Disclaimer:masashi kisimoto

.

.

Ed Krist present; Anbu No Kage

.

Enjoy it,

.

Tik tok tik tok

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam tapi tiga bocah tiga belas tahun yang berada di ruangan itu masih berkutat dengan aktivitas masing-masing. Sakura yang sibuk membaca gulungan jutsu dari Naruto, Sasuke yang menyiapkan peralatan ninja untuk besok dan Naruto yang menggeledah isi kantong ninjanya, entah mencari apa.

Sebenarnya mereka sudah selesai dengan diskusi mereka untuk besok, tapi karena Sakura yang belum menguasai beberapa jutsu jadi Naruto dan Sasuke dengan Sabar mengajari gadis pink itu.

"Ketemu,"ucap Naruto pelan.

Karena ucapan Naruto tersebut membuat dua temannya menoleh. Sasuke mengernyit heran, sementara Sakura memandang dengan bingung.

"Ada apa?"

"Tidak ada teme. Aku hanya mencari ini"ucap Naruto sambil memperlihatkan sebuah gulungan berwarna hijau tanpa ada tulisan apapun.

"Apa itu Naruto?"tanya Sakura.

Pandangan Naruto beralih pada Sakura lalu menyodorkan gulungan itu pada Sakura"ini untukmu, pelajarilah. gulungan itu berisi teori jutsu yang di gunakan oleh salah satu Sannin. Senju Tsunade"jelas Naruto saat Sakura menerima gulungan darinya.

Mata Sakura melebar. terkejut"tapi...kenapa aku?, bukannya ini milikmu Naruto?,"tanya Sakura.

"Kau benar itu milikku, tapi jutsu itu tidak cocok denganku dan kupikir itu cocok untukmu"

Dengan ragu Sakura mengangguk. Padahal dia belum menguasai shunshin sepenuhnya.

Srekk

Tiba-tiba kursi tempat Naruto bergeser, pemuda kuning itu berdiri sambil membereskan kantong ninjanya.

Sasuke yang sadar ada pergerakan di sampingnya hanya melirik teman kuningnya"kau ingin pulang, dobe?"tanya Sasuke yang kembali berkutat dengan alat ninjanya.

"Hn. Begitulah, ada sesuatu di apartement yang ku tinggalkan. Sakura kau mau ikut?"jelas Naruto datar dan bertanya pada Sakura.

Sasuke mengangguk paham sementara Sakura yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya bingung, tapi perlahan dia juga mengangguk.

"Hn. Baiklah Sasuke sampai bertemu besok, ayo Sakura"

Tanpa menunggu dua kali gadis pink itu berdiri, mengikuti Naruto yang lebih dulu berjalan menuju pintu.

"Em..sasuke-kun aku pulang dulu, jaa..."pamit Sakura.

"Hn"

Akhirnya ruang tamu itu kosong di tinggal tiga bocah gennin tersebut. Naruto dan Sakura pulang sementara Sasuke pergi tidur untuk memulihkan tenaga untuk besok.

.

.

.

Kantor hokage

Di ruang hokage, Hiruzen sedang membaca data laporan misi dalam satu bulan ini. Sesekali dia menghisap pipa rokok untuk menghilangkan rasa bosan, semua kertas ini membuat kepalanya terasa pening.

Sringg...

Tiba-tiba Kitsune datang dengan kilat kuning membuat perhatian hokage ketiga teralihkan.

"Hokage-sama"

"Kitsune, apakah misimu sudah selesai?"tanya Hiruzen.

"Ha'i, Hokage-sama...misi pengintaian Otogakure sudah selesai dan laporan dari tim pengintai benar, desa itu di buat oleh Orochimaru. Di sana hanya berisi oleh clan-clan berkemampuan unik hasil percobaan Sanin itu"jelas singkat Kitsune.

Hiruzen mengangguk"hm. Apa hanya itu, apa ada yang lain?"hiruzen tahu bukan itu saja yang bisa di dapat kan kapten anbu dari divisi yang di buatnya dua tahun lalu.

Kitsune merogoh kantung ninja yang berada di balik jubah hitamnya. Dia mengeluarkan gulungan berwarna hitam dengan garis putih.

"Semua informasi lengkap ada di sini Hokage-sama"ucap Kitsune melangkah maju dan meletakkan gulunga tersebut di atas meja.

"Baiklah, kau boleh pergi"ucap Hiruzen dengan senyum tipis di bibirnya.

Hening...

Kitsune tetap berada di tempatnya dan membuat Hiruzen memandang heran.

"Ada yang ingin aku bicarakan Hokage-sama"

"Apa itu?"

Dengan perlahan Kitsune menarik nafas.

"Aku ingin..."

.

.

.

Trining ground

Sekarang adalah hari survival battle akan di mulai, tapi mungkin akan sedikit terlambat karena sang sensei -Kakashi- belum juga datang sementara dua orang muridnya menunggu guru mesum tersebut.

"Sasuke-kun apa kau tahu di mana Kakashi sensei?"tanya Sakura dengan raut wajah antara sebal dan malu, dia tidak menyangka bisa berduaan dengan Sasuke.

"Hn. Entahlah"dengan tidak peduli Sasuke menjawab.

"Hah.."

Tidak peduli seperti biasa. Terkadang Sakura heran dengan dua anggota team-nya, apakah mereka bisa menjawab tanpa menggunakan kata 'Hn' dan nada datar itu.

Sedangkan Sasuke mengamati sekeliling, mencoba mencari keberadaan teman kuningnya. Dia heran, biasanya Naruto akan menghampiri ke rumahnya tapi...hari ini tidak.

Poft...

Sebuah kepulan asap muncul membuat atensi dua bocah tersebut teralihkan, dengan tangan yang membawa sebuah buku ditangannya orang itu tersenyum di balik masker.

"Hay..."

"Kau terlambat sensei!"ucap Sakura dengan tampang galak dan menunjuk Kakashi.

"Maaf, tadi saat akan berjalan kemari aku menolong nenek-nenek menyebrang jalan lalu setelahnya aku bertemu dengan kucing hitam, jadi aku memutar jalan dan akhirnya aku tersesat di jalan yang namanya jalan kehidupan"

'Alasan macam apa itu?'batin Sasuke dan Sakura bersamaan.

Mendapat pandangan seperti itu Kakashi hanya menggaruk belakang kepalanya, tatapan itu sama seperti dirinya saat mendengar alasan yang sama yang di ucapkan teman satu teamnya dulu.

Kakashi menghela nafas untuk mengembalikan fokusnya dan dapat dia sadari bahwa muridnya belum lengkap. Dia menatap Sasuke.

"Sasuke, kemana Naruto?"

"Hn. Entahlah"jawab Sasuke tak acuh.

"Mungkin Naru..."ucapan Sakura terpotong saat sebuah suara terdengar dari atas pohon.

"Aku di sini, kenapa mencariku?"

Suara seseorang mengalihkan perhatian tiga orang di sana, di sebuah dahan pohon seorang pemuda berambut kuning memakai rompi orange tengah berdiri di dahan pohon dengan tangan bersidekap dada.

"Naruto!.. Kapan kau di sana?"ucap Sakura.

"Sejak kau mengomel tentang keterlambatan sensei "ucap Naruto lalu meloncat dari pohon.

Tap...

Naruto mendarat dengan sempurna di depan tiga orang itu, pemuda tersebut masih mengenakan celana orange dan rompi orange-nya lalu pandangannya beralih pada sang Sensei yang masih memandang dirinya.

"Sebaiknya segera lakukan ujiannya sensei, aku ada urusan"ucapnya malas.

Kakashi berdehem lalu mengeluarkan dua buah lonceng dari saku celana ninjanya tersebut, matanya melengkung menandakan dia tersenyum.

"Aku mempunyai dua lonceng, rebut lonceng ini jika kalian ingin lulus"

Hilang sudah hawa bersahabat Kakashi di ganti oleh aura serius dan pandangan tajam. Sementara ketiga gennin di depannya mendengarkan dengan baik.

"Tapi loncengnya hanya ada dua"

"Benar, rebut lonceng ini dariku. Jika salah satu dari kalian tidak mendapat lonceng maka di nyatakan gagal dan kembali ke akademy. Dan waktunya sampai makan siang"

Sakura sedikit bergidik tapi saat pandangan Naruto bertemu dengannya dia mulai memantapkan hati.

'Kami harus berhasil!"

Batin Sakura yakin.

"Dan satu lagi.. Serang aku dengan niat membunuh, kalian mengerti"

Mereka mengangguk.

"Mulai!"

Wuussh

Ketiga murid tersebut melesat menuju hutan hanya menyisakan Kakashi yang kembali dengan bukunya. Dia heran kenapa ketiga muridnya masih menyisakan hawa keberadaan mereka.

"Hm. Mau main-main rupanya"

.

.

.

Sementara Naruto, Sasuke dan Sakura tengah berkumpul di sebuah semak-semak untuk menyusun strategi.

"Baiklah ini rencananya, Sakura apa kau sudah mempelajari scroll yang ku berikan"

"Ya, walau baru dasar tapi aku sudah menguasainya"

"Bagus. Sakura kau akan maju bersama Sasuke untuk melawan Kakashi-sensei, kau akan menjadi lawan pertama guna mengalihkan konsentrasinya dan juga menjadi back-up. Sementara kau, Sasuke. Akan menjadi penyerang utama di tim ini. Teknik katon mu berguna untuk saat ini. Dan aku akan jadi pendukung serta serangan kejutan"

Dua remaja di depannya mendengar dengan baik dan mengangguk membuat Naruto bernafas lega. Lalu dia melanjutkan.

"Oh ya teme, jangan incar loncengnya tapi bukunya"

Dahi Sasuke berkerut heran, kenapa harus buku.

"Kenapa dengan bukunya?"

Bukan Sasuke yang bertanya melainkan gadis merah jambu di samping Naruto yang bertanya.

"Kita beri sedikit pelajaran untuk sensei mesum itu"seringai terbentuk di bibir Naruto.

.

.

.

Kakashi masih berdiri di tempat yang sama menunggu kedatangan para muridnya, buku bersampul hijau itu juga masih ada di tangannya.

"Mau sampai kapan kalian bersembunyi..."

Ucapan pelan itu keluar dari mulut jounin tersebut.

Srrek... Sreek..

Wussh...

Dari semak yang berada di depannya keluar dua sosok remaja dengan surai yang berbeda. Mereka datang dengan kunai di masing-masing tangannya.

"Hm?. Sasuke dan Sakura, apa kalian yang akan melawanku?"

Tanya Kakashi saat sudut matanya melihat dua gennin tersebut. Dia masih memprediksi apa yang akan di lakukan dua remaja itu.

"Hn. Kita lihat saja nanti"

Setelah ucapan Sasuke tersebut Sakura segera berlari menerjang guru berambut perak itu.

Tap.. Tap.. Tap..

Wuush...

Sakura melempar kunai tersebut ke arah Kakashi dan dengan mudah pria tersebut dapat menangkisnya. Gadis itu tersenyum dalam hati.

"Apa hanya ini yang kalian punya hm?"

"Sebenarnya...tidak sensei"

Kakashi melihat Sakura melompat dengan kepalan tangan kirinya yang siap menghantam dirinya. Mata mereka saling beradu untuk beberapa detik.

Pria bermasker tersebut menyilangkan tangan guna untuk menahan pukulan gadis pink tersebut. Tapi, bukan pukulan yang dia terima melainkan tanah yang di pijaknya bergetar hebat.

Krek..blaarrr

Kakashi terlempar dan terseret beberapa meter ke belakang, dan saat dia melihat ke depan matanya melebar, tanah di depannya hancur tidak beraturan dengan Sakura di tengahnya.

"I-itu seperti jutsu Stunade- hime"

"Sakura kau?... bagaimana bisa? "

Gadis tersebut berdiri lalu tersenyum pada Kakashi.

"Sensei tidak perlu tahu.."

Wuush

Di atas sakura tiba-tiba muncul Sasuke yang sudah siap dengan semburan apinya.

"Katon: Dai endan"

Dari mulut Sasuke keluarlah lima peluru api berukuran sedang, dan menuju Kakashi. Sedangkan Kakashi yang melihat peluru api yang mengarah padanya langsung merangkai handseal.

"Doton: Doryuuheki"

Di depan Kakashi muncul sebuah tembok tanah yang melindunginya dari peluru api Sasuke, namun di luar perkiraan salah satu peluru api berbelok menghindari tembok tanah tersebut. Sasuke menyeringai saat melihat hal itu.

"Sial"

Kakashi kembali melompat kebelakang dimana terdapat sebuah danau disana, dia kembali merengkai heandseal.

"Suiton: suiryuudan no jutsu"

Dari tengah danau keluarlah seekor naga air, maju menuju peluru api tersebut.

Grroarr...

Blarrr..

Terjadi ledakan setelah dua jutsu tersebuk bertubrukan dan mengakibatkan daerah tersebut terselimuti oleh kabut.

"Hanya dengan satu jutsu Sasuke hampir membuatku kualahan. Ck"

"Baiklah, kalian bertiga cukup bermainnya"

Kakashi mencoba memancing ketiga muridnya keluar, dari tadi hanya Sasuke dan Sakura yang melawannya. Di mana Naruto berada.

"Kami tidak main-main sensei,"

Sebuah suara perempuan berbisik di telinganya. Membuat dirinya kaget.

"A-apa"

"Fuuton: Daitoppa"

setelah mendengar bisikan tersebut Tiba-tiba sebuah gelombang angin kencang menghantam punggungnya dan menyebabkan dirinya terlempar dan menabrak pohon. Kabutpun ikut menghilang akibat jutsu angin tersebut.

Pria tersebut berdiri dia dapat melihat seorang anak laki-laki berambut pirang sedang bersandar di batang pohon tidak jauh darinya.

"Na-Naruto"

"Hn."

"Jadi, kau akan melawanku. Hm?"

Tanpa menjawab Naruto berlari menuju ke arah sang sensei dan saat sudah dekat dengan Kakashi Naruto melakukan pukulan depan namun berhasil di tangkis oleh Kakasi lalu dengan cepat dirinya menendang ke atas tepat ke arah dagu tapi lagi-lagi di tahan.

"Kau takkan bisa mengalahkan ku jika hanya dengan taijutsu seperti ini Naruto"

"Benarkah..."

Kakashi bingung tapi tanpa di duga bocah di depannya melakukan salto ke belakang dengan kaki yang mengenai dagu pria berambut perak tersebut dan mengakibatkan dirinya mundur beberapa langkah.

Tap...

Naruto mendarat sempurna, dia melihat Kakashi memegangi dagunya yang sedikit berdarah.

Tap.. Tap..

Di belakangnya Sakura dan Sasuke datang, setelah itu Kakashi kembali melihat mereka.

"Uh.. Lumayan sakit"

Kringg...

Tanda bahwa waktu ujian telah selesai pun terdengar membuat empat orang disana terdiam.

"Baiklah, waktu kalian sudah selesai dan tak ada dari kali..."

Tring...

Sebuah suara lonceng membuat Kakashi berhenti bicara. Dia melihat Sakura tengah memperlihatkan dua buah lonceng dan sebuah buku orange di masing-masing tangannya sambil tersenyum, membuat Kakashi mengecek kantong ninjanya yang biasa untuk menyimpan buku tersebut dan hasilnya nihil.

"Bagaimana kalian mendapat benda tersebut?"

"Mudah saja.. Saat kau membuat naga air untuk menghalau peluru api Sasuke, Sakura berlari ke arahmu tanpa kau sadari"

Kakasi terkejut, jadi bisikan itu adalah sakura. Dan peluru itu adalah pengalihan saja.

"Benar Sakuralah yang berbisik di telingamu tadi sensei, yah walau rencanaku sedikit meleset karena kau mengeluarkan jutsu element tanahmu itu"

"Huh?"

"Tapi selanjutnya sesuai rencana kami"

"Dengan kata lain Sasuke dan Sakura umpan untuk melawanku dan Sasuke sengaja menyerang dengan peluru api untuk membuatku melawan dengan element airku. Dan saat berhasil Sakura datang dan mengambil buku dan loncengnya sampai kau melawanku untuk meyakinkan bahwa kalian belum mendapatkan lonceng tersebut, apa aku benar?"

Mereka bertiga mengangguk.

Kakashi tersenyum, akhirnya dia menemukan yang dia cari.

"Hm...baiklah, kalian lulus"

"YEEAAHH.."

Sakura berteriak senang saat dinyatakan lulus oleh senseinya itu, sementara Sasuke dan Naruto hanya tersenyum tipis.

"Tapi. Mungkin kerja sama kalian sudah bagus. Tapi ingat jangan pernah sesekali kalian meninggalkan teman kalian. Karena... Seseorang yang mengabaikan peraturan adalah sampah. Tapi orang yang mengabaikan temannya lebih rendah dari pada sampah ...kalian mengerti?"

"Ha'i Kakashi sensei"

"Sekarang kembalikan buku ku"

Mereka bertiga menggeleng tanda menolak. Dan itu membuat pria bermasker tersebut heran.

"Buku ini kami sita karena keterlambatan sensei"

Setelah mengucapkan hal itu, Sakura memberikan buku laknat tersebut ke Naruto.

"Eh.. Ta-tapi buku itu"

"Tak ada tapi, dan buku ini aku yang akan membawanya"

"Hah.. Terserah kalian saja, besok berkumpulah di sini untuk mengambil misi pertama kita"

Setelah ucapan Naruto. Kakashi hanya bisa pasrah, menunggu bukunya kembali padanya.

.

.

.

Di jalan utama Konoha terlihat tiga orang bocah tengah berjalan beriringan. Seorang gadis pink yang terlihat berceloteh sementara dua laki-laki menjadi pendengarnya walau dengan wajah datar mereka.

"Astaga Naruto, Sasuke-kun aku tak menyangka kita bisa berhasil.. Dan tadi itu menyenangkan."

"Hn.."

"Yeah"

Dan Sakura terus berbicara sampai seorang anbu datang di depan mereka bertiga, membuat dahi ketiganya mengernyit.

"Ada apa"tanya Sasuke

"Naruto-san di panggil oleh hokage-sama"

"Hn"balas Naruto

"Aku permisi"

Setelah mendapat jawaban sang anbu tersebut menghilang dengan meninggalkan asap putih.

"Naruto kenapa kau di panggil hokage?"

Pemuda kuning tersebut hanya mengangkat bahu.

"Aku pergi dulu, kalian pulanglah. Kita bertemu sebelum menjalankan misi pertama"

"Baiklah"

Wuush

Naruto melompat dari atap ke atap menjauh menuju gedung hokage. Mungkin dia di panggil karena keinginannya semalam.

.

.

Di koridor gedung hokage tim sepuluh berjalan menuju kan tor hokage, mereka baru saja menyelesaikan misi rank-D dan sekarang adalah waktunya untuk melaporkan misi mereka. Namun, sebelum itu di ujung lorong terlihat Naruto yang berjalan dengan tangan yang masuk di dalam saku celana orangenya dan mereka berpikiran bahwa pemuda kuning itu juga akan ke ruang hokage.

"Naruto?"

"Hn"

"Kau akan kemana?"

"Ke ruang hokage, dia memanggilku"

Shikamaru hanya mengangguk mengerti, Asuma-sensei hanya tersenyum, Chouji terus makan kripiknya dan Ino memandangnya dengan pipi memerah. Hal itu tak luput dari perhatian Shikamaru.

"Kau sendiri"

"Kami baru saja menyelesaikan misi rank-D dan akan melapor pada Sandaime-sama"

"Hn. Baiklah aku pergi dulu"

Setelah itu Naruto berbelok ke arah koridor kiri dan mereka ke arah kanan meninggalkan tim sepuluh hingga dirinya tak terlihat lagi. Shikamaru menyadari sesuatu.

"Tunggu, Naruto!, ruang hokage ke arah ka... Eh?"

"Ada apa Shikamaru?"

"Tadi sensei lihatkan, Naruto berbelok ke kiri tapi kenapa sekarang tidak ada"

"Sudahlah, mungkin dia buru-buru atau ada sesuatu yang dia lupakan"

"Hah... Merepotkan"

Lalu tim sepuluh melanjutkan ke ruang hokage kembali dengan diam. Tapi tidak untuk shikamaru, dia masih memikirkan hal yang terjadi beberapa menit yang lalu.

.

Tok.. Tok.. Tok..

Setelah mendapat izin tim sepuluh pun masuk namun, mereka sedikit terkejut saat terdapat seseorang anbu dengan jubah hitam berhoddie dan topeng hitam dengan pola rubah berwarna putih.

"Ah.. Maaf kami mengganggu"

"Tidak Asuma, masuklah"

Dengan pelan tim sepuluh masuk ke dalam, mereka masih saja mencuri pandang pada anbu tersebut.

"Kami ingin melapor misi rank-D tadi pagi Hokage-sama"

"Hm.. Baiklah. Uang misi bisa kalian ambil di depan".

"Ha'i"

"Dan Kitsune, kau pergilah dulu"

"Ha'i Sandaime-sama"

Pooft...

Kitsune pun menghilang meninggalkan asap putih, sementara tim sepuluh masih saja terdiam dan masih berdiri di tempatnya.

"Asuma ada yang ingin kau sampaikan lagi?"

Asuma kembali mengalihkan pandangan ke arah sang Hokage.

"Tidak Hokage-sama, tapi tadi itu..."

"Oh, dia Kitsune. Anbu dari divisi anbu bayangan"

Asuma hanya mengangguk tanda mengerti, sementara tiga muridnya hanya diam saat mendengarkan percakapan sensei mereka dan sang Hokage.

"Baiklah Hokage-sama kami permisi"

Setelah Asuma meminta izin undur diri, tim sepuluh pun keluar dari ruangan tersebut.

.

.

Kitsune sekarang berada di markas anbu berjalan di koridor sendirian, dirinya di perintahkan untuk mengumpulkan pasukan dari divisinya karena sesuatu dan jika dalam lima menit sang Hokage tidak datang maka dia lah yang akan menyampaikan langsung.

Di ujung lorong terdapat dua orang penjaga yang menjaga sebuah pintu masuk, dan saat dirinya mendekat dua anbu tersebut mencegatnya.

"Sebutkan identitasmu"

"Kitsune, divisi bayangan"

Mereka berdua mengangguk lalu salah satu penjaga membuka pintu besi tersebut, dan membuat Kitsune dapat memasuki sebuah ruangan.

Ruangan tersebut sangat luas, mirip seberti sebuah aula. Di tengah terdapat lapangan yang cukup menampung tiga peleton anbu sementara di pinggir lapangan adalah bangunan bertingkat. Kitsune melompat ke bawah, dia berjalan beberapa langkah. Setelah itu dirinya memberi sebuah tanda dengan mengacungkan sebuah kunai bercabang tiga ke atas.

Tak berapa lama muncul sekitar lima puluh anbu dengan pakaian yang sama yaitu jubah hitam dan topeng hitam dengan pola putih. Namun ada yang berbeda jubah mereka tidak memiliki hoddie sementara Kitsune mempunyainya, itu sudah menandakan bahwa Kitsune adalah kapten dari divisi ini.

"Ha'i taichou!"

Kitsune hanya diam menunggu Hiruzen datang. Membuat para anggotanya bertanya-tanya dalam hati.

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit akhirnya Kitsune memanggil salah satu anbu yang berada di sana.

"Tora"

pooft

"Ha'i taichou"

Tora muncul di hadapan sang kapten, berjongkok memberi hormat.

"Berdirilah"

Tanpa menunggu dua kali Tora berdiri menuruti Kitsune.

"Mulai hari ini kau akan memimpin sementara di divisi ini. Dan ini perintah Hokage"

"Ta-tapi.."

Tora sangat terkejut bahkan anbu di barisan depan juga ikut terkejut. Ada apa, kenapa kapten mereka sampai memindahkan kepemimpinan sementara.

"Katakan pada yang lain tidak ada apa-apa atau masalah apapun, aku hanya mempunyai urusan lain"

"H-ha'i taichou.."

Mereka berbicara pelan sampai anbu yang berada di belakang mereka tak bisa mendengar satu kata pun dari pembicaraan tersebut.

"Dan temui aku di atap gedung hokage... Tanpa seragam dan topeng, akan ada tanda dari ku. Ini, kunai ini akan bergetar saat di dekatku karna tekanan chakra. kau mengerti?"

Tora mengangguk

"Bagus, aku pergi dan laporkan ini pada Sandaime-sama, itu tandanya kau yang ku pilih"

"Baiklah, ku serahkan padamu"

Sriing...

Dengan kata terakhirnya kitsune pun pergi dengan meninggalkan kilat kuning. Hal itu membuat anbu yang lain bingung dan semakin penasaran.

Tora berbalik dari balik topengnya dia sudah berkeringat dingin. Begaimana dia menyampaikan ke anggota lainnya.

'Dasar, dia sama saja dengan kakashi-senpai'

.

.

Sementara itu di apartement. Naruto sedang melakukan meditasi untuk masuk ke alam bawah sadarnya.

Sebuah tempat gelap dan penuh dengan genangan air, itu lah tempat yang di tuju Naruto. Di dalam sana juga terdapat sebuah sel dengan ukuran besar.

"Berapa kali ku bilang jangan pernah memasang wajah datarmu di hadapanku"ucap sebuah suara yang berasal dari dalam sel.

"Hn. Kyuu apa keputusan ku sudah tepat"

"Itu tergantung padamu bocah, keluar dari anbu dan menyerahkan kepemimpinan sementara adalah keputusanmu"

"Ck. Sepertinya aku butuh istirahat"

Naruto berucap saat dirinya masuk ke dalam sel, di sana terdapat seekor rubah berukuran besar dengan sembilan ekor.

Kyuubi melihat bocah tiga belas tahun itu tidur di salah satu ekornya, walaupun Naruto adalah kapten anbu tapi di matanya bocah itu hanyalah bocah tiga belas tahun.

"Hoam... Oyasuminasai.. Kurama".

Dan Narutopun tidur di dekapan ekor sang rubah ekor sembilan.

"Dasar bocah.."

.

.

.

To Be Continue

Apa ini.. Maafkan krist yang udah lama gc update fict.. Astaga krist gc kuat lihat yang di atas..aduh akibat kelamaan jadinya kelupaan ide..huhu T.T

Ok yang nunggu SYA sama TFD sabar ya.. Baiklah see you next chapter

Jangan lupa reviewnya ya. Bye bye,

Krist out of studios...