.

.

Spica Zoe

Present

AKKG Fiction

.

Disclaimer

Chara : Kadokawa Games

Story : Spica Zoe

.

"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."

.

Akagi - Kaga

.


Nafsu

.

Sejak saat itu Kaga mulai tertarik akan kepribadian Akagi. Setiap pagi, ia akan menyempatkan diri untuk duduk diam di meja kerjanya. Memandang lama ke arah pintu masuk ruangan untuk sekedar memperbanyak ketersengajaannya memergoki kedatangan Akagi. Mengupayakan agar mata mereka terikat dan saling menatap. Bukannya merasa takut, Kaga kadang suka tersenyum membayangkan Akagi menatapnya dengan tatapan datarnya. Sungguh, manis.

Kadang, Kaga juga sering mencari masalah. Membiarkan data yang ia kerjakan tidak sesuai dengan ketentuannya. Biar ia memiliki kesempatan untuk menghadap Akagi, berdua di ruangannya. Menghirup udara yang sama dengan wanita itu membuat imajinasi liarnya menguap.

Kaga jadi lupa akan masalahnya. Masalah tentang Shoukaku yang ternyata memang masih berkerja di perusahaan itu. Masih berada di divisi yang sama. Namun Shoukaku lebih sering mendapati tugas observasi dari pada berada di ruang kantor. Sampai Kaga pun tak pernah punya waktu untuk berbicara lebih jelas dengannya. Mempertanyakan akan misteri kejadian di hari pertamanya berkerja. Mengapa ia harus berlutut, mempermalukan diri di hadapan Akagi.

Kaga sudah tidak lagi butuh arahan. Semua pekerjaan sudah menjadi tanggungjawabnya seutuhnya. Pekerjaan yang ia anggap menjadi sesuatu yang paling menyenangkan. Meski terkadang rasa jenuh lebih sering menghampirinya. Jika pekerjaannya telah usai, ia bingung harus melakukan apa. Terkadang ia akan berpura-pura menuju ruangan Mutsu. Salah satu manager yang ruangannya berada paling jauh dari ruangan Akagi. Hingga ia memiliki alasan untuk memperhatikan apakah ruangan Akagi sedang kosong atau tidak. Itu terlihat dari pintu kaca yang hanya tertutupi oleh tirai setengahnya. Jika kosong, tidak akan tampak banyak kaki yang berpijak di sana. Dan saat ini, Kaga mendapati cukup banyak orang yang menghadap Akagi. Hingga ia mengurungkan niat untuk mengunjunginya.

"Sedang mencari seseorang?" Kaga menoleh saat didapatinya Kitakami menyentuh bahunya lembut. Memergoki kegiatan tak berdasarnya dan membuat ia menggeleng kepalanya pelan.

"Sepertinya ruangan Akagi-san sedang ramai." Balas Kaga masih memperhatikan.

Kitakami tersenyum. Tidak bermaksud lain, hanya saja Kaga akhir-akhir ini terlihat lebih sering menyinggung segala hal yang berhubungan dengan Akagi. Berbeda dengan Kongou yang terlihat tidak suka. Bukan hanya Kongou, yang lainnya juga.

"Yang aku tahu, pertemuan mereka akan berlangsung hingga sore. Kau ingin menyerahkan laporan?" tanyanya memastikan.

"Tidak. Hanya ingin bertanya, kenapa dia tidak pernah menemukan kesalahanku."

Ekspresi yang membuat Kitakami ingin tertawa. Apa masih ada seorang yang begitu bodoh seperti ini di dunia? Dua hari lalu, Akagi sudah membuat salah satu karyawannya menangis, hingga besoknya memilih untuk mengundurkan diri. Dan beberapa waktu lalu pun, Akagi dengan amarahnya memecat salah satu bawahannya yang tidak sejalan dengan apa yang ia inginkan. Itu masih menjadi pembicaraan hangat, dan kini Kaga dengan niat tulusnya ingin menjadi salah satu yang disalahkan si ratu es itu saat ini? Yang benar saja.

"Bersyukurlah jika dia tidak pernah menemukan kesalahanmu Kaga-san. Atau jika itu terjadi, kau akan trauma menjadi karyawan di seumur hidupmu yang tersisa."

.

Pesona Akagi benar-benar telah memikat perhatian Kaga sepenuhnya. Meskipun gadis muda itu masih tidak tahu kenapa ia begitu terobsesi dengan kehadiran Akagi yang jelas-jelas menakuti semua orang di divisi ini. Lihat saja sekarang. Seluruh orang pura-pura menyibukkan diri saat mendapati Akagi keluar dari ruangannya. Menimbulkan suara langkah yang terasa begitu mematikan. Melewati meja kerja mereka satu persatu menuju ke meja Nagato, sang direktur. Jika Kongou memilih untuk memasang ekspresi tak senang sesaat setelah Akagi berlalu darinya. Maka Kaga dengan terang-terangan mengikat pandangannya pada mata Akagi. Langkah kaki yang sempurna, wanita yang penuh dengan sejuta berkah. Rambut panjangnya terurai ringan, bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti irama langkahnya. Juga tangannya yang tersembunyi di dalam saku luar blazer gelapnya. Dasi yang masih begitu rapi mengikat lehernya. Membuatnya tampak seksi dan menggairahkan untuk Kaga seorang. Juga paha putih yang berkilau tanpa alas lain. Rok span pendek itu menampilkan seberapa putih kulitnya.

Kaga terpesona. Detak jantungnya menggebu. Apalagi saat Akagi melewati dirinya. Wangi tubuh yang membuat Kaga menghirup udara sebanyak-banyaknya, sambil memejamkan mata. Ini membuatnya merasa jauh lebih hidup dari apapun yang pernah terjadi pada dunianya.

Akagi berhenti tepat di depan meja besar kekuasaan Nagato. Ucapan mereka terdengar jelas. Tujuan kenapa Nagato tidak ingin memiliki ruangan pribadi adalah ini, agar tidak ada sesuatu hal yang menjadi rahasia untuk semua orang yang berkerja padanya.

Nagato tidak mempersilakan Akagi duduk, karena ia pun tahu jika Akagi tidak akan pernah menerima penawarannya. Disingkirkannya beberapa laporan yang ia tangani untuk menghargai kehadiran wanita itu di hadapannya.

"Ada apa, Akagi-san?"

Kongou memasang telinganya dalam-dalam. Berusaha mencuri dengar dari bilik meja kerjanya. Meski ia tidak suka Akagi, tapi ia suka rumor yang mengelilingi sang manager itu.

Seperti saat yang lalu, dimana rumor pernikahan Akagi tersebar. Entah siapa yang memulai, tapi rumor itu sukses membuat Akagi resah. Juga, rumor lain tentang kedekatan Akagi dengan salah satu direktur divisi lain. Seorang pria beristri dengan segudang prestasi. Hingga rumor kehamilan Akagi menyebar kemana-mana.

Kongou juga jadi ikut mengenang masalalu tentang kemarahan Akagi yang mendapati beberapa foto pribadi miliknya tersebar di seantero divisi, bahkan sudut-sudut ruangan disetiap perusahaan. Foto dirinya dengan seorang pria yang sampai sekarang menjadi misteri. Meski foto itu bukanlah hal yang dapat merusak nama baik dan jabatannya. Tapi melihat sisi manis Akagi yang tersenyum ceria di sana merupakan cerita yang tak pernah ada habisnya.

"Dia itu, memang begitu. Dingin, tak berekspresi. Menakutkan. Dan keras kepala."

Kaga hanya diam, memandangi makanannya yang terasa hambar. Hanya mendengarkan celotehan-celotehan yang tak ada habisnya dari mulut Kongou. Meski mulutnya masih penuh terisi, tapi tetap saja ia bersemangat untuk berbicara.

"Kalian suka sekali membahas kejelekan orang lain. Dia juga punya kelebihan yang patut kalian kenang." Mutsu, menyisikan piring kotor yang berserakan di atas meja untuk memulai bicara. Sedang Yamato hanya merespon dengan tiap sedotan dalam minumannya.

Sedang Kaga, ia mulai mengangkat kepalanya.

Sejak tadi ia masih memikirkan kenapa Akagi kembali meminta cuti. Itu tidak lucu. Kaga akan merasa mati kebosanan jika tak melihat wujud Akagi meski sekali saja. Meski hanya melihatnya saja. Tapi, untung Nagato belum menyetujuinya. Meskipun belum tentu ia membatalkannya.

Kelebihan Akagi? Ia harap ini menjadi hal yang membuatnya bahagia.

"Mutsu-san benar. Bukankah kau pun pernah diselamatkannya, Kongou-san." mendengar ucapan Kitakami, membuat Kongou merengutkan wajahnya. Sedang Yamato hanya mendengus tawa.

"Seingatku dulu, Akagi menyelamatkanmu dari amukan Nagato-san Saat kau menghilangkan semua laporan penting karena keteledoranmu. Ingat siapa yang berganti menghadapi Nagato untuk menutupi kesalahanmu?" Mutsu menatap Kongou yang merasa malu. Mengingat kejadian itu membuanta ingin mati saja.

"Tapi tetap saja aku kena semprot si Nagato-sama." Kesalnya mengingat.

"Tapi kau melibatkan Akagi yang tak punya salah sama sekali. Aku bahkan masih ingat, sebulan penuh ia menyalin ulang semua laporan hingga lembur sampai larut malam meski tidak ada upah untuk membayar lemburnya. Nagato memberinya peringatan keras, untuk kesalahan yang kau perbuat. Dan satu hal yang mereka rahasiakan darimu. Akagi membayar penuh kesalahan data yang tidak mampu ia sempurnakan dengan satu bulan gaji pada Nagato. Sebagai permintaan maafnya pada perusahaan juga Nagato atas kesalahan bawahannya."

Kalau fakta ini, jujur saja hanya Mutsu yang mengetahuinya. Nagato yang menceritakan. Sebenarnya Mutsu tidak berniat menceritakannya. Tapi karena ia mulai kesal dengan ocehan Kongou yang begitu menyesakkan dadanya. Ia pun tak bisa mengendalikan dirinya.

Semua orang yang berada di sana terdiam seketika. Kitakami mencerna tak percaya. Ini adalah rahasia penting, baiknya Mutsu menahan diri untuk bercerita. Yamato juga sama. Tapi ia hanya memilih diam. sedang Kongou, hanya terperangah tak percaya.

"Aku baru tahu tentang kebenaran ini, Mutsu-san." Atago bertanya hati-hati. Memandang satu persatu wajah mereka yang mulai terlihat kelam.

"Tidak ada orang yang penuh tanggungjawab seperti dia. Fakta ini sebenarnya sudah menjadi rahasia petinggi. Bukan sekali dua kali Akagi mendapatkan tawaran menjadi direktur. Hanya saja ia memang menolaknya terus menerus. Semua orang merasa dia memiliki tanggungjawab yang bijaksana. Jika ia suka keras dengan bawahan, bukan berarti dia membencinya. Dia hanya ingin semua hal yang menjadi tanggungjawabnya tidak memiliki kecacatan." Mutsu menambahkan.

Kaga hanya diam mendengarkan. Sebuah kisah yang membuatnya terdiam, mencerna berkali-kali. Lebih cepat dari kemampuan otaknya berpikir.

Semuanya terasa sangat menyedihkan.

"Jam istirahat sudah berakhir. Ada baiknya kita segera kembali berkerja."

.

Kaga merenungi setiap penuturan yang ia dapatkan dari Mutsu. Akagi hanya wanita yang sempurna yang tak bisa diterima oleh semua orang yang menyukainya. Mungkin itu maknanya.

Mengapa ia jadi semakin tertarik dengan kepribadian Akagi yang ternyata mampu membuat orang lain bertanya-tanya?

Kaga terus menerus memikirkan pertanyaan itu dalam otaknya. Dalam bilik meja kerjanya. Ini menjadi sesuatu yang semakin menarik minatnya untuk mengenal Akagi lebih banyak. Dipandanginya kalender yang menghiasi sudut mejanya. Bukan untuk mengetahui tanggal berapa hari ini. Tapi karena ia benar-benar tidak tahu apa yang bisa ia pandang untuk menyamarkan pikirannya yang terus melayang memikirikan Akagi. Sampai satu suara merusak lamunannya.

Saat itu sore sudah melambung tinggi, mungkin satu jam lagi jam pulang kerja menunjukkan dirinya. Karena Kaga tidak pernah punya banyak pekerjaan. Ia lebih sering pulang awal dari semua orang yang berada di sana. Tapi kali ini agaknya sedikit berbeda.

.

"Akagi-san ingin bertemu denganmu."

Masih terngiang kalimat itu dalam kepalanya. Meski kini ia sudah berdiri tepat di hadapan Akagi, dalam ruangannya. Menghirup udara yang sama dengan wanita ini, udara yang ia rindukan.

Dibiarkannya matanya menatap kembali sosok Akagi yang terlihat sibuk mencari beberapa lembaran file dari tumpukan file-file lain di atas mejanya. Tak berniat mempersilakan Kaga duduk, meskipun jika Kaga memilih inisiatif sendiri, bagi Akagi bukanlah masalah.

Tanpa blazer seperti pertama kali ia melihat Akagi dengan penampilan seperti ini. Hanya dengan kemeja seputih langit-seragam perusahaan, yang membungkus kemolekan tubuhnya. Dada yang membusung sempurna. Tipe wanita idaman. Kaga menikmatinya. Dasi yang terlihat terletak asal-asalan di sisi meja kerja. Sepertinya Akagi tipe orang yang tidak begitu suka dengan hal-hal seperti ini. Wajah itu, semakin terlihat begitu cantik di mata Kaga.

"Kau mau berdiri sampai berapa lama?"

Suara yang Kaga rindukan, meski orang lain langsung takut jika mendengarnya. Akagi melempar beberapa lembar dokumen tepat di hadapan Kaga. Tanpa membiarkan sekalipun mata mereka saling menatap. Sepertinya, yang Kaga rasa. Akagi terlihat begitu ingin menghindari tatapan matanya. Bukannya merasa kecewa, Kaga malah ingin tersenyum dalam hatinya. Tipe wanita yang susah dijangkau. Tapi sekali tergugah, wanita ini akan menjadi peliharaan yang baik.

Kaga menarik kursi di hadapannya dan meraih lembaran itu sambil duduk dengan posisi ternyamannya. Ini akan menjadi urusan yang panjang. Kesalahannya telah ditemukan. Sekilas Kaga mencuri pandang pada penanda waktu yang melingkar dipergelangan tangannya. Kesempatan yang langkah, batinnya.

Akagi menyerahkan sebuah pena pada Kaga, lalu bangkit dari kursi kekuasaannya dan meninggalkan Kaga seorang diri di sana, sedang ia hanya merasa harus menghindari Kaga dengan menatap hamparan kota Tokyo dari titik tertinggi ruang kerjanya. Hiruk pikuk yang tak bisa mengusik sepi dari jiwanya.

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Kaga pura-pura tidak tahu. Membiarkan Akagi mengabaikannya bukan pilihan yang ingin ia nikmati dengan pasrah. Ia ingin lebih banyak interaksi antara ia dan Akagi, sekecil apapun itu.

"Perbaiki kesalahanmu. Ratio data yang kau tentukan bukanlah standart yang dibutuhkan perusahaan." Akagi tidak menoleh. Masih fokus pada pandangan remang-remang yang tidak ia nikmati sama sekali.

"Seluruhnya?" tanya Kaga yang masih menatap Akagi disana. Kulit kaki yang sangat putih, menggoda.

"Aku sudah menandai segala hal yang harus kau perbaiki." Masih tak mau menoleh. Kaga agak kesal. Dibolak-baliknya setiap lembaran itu. Puluhan tanda, rasanya takjub juga jika Akagi bisa menentukan semua kesalahannya secepat ini. Meski ia pun tahu. Wanita cerdas.

Akhirnya Kaga menurut saja. Diperbaikinya semuanya secepat mungkin. Membubuhi lembaran itu dengan tulisan tangannya. Ia masih ingat hasilnya. Semua kesalahan ini adalah kesengajaannya. Enam menit rasanya telah berlalu, namun Akagi masih tak ingin kembali ke kursi kekuasannya. Masih tetap mengabaikan Kaga yang kini telah berdiri bangkit, menuju pintu ruangan dan menguncinya. Lalu melangkah pelan ke arah di mana Akagi berada. Dekat dengannya. Tersenyum untuknya, tanpa Akagi sadari.

Menunggu Akagi membalik badan, dan pandangan mereka akan bertemu secara intim.

Kaga merencanakannya.

Akagi tak lagi mendengar suara-suara kertas yang berisik. Apa yang Kaga lakukan hingga suasana sehening ini. Berinisiatif untuk membalik badan melihat sang tahanan. Akagi malah mendapati satu sosok sudah teramat dekat memandang matanya. Tubuh mereka bertabrakan. Wajah hampir bersentuhan. Dan sebelum Akagi melangkah mundur memperjarak keadaan, Kaga langsung menarik pinggulnya untuk tetap diam menempel pada tubuhnya.

Wangi yang sama, bau yang ia ingat adalah bau Akagi. Ini impiannya.

Obsesinya.

"A-apa yang kau lakukan?" ucap Akagi terbata. Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh bawahannya. Sungguh rendahan. Apalagi seorang wanita. Yang ia tahu beberapa hari sejak pertemuan mereka pertama di ruangan ini, selalu memperhatikannya.

"Baumu harum, Akagi-san." ucapnya berbisik di hadapan Akagi yang kini memandangnya tajam.

"Lepaskan aku! Bagaimana jika ada orang yang melihat kita?" perintahnya, diikuti sebuah perasaan yang menguap akan apa yang baru saja diucapkannya. Melihat apa? Mereka tidak sedang melakukan tindakan bejat kan? Membuat Kaga jadi tertawa karenanya. Akagi menunduk malu.

"Aku hanya mendekapmu, tidak lebih. Apa yang harus kau takuti." Lancang sekali Kaga mengatakan itu pada atasannya. Atasan yang ditakuti oleh seluruh bagian di perusahaan itu. Kaga sepertinya tak lagi peduli dengan riwayatnya.

Tapi, sejujurnya. Kaga tak lagi bisa menahan keinginannya untuk menguasai wanita ini. Sekali basah, lebih baik mandi sekalian. Dan Kaga sudah siap dengan resikonya nanti. Jika Akagi memecatnya sekalipun, menamparnya sekalipun. Membunuhnya sekalipun. Kaga sudah tak lagi mau peduli. Rasa ingin menguasai wanita ini sudah terlalu dalam mengakar dalam batinnya. Wanita penggoda ini merusak imannya. Tubuhnya yang indah, tatapannya yang tajam. Kaga ingin melepas semuanya saat ini juga.

Sudah cukup melucuti tubuhnya dengan tatapan liarnya dihari-hari pertama, kini giliran tangannya sendiri yang melucuti segala yang melekat di kulitnya.

Padahal ini pertama kalinya Kaga memiliki rasa ketertarikan pada seseorang dalam hidupnya. Tapi kenapa harus pada seorang wanita. Dan seorang wanita yang mungkin bisa menamatkan riwayatnya.

"Lepaskan aku Kaga-san." Akagi menyembunyikan wajahnya dari tatapan Kaga. Yang benar saja, kenapa ia harus tersipu di saat-saat begini. Dan kenapa tatapan Kaga begitu kuat melemahkan seluruh sarafnya. Melumpuhkannya. Untuk pertama kalinya. Kaga merasa namanya terdengar begitu manis.

"Aku akan melepaskanmu dengan satu syarat." Kini Kaga melepas kukungannya. Membiarkan wanita itu melangkah mundur sambil menyimpan rona merah, mengeratkan jari tangan kanannya pada lengan kirinya yang seraya tak ingin Kaga menatapi tubuhnya.

"Jangan biarkan orang menikmati kisahmu Akagi-san. Menghinamu dihadapanku." Ucapan yang nyaris membuat Akagi beku. Dan kini menatap tepat ke dalam mata Kaga. Terpesona. Terpikat. Terjerat.

.

"Akagi-san, kau tahu cinta itu rasa apa?"

Akagi menatap pria itu dengan senyuman terbaiknya. Dimasa depan, ia ingin merasakan cinta rasa manis untuknya. Meskipun ia tidak begitu suka rasa manis. Dengan pria ini.

Diumur dua puluh enam tahun, Akagi sudah merasa begitu sempurna. Pria ini yang diinginkannya. Tapi impiannya hancur seketika, saat ia sadar begitu banyak wanita yang juga menjadi spesial selain dirinya.

.

Mengenang ingatan itu disaat seperti ini membuat perasaan aneh itu muncul. Perasaan hina, meskipun ia sudah menjadi wanita yang nyaris memiliki segalanya, tapi kenapa ia tidak bisa menemukan cinta manis seperti yang ia inginkan.

Mungkin ini sudah cukup bagi Kaga bertindak terlalu lancang pada atasannya. Air muka Akagi yang berubah membuatnya tak sanggup untuk lebih lama berada di sana. Jika tidak, mungkin ia pun akan ikut hancur entah karena apa. Kaga berpaling, meninggalkan jejak langkahnya menuju meja kerja Akagi dan meraih lembaran itu. Membiarkan Akagi masih bergelut dengan perasaannya, dan masalalunya. Sampai detik-detik waktu mengiringi kesunyian di antara mereka. Namun sebelum Kaga benar-benar hilang dari hadapannya. Akagi mulai bersuara.

Menghentikan langkah kakinya. Tanpa menoleh, berdiri di ambang pintu yang sedang terbuka.

"Terimakasih, Kaga-san." ucapnya dengan suara yang bercampur basah. Kaga mengangkat kepalanya dan tersenyum tanpa Akagi tahu. Dilambaikan tangannya memberi Akagi respon.

Seorang gadis muda, dengan kemeja yang sama dengan seragam miliknya. Dengan celana panjang yang membuatnya tampak begitu dewasa darinya. Akagi pun tersenyum mengantar kepergian Kaga dengan sebuah senyuman yang juga tak Kaga tahu.

Kini, hanya karena sentuhan Kaga. Membuka semua kesesakkan yang tersembunyi dalam benak Akagi. Akagi bersyukur saja. Amarahnya luntur seketika. Kaga membuatnya jujur pada keinginan dirinya sendiri.

"Gadis bodoh." Gumamnya menghapus airmata yang kini sudah mengalir di wajahnya.

.

.

.

.


Sebenarnya ini lanjutan dari chap pertama. Setelah ini tak tahu mau publish kapan lagi.

NB : Manis Panas untuk selanjutnya.