Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?
Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality; almost Shikamaru-centric. Belum di-beta.
Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.
DARI BAGIAN TUJUH
… Sepertinya, segalanya akan kembali pada pertanyaan itu. Pertanyaan yang sampai detik sebelumnya, tidak pernah berani dilontarkan Shikamaru—bahkan kepada dirinya sendiri …
Akhirnya, Shikamaru menyerah. Ia membuka mulut, bersiap menanyakan pertanyaan paling mendasar yang sejauh ini dihindarinya. Cepat atau lambat, pertanyaan itu akan terlontar juga.
"Temari," ia bicara. "Bagaimana jika kau harus meninggalkan Suna dan menetap di Konoha—selamanya?"
Hening.
Gadis itu menunduk, membisu dalam tatapan lurus Nara Shikamaru. Itu dia. Akhirnya apa yang selama ini ditakutkannya terdengar juga.
.
#
.
Ujung Mimpi
©fariacchi
Delapan: Tabir
.
#
.
Nara Shikamaru mengamati isi gulungan sandi yang sudah sejak tadi berada di depan matanya. Itu adalah dokumen yang baru saja diantarkan Shiho—gadis berkacamata dari Divisi Kriptografi; sesuatu yang diminta oleh Rokudaime Hokage untuk dipecahkan dan dianalisa. Poin terakhir itu yang menjadi tugas rutin Shikamaru—seharusnya.
Hari-hari sudah berlalu sejak percakapan terakhirnya dengan Temari. Mereka kembali dalam rutinitas klasik seperti kebiasaan masa lalu: bertemu, bicara, lalu menjauh hingga tiba saatnya bertemu lagi untuk mendapatkan jawaban. Perbedaannya, kali ini menjauh tidak dilakukan akibat terpisah jarak desa. Kali ini mungkin lebih kepada kesadaran masing-masing untuk saling merenungkan diri.
Benar, Temari masih berada di Konoha. Rencana awal gadis itu memang menyebutkan beberapa minggu untuk persiapan Pertemuan Aliansi di Konoha. Secara umum, Temari masih memiliki waktu wajar setidaknya satu sampai dua bulan ke depan hingga tiba saatnya kembali ke Suna.
Itu jika Shikamaru tidak segera memikirkan alasan untuk tidak membiarkan gadis itu melakukan perjalanan Konoha-Suna dalam kondisinya yang sekarang. Dan itu juga tepat dengan estimasi waktu yang mereka punya, berdasarkan pendapat Haruno Sakura.
Shikamaru menghela nafas. Sandi-sandi yang tertulis di gulungan itu sama sekali tidak mendapat ruang di otaknya. Jika seperti ini terus, Shikamaru ragu bahwa pekerjaannya sebagai shinobi bisa berjalan dengan baik. Bukan hal yang bagus mengingat posisinya sebagai analis sekaligus penasehat Hokage menjadi tumpuan Konoha dalam menjalankan roda kehidupan desa ninja.
Ia harus berhenti mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Entah bagaimana, ia harus bisa berkonsentrasi.
Kemudian, begitu saja pintu ruangan kerja Shikamaru terbuka kasar. Pemuda itu sedikit terkejut, mengalihkan pandang untuk menemukan sosok dalam balutan jubah merah khas dengan aksen api hitam yang tampak terengah membanting keras pintu di belakangnya.
"Shikamaru, aku numpang sembunyi," ia bicara di antara nafas pendek-pendeknya.
Shikamaru mendecak kecil. "Naruto, kalau kau melarikan diri ke ruanganku, nanti Sakura dan Sasuke akan menyalahkanku," ia bicara seraya merapihkan dokumen yang berserakan di meja kerjanya. "Merepotkan," sahutnya.
Namikaze Naruto mengabaikan komentar pemuda itu. Dengan cepat ia membanting diri di sofa hijau lumut yang berhadapan dengan sosok pemilik ruangan. "Temani aku main shogi," pintanya. Tidak menunggu balasan, Naruto mengambil papan shogi di bawah meja kayu yang sudah dihafalnya.
Shikamaru menyerah. Menyingkirkan beberapa tumpuk kertas, pemuda itu membiarkan Naruto menyiapkan papan shogi di atas mejanya. "Pastikan saja dua pengawasmu itu tidak membunuhku karena membiarkanmu kabur dari paperwork," sahut Shikamaru.
Naruto memajukan bibirnya. "Sakura-chan baru saja kembali ke Rumah Sakit—sesuatu seperti pasien mendadak. Sasuke sedang keluar untuk misi tingkat S dengan Kakashi-sensei," ia berujar.
Shikamaru menyusun bidak shogi di sisinya. "Misi tingkat S? Anbu?"
Naruto mengangguk. "Sebenarnya Anbu punya tumpukan misi tingkat S," ia berkata, "yah, Sai memang sudah selesai dari cuti pernikahannya. Tapi rasanya aku ragu untuk mengirimnya dalam misi tingkat S begitu saja."
"Hei, jangan hubungkan masalah pernikahan dengan pekerjaan," tukas Shikamaru. Ya, benar sekali—tidak seharusnya masalah pernikahan dihubungkan dengan masalah pekerjaan. Katakan itu pada dirimu sendiri, Nara Shikamaru.
Papan shogi sudah teratur sempurna. Naruto menjulurkan tangan untuk mengambil langkah pertama. "Aku tahu. Mungkin aku akan memberi mereka waktu beberapa hari. Sementara aku sudah mengirim tim jounin Neji untuk menggantikannya."
Shikamaru memutuskan tidak berkomentar. Ia memang tidak seharusnya mengomentari sesuatu mengenai profesionalitas dalam bekerja, ketika dirinya sendiri terjebak dalam kondisi yang tidak mencerminkan hal tersebut.
Pemuda itu menjalankan bidaknya dalam diam. Keheningan merayap di tempat itu untuk menit-menit berikutnya.
"Shikamaru," Naruto akhirnya yang pertama kali berusara, kali ini memandang sosok di depannya dengan mata biru cemerlang yang mengguratkan kekhawatiran samar.
Pemuda itu mengangkat alis. "Apa?"
Giliran berhenti di tangan Naruto. "Apa kau dan Temari-san … baik-baik saja?" ia berujar pelan.
Diam.
Shikamaru tidak dalam suasana hati yang tepat untuk membicarakan ini. Dan sekali pun suasana hatinya tepat, ia sama sekali belum memutuskan langkah lanjut dari masalahnya. Haruskah ia menceritakan segalanya pada Naruto?
Pemuda pirang itu menggerakkan bidaknya dengan lambat. "Aku berpikir— mungkin aku akan merundingkan masalah aturan pernikahan antardesa ninja itu dengan Gaara," sahutnya, "mungkin—setelah Pertemuan Aliansi nanti—"
Pertemuan Aliansi. Benar, Shikamaru hampir mengabaikan fakta itu. Hal itulah yang menjadi alasan Temari berada di Konoha sekarang ini—untuk satu sampai dua bulan ke depan.
Dan ngomong-ngomong mengabaikan fakta, Shikamaru hamper saja melupakan tugasnya untuk menyusun materi yang akan dibawa Konoha ke pertemuan tahunan itu.
Pertemuan Aliansi itu akan diadakan sekitar satu setengah bulan lagi. Waktu yang tidak banyak untuk menyusun materi mendalam. Dan, jika dilihat dari sudut pandang masalah pribadinya, juga bukan merupakan waktu yang cukup untuk menyiapkan mental. Cepat atau lambat, Shikamaru harus berhadapan dengan Gaara.
Coba lihat apakah semua bisa bertambah kacau lebih dari itu?
"Aku tidak tahu mengenai tata cara memperbaharui aturan lama yang mengikat semua desa yang beraliansi dengan Konoha. Dan—kudengar aturan mengenai pernikahan itu adalah salah satu yang—tabu," Naruto melanjutkan.
Shikamaru tidak bersuara. Ia memainkan gilirannya dalam diam.
"Aku sudah merundingkan masalah ini dengan Sasuke dan Sakura-chan—" Naruto menemukan pandangan Shikamaru menajam ke arahnya. "Maaf! Aku tidak bermaksud membocorkannya! Mereka begitu saja bisa menebak dan …," ia berhenti, "… mereka mengusulkan hal yang sama."
Shikamaru tidak menyalahkan Naruto. Haruno Sakura memang mengetahuinya—sejak awal, dan Uchiha Sasuke—tidak heran jika intelegensinya bisa menduga kemungkinan akan aturan pernikahan itu. Shikamaru tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya sedikit terkejut oleh keadaan yang terus berubah pada setiap detik perkembangan masalahnya.
"Naruto," Shikamaru akhirnya angkat bicara, "kalau kau bertanya pendapatku secara obyektif, aku mengakui bahwa memang diperlukan amandemen dalam aturan lama itu." Pemuda berambut hitam itu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa sebelum melanjutkan, "Tapi di satu sisi, kemungkinan isi aturan itu berubah adalah hampir mendekati mustahil."
Naruto memandang Shikamaru dengan tidak mengerti. "Apa maksudmu?" tanyanya.
Shikamaru menggeser posisi duduknya, memandang lurus Naruto. "Inti dari isi aturan itu adalah satu hal: mencegah rahasia desa berpindah ke desa lain. Itulah mengapa salah satu pihak harus membuang status ninja-nya dan secara otomatis diasingkan dari desanya. Lalu itu juga menjadi alasan bahwa pihak yang 'terbuang' tidak bisa menjadi ninja di desa baru yang dipindahinya. Logikanya bisa dipahami. Karena jika tidak seperti itu, akan banyak percobaan penyerangan suatu desa melalui jalan pernikahan."
Naruto menurunkan pandangannya. "Tapi itu tidak adil," ia berujar pelan. "Seseorang tidak harus sampai dibuang dan diasingkan dari desanya sendiri hanya karena menikah dengan seseorang dari desa lain."
"Ralat, Naruto. Dari desa ninja-nya sendiri dan dari desa ninja lain," Shikamaru menekankan kata-kata itu dengan tajam. Jeda beberapa saat sebelum pemuda itu menyandarkan punggungnya lagi. "Sekilas memang tampak tidak adil," ungkapnya, "namun itu adalah hal yang tepat jika ditinjau dari perspektif dunia shinobi."
Pada titik itu, Shikamaru merasa seperti sedang bicara dengan dirinya sendiri. Fakta itu sudah ada di pikirannya, berputar di logikanya. Namun hatinya tidak ingin mengakuinya.
Itu semua memang tidak adil.
.
#
.
Temari mengayunkan langkahnya menyusuri jalan Desa Konoha yang tampak sejuk dalam semilir angin sore. Gadis ber-kimono hitam itu sesekali membiarkan matanya menangkap gerak anak-anak yang berlarian dalam sebuah permainan shuriken plastik.
Konoha adalah desa yang damai. Sungguh tempat yang teduh … dan nyaman. Rasanya seperti bertolak belakang dengan desa kelahirannya—Suna. Sederet perbandingan itu mulai kembali mengingatkan Temari akan sesuatu yang masih membebani pikirannya.
Ya, hari mungkin sudah berganti beberapa kali, tapi Temari masih tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Shikamaru hari itu: "Bagaimana jika kau harus meninggalkan Suna dan menetap di Konoha—selamanya?"
Ya—bagaimana?
Temari sama sekali tidak tahu.
Sejujurnya, sejak detik pertama Temari mendengar penolakan halus dari Gaara saat ia mengajukan kemungkinan pernikahan dengan Shikamaru sebulan lalu, firasat tidak enak sudah menyergapnya. Dan hanya dalam hitungan kurang dari empat minggu, firasatnya terbukti—Nara Shikamaru menjelaskan mengenai informasi pernikahan antardesa ninja yang ditemukannya dalam aturan Konoha.
Pada saat informasi itu pertama kali didengarnya, Temari sedang tidak berkonsentrasi. Ia punya urgensi yang lebih penting dari apapun yang diucapkan Shikamaru—kehamilannya. Sekarang setelah masalah kehamilan itu sedikit banyak memberinya ruang bernafas, masalah inti kembali menjadi perhatiannya. Pernikahan itu akan—sekarang harus—terjadi, dan mereka harus segera memutuskan sesuatu.
Terpikir sebuah jalan sederhana untuk mengajukan permohonan agar Gaara melakukan sesuatu dengan aturan pernikahan itu. Mungkin ia sebagai Kazekage bisa berunding dengan Hokage—atau apa pun. Tapi kemudian Temari segera menyadari bahwa itu hampir tidak mungkin.
Terlahir sebagai seorang shinobi, Temari mengerti sepenuhnya alasan dari aturan pernikahan antardesa ninja itu. Sebuah alasan yang masuk akal dan hampir tidak bisa ditentang sebagai bentuk proteksi desa ninja mana pun. Dan Temari sama sekali tidak memiliki gagasan atas fakta penghalang itu.
Jawaban apa yang harusnya diberikan kepada Shikamaru?
Bukan. Mungkin masalahnya ada pada dirinya sendiri—apa yang harus ia jawab?
Siapkah ia meninggalkan desanya?
Tidak hanya desa. Ia harus meninggalkan keluarganya—kedua adiknya, meninggalkan tanah kelahirannya, dan yang paling penting … statusnya sebagai seorang ninja. Selamanya. Ia tidak akan pernah lagi menjadi kunoichi, baik di Suna maupun Konoha. Bahkan mungkin—jika aturan itu sungguh diberlakukan, ia tidak akan pernah bisa lagi menginjakkan kaki di Suna.
Sanggupkah ia mengorbankan segalanya?
Temari merasa kepalanya berputar. Tidak satu pun dari pertanyaan itu terjawab, meski ia menghabiskan hari untuk memikirkannya. Gadis itu menjulurkan tangan untuk meraba perutnya yang tersembunyi dibalik obi berwarna hijau toska. Apa yang harus dilakukannya?
"Ah, Temari-san?" sebuah suara tinggi terdengar dari jarak yang tidak jauh.
Temari menoleh, membiarkan mata turquoise-nya bertabrakan dengan sosok seorang gadis semampai berambut pirang pucat panjang. "Ino?" Temari berujar tidak yakin.
Tidak salah lagi, itu adalah sosok gadis yang sama dengan gadis yang seminggu lalu membalut diri dalam gaun pengantin cantik. Gadis yang—kalau diingat—sudah melemparkan buket bunganya kepada Temari. Itu Yamanaka Ino, dalam kemeja putih sederhana dan celana tanggung berwarna ungu pekat.
Gadis itu setengah berlari mendekati Temari. "Aku tidak tahu kau masih ada di Konoha," ujarnya ceria.
Temari menyunggingkan senyum hambar. "Begitulah," jawabnya pendek.
Dalam jarak dekat, Temari mencatat kilau ceria dari pancaran gadis di depannya. Mata Temari tidak gagal menemukan selingkar cincin perak di jari manis gadis itu. Ia tampak bahagia.
"Kenapa tidak bersama Shikamaru?" Ino bertanya cerah. "Aku tidak bertemu dengannya sejak di upacara pernikahanku minggu lalu."
Temari mengembalikan tangannya yang tadi meraba obi ke sisi tubuhnya. "Aku sedang mengurus persiapan Pertemuan Aliansi untuk bulan depan. Kami memang tidak dalam divisi pekerjaan yang sama," Temari menjawab. Ia lalu memandang Ino. "Bukankah kau masih dalam cuti pernikahan?"
Ino tertawa malu-malu dan sedikit menggoyangkan rambut panjangnya. "Sudah selesai. Aku baru saja akan ke Rumah Sakit. Kurasa pekerjaanku menumpuk. Sai juga, dalam waktu dekat akan kembali ke Anbu," ia bicara.
Temari memandangi gadis di depannya. Katakan ia jahat—tapi ia tidak bisa menahan sebersit perasaan iri yang muncul di sudut hatinya. Seandainya ia dan Shikamaru juga bisa melewati hari-hari sederhana seperti itu—
"Temari-san?" Mendadak Ino membulatkan matanya.
Ya, belum selesai Temari dengan pikirannya, mendadak ia merasakan mual mendera pencernaannya. Gadis itu refleks menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Temari-san? Ada apa?" Ino berujar panik.
Mereka berada di sisi jalan. Temari memutar tubuhnya lalu membungkuk. Gadis itu tidak bisa menekan mual yang menghempasnya, dan berakhir mengosongkan isi perut di saluran air kecil di dekat tempatnya berdiri.
Yamanaka Ino menjulurkan tangannya untuk memijat perlahan tengkuk Temari. "Kau sakit? Wajahmu pucat sekali," ia bersuara setelah Temari tampak terengah dan mengusap sudut bibirnya dengan sapu tangan dari balik obi-nya.
Temari menggeleng lemah. Ia merasa tidak enak dengan tubuhnya sendiri. Biasanya ia memang mengalami mual seperti ini, tapi di pagi hari. Dan Temari masih bisa menyebutkan bahwa ini adalah petang. Mungkinkah karena sesuatu yang dimakannya siang tadi?
Gadis berkuncir empat itu meraba perutnya, lalu tertegun. Ia teringat sesuatu. Sepertinya, ia tidak makan apapun sejak pagi tadi.
Tentu saja. Semua pikiran dan kesibukan misinya membuatnya lupa. Ia nyaris membunuh nyawa di tubuhnya—bodoh sekali.
Ino memiringkan kepalanya, kemudian begitu saja menggamit lengan dingin Temari. "Sebaiknya kita mampir sebentar ke rumah orangtuaku. Dekat dari sini. Kau tidak terlihat sehat. Aku akan memberimu obat," Ino bicara dengan cepat.
"Tidak per—"
"Jangan macam-macam, Temari-san. Kau jelas-jelas sakit," Ino memotong ucapan gadis di belakangnya dan menariknya pergi.
Temari hanya bisa mengikuti sosok di depannya. Ia merasa kepalanya sedikit pening. Mungkin sedikit obat tidak akan bermasalah. Lagipula … segalanya tidak akan terbongkar hanya karena hal kecil seperti ini, kan? Siapa pun bisa saja mual karena perut kosong. Sepertinya tidak akan menjadi masalah.
Saat itu, hanya ada satu hal yang meleset dari perhitungan Temari, yaitu, fakta bahwa Yamanaka Ino adalah juga seorang ninja medis.
.
#
.
Namikaze Naruto memandangi papan shogi di depannya. Berkali-kali, pemuda itu bergantian melirik bidak dan lawan mainnya yang terdiam. Suasana di ruang kerja Nara Shikamaru itu agak sedikit kaku. Percakapan mengenai aturan pernikahan antardesa ninja ternyata memang bukan sesuatu yang menyenangkan dibicarakan dengan terbuka.
Shikamaru menjalankan gilirannya. Meski menatap bidak, bahkan Naruto bisa mengetahui bahwa pikiran pemuda itu sedang tidak pada tempatnya. Itu sudah berlangsung sejak tadi—sejak percakapan mereka terputus.
Naruto memutar bola matanya. Ini bukan seperti ia tidak mengenal pemuda di depannya, yang juga adalah sahabatnya sejak masih kanak-kanak. Naruto tidak pernah menemukan sosok Shikamaru terlihat begitu kehilangan pijakan seperti sekarang. Dan ia tahu, ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang lebih dari sekedar pernikahan antardesa ninja.
"Na, Shikamaru," Naruto memulai. Pemuda pirang itu menjalankan bidaknya dengan tenang.
Shikamaru mengangkat wajahnya dan memandang Naruto. "Apa?" gumamnya.
Naruto tidak membalas pandangan itu, ia membiarkan sepasang mata biru cemerlangnya mengamati posisi bidak-bidak shogi di depannya. "Kau sedang ada masalah apa?" ia bicara.
Shikamaru tertegun.
Ia tidak pernah mengira seorang Naruto akan bisa menebak hal semacam itu. Shikamaru tahu, Naruto memang semakin berubah dari sisi kedewasaan dirinya. Sejak menjadi Hokage, perlahan Naruto mulai memiliki sisi diri yang tenang, tajam dan terkendali. Meski sifat sehari-harinya masih sama hiperaktifnya dengan Naruto yang dulu, tapi Shikamaru yang paling tahu bahwa pemuda itu semakin matang di dalam. Meski mengetahui itu, Shikamaru tetap saja terkejut jika daya pengamatan pemuda itu begitu saja meroket—dan memilih waktu yang tidak tepat untuk tepat sasaran.
"Aku tidak mengerti maksudmu," itulah jawaban Shikamaru. Dengan tenang, Shikamaru mengingatkan dirinya bahwa ia belum bisa memutuskan apapun mengenai masalah yang menderanya. Semakin banyak orang yang tahu tidak berarti masalah tidak menjadi semakin rumit. Bukankah begitu?
Naruto tampak tidak terpengaruh dengan jawaban pemuda di depannya. Setelah menjalankan bidaknya dengan satu langkah pasti, Naruto mengangkat wajah dan memandang lurus Shikamaru. "Jangan berbohong, Shikamaru," ujarnya lugas.
Shikamaru tidak menjawab, tidak juga menghindari tatapan Naruto. Detik berlalu dan Shikamaru menjalankan gilirannya dengan singkat. "Sudah kubilang aku tidak mengerti apa yang kau maksud," ia bersuara.
Mata biru Naruto mengawasi ketika Shikamaru selesai dan kembali memandangnya. Ekspresi serius terpancar di wajah Naruto. "Kalau begitu, beritahu aku bagaimana mungkin aku mengalahkanmu dalam shogi?" tanyanya.
Shikamaru mengangkat satu alisnya. "Apa—"
"Tsumi." Naruto menyunggingkan senyum tipis ketika menunjuk posisi bidaknya di papan.
Sepasang mata pekat Shikamaru membulat. Pemuda itu terkejut. Tentu saja—sejak tadi ia nyaris tidak melihat isi papan di depannya. Dan wajar saja Naruto bisa menebak sesuatu. Karena baru saja, untuk pertama kali dalam sejarah mereka, Naruto mengalahkan Shikamaru dalam permainan shogi.
Nara Shikamaru mendesah panjang, lalu menghempaskan punggungnya ke sandara sofa dan memandang langit-langit ruang kerja kecilnya. Konsentrasinya menguap, logikanya kacau, segalanya tampak kusut. Shikamaru sama sekali tidak menyukai keadaan itu. Semakin ia berusaha mendinginkan kepala dan mencari celah solusi, semakin ia terbelit oleh kekusutan hipotesa yang dibuatnya sendiri.
"Kau kira sudah berapa lama aku mengenalmu?" terdengar Naruto bicara. Pemuda itu dengan tenang merapihkan kembali bidak shogi yang tidak beraturan di papan. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, Shikamaru."
Suara jernih Namikaze Naruto entah bagaimana membangunkan insting Shikamaru. Pemuda itu menyerah. Duduk tegap kembali, ia memandang lurus sang pemuda pirang. Sudah cukup, ia harus berhenti menimbang segalanya hanya dengan logika semata.
"Naruto, aku menceritakan ini kepadamu bukan karena kau adalah Hokage," Shikamaru bicara, "tapi karena kau adalah sahabatku—"
Seulas senyum puas melengkung di wajah Naruto. Pemuda itu mengangguk, lalu dengan tenang menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Nara Shikamaru. Perlahan, tabir akhirnya terkuak.
Cepat atau lambat, segalanya memang harus terbongkar.
.
#
.
.
Bersambung
.
.
~fariacchi – 140221~
