Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?

Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality.

Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.

Awesomely beta-ed by Sanich Iyonni. Enjoy!


DARI BAGIAN DUA

"Yahkau tahu? Aku hanya berpikir…" Chouji berujar dengan perlahan, "kalian kan dari dua desa yang berbeda. Jika menikah nanti, apa Temari-san bisa pindah ke Konoha? Soalnya kan dia kakak Kazeka—" Chouji menghentikan ucapannya tepat ketika Shikamaru memandangnya dengan serius. "Go—gomen, aku harusnya nggak membicarakan itu!" Takut, ia buru-buru menenggak sake-nya setelah meminta maaf.

Namun Shikamaru terpekur—ucapan Chouji menyadarkannya akan beberapa hal yang seharusnya sudah dipikirkannya sejak lama.

Alasan—tentu saja. Mengapa ia tidak memikirkan kemungkinan itu sebelumnya?


.

#

.

Ujung Mimpi

©fariacchi

Tiga: Bicara

.

#

.


Satu minggu hampir berlalu sejak percakapan dengan Chouji di restoran malam itu.

Hari-hari setelahnya dihabiskan Nara Shikamaru untuk berpikir—atau menatap awan di tempat favoritnya sebelum mengucapkan selamat berpisah kepada Temari yang akan kembali ke Desa Suna. Shikamaru punya cukup banyak waktu sampai saatnya gadis itu mengunjungi Konoha tiga minggu lagi—untuk mulai mengurus Pertemuan Aliansi sekaligus memenuhi undangan pernikahan Yamanaka Ino.

Sesungguhnya, pemuda itu sudah memiliki hipotesis yang melayang-layang di otaknya sejak malam ketika Chouji—hampir tanpa sadar—menyadarkan dirinya akan suatu fakta yang entah bagaimana luput dari pengamatannya selama ini. Namun Shikamaru tidak yakin apakah ia benar-benar harus menguraikan hipotesis itu. Setengah dari dirinya masih ragu untuk melibatkan diri dengan sesuatu yang tampak akan sangat merepotkan.

Hari-hari sendiri setelahnya, Shikamaru memilih bermain shogi di ruangan kerja miliknya, sambil sesekali melihat-lihat laporan dan mengawasi kegiatan di akademi. Tapi pemuda itu masih tidak bisa mengeluarkan sesuatu yang melayang di otaknya. Tanpa diminta, sel otaknya bekerja untuk mulai membuka simpul-simpul hipotesis yang menghantui dirinya.

Hari ke-sepuluh, akhirnya, Shikamaru berhenti untuk memerintahkan otaknya untuk tidak merespons hipotesis yang melayang itu.

Shikamaru lalu memutuskan untuk mendekam di perpustakaan Konoha—sesuatu yang berhasil membuat Naruto sekali lagi mematahkan pena dan mencuatkan matanya tidak percaya; atau membuat Neji mengangkat satu alisnya ketika berpapasan di seksi Sejarah dan Perkembangan Desa Ninja.

Hari ketiga belas, Shikamaru menyerah.

"Sebaiknya aku menunggu Sakura saja. Mencari di seluruh tempat sangat merepotkan," pemuda itu bergumam setelah menutup sebuah buku tebal berjudul Desa Suna: Politik dan Hubungan Eksternal. Setumpuk buku sejarah kumal dan gulungan-gulungan tua bertebaran di meja kayu yang menjadi tempat Shikamaru selama beberapa waktu terakhir.

Jika ingin mencari sesuatu di perpustakaan, Haruno Sakura adalah yang paling tepat ditemui. Gadis itu sudah mencoba menelan seluruh isi perpustakaan sejak ia masih di akademi. Dan lagi, pernah menjadi asisten dari Hokage sebelumnya—Tsunade, memberinya akses membaca buku-buku di seksi yang tertutup untuk umum.

Kali ini Shikamaru sedikit menyesal untuk melabel perpustakaan sebagai tempat yang terlalu merepotkan untuk dikunjungi. Hal-hal seperti sejarah adalah sesuatu yang selalu membuat Asuma melempar kapur untuk membangunkannya ketika masa-masa di akademi.

Sarutobi Asuma ….

Shikamaru tersenyum kecil. Jika gurunya itu masih ada, mungkin ia akan menjatuhkan rokoknya karena tidak percaya melihat Shikamaru mendekam di perpustakaan—apalagi karena sebuah urusan asmara.

"Shikamaru?"

Menolehkan wajah dengan sedikit terkejut, Shikamaru menemukan sosok seorang gadis berambut merah jambu dan bermata hijau yang memandangi dengan tatapan tidak percaya.

"Panjang umur, Sakura. Aku butuh sedikit bantuan—" ujar Shikamaru cepat. "Dan jangan memberi komentar. Sudah tiga puluh enam kali aku mendengar keheranan akan keberadaanku di perpustakaan, dan itu mulai merepotkan untuk didengar lagi."

Haruno Sakura tertawa kecil.

"Baiklah—aku tidak akan menambahnya jadi tiga puluh tujuh," ujarnya. Menarik kursi kayu di samping Shikamaru, ia membanting tubuhnya yang terbalut pakaian merah, lalu meletakkan tumpukan dokumen yang dibawanya di atas meja.

"Ngomong-ngomong, kapan kau kembali? Kudengar kau ada misi jangka panjang dengan Yamato-taichou dan Sai?" Tanya Shikamaru seraya membuka-buka gulungan yang tadi belum disentuhnya.

"Kemarin malam. Sekarang Naruto memintaku mengerjakan beberapa laporan untuk Negara Api," jawab Sakura. Ia menghela napas. "Payah—anak itu benar-benar mengacaukan sistem administrasi yang sudah kubuatkan untuknya. Setiap kali pulang misi, aku harus menata ulang semua laporan dan surat-surat yang bertebaran di kantornya!"

"Sehari lagi kau belum pulang, agaknya Naruto berniat memerintahkan Gamakichi menenggelamkan kantornya. Kotetsu-senpai dan Izumo-senpai cukup tertekan beberapa hari ini karena Naruto sedikit pemarah akibat muak melihat keadaan kacau kantornya."

"Itukah mengapa kau kabur ke perpustakaan?"

"Yah—itu dan hal lain. Semuanya merepotkan," ujar Shikamaru.

"Senang masih mendengar kata itu di desa ini, Shikamaru." Tersenyum, Sakura memandang pemuda di sampingnya. "Jadi, ada apa?"

Shikamaru mendadak diam. Ia berhenti dari kegiatan membuka gulungan atau sekader membolak-balik halaman buku. Ia memutar tubuhnya untuk menghadap Sakura, memandangnya lurus-lurus.

"Ada informasi yang ingin kucari," ujarnya.

Sakura memiringkan kepalanya dengan agak heran. Tidak biasanya nada serius seperti itu terdengar dari Nara Shikamaru.

.

#

.


Sore sudah menjemput ketika Nara Shikamaru menyusuri jalan kecil di Konoha. Beberapa shinobi muda terlihat baru menyelesaikan misi dengan wajah ceria, beberapa anak kecil terlihat berlarian memainkan shuriken dan kunai plastik.

Kedamaian yang menenteramkan hati …. Tapi mungkin tidak untuk Shikamaru.

Pemuda itu menghela napas, lalu berjalan dengan kedua tangan nyaman di dalam saku celana, sambil menggaruk pelan kepalanya. Bahkan Sakura membutuhkan waktu untuk menemukan dokumen yang ingin dilihatnya. Mengapa semuanya begitu merepotkan?

Baiklah, Shikamaru belum pernah mengujarkan kata merepotkan sebanyak ini dalam satu minggu terakhir selama hidupnya. Sepertinya kali ini ia berhasil mencetak rekor.

"Shikamaru?"

Suara lembut itu mengejutkan Shikamaru. Pemuda itu menoleh, dan mendapati sosok wanita cantik bermata merah dengan rambut hitam panjang yang tergerai sepunggung.

Belum sempat Shikamaru memanggil sosok itu, sebuah suara mungil terdengar dan memutus ucapan Shikamaru. "Shika-sensei!"

Seorang anak laki-laki berusia lima tahun berlari dan memeluk kaki panjang Shikamaru dengan dua tangan kecilnya.

Shikamaru menunduk, memandang sosok kecil yang tampak seperti replika ayahnya—dengan sedikit perbedaan berupa bola mata merah menyala yang indah. "Kazuma," Shikamaru tersenyum.

"Sensei! Kapan mau mengajariku main shogi lagi?" Sarutobi Kazuma menarik-narik celana hitam Shikamaru dan memandang pemiliknya dengan senyum polos ceria.

Shikamaru meletakkan satu tangan untuk mengacak rambut anak itu.

"Diajari pun percuma, kau tidak akan bisa menang dariku," ujarnya seraya menyeringai.

Kazuma menggembungkan pipinya dan menggerutu, membuat Shikamaru tersenyum kecil.

Di depannya, Sarutobi Kurenai memandang dua sosok berbeda usia itu dengan tatapan lembut. Ia memperhatikan ketika Shikamaru mengangkat tinggi-tinggi tubuh Kazuma, menggodanya dengan seringai jahil yang jarang diperlihatkannya kepada orang lain.

Kemudian wanita cantik itu membuka suara lagi, "Shikamaru."

Tawa Shikamaru terhenti. Masih menggantung tubuh Kazuma dengan tangannya, pandangannya bertemu dengan mata merah menyala Kurenai.

"Mau menemani kami berkunjung ke makam Asuma?" ia bertanya dengan suara jernih.

Shikamaru terdiam, namun menurunkan Kazuma dan membiarkan Kurenai tersenyum padanya.

"Tentu," ia manjawab pelan.

.

#

.


Angin sore menggoyangkan rambut panjang Kurenai. Wanita itu mengatupkan tangan di depan dada, melafalkan suatu doa di dalam hati. Kazuma, di sebelahnya, tampak dengan sungguh-sungguh memejamkan mata—seolah mencoba berbicara dengan sang ayah.

Nara Shikamaru, di sisi lain, hanya mematung menatap goresan nama di nisan batu yang dihiasi seikat bunga poppy segar berwarna merah. Ia membiarkan menit demi menit berlalu dalam hening.

Hingga Kurenai membuka bola mata merahnya, lalu berujar tanpa menoleh, "Sudah lima tahun berlalu—" Shikamaru diam. "Shikamaru, seperti janjinya, telah menjaga Kazuma, menjadi sosok panutan yang bisa dibanggakan." Kurenai menyentuh pundak mungil Kazuma, yang masih berdoa dengan tenang, kemudian melanjutkan, "Kau pasti bangga."

Ada desir memberontak ketika Kurenai memujinya di hadapan nisan Asuma. Namun Shikamaru tidak menjawab, matanya hanya terpaku di helai kelopak bunga merah yang tertiup angin ke horizon.

Detik-detik damai terasa menghipnotis Shikamaru. Ia tidak sadar hingga Kurenai bersuara, "Sedang ada masalah, Shikamaru?"

Pemuda itu terkejut sedikit. Ia menoleh, memandang bola mata merah indah dari pemilik nama asli Yuuhi Kurenai yang tampak berkilat. Dari sudut matanya, Shikamaru dapat melihat Kazuma sedang berlarian ceria memetik bunga di sisi bukit pemakaman.

Sepertinya Shikamaru sudah cukup lama termangu.

"Asuma … sudah menganggapmu seperti anaknya sendiri," Kurenai bicara lagi. Kali ini ia mengarahkan pandangannya pada kelopak bunga yang beterbangan pelan di sekitar mereka. "Aku pun menganggapmu seperti itu," lanjutnya.

Shikamaru diam.

Tangan Kurenai berpindah menyentuh bahu tegap Shikamaru—meyakinkan pemuda itu.

"Kau bisa menceritakan apapun padaku. Jangan menyimpan semuanya sendiri."

Shikamaru menoleh, memandang wanita cantik di sampingnya, lalu tersenyum.

"Arigatou," ujarnya.

Matahari mulai tenggelam ketika Kurenai bangkit berdiri dan mengucapkan salam berpisah pada Shikamaru. Setelah pelukan ceria dari Kazuma yang bersemangat, dua sosok itu berjalan menjauh dari area pemakaman.

Shikamaru terpekur sendiri di tempat itu. Ada sesuatu yang menahannya untuk pergi—entah apa.

Denting pemantik terdengar bersamaan dengan embusan asap putih yang bertaut dengan beberapa helai kelopak bunga merah di depan nisan.

Membiarkan rokok terselip di bibirnya, Shikamaru mulai bicara begitu saja. "Hei, Asuma—"

Tentu tidak ada yang menjawab. Namun Shikamaru merasa begitu tenang.

"—kalau kau ada di sini sekarang, kau pasti sudah menertawakanku, kan?"

Asap lagi.

Shikamaru menghela napas, lalu mengadahkan kepala melihat awan keemasan yang melayang pelan di atas sana.

"Aku selalu mengeluh bahwa segalanya merepotkan—tapi kau tahu bahwa aku menikmati hidupku." Shikamaru menatap nisan lag. "Aku tahu ini konyol. Tapi, kurasa aku tetap perlu meminta restumu."

Senyum tipis terkembang di wajah Shikamaru.

"Ini memang merepotkan. Aku tidak pernah mengira bahwa akan tiba hari dimana aku benar-benar memperjuangkan sesuatu untuk hidupku sendiri." Tangan Shikamaru bergerak mengusap kanji nama yang terukir di nisan, lalu ia berujar lagi, "Aku akan menikah."

Desir angin seperti menjawab. Shikamaru merasakan kelegaan di sekitarnya, seolah Asuma ada di sampingnya dan menepuk pundaknya.

"Sudah kuputuskan bahwa wanita merepotkan itu yang kupilih untuk mewujudkan bagian dari rencana hidupku," ia berkata pelan.

Shikamaru menghisap rokoknya sekali lagi, lalu memejamkan mata dan bangkit berdiri.

"Aku harap kau tidak merusak jantungmu lebih parah dari yang rokok lakukan padamu—jadi, jangan tertawa, Asuma."

Kemudian Shikamaru melenggang pergi dengan senyum tenang di wajahnya. Ia merasa sedikit lebih lega—sekaligus semakin yakin dengan dirinya sendiri.

Sudah cukup. Ia akan mengakhiri semua keadaan tidak jelas ini dengan kepastian yang tegas.

.

#

.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan ketika Shikamaru berjalan menyusuri lorong berlantai kayu di rumah keluarga Nara yang bergaya tradisional. Pintu bergeser, menampakkan ruang segi empat dengan dinding pintu yang dilukis dengan sosok-sosok rusa jantan dalam latar belakang warna lumut.

Nara Shikaku duduk tenang di depan papan shogi, mengusap-usap dagunya sebelum menggerakkan satu pion kayu di papan itu.

Tanpa suara, Shikamaru menutup pintu dan duduk di hadapan ayahnya.

Akhirnya permainan shogi mulai dimainkan oleh dua orang.

"Beri tahu alasannya," Shikamaru bersuara—langsung kepada intinya, seraya menjalankan bidaknya dengan serius.

Tangan Shikaku berhenti di udara sedetik. Namun ia meraih bidaknya lagi dan menjalankannya tanpa menoleh. "Alasan apa?"

Suara kayu yang bertautan menggema di ruangan kosong yang bernuansa hijau itu. Rusa-rusa di dinding tampak seperti mengawasi dua sosok yang mirip itu.

"Alasan kalian tidak setuju dengan Temari," Shikamaru mengucapkannya dengan yakin.

Shikaku tampak seperti tidak mendengar. ia hanya menjalankan gilirannya seperti biasa. "Tanyakan pada ibumu," sahutnya.

Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Shikamaru memandang tajam sosok ayahnya. Beberapa saat saja, lalu ia kembali menekuri papan shogi di depannya. "Apa aku boleh menarik kesimpulan bahwa yang tidak setuju dalam masalah ini hanya Ibu saja?"

Jeda. Giliran Shikaku menjadi sedikit lebih lama dari sebelumnya. "Tidak juga."

Shikamaru berusaha mendinginkan pikirannya. Selama logikanya masih berjalan dan dingin, ia akan bisa bertindak dengan efektif untuk mencapai tujuan.

Pemuda itu merendahkan suaranya hingga terdengar lebih tenang sebelum berujar lagi, "Lalu apa alasannya?"

"Aku sudah menjawabnya: tanya ibumu."

Shikamaru mulai menyerang dengan langkah permainan yang terselubung. Diam-diam ia mulai mendesak pertahanan Shikaku. "Aku ingin mendengar jawabanmu."

"Aku tidak ingin ikut campur."

Shikamaru menjalankan gilirannya dengan percaya diri. "Kau sudah terlibat," ujarnya. "Bukankah pandangan kita mengenai wanita serupa? Kau mengerti kenapa aku tidak ingin bicara dengan Ibu."

Shikaku berpikir sebentar sebelum menjalankan bidaknya. "Aku tahu."

"Lalu apa alasannya?"

"Sudah kubilang—"

"Tsumi*," Shikamaru memotong ucapan Shikaku dengan serangan tepat di depan bidak bertuliskan raja.

Nara Shikaku menghela napas panjang. Ia menyerah.

Rusa di dinding mengawasi ketika ayah dan anak itu saling bertukar pandang. Shikaku menangkap mata Shikamaru yang berkilat sungguh-sungguh.

Jauh di dalam hati, ia begitu mengenal putranya. Ia tahu bahwa saat seperti ini akan tiba suatu hari. Shikaku sadar dan yakin, saat ia melihat sosok remaja Shikamaru yang meneteskan air mata di depan seorang gadis Suna pada suatu kejadian di masa lalu—agaknya tujuh tahun lalu? Tidak meleset sama sekali; tapi Shikaku sesungguhnya berharap hal ini sebaiknya tidak terjadi.

Akhirnya, Shikaku buka suara, "Apa kau tahu asal-usul ibumu?"

Shikamaru menaikkan alis atas pertanyaan yang sama sekali tidak diduganya itu.

"Apa maksudmu? Tentu saja—" Shikamaru memutus jawabannya. Mendadak ia menyadari sesuatu.

Tunggu. Ia tidak tahu.

Ia tentu sudah mendengar sejarah klan Nara sejak kecil—hingga ia bosan. Ia tahu kakek-nenek dan pendahulu klannya, juga hubungan klannya dengan klan-klan lain di Konoha sejak awal berdiri. Ia juga tahu bahwa nama Nara diwariskan dari ayahnya—Nara Shikaku.

Tapi ternyata ia sama sekali belum pernah mendengar mengenai Nara Yoshino—ibunya sendiri.

Shikamaru melemparkan pandangan tidak mengerti ke arah Shikaku yang diam mengawasi.

"Tentu saja kau tidak tahu," ujar Shikaku.

Diam.

Shikaku menjulurkan tangan, perlahan merapikan bidak-bidak kayu di atas papan shogi, mengacuhkan pandangan Shikamaru.

"Kau tidak tahu, karena semua orang akan menghindari topik yang tabu seperti itu."

"Tabu?" Shikamaru mengerenyitkan dahi.

"Kau tidak akan pernah mendengar ini pada pelajaran Sejarah di Akademi sekali pun. Tidak banyak orang yang tahu tentang ini. Kau tidak akan dengan mudah menemukannya bahkan di dokumen atau buku di Konoha. Pembicaraan mengenai hal ini tersembunyi hanya pada orang-orang penting yang mengatur Desa."

Shikamaru membulatkan mata. Otaknya merespons sebuah kombinasi petunjuk dari serangkaian kata yang baru saja dicernanya. Mendadak ia teringat lembar-lembar dokumen yang ditekuninya di perpustakaan desa selama seminggu terakhir.

Mustahil, bukan? Shikamaru tidak ingin mendengar bahwa yang akan dibicarakan ayahnya adalah mengenai kemungkinan yang sudah ia bayangkan. Karena, masalahnya, ini tentang keluarganya sendiri—bukan sesuatu yang berhubungan dengan kakak dari Kazekage jika harus meninggalkan desanya ke desa lain.

"Maksudmu, ibu—" Shikamaru tidak meneruskan kalimatnya.

Shikaku berhenti dari kegiatan dengan shogi dan menatap lekat putranya yang tampak terkejut. Tidak menjawab apapun, ia hanya mengangguk singkat.

Shikamaru terpekur memandang bidak shogi yang berserakan di depannya.

Segalanya seperti berputar. Semua yang dilaluinya sejak awal ia mengutarakan keinginan dengan Temari seolah menjadi keping-keping puzzle. Sekarang, semuanya tersusun menjadi satu dari sudut pandang yang lain.

Mendadak Shikamaru mengerti.

Itukah? Mengapa ekspresi ibunya tampak begitu ganjil ketika Shikamaru bicara saat itu?

Rusa di dinding hanya membisu ketika Shikaku bicara, "Shikamaru, pernikahan antardesa adalah hal yang sulit …."

Bidak shogi terlantar tanpa tersentuh.

Mata hitam Shikaku memandang lurus wajah Shikamaru yang diam di depannya. "Kau harus tahu bahwa kami memikirkanmu. Aku dan ibumu adalah orang yang paling mengetahui apa yang akan kau lalui jika kau benar-benar menikah dengan gadis itu."

Diam.

Shikaku bangkit berdiri.

"Pikirkanlah segalanya kembali," katanya. Lalu laki-laki itu membuka pintu geser dan menghilang dengan sebuah tatapan singkat ke arah Shikamaru yang mematung.

Di luar, Shikaku menatap sosok Nara Yoshino yang duduk meringkuk di dekat pintu. Tubuh wanita itu bergetar dan air mata mengalir di pipinya. Tanpa suara, wanita itu menggumamkan maaf untuk putranya yang masih terdiam di dalam ruangan.

Shikamaru memandang kekosongan di depannya. Kali ini ia tidak akan mengucapkan kata 'merepotkan'. Segalanya terlalu kompleks untuk sekader didefinisikan dengan kata itu.

Tidak pernah sekali pun ia menyangka bahwa ayah dan ibunya menjalani pernikahan antardesa.

Dan sekarang, ia nyaris melangkah ke dalam situasi yang sama.

Mendadak Shikamaru merasa lelah dengan semuanya. Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya, berbaring memandang langit-langit di atasnya. Segala yang baru saja didengarnya menguap ketika ia memejamkan mata.

Semuanya terasa begitu kacau.

.

#

.


.

Bersambung

.

*) Skak mat dalam permainan shogi

.


Catatan Faria:

Yang mau peluk-peluk Kazuma, silahkan :')) Seperti yang sudah saya tuliskan di peringatan, fic ini mengambil setting waktu di masa depan. Akan ada beberapa detail kecil seperti nama yang menjadi keleluasaan saya. Well, saya sudah mengenalkan si kecil Kazuma jauh sebelumnya melalui fic 'Seperti Awan'.

Kemudian, segala mengenai Nara Yoshino adalah murni ide pribadi. Saya rasa Kishimoto-sensei tidak akan memperumit latar berlakang karakter di Naruto seperti ini. Well, tidak ada yang mengatakan itu salah, jadi tidak ada salahnya berpikir kemungkinan itu, kan?

Secara kebetulan, beberapa setting dari adegan di chapter ini tergambar pada animasi Naruto Shippuuden episode 82 (第十班, Team Ten). Meski chapter ini baru ditulis pada tahun 2010, animasinya sendiri baru saya tonton jauh setelahnya. Sungguh, saya terpekik sendiri ketika menemukan seperti adegan fanfiksi saya seolah dianimasikan. Hahaha. Well, episode itu adalah salah satu episode favorit saya; karena segalanya adalah tentang Nara Shikamaru. Untuk hitungan filler, episode itu benar-benar detail menggali emosi dan berbagai setting. Saya menulis karya ini dengan feel episode tersebut di kepala. Segala setting, bahkan sebagian karakterisasi, saya maksudkan mengacu pada episode tersebut. Jika ada yang menonton ulang, sampaikan salam saya pada rusa-rusa di dinding pintu itu :')

Terima kasih telah membaca!

.

~fariacchi – 131030