[[Warn : RATED M! WONHAN here!]]

.

Lulu Baby 1412

-Present-

::[[_AGENT LU_]]::

Chapter 2

"Before The Beginning"

::…::

.

Luhan mengangguk mantap. Anak muda ini telah meyakini apa yang telah ia pilih. Memilih untuk menuruti, mematuhi, dan melakukan apapun yang diperintahkan oleh orang berwajah tampan yang berdiri dengan senyuman kemenangannya.

"Iya, aku akan ikut denganmu dan lakukan apapun. Asalkan, kau harus berjanji kalau para dalang itu dapat pergi ke neraka secepat mungkin. Dan, tolong jadikan aku sebagai orang yang secara langsung mengantarkan mereka ke neraka…"

Choi Siwon menyunggingkan seringaiannya. Satu hal ia sadari, selain sebagai malaikat yang sangat manis, Luhan juga berpotensi sebagai setan kejam yang haus membunuh. Pilihan untuk tidak melenyapkan bocah ini cepat-cepat ternyata bukan pilihan yang buruk. Xi Lu Han, kebencian yang ia miliki sangatlah besar, tidak mudah mengalahkan orang seperti ini. Siwon bahkan tidak yakin apakah ini Luhan?

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::Before The Beginning::]]

. . .

Pendidikan di Korea Utara dikendalikan oleh pemerintah dan wajib sampai jenjang menengah pertama. Pendidikan wajib berlangsung selama 11 tahun, dan satu tahun melewati jenjang pra-sekolah, empat tahun pendidikan dasar dan enam tahun pendidikan menengah.

Sebab itulah, Luhan tidak mengikuti pendidikan yang untuk masyarakat pada umumnya. Luhan melanjutkan pendidikannya bersama militer Korea Utara. Tidak hanya belajar, Luhan juga dibekali dengan pelajaran untuk fisik. Dasarnya Luhan adalah anak yang tidak begitu kuat walau dia seorang laki-laki. Satu hal bakat yang Luhan miliki, yaitu menembak. Dari jarak sedekat dan sejauh apapun Luhan tidak kesulitan untuk menembuskan pelurunya pada sasaran.

"Kemana bocah itu?" tanya salah seorang prajurit dengan punting rokok yang bertengger santai dibibirnya.

Prajurit lain menggeleng, menandakan mereka tidak tau dimana bocah yang dicari prajurit dengan pangkat letnan dipundaknya.

"Luhan!" teriaknya.

Tak lama kemudian seorang anak remaja muncul dengan tampang datarnya. Matanya memancarkan aura yang tak pasti, seperti kosong. Sangat kontras dengan wajahnya yang sebenarnya tampak manis. Anak 15 tahun ini bahkan tampak 5 tahun lebih muda dari usianya. Tubuhnya cukup tinggi namun kurus ramping. Dia Luhan, terlalu cantik untuk memakai seragam berbau militernya.

"Ada apa…" ucap Luhan dengan nada dinginnya. Sang Letnan menyunggingkan seringaian telak dibibirnya, ia membuang punting rokoknya dan meludah tepat dikaki Luhan. Luhan hanya melirik dan memandang datar pada ludah Letnan kurang ajar dihadapannya.

"Malam ini adalah giliranku, apa kau lupa?! HAH!"

Bentakan Sang Letnan membuat beberapa prajurit lain menoleh dan menatap mereka berdua. Beberapa diantaranya tersenyum meremehkan.

"Maafkan aku Letnan Kim, aku harus membantu Letnan Han dengan ereksinya. Aku tidak semengerti itu kenapa dia semudah itu ereksi hanya karena melihatku berganti pakaian…"

Bodoh, Luhan tak pernah mengeluarkan kalimat dengan benar dari bibir cherry nya. Perkataannya hanya membuat orang-orang disekelilingnya memanas secara mendadak. Luhan bahkan bisa mendengar dan merasakan aura mesum disini.

"Letnan Kim, apa malam ini adalah giliranmu?" tanya seorang prajurit lain. Mereka mulai berdiri dan menatap lapar pada Luhan.

"Kurasa kita harus bernegosiasi. Entah kenapa aku merasa sesak jika harus membiarkan bocah ini berceloteh mengenai ereksi dan lain-lain…"

"Bisa kita berbagi malam ini?"

"Luhan…" "Luhan…" "Luhan…"

"Tidak! Jangan!" "Ahh, kumohon…" "Letnan, ahhnnn!" "Tidak!" "Jangan—ahhk!" "AKHH!"

Luhan tak bisa mengelak. Tiba-tiba semuanya terjadi begitu saja. Saat tiba-tiba semua orang melucuti pakaiannya, membuatnya terlentang dilantai, dan mengikatnya erat-erat.

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::Before The Beginning::]]

. . .

Suasana Barak militer pagi ini tampak biasa saja. Para tentara bergantian untuk mandi dan bersiap-siap untuk apel pagi ini.

Luhan, masih terlelap diranjangnya. Kondisinya sama sekali tidak baik setelah semalaman disodomi bergantian oleh para tentara yang haus akan tubuhnya. Tubuhnya dipenuhi bekas-bekas merah keunguan, dan dibagian tertentu juga terdapat bekas lecet. Dan disana, bagian paling vitalnya terdapat bercak darah bercampur sperma yang masih lengket. Entah berapa banyak dan seberapa besar benda asing yang semalaman menghujami lubang Luhan.

"Nghh…"

Lenguhan kecil keluar dari bibir mungil Luhan yang membengkak. Bulu matanya mengerjap cantik beberapa kali. Ia terbangun dengan gerakan yang sangat pelan sekali. Desisan-desisan sakit keluar pula dari bibirnya. Luhan berjalan menuju kamar mandi yang berada disudut kamarnya. Pemuda itu lebih memilih bermalas-malasan, sepertinya tak punya niat untuk melaksanakan apel pagi ini. Padahal, Luhan tau betul bagaimana galaknya sang Kapten yang mengurusi unitnya.

Beberapa menit berendam dengan air hangat, Luhan tak segera memasang seragamnya. Ia menyantap roti dan susu yang baru saja diantar oleh salah satu rekannya, dan bisa ditebak bagaimana ekspresi rekan Luhan yang dengan beruntungnya dapat menyaksikan Luhan telanjang secara cuma-cuma.

Suasana diluar ruangan mulai riuh, semua unit sudah berkumpul dan berbaris untuk apel pagi. Luhan hanya tersenyum miring dan menggigit rotinya secara kasar. Jadi teringat saat dirinya pertama kali datang ditempat ini.

::FLASHBACK::

"Whoaah!"

"Siapa bocah itu? Dia tidak sama sekali cocok untuk memakai seragam militer…"

"Hey, apa dia tidak terlalu cantik untuk menjadi tentara?"

"Kudengar dia bisa sampai disini karena Brigadir Choi yang membawanya…"

"Mungkin dia boneka Tuan Choi saja…"

"Cih, lihat saja nanti…"

Saat itu banyak sekali tentara muda yang mencibir Luhan karena dari perawakannya, Luhan sama sekali tak cocok untuk menjadi seorang tentara. Semuanya hanya menganggap Luhan sebagai anak angkat Brigadir Choi, bahkan ada yang berpikiran buruk bahwa Luhan adalah 'mainan' saja.

Namun, seiring berjalannya waktu, cemoohan untuk Luhan mulai teredam sedikit sejak semua anggota militer melihat kemampuan Luhan dalam membidik lawan dengan senjata api. Terutama pada senjata api jarak jauh, Sniper. Semua unit hanya memandang Luhan tak percaya, Luhan berhasil mengenai sasaran yang jauhnya 500 meter lebih.

Tapi semua rasa kagum itu mulai meluntur lagi semenjak Brigadir Choi dipindahtugaskan ke daerah lain. Dan, Luhan mulai diganggu lagi oleh rekan-rekannya. Sebagai calon anggota militer, Luhan memiliki beberapa hak istimewa. Seperti kamar yang khusus untuknya, dan Luhan tinggal satu barak dengan anggota militer paten yang semua anggotanya berusia diatas 30 tahun. Ingat, yang usia diatas 30 tahun itu pun tak pernah segan untuk mengganggu Luhan.

"Kau hanya budak Brigadir Choi disini, tak usah banyak ulah dan tetaplah jadi bocah penurut!"

"Walaupun kau jago membidik dibandingkan dengan kami, kau tidak bisa berkelahi dengan benar! Kau akan kalah jika berani melawan kami!"

"Hahahaha!"

Sejak saat itu Luhan mulai terbiasa menerima ejekan dan pelecehan yang dilakukan pada tubuhnya. Baginya semua itu tidaklah membekas dihatinya. Yang terpenting adalaha bagaimana dirinya menuruti Choi Siwon dan menunggu untuk menemukan siapa dalang dari peristiwa beberapa tahun lalu.

::FLASHBACK END::

20 April 2008, Pyeongyang, Korea Utara.

Hari ini adalah hari dimana usia Luhan adalah 18 tahun. Dan juga, hari ini bertepatan dengan upacara kelulusan Luhan dari sekolah militer.

"Mwo?! Brigadir Choi sudah selesai tugasnya di perbatasan?"

"Bagaimana kalau Luhan mengadu padanya?!"

"Habislah kita!"

Luhan menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Suara-suara yang mengacaukan pikirannya itu sangat mengganggu upacara kelulusan hari ini. Dia termenung sejenak, dan bibirnya membuka kecil hendak bicara.

"Berhentilah bicara atau yang kalian khawatirkan akan benar-benar terjadi…" lirih Luhan.

Seketika rekan-rekannya itu langsung diam seribu bahasa. Tak sedikit rekan-rekan sekolah Luhan ikut membully nya, tapi seperti biasa Luhan hanya diam dan menerima semua tindakan tidak senonoh dari teman-temannya. Tidak, Luhan tak menganggap mereka teman. Mereka semua bajingan.

Setelah upacara kelulusan selesai, sesuai dengan jadwal hari ini Luhan akan mulai bertugas sebagai Kopral Dua, karena sewaktu disekolah dia sudah mendapatkan posisi Prajurit Satu. Well, pekerjaan setelah lulus itu lebih baik karena Luhan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berjaga-jaga di pos penjagaan.

Luhan hanya melamun memikirkan apa benar Brigadir Choi akan datang hari ini. Beberapa menit Luhan memandang jalanan diluar gerbang yang terasa kosong, terdengar teriakan-teriakan yang tak jelas menurut Luhan.

"Hey! Anak muda! Cepat buka gerbangnya untuk Brigadir Choi!"

Mata Luhan membelalak mendengar teriakan paling keras dari sang sopir sebuah mobil besar didepan pintu gerbang. Dengan terburu-buru Luhan membukakan pintu gerbang dan segera memberi hormat pada Brigadir Choi yang turun dari mobilnya. Brigadir Choi tersenyum melihat Luhan yang sudah memakai seragam resmi militer.

"Selamat siang Kopral Satu Xi Luhan!" sapa Siwon. Luhan membungkukkan badannya canggung. Entah mengapa jantungnya berdegup cepat saat ini. Gugup setelah sekian lama tidak bertemu dengan orang yang paling ia hormati se-Korea Utara.

"Selamat siang Brigadir Jenderal Choi Siwon. Saya dengar usaha anda diperbatasan sukses, saya ucapkan selamat untuk keberhasilan anda…"

Siwon tersenyum sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya. Pria berparas tampan itu masih tampak sama seperti 6 tahun lalu. Bisa dibilang dia adalah anggota kepala militer yang memiliki wajah terbaik se-Korea Utara, masih cukup muda pula. Yeah, baru akan menginjak usia 32 tahun.

"Terimakasih untuk itu. Sekarang, laksanakan tugasmu dengan baik!"

"Siap Pak!" Luhan memberi hormat lagi dengan semangat.

Siwon terkekeh pelan kemudian meninggalkan Luhan untuk kembali berjaga di pos penjaga. Beberapa menit kemudian beberapa prajurit mendatangi Luhan untuk menemani Luhan berjaga. Luhan yakin benar bahwa itu adalah perintah Brigadir Choi, dia sangat baik. Dan Luhan tersenyum manis membayangkannya.

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::Before The Beginning::]]

. . .

Sore hari yang membosankan untuk Luhan, tugasnya berjaga sudah selesai. Sekarang ada waktu kosong untuknya bisa bersantai. Beda sekali dengan dulu saat harus menghabiskan waktunya hingga malam hanya untuk belajar ilmu kemiliteran. Pagi hingga siang untuk latihan, sore sampai malam untuk pelajaran akademik.

Mencoba untuk menghilangkan rasa bosan, Luhan berjalan mengelilingi barak yang biasa ia jadikan tempat untuk latihan. Dan, Luhan sampai di area latihan menembak. Semenjak diketahui memiliki kemampuan menembak yang baik, Luhan selalu dipercaya untuk berlatih dan menggunakan senjata api apapun. Well, Luhan mendapatkan surat izin menembak dengan mudah.

"Hmmh…"

Tangan putih Luhan berusaha meraih pistol yang bertengger dipinggangnya. Pistol berwarna hitam legam berjenis QSZ-92 buatan China itu Luhan genggam erat. Pistol ini adalah pemberian Brigadir Choi sebelum dia pergi melaksanakan tugas diperbatasan. Luhan tersenyum manis sebelum memulai latihan menembaknya. Ia menatap serius kearah sasaran sejauh 70 meter didepannya. Hingga suara pelatuk pistol berbunyi, dan berikutnya suara-suara tembakan berbunyi keras.

DOR! DOR! DOR!

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::Before The Beginning::]]

. . .

05:00 pm KNT, North Korean Barrack Shooting Place.

"Haah, haahh…"

Luhan mengelap keringat disekitar pelipisnya, ia memutar topi yang dikenakannya. Dahinya terlihat mengkilat karena keringatnya terkenai sinar matahari sore. Mata indahnya menatap kearah sasaran yang sekarang dipenuhi lubang-lubang bekas tembakan Luhan. Dan, semuanya mengenai ke titik tengah.

Puk!

"Eh?" Luhan membalikkan badannya saat merasakan ada tangan lebar yang menyentuh bahunya yang cukup sempit.

Brigadir Choi tersenyum melihat wajah terkejut Luhan. Ia menurunkan tangannya yang sebelumnya bertengger dibahu Luhan.

"Kau berlatih cukup keras. Seharusnya yang lain mencontohmu. Semuanya masuk dititik yang vital. Jantung dan Kepala. Itu yang kuajarkan, aku senang kau menerapkannya dalam latihanmu…" Siwon memandangi sasaran Luhan yang tampak akan hancur.

"I-itu, karena aku percaya bahwa sasaran akan segera lumpuh kalau kita menyerang kearah kepala dan jantung…" Jawab Luhan gugup. Siwon tersenyum mendengarnya, pandangannya beralih pada tangan Luhan yang memegangi pistol.

"Kau masih menyimpannya?" Brigadir Choi meraih tangan Luhan dan memperhatikan pistol ditangan Luhan.

Luhan menunduk malu mendapat perlakuan seperti itu dari Siwon. Entah kenapa Siwon jadi semanis ini semenjak membawanya dari rumah sakit dulu. Yeah, Luhan merasa bahwa dirinya dan Siwon memiliki perasaan yang sama. Wajah Luhan memerah memikirkannya.

"T-tentu aku menyimpannya. Tidak ada alasan untuk tak menyimpannya. Kupikir anda tidak akan kembali. Jadi, aku menyimpan ini supaya tetap selalu mengingat anda…" ujar Luhan malu-malu. Siwon tersenyum lagi melihat ekspresi malu-malu dari Luhan.

"Syukurlah. Ternyata kau dapat menyimpan sesuatu dariku dengan baik. Aku senang mengetahuinya…" Siwon menggantungkan kalimatnya. Luhan menatap Siwon seolah-olah menunggu kata-kata yang akan Siwon keluarkan berikutnya.

"Lain kali aku juga akan menitipkan sesuatu yang lebih berharga. Dan, kau harus bisa menyimpannya dengan baik. Disini…"

DEG! DEG! DEG!

Jantung Luhan berdegup kencang saat jari telunjuk Siwon menunjuk kearah dadanya, tepatnya dijantung. Dihatinya…

Cup~

Brigadir Choi mengecup mesra tangan Luhan. Dia berjalan pergi setelah memperbaiki letak topi Luhan dan membisikkan sesuatu.

"Kutunggu kau diruanganku setelah makan malam dan pengarahan angkatan baru malam ini…" Siwon berjalan meninggalkan Luhan yang memerah padam diarea latihan menembak.

Luhan tak bisa menahan gejolak dalam perutnya yang hendak berhamburan keluar. Rasanya ingin terbang ke langit mendengar kata-kata Brigadir Choi. Kini saatnya Luhan segera menuju melaksanakan jadwal-jadwalnya sebelum menapati undangan Brigadir Choi barusan.

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::Before The Beginning::]]

. . .

Malam ini sebenarnya ada acara perayaan kelulusan angkatan Luhan, namun sepertinya dia cukup malas untuk berlama-lama dalam acara pesta yang sangat jarang adanya ini. Luhan lebih memilih untuk meninggalkan ruangan dan pergi ke tempat sesuai janji pada Brigadir Choi tadi sore.

Dengan segelas Sherry merah gelap ditangannya, Luhan berjalan menunduk dikoridor ruangan para pemimpin-pemimpin militer. Dia berjalan lurus karena ruangan Brigadir Choi ada dipaling ujung sana. Luhan tersenyum ketika ia memutar kenop pintu yang ternyata tanpa kunci maupun sandi sudah bisa dibuka.

CKLEEK~

Luhan mengelilingi kamar Brigadir Choi dan sesekali memanggil atasannya itu. Sepertinya ruangan ini kosong, Brigadir Choi mungkin masih ada diluar sana. Akhirnya Luhan memilih untuk menikmati wine nya diatas balkon kamar Brigadir Choi.

Grep~

"Menunggu lama?"

Luhan tersenyum kemudian menggeleng pelan, Siwon membalikkan tubuh Luhan menghadap kearahnya.

"Bocah 18 tahun berani meminum Sherry?" Tanya Siwon setelah mencium bau yang menguar dari Luhan.

"Aku tidak tau ini apa. Kupikir hanya sirup stroberi, tapi sepertinya aku meminum ini terlalu cepat. Maafkan aku, Brigadir Choi…"

Siwon tersenyum melihat wajah Luhan yang memerah. Sepertinya hanya segelas ini membuat Luhan menuju ke tingkat setengah mabuk.

"Siwon saja. Panggil aku Siwon jika kita tidak dalam tugas…"

"A-apa? i-itu tidak mungkin, yang lain akan memarahi saya jika itu sampai terjadi. Anda tau sendiri kalau mereka selalu merasa iri pada saya karena anda selalu memberikan saya banyak hal…"

"Benarkah?"

Luhan mengangguk sebagai jawaban. Yang benar saja? Memanggil seorang berpangkat Brigadir Jenderal hanya dengan namanya. Itu mustahil bagi Luhan.

"Kau ingat kan, untuk selalu mematuhi perintahku?"

"T-tentu saja saya ingat. T-tapi, kalau seperti ini…" Luhan mulai tak nyaman dengan posisinya. Siwon perlahan merapatkan tubuhnya dan semakin memeluk Luhan erat.

"Tak ada penolakan, Xi Luhan…"

"B-baik, Briga—Siwon!"

"Bagus!"

Siwon memandangi bibir Luhan yang memerah karena wine yang diminumnya tadi. Dengan posisi yang sudah cukup pas ini, Siwon mendekatkan kepalanya. Tangan besarnya menarik kepala Luhan supaya mendongak. Pemuda manis ini memejamkan matanya disaat atasannya hendak memagutnya.

Chuu~

Luhan memejamkan matanya saat bibir Siwon mendarat dibibirnya. Tak lama setelah mendarat, lumatan-lumatan kasar yang Siwon buat dibibir Luhan membawa Luhan tak tahan.

PRANG!

Gelas beserta isinya itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Mendengar suara itu tak membuat Siwon menghentikan kegiatannya. Bibirnya semakin liar memagut Luhan, lidahnya juga ikut bergerak.

"Mmhh~" Luhan melenguh tertahan karena bibirnya masih terbungkam.

Suara lenguhan Luhan, membuat libido Siwon meningkat. Tangan kanannya yang sebelumnya bertengger dileher Luhan berpindah dipantat Luhan. Sesekali ia meremasnya kasar.

"Ng, Ahh!" Luhan memekik lagi saat tangan Siwon menggerayangi pantatnya.

Sampai tiba-tiba tubuhnya telah telanjang bulat, Luhan baru sadar bahwa dirinya sudah tergeletak diatas ranjang. Matanya terkejut ketika menangkap sosok Siwon yang berusaha melucuti bajunya sendiri satu per satu. Luhan menelan ludahnya tak sanggup saat memperhatikan otot-otot yang atletis itu. Beberapa guratan bekas luka lebar pun tercetak jelas dibagian tubuh Siwon. Dan, Luhan baru tau ada sebuah tato besar dipunggung siwon berinisial 'Z'.

Saat Luhan berpikir apa arti huruf Z itu, Siwon sudah berada diatasnya dengan tubuh yang juga telanjang bulat. Pria kekar itu tersenyum melihat ekspresi terkejut Luhan.

Siwon mengecup lembut bibir Luhan, dan berubah menjadi lumatan-lumatan kasar setelahnya. Memainkan beberapa titik-titik sensitive ditubuh Luhan. Setelah benar-benar panas dan tak tahan menahan nafsunya, Siwon memaksakan dirinya untuk memasuki Luhan.

"AKH!"

Luhan tersentak dan tanpa sengaja mencakar punggung licin Siwon. Pemuda manis ini menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri karena rasa perih yang menjalari sekitar butt nya. Ini bukan kali pertama Luhan merasakan lubangnya dibobol, namun memang 'penyatuan' adalah hal yang selalu menyakitkan bagi seorang 'bottom' tiap melakukan seks.

Berbeda dengan reaksi Luhan, Siwon menggeram tertahan beberapa kali saat penis besarnya berada dalam lubang hangat Luhan. Menyetubuhi seseorang yang masih sangat muda itu memang sungguh sangat nikmat. Well, Siwon sudah pernah merasakan lubang wanita maupun pria diluar sana namun Luhan mungkin jadi yang terbaik untuk saat ini.

"Ahhkk!" Luhan memekik lagi saat Siwon tiba-tiba bergerak tanpa persetujuannya.

Tak menghiraukan teriakan kesakitan Luhan, Siwon hanya terus bergerak semakin cepat. Lubang Luhan sangat ketat dan hangat, tapi kenapa sudah selama ini Siwon tak mencapai klimaks nya? Siwon frustasi, dia bergerak semakin brutal.

"Ahh! Brigad! Choi-ahh!"

Air mata mengalir disekitar pelupuk mata Luhan. Bibirnya dibungkam oleh bibir Siwon sehingga ia hanya bisa mendesah tertahan.

Sakit sekali…

"Erghh! Ermhh! LUHAN! Sialan!" Siwon masih terus saja frustasi karena belum sampai pada klimaksnya.

Ranjang dengan kusen besi itu berdecit sangat keras. Bahkan suara-suara besi bergesekan dengan lantai pun terdengar jelas.

"Ahh! A-hhn! Ahh! AHH!"

Suara teriakan dan desahan Luhan terdengar meliuk-liuk, membuat Siwon semakin tak tahan. Penis besarnya berkedut-kedut didalam lubang Luhan. Dalam lubang itu cairan precum dan darah Luhan bercampur aduk dan beberapa diantaranya merembes, menempel pada sprei ranjang yang putih. Sangat kontras dengan warna cairan itu.

"BITCH! LUHAN!"

"Siwonnie~ AKHH!"

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::Before The Beginning::]]

. . .

Matahari sudah meninggi, suasana pagi hari di barrak tetap seperti biasanya. Apel pagi dilaksanakan seperti biasa. Keributan-keributan suara langkah kaki ratusan prajurit di barrak membuat sosok pemuda bertelanjang bulat mengerang pelan. Matanya mengerjap pelan, tiba-tiba rasa dingin dari AC menjalari tubuhnya yang polos tanpa dibalut sehelai kain pun.

Luhan hanya mengangkat kepalanya disaat ia rasa nyeri mendadak disekujur tubuhnya, khususnya pada bagian bawah tubuhnya. Wajah Luhan memerah mengingat kegiatan bercintanya dengan Brigadir Choi semalam suntuk. Brigadir Choi baru berhenti saat menjelang fajar, dan itu berarti Luhan hanya tidur dalam waktu 4 jam.

"Sshh~" Desisan halus keluar dari bibir merah dan bengkak Luhan.

CKLEEK~

Pintu kamar terbuka, dengan siaga Luhan menarik selimutnya dan memperhatikan siapa yang datang. Hanya jaga-jaga saja, siapa tahu yang masuk bukanlah Brigadir Choi.

"Kenapa reaksimu seperti itu? Apa kau pikir akan ada orang lain yang masuk?" Brigadir Choi mendekat dan duduk disamping Luhan. Sebuah kecupan hangat ia daratkan dipipi Luhan.

"A-aku hanya berjaga-jaga…" Luhan menunduk malu. Brigadir Choi sudah rapi dengan seragam dinasnya, sedangkan dirinya sendiri masih bergumul dan berbau menyengat seperti ini. Ini sangat memalukan, Xi Luhan.

"A-anda, tampak berbeda?"

"Maksudmu?" Siwon mengerutkan keningnya.

Luhan perlahan menyentuh wajah Siwon. Tangannya sedikit bergetar, padahal semalam ia berani mencakar pria kekar dihadapannya dan sekarang hanya menyentuh wajahnya saja Luhan takut.

"Ahh, ini? Aku baru saja bercukur supaya tampak lebih bersih…" Siwon menarik tangan Luhan untuk memegangi wajahnya lebih rapat. Dikecupnya telapak tangan Luhan. Melihat Luhan seperti ini membuat Siwon ingin 'melakukannya' lagi.

"Anda, tampak lebih segar, dan tampan…" Luhan tersenyum malu-malu dengan kata-katanya sendiri.

"Hahaha! Terimakasih untuk pujiannya. Sekarang, kau bersihkan dirimu dulu dan harus cepat. Sebentar lagi ada yang harus kita lakukan. Sangat penting! Seragammu sudah aku siapkan. Sekarang aku akan menyuruh seseorang untuk membersihkan yang disini…"

Luhan mengangguk. Dengan usaha yang sangat keras, Luhan berusaha berjalan menuju kamar mandi Brigadir Choi walaupun terpaksa berjalan sedikit tertatih karena sakit dipantatnya itu bukan main.

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::Before The Beginning::]]

. . .

Setelah selesai membersihkan diri dan telah rapi dengan seragamnya, Luhan diajak makan bersama para petinggi-petinggi militer. Semuanya bergelar tinggi, dan Brigadir Choi Siwon adalah yang paling tinggi diantara yang lain. Luhan sedikit canggung karena ini kali pertama ia makan dengan para petinggi. Dia hanya seorang Kopral dan sekarang bisa makan bersama para Kolonel? Mimpi apa Luhan semalam. Oh, Luhan ingat dia tidak bisa bermimpi karena semalaman dia mendesah keras dibawah Brigadir Choi.

Sarapan selesai dan semua peralatan makan disingkirkan, diganti oleh beberapa perlengkapan militer. Peta, laptop, dokumen-dokumen, dan perlengkapan lainnya sudah disiapkan disana. Luhan tercengang melihat beberapa alat canggih dan layar raksasa dihadapannya menayangkan video keadaan suatu daerah yang Luhan tak begitu yakin dimana tempatnya.

"Ini adalah titik yang kita pilih. Seoul…" Dengan sebuah tongkat kecil, Brigadir Choi menunjuk sebuah daerah dipeta yang dimunculkan oleh layar LCD raksasa didepan ruangan.

"Apa daerah itu tidak terlalu berbahaya? Seoul adalah pusat, dan kita akan mengirimkan seseorang yang sama sekali tidak berpengalaman. Itu terlalu berbahaya Brigadir Choi?"

Luhan menoleh kearah salah satu Kolonel yang baru saja bicara. Ini pembicaraan serius tapi mereka masih membiarkan Luhan berada disini. Apa maksud dari Brigadir Choi?

"Dia mungkin tidak pernah melaksanakan tugas seperti ini. Hampir semua mata-mata yang kita kirim tak berhasil menjalankan tugas mereka dengan baik. Beberapa diantaranya tertangkap, menghilang, dibunuh tentara musuh, dan bahkan ada yang sengaja menetap disana. Dan mereka semua adalah mata-mata yang telah berpengalaman!" Jelas Brigadir Choi.

"Jadi, maksud anda mengirim seseorang yang tidak berpengalaman adalah untuk mengurangi kemungkinan terjadinya tindakan penghianatan?" Kini petinggi lain ikut berbicara.

"Iya, aku percaya bahwa Xi Luhan akan berhasil untuk menjalankan misinya dengan baik!" Brigadir Choi menatap tajam pada Luhan yang membelalakkan matanya tak percaya.

"Xi Luhan, kau bukan warga negara Cina lagi melainkan mata-mata Korea Utara. Kau ditugaskan menjadi anggota Badan Inteligen Negara. Mulai sekarang namamu adalah Oh Luhan!"

Itulah keputusan final yang ditegaskan oleh semua petinggi, dan Luhan hampir menangis karena terkejut akan keputusan yang terlalu mendadak ini. Semuanya terlalu cepat baginya.

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::Before The Beginning::]]

. . .

Luhan menatap kosong kamarnya. Sekarang ia hanya menyiapkan beberapa perlengkapan yang sudah dicatatnya tadi sesuai perintah. Dia terduduk dan merenung, memikirkan misi-misi yang akan dijalaninya mulai besok. Bayangan orang tua dan Wu Yi Fan tiba-tiba saja terlintas. Luhan baru ingat, ia berada disini adalah untuk membalaskan dendanmnya. Ia menangisi dirinya sendiri yang hanya bermain-main selam ini. Luhan berjanji akan melaksanakan misi dengan baik dan akan menyarangkan peluru panas kedalam jantung dalang pembunuhan orang tuanya dulu.

"Kau masih disini? Satu jam lagi kau sudah harus berangkat?" Brigadir Choi masuk kedalam kamar dan duduk disamping Luhan.

"Maafkan aku…" gumam Luhan.

"Maaf untuk apa? Seharusnya aku yang meminta maaf? Aku tidak memberitahumu terlebih dahulu dan langsung merapatkan semuanya pagi tadi…"

"Tidak, aku meminta maaf karena sempat melupakan janjiku 8 tahun lalu. Aku berada disini untuk ini, jadi seharusnya aku tidak boleh terkejut dengan keputusan anda. Aku telah menunggu saat-saat seperti ini dulu…"

"Aku akan datang untuk melihat keadaanmu nanti. Aku yakin kau akan aman, Xi Luhan…"

"Oh Luhan, itu namaku sekarang. Anda tidak perlu terlalu sering, aku akan berusaha melaksanakan misiku dengan baik…"

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::Before The Beginning::]]

. . .

8 Februari 2009, Busan, Seouth Korean.

Pemuda manis berambut hitam pekat membawa belanjaannya dan meletakkannya dikeranjang sepedanya. Wajahnya manis, namun pandangannya cukup dingin sehingga menutupi kecantikan diwajahnya.

Suasana kota Busan yang cukup lengang dan dipenuhi salju ini membuat sang pemuda manis meniup-niup tangannya yang nyaris membeku. Musim dingin disini sangat mengesalkan, berbeda sekali dengan kondisi musim dinginnya dulu.

"Ffuuuhh~ fuuuhhh~" sesekali ia meniup-niup tangannya yang kedinginan.

Dengan hati-hati, ia menaiki sepedanya. Well, Oh Luhan baru saja belajar naik sepeda pedal seminggu lalu saat Brigadir Choi mengiriminya uang untuk membeli kendaraan dan Luhan hanya memilih sepeda pedal untuk kendaraannya. Padahal, uang yang dikirim oleh Brigadir Choi sudah cukup untuk membeli mobil yang cukup mewah.

"Brr, kota sialan! Dingin sekali!"

Luhan melihat sebuah kedai menjual makanan yang hangat sepertinya. Melihatnya, Luhan tersenyum sekilas kemudian memarkir sepedanya tepat didepan kedai itu. Cukup mepet dengan jalan raya sepertinya, apabila pengendara tak hati-hati mungkin mereka bisa menabrak sepeda Luhan.

Dan, sialnya, dari kejauhan sebuah mobil sport merah mengkilat mendekat dengan kecepatan pas rata-rata. Luhan dengan asyik menikmati makanannya tapi tiba-tiba saja ia mendengar suara.

BRAKKK!

Sangat keras sehingga memaksa Luhan untuk menghentikan aktifitas makannya. Dia berlari keluar kedai dan melihat mobil merah berhenti. Langit-langit mobil itu terbuka perlahan, Luhan menyipitkan matanya dan ia sadar bahwa seseorang didalam mobil itulah yang menabrak sepedanya sampai hancur.

"YO! Maafkan atas kelakuanku!"

Mobil merah menyala itu berjalan mundur, seorang pemuda tampan yang menyetir itu memakai kacamata hitam. Luhan masih tak mampu berbicara melihat sepedanya hancur remuk.

"Ahh, sial! Mobilku lecet!" keluh pemuda berkacamat hitam itu.

"YA! SIALAN KAU! SEPEDAKU RUSAK GARA-GARA KAU!" Teriak Luhan.

Pletak!

"Aw! Hey, aku kan sudah minta maaf!" Pemuda tampan berkacamata itu turun dari mobilnya dan mengeluarkan dompetnya. Beberapa lembar Won ratusan ribu ia ambil semua dari dompetnya.

"Ini, dengan ini kau bisa membeli sepeda yang lebih mahal dan lebih bagus dari yang sudah kuhancurkan!"

Luhan mendelik saat pemuda berkacamata itu melempar uang kearahnya. Dengan seenak jidat, pemuda berkacamata hitam itu memasuki mobilnya dan menstarter mobilnya.

"Sial, gara-gara sepeda butut yang parkir sembarangan itu Windy jadi lecet begini!"

"APA KATAMU?! SEPEDA BUTUT?!"

"Iya! BUTUT!"

Belum sempat Luhan melemparkan sepatunya, mobil merah itu sudah melesat pergi. Tapi, Luhan ingat betul nomor polisi mobil itu, "K 212 SL". Luhan memandang sedih pada sepedanya yang sudah hancur. Belanjaannya saja yang masih utuh dan terikat kuat.

"Sialan! Orang-orang Korea Selatan memang sialan! SIAL!"

Luhan dengan langkah yang dihentakkan keras-keras pada aspal meninggalkan sepedanya yang hancur. Uang-uang yang dilempar pemuda berkacamata tadi pun ia tinggalkan dan ia biarkan pemilik kedai tadi memunguti uang itu. Luhan tak sempat menghitungnya, mungkin jumlahnya mencapat 3 juta lebih. Tapi cara orang itu memberi uang benar-benar sangat kurang ajar. Benar-benar, kalau Luhan diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang itu lagi mungkin ia akan menyarangkan pelurunya diotak sialan pemuda tadi.

"Negara ini dipenuhi orang-orang yang sangat menyebalkan!"

. . .

::[[AGENT LU]]::

. . .

To be continued

HUNHAN HUNHAN HUNHAN HUNHAN

[A/N]

Yo!

Apa kabar para readers?

Akhirnya chapter 2 updated juga!

Sebelumnya saya minta maaf karena bertapa sampai selama ini

Well, memang sebagai siswa kelas 3 waktu terkuras untuk banyak tambahan pelajaran

Terimakasih sebelumnya untuk yang masih menunggu dan review di chapter sebelumnya

Semoga saja readers HUNHAN nggak menurun ya?

Saya jadi dapat inspirasi waktu ngelihat foto Luhan pakai cincin dan gelang couple nya sama Sehun

Apalagi foto Luhan yang meluk jaket yang sama dengan jaket yang pernah Sehun pakai untuk perfom solo Sehun TLP

Pokoknya aku masih yakin HUNHAN itu masih punya hubungan yang xD

Pokoknya aku seneng banget!

Oh ya, jangan khawatir diatas ada WONHAN yang parah banget karena mulai chapter depan nggak ada WONHAN yang segila ini oke! xD

Kalau ada pertanyaan, cukup ketik dikolom review yaa?

Aku tau FF ini masih banyak kekurangan, jadi tolong beri saran untuk kedepannya yaa~

Sampai jumpa di next chapter!

WASSALAM