.

Lulu Baby 1412

-Present-

::[[_AGENT LU_]]::

Chapter 3

"The Beginning"

::…::

.

Juli, 2009

Pagi itu, diawal bulan Juli, Luhan terbangun saat merasakan cahaya matahari yang memaksa masuk ke retina matanya. Pria yang telah menginjak usia 19 tahun beberapa minggu lagi ini mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum kedua bola matanya menangkap sosok bertubuh tegap dengan setelan jas resmi berada tepat disamping jendela kamarnya.

"B-brigadir, Brigadir Choi?"

Luhan terlonjak kaget melihat Pria itu tersenyum dan mengangguk menanggapi kalimat yang Luhan keluarkan pertama kali diawal pagi ini.

"T-tolong beri waktu sebentar sebelum anda benar-benar ingin menemui saya. Ya ampun, aku berantakan sekali!" Luhan berburu-buru membenahi ranjangnya. Berlari kecil menuju kamar mandi dan mencuci wajah sekalian menggosok gigi.

Bagaimana Brigadir Choi bisa masuk? Dan, sejak kapan?

Sampai beberapa menit Luhan membereskan beberapa hal yang sedikit berantakan dikamarnya, Luhan mendekati Brigadir Choi yang sedari tadi tersenyum kegelian melihat tingkah lucu Luhan.

"Maaf membuat anda menunggu lama. Apa yang membuat anda kemari? Kalau ada suatu pesan yang ingin anda sampaikan, anda bisa menghubungi saya saja. Takut kalau musuh mengetahui anda…" Luhan menunduk dihadapan Brigadir Choi.

Tiba-tiba saja raut wajah Brigadir Choi menjadi lebih serius. Ia menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Tangan besar Brigadir Choi menepuk bahu Luhan yang sempit. Melihat ekspresi wajah Brigadir Choi, Luhan merasa tak nyaman. Seperti, ada sesuatu.

"Luhan, waktumu disini habis…"

"Eh?"

"Ya. Waktu adaptasimu disini sudah kami anggap cukup. Busan adalah kota besar kedua setelah Seoul, kami yakin sekarang jika disini saja kau sudah mampu bersembunyi dengan baik maka di Seoul nanti hasilnya tak jauh berbeda."

"Jadi…" Luhan menggantung.

"Check list pertama sudah kau lengkapi. Kami sudah menyediakan identitas palsu untukmu. Semuanya lengkap, mulai dari kartu penduduk hingga paspor. Tapi karena disini kami memintamu untuk memasuki sebuah sekolah, dengan perawakan dan usia yang masih muda, kau akan berperan sebagai siswa disalah satu sekolah terbaik di negara ini…"

Luhan mengerutkan keningnya, memasuki sebuah sekolah yang elit dan terkenal di Korea Selatan, bukankah itu tidak jauh memasuki pusatnya orang-orang muda pintar yang pasti dengan mudah menebak bahwa Luhan adalah mata-mata.

"Besok kau sudah harus pindah ke Seoul, lalu lusa kau sudah harus ikut tes untuk masuk ke sekolah. Masalah pendaftaran sudah diurus sejak sebulan lalu jadi jangan khawatir. Mengenai riwayat pendidikanmu sebelumnya juga sudah beres. Tempat tinggal beserta isinya juga sudah siap disana. Kau bersiap dan cukup bawa peralatan rahasia yang sudah diberikan oleh kami. Untuk yang lain akan segera kulenyapkan tepat setelah kau berangkat besok."

"Jadi, apa misiku disana?"

"Bertahan hidup dan rusaklah hal sekitarmu…"

"Baik, saya mengerti…"

Brigadir Choi mengangguk kemudian meninggalkan flat Luhan begitu saja. Dan malam itu Luhan habiskan untuk mempersiapkan semuanya. Besok ia sudah harus meninggalkan Busan tanpa jejak yang tertinggal sedikitpun. Sebenarnya Luhan memang tak mungkin meninggalkan jejak sedikitpun, ia tak pernah kenal siapapun dan mempunyai hubungan dengan orang-orang mana pun.

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::The Beginning::]]

. . .

Keesokan harinya, dengan pakaian yang cukup formal, Luhan menuju bandara ditemani salah satu asisten Brigadir Choi. Tidak mungkin kalau Brigadir Choi sendiri yang mengantar Luhan, itu sangat berbahaya karena Brigadir Choi salah satu petinggi militer yang diincar oleh Korea Selatan.

"Seoul sangat ramai, anda harus bisa lebih dingin lagi tuan…"

"Tak perlu khawatir Teayong-ah. Oh ya, tolong sampaikan pada Brigadir Choi bahwa untuk mengirimkan pesan lewat pager saja. Beberapa bulan lalu aku nyaris tertangkap karena disinyalir sering melakukan komunikasi keluar negeri, tepatnya Korea Utara. Untung saja polisi itu bodoh terkecoh dengan tampangku…"

Taeyong –asisten baru Brigadir Choi Siwon- terkekeh pelan mendengar penjelasan Luhan. Bagaimana bisa seorang polisi dapat terkecoh hanya karena tampang saja.

"Anda memang yang terbaik, Tuan Xi…" gumam Taeyong setelah menenggelamkan senyumnya.

"Aku Oh Luhan sekarang, berhati-hatilah. Nama Xi merupakan sasaran yang terbunuh 14 tahun lalu, aku tak ingin akan terjadi insiden yang sama di tahun ini…"

"Oh, maafkan kesalahanku tuan Oh Luhan…"

"Bagus. Aku pergi sekarang. Jaga kesehatanmu, dan jangan lupa jaga Brigadir Choi untukku. Ingatkan dia untuk tidak sering merokok dan alkohol…"

Setelah Taeyong mengangguk sebagai jawaban, Luhan berjalan menuju pesawatnya. Pergi meninggalkan Busan untuk menuju Seoul dan menjalani kehidupan yang paling baru sebagai mata-mata Korea Utara. Dengan bekal nekat dan keberaniannya, Luhan berdo'a juga dalam hati supaya semua yang ia lakukan dapat membuahkan hasil dan bisa mengungkap kejadian menyedihkan beberapa tahun lalu yang telah menimpanya.

"Baba, Mama, Semoga ini menjadi yang terbaik untukku…"

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::The Beginning::]]

. . .

Seoul, South Korean

Seoul International High School, menyimpan jutaan kejutan didalamnya. Sekolah yang paling luar biasa bergengsi seantero negara ginseng ini memang hanya bisa membuat orang yang mendengar nama sekolah itu langsung menegang. Bagaimana tidak? Pertama bisa kita lihat saja dari penampilan sekolah yang begitu luas seluas lapangan golf, gedung sekolah yang begitu megah, lapangan luas, serta taman-taman yang menakjubkan. Dari penampilan saja sudah bisa menampakkan bahwa sekolah ini merupakan sekolah elit berbasis internasional.

Tentu dengan kesempurnaan itu, siswa, guru, maupun staff nya pun bukan orang-orang yang sembarangan. Semuanya merupakan orang-orang kalangan atas. Dimulai dari anak pejabat, pengusaha kaya raya, bahkan selebritis pun memilih Seoul International High School sebagai tempat menimba ilmu.

Dan sekarang Xi Luhan, tidak, tepatnya Oh Luhan sebagai anggota inteligen negara tetangga menyusup ke sekolah paling berpengaruh di Korea Selatan itu. Siap untuk menerima misi-misi dari pimpinannya di Korea Utara sana.

Misi pertama, ikut tes masuk dan berusaha untuk mendapatkan posisi peringkat teratas supaya membuatnya cukup disegani di sekolah. Well, sebenarnya ini sudah dua bulan sejak angkatan pertama di sekolah ini diterima. Tapi, supaya bisa masuk disekolah ini sebagai siswa pindahan, Luhan diharuskan ikut tes kelayakan.

"Anda diterima. Mulai besok, sudah bisa menerima pelajaran dikelas yang sudah ditentukan. Ini beberapa berkas data-data anda sebagai siswa di Seoul International High School. Besok, silahkan temui lagi aku disini karena aku yang akan menjadi wali kelasmu."

Luhan menerima berkasnya kemudian mengangguk. Ini sudah seminggu sejak tesnya dilaksanakan dan ia lolos dengan nilai tertinggi dibanding siswa lain yang mencoba pindah kesekolah ini.

"Oh ya, nilaimu cukup mencengangkan sebagai pindahan dari sekolah biasa. Sebulan lagi ada mid test, kau harus bersiap-siap." Ucap guru wali kelas Luhan. Sebagai jawaban, Luhan hanya mengangguk lagi.

Luhan menengok jam tangannya, masih banyak waktu sebelum latihan sore rutinnya. Mungkin sebaiknya ia berkeliling untuk melihat-lihat lingkungan sekolah yang cukup ramai karena ini jam istirahat makan siang.

Pemuda 19 tahun ini merubah penampilannya menjadi lebih tertutup lagi dibandingkan saat di Busan. Rambut hitam kelam yang sebelumnya ia naikkan menjadi lebih rapi dengan poni yang menutupi alisnya. Kacamata frame kecil, dan gaya bersergamnya yang terlampau rapi membuat Luhan tampak seperti orang yang benar-benar tertutup.

Saat melewati koridor beberapa kelas, sayup-sayup Luhan mendengar orang-orang membicarakannya.

"Dia murid baru itu…"

"Maksudmu yang nilainya cukup tidak masuk akal itu?"

"Aku heran, apa soal tes dari sekolah semakin mudah hingga ia bisa semudah ini lolos…"

"Hebat juga…"

Luhan menyeringai cantik lalu menekan frame kacamatanya kehidung. Dia sekarang tau betul bahwa semua siswa sama saja. Ini mungkin yang disebut awal dari perkumpulan penggosip luar biasa diluar sana. Cih, Negara yang bodoh.

"Ahahahaha!"

Sialan, suara tawa itu begitu nyaring dan mengganggu telinga Luhan. Terpaksa Luhan berjalan menunduk menghindar dari orang yang tertawa bodoh dan cukup keras barusan.

Bug!

"Shit…" Umpat Luhan pelan, karena kecerobohannya ia terpaksa untuk…

"Maaf, aku akan berhati-hati lain kali…"

"Eh?"

Luhan baru saja menabrak seorang siswa yang lebih tinggi darinya, mungkin itu kakak kelasnya, tak sopan bukan kalau ia tidak langsung meminta maaf. Luhan mengencangkan langkahnya, memilih tidak bertatap muka dengan orang yang membuatnya malu karena harus mengucapkan kata maaf pada salah satu orang Korea Selatan yang menjijikkan.

"Tunggu, hey kau?"

Tidak peduli mau dipanggil berapa kali, Luhan sudah menjauh dan tak mendengar sosok yang seharusnya familiar dimata Luhan.

"Ada apa, Sehun?"

"Tidak, kurasa aku pernah melihatnya baru-baru ini. Tapi, dimana aku lupa…"

"Sudahlah, tak penting mengingat orang culun sepertinya…"

"Kau berpikir dia culun? Matamu minus Jongin, kau tak melihat wajah manisnya tadi bukan?"

"Cih, mulai lagi…"

"Hahahaha!"

Kedua orang berparas tampan dengan kulit yang kontras berbeda itu kembali melanjutkan jalan mereka yang sempat terganggu karena salah satu dari mereka yang bernama Sehun menabrak seseorang yang katanya pernah ia lihat beberapa hari lalu.

Ingatlah, bukan katanya, tapi kenyataannya ia telah merusak sepeda milik orang itu beberapa hari lalu. Sehun mengingatnya, dan ia masih ingat betul bagaimana pemuda manis itu berteriak sebal padanya.

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::The Beginning::]]

. . .

Misi pertama, tuntas. Begitulah menurut Luhan sendiri ketika ia mengingat bagaimana terpukaunya guru-guru dan siswa lama di sekolah yang katanya elit itu. Luhan bisa bayangkan, mungkin hanya namanya saja yang elit tapi kualitas siswanya biasa saja.

"Jadi, hanya segini saja? Payah…"

Prak!

Luhan melempar lembaran peringkat dan nilai-nilai hasil tes siswa pindahan yang dia dapat tadi di sekolah.

"Aku hanya akan membuang waktu bersama keledai-keledai payah itu? Brigadir Choi, aku seorang sniper dan kau memanfaatkanku sebagai pecundang di sekolah menjijikkan itu?" keluh Luhan.

Lelah memikirkan kehidupan yang akan dilaluinya sebentar lagi, Luhan memabringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar flat nya. Tiba-tiba ia teringat suatu hal. Entah kenapa suara orang yang ditabraknya siang tadi itu terasa sedikit familiar. Suara anehnya yang sedikit berat, aksen yang begitu kekanakan walau sekali dengar.

Itu, suara…

"SIAL! BOCAH TENGIK ITU!"

Yup, Luhan mengeluarkan kata-kata mutiaranya saat ia ingat betul siapa orang yang ditabraknya. Perlahan, kejadian mengenai peristiwa rusaknya sepeda tercintanya terangkai jelas diotaknya. Bagaimana pemuda berkacamata itu meminta maaf dengan tidak sopan.

"Sial! Sial! Sial! Aku melupakan plat mobilnya! Kau bodoh Luhan!"

Akhirnya, Luhan hanya bisa bermimpi buruk tentang sepedanya yang malang dan pemuda dalam wujud setan itu terus menghantui, menertawai, dan mengusik kenyamanan tidurnya.

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::The Beginning::]]

. . .

Messages :

Misi ke-2,

"Beradaptasi namun tak perlu terlalu dekat. Cukup kenal dan jadilah orang biasa. Ingat, otakmu jenius dan semuanya harus tahu itu. Kau harus jadi orang hebat disana."

Ekspresi wajah Luhan begitu serius saat membaca pesan yang disampaikan Brigadir Choi. Misi kedua baru saja ia terima. Tapi entah kenapa hati Luhan merasakan bahwa ini terasa biasa saja. Mengapa tak ada kegugupan yang melingkupi dirinya? Dia menjadi mata-mata dan kenapa misinya hanya semacam orang yang melakukan pindahan saja? Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh semua pemimpinnya di Korea Utara sana?

Luhan hampir goyah. Tapi bukan karena tak sanggup, ini terlalu mudah. Jiwa mudanya yang memberikan api semangat untuk mengalahkan musuh yang membakar emosinya pada negara bejat ini.

"Jadi orang hebat? Tidak berguna kalau aku hebat diantara sampah…" gumam Luhan sebelum memasuki sekolah megah yang berdiri kokoh dihadapannya. Melihatnya kokoh seperti ini, Luhan menyeringai betapa ia ingin meremukkan bangunan ini.

Langkah Luhan terasa ringan, ia sesekali menyeringai melihat orang-orang sekitar yang tak lain tak bukan adalah para musuh. Well, Luhan bukanlah sosok yang pandai berkelahi, tapi jika sudah ada pistol ditangannya, jangan tanya ada berapa orang yang bisa bertahan hidup disekitarnya.

Pikiran buruk yang menurut Luhan menyenangkan itu, tak terasa mengantarkan Luhan sampai di ruang guru untuk menemui wali kelas barunya. Pemuda ini menundukkan kepalanya dengan sopan –akting- kemudian menanyakan kelasnya.

"Kelas akan dimulai 10 menit lagi. Kita jalan sekarang karena kelas kita cukup jauh dari sini…" Guru Kim tersenyum pada Luhan setelah membereskan berkas dan beberapa materi lainnya.

"Baik, Guru Kim…" Luhan menunduk lagi. Berjalan membuntuti Guru Kim yang sudah melenggang duluan didepannya. Melihat Guru Kim dari belakang, pasti sangat menyenangkan bagi Luhan apabila ia punya kesempatan untuk melesakkan peluru panasnya kedalam perut tambun wali kelasnya sendiri.

Sialan, hari ini Luhan berpikir jahat terlalu banyak sampai ia tak sadar menabrak punggung Guru Kim yang dengan kurang ajarnya tiba-tiba berhenti didepannya.

"M-maaf…" lirih Luhan. Ia menggigit bibirnya karena gemas, kenapa bibirnya harus mengucapkan kata itu berulang kali untuk orang-orang menjijikkan sih.

"Kita sampai, kau tunggu disini. Biar aku beri kejutan untuk teman-teman barumu didalam. Dengar kan? mereka sepertinya sudah tau akan ada siswa baru dikelas mereka. Ckck, ramai sekali…"

"Baik, Guru Kim…"

Cih, apa-apaan itu? Kejutan? Terlalu kekanakan. Bagaimana ini bisa disebut kejutan kalau didalam sana semua siswa sudah bergosip tentang Luhan. Guru gendut itu benar-benar sok dekat saja dengan muridnya.

Luhan masih diam ditempatnya sambil mencibir kecil, sampai dari dalam sana terdengar suara orang tua yang berteriak tak begitu lantang memanggilnya.

"Ayo, sekarang kau bisa masuk…"

"Baik…"

Dan, Luhan masuk dengan elegannya namun terlihat polos sekali. Siswa baru ini berdiri disamping Guru Kim dan menebarkan senyuman manisnya pada semua siswa didalam kelas. Jangan tanya bagaimana reaksi teman-teman baru Luhan, hampir semuanya terpanah melihat senyuman menawan Luhan.

"Nah, sekarang tolong perkenalkan dirimu pada yang lain karena sepertinya mereka sudah cukup menunggu…"

"Hehe, maafkan saya sebelumnya…" Luhan terkekeh kecil sembari menggantung kalimatnya.

"Perkenalkan, namaku Oh Luhan. Pindahan dari Busan, senang berkenalan dengan kalian semua!" Sapa Luhan dengan nada ramah yang lembut. Suaranya sebenarnya sangat merdu, tapi menurut Luhan suara senapan kesayangannya lah yang paling merdu.

"Bagus. Silahkan, kau boleh duduk sekarang, Oh Luhan. Aku akan mulai mengabsen…"

"Baik, Guru Kim…"

Luhan berjalan menuju tempat duduk yang kosong, yakni paling belakang dekat jendela luar. Bukan tempat yang buruk, setidaknya kalau ia bosan menerima pelajaran yang sudah pernah diterimanya beberapa tahun lalu, ia bisa menikmati pemandangan diluar.

Baru sampai ditempat duduknya, Luhan sudah disuguhi sapaan-sapaan yang sangat mengganggunya. Satu diantaranya gadis, yang lainnya adalah laki-laki. Gila, Luhan memang selalu jadi sangat populer diantara laki-laki.

"Kau lihat itu kan Jongin, kurasa kau benar-benar minus…"

"Sialan, waktu itu aku hanya tak begitu jelas melihatnya…"

"Well, mata elangku ini tak bisa terkalahkan oleh apapun..."

"Cih, tak usah banyak bicara. Sesuai taruhan, kutraktir kau makan nanti siang…"

Pelajaran di kelas sejarah ini pun mulai dengan tenang. Hey, pelajaran dan tenang itu bukankah hal yang biasa di sekolah elit, jadi jangan kaget. Hari pertama, pelajaran pertama, Luhan dapatkan pelajaran sejarah yang membuat kepalanya memanas karena mendengar sejarah orang-orang tak penting negara ini. Well, nikmati saja…

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::The Beginning::]]

. . .

Misi kedua, belum benar-benar Luhan kerjakan dengan baik. Oke, akan cukup baik mungkin karena beberapa siswa mulai berjalan mendekati Luhan yang duduk sendirian dimejanya. Dengan aktingnya yang cukup hebat, Luhan berpura-pura menikmati pembicaraannya dengan teman-teman barunya. Tidak begitu lama karena makin lama biacara, Luhan semakin membuat pembicaraan mereka semakin singkat dan akhirnya mereka pergi dari sisi Luhan.

Kelas begitu sepi saat jam istirahat. Mungkin karena sekolah ini megah, dan istirahat makan siang cukup lama, jadi menghabiskan waktu diluar kelas mungkin efektif.

Tapi tidak dengan seseorang yang duduk dibangku paling depan. Luhan memperhatikan siswa itu sejak tadi. Jangan-jangan dia seorang mata-mata juga, makanya dingin seperti itu. Ingat, Luhan kau harus beradaptasi, mungkin tidak baik berlama-lama dikelas untuk hari pertama.

"Sebentar!"

Luhan menunjuk dirinya sendiri saat siswa yang duduk dibangku paling depan itu menghentikan langkahnya dengan teriak kecil.

"A-aku?"

Siswa itu mengangguk, Luhan sedikit bingung.

"I-iya…" siswa itu cukup canggung. Dia berdiri kemudian berjalan kearah Luhan, menjulurkan tangan kanannya.

"Aku tidak punya begitu banyak teman disini karena aku juga murid pindahan bulan lalu. Perkenalkan, namaku Xiumin. Kau, Oh Luhan bukan?"

"Ya, aku Luhan. Senang berkenalan denganmu. Namamu Xiumin?"

"Ah, kau berpikir aku bukan orang sini bukan?"

"Y-ya, maaf sebelumnya tapi namamu tidak seperti orang Korea pada umumnya…" Luhan berpikir dalam hati, kalau bocah dihadapannya ini benar-benar berkebangsaan Cina, mungkin Luhan akan sangat senang dan hanya akan menerima orang dihadapannya ini sebagai temannya.

"Eum. Aku dari Guangzhou!"

"Benarkah?"

"Iya. Tapi, apakah kau juga bukan benar-benar orang sini? Saat mendengar namamu, kupikir kau bukan orang sini. Tapi aku tau itu kau saat mengetahui margamu…"

"A-ah, kau berpikir begitu? Ahaha…" Luhan menggaruk tengkuknya. Jangan sampai ada yang tahu kalau dirinya memang bukanlah orang Korea asli. Ya, nama Luhan? Apa mungkin nama orang Korea ditengahi kata Lu? Carilah di data administrasi Korea mana pun maka kau tidak akan pernah menemukannya, kecuali itu Luhan sendiri.

Misi kedua, checked!

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::The Beginning::]]

. . .

Mungkin menurut Luhan, misi keduanya sudah tuntas. Mampu beradaptasi bahkan punya teman, mendapat nilai yang selalu bagus, disegani karena kepintarannya, dan menurut Luhan sendiri ia menjadi orang yang cukup besar di sekolah.

Pada kenyataannya persepsi Luhan tentang dirinya sendiri tidaklah benar. Semua teman sekelasnya malah menganggap Luhan aneh. Aneh seaneh-anehnya.

"Dia selalu bertolak belakang dengan kita. Jika ada dua pilihan yaitu madu dan racun, jikalau kita memilih madu, sekalipun itu racun makan Luhan akan tetap bersikukuh untuk memilih racun…"

"Dia hanya bisa sama jika dalam pelajaran saja. Tapi kadang kita berbeda dengannya karena jawaban kita salah, dan jawabannya yang benar!"

"Mungkin dia terlalu pintar saja…"

"Ah, menyebalkan. Padahal dia kan cukup manis…"

Brak!

"Oh, sial kau Oh Sehun! Mengagetkanku saja! Baru datang dan kau seenaknya menggebrak meja kantin? Aku bisa saja melaporkannya pada guru, kau tau…"

"Hahaha! Aku hanya ingin menertawakan kalian semua. Payah!"

"APA?!"

"Oh Luhan, aku pasti akan mendekatinya dan akan mendapatkan hatinya!"

Setelah pernyataan gigih Sehun yang dilanturkan pemuda berkulit putih pucat itu, semua teman-temannya tertawa terbahak-bahak sampai ingin minta ampun. Sehun yang tidak tau diri masih tetap kokoh berdiri dengan senyuman bodohnya yang khas.

"Hahahaha!" tawa teman-temannya begitu menggelegar. Dan Sehun baru tersadar dari delusinya sendiri. Memangnya akan mudah mendekati Luhan?

"Kau berani mendekatinya? Saat perkenalan dia memang terkesan sangat manis, tapi entah kenapa setelah itu ia seperti menjauh dari kita!" Jongin bersuara sebelum menyelesaikan tawanya. Perutnya benar-benar dikocok oleh tingkah bodoh sahabatnya dari kecil itu.

"Siapa takut?!"

"Baguslah. Mari kita semua bertaruh. Apakah Oh Sehun ini bisa menaklukkan hati seorang Oh Luhan yang manis dan imut-imut tapi juteknya minta ampun itu…"

Akhirnya, Sehun dan teman-temannya saling bertaruh untuk Sehun yang rencananya akan mendekati Luhan sekaligus menaklukkan hati Luhan. Ini bukan taruhan yang buruk dan jahat, sebab dari awal Sehun sudah tertarik pada pemuda manis berkacamata yang sebenarnya sangat cantik itu. Taruhannya juga tidak beresiko, hanya hal-hal kecil dan biasa.

. . .

::[[AGENT LU]]::

[[::The Beginning::]]

. . .

Sehun tidak bercanda pada teman-temannya, esok harinya ia membuktikan pada teman-temannya bahwa ia sudah bertekad untuk mendekati dan menaklukkan Luhan yang dingin.

Sore itu, diawal musim gugur, saat Luhan sendirian sedang menunggu bus di halte, Sehun turun dari mobilnya dan mendekati Luhan yang sedang muram karena bus yang tak kunjung tiba.

Semua teman-teman Sehun sudah bersiap dan bersembunyi disekitaran halte. Bahkan Jongin sudah mempersiapkan kameranya untuk merekam bagaimana kesan pertama antara Sehun dan Luhan.

Sehun berjalan mendekati Luhan kemudian melepas kacamata hitamnya. Sehelai syal berada dalam genggaman tangan kirinya.

Sret!

"Eh?"

Luhan mendongak ketika tiba-tiba ada sepasang tangan yang melilitkan sebuah syal tebal dilehernya. Ini terasa hangat dan nyaman pada awalnya. Tapi Luhan langsung merasa mendidih setelah melihat wajah orang yang memasangkan syal padanya.

"Hey, Perkenalkan, namaku Oh Sehun. Marga kita sama bukan, Oh Luhan?"

"K-kau?!" Luhan berdiri dan wajahnya memerah dan memanas karena marah.

PLAK!

Sebuah tamparan manis mendarat diwajah tampan seorang Oh Sehun. Dan, begitulah kesan pertama Sehun dan Luhan. Kesan yang sangat amat manis karena wajah keduanya memerah dengan alasan yang sangat-sangat berbeda jauh…

"Kesan pertama yang akan membawa mereka bersama sampai akhir…"

. . .

::[[AGENT LU]]::

. . .

To be continued

HUNHAN HUNHAN HUNHAN HUNHAN

[A/N]

Yo!

Apa kabar readers?

Jumpa lagi dengan saya di Chapter 3!

Gimana? Ancur kan momen pertama HunHan nya? xD

Aku lagi dongkol nih, mikirin Luhan sama Sehun kapan nyatu lagi di EXO xD

Oh ya, btw EXO dapat 4 award kan di MAMA? Alhamdulillah yaa~

Mari doakan untuk EXO supaya langgeng dan kembali utuh!

Seperti biasa, kalau ada saran dan pertanyaan tinggal tulis di kolom review ya guys?

Untuk chapter berikutnya mungkin bakal lucu-lucuan HUNHAN nya dulu yaa

Maaf sebelumnya kalau chapter ini nggahk ngeh banget dan kebanyakan tele-tele gak jelas… :3

Hopes, next chapter may be better ya guys!

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

Wassalam