Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?

Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality; almost Shikamaru-centric. Belum di-beta.

Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.


DARI BAGIAN LIMA

Temari menundukkan kepalanya. Tangan gadis itu mencengkram kain hitam yang membalut lutut kaki Shikamaru. Menelan ludah, Temari memberanikan diri bersuara.

"—aku hamil," ia berujar parau.

Dan Nara Shikamaru merasa seperti jantungnya baru saja berhenti berdetak.


.

#

.

Ujung Mimpi

©fariacchi

Enam: Hati

.

#

.


Segalanya berlangsung sedemikian cepat hingga Shikamaru tidak tahu lagi harus menjelaskannya seperti apa.

Pemuda itu menghela nafas panjang entah untuk yang ke sekian kalinya hari itu. Ia mengayunkan langkah dan keluar dari penginapan di sudut desa, setelah berhasil mengantar Temari ke kamarnya—membiarkan gadis itu beristirahat dan menenangkan diri.

Shikamaru menyentuh pelipisnya yang seperti berdenyut.

Tentu saja. Semua itu dimulai dari tindakan kekanak-kanakan yang begitu saja dilakukannya tanpa pikir panjang sebulan lalu.

"Jika mereka menolak … kita buat mereka tidak punya pilihan selain menerimanya."

Sinting sekali. Begitu tergesa-gesa hanya berlandaskan emosi. Dan sekarang Shikamaru tidak punya pilihan selain menerima segala akibatnya.

Diam-diam, bayangan akan Temari yang menatapnya dengan cemas dan tegang menyeruak kembali—juga isak tangis gadis itu.

Shikamaru mendecak. Ia harus melakukan sesuatu.

Tidak ada peninjauan ulang. Waktu habis—ia sudah tidak bisa mundur lagi.

Senyum getir melintas di bibir Shikamaru. Ia yakin Gaara dan Kankurou akan membunuhnya sebelum ia sempat mengeja kata bertanggungjawab.

Yah, itu jika memang keadaan benar-benar mengizinkannya bertanggungjawab.

Hari sudah gelap dan jalan terasa begitu sepi. Terus berjalan dan bergulat dengan pikirannya sendiri, Shikamaru tidak menyadari ketika ia nyaris bertabrakan dengan sesosok wanita yang baru saja muncul dari tikungan kecil di jalan Konoha.

"Gomen—" Shikamaru refleks berujar.

"Shikamaru?" wanita itu bersuara.

Mata hitam Shikamaru membulat sedikit, dan akhirnya benar-benar menyadari siapa sosok di depannya. "Kurenai-san—"

Sarutobi Kurenai mendekap kantung kertas berisi barang kebutuhan rumah tangga. Wanita bermata merah darah itu sedikit terkejut mendapati sosok Shikamaru yang kacau. Pemuda itu masih mengenakan kemejanya, dan menyampirkan jasnya di bahu.

Kurenai mengawasi ketika Shikamaru membuka mulutnya seperti akan mengatakan sesuatu, namun ragu dan membatalkannya.

Entah bagaimana, seolah memahami pemuda di depannya, Kurenai berujar, "Kazuma sedang menginap di rumah pamannya. Bagaimana kalau mampir dan membantuku menghabiskan makan malam, Shikamaru?" Senyum mengembang di bibir merah wanita itu.

Shikamaru terdiam, hendak menimbang-nimbang. Namun sebelum ia sempat berpikir, begitu saja kepalanya mengangguk pelan.

Segalanya terjadi dengan begitu ganjil. Seolah ada sosok lain yang menginginkan Shikamaru bertemu Kurenai—dan bicara.

Mungkin itu Sarutobi Asuma.

Atau mungkin hanya imajinasi Shikamaru saja.

.

#

.


Denting alat makan perak adalah satu-satunya yang bergema di ruangan mungil yang tertata rapih itu.

Nara Shikamaru duduk berhadapan dengan Kurenai, mencoba menikmati sup lezat yang disediakan untuknya. Namun dalam suapan ketiga, Shikamaru menyerah. Pemuda itu meletakkan sendoknya.

Kurenai mengawasi. Dengan hati-hati, wanita itu meletakkan juga sendoknya.

Kurenai menunggu. Ia tahu Shikamaru akan bicara.

"Maaf—" akhirnya pemuda itu bicara.

Kurenai tidak menjawab. Ia hanya menatap sosok pemuda berusia dua puluh satu tahun di depannya, yang tampak seperti ingin menghilang dari dunia. Apa pun, Kurenai sesungguhnya tidak benar-benar tahu kepada siapa permintaan maaf itu diutarakan.

Mata hitam Shikamaru tidak memandang sosok Kurenai. Pemuda itu hanya memandang kepulan hangat yang menguap dari sup kental di piringnya.

"Aku—sudah melakukan kecerobohan terbesar dalam hidupku," Shikamaru berujar. "Sekarang semuanya kacau—" Perlahan, tangan Shikamaru mengepal erat. "Aku tidak tahu bagaimana harus mempertanggungjawabkan segalanya—"

Kurenai menggeser piring sup di depannya sedikit. "Shikamaru … tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Dinginkan pikiranmu dan kau akan mampu melihat dari sudut pandang yang berbeda," ia bicara.

Diam.

Perlahan Shikamaru mengangkat wajahnya dan memandang Kurenai. "Temari hamil," ujarnya.

Mata merah darah Kurenai membulat sedikit, namun wanita itu menahan dirinya untuk bicara.

"Dan aku baru saja mengetahui betapa besar harga yang harus dibayar untuk sebuah pernikahan antardesa ninja," lanjutnya. "Jika pikiranku dingin, sudut pandang apa yang bisa kulihat dari semua kekacauan itu?!" Shikamaru meninggikan suaranya.

Kurenai mencatat getaran erat dari kepalan tangan Shikamaru yang berada di atas meja makan. Dengan hati-hati, Kurenai menjulurkan lengan putihnya dan menyentuh lembut kepalan tangan Shikamaru.

"Aku bisa melihatnya," ujar Kurenai lembut. Wanita itu menatap lekat Shikamaru. "—bahwa gadis yang kau cintai sedang mengandung masa depan dan kebahagiaanmu."

Mata hitam pekat Shikamaru terpejam, lalu pemuda itu menundukkan wajahnya.

"Kau tidak menyesalinya, bukan?"

Sebuah tensi ganjil terlihat menyergap Shikamaru, namun Kurenai dapat merasakan jawaban pemuda itu dari kepalan tangannya yang melemah. Masih tidak ada suara, Kurenai mampu melihat bahwa pemuda itu sedang mati-matian menahan tangisnya.

"Shikamaru … menjadi dewasa tidak selalu berarti menghadapi segalanya dan memilih keputusan," Kurenai mengusap tangan Shikamaru, "terkadang, yang perlu dilakukan adalah melepaskan segalanya—dan menerima."

Getaran di tubuh Shikamaru semakin tertangkap mata, namun Kurenai berpura-pura seperti tidak melihatnya.

"Kau sudah menjadi sosok laki-laki yang luar biasa, Shikamaru. Aku yakin kau yang sekarang sudah berada di jalan yang benar menuju mimpimu. Yang perlu kau lakukan adalah berjalan, lalu menemukan apa yang ada di ujungnya …."

Lalu akhirnya, Shikamaru merasa seperti seluruh beban masalah yang selama ini menghimpitnya benar-benar terlihat di depan mata. Menyerah, pemuda itu membiarkan emosi mengambil alih tubuhnya.

Untuk pertama kalinya, ia meneteskan air mata di depan sosok wanita lain. Seorang wanita yang, tanpa disadarinya, telah dianggapnya seperti seorang ibu.

Kurenai tidak berujar apa pun. Wanita cantik itu hanya menatap Shikamaru, memandangnya dengan lembut, dan sesekali mengusap tangan pemuda itu. Ketika bersama dengan Shikamaru, Kurenai merasa seolah Asuma mengawasinya. Seolah Asuma meminta ia menggantikannya untuk menjaga pemuda itu—seperti anaknya sendiri.

Sarutobi Kurenai menatap Shikamaru tanpa henti. Hanya itu yang bisa diberikannya untuk membantu pemuda di depannya. Shikamaru adalah satu dari sekian banyak shinobi yang beruntung—mengetahui banyak rahasia dari kehidupan sebagai seorang shinobi dalam usia begitu muda.

Cinta, maupun kematian … bukan itu yang sulit. Dalam kehidupan shinobi, mimpi menjadi sesuatu yang begitu abstrak. Yang sulit adalah bahwa cinta dan kematian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari mimpi itu.

Satu hal yang jelas dalam kehidupan shinobi hanyalah bahwa tidak ada kesempatan untuk melangkah mundur. Mundur, maka kau akan kalah selamanya. Namun ada saatnya seorang shinobi perlu untuk tidak mengaitkan aturan shinobi dalam menjalani kehidupannya. Dan Kurenai sedang mencoba mengingatkan kembali pemuda di depannya akan fakta tersebut.

Malam itu, Sarutobi Kurenai membiarkan dua piring supnya menjadi dingin tanpa dihabiskan.

.

#

.


Nara Shikamaru membiarkan tubuhnya terlentang dalam hening di kamarnya yang gelap. Mata pemuda itu hanya terpaku pada satu titik imajiner di langit-langit kayu yang suram. Di sekeliling tubuhnya bertebaran bidak shogi yang terabaikan, juga gulungan dan kertas-kertas dokumen yang teronggok tak terbaca.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Mungkin pagi hampir menjemput—Shikamaru tidak tahu lagi. Semuanya seperti mengambang. Tidak ada yang benar-benar melintas di pikirannya. Hanya kepingan memori yang kadang berkelebat menuju satu kepahitan yang sedang menghancurkan dirinya dari dalam.

Shikamaru ingat terakhir kali ia merasa hilang pijakan seperti ini adalah saat kematian Asuma. Itu pukulan paling kuat dalam lima belas tahun hidupnya. Dan sekarang, mungkin adalah pukulan kuat lain untuk dua puluh satu tahun hidupnya.

Kali ini bukan masalah hidup sebagai seorang shinobi. Ini adalah masalah hidupnya sebagai sosok laki-laki dewasa—tanpa embel-embel status sebagai shinobi.

Shikamaru tidak pernah mengira bahwa sesuatu sekacau ini bisa hinggap dalam rencana kehidupannya, yang sudah ia coba susun sempurna. Rancangan kanak-kanak yang sampai saat ini masih terpatri kuat di memorinya: meneruskan pekerjaan sebagai shinobi di posisi baik dengan bayaran yang cukup; menikah dengan wanita yang tidak terlalu cantik, tapi juga tidak jelek; mempunyai dua anak—yang pertama adalah perempuan dan yang kedua adalah laki-laki; pensiun dari pekerjaan sebagai shinobi setelah anak perempuan menikah dan anak laki-laki bekerja; menjalani masa tua dengan tenang dalam permainan shogi; meninggal lebih dulu sebelum istrinya—

Shikamaru ingin tertawa sekarang—ternyata mimpi kanak-kanak memang tidak akan berarti di mata kedewasaan.

Sampai dimana ia? Ia sudah memiliki pekerjaan sebagai shinobi di posisi nyaman dengan bayaran yang cukup. Dan ia baru saja berniat mencapai kondisi untuk menikah dengan wanita yang tidak terlalu cantik, tapi juga tidak jelek—wanita yang sederhana, bersinar dengan caranya sendiri. Sudah tepat. Bahkan ia nyaris menyentuh tahap selanjutnya—mempunyai anak pertama. Yah, jika anak itu nantinya benar-benar perempuan, mungkin Shikamaru akan mempertimbangkan untuk percaya pada mimpi kanak-kanaknya.

Namun untuk sementara, ia perlu mengenyahkan mimpi itu dari otaknya.

Shikamaru tidak sedang menyesali atau mengasihani dirinya sendiri. Ia tidak bodoh—mungkin hanya sedikit naif. Pelajaran dari kehidupan sebagai shinobi membuatnya memahami bahwa tidak pernah ada kata mundur dari langkah yang sudah diambil. Seorang shinobi hanya boleh memanfaatkan langkah itu, atau mundur untuk mati—filosofi shogi yang sederhana dan mendekam di dirinya lebih dari apa yang ia kira.

Masalahnya, lagi-lagi ini bukanlah tentang kehidupan sebagai shinobi. Kali ini berbeda—ini masalah manusiawi.

Shikamaru sudah mengerti. Sesungguhnya ia tidak memerlukan penegasan dari Kurenai. Jauh di dalam hatinya, ia sudah paham. Hanya saja, ia merasa tidak sanggup mengeluarkan pemahaman itu untuk mengaburkan fakta yang berada di depan matanya.

Ia tahu, ia menyayangi Temari. Mungkin ia tidak mengerti apa itu cinta, namun ia merasa peduli pada gadis itu. Dan itu cukup bagi Shikamaru untuk merasa ingin mengikat Temari sebagai bagian dari rencana kehidupannya.

Di satu sisi, Shikamaru memang menginginkan kekacauan ini. Ia tahu. Tanpa sadar, ketika penolakan dan fakta aturan dunia shinobi menamparnya, ia setengah mengharapkan sebuah jalan pintas.

Dan ia mendapatkannya.

Akhirnya, Shikamaru menghela nafas panjang dan bangkit dari posisi tidurnya. Ia duduk termenung, memandang kosong pada kegelapan kamar bernuansa hijau lumutnya.

Sekarang apa?

Ia tidak bisa mundur lagi, jelas. Ia juga tidak ingin mundur—yang benar saja, ia bukan laki-laki sialan yang melarikan diri dari masalah.

Lalu apa? Haruskah ia memaksa Temari meninggalkan Suna dan menikah dengannya? Atau, haruskah ia nekat meninggalkan Konoha untuk bertanggungjawab?

Shikamaru merasa pening. Tidak satu pun dari dua kemungkinan itu yang membuatnya merasa tidak gelisah. Keduanya sama beratnya, sama berantakannya.

Namun jika dipikir-pikir, semua ini tidak bisa menjadi lebih berat lagi, kan?

Tangan pemuda itu terjulur meraih salah satu bidak shogi di dekatnya. Memutar-mutar bidak itu, Shikamaru kembali mencoba membayangkan solusi masalahnya.

Ironis sekali. Ia telah dikenal sebagai jenius dengan intelegensi di atas 200, mampu memikirkan dua ratus taktik dalam hitungan detik dan diakui memiliki insting tajam untuk menentukan pilihan mana yang terbaik. Lalu sekarang ia terjebak dalam sebuah masalah yang hanya menyisakan otaknya dengan tidak lebih dari dua solusi untuk rentang berpikir dua belas jam, dan tidak satu pun dari dua itu yang memenuhi kriteria pilihan terbaik.

Baiklah. Shikamaru harus berhenti menganalogikan seluruh hidupnya dengan teknis-teknis sebagai seorang shinobi. Sekali lagi, ini masalah yang sama sekali berbeda.

Kemudian begitu saja bayangan akan sosok Temari yang meneteskan air mata dan bergetar di depannya menyusup. Shikamaru terpekur. Ia mengenal Temari. Gadis itu kuat. Satu-satunya Shikamaru menemukan air mata di wajahnya adalah ketika Gaara dan Kankurou nyaris tewas dalam penyerangan Akatsuki enam tahun lalu.

Mungkin Shikamaru melupakan sesuatu—ia tidak sendiri dalam masalah ini.

Shikamaru mencengkram bidak shogi di tangannya. Perlahan, ketenangan dan kejernihan mendera seluruh sel kelabu pikirannya. Ia sudah menemukan kunci masalahnya sejak awal.

Ini bukanlah masalah sebagai shinobi, tapi masalah sebagai seorang laki-laki—manusia.

Jelas, tidak seharusnya Shikamaru menggunakan rasionya untuk mencari celah solusi. Mungkin inilah saatnya seseorang menggunakan hati untuk mengikuti instingnya.

Bagaimana pun, itulah yang mengawali segala kekacauan ini.

Hati.

.

#

.


Temari terbangun dengan pening di kepala. Gadis berambut pirang itu pertama-tama membuka kedua matanya. Agak perih—mungkin karena air mata yang meluncur sepanjang malam. Perlahan, ia duduk, lalu memandang sinar matahari yang terlihat dari celah tirai yang menutupi jendela.

Rasanya hari berputar begitu lambat.

Mendadak, Temari merasakan sesuatu di saluran pencernaannya. Refleks, gadis itu menutup mulutnya dan melompat menuju kamar mandi. Kemudian untuk kesekian kalinya dalam dua minggu terakhir, Temari mengosongkan isi perutnya di pagi hari.

Keran air terbuka, menyamarkan bunyi kering yang keluar dari kerongkongan gadis dengan rambut tergerai sebahu itu.

Temari menarik nafas panjang setelah menutup kerannya kembali. Memejamkan mata, gadis itu perlahan menjulurkan tangan untuk meraba perutnya yang tersembunyi di balik obi hitam yang melilitnya.

Segalanya terlalu cepat. Temari sejujurnya tidak pernah menyangka bahwa tindakan tanpa pikir panjang saat itu akan benar-benar memberikan hasil seperti yang mereka inginkan.

Ralat. Yang mereka inginkan saat itu.

Menghela nafas, Temari merogoh sakunya dan mulai mengikat rambutnya menjadi empat ikatan seperti biasa. Gadis itu kemudian mencuci mukanya, dan menatap pantulan wajahnya di cermin westafel.

"Jika mereka menolak … kita buat mereka tidak punya pilihan selain menerimanya."

Temari melengkungkan senyum hambar. Benar sekali, sekarang mereka memang tidak punya pilihan selain menerimanya. Entah apa yang harus ia lakukan setelah ini.

Entah bagaimana perasaan Shikamaru sekarang. Temari tidak khawatir pemuda itu meninggalkannya. Ia tahu—Shikamaru bukan laki-laki kurang ajar. Tapi ia juga tahu, pemuda itu cukup terkejut.

Apakah Shikamaru menyesal?

Kemudian suara ketukan pintu membuyarkan pikiran Temari. Meraih handuk kecil, Temari mengusap wajahnya dan bergegas menuju pintu.

Pintu membuka, menampakkan sosok yang sejak tadi melintas di pikiran gadis itu. "Shika—?" ia bergumam.

Nara Shikamaru memberikan senyum singkat. "Boleh masuk?" ujarnya.

Tidak menjawab, Temari hanya melebarkan pintunya dan berjalan menuju tempat tidur berseprai putih yang belum sempat dibereskannya tadi. Shikamaru mengikuti gadis itu, menutup pintu di belakangnya.

"Kau baik-baik saja?" Shikamaru bersuara, memandang punggung Temari yang sibuk melipat selimutnya.

Temari memberi jeda sedikit sebelum berusaha menjawab dengan biasa, "Tentu saja. Kau kira aku sakit atau apa?"

Namun Shikamaru menangkap nada itu.

Selimut telah terlipat sempurna, namun Temari masih memunggungi pemuda itu. Ia tidak yakin sikap seperti apa yang harus ditampilkannya. Haruskah ia bersikap biasa saja? Haruskah ia bertanya? Haruskah ia—

Selingkar tangan yang memeluk pinggangnya menghentikan pikiran Temari. Gadis itu membulatkan sepasang mata turquoise-nya.

"Maaf, Temari—" Shikamaru berujar pelan.

Satu tangan Shikamaru bergerak meraba permukaan obi hitam yang melilit perut Temari. Dengan hati-hati, pemuda itu seperti mencoba merasakan sesuatu yang berada di dalamnya.

Yang tersisa adalah sosok Temari yang terpaku.

"Ini semua salahku. Aku sudah membawamu kepada situasi ini karena emosi mengontrol tindakanku. Ini salahku. Maaf—" Shikamaru membenamkan wajahnya di pundak Temari, membiarkan getar tubuhnya tertangkap sempurna oleh gadis itu.

Lalu segalanya menjadi lebih lembut. Temari merasakan getaran hangat menjalari hatinya. Kegelisahan sirna begitu saja ketika aroma tubuh Shikamaru melingkupinya dalam tenang.

Tangan Temari bergerak, menggenggam tangan Shikamaru yang diam di atas obi hitamnya. "Bukan salahmu," Temari bersuara. Mata gadis itu terpejam ketika merasakan getaran di bahunya—ketika merasakan Shikamaru meremas kuat tangannya. "Kita berdua yang memutuskannya."

Hening, Temari membiarkan cairan hangat terasa di pundaknya. Tanpa suara, gadis itu membiarkan Shikamaru mencengkram tangannya lebih kuat.

Tersenyum samar, Temari bersuara lagi, "Kau masih saja cengeng seperti itu. Bukankah harusnya dalam kondisi ini akulah yang menangis?" Namun gadis itu membelai lengan Shikamaru yang menahan tubuhnya.

Sunyi merayapi ruangan itu. Baik Shikamaru maupun Temari tenggelam dalam kata hati mereka masing-masing.

Temari menyandarkan kepalanya dengan lambat di sisi kepala Shikamaru. "Terima kasih untuk tidak meninggalkanku, Shikamaru," bisiknya.

Kelegaan itu adalah yang pertama dirasakan Temari sejak empat minggu terakhir. Merasakan kehangatan Shikamaru di sisinya, ternyata menjadi sesuatu yang begitu menenangkan.

Meski tidak ada kata-kata dari pemuda di sisinya, Temari paham. Sudah tidak ada langkah mundur.

Mereka akan melaluinya. Bersama.

.

#

.


.

Bersambung

.


.

~fariacchi – 140116