Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?
Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality; almost Shikamaru-centric. Belum di-beta.
Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.
DARI BAGIAN DUABELAS
… "Selalu dibutuhkan pengorbanan untuk suatu perubahan," suara Neji bergema …
… Sesuatu dalam kalimat terakhir Neji seperti baru saja membangkitkan percik kecil kegelisahan di sudut terdalam diri Shikamaru. Rasanya seperti sesuatu baru saja menghapus seluruh tawa yang dilaluinya hari ini. Saat itu, Shikamaru tidak menahan diri untuk berharap bahwa situasi yang membaik ini akan bertahan selama mungkin.
Sayangnya, untuk beberapa alasan, Shikamaru merasa tidak yakin dengan harapan itu.
.
#
.
Ujung Mimpi
©fariacchi
Tigabelas: Celah
.
#
.
Nyaris tepat, keraguan Shikamaru mulai menyeruak.
Dua minggu yang lain berlalu tanpa bisa dihentikan. Segalanya memang seperti bertambah baik, namun kali itu Shikamaru memilih melebur konsentrasinya dalam satu hal. Dari setiap hari pertemuan dengan Temari, lambat laun berkurang, hingga menyentuh titik lima hari ketika itu.
Shikamaru tidak bermaksud negatif, tapi ia merasa membutuhkan waktu lebih untuk menyusun segalanya. Bersama Hyuuga Neji, Shikamaru mencoba merancang segalanya sebaik mungkin.
Shikamaru tidak menyinggung mengenai masalah Neji. Shikamaru cukup mengenal Neji untuk membedakan saat-saat di mana pemuda itu ingin berbincang atau sekedar bercerita. Malam itu, Neji memilih opsi yang kedua, dan Shikamaru menghargainya. Jadi, kedua pemuda itu bertahan dengan profesionalisme dan bekerja sungguh-sungguh.
Ketika Shikamaru meletakkan alat tulisnya dan menghela nafas, waktu yang tersisa sebelum Pertemuan Aliansi adalah genap satu minggu. "Aku tidak bisa memutuskan untuk ketentuan bagian ini," Shikamaru bersuara. Sejujurnya, ia mulai sedikit frustasi.
Neji mengangkat wajah dari draft materi yang belum rampung, memandang Shikamaru yang tampak kusut. "Belum ada yang memuaskan?"
Diam yang diberikan Shikamaru bisa diartikan sebagai kata tepat.
Shikamaru dan Neji bekerja dalam sebuah tata aturan mengenai pernikahan antardesa ninja. Sejauh ini, mereka berhasil merumuskan amandemen ideal menurut mereka, dan sudah mencatat tak kurang dari puluhan ketentuan yang akan berhubungan langsung jika amandemen itu dilakukan. Neji mengambil tugas untuk memeriksa segala tata aturan dasar yang berhubungan dengan hukum umum—memastikan tidak ada satu bagian pun dari draft amandemen yang melanggar atau mengiris aturan lain. Shikamaru, selebihnya, mengambil tugas merancang bentuk perubahan terbaik dari tata aturan yang sudah menjeratnya dalam masalah itu.
Baiklah, jika belum, maka bisa dikatakan akan menjerat. Cepat atau lambat.
Waktu mereka tinggal sedikit, dan bagian tersulit dari amandemen aturan pernikahan itu belum tampak cerah. Shikamaru mengurut sedikit pelipisnya. Entah berapa malam sudah ia menghabiskan waktu untuk membaca, mencorat-coret, dan membayangkan. Bahkan dengan tingkat intelegensinya yang disebut-sebut sebagai satu dari seratus ribu kelahiran itu, Shikamaru tidak bisa mendekati kata perubahan.
Seperti yang Neji katakan ketika pertama kali membaca keseluruhan aturan itu, "Bagian yang akan menyita banyak perhatian adalah bagian akhir ketentuan." Neji memang benar. Pemuda Hyuuga itu tidak bekerja di Divisi Hukum Konoha selama dua tahun untuk meyakinkan Shikamaru bahwa mereka benar-benar bisa mengamandemen keseluruhan aturan.
Sekarang, tanpa bisa ditunda lagi, Shikamaru harus menghadapi bagian itu. Bagian itulah yang merinci konsekuensi dari suatu pernikahan antardesa ninja—bagian yang menjadi pusat masalah Shikamaru selama dua bulan terakhir bersama Temari.
Neji tampak meninggalkan kegiatan membacanya dan mendekati meja Shikamaru. "Shikamaru, kita akan memiliki banyak masalah jika poin konsekuensi ini dirombak seluruhnya," Neji bicara, mencoba terdengar tenang. "Setidaknya, kita akan membutuhkan koreksi silang dengan aturan-aturan klan yang dimiliki empat desa lain."
Shikamaru meraih alat tulisnya dan mencoret beberapa kata. "Aku tahu. Lebih buruk lagi, kita memiliki kemungkinan di atas delapan puluh persen untuk keseluruhan amandemen ditolak akibat poin ini." Shikamaru mengetuk-ngetuk baris kalimat yang dimaksudnya.
Neji menarik kursi kayu di dekat dinding dan duduk di hadapan meja kerja Shikamaru. "Dari perspektif mana pun dalam dunia shinobi, aturan ini nyaris seperti sebuah aturan nonverbal," ia berujar hati-hati. Shikamaru tidak menjawab, dan Neji melanjutkan, "Bisa kukatakan, setidaknya Aliansi Lima Desa Ninja yang sekarang belum cukup saling percaya untuk mengambil resiko dari aturan itu."
Shikamaru menghempaskan punggung ke sandaran kursinya. "Itulah masalahnya. Tidak cukup waktu untuk menunggu mereka saling percaya," ia berujar getir.
Diam.
Dua pemuda itu tidak benar-benar memiliki pendapat yang tampak baik dan tidak memiliki celah untuk diserang. Poin terakhir itu adalah salah satu syarat mutlak dari suatu aturan hukum. Apalagi, dalam kasus ini, yang dibicarakan adalah amandemen suatu aturan hukum. Amandemen seharusnya berupa perubahan menuju yang lebih baik. Celah jelas bukan sesuatu yang bisa ditoleransi.
Shikamaru hampir ingin bertanya-tanya mengapa ia pernah merasa sanggup melawan. Bayangan mengenai hal-hal emosional yang sudah dilaluinya dalam masalah ini mulai berputar. Apa pun, tampaknya realita belum sudi memberi celah bagi kesungguhan untuk menemukan keajaiban.
Akan tetapi, kalau pun Shikamaru memang harus menyerah, maka tidak sekarang; seharusnya ia melakukannya sejak awal. Dan karena ia sudah berada di titik sejauh ini, Shikamaru merasa bahwa menyerah dan berhenti akan jauh lebih merepotkan daripada melanjutkan.
"Mungkin kita harus merundingkan perkembangan ini dengan Naruto," Neji bersuara, memecahkan keheningan beberapa menit itu.
Shikamaru mengangkat tubuhnya dengan lambat dari kursinya. Ia mendesah pelan. "Sebaiknya begitu," sahutnya.
.
#
.
Namikaze Naruto mencoba sekuat tenaga untuk tampak mengerti. Hokage berambut pirang itu menganggukkan kepala hampir pada setiap kali Hyuuga Neji menarik nafas di sela penjelasan panjangnya tentang keseluruhan pekerjaan yang sudah dilakukan selama tiga minggu terakhir. Ketika selesai, Uchiha Sasuke hanya mendengus pelan dan bergumam sesuatu seperti 'usuratonkachi'.
"—Singkatnya, yang menjadi hambatan terakhir adalah mengenai poin konsekuensi aturan," Neji menutup. "Kami mencoba beberapa kemungkinan, namun celah yang ditimbulkan terlalu mencolok dan mudah dijatuhkan."
Jika tidak mengetahui itu semua adalah istilah hukum, Naruto pasti mengira kalimat terakhir Neji berhubungan dengan suatu misi rahasia tingkat A. Setidaknya, Naruto cukup memahami kesulitan yang dimaksud Shikamaru dan Neji. "Lalu bagaimana usulnya?" Naruto bertanya.
Haruno Sakura menyela dengan sedikit pukulan di kepala pirang Naruto. "Baka! Justru itulah yang ingin mereka tanya!"
Naruto mengaduh pelan dan menggerutu. "Maksudku, apa kalian punya usulan mengenai apa yang harus dilakukan?" Naruto bicara, mengamati bahwa dua pemuda di depannya tampak tetap serius.
Shikamaru membuka suara, "Kami datang untuk mencari itu." Pemuda berambut hitam itu memandang Sang Hokage. "Sebagai Hokage, kau memiliki pengetahuan dan insting yang lebih kuat mengenai keseluruhan Aliansi."
Ruang kerja Hokage itu senyap. Sakura dan Sasuke melempar pandangan pada sosok Naruto yang tampak mendekap kedua tangan di dada dan berpikir keras. Shikamaru dan Neji masih berdiri di hadapan meja kerja pemuda pirang itu, menunggu.
"Tiga minggu terakhir aku sudah mencoba menemui beberapa tetua desa," Naruto akhirnya bersuara setelah beberapa menit diam. "Yah … sulit membuat mereka bicara," ia berkomentar. "Sekali pun aku berhasil membuat mereka bicara, perkataan mereka tidak cukup meyenangkan untuk dijadikan referensi bantuan."
Shikamaru menghela nafas pendek. Ia sudah menduganya.
Naruto menatap dua sosok di depannya dengan pandangan menyesal. "Maaf aku tidak banyak menolong dalam hal itu," gumamnya. "Tapi, satu-satunya cara untuk membuat mereka diam, adalah dengan mendapatkan persetujuan amandemen dalam Pertemuan Aliansi," ia berujar.
Neji menyela, "Masalahnya sekarang, adalah kemungkinan persetujuan amandemen itu akan sedikit kecil. Mengingat masalah pada poin terpenting dari aturan itu belum terpecahkan. Dengan berbagai variasi kemungkinan yang sudah kami susun, tetap saja, tidak cukup baik."
Naruto mengangguk. Shikamaru melanjutkan ucapan rekan kerjanya, "Sebenarnya, kami sudah menyusun beberapa kemungkinan paling mendekati masuk akal. Tapi untuk memutuskannya, kami kesulitan. Kami memutuskan meminta pendapat—" jeda sedikit, "—kalian." Shikamaru memandang Sakura dan Sasuke.
"Coba kudengar," Naruto menyahut.
Shikamaru dan Neji saling menukar pandang sejenak, lalu mengangguk. "Aku akan menjelaskan segalanya dari awal terlebih dahulu." Neji mengulurkan sebuah gulungan hijau ke arah Naruto. Shikamaru menarik nafas ketika Naruto, Sakura dan Sasuke mengamati isi gulungan, lalu ia mulai menjabarkan, "Konsekuensi yang menjadi masalah ini adalah konsekuensi dari suatu kasus pernikahan antar dua shinobi yang berasal dari desa ninja yang berbeda. Karena kedua pihak merupakan shinobi, maka untuk menikah secara legal dan menetap di salah satu desa, dibutuhkan konsekuensi seperti yang sudah kalian ketahui."
"Salah satu pihak harus mengalah dengan meninggalkan desanya untuk selamanya, serta bersedia dicabut statusnya sebagai shinobi," Sakura menyela.
Shikamaru mengangguk. "Permasalahan utama dari konsekuensi itu ada pada dua titik. Pertama, keputusan untuk 'membuang' salah satu pihak dari desa yang ditinggalkannya. Artinya, pelaku akan memperoleh status kependudukan dari desa pasangannya, dengan bayaran kehilangan status kependudukan dari desanya yang lama. Fakta tersebut menimbulkan konsekuensi kedua: pencabutan status shinobi untuk pihak yang 'terbuang', di mana pelaku tidak bisa lagi mengambil profesi sebagai ninja baik di desanya yang lama, maupun di desa pasangannya." Shikamaru memandang Naruto. "Sampai di sini, jelas?"
Naruto mengangguk paham. "Lanjutkan," pintanya.
Kali ini, Neji mengambil suara, "Sampai pada fakta itu, kami mencoba menemukan poin masalah yang paling membutuhkan perubahan. Setelah membaca beberapa referensi dan mempertimbangkan efek jangka panjang, aku dan Shikamaru setuju bahwa poin itu adalah mengenai 'pembuangan' salah satu pihak yang memutuskan menetap di desa pasangannya."
Uchiha Sasuke, untuk pertama kalinya sepanjang pembicaraan itu, memutuskan mengeluarkan penjelasan kepada Sang Hokage yang tampak kurang begitu paham. "Poin 'pembuangan' itu pada akhirnya adalah yang menyebabkan konsekuensi kedua, mengenai pencabutan status shinobi. Jika seseorang sudah dibuang dari desanya, status shinobi yang dimilikinya tidak lagi legal. Mudahnya, seperti missing-nin. Efek berantainya, desa yang dituju oleh seseorang tersebut tidak begitu saja menghadiahkan status shinobi baru, meskipun orang tersebut mungkin sudah benar-benar 'dibuang' dari desanya yang lama," Sasuke bicara.
Neji memandang Sasuke dan memberikan senyum tipis. "Tepat," komentarnya.
"Jika desa yang baru bersedia memberikan status shinobi bagi pihak terbuang tersebut, maka keseluruhan aturan ini sebenarnya tidak begitu menyulitkan," Shikamaru menjelaskan. "Tapi seperti yang kita tahu, masalahnya adalah desa mana pun tidak akan melakukan hal sebodoh itu."
"Respon standar untuk proteksi rahasia desa," gumam Naruto.
"Benar. Itu yang pernah kukatakan beberapa waktu sebelumnya," ujar Shikamaru kepada pemuda berambut pirang di depannya. "Resikonya terlalu besar. Tingkat kepercayaan antardesa dalam Aliansi yang sekarang, belum cukup kuat untuk resiko sebesar itu."
Hening.
Semua mata tampak tertuju pada Namikaze Naruto. Pemuda itu tampak menopang dagu dengan dua tangan dan menerawangkan pandangan. "Kalian benar," ia berujar pelan. "Sulit mengakuinya, tapi memang itulah faktanya. Kondisi Aliansi yang baru terbentuk lima tahun ini tidak cukup kuat untuk saling mempercayai sejauh itu."
"Kenangan akan perang di masa lalu membuat tingkat kewaspadaan terlalu tinggi," Sasuke menambahkan.
Shikamaru memandang serius. "Mungkin semua itu memang benar. Namun aku dan Neji tetap berusaha mencari celah dari fakta-fakta yang ada. Dan, kalian bisa lihat," Shikamaru merogoh kantungnya dan mengulurkan satu gulungan lain yang identik dengan gulungan di meja kerja Naruto, "kami berusaha melakukan sesuatu untuk masalah ini."
Tiga pasang mata mengamati gulungan baru di depan mereka. Di sana, tertulis draft kasar mengenai kemungkinan-kemungkinan yang dibicarakan Nara Shikamaru dan Hyuuga Neji.
"Hal-hal itu sudah yang paling memungkinkan. Hanya tinggal menentukan mana yang paling bisa diaplikasikan," ujar Neji.
Shikamaru mengoreksi, "Tepatnya, yang paling bisa digunakan untuk meyakinkan empat Kage lain sehingga menyetujui keseluruhan amandemen sebelum poin itu."
Haruno Sakura memandangi tulisan tangan di gulungan dengan mata hijaunya. Beberapa saat, gadis itu menundukkan kepalanya. Jika dua jenius itu begitu kesulitan untuk sekedar melakukan pilihan, maka ia jelas tidak akan sanggup untuk bahkan memberi komentar.
Semua ini terlalu rumit.
Namun Namikaze Naruto mengerutkan alisnya dengan serius. Rokudaime Hokage itu mengamati isi gulungan di hadapannya. Untuk beberapa waktu, Naruto merasa bahwa kemungkinan yang disebutkan Shikamaru dan Neji memang kecil. Tapi bukan berarti tidak mungkin.
Mendadak Naruto menarik nafas dalam-dalam, sedikit mengejutkan empat sosok lain di ruangan itu. Kemudian, Naruto memandang lurus Shikamaru dengan mata biru jernihnya. "Ayo kita lakukan," sahutnya seraya menyeringai. "Kita bisa melakukannya."
Shikamaru tertegun. Logikanya ingin mengomentari bahwa semuanya tidak semudah itu—ia sudah menjelaskannya panjang lebar. Tapi, sesuatu di hati pemuda itu bergolak. Pandangan lurus Namikaze Naruto memancarkan sinar keyakinan yang kuat.
Itu cukup untuk membuat Nara Shikamaru, untuk sejenak, berpikir bahwa keyakinan mungkin akan bisa memberi celah bagi keajaiban.
.
#
.
Temari membiarkan langkahnya mengayun tenang di sepanjang jalan desa Konoha. Itu adalah sore harinya yang biasa, dimana ia menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan—olahraga ringan jika dalam istilah Haruno Sakura.
Sudah beberapa hari terakhir Temari tidak bertemu dengan Shikamaru. Gadis itu tidak keberatan, sebenarnya. Bagaimanapun, Temari paham bahwa Shikamaru sedang berusaha untuk bersungguh-sungguh mengerjakan misinya. Atau, yah, bersungguh-sungguh memperjuangkan nasib mereka.
"Temari-san?" Suara Yamanaka Ino membuyarkan lamunan Temari.
Benar, Temari sore ini ditemani oleh Ino. Sebenarnya, mereka lagi-lagi berpapasan di jalan dekat toko bunga keluarga Yamanaka. Terakhir kali mereka bertemu seperti itu, Temari berujung membongkar rahasianya kepada Ino. Ninja medis itu baru saja selesai dari shift sorenya di Rumah Sakit Konoha, dan memutuskan menemani Temari. Lagipula, cerita Ino, Sai masih belum pulang dari misi Anbu-nya.
"Temari-san, kau baik-baik saja?" Ino memiringkan kepalanya dan berdiri di hadapan Temari.
Temari mengangguk kecil dan memaksakan senyum tipis. "Aku baik-baik saja," sahut gadis itu seraya melanjutkan langkahnya.
Ino memperhatikan gadis pirang berkuncir empat di sampingnya, ia menjulurkan kepalanya sedikit dan mengamati bagian perut gadis itu. "Na, Temari-san, menurutku perutmu belum tampak mencolok," Ino bicara dengan sedikit berbisik.
Temari mengangkat satu alis, menatap Ino. Kemudian gadis itu meletakkan satu tangan di lilitan obi berwarna hijau toska yang dikenakannya. Ia tersenyum hambar. "Sakura bilang tubuhku punya kecenderungan pembesaran rongga perut yang cukup mencolok jika hamil. Tapi, kata Sakura, itu akan mulai mencolok setelah usia sampai tiga bulan kehamilan."
"Eh? Tapi bukankah sekarang sudah hampir tiga bulan?"
Temari mengelus perutnya. "Begitulah. Sejujurnya, aku mulai kesulitan mengenakan obi. Kau tahu, tampaknya aku menjadi sedikit lebih gemuk," Temari berbisik.
Ino mengernyit. "Apa kehamilan selalu memberi efek samping seperti itu?" Ia mendesah. "Aku jadi ragu untuk ingin hamil cepat-cepat."
Temari tertawa. "Kita ini kunoichi, Ino," sahutnya. "Dengan cepat, aktivitas pekerjaan bisa mengembalikan bentuk tubuh kita—seharusnya."
Ino mengerang. "Tetap saja aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi."
Temari menggeleng pelan. Meski ia juga adalah seorang wanita, ia bukan termasuk kelompok wanita yang terlalu memikirkan penampilan fisik. Dan Temari yakin bahwa itu adalah salah satu titik yang membuat Shikamaru bertahan di sisinya selama tahun-tahun hubungan mereka.
Lamunan Temari terhenti ketika mendengar desah panjang Ino yang menerawang memandang langit yang mulai bergurat keemasan. "Ah …," gumam gadis itu. "Padahal sejujurnya aku ingin sekali mempunyai anak bersamaan dengan Shikamaru dan Chouji."
Langkah Temari melambat sementara mengamati Ino bicara. Dua gadis semampai itu telah berjalan hingga kemegahan gerbang desa Konoha mulai tampak di pantulan mata mereka. "Tapi, Chouji tampaknya baru akan menikah tahun depan," Ino melanjutkan. "Sementara aku dan Sai juga agaknya belum siap untuk langsung memiliki anak."
Temari menyimpan lengkung hambar di bibirnya dalam diam. Jauh di sudut hati, gadis itu merasa sedikit tertusuk. Temari mengenal Yamanaka Ino, dan kepribadian umum gadis itu. Tetap saja, fakta yang diujarkan Ino membuat Temari merasa seperti iri. Temari, juga—jika bisa, pasti memilih untuk menjalani kehidupan berkeluarganya dengan tempo lambat.
Tapi Temari sudah tidak bisa, kan?
Ino memberikan pandangan tulus ketika melanjutkan bicaranya, "Sejak anak-anak aku selalu berpikir bahwa trio Ino-Shika-Chou akan bertahan sepanjang masa. Aku selalu bermimpi melihat Ino-Shika-Chou generasi berikutnya di desa ini."
Temari tidak tahu bagaimana harus merespon segalanya.
"Maaf—" Akhirnya hanya itu yang keluar.
Ino membulatkan matanya dan dengan sigap menggeleng. "Bukan seperti itu, Temari-san," ia berujar dengan nada menyesal. "Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Maksudku hanyalah—uh …."
Temari tersenyum tipis. "Aku mengerti, Ino. Bagaimanapun, aku juga mengambil peran dalam menghancurkan mimpimu," Temari bersuara lambat.
Ino terdiam. Ino sudah paham—jauh sebelumnya, bahwa mimpi kanak-kanak terkadang memang hanya menjadi goresan krayon dalam lukisan minyak kehidupan. Menyakitkan, tapi Ino sudah mengerti dan memahami segalanya dengan baik.
Mungkin, Ino pernah kalah sebelumnya. Tapi untuk saat ini, ia tidak ingin menyerahkan mimpi indahnya pada realita. Ino tahu, segalanya masih mungkin. Karena itu, perlahan Ino menggenggam tangan Temari dengan erat—seperti membagi empatinya dengan jelas. "Belum, Temari-san," ujarnya. Ino mengembangkan senyum manisnya. "Kita masih mungkin untuk menjalani masa kehamilan bersama-sama. Berikutnya."
Sepasang turquoise Temari melebar, mencatat senyum sungguh-sungguh dari Ino di depannya. Kemudian, dalam beberapa detik, Temari membalas genggaman Ino dan tersenyum hangat. "Arigatou, Ino."
Ino tertawa kecil. "Aku akan menunggumu. Dan akan kupastikan Sakura juga terlibat bersama kita," ia mengerling, "Lee hanya perlu sedikit dorongan untuk akhirnya benar-benar melamar."
Temari membalas tawa itu dengan renyah. Gadis itu membiarkan Ino berdiri di depannya dan menggumamkan beberapa lelucon segarnya.
Temari merasa tenang. Waktu yang sudah berlalu selama beberapa minggu terakhir di Desa Konoha membuat Temari merasa kenyamanan dan kehangatan memeluknya. Katakan ia gila, tapi Temari memang nyaris merasa seperti di rumah.
Semuanya hening ketika mendadak Temari menemukan mata aqua Ino membulat di hadapannya. Gadis itu tampak terkejut, entah melihat pemandangan apa jauh di belakang tubuh Temari yang dilatari warna hijau gerbang desa.
"Astaga—" Ino menutup mulutnya tanpa sadar.
Tiba-tiba saja Temari merasakan firasat tidak enak menyergap punggungnya. Untuk suatu alasan, Temari merasa ragu untuk memutar tubuh dan menemukan apa pun yang membuat Ino terkejut. Telinga tajam Temari menangkap langkah-langkah kaki yang mendekat dan Temari merasa semakin ganjil.
Butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya Temari memberanikan diri untuk memutar tubuhnya dengan lambat.
Kemudian, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir, Temari merasakan kembali ketakutan lama ketika menemukan sosok berambut merah bata yang melangkah mendekatinya.
"Gaara—" Temari berbisik parau.
.
#
.
.
Bersambung
.
Catatan Faria:
Berhubung saya tidak punya background ilmu hukum, semoga tidak ada hal fatal yang tidak seharusnya. Well, saya cukup familiar dengan hal-hal berbau legislasi, yudikasi, dan forum musyawarah untuk amandemen suatu aturan bersama. Jadi, saya berharap detail apapun yang coba saya tampilkan tidak mengganggu dan masih dapat dipahami.
Lalu ... banyak review mengomentari yang masuk mengenai romansa Shikamaru-Temari yang agaknya kurang. Dalam hal ini, yang bisa saya katakan adalah: sudut demikian memang sengaja saya ambil. Saya ingin mengeksplor sejauh mungkin setting dan karakter di sekeliling mereka. Namun dalam sedikit kesempatan Shikamaru dan Temari bersama, saran tersebut akan saya ingat :)
Ah, terakhir, selamat datang di Konoha, Gaara *tebar konfeti* :P
.
~fariacchi – 141005~
