Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?

Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality; almost Shikamaru-centric. Belum di-beta.

Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.


DARI BAGIAN ENAM

… "Terima kasih untuk tidak meninggalkanku, Shikamaru," bisiknya.

Kelegaan itu adalah yang pertama dirasakan Temari sejak empat minggu terakhir. Merasakan kehangatan Shikamaru di sisinya, ternyata menjadi sesuatu yang begitu menenangkan.

Meski tidak ada kata-kata dari pemuda di sisinya, Temari paham. Sudah tidak ada langkah mundur.

Mereka akan melaluinya. Bersama.


.

#

.

Ujung Mimpi

©fariacchi

Tujuh: Langkah

.

#

.


Dua gelas teh hijau dibiarkan mengepul di atas meja kayu. Satu piring dango kosong menyisakan tusuk lidi yang menebarkan aroma manis. Piring lainnya berisi sisa dari beberapa potong onigiri yang berupa butiran nasi putih. Kedai sederhana di sudut Desa Konoha itu tampak sepi meski cuaca cukup cerah.

Nara Shikamaru memandangi gelas keramiknya dalam hening. Duduk di seberangnya, Temari tampak memutar-mutar gelasnya dengan tatapan yang tidak jauh berbeda. Pagi yang sama di mana kelegaan tampak seperti merayapi hati kedua orang itu, dan siang yang sama ketika realita mulai menamparkan keraguan jauh di dalam sudut diri mereka.

Shikamaru memusatkan pandangannya pada cairan hijau bening yang memantulkan kerutan kedua alisnya. Pemuda itu mencoba berpikir keras.

Baiklah; Shikamaru merasa perlu memisahkan dua masalah besar yang saat ini melandanya: yang pertama adalah kehamilan, dan yang kedua adalah pernikahan. Dua masalah itu berbeda.

Malam lalu, Shikamaru memutuskan meninggalkan rasionya dan membiarkan hati mengambil alih. Tidak, ia tidak salah. Hati memang jawaban untuk masalah pertama. Hampir bisa dikatakan bahwa ia sudah menemukan solusi dari kecamuk diri akibat masalah pertama—ketenangan dan kemantapan mengambil keputusan.

Ia tidak akan mundur.

Nah, lalu masalahnya ada pada poin berikutnya—yang menjadi akibat tidak langsung dari poin pertama: pernikahan. Kembali ke minggu-minggu kacau sebelumnya, masalah pernikahan dirinya dan Temari tidak bisa tidak dikaitkan dengan kehidupan shinobi. Intinya, tetap saja kali ini Shikamaru membutuhkan solusi dari logika.

Temari menyesap tehnya. Sesekali, mata turquoise gadis itu mencuri pandang ke wajah Shikamaru di depannya. Temari tahu si pemuda sedang memikirkan sesuatu, dan ia memutuskan untuk tidak mengganggunya. Sementara ini, Temari mencoba memaksimalkan logikanya untuk mengontrol emosinya sendiri. Yah, ia setidaknya pernah mendengar bahwa wanita yang sedang hamil biasanya menjadi sedikit … labil.

Kali ini di otak Shikamaru mulai muncul kerjap bayangan taktik. Tidak sesempurna dan secepat biasanya, namun lebih baik dari saat otaknya mencoba menginterpretasikan masalah pertama malam lalu. Jari Shikamaru mengetuk-ngetuk meja kayu beberapa saat. Pemuda itu memejamkan matanya, merasakan ketenangan mulai mendinginkan kepalanya.

Sepertinya ia bisa melakukan ini.

Dimulai dari mana? Itulah yang dipikirkan Shikamaru. Biasanya dalam analogi apapun—baik shogi maupun taktik shinobi, semua dimulai dari fakta; kondisi; apa saja yang ia punya—senjatanya, kelemahannya, celahnya.

Kedua mata membuka untuk memandang lurus Temari. Gadis itu telah tanpa sadar menunggu—ini dia.

"Apa ada orang lain yang mengetahui keadaanmu sekarang?" Shikamaru memulai, bicara dengan suara yang agak pelan meski tempat mereka berada sekarang adalah sudut kedai sepi di pinggiran Desa Konoha.

Temari menggeleng. "Tidak. Hanya kita berdua, sejauh ini."

Shikamaru tampak memberi jeda. "Tunggu," ujarnya, "lalu bagaimana kau mengetahui—eh, keadaan itu?" Penggunaan kata ganti untuk berjaga-jaga—Shikamaru merasa seperti sedang dalam sebuah misi rahasia.

Temari memutar gelasnya. "Rasa mual di pagi hari, keterlambatan menstruasi, sedikit firasat," gadis itu mulai menyebutkan, "dan teknologi medis dunia ninja." Baik, tidak satu pun yang dimengerti Shikamaru. Sebelum sempat bertanya, Temari sudah melanjutkan, "Sebuah tes keha—maksudku, keadaan. Sesuatu yang bisa menunjukkan fakta dengan sedikit cairan tubuh dan bantuan chakra."

Kali ini Shikamaru merasa cukup bisa membayangkan. "Apa kau tahu persis usianya?"

Temari tampak memutar bola matanya sedikit. "Secara persis, tidak. Tapi kurasa sekitar … tiga minggu?"

Shikamaru mencatat semua fakta yang didengarnya baik-baik di otak. Satu kesimpulan baru tersusun pasti: tidak satu pun dari mereka yang paham benar mengenai kehamilan. Bahkan Temari. Tidak heran, mengingat kunoichi hanya dibekali sedikit pengetahuan standar mengenai medis dan lebih banyak taktik bertarung.

Dari fakta itu, Shikamaru mengerti. Mereka membutuhkan pengetahuan mengenai kehamilan, dengan rinci. Itu perlu untuk menentukan langkah yang perlu diambil berikutnya … terutama berkaitan dengan waktu. Kemungkinan solusinya adalah pengetahuan otodidak—mungkin dari buku-buku, atau yang lebih baik …

"Apa kau keberatan jika aku memberitahu keadaan kita kepada Sakura?" Shikamaru bersuara.

Temari tampak sedikit terkejut. Ia tidak menjawab. Di dalam hatinya berputar keraguan.

"Kau pasti sadar bahwa tidak satu pun dari kita yang benar-benar memahami keadaan ini. Kita butuh seseorang yang bisa menjelaskan sedetail mungkin mengenai itu. Untuk menyusun langkah berikutnya, kita membutuhkan pengetahuan mengenai kondisi—sebanyak mungkin," Shikamaru menjelaskan. "Suna jelas bukan pilihan. Akan terlalu memakan waktu dan tidak efektif mengingat kondisimu sekarang," ia menambahkan, "dan kalau bicara mengenai Konoha, kurasa Sakura adalah yang paling tepat."

Temari tampak menguatkan cengkraman di gelas keramik hitamnya. Tentu saja, ia tidak meragukan logika Shikamaru. Hanya saja, ia tidak bisa memungkiri kekhawatiran itu. Bagaimana ia bisa membiarkan seseorang asing—baiklah, Haruno Sakura memang bukan orang asing—bagaimanapun, gadis itulah yang sudah menyelamatkan nyawa Kankurou enam tahun lalu. Tapi tetap saja—

Shikamaru merasakan kegelisahan gadis di depannya. Ia lalu berbicara lagi, "Ini bukan hanya mengenai masalah kita, Temari. Ini juga merupakan langkah penting mengenai kondisimu sendiri. Kau memerlukan orang yang punya kapabilitas untuk memberitahu sesuatu tentang tubuhmu sendiri."

Hening.

Dengan ragu, Temari mengangkat wajahnya dan memandang Shikamaru. Mata hitam pemuda itu melekat lurus padanya. Kesungguhan dan keseriusan terpancar di sana.

Mendadak Temari merasa konyol. Bukankah pemuda di depannya ini tiga tahun lebih muda dari dirinya? Lalu kenapa sepertinya kedewasaan lebih tampak dari sosok itu?

Menarik nafas, Temari memutuskan, "Baiklah."

Shikamaru mengangguk kecil. Sementara ini satu solusi tampak tidak buruk. Mereka akan mulai melangkah dari sana. Setelah mengantongi detail kondisi dan estimasi waktu, berikutnya baru mereka akan merancang langkah ke depannya.

Apakah ke orangtuanya dulu? Apakah langsung saja menemui Hokage—dan Kazekage secara otomatis? Yang mana?

Shikamaru mendesah pelan. Tidak berguna dipikirkan sekarang. Keduanya tampak tidak menguntungkan. Sepertinya yang paling jelas di sini hanya satu: menemui Haruno Sakura terlebih dahulu.

Dan, Shikamaru akhirnya meneguk tehnya untuk pertama kali sejak duduk di kedai itu empat puluh menit lalu.

.

#

.


Rumah Sakit Konoha bukanlah tempat yang biasa didatangi Nara Shikamaru. Apalagi, kali ini ia tidak sendiri. Menajamkan pandangan, Shikamaru mencoba untuk berhati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan dari siapa pun yang berpapasan dengan mereka.

Temari, hanya bisa mencengkram kimono-nya diam-diam. Ia harus tenang, ia tahu. Tapi entah mengapa hal dasar yang sudah mendarah daging dalam hidupnya sebagai kunoichi itu kali ini sangat sulit dilakukan.

Dua pasang langkah itu berhenti di depan sebuah pintu bercat putih yang berada di sudut koridor sayap kanan bangunan. Keramik berwana kehijauan memantulkan bayangan ketika Shikamaru mengetuk pintu itu.

"Masuk." Suara familiar seorang gadis terdengar dari dalam.

Shikamaru memandang Temari sejenak, lalu membuka pintu.

Ruangan itu adalah ruang kerja milik Haruno Sakura. Ninja medis berambut merah jambu itu memang sudah memiliki ruangannya sendiri. Bisa dikatakan, sejak kematian Tsunade lima tahun lalu, Sakura berada langsung di bawah komando Shizune—tangan kanan Tsunade—sebagai salah satu yang memegang kendali Rumah Sakit Konoha. Shikamaru mencatat bahwa Ino bekerja sebagai asisten Sakura di tempat ini.

Sang pemilik ruangan tampak sedang tenggelam dalam tumpukan dokumen di meja kerjanya. Gadis itu mengenakan pakaian merah khas di balik jas putih panjangnya. Rambut merah jambunya terikat di tengkuk, dan kuas menulis tergenggam di tangan gadis itu.

"Apa yang—" gadis itu menghentikan ucapan tepat ketika memutar kursinya dan menemukan sepasang sosok yang tidak diduganya. "—Shikamaru? Temari-san?" ia bergumam heran.

Berdiri meninggalkan meja kerjanya, Haruno Sakura refleks mempersilahkan kedua tamunya duduk di sofa berwarna krem yang terletak di sudut ruangan. Shikamaru menutup pintu di belakangnya, lalu mengikuti Temari untuk duduk.

Mata hijau Sakura memandang dengan keheranan yang terpancar. "Shikamaru? Ada apa ini?" ia bersuara. "Apa semua—baik-baik saja?" Pandangan Sakura berakhir ke sosok Temari yang terdiam dalam duduknya.

Shikamaru memajukan tubuhnya sedikit. "Sakura, kami butuh bantuanmu," ia memulai. Shikamaru meraih tangan Temari dan menggenggamnya erat. "Kuharap kau tidak terlalu terkejut untuk mendengarnya—" ujarnya.

Kemudian sepasang mata hijau cemerlang Haruno Sakura membulat ketika kata demi kata meluncur dari bibir Nara Shikamaru yang menjelaskan segalanya. Sepanjang itu, Temari hanya diam dan membiarkan jemarinya digenggam hangat oleh Shikamaru.

Mereka bisa melaluinya. Temari harus percaya.

Menit demi menit berputar. Ketika keheningan mulai mengambang setelah penjelasan dari Shikamaru, Haruno Sakura mencoba meneguhkan diri untuk memutuskan.

Ia akan mencoba terlibat. Bagaimanapun, Shikamaru adalah bagian dari hidupnya: sahabat, rekan kerja, teman sebaya, juga sosok yang pernah dicintai sahabatnya.

Mengenal kerumitan aturan shinobi melalui Yamanaka Ino, Sakura merasakan empati terhadap hal sensitif seperti ini. Dan apa yang dilalui Shikamaru dan Temari jelas melampaui apa yang disebut sebagai 'sensitif'. Sakura paham bahwa hanya dirinya yang saat ini bisa dengan tepat membantu kedua orang itu. Detik di mana Shikamaru menceritakan segalanya, detik itulah Sakura sudah terlibat. Dan ia akan mencoba menjalankan perannya dengan sebaik mungkin. Memegang rahasia bukanlah hal yang sulit bagi dirinya yang terlatih oleh etika sebagai ninja medis.

"Baiklah," Sakura memulai dengan hati-hati, "kurasa pertama-tama aku perlu memeriksa kondisi Temari-san." Pandangan gadis itu mengarah pada sosok Temari yang tampak tegang.

Shikamaru mengangguk. Ia melepaskan tangan Temari dan bangkit berdiri untuk bersandar pada dinding di dekat sofa—memberi Sakura akses untuk melakukan apapun yang diperlukannya.

Sakura mengambil tempat di samping Temari. "Temari-san, biarkan aku memeriksa kondisimu," ia bersuara dengan nada profesional.

Temari tidak menjawab, namun membiarkan nadinya diraba oleh sang ninja medis. Shikamaru mengamati ketika Sakura melakukan serangkaian pemeriksaan fisik dengan cekatan. Terakhir, chakra hijau menguar dari telapak tangan Sakura dan berhenti di bagian perut Temari yang terlilit obi.

Sakura berkonsentrasi, merasakan getaran melalui chakra-nya. Sesekali gadis itu memejamkan mata untuk lebih meyakinkan diri. Kemudian ia memindahkan tangannya menuju letak jantung Temari, memeriksa beberapa saat dan memudarkan chakra-nya.

"Tidak salah lagi," gumam Sakura, "usia tepatnya adalah dua puluh enam hari." Sakura merogoh saku jas putihnya dan mengeluarkan buku catatan dan pensil. "Temari-san, aku akan menanyakan beberapa hal sebagai prosedur standar. Kandungan dan tubuhmu baik-baik saja, jangan khawatir," ia berujar hangat.

Shikamaru tanpa sadar merasakan nafasnya yang sempat tertahan kembali terhembus lega. Tanpa suara, pemuda itu duduk di sisi sofa dekat Temari. Untuk beberapa saat ia hanya mengamati dengan baik pertanyaan-pertanyaan teknis yang diajukan Sakura, juga jawaban dari Temari.

Sakura menutup buku catatannya. "Semuanya baik," ia memandang Shikamaru, "hanya saja, pastikan Temari-san mengurangi kerja fisik yang terlalu berat dan menjaga asupan nutrisi bagi tubuhnya."

Tidak perlu menjadi ninja medis—atau wanita—bagi Shikamaru untuk mengerti hal dasar itu. Itu akan diaturnya, nanti. Sekarang, ia perlu mendapatkan fakta-fakta yang bisa digunakannya untuk menentukan langkah ke depan.

"Sakura, berapa banyak waktu yang kami punya?" tanya Shikamaru langsung.

Haruno Sakura tampak terdiam beberapa saat. Gadis itu berpikir, mencoba menggabungkan intelegensi serta insting sebagai ninja medis sekaligus analis dalam waktu yang sama. "Aku tidak bisa menjamin. Semua ini bergantung pada apa rencana kalian setelah ini," ia berujar lambat, "namun dari kondisi fisik tipe wanita seperti Temari-san, kalian tidak punya cukup banyak waktu sebelum seseorang dapat menyadari kehamilan Temari-san dengan mudah."

Temari memandang gadis di sampingnya dengan tidak mengerti. "Apa maksudnya itu?" ia bertanya.

Sakura mencoba menjelaskan dengan hati-hati, "Temari-san, dari pemeriksaan yang kulakukan, tubuhmu termasuk dalam tipe wanita yang memiliki kecenderungan pembesaran rongga perut saat kehamilan bahkan baru memasuki usia muda." Sakura memandang Shikamaru. "Kurasa setidaknya kalian punya dua bulan, atau bisa lebih cepat lagi."

Shikamaru menerawangkan pandangannya ke langit-langit. Dua bulan, itu waktu yang jauh lebih singkat dari apa yang diprediksinya.

Temari mencengkram kimono-nya dan bersuara lagi, "Bagaimana dengan— kemungkinan untuk pulang pergi Suna-Konoha dalam kondisiku?"

Sakura menggeleng pelan. "Maaf, Temari-san, aku tidak menyarankan itu. Dalam kondisi umum, kunoichi yang sedang hamil diharuskan mengambil cuti penuh dari pekerjaan aktifnya. Hal ini dikarenakan kondisi fisik yang terforsir sehari-hari sebagai shinobi bertentangan dengan kebutuhan istirahat total agar janin bisa berkembang dengan aman." Sakura menarik nafas sedikit. "Mengingat jarak Konoha-Suna sepanjang tiga hari perjalanan, aku sangat tidak menganjurkan itu. Masa awal kehamilan adalah yang paling rentan. Resikonya akan sangat besar."

Temari menelan ludah. "Maksudmu, aku harus memutuskan untuk menetap di salah satu tempat saja selama masa kehamilan ini?"

Sakura mengulaskan senyum getir. "Bisa dikatakan, itu adalah saran terbaik dari perspektif ilmu medis ninja."

Hening.

Shikamaru tidak bersuara, tidak juga menurunkan pandangan, namun ia mendengar segalanya dengan jelas. Semua fakta yang ingin dicarinya sudah terpapar.

Sekarang, apa selanjutnya?

.

#

.


Sore ditutup dengan ritual memandang awan di gubuk kayu kecil yang sama oleh Shikamaru dan Temari.

Ingatan kedua sosok yang duduk diam berdampingan di sana belum lepas dari kejadian sebulan lalu. Percakapan, keputusan sederhana yang terjadi di tempat itu—sesuatu yang menjadi awal dari segala kekacauan ini.

"Jika mereka menolak … kita buat mereka tidak punya pilihan selain menerimanya …."

Entah untuk yang keberapa kalinya sederet kalimat itu berputar di dalam pikiran Shikamaru dan Temari. Ledakan emosi sesaat itu, dengan tidak terduganya, benar-benar terjadi. Sekarang mereka memang tidak punya pilihan selain menerimanya.

Shikamaru melupakan rokok di sakunya. Pemuda itu merasa lebih suka memandangi awan keemasan dari langit yang terbentang di atasnya. Dulu sekali, ia selalu mengagumi awan—berandai-andai bahwa kehidupannya akan bisa sesederhana benda itu. Melayang, mengikuti arus, mengulang siklus—sederhana. Namun fakta kedewasaan yang sekarang ada di depan mata sungguh membuat Shikamaru melihat awan dari perspektif yang berbeda—berandai-andai bahwa segala masalahnya bisa teratasi dengan mulus dan sederhana.

Pemuda itu memejamkan mata. Sudah waktunya kembali berkutat dengan sahabat setianya—sel kelabu otak. Mereka sudah punya fakta-fakta. Mereka sudah memahami—meski samar—kondisi dan keadaan yang ada di sekitar mereka sekarang.

Lalu apa?

Shikamaru mengingat-ingat apa yang diujarkan Haruno Sakura. Lebih dari estimasi waktu, ada sesuatu yang tampaknya lebih menjadi urgensi: fakta bahwa Temari tidak dianjurkan untuk melakukan perjalanan Suna-Konoha selama kehamilannya. Itu pusat yang lebih penting dari sekedar estimasi waktu dua bulan. Artinya, diperlukan pilihan untuk menetap di salah satu tempat saja untuk delapan bulan ke depan.

Luar biasa. Ini nyaris mendekati inti masalah yang mengacaukan Shikamaru beberapa waktu lalu—mengenai pernikahan antardesa ninja.

Sepertinya, segalanya akan kembali pada pertanyaan inti dari aturan itu. Pertanyaan yang sampai detik sebelumnya, tidak pernah berani dilontarkan Shikamaru—bahkan kepada dirinya sendiri.

Konoha, atau Suna?

Gagak berkoak menandakan matahari yang mulai memerah dan tertelan kaki langit. Temari tidak bersuara, atau sekedar mengangkat pandangan dari lututnya sendiri. Emosi mengaduk-aduk dirinya, mengombang-ambingnya dalam keraguan dan ketidakpastian. Entah pergi kemana pikirannya yang dingin dan tenang; mungkinkah lenyap sebagai tumbal bagi nyawa yang sekarang berada di dalam tubuhnya?

Kemudian begitu saja Shikamaru memandang gadis di sampingnya. Temari merasakannya, dan mengangkat wajahnya.

Hitam bertemu turquoise. Sepasang kegelisahan yang sama memantul dari kedua warna itu.

Akhirnya, Shikamaru menyerah. Ia membuka mulut, bersiap menanyakan pertanyaan paling mendasar yang sejauh ini dihindarinya. Cepat atau lambat, pertanyaan itu akan terlontar juga.

"Temari," ia bicara. "Bagaimana jika kau harus meninggalkan Suna dan menetap di Konoha—selamanya?"

Hening.

Gadis itu menunduk, membisu dalam tatapan lurus Nara Shikamaru. Itu dia. Akhirnya apa yang selama ini ditakutkannya terdengar juga.

.

#

.


.

Bersambung

.


.

Catatan Faria:

Haruno Sakura. Sejak kemunculan awalnya di Naruto Shippuuden dengan kemampuan medic-nin yang menyelamatkan nyawa Kankurou, saya sudah jatuh cinta pada tokoh ini. Perlahan, Sakura dengan caranya sendiri memiliki peran tersendiri baik bagi kehidupan Shikamaru maupun Temari.

Well, semoga cukup dapat menikmati chapter ini. Saya juga minta maaf atas belum sempatnya saya membalas review-review luar biasa yang masuk. Apresiasi yang terus memacu saya untuk menyelesaikan karya ini. Terima kasih banyak :')

.

~fariacchi – 140213~