ini dokumen yang kau cari, Shikamaru."

Shikamaru mengangkat wajah dari meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan kertas, dan mata hitamnya bertemu dengan sepasang mata perak yang menatapnya.

"Sankyuu, Neji," ujarnya seraya meraih kertas-kertas yang disodorkan pemuda pucat berambut coklat sepunggung. "Kenapa jounin sekelasmu sampai datang ke sini hanya untuk mengantar dokumen?" ia bertanya setelah meletakkan pena dan dokumen yang tadi sedang diperiksanya.

Hyuuga Neji duduk dengan lambat di sofa kecil berwarna lumut yang berada di ruangan itu.

"Yang kau cari itu salah satu laporan misiku. Naruto tadi memintaku sekalian mampir ke ruanganmu sebelum kembali ke rumah sakit untuk memastikan keadaan seseorang."

Shikamaru menyeruput teh hijau tawarnya yang masih membumbungkan uap panas. "Lee lagi?"

"Memangnya ada jounin lain yang bisa mematahkan kaki untuk sebuah misi tingkat C?"

"Kau bicara apa? Tentu saja ada."

Neji mengerjapkan mata beberapa detik sebelum tersenyum kecil; meniru Shikamaru di balik meja kerjanya. Ya—tentu saja, Naruto bisa berakhir dengan lebih dari sekadar patah kaki bahkan untuk misi tingkat C. Mengenal Hokage muda itu sejak kecil membuat mereka bisa menebaknya dengan mudah.

Shikamaru berdiri dan melangkah, lalu membanting tubuh dengan malas di samping Neji.

"Kau yakin tidak berniat menjadi jounin pembimbing? Siswa akademi tingkat akhir selalu menggangguku dengan menanyakan hal itu."

"Kalau harus bicara dengan gayamu, mungkin jawabannya adalah merepotkan."

Shikamaru terkekeh.

"Lagi pula, aku lebih menikmati menjadi jounin khusus seperti ini."

"Aku sempat mengira kau akan bertahan lama di Divisi Hukum. Pekerjaan itu agaknya cocok untukmu."

Neji mendesah sedikit. "Sejujurnya aku sedikit bosan di sana. Lagi pula, Naruto segera menarikku kembali ke jounin khusus dengan alasan 'menyia-nyiakan sumber daya berkompeten'—padahal dia yang sebelumnya memaksaku berakhir di Divisi Hukum."

Shikamaru tertawa mendengarnya.

Neji tersenyum dan memandang Shikamaru dengan tenang. "Aku sendiri tidak menyangka kau bisa bertahan begitu lama di Akademi, Shikamaru."

"Saat ini aku hanya pengawas ujian kelulusan saja. Belakangan ini aku lebih sering menganalisis laporan yang masuk ke desa. Kau tahu sendiri Naruto terkadang terlalu menyepelekan hal-hal kecil. Entah apa jadinya jika tidak diawasi," Shikamaru menyeringai sedikit.

Neji tersenyum singkat—ia jelas mengerti maksud Shikamaru. Setelah mencoba membetulkan posisi duduknya, Neji bicara lagi, "Ketika pulang dari misi aku melihat beberapa jounin Desa Suna. Apa sedang ada Pertemuan Aliansi?"

Shikamaru memandang langit-langit kekuningan di ruangan itu. "Tidak, hanya pertemuan rutin Konoha-Suna," jawabnya.

Neji diam, tidak berkomentar atas jawaban Shikamaru yang agak dingin. Tapi kemudian Shikamaru teringat surat di sakunya, dan segera meralat jawabannya, "Sebenarnya memang akan ada Pertemuan Aliansi. Tapi, itu masih dua bulan lagi."

"Begitu?" ujar Neji, dan dari nadanya, Shikamaru mengerti bahwa itu adalah akhir dari percakapan mereka. Beberapa saat kemudian, Neji bangkit berdiri. "Sebaiknya aku mengecek Lee. Kau tidak tahu apa yang akan dilakukannya bahkan dengan kaki patah seperti itu," katanya. "Absennya Sakura akan memudahkannya kabur dari rumah sakit."

Shikamaru tersenyum singkat, mengangguk. Kemudian Neji melenggang meninggalkan Shikamaru di ruangannya.

Ruangan yang dimaksud adalah ruang kecil yang ditempati Shikamaru sebagai 'kantor'-nya. Tepatnya, itu adalah sebuah ruangan persegi dengan satu jendela dan penuh tumpukan arsip, ditambah papan shogi, sebuah sofa tua, tiga buah kursi kayu, meja kerja dan rak buku. Di tempat itulah, Shikamaru menganalisis laporan masuk, memeriksa misi-misi, atau sekadar bermain shogi dengan sang Hokage.

Shikamaru bangkit dengan malas, kembali menuju meja kerjanya, lalu melihat-lihat dokumen yang baru saja diserahkan kepadanya. Pemuda jangkung berambut hitam itu membolak-balik halaman, sesekali mencari kertas lain di tumpukan arsipnya.

Dalam pikirannya, berputar pilihan-pilihan yang sedang dipertimbangkannya untuk dijadikan materi Pertemuan Aliansi. Banyak hal yang melintas, tapi tak satu pun yang benar-benar membuat pemuda itu puas. Mungkin pikiran Nara Shikamaru mulai terlalu banyak, sampai tak ada satu pun tampak berarti.

Namun, pemuda itu boleh sedikit lega—setidaknya, ide terkait materi-materi itu dapat sedikit menjauhkannya dari sesuatu seperti pernikahan.

.

#

.


Sore sudah hampir berakhir ketika Shikamaru duduk berhadapan dengan Akimichi Chouji, hanya dihalangi oleh meja yang dipenuhi daging asap berbau lezat.

"Jadi—nyam—bagaimana?" Chouji mengunyah potongan ketiganya.

Shikamaru menggoyang-goyangkan sake di gelas kacanya. "Hentikan membahas itu, Chouji. Aku mengajakmu ke tempat ini untuk membantuku melupakan hal itu." Ia meminum habis isi gelasnya sebelum melanjutkan, "Setidaknya sampai aku mendapat alasan yang jelas."

"Gomen. Soalnya yang diceritakan Ino benar-benar membuatku kaget," gumam pemuda bertubuh besar di depannya.

Shikamaru tidak berniat mengomentarinya. Bunyi sumpit yang beradu dengan piring kemudian terdengar. Restoran BBQ langganan mereka itu cukup ramai sehingga keheningan yang terjadi tidak terlalu kontras.

"Chouji, aku dengar dari Paman mengenai rencana perjodohanmu," ujar Shikamaru setelah akhirnya piring-piring daging mereka sudah kosong.

Semburat merah muda di pipi Chouji yang bertato spiral diragukan Shikamaru sebagai efek samping dari sake yang diminumnya.

"Masih rencana saja, Shikamaru. Pernikahan Ino lebih penting—" ia menjawab sambil meminum kembali isi gelasnya untuk mengalihkan pandangan Shikamaru.

Senyum kecil melintas di wajah Shikamaru. "Akhirnya gadis dari Negara Sayur itu, ya?"

Gurat merah itu muncul lagi. "Shi—Shikamaru!"

"Tidak perlu menyembunyikan begitu. Terakhir kali kita ke negara itu tahun lalu, aku sudah menduganya."

Chouji menggaruk pipinya.

"Paman dan Bibi kelihatannya gembira. Apa gadis itu akan pindah ke Konoha?"

"A—aku tidak—maksudku—kami belum merencanakan sejauh itu—" suara Chouji menjadi sedikit lebih pelan.

Shikamaru hanya tersenyum memandang tingkah sahabat sejak kecilnya itu. Chouji yang baik hati—gadis itu sangat beruntung. Untungnya Chouji sudah melupakan perasaannya kepada Ino—itu hanyalah ledakan masa remaja, mereka sudah menyelesaikannya dengan baik tanpa kehilangan kebanggaan dan kedekatan sebagai trio terkenal di Konoha: Ino-Shika-Chou.

"Shikamaru …."

"Hmmm?"

"Mengenai Temari-san—"

"Chouji," Shikamaru memotong sebelum Chouji bahkan membuka mulut untuk melanjutkannya, "sudah kukatakan aku ingin melupakan masalah itu sejenak."

"Tapi—" Chouji mencoba untuk bicara, tapi Shikamaru memandangnya lagi. "—maaf," ia menyerah.

Shikamaru menghela napas.

"Kondisinya rumit, Chouji. Aku sudah mengambil langkah yang sedikit terburu-buru kemarin," Shikamaru memberi jeda, teringat pada kejadian semalam yang membuatnya kembali ingin mencelupkan kepalanya ke dalam air dingin. "Semoga saja—tidak ada sesuatu yang membuat segalanya semakin merepotkan."

Chouji hanya bisa menarik bibir untuk sebuah senyum yang dipaksakan. Sementara Shikamaru, jauh di dalam otaknya, sebuah kemungkinan terburuk sudah terbayang.

Beberapa waktu dihabiskan dalam diam—dan sedikit gigitan renyah, aebelum akhirnya Chouji menelan keripiknya dan dengan hati-hati mencoba menyuarakan pendapatnya lagi.

"Yah … kau tahu? Aku hanya berpikir—" Chouji berujar perlahan, "—kalian kan dari dua desa yang berbeda. Jika menikah nanti, apa Temari-san bisa pindah ke Konoha? Soalnya kan dia kakak Kazeka—" Chouji menghentikan ucapannya tepat ketika Shikamaru memandangnya dengan serius. "Go—gomen, aku harusnya benar-benar nggak membicarakan itu!" Takut, ia buru-buru menenggak sake-nya setelah meminta maaf.

Namun, Shikamaru terpekur. Ucapan Chouji menyadarkannya akan beberapa hal yang seharusnya sudah dipikirkannya sejak lama.

Alasan—tentu saja. Mengapa ia tidak memikirkan kemungkinan itu sebelumnya?

.

#

.


.

Bersambung

.


Catatan Faria:

Silahkan abaikan berbagai detail yang mungkin sudah tidak sesuai dengan kondisi canon saat ini. Bagaimanapun, ketika saya menulisnya, dulu, segalanya masih belum jelas di canon.

Ngomong-ngomong canon, senang sekali membaca chapter terbaru Naruto dan mengetahui posisi Shikamaru sebagai penasehat Hokage, seperti yang saya gambarkan di fict ini, resmi menjadi kenyataan. Juga, tidak ada kabar kematian yang bisa membuat saya jantungan.

Terima kasih untuk respons-respons mengagumkan pada chapter awal lalu :) Semoga dapat menikmati chapter ini.

.

~fariacchi – 131010~