Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?
Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality; almost Shikamaru-centric. Belum di-beta.
Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.
DARI BAGIAN EMPAT
… Menjadi dewasa adalah hal yang sulit: dimana seseorang harus siap memutuskan segalanya, dan menerima resiko sebagai bagian dari masalah …
… Mereka perlu meninjau ulang segalanya. Segala resiko itu—mereka harus memikirkannya matang-matang. Segalanya terlalu besar.
Selagi mereka masih memiliki waktu—jangan sampai ada penyesalan.
.
#
.
Ujung Mimpi
©fariacchi
Lima: Puncak
.
#
.
Yamanaka Ino menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mencoba melengkungkan senyum manis, namun menghentikan usahanya di tengah jalan—terlihat tidak jujur.
Mendadak pintu di belakangnya terbuka. Ino terkejut dan menoleh, mendapati sosok seorang pria dalam balutan jas hitam yang sempurna.
"Shikamaru …," ia bersuara pelan.
Nara Shikamaru memandang gadis yang terduduk di depan meja rias itu, lalu tersenyum. "Kau cantik," ujarnya.
Ino memaksakan sebuah senyum, lalu memutar tubuhnya kembali ke depan cermin. "Tentu saja aku cantik," sahutnya ceria.
Shikamaru mengawasi ketika Ino merapihkan untaian rambut panjangnya yang tergerai pirang di punggungnya. "Rambutmu benar-benar panjang, ya?"
"Hei, kau ini kemana saja, sih? Sejak dulu rambutku memang sudah panjang, kan?" Ino tertawa kecil dan memastikan letak jepit rambut perak yang membagi rambutnya menjadi setengah ikat di tengah kepala.
Shikamaru melangkahkan kaki dan mendekati Ino. Sepatu kulit hitamnya beradu dengan lantai, menimbulkan gema di ruangan kecil itu.
Ino mencengkram gaun putihnya, lalu ia mengambil nafas panjang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, dan meyakinkan bahwa segalanya baik-baik saja. Ia adalah Yamanaka Ino yang baru, yang akan segera menjadi istri pemuda bernama Sai.
Tangan Ino yang terbalut sarung tangan putih meraih mahkota kecil berhias bunga berwarna ungu yang tertutup kain transparan panjang. Ino baru akan memasang penutup kepala itu di rambutnya ketika tangan Shikmaru menghentikannya.
"Biar kupakaikan," Shikamaru berujar lembut.
Ino mengangguk pelan. Dari sudut matanya, ia memandang pantulan Shikamaru yang dengan hati-hati memasangkan mahkota kecil itu di kepalanya.
Mendadak Ino merasa pengendalian dirinya runtuh. Tiba-tiba saja air mata tergenang di sudut mata aqua-nya. Dan Ino menyadari bahwa Shikamaru menatapnya, memperhatikannya dari pantulan cermin.
"Ino … kau akan menjadi pengantin yang paling bahagia," ujar Shikamaru.
Meraih tissue di atas meja, Ino berhasil mencegah air mata mengacaukan riasannya.
Mahkota kecil terpasang sempurna di kepala Ino. Shikamaru menjulurkan tangan untuk merapihkan kain transparan panjang yang menjuntai hingga lantai, menutupi rambut pirang di punggung Ino.
Diam.
Ino merasakan tubuhnya bergetar ketika suara Shikamaru yang jernih bergema di ruangan itu. "Kau mencintai Sai, kan?"
Ino mencengkram tissue di tangannya. "Aku mencintainya—sangat …," suaranya bergetar.
Shikamaru meletakkan kedua tangannya di bahu kecil Ino, lalu memandang gadis itu dari pantulan cermin. Aqua bertemu dengan hitam pekat. Dua sosok itu saling menatap dari balik cermin. Lalu Shikamaru tersenyum dan berujar sungguh-sungguh, "Berbahagialah, Ino—"
Perlahan, Ino membiarkan setetes air mata mengalir di pipinya, lalu ia memandang Shikamaru dan menghadiahkannya sebuah senyum tulus. "Arigatou—Shikamaru …." Ino menyentuh satu tangan Shikamaru yang berada di pundaknya, dan merasakan Shikamaru menggenggam tangannya untuk menguatkan.
Ia tidak bisa mundur lagi.
Dan Shikamaru meraih penutup transparan yang menjuntai dari mahkota kecil di kepala Ino, kemudian dengan perlahan menjatuhkan kain itu ke arah depan sehingga menutupi wajah Ino.
Ino memandang dalam gerak lambat, lalu menarik nafas dalam-dalam—ia siap.
Shikamaru menjulurkan tangannya dengan sopan di samping tubuh Ino. "Ayo, Tuan Putri," ujarnya.
Ino tertawa kecil, lalu meraih tangan Shikamaru dan bangkit berdiri.
Dua sosok itu berjalan dengan hati-hati di dalam ruangan, menuju pintu di sudut. Kemudian Shikamaru meraih pegangan pintu dan membukanya.
Ino menguatkan lengannya yang terkalung di lengan Shikamaru, lalu berujar pelan dari balik penutup kepalanya, "Arigatou, sudah memenuhi permintaanku untuk menjadi pendamping pengantin."
Shikamaru menggenggam tangan Ino dengan lembut. "Sama-sama. Itulah gunanya sahabat, kan?"
Langkah Ino tidak terhenti. Ia merasakan sebuah tusukan, tapi ia bisa menerimanya.
"Ya," jawabnya.
.
#
.
Bukit hijau yang dipenuhi dengan bunga beraneka warna dipilih sebagai tempat upacara.
Langit hari itu tampak cerah, dengan awan putih yang memberikan kesan teduh. Upacara pernikahan itu dihadiri oleh sebagian besar penduduk desa, Rokudaime Hokage, dan semua teman-teman yang menjadi bagian dari hidup Ino selama ini.
Akimichi Chouji—beserta kedua orangtuanya—duduk di baris terdepan. Begitu juga dengan Nara Shikaku dan Nara Yoshino, yang duduk tepat di samping ibu dari Yamanaka Ino. Di baris yang bersebrangan, tampak Namikaze Naruto, didampingi Uchiha Sasuke, Shizune, serta Sarutobi Kurenai—yang juga mengajak Kazuma. Di belakang mereka, tampak wajah-wajah tidak asing bagi Ino, Shikamaru dan Sai: Hyuuga Hinata, Inuzuka Kiba, Aburame Shino, Hyuuga Neji, Rock Lee, Ten Ten, juga Temari dan beberapa ninja lain yang familiar.
Haruno Sakura tampak cantik dalam balutan gaun merah muda, berdiri anggun mendampingi Sai yang mengenakan tuxedo putih. Mereka berdiri di samping pendeta berpakaian hitam panjang, dan menatap sepasang sosok yang berdiri di bawah gerbang tanaman berhias bunga-bunga ungu.
Yamanaka Ino berjalan tenang dalam gaun pengantin seputih kapasnya yang tampak lembut tertiup angin. Paras cantiknya disembunyikan oleh penutup wajah yang bagian belakangnya menjuntai hingga menyentuh rumput. Rambut pirang gadis itu tergerai panjang, lembut dan bergoyang pelan menerima angin. Ino menggenggam buket bunga indah yang didominasi warna ungu dan kuning pucat. Di sampingnya, Nara Shikamaru berdiri tegap sebagai pendamping.
Seluruh mata memandang dengan lekat. Senyum bahagia turut mewarnai ekspresi para tamu. Yamanaka Ino tampak begitu bersinar.
Dari balik penutup wajahnya, Ino bisa menemukan senyum sempurna Sai yang berdiri di samping Sakura. Langkah dirinya dan Shikamaru terhenti tepat beberapa langkah di hadapan meja altar.
"Sampai di sini, Ino." Shikamaru berbisik pelan.
Ino mengangguk kecil. Ia sudah siap.
Perlahan, Shikamaru melepaskan tangannya. Ino tersenyum—getir. Ia tahu, bahwa itu adalah terakhir kalinya Shikamaru menggenggam tangannya. Ia tahu, segalanya sudah berakhir.
Kali ini Shikamaru akan benar-benar melepaskannya—untuk selamanya.
"Hontou ni … arigatou—Shikamaru …." Ino berujar pelan ketika lengannya menjuntai kembali di sisi tubuhnya. Kali ini suaranya tidak bergetar, namun ia merasakan pandangannya mengabur karena air mata yang tergenang.
Kemudian sebuah lengan terjulur ke arahnya. Ino memandang lengan terbalut busana putih itu, lalu memandang wajah pemiliknya.
Itu Sai.
"Kau cantik sekali," Sai berujar lembut, dan memberikan senyumnya yang paling sempurna dan tulus.
Kehangatan menjalari tubuh Ino. Air mata mengalir untuk terakhir kalinya, dan ia meraih tangan itu. Tangan itu membimbingnya, sekaligus menjaganya dengan hati-hati dan penuh kasih sayang.
Benar, ia adalah Yamanaka Ino yang baru. Detik dimana ia meraih tangan Sai, maka pintu di belakangnya sudah tertutup untuk selamanya.
Namun tangan yang menuntunnya begitu hangat, melenyapkan seluruh keraguannya.
Dan upacara itu dimulai.
Di sudut, Haruno Sakura mengamati sosok dua sahabatnya yang saling berpegangan di hadapan pendeta yang mulai membacakan janji pernikahan. Pelan, ia berujar kepada sosok Shikamaru di sampingnya, "Arigatou, Shikamaru."
"Aku tidak melakukan apa pun. Ia sudah memilihnya. Ia gadis yang kuat, Sakura," Shikamaru berujar, memandang lekat sosok Ino yang kini membiarkan Sai membuka penutup wajahnya.
"Ya—" Sakura berujar dengan suara bergetar. Setetes air mata bahagia meluncur dari pipinya ketika dalam gerak lambat Sai bergerak untuk menyentuhkan bibirnya dengan lembut ke bibir Ino. "Kau benar." Sakura merasakan kebahagiaan tulus dari dalam hatinya.
Shikamaru tersenyum tipis.
Pernikahan adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Bahkan sepercik kebahagiaannya mampu membuat Shikamaru melupakan masalahnya sendiri.
Perlahan, mata hitam Shikamaru menemukan sesosok gadis di salah satu bagian kursi undangan. Ia mengamati sosok itu, dan tersenyum ketika sosok itu membalas pandangannya. Dari kejauhan, Shikamaru bisa menemukan kilat yang dimengertinya dari mata sosok itu.
Seulas senyum lembut terukir di wajah Temari. Mata turquoise gadis itu menyiratkan sebuah impian yang sama seperti yang mungkin dipantulkan mata hitam Shikamaru. Bahkan dari kejauhan, Shikamaru dapat membayangkannya.
Pernikahan yang indah, dan sempurna.
.
#
.
Upacara telah selesai ketika seluruh tamu undangan berdiri, bertepuk tangan dengan cerah menatap pasangan pengantin yang tampak berbahagia di ujung altar.
Shikamaru berjalan di tengah kerumunan undangan yang berdiri berjajar di sebuah jalan rumput yang dibatasi oleh bunga-bunga berwarna segar. Ino dan Sai tampak berjalan bersisian dengan lambat, melemparkan senyum bahagia ke sosok teman-teman yang mereka kenal.
Senyum tulus terlengkung di wajah Shikamaru ketika melihat Ino tertawa ceria seraya mengaitkan lengannya dengan erat di lengan Sai.
"Aku tidak menyangka akan melihatmu mengenakan jas dan dasi seperti itu," sebuah suara begitu saja terdengar dari sisi tubuh Shikamaru.
Pemuda itu menoleh, mendapati sosok gadis berambut pirang berkuncir empat memandang lurus pada pasangan pengantin yang baru saja melewati mereka.
"Kukira itu akan terlalu merepotkan untukmu," gadis itu menatap Shikamaru dan tersenyum tipis.
Shikamaru mendecak sedikit, tapi membalas senyum itu. "Jangan menggodaku, Temari."
Tawa kecil Temari tertelan riuh tepuk tangan dan ucapan selamat, tapi Shikamaru mampu mendengarnya. Sesaat, tawa itu seperti mengantarkan Shikamaru kepada suatu kedamaian yang hilang dari hatinya selama satu bulan terakhir.
Begitu kuatnya aura kebahagiaan, hingga Shikamaru merasa seperti seorang pemuda yang cerah, bersanding dengan gadis yang akan mendampingi hidupnya. Tanpa mempedulikan dunia shinobi dan aturan yang menjeratnya. Meski hanya sekilas, Shikamaru merasakannya—seolah seluruh masalah yang mengendap di otaknya menguap untuk beberapa satuan waktu.
Kemudian tangan halus menggamit begitu saja di lengan Shikamaru. Shikamaru melirik dan mendapati Temari mengaitkan lengannya dengan erat. Lengan terbalut kimono berwarna keunguan itu begitu hangat.
Shikamaru tidak mengerti bagaimana kehangatan itu mampu menamparnya kembali ke kenyataan. Di otaknya berputar resolusi yang sudah disiapkannya bermalam-malam lalu.
Segalanya harus dipikirkan kembali …
Shikamaru terpekur memandang Temari yang tampak tersenyum mengamati pasangan pengantin yang tampak berhenti agak jauh dari mereka. Mengamati lekuk wajah Temari, Shikamaru menemukan kelembutan di balik titik-titik keras di wajah itu.
Segalanya harus ditinjau ulang …
Bibir merah muda Temari terlengkung indah, sempurna menghias garis hangat di wajahnya. Mata turquoise itu berkilat, seperti memandang mimpi yang baru saja melewati dirinya.
Segalanya memang harus. Tapi—sekarang pertanyaannya adalah—bisakah?
"Shikamaru—" begitu saja suara rendah terdengar dari bibir Temari. Ada sesuatu di nada suara itu yang begitu kontras dengan wajah ceria yang ditampilkan pemiliknya beberapa detik lalu.
Lengan yang terkait begitu saja berubah menjadi cengkraman ganjil, menyadarkan Shikamaru dari pikiran-pikirannya. Sebelum bisa menjawab, lebih dahulu mata pekat Shikamaru menemukan wajah Temari menoleh—memandang lekat dirinya.
Ekspresi itu begitu berbeda. Shikamaru mungkin saja berdelusi, tapi ia menangkap kegelisahan kuat di garis wajah Temari.
Sepasang mata Temari memandang lekat, bibir merah muda gadis itu baru saja membuka—namun tidak ada suara. Sebagai gantinya, tanpa sadar cengkraman di lengan Shikamaru menjadi lebih kuat.
"Shikamaru, aku—"
Keramaian tiba-tiba yang datang dari kerumunan tamu wanita yang tampak bergerombol di belakang pasangan pengantin menghentikan ucapan Temari.
"Ayo lempar!" Suara nyaring seorang gadis terdengar.
Namun Shikamaru terpaku pada sepasang mata gadis di hadapannya. Ucapan gadis itu terhenti begitu saja, menggantungkan Shikamaru pada suatu kemungkinan yang tidak ingin dipikirkannya. Lalu gadis itu melepaskan tangannya dari lengan Shikamaru, dan perlahan menurunkan pandangannya.
"Temari—"
"Satu! Dua! Lempar!"
Pekik nyaring para gadis membuyarkan segalanya. Bersamaan, Shikamaru dan Temari menggeser pandangan ke arah kerumunan di belakang sosok pengantin wanita yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Buket bunga cantik dengan paduan warna ungu lembut dan kuning pucat melayang sempurna melewati kerumunan. Buket itu seperti melayang lambat di mata Shikamaru, menuju ke arah yang dekat dengannya.
"Aku dapat!" Haruno Sakura berujar cerah seraya mengangkat lengannya tinggi-tinggi. Namun tidak—buket itu melayang tipis, jatuh hanya beberapa saat setelah melewari kepala merah jambu gadis itu.
Lalu berakhir di sana—jatuh dalam tangkapan tangan Temari.
Shikamaru membulatkan matanya.
"Ah! Temari-san dapat!" Sakura memekik.
Kerumunan gadis menoleh, memandang Temari yang sedikit terkejut dengan buket bunga di tangannya. Di kejauhan, Yamanaka Ino menolehkan tubuhnya, memandang lurus pada penerima buket.
Kemudian sepasang mata aqua Ino bertaut dengan mata hitam Shikamaru. Hanya sesaat, tapi Shikamaru seperti melihat senyum sendu samar dari lekuk bibir Ino. Namun yang terdengar berikutnya adalah tawa cerah Yamanaka Ino yang melambai ke arahnya, "Kalian harus segera menyusul, ya? Shikamaru!"
Tawa cerah itu seperti menarik Shikamaru kembali ke dalam lingkaran yang cerah oleh warna bahagia. Singkat, Shikamaru membiarkan Ino menangkap sebuah decakan kesal dan gumaman 'merepotkan'.
"Shikamaru!" suara cerah dari Inuzuka Kiba datang bersamaan dengan tepukan keras di punggung Shikamaru. "Hehehe!" Pemuda itu tertawa cerah dan menggerakkan sikunya untuk menggoda Shikamaru. "Selamat, ya!"
Pemuda berambut hitam itu hanya melengkungkan senyum hambar. Menoleh, Shikamaru mampu melihat ketika kedua orangtuanya yang berdiri di dekat altar mengawasi dengan ganjil. Di sisi bersebrangan, dilihatnya Namikaze Naruto memberikan senyum canggung.
Segalanya begitu merepotkan.
Begitu banyak tanda-tanda mimpi, untuk dalam sekejap dilemparkan kembali kepada kenyataan.
Shikamaru memandang sosok Temari yang tampak sedikit salah tingkah menghadapi kerumunan orang ketika menggenggam buket bunga. Kemudian pemuda itu menghela nafas.
Mereka memang harus bicara.
.
#
.
Nara Shikamaru melupakan jasnya, membiarkannya tergeletak begitu saja di sisi tubuhnya. Di sebelahnya, tampak Temari duduk diam mencengkram bagian dari kimono ungu sepanjang betis yang dikenakannya. Obi hitam terlilit di pinggangnya, dengan tali merah panjang yang membentuk pita di bagian belakangnya.
Langit mulai menunjukkan keemasan sore hari ketika Temari meremas tangannya yang terbalut sarung tangan hitam sepanjang pergelangan. Tangan itu bergerak resah, sesekali mengepal menunjukkan ketegangan.
Shikamaru bukan tidak tahu, namun pikiran pemuda itu sudah terlalu pekat dengan kepulan kemungkinan langkah yang bisa diambil sebagai jalan keluar.
Menyerah, akhirnya Shikamaru memutuskan untuk mengemukakan solusinya. "Aku sudah memikirkannya, dan sepertinya tidak ada jalan lain selain ini," dengan hati-hati, pemuda itu bicara tanpa menatap sosok gadis di sampingnya.
Temari tidak menjawab. Ia menunggu. Ia tahu, Shikamaru sedang berusaha mengucapkan sesuatu—yang mungkin tidak terlalu baik.
Gadis itu meremas tangannya lagi. Belum saatnya ia bicara—meski ia harus. Sekarang ia hanya berdoa mendengar solusi yang dapat memberinya kesempatan bicara.
Setelah apa yang terasa seperti selamanya, Shikamaru membuka mulutnya. "Sepertinya kita perlu memikirkan kembali segalanya—"
Temari membulatkan matanya sesaat. Seharusnya ia sudah bisa menduga hal itu akan menjadi solusi dari Shikamaru—ketika ia mendengar mengenai masalah pernikahan antardesa ninja dari pemuda itu beberapa menit yang lalu.
"Seperti yang sudah kujelaskan," jeda, "resikonya terlalu besar bagi kita. Terutama bagi kau yang merupakan kakak dari Kazekage—Desa Suna tidak akan melepaskanmu begitu saja."
Temari menggigit bibirnya. Ia paham. Solusi itu pasti akan melintas di otak Shikamaru—dan hampir pasti menjadi jalan keluar. Dalam situasi biasa, Temari pasti akan melupakan kontrol emosinya dan memaki pemuda di sampingnya atas solusi yang sesungguhnya hanya melarikan mereka dari masalah.
Tapi masalah dasarnya adalah, saat ini bukan situasi yang biasa.
Temari mulai merasa tidak tahan, tangannya bergerak-gerak gelisah. Ia harus berbicara—atau segalanya akan bertambah buruk. Ia harus bicara—menyela Shikamaru, sebelum segalanya berakhir tanpa diminta.
Bibir gadis itu sedikit bergetar—membuka, tapi tidak bersuara.
"Maaf, Temari—" ujar Shikamaru lagi. "Aku bukan ingin melarikan diri dari masalah, atau sesuatu yang berhubungan dengan hal yang merepotkan—"
Ia harus mengatakannya.
"—tapi hal ini sungguh di luar dugaanku. Aku membutuhkan waktu untuk benar-benar memikirkan apa yang harus kulakukan—"
Temari mencengkram kimono-nya. Ia harus mengatakannya!
"—dengan hubungan kita. Maaf, aku—" Shikamaru menoleh untuk memandang gadis itu, dan menghentikan kalimatnya begitu saja.
Mata hitam pemuda itu membulat sempurna ketika mendapati gadis di sampingnya menunduk, memejamkan erat matanya dan membiarkan tetes air mata jatuh tepat di kimono-nya yang tercengkram kuat.
"—Temari?" Shikamaru terperangah.
"Tidak bisa—" Temari bersuara pelan.
Temari menolehkan wajahnya, memandang lurus Shikamaru. Kristal air mata tampak menggenang di mata turquoise gadis itu. Seketika, sebuah firasat ganjil menyergap Shikamaru. Pemuda itu memandang Temari dalam diam, ragu untuk bersuara.
Kemudian Temari menundukkan kepalanya. Tangan gadis itu mencengkram kain hitam yang membalut lutut kaki Shikamaru. Menelan ludah, Temari memberanikan diri bersuara.
"—aku hamil," ia berujar parau.
Dan Nara Shikamaru merasa seperti jantungnya baru saja berhenti berdetak.
.
#
.
.
Bersambung
.
~fariacchi – 131224
