Disclaimer © masashi kisimoto

Present © Anbu No Kage

.

.

Matahari mulai terbit di ufuk timur, menandakan hari mulai berganti. Di apartement, Naruto masih tidur dan mengenakan kaos biru dan celana orangenya.

Cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela menggangunya. Perlahan kelopak matanya terbuka lalu dia mulai bangun dan memegang keningnya yang terasa pening.

"Ugh.."

Mengabaikan rasa sakit di kepalanya Naruto lalu berjalan menuju kamar mandi. Sepertinya dia butuh air hangat.

Setelah mandi dan berpakaian Naruto segera keluar untuk keluar ke tempat berkumpul tim tujuh. Mengunci apartementnya lalu menghilang dengan shunshin.

.

.

.

Sasuke mendengus, ini adalah kedua kalinya dia terjebak dengan perempuan seperti Sakura. Dan kali ini dia bersumpah akan membuat guru bermasker dan teman pirangnya menyesal. Sementara itu, Sakura terus saja mengeluarkan sumpah-serapah untuk ke dua orang itu.

"Dasar, kemana mereka berdua?,"

"Jika bertemu akan ku hajar mereka"

"Dan lagi, kenapa si pi.."

"Bisakah kau diam. Telingaku sakit mendengarnya, mereka pasti datang.."

"Eh?..ya baiklah"

Dalam hati Sasuke menghela nafas. Untuk sementara telinganya tidak terkena tuli karna omelan gadis pink tersebut.

Pofft...

muncul kepulan asap di depan dua remaja tersebut dan memunculkan seseorang yang memakai masker dan seragam jounin. Kakashi memberikan eyes-smile kepada kedua muridnya itu.

"Hai..."

"Kau terlambat lagi sensei!"Sakura berteriak di depan Kakashi.

"Yare..yare.. Aku minta maaf, Hokage-sama memanggilku"

Kalimat terakhir Kakashi berhasil menarik perhatian kedua muridnya. Ada apa, apakah ada misi lagi untuk mereka.

"Apakah ada misi?"

Pria tersebut tersenyum di balik maskernya.

"Benar, dan kalian ikut aku untuk menerima misi ini. Hokage sedang menunggu kita, tapi...dimana Naruto?"

"Entahlah"

"Hn."

Kakashi sweatdrop saat mendengar jawaban tidak peduli dari Sakura dan Sasuke. Apa benar mereka tidak tahu.

"Yang penting sensei. Kami tidak mau menerima misi rank-D lagi, cukup dua minggu ini kami menjalankan misi-misi konyol itu"ucap Sakura dan di setujui oleh sasuke.

"Hn. Benar"

Kakashi kembali tersenyum. Buru-buru sekali mereka, tapi tak apalah jika di lihat dari kemampuan ketiganya mungkin misi ini akan menjadi ajang uji coba untuk mereka.

'Coba ku lihat, sampai mana kemampuan kalian'

"Lebih baik kalian ikut saja denganku, nanti kalian juga tahu"

Setelah selesai berbicara Kakashi pun pergi menggunakan shunshin, meninggalkan dua remaja tersebut.

"Hah...kita di tinggal lagi, lebih baik kita susul dia Sasuke-kun"

"Hn."

Poofft..

Poofft..

.

.

Hokage office

Terlihat Hiruzen yang berkutat dengan kertas-kertas yang menurutnya adalah musuh terbesarnya. Mulutnya tak henti-henti merutuki kertas-kertas itu.

"Kertas sialan"

"Kenapa aku harus berurusan dengan kalian"

"Seharusnya aku menca..."

Poofft..

"Hokage-sama, saya kembali..."

"Baiklah, karena kalian sudah sampai. Tunggu..dimana Naruto?"

"Eh..kami juga tidak tahu"ucap Kakashi sambil menggaruk belakang kepala.

Hiruzen mengangguk, paham.

'Bocah itu..'

"Langsung saja. Kalian aku beri misi untuk mengawal seseorang ke Yuki no kuni, kalian tak perlu khawatir karena ini hanya misi rank-C, apa kalian bersedia"

"Ya..kami bersedia"

Kini giliran dua remaja di belakang Kakashi yang bersuara, di fikiran mereka misi ini akan menjadi percobaan untuk kemampuan mereka.

Hiruzen terkekeh, semangat sekali. Bukan apa-apa tapi karena hanya tim tujuh yang masih di desa sementara yang lain masih dalam misi masing-masing.

"Hm..klien kita sedang menunggu di pelabuhan, besok kalian bisa mulai berangkat dan tengah hari kalian harus sampai di sana. Detail misi ada di gulungan ini"ucap Hiruzen sambil menyerahkan sebuah gulungan pada Kakashi.

"Ha'i. Kalau begitu kami permisi Hokage-sama"

"Hm.."

Setelah itu ketiga orang tersebut keluar dari ruang hokage, meninggalkan Hiruzen dengan kertas-kertas terkutuk di mejanya.

"Taka!"

.

.

..

Koridor gedung Hokage.

Seorang pria dengan rambut coklat spike serta mata hitam yang menggunakan seragam jounin sedang berjalan di lorong gedung Hokage yang sepi, di tangan kanannya terdapat sebuah kunai bermata tiga. Dia sedang memenuhi panggilan sang kapten untuk menemuinya di atap gedung ini. Tapi... Yang membuatnya penasaran bagaimana rupa dari kapten divisinya, entahlah nanti dia juga tahu.

Pria tersebut harus menghentikan lamunannya karena di depannya terlihat seorang jounin bersurai perak yang memakai masker sedang berjalan ke arahnya di belakangnya terdapat dua remaja yang dia yakini sebagai murid dari pria tersebut. Dia segera menyembunyikan kunai yang ada di tangannya saat dirinya semakin dekat dengan Pria bermasker itu.

"Yo Yamato!"

"Kakashi-senpai,"

"Ada apa kau kemari?"tanya Kakashi.

"Aku ingin menemui seseorang, dan err.."

Kakashi melihat arah pandang Yamato, dia tersenyum tahu apa maksud dari juniornya di kesatuan anbu.

"Mereka muridku,"

Yamato menganguk mengerti.

"Baiklah, aku harus pergi senpai"

"Yah..baiklah, sampai bertemu lagi Yamato"

"Ya"

Akhirnya mereka berpisah dengan arah yang berbeda. Yamato melirik ke belakang tepat ke arah Kakashi.

"Hampir saja.."

.

.

Yamato membuka knop pintu atap gedung. Dahinya mengkerut. Dia melihat seorang remaja pirang yang mengenakan celana dan rompi orange tengah berdiri di dekat pagar pembatas dengan bersidekap dada. Pria tersebut berjalan menuju pemuda itu.

"Hn. Kau sudah sampai?"

Yamato semakin bingung saat mendengar suara dari pemuda yang dia tebak berumur dua belas tahun.

"Apa maksudmu?, dan... apa kita pernah bertemu?"

Naruto melirik Yamato dengan ekor matanya saat pria itu berada di sampingnya.

"Apa perkataan ku saat di markas kurang jelas"ucap Naruto dengan tenang.

Yamato tersentak, dengan cepat tangannya mengambil kunai yang di berikan oleh sang kapten. Dia bisa melihat kunai itu bergetar pelan menandakan keberadaan sang kapten.

"K-kau..Taichou?"

"Hn,"

Terkejut, itulah yang Yamato rasakan saat ini. Tidak menyangka bahwa kapten dari divisi anbu yang di buat oleh Hokage beberapa tahun lalu adalah remaja berusia dua belas tahun. Ini adalah sebuah kejutan untuknya.

"Apa kau akan terus mendangiku seperti itu"ucapan Naruto sedikit menyadarkan Yamato dari lamunannya.

"Eh?..ti-tidak Taichou,... Lalu apa yang ingin kau bicarakan?"

Naruto memberikan sebuah gulungan hitam pada Yamato. Pria tersebut menerimanya, dia sedikit heran. Untuk apa gulungan itu.

"Bukalah.."

Perlahan Yamato membuka gulungan tersebut dan matanya terbelalak saat dia saat melihat isi dari gulungan itu. Dengan cepat dia membacanya.

"Ini.."

"Itu adalah hasil dari misiku ke Otogakure saat mengintai disana"

"Apakah Hokage-sama tahu?"tanya Yamato.

"Tidak. Belum saatnya"ucap Naruto dengan menggeleng.

"Kenapa,?"

"Aku tidak mau melihat perang antar desa lebih cepat. kau tahu.. Jika aku memberikannya saat itu juga maka pasti para tetua kolot itu akan mendesak Hokage-sama untuk menyerang sebelum kita di serang. Dan hal itu yang aku hindari"

Benar. Bukan tidak mungkin jika gulungan yang berada di tangannya ini di berikan pada hokage maka otomatis cepat atau lambat pasti para tetua akan tahu. Kemungkinan terburuknya adalah perang.

"Lalu apa yang harus kita lakukan Taichou?"

Naruto menghela nafas lalu memandang Yamato dengan tatapan serius.

"Untuk sekarang bersikaplah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.. Akan ada tanda dariku saat mendekati waktu itu tiba. Dan pertemuan ini adalah rahasia kita berdua"

"Ha'i"

"Hn. Aku titipkan gulungan itu padamu, jangan sampai isi gulungan itu bocor. Ini rahasia kita"

Yamato kembali mengangguk mengerti. Dia akan menjaga gulungan ini walau apapun yang terjadi.

"Baiklah.. Aku pergi"

Srring...

Naruto menghilang dengan kilat kuning. Meninggalkan Yamato yang berdiri sendirian. Dengan langkah pelan akhirnya Yamato juga pergi dari tempat itu.

.

.

.

Tok..tok tok..

"Naruto!..kau di dalam?"

Sudah keberapa kalinya gadis merah muda itu mengetuk pintu apartement Naruto. Sakura bingung kenapa pemuda tersebut tidak ada dari pagi tadi dan sekarang dia tidak ada di apartement.

Sakura menghela nafas. Mungkin nanti sore dia kembali. Tapi saat tubuhnya berbalik matanya terbelalak, dia melihat Naruto sedang bersandar di pagar kawat dengan tangan di depan dada.

"Naruto?..sejak kapan kau di.."

"Baru saja"

Mendengar jawaban dari Naruto membuat emosi Sakura naik. Dasar.

"Dari mana saja kau, hah!"teriak Sakura dengan mengepalkan tangannya.

"Ke tempat biasa, tapi kalian tidak ada. Kemana kalian?"

Sakura mendengus mencoba meredakan amarahnya sendiri. Ingin rasanya dia memukul kepala kuning itu.

"Kita ada misi dan besok pagi kita berangkat"

"Kemana?"

"Yuki no kuni"

Keadaan menjadi hening setelah jawaban Sakura. Kedua remaja itu masih saling menatap satu sama lain.

Naruto yang melihat gadis di depannya masih menahan marah tiba-tiba menyeringai di dalam hati. Perlahan dia melangkah maju mendekati Sakura.

Sedangkan Sakura yang melihat Naruto mendekat malah salah tingkah sendiri perlahan dia mulai melangkah mundur, hal yang tidak-tidak mulai merasuki kepala pinknya.

"Na-Naruto..apa yang k-kau lakukan?"ucap Sakura dengan gugup.

Melihat Sakura yang Salah tingkah membuat Naruto menyeringai lebar. Tangannya mulai terjulur ke arah Sakura. Gadis itu sudah tidak bisa mundur karena terhalang pintu.

Sakura bisa merasakan nafas hangat Naruto di sekitar telinganya. Mukanya sudah merah padam dan matanya terpejam erat. Apa yang akan di lakukan oleh Naruto. Dia mulai mendengar suara rendah dari pemuda itu di telinganya.

"Sakura-chan...aku ingin.."

Detak jantung Sakura semakin cepat.

"Membuka pintu, kenapa kau menghalangiku?"

Kedip.

Kedip.

Bletak!

Dengan sekuat tenaga Sakura menjitak kepala Naruto sehingga pemuda itu mengeluh kesakitan.

"Naruto no baka!"

Naruto terkekeh. Tangannya sibuk menahan tawa dan tangan yang satunya mengusap kepalanya, sudah lama dia tidak begini.

Melihat pemuda di depannya menahan tawa membuat Sakura semakin geram. Dia menolehkan wajah ke samping dengan rona tipis di pipinya. Dasar Naruto sialan.

"Baiklah, maaf Sakura-chan"ucap Naruto setelah tawanya reda.

Sakura masih memalingkan wajah.

"Baiklah-baiklah aku traktir di kedai dango nanti sore. Bagaimana?"

Gadis pink itu maju selangkah lalu menatap Naruto tajam.

"Jam tiga. Jangan telat"

"Hm"

Setelah itu Sakura pamit pergi untuk menyiapkan misi besok. Meninggalkan Naruto yang berdiri di depan pintu.

Pemuda itu menghela nafas.

'Dasar perempuan'

.

.

"Bosan"

Keluhan dari gadis pirang itu membuat kedua sahabatnya menoleh. Melihat Ino yang tertunduk lesu, tapi sepertinya Chouji dan Shikamaru tidak memperdulikan gerutuan dari mulut gadis pirang di samping mereka.

"Ck. Berhentilah menggerutu Ino, siapa yang pertama kali menyeret kami untuk menemanimu"ucap Shikamaru sambil menguap.

"Aku tahu, tapi seharusnya kita mampir di kedai bukan hanya berjalan seperti ini!"

"Ck. Merepotkan"

Shikamaru merasa ada yang memegang pundaknya, dia menoleh pada Chouji yang berdiri satu langkah di belakangnya.

"Ada apa Chouji?"

"Shika, bukannya itu Naruto"tanya Chouji dengan jari menunjuk sesuatu.

Shikamaru mengikuti arah pandang chouji begitu pula dengan Ino, dahi mereka bertiga mengernyit heran. Di sana terlihat Sakura dan Naruto berjalan beriringan, tidak lama kemudian mereka masuk ke kadai dango. Ketiga sekawan itu saling pandang satu sama lain. Mereka sepakat untuk mengikuti kedua teman mereka itu.

Sekarang mereka berada di luar kedai dengan posisi jongkok. Di atas mereka terdapat jendela lebar yang cukup untuk mereka bertiga melihat bersamaan. Perlahan mereka berdiri hingga sebatas hidung.

Di dalam kedai terlihat Sakura dan Naruto yang duduk di salah satu meja, beruntung mereka tidak duduk saling berhadapan sehingga ketiga remaja itu tahu bagaimana ekspresi dari dua orang di sana.

"Shika, menurutmu apa yang di lakukan mereka berdua di sini"tanya Ino setengah berbisik.

"Entahlah. Kita lihat saja"

"Huh..pa.."

"Hei, lihat itu"ucap Chouji memotong perkataan Ino.

Mereka bertiga terkejut. Di dalam kedai, Sakura memukul kepala Naruto namun bukannya marah pemuda itu malah terlihat menahan tawa. Samar-samar mereka mendengar umpatan dari gadis pink itu.

.

.

Naruto masih sibuk menahan tawa saat melihat Sakura menggerutu. Ini hal yang menyenangkan untuknya. Tiba-tiba seorang pelayan datang membawa dua bungkus berisi kue dango. Dan itu membuat Sakura melupakan rasa kesalnya pada Naruto. Ck kekanakan sekali.

"Berapa semua paman?"tanya Naruto.

"Enam ribu yen"

Setelah membayar, Naruto tanpa sadar menggandeng tangan Sakura. Dia ingin cepat-cepat pulang. Dengan tergesa pemuda pirang tersebut berjalan.

"Hei baka, pelan-pelan. Apa kau mau mengganti kue ini jika jatuh hah!"teriak Sakura setelah berada di luar kedai

"Ck."

Naruto berbalik menghadap Sakura dengan muka tertekuk. Sementara gadis itu hanya terkekeh saat melihat muka dari pemuda pirang di depannya ini. Kedua tangannya terulur ke arah Naruto.

"Berhentilah memasang muka seperti itu baka, kau jadi jelek..hihihi"ucap Sakura sambil mencubit kedua pipi Naruto.

"Bel-heti-la Sa-ki, sakit ta-u"

Dan Sakura semakin memainkan pipi Naruto dan tersenyum semakin lebar. Mereka berdua tidak tahu bahwa terdapat tiga sekawan yang melihat keakraban mereka dengan wajah horor.

.

.

"Me-mereka akrab sekali"

Mendengar suara berupa bisikan dari Ino membuat Shikamaru mengernyit heran. Ada apa dengan gadis ini. Tapi benar yang di katakan Ino, di lihat dari manapun Naruto dan Sakura terlihat sangat akrab. Walau di otaknya sudah ada kemungkinan terbesarnya tapi dia harus memastikannya.

"Mendokusai ne..."

Setelah mengucapkan kata favoritnya Shikamaru lalu berbalik meninggalkan Ino dan Chouji yang masih belum sadar jika dirinya pergi.

"Eh?...Shikamaru! Kau mau ke mana?"teriak Chouji saat Shikamaru baru beberapa meter di belakangnya.

"Pulang, aku ingin tidur"

Akhirnya Ino dan Chouji mengikuti langkah Shikamaru. Mereka rasa cukup untuk hari ini.

.

.

.

Gerbang konoha, pagi hari.

Di gerbang desa terdapat tiga anak remaja, mereka terlihat akan melakukan sebuah misi. Bisa di tebak karena mereka membawa ransel abu-abu di masing-masing punggung mereka.

"Oi..teme kau merubah penampilanmu ya?"tanya Naruto saat melihat penampilan berbeda Sasuke.

"Hn."

"Benar, Sasuke-kun terlihat lebih keren"

Benar. Sasuke sekarang mengenakan jaket lengan pendek berwarna hitam dan celana pendek sebatas lutut berwarna hitam serta pelindung siku di kedua tangan. Juga terdapat lambang klan berukuran kecil di dada kirinya. Hanya sandal shinobi yang berwarna biru.

Tidak jauh dari Sasuke ada Naruto yang bersandar di sisi gerbang dan Sakura yang berdiri di kanannya. Penampilan keduanya juga berbeda dari biasanya. Naruto memakai baju lengan panjang berwarna hitam yang di rangkap rompi abu-abu dan celana panjang hitam. Ikat kepala berlambang konoha dia ikat di lengan kiri. Juga sandal shinobi hitam membalut kakinya.

Sedangkan Sakura memakai baju berwarna merah tanpa lengan. Juga celana pendek yang di balut oleh rok berwarna pink. Tidak lupa sarung tangan pink yang memiliki terusan sampai menutupi setengah lengan atasnya. Juga sendal shinobi berwarna biru membalut kaki putihnya.

Sudah hampir satu jam menunggu, tapi sensei berambut perak mereka belum juga datang. Sepertinya orang-orangan sawah itu belum kapok juga. Ck menyebalkan.

Tapi. Sebelum satu-satunya gadis di tim tersebut menggerutu muncul kepulan asap di depan mereka. Seorang pria bermasker keluar dari kepulan asap tersebut dengan tersenyum tak bersalah. Dia tidak sadar jika ketiga muridnya telah mengeluarkan hawa membunuh untuknya.

"Hai, maaf sensei terlambat lagi karna.."

"Ada kucing hitam, karna tidak mau terkena sial kau mengambil jalan memutar lalu bertemu nenek di jalan. Kau kasihan maka menolongnya menyebrang jalan. Dan aku ingin membunuhmu sialan!"

Kakashi hanya melongo mendengarkan teriakan Sakura yang memotong ucapannya. Dia bisa melihat bayangan shinigami di belakang gadis itu. Mengerikan.

"Err.. Haha gomen ne"

"Sensei, sebenarnya aku dan Sasuke sependapat dengan Sakura-chan"sahut Naruto dengan menyeringai.

"Hn."

'Mereka menyeramkan. Sial'

"Hah... Ayo kita lupakan soal keterlambatanku. Kita ada misi hari ini"ucap Kakashi setelah menghela nafas.

'Dia mengalihkan pembicaraan'batin ketiganya kompak.

"Lalu bagaimana sensei?"tanya Sakura.

Kakashi memegang dagu lalu mengeluarkan sebuah peta. Dia mengisaratkan untuk berkumpul.

"Hm... Kalau prediksi ku benar, kita akan sampai di pelabuhan dua atau tiga jam jika tanpa istirahat"

"Yosh!... Tunggu apa lagi, ayo kita berangkat sensei"

Ucapan semangat dari Sakura membuat Kakashi dan Naruto tersenyum tipis. Yah, lebih baik mereka berangkat sebelum tengah hari.

.

.

Pelabuhan Negara Api hari ini sangat lenggang. Terlihat hanya ada beberapa kapal berukuran sedang saja yang memasuki pelabuhan. Di sisi lain tiga remaja kini tengah berjalan di sekitar dermaga guna menemukan kapal klien mereka, di sekitar telinga mereka terdapat alat komunikasi radio untuk memudahkan berkomunikasi dengan sang sensei. Sedangkan Kakashi berada di sisi lain pelabuhan tersebut.

Tapi belum lama mereka berjalan. Sebuah keributan terjadi. Seorang wanita muda yang menunggang kuda putih melewati ketiga gennin tersebut. Dia mengenakan kimono berwarna hijau dengan aksen berwarna ungu tidak lupa dengan aksesoris yang menandakan dia seorang putri.

"Dia..d-dia Fujikaze Koyukie!"seru Sakura.

"Benar, dan dia ad..."

"Menghindar!"

Belum sempat Naruto menyelesaikan ucapannya datang segrombolan orang yang menunggang kuda berwarna hitam. Mereka mengenakan baju prajurit lengkap dengan topi dan topeng.

"Ada apa ini?"tanya Sakura.

"Entahlah, yang jelas kita harus menolong wanita itu karna dia adalah klien kita"ucap Naruto.

Keduanya mengangguk mengerti lalu dengan cepat ketiga genin itu berpencar ke segala arah.

Naruto melompati toko-toko ikan yang berada di pelabuhan. Di kejauhan dia dapat melihat orang-orang berkuda hitam yang sedang mengejar kliennya. Dia harus cepat.

Wussh...

Pemuda tan tersebut menambah kecepatan lompatannya. Setelah Naruto sejajar dengan para orang bertopeng, dia merapal handseal.

"Kagebunshin no jutsu"

Poft.

Poft.

Muncul beberapa bunshin Naruto, mereka langsung menyergap tiga sampai empat orang berkuda dan mereka berhasil. QSedangkan Naruto yang asli terus berlari mengikuti mereka yang berhasil lolos.

"Sasuke, giliranmu"ucap tenang Naruto.

'Hn..'

Sasuke segera turun dari tumpukan peti besar, dia sekarang berada di tempat penyimpanan peti di pelabuhan tersebut. Peti-peti tersebut di susun tinggi hingga membentuk lorong berjarak dua meter.

Pemuda tersebut bersembunyi. Dan setelah seorang wanita yang menunggang kuda putih lewat. Dia mengeluarkan dua kunai yang di ikat oleh tali baja.

Syutt...

Tap... Tap...

Sasuke memegang ujung tali sementara ujung lainnya telah terikat pada kunai yang menancap di sebuah kayu penyangga. Sebuah suara gaduh membuatnya bersiaga. Tangannya memegang erat ujung tali itu, dan setelah bebarapa saat kemudian Sasuke menarik tali dan membuat kuda yang di tunggangi orang-orang itu terjerembab, tetapi masih ada beberapa yang lolos dengan melompati orang yang terjatuh.

"Ck."

Tiba-tiba dari atas sebuah jaring turun menangkap orang-orang tersebut. Sasuke melihat ke atas. Terlihat Naruto yang berdiri secara horizontal memandang datar orang-orang di bawah.

"Hn.. Bagaimana?"

"Kau bisa lihat sendiri dobe"

"Hn, Sakura-chan kami serahkan yang terakhir padamu"

'Ha'i'

.

.

Di sisi lain Koyuki yang tidak mengerti kenapa ada orang yang menolongnya hanya bersikap tidak peduli, dia terus memacu kudanya lebih cepat. Wanita tersebut merasa kesal saat dia memasuki jalan yang salah. Di kiri dan kanannya hanya ada tumpukan peti besar yang di susun memanjang. Tidak ada pilihan lain jika tidak mereka yang ada di belakangnya akan menangkapnya.

Saat jalan keluar sudah dekat tanpa di sengaja dia melihat seorang gadis beramput merah muda berlari di antara tumpukan peti di atasnya. Mungkin dia adalah salah satu dari orang yang menolongnya tapi apa pedulinya. Sebaiknya dia segera cepat kabur.

.

.

Sakura yang melihat sang klien telah keluar sehera turun. Mengambil sebuah kunai dan melemparnya, orang-orang tersebut kaget lali berhenti bebebarapa meter dari Sakura.

Gadis tersebut segera menyalurkan cakra di tangannya lalu memukul tanah hingga menumbulkan retakan membuat jalan menjadi buntu. Orang-orang itu berbalik namun seorang pemuda berambut pirang datang dari belakang mereka.

"Mau kemana eh?"

Naruto melempar sebuah jaring besar untuk menangkap mereka. Tangannya menekan tombol di telinganya.

"Teme mereka audah tertangkap, bagaimana di sana?"

'Hn. Mereka sudah aku ikat'

"Bagus"

.

.

.

Ketiga genin tersebut sekarang berada di pinggir dermaga bersama sekitar lima belas orang yang mengenakan baju prajurit tadi. Mereka di ikat dan topeng mereka di lepas.

"Naruto apa sudah semua?"tanya Sakura sambil mengeratkan ikatan.

"Hn"

"Kemana sensei menyebalkan itu, apa kalian sudah menghubunginya?"

"Tidak Sakura-chan, kau lupa?. Kita sudah mengeluarkan frekuensi sensei dari jaringan kita tadi"

"Benar juga.."ucap gadis tersebut saat dia mulai ingat awal srbelum pengejaran.

"Hei, kalian. Apa yang kalian lakukan?"

Sintak ketiga remaja itu menoleh. Di atas kotak kayu terdapat Kakashi yang berdiri dengan bersidekap dada.

"Sensei?"

"Hm"

Wushh

Seketika semua ikatan terslepas. Kakashi berdiri di depan seorang pria paruh baya yang mengenakan kaca mata bulat dan pakaiannya pun juga berbeda. Jubah hitam yang dilapis dengan kain sebatas dada.

"Ah... Maafkan murid-muridku, Sandayu-san"

Melihat ekspresi bingung oleh ketiga muridnya Kakashi hanya tersenyum.

"Dia adalah orang yang menyewa kita"ucap pria berambut perak tersebut sambil menunjukkan eyes-smilenya.

"APA!?"

.

.

.

TBC

hai reader Krist kembali di chp 4 hehe XD

gimana bagus ga?, moga para reader suka. Yah walau krist agak ngarep hehe. -_-"

Ok moga saat review and follow. See you next chapter!