Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?

Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality; almost Shikamaru-centric. Belum di-beta.

Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.


DARI BAGIAN SEBELAS

… "Nah, itu rekan kerjamu dalam misi ini, Shikamaru," sahutnya seraya mengisyaratkan pandangan ke arah sosok yang baru saja masuk mengikuti Sasuke.

Shikamaru memutar tubuhnya, mengangkat satu alis ketika menemukan sosok yang dimaksud Naruto.

"… Neji?"

Hanya Shikamaru yang sedikit terkejut. Hyuuga Neji, di sisi lain, terlihat seperti menyadari bahwa dugaan yang tadi sempat berputar di kepalanya memang tepat.

Ternyata misi ini memang ada kaitannya dengan masalah yang sedang dihadapi Nara Shikamaru.


.

#

.

Ujung Mimpi

©fariacchi

Duabelas: Tawa

.

#

.


Satu minggu berlalu dengan cepat. Nara Shikamaru menghabiskan sebagian besar hari di ruang kerjanya, bersama Hyuuga Neji, memaksimalkan intelegensi untuk menyusun rancangan materi mereka. Haruno Sakura secara teratur mengunjungi Temari untuk memeriksa kondisi gadis itu serta menyampaikan perkembangan misi. Lalu, hampir setiap hari, Shikamaru dan Temari bertemu, untuk makan malam atau sekedar obrolan ringan seperti biasa.

Segalanya tampak berjalan tenang sesuai rencana. Shikamaru merasa lebih baik setelah berhasil menyeimbangkan kerja logikanya dengan sebagian kecil rileksasi bersama Temari. Terakhir kali bertemu Sakura, gadis itu menyebutkan bahwa kondisi emosional Temari semakin membaik. Shikamaru cukup lega dan merasa mampu berkonsentrasi dengan tempo seperti itu.

Memiliki Neji sebagai rekan kerja telah membuat segalanya lebih mudah. Shikamaru menghabiskan hari pertama pekerjaan mereka untuk menceritakan segalanya kepada Neji. Ia merasa lebih baik, karena Neji akan lebih memahami apa tujuan rencana kerja yang akan mereka susun. Di samping itu, ia memang merasa lebih baik, karena Neji—entah bagaimana—mampu memberikan dukungan moril meski tanpa banyak bicara.

"Kalau kau benar-benar ingin melawannya, aku juga akan membantu," ujar Neji. Ketika itu, Shikamaru hanya tersenyum tipis, lalu mulai membuka dokumen-dokumen yang perlu mereka pelajari bersama.

Namikaze Naruto melakukan hal lain yang ia bisa: mencari informasi dari tetua desa. Shikamaru belum mendengar kabar, tapi ia tahu hal itu akan sedikit sulit. Tidak satu pun tetua Desa Konoha yang tidak bersikap kolot terhadap segalanya. Meski begitu, Shikamaru percaya pada sang Rokudaime Hokage itu.

Selama tenggelam dalam penyusunan materi, Shikamaru belum bertemu lagi dengan Ino atau Chouji. Pemuda itu berharap menemukan waktu untuk berbicara dengan mereka. Sekarang setelah semuanya tampak lebih tenang, Shikamaru ingin menebus waktu yang sempat kosong di antara mereka bertiga. Lalu, Shikamaru juga ingin mengunjungi Kurenai—dan Kazuma karena ia melupakan janji untuk melatihnya.

Banyak hal yang ingin dilakukan Shikamaru di tengah konsentrasinya. Ajaibnya, tidak satu pun dari hal itu yang terlihat mengacaukan.

Sepertinya segalanya benar-benar bertambah baik.

Dan, kembali pada salah satu poin yang ingin dilakukannya, saat ini Shikamaru berakhir mematung di depan sebuah tempat yang tidak asing baginya. Itu adalah sebuah restoran BBQ yang selama bertahun-tahun nyaris menjadi bagian dari hari-harinya.

Rasanya begitu banyak kenangan dalam bangunan itu. Hari-hari polos yang menyimpan sejuta cerita. Ketika beranjak remaja, tempat itu menjadi satu-satunya yang menyatukan persahabatan, bahkan dalam kehilangan. Bahkan, beberapa waktu sebelum kedewasaan mengikat, tempat itu masih memberikan ruang untuk mengenang.

Shikamaru tidak merasa lapar, namun suatu dorongan membuatnya mengayunkan kaki ke dalam tempat itu.

Dan kalau memang ada yang namanya keajaiban, maka detik itu setidaknya mendefinisikannya.

"Shikamaru—?"

Waktu bahkan baru lewat sedikit dari tengah hari, tapi Shikamaru sudah menemukan wajah terkejut Yamanaka Ino dan Akimichi Chouji dari meja langganan mereka.

Terlalu terperangah dengan kebetulan yang menghampirinya, Shikamaru hanya menyunggingkan senyum kaku dan berjalan ke arah dua sahabatnya.

"Astaga! Aku tidak menyangka kita bisa kebetulan bertemu seperti ini!" Ino memekik ceria. Gadis berambut pirang panjang itu mengilatkan mata aqua-nya dengan semangat, menggeser tubuhnya untuk memberi Shikamaru tempat duduk.

Chouji tampak tertawa renyah dan melupakan piring dagingnya sejenak. "Rasanya baru sepuluh menit lalu aku kaget karena bertemu Ino di sini," pemuda subur itu berujar.

Shikamaru mengambil tempat di samping Ino dan, sekali lagi, menyunggingkan senyum kaku. "Entahlah, tiba-tiba aku merasa ingin mampir," jelasnya.

Ino dan Chouji saling melempar pandang sesaat sebelum dengan bersamaan tersenyum hangat memandangi sosok sahabat sejak kecil mereka.

Piring-piring terisi dengan daging. Seperti hari-hari biasa, kunyahan Chouji dan lengking suara Ino mewarnai meja di sisi jendela itu. Sejak dulu, meja itu tetap menjadi pilihan mereka. Begitu juga dengan hari ini.

Ino menggoyangkan gelas bening berisi sake berkadar ringan dengan beberapa blok es batu. Gadis itu menopang dagu dan tampak mendesah kecil. "Ah~ menyebalkan," gumamnya.

"Ada apa—nyam—Ino?" Chouji menelan kunyahannya.

Ino memajukan bibirnya sedikit. "Naruto tega sekali terus memberikan misi tingkat S kepada Sai. Apa anak itu lupa kalau kami baru menikah?"

Chouji tertawa pelan. "Tapi kalian ini pasangan shinobi. Wajar saja, kan?" Pemuda itu berujar seraya membalik daging panggangnya.

Ino meletakkan gelasnya. "Tetap saja!" gerutunya. "Sakura juga sama saja. Tega-teganya dia melimpahkan pekerjaan di Rumah Sakit kepadaku!"

Kali ini Shikamaru bersuara setelah meneguk sake-nya sedikit, "Sepertinya aku menyumbang satu hal dalam kasus itu."

Gadis berambut pirang panjang itu menoleh, menemukan seringai tipis yang khas dari Shikamaru. Tersenyum, Ino berpura-pura menampakkan ekspresi marahnya. "Benar. Ini semua gara-gara kau, Shikamaru!"

Shikamaru tidak menahan tawa kecilnya ketika melihat tingkah Ino. "Merepotkan," gumamnya.

Tiga sosok itu tenggelam dalam keceriaan mereka yang biasa. Seperti tahun-tahun yang telah berlalu, seperti masa-masa yang telah berganti. Saling memahami, sebisa mungkin tiga sosok itu bersikap seolah tak terjadi apapun. Seolah pernikahan, pertunangan, atau pertengkaran yang berputar dalam beberapa waktu terakhir hanyalah mimpi yang semu. Tanpa suara, mereka setuju untuk membiarkan siang ini berlalu seperti adanya. Mungkin saja, hari esok tidak lagi memberi mereka keajaiban sederhana ini.

Tawa tiga sosok itu terhenti sesaat ketika pemilik restoran mengantarkan piring daging mentah kedua. "Ini!" sahut paman paruh baya berpakaian putih itu dengan hangat.

Chouji meraih piring dengan semangat. "Sankyu, Paman!"

Ino menjulurkan kepalanya sedikit. "Paman, rasanya aku baru tidak melihatmu sebentar tapi sepertinya kau tampak lebih muda!" Ia berseru.

Paman pemilik restoran tertawa. "Kalau kau merayuku seperti itu, rasanya aku ini seperti kakek-kakek penggoda!"

Ino terkikik. "Aku sungguh-sungguh, Paman!"

"Jangan macam-macam, Ino-chan. Atau kau menyumpahiku mati tergorok pedang Anbu?" Pemilik restoran memandang penuh arti.

"Paman!" Ino memekik malu.

Tawa terdengar. Pemilik restoran menumpuk piring kosong di meja tiga sahabat itu untuk menggantinya dengan yang bersih. "Kalian lama tidak makan bersama seperti ini," ujarnya begitu saja.

Tiga sosok itu berpandangan. "Maaf, Paman. Kau tahu—sibuk," Ino menjawab cerah.

"Aku tahu, aku tahu. Kalian anak-anak muda selalu membuat iri," komentar si paman itu.

Shikamaru terkekeh. "Kami sudah tidak semuda itu, Paman. Tinggal menunggu waktu sampai aku atau Chouji menyusul Ino." Shikamaru beralih memandang Chouji dengan seringai tipis. "Iya, kan, Chouji?"

Gurat kemerahan tampak di pipi gempal Chouji. "Shi—Shikamaru!"

Ino tertawa.

Paman pemilik restoran memandangi sosok tiga remaja—tidak, tiga dewasa—yang ceria itu. Menggelengkan kepala dengan kagum, sosok itu tidak menahan senyumnya. Mengambil botol sake kosong di meja, pemilik restoran kali ini berujar sungguh-sungguh, "Kalian tumbuh menjadi shinobi hebat. Asuma-san pasti bangga dengan kalian bertiga."

Hening sesaat. Shikamaru, Ino, dan Chouji berpandangan sejenak sebelum saling menukar senyum tipis. "Tentu," Shikamaru menjawab. Paman pemilik restoran kemudian mengangguk puas dan meninggalkan meja.

Setelah itu, mendadak mereka bertiga merasa lelah untuk tertawa. Chouji tampak mengunyah potongan dagingnya dengan tidak secepat biasa. Ino tampak menggoyangkan lagi gelasnya sehingga blok es batu di dalam saling bergesekan dan menimbulkan denting. Shikamaru, di sisi lain, tampak termenung untuk sesuatu yang tertahan di bibirnya.

Ketika Shikamaru mengangkat wajahnya dan mengeluarkan suara, baik Ino maupun Chouji sudah menatapnya. Dua sosok itu jelas telah mengamati Shikamaru dari balik aktivitas mereka masing-masing.

"Maaf," hanya itu yang akhirnya Shikamaru ujarkan.

Tidak ada yang menjawab. Chouji meletakkan garpunya, meraih tangan Shikamaru yang terkepal di atas meja, lalu menggenggamnya. Ino mengikuti, dan tersenyum.

Shikamaru merasa ragu, namun akhirnya menatap dua tangan yang bersatu di atas kepalan tangannya. Begitu saja, ia merasa benar-benar lega.

Ino memandang lembut segalanya dari mata aqua jernihnya. "Berjanjilah kita tidak akan memerlukan hal seperti kemarin lagi," ia berujar pelan. Kedua sosok pemuda di dekatnya mengangguk tanpa suara.

Ketika paman pemilik restoran datang kembali dengan sebotol sake dan sepiring daging tambahan, Shikamaru, Ino dan Chouji tampak sudah tersenyum ceria.

"Bonus! Hadiah dariku untuk kalian yang sudah semakin dewasa dan meninggalkanku tua sendiri!" sahut si paman.

Chouji bersorak puas dan Ino tertawa hangat. Shikamaru, dari tempatnya, hanya tersenyum mengamati. Pemuda itu rasanya baru mengingat kembali, betapa banyak serpihan kebahagiaan yang selama ini menjadi bagian hidupnya.

Seseorang memang harus kehilangan terlebih dahulu untuk benar-benar menyadari apa yang mereka miliki.

Shikamaru hanya bersyukur, ia belum terlambat untuk menyadari sebelum benar-benar kehilangan.

.

#

.


Temari menggigit apel segar di tangannya. Gadis berkuncir empat itu duduk di meja makan kayu dalam ruang apartemen sederhana milik Haruno Sakura. Tepatnya, Sakura baru saja mengundang Temari untuk menghabiskan sore ketika mereka tanpa sengaja berpapasan di jalan desa.

"Bagaimana harimu, Temari-san?" Sakura bertanya seraya menarik kursi di seberang Temari, menuang karton berisi jus wortel ke sepasang gelas bening di hadapannya.

"Cukup menyenangkan untuk mengelilingi seisi Konoha," Temari berujar penuh arti.

Sakura tertawa kecil, menyodorkan satu gelas kepada Temari dan menyibak helai merah jambunya sesaat. "Olahraga ringan akan baik untuk keadaanmu. Tapi aku tidak komentar soal keliling Konoha."

Temari tersenyum sebelum menghabiskan sisa apel di tangannya. Sakura memainkan gelasnya, tampak tidak terburu-buru untuk meneguk cairan kental berwarna oranye itu.

"Temari-san," Sakura memanggil. Temari meletakkan gelasnya, memandang gadis di depannya. "Apa Shikamaru sudah mengatakan sesuatu mengenai—" Sakura berhenti untuk mencari kata yang tepat, "—percakapan kalian waktu itu?"

Benar, Haruno Sakura nyaris mengetahui segalanya. Sejak Temari membiarkan dirinya melepaskan semua beban pikirannya—menangis di pelukan gadis itu, Sakura memastikan dirinya berada di garis yang tepat dalam masalah ini. Tidak terlalu ke dalam untuk menggali privasi, namun tidak juga ke luar dari tanggung jawab profesi. Sakura berdiri di antara itu, dan Temari mulai belajar terbiasa dengannya.

Temari ingat bahwa ia tidak banyak memiliki teman sesama wanita. Tigaperempat hidupnya sejauh ini diisi oleh dua adik laki-laki dan kesibukan sebagai kunoichi. Temari tidak keberatan membiarkan lebih banyak warna dalam seperempat lainnya. Merah jambu, mungkin pilihan yang bagus. Seperti sebuah awan merah muda berbentuk stroberi; dan Temari mencatat bahwa ia merasa nyaman.

Kembali pada percakapan, Temari menggeleng pelan. "Shikamaru belum mengatakan apa-apa lagi, tapi aku tahu ia merasa sedikit bersalah," jawabnya.

Tentu saja. Kata apa yang bisa diucapkan untuk seseorang yang sudah menyudutkan kekasihnya dalam pilihan tidak masuk akal di tengah kekalutan masalah?

Konoha, atau Suna?

Sejak hari di seminggu lalu, Shikamaru jelas mengenyahkan jauh-jauh pilihan itu. Pemuda itu tidak mengatakan apapun, tapi Temari tahu. Temari tahu, Shikamaru memilih melawan—dan membuat pilihannya sendiri. Cukup dengan itu, Temari merasa bahwa keadaan di antara mereka benar-benar membaik.

Sakura memandang hangat gadis di depannya. "Temari-san, cukup laporkan padaku jika Shikamaru mengatakan sesuatu yang sembarangan lagi." Ia mengepalkan tangannya dengan semangat. "Aku yang akan menyadarkannya."

Temari menyeringai. "Kau boleh menggunakan kipasku," candanya.

Dua gadis itu tertawa.

Haruno Sakura menikmati misinya. Ia telah mengatur beberapa perubahan sehingga Yamanaka Ino banyak menggantikannya bekerja di Rumah Sakit Konoha. Ia bekerja dengan beberapa perwakilan desa lain untuk menggantikan Temari dalam persiapan Pertemuan Aliansi. Ia mengunjungi Temari, memeriksa kesehatan gadis itu, melaporkan perkembangan dalam persiapan Pertemuan Aliansi, dan mengobrol banyak hal. Jika sebelumnya tidak, maka sekarang Sakura merasa begitu akrab dengan Temari.

Mungkin yang belum dilakukan Sakura hanyalah mengajak Temari bersenang-senang bertiga dengan Ino. Wanita, tetaplah wanita. Meski sibuk bekerja, sudah menikah, atau sedang hamil, wanita tetap memiliki waktu untuk menyenangkan diri mereka.

"Tapi aku serius, Temari-san—" ujar Sakura setelah berhenti dari sesi olahraga wajah mereka. "Kau tidak boleh membiarkan dirimu tertekan, atau emosimu berantakan. Kau harus menjaga kondisi kejiwaanmu sebaik kondisi fisikmu."

Temari memberikan senyum singkat. "Aku tahu, Sakura-sensei," jawabnya.

Sakura membiarkan sederet tawa kecil meluncur lagi. Setelah meneguk setengah jus wortelnya, Sakura memandang Temari. "Bagaimana perasaanmu? Sebentar lagi usia kandunganmu memasuki bulan kedua," ia berujar.

Temari terdiam sejenak dan meletakkan satu tangan di obi yang melilit pinggangnya. "Baik," ia menjawab. "Sejujurnya … aku merasa seperti sedang menyaksikan keajaiban terbaik dalam kehidupan—" ketika itu, Temari menatap perutnya, menyunggingkan senyum.

Haruno Sakura menyimpan ucapan bahagia dalam hatinya. Dalam satu titik, ia merasa begitu kagum dengan Shikamaru dan Temari. Terlepas dari segala masalah yang mengikat mereka, tidak sedikit pun terbesit penyesalan terpancar dari kedua sosok itu. Sakura bisa melihat bahwa apapun yang terjadi, di luar segalanya, Shikamaru dan Temari menginginkan kehidupan kecil itu. Karena itu, Sakura tahu bahwa kedua sosok itu tidak akan menyerah.

Kebahagiaan hanya ditutupi selapis luka realita. Dan jika Sakura, seperti saat ini, diberikan kesempatan untuk membantu menyembuhkan luka itu, maka ia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Lagipula, Sakura tidak menjadi ninja medis untuk tidak menyembuhkan sesuatu.

.

#

.


Sore tampak semakin merah. Istirahat siang berakhir beberapa jam lalu, dan penghuni ruangan persegi penuh buku itu telah kembali dalam posisi yang sama untuk beberapa hari terakhir. Hyuuga Neji menutup buku tebal yang ditekurinya. Hari kedelapan sejak misi mereka berjalan, sudah cukup banyak fakta hukum yang bisa dipelajarinya.

"Shikamaru, bagaimana menurutmu dengan catatan kasus ini?" ujarnya seraya menyodorkan segulung dokumen ke arah pemuda di sampingnya.

Shikamaru membaca dokumen itu. Alisnya berkerut serius, dan ia tampak berpikir seraya meneliti setiap kata dalam tulisan di depannya. Setelah selesai dalam beberapa menit, Shikamaru meletakkan gulungan itu. "Kurasa ini bisa dijadikan bahan pembanding."

Neji mengangguk.

Dua pemuda itu duduk di sofa hijau lumut dalam ruangan kerja Shikamaru yang saat ini dipenuhi tumpukan buku dan dokumen. Haruno Sakura benar-benar mengerjakan tugasnya dengan luar biasa untuk menyediakan literatur referensi yang bisa mereka gunakan. Terlalu luar biasa, jika Shikamaru bisa berkomentar.

Shikamaru melirik jendela tunggal di dinding seberangnya, menemukan langit mulai berwarna keunguan penanda petang. Ia bangkit berdiri. "Kurasa hari ini cukup. Besok kita bisa mulai membahas kemungkinan bentuk amandemennya."

Hening. Neji memadang Shikamaru dengan mata peraknya. Pemuda itu terdiam beberapa saat. Kemudian, Neji menutup buku catatannya dan berujar pelan, "Keberatan kalau aku tetap di sini sebentar lagi?"

Shikamaru memutar tubuh, mengangkat satu alis ke arah Neji. Tidak biasanya Hyuuga Neji mengeluarkan nada bicara seperti itu—atau permintaan seaneh itu. Biasanya Neji cenderung pulang tepat waktu, dengan alasan sesuatu seperti kewajiban dalam klan.

Memutuskan bertanya, Shikamaru duduk kembali di samping Neji. "Ada masalah?"

Neji tampak memejamkan mata sejenak. "Aku tidak bisa mendefinisikannya semudah itu."

Shikamaru memberi jeda. "Keberatan jika berbagi?" tanyanya hati-hati. "Bagaimanapun kau sudah membantuku selama—masalahku ini."

Neji memandang sosok Shikamaru dan memberikan senyum tipis. "Tidak seharusnya aku membawa urusan pribadi dalam misi. Terutama ketika aku sedang dalam misi menyelesaikan masalah seseorang—" ia bicara dengan nada seriusnya yang biasa.

Shikamaru mendesah pelan. "Kau lupa bahwa membawa urusan pribadi dalam misi baru saja dilegalkan untuk beberapa kasus."

Pemuda bermata perak tertawa kecil; berbincang dengan Nara Shikamaru memang selalu menjadi kegiatan yang menarik dan tidak membosankan. Lagipula, tidak banyak orang yang bisa bercakap-cakap dengan santai atau memahami isi kepala seorang Hyuuga Neji. Shikamaru hanya satu di antara sedikit bukan kebanyakan orang itu.

"Sebenarnya semua ini dimulai sudah agak lama," Neji memulai. "Namun setidaknya baru semalam berlalu sejak segalanya benar-benar diputuskan." Tangan Neji bergerak merapihkan dokumen-dokumen di meja sebelum meneruskan bicaranya, "Rasanya baru beberapa waktu lalu aku mengatakan sesuatu tentang 'melawan takdir' kepadamu. Sungguh ironis bahwa pada akhirnya, aku tidak bisa menggunakan saranku sendiri."

Shikamaru tidak menyela. Bahkan ketika keheningan sesaat mewarnai ruangan itu. Lalu, saat sepasang mata perak Neji memandang lekat padanya, Shikamaru menunggu.

"Aku resmi ditunangkan dengan Hinata-sama."

Baiklah, jika kedua mata Shikamaru tidak membulat sedikit, maka pasti alis pemuda itu terangkat. Itu berita yang cukup … mengejutkan. Namun Shikamaru tidak mengeluarkan suara.

Neji mengulaskan senyum getir. "Dulu, Naruto pernah menjanjikan perubahan klan Hyuuga kepadaku. Ketika itu, segalanya terlihat pada tempatnya." Jeda. "Namun ternyata, realita memberikan efek samping yang cukup menyulitkan—"

Neji menghela nafas panjang. Pemuda berkulit pucat itu menyandarkan tubuh ke sandaran sofa hijau lumut dan memandang langit-langit ruang persegi di atasnya. Shikamaru, tanpa sadar mengarahkan matanya pada lantai di bawah kakinya—termenung.

"Selalu dibutuhkan pengorbanan untuk suatu perubahan," suara Neji bergema.

Nara Shikamaru mengunci mulutnya. Hyuuga Neji tidak mengharapkan tanggapan atau saran—ia hanya merasa ingin bicara. Lagipula, seandainya pun Neji mengharapkannya, Shikamaru tidak yakin bisa memberikan satu.

Sesuatu dalam kalimat terakhir Neji seperti baru saja membangkitkan percik kecil kegelisahan di sudut terdalam diri Shikamaru. Rasanya seperti sesuatu baru saja menghapus seluruh tawa yang dilaluinya hari ini. Saat itu, Shikamaru tidak menahan diri untuk berharap bahwa situasi yang membaik ini akan bertahan selama mungkin.

Sayangnya, untuk beberapa alasan, Shikamaru merasa tidak yakin dengan harapan itu.

.

#

.


.

Bersambung

.


Catatan Faria:

Apakah saya baru saja merusak suasana? Dan, tenang saja, ini bukan tentang Neji—ini masih tentang Shikamaru *kedip*.

Tidak lupa: Otanjoubi omedettou, Nara Shikamaru. Tahun ini akhirnya hanya update chapter terbaru Ujung Mimpi. Tepat setahun yang lalu karya ini saya publish. Sungguh tidak terasa :) Tampak seperti manga Naruto bisa berakhir kapan saja dalam waktu dekat. Tahun ini wish-nya saya ganti jadi supaya masih bisa menikmati awesomeness Nara Shikamaru sampai tahun depan. Akan sangat luar biasa jika tahun depan saya bisa mem-publish sesuatu untuk Shikamaru.

Thank you for reading :)

.

~fariacchi – 140922~