.

.

Spica Zoe

Present

AKKG Fiction

.

Disclaimer

Chara : Kadokawa Games

Story : Spica Zoe

.

"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."

.

Akagi - Kaga

.


Jarak

.

Definisi tentang kebahagiaan?

Sejak awal mungkin Kaga tidak pernah mau bersusah payah menerjemah huruf demi huruf akan arti sesungguhnya sebuah kebahagiaan dalam hidupnya. Lahir sebagai seorang putri tunggal dari seorang ayah yang menjabat sebagai pemimpin sebuah organisasi independent yang Kaga tahu ternyata sebuah organisasi hitam di mata pemerintahan. Juga dari seorang ibu yang pernah menjabat sebagai kepala sekolah menengah atas, sekolah yang dulunya ingin ia masuki, tapi naas-nya, ibunya langsung meninggal karena sebuah kecelakaan.

Kehidupan layak tak membuat Kaga menemukan arti sesungguhnya sebuah kebahagiaan. Masih tawar, bahkan setelah tahu riwayat kedua orangtuanya pun, rasanya Kaga tak ingin mengenal kebahagiaan di dunia.

Menjadi seorang diri, baginya adalah kebahagiaan sesungguhnya. Ia bisa bebas, berbuat dosa pun akan ia tanggung seorang diri. Tidak akan ada orang lain yang akan ia jadikan korban, karena ia sendiri. Tapi, setelah ia tak mampu lagi berjuang, dan diselamatkan oleh sepasang tangan yang membantunya berdiri. Kaga sadar, ia butuh seseorang. Ia butuh bantuan. Untuk itu ia bersedia mengulang kembali kisahnya. Kisah sebagai anak, juga sebagai manusia yang ingin menerjemahkan arti bahagia sesungguhnya.

Bahagia yang mulai ia rasa pun ada, ketika Akagi ada.

Kaga mendekap tubuh ibunya erat. Berpamitan adalah rutinitas yang tak bisa ia tinggalkan. Kebahagian kecil yang mungkin tak ia sadari, namun ia nikmati. Ia begitu menyayangi wanita yang sedang tersenyum memandangnya kini.

"Sepertinya ada sesuatu yang berbeda padamu akhir-akhir ini, Kaga-san." sang ibu mengusap pipi lembut putrinya. Membuat Kaga membalas dengan senyuman lembut.

Benar bu, ada sesuatu yang terjadi pada putrimu akhir-akhir ini. Sesuatu yang tidak ia pahami telah terjadi dalam dadanya. Ada getaran, dentuman, juga rasa rindu. Guncangan, kekhawatiran juga senyuman. Semuanya menjadi serba tidak wajar. Hanya karena seorang wanita yang menjadi atasannya.

"Entahlah bu, nanti akan kucari tahu." Balasnya tersenyum. Sedang dalam pikirannya, wajah Akagi memberinya rasa.

Sejak saat-saat itu. Sebuah rasa yang belum ternamai dan bersemayam betah di dada Kaga semakin tak menentu. Rasa yang Kaga tahu Akagi-lah penyebabnya. MemandangiAkagi dalam sunyi hanyalah pelampiasan paling sering ia lakukan. Menahan diri untuk langsung memergoki Akagi di dalam ruangan selalu ia tahan.

Apalagi saat Kaga mendengar jika permohonan cuti Akagi, ditolak oleh Nagato. Segaris senyum ditampilkan Kaga saat Akagi melewati mejanya. Diangkatnya selembar berkas di atas wajahnya. Berpura-pura bekerja, padahal ingin mencuri pandang menatap pujaannya. Hingga pandangan mata mereka terikat dalam hitungan detik. Namun Akagi mengabaikannya. Sebuah senyuman untuk menertawai kegagalan permintaan cuti dihadiakan Kaga padanya. Meski wajah Akagi terlihat mengabaikan, namun hatinya tertawa.

Gadis bodoh.


"Aku tidak paham, kenapa dia sering mengambil cuti akhir-akhir ini."

Kaga meneguk minuman dalam gelasnya. Kegiatan penutup yang ia lakukan untuk mengakhiri makan siangnya. Sambil mendengar celotehan-celotehan rekannya tentang Akagi, siapa lagi.

"Berarti benar! Dia akan menikah." Kongou terlihat paling bersemangat untuk mengucapkannya.

Menikah? Kaga selalu penasaran dengan cerita yang ini. Apa perlu ia mengurung diri berdua lagi dengan Akagi dan menerornya dengan fakta tentang pernikahan?

"Jangan menyebarkan gosip. Atau Nagato-san akan membunuhmu." Mutsu menarik sedotan dalam gelasnya dan menuding Kongou tepat di wajahnya. Membuat Kongou mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, dengan cengiran yang terlihat cocok untuk kepribadiannya.

Tawa.

Selanjutnya, setelah Mutsu menuding Kongou dengan ancaman lembutnya. Yang terdengar hanyalah tawa dari beberapa rekannya yang lain. Dalam divisi ini, Kaga merasa, semua orang bisa berjalan bersama. Duduk bersama, nangis bersama dan tertawa bersama, tanpa memandang siapa yang paling tinggi dan siapa yang berada direndah. Namun anehnya, kenapa hanya Akagi yang terlalu sulit digapai.

"Aku penasaran. Apa Akagi-san tidak pernah makan siang bersama kalian seperti yang kita lakukan sekarang ini?" ucapan Kaga nyaris membuat suara tawa mereka menghilang bersamaan. Tapi, ketika yang lain telah menghentikan tawanya. Hanya suara cekikikan Kongou yang masih terdengar, meski Kaga rasa begitu dipaksakan.

"Kau bercanda?" Yamato bertanya. Ekspresi yang berlebihan. Kaga rasa.

"Pertanyaan yang bagus teman. Aku mendukungmu." Kongou merangkul bahu Kaga dengan bangga. Membuat Kitakami mendesah malas sambil meraih minumannya yang masih tersisa.

"Dia tidak pernah melakukannya." Mutsu membalas.

"Jam makan siangnya berbeda dari kita kebanyakan." Kongou menambahi. Membuat Kaga semakin tertarik untuk mencari tahu, segala cerita mengenai Akagi.

"Biasanya, Shoukaku-san yang menemaninya makan. Tidak pernah yang lain. Dan, itupun jarang. Dia memiliki jam khusus makan siang. Tidak seperti karyawan atau pekerja lainnya. Jika dia lapar, dia berhak untuk makan, kapanpun." Kitakami berpendapat.

Jadi, apa saat ini Akagi sudah makan?

.

.

Kaga menarik diri dari rekan-rekannya. Rasanya penasaran juga, apa yang tengah Akagi lakukan seorang diri di dalam ruangannya. Saat semua orang sedang berbaur di dalam Kantin. Sedang Akagi mencoba menyembunyikan diri dari keramaian.

Dia tertarik. Sangat tertarik.

Dilangkahkannya kedua kakinya ringan, berirama sesuai dengan nada jiwanya. Ada melodi-melodi indah yang sedang jiwanya dendangkan. Membuatnya selalu ingin menari di dalam angan. Langkah kaki yang telah ia tujukan pada seseorang yang kini merenggut semua pikiran dan kesehatan jiwanya.

Akagi.

Biarlah Akagi membunuhnya saat ini. Biar saja. Jika kematian yang Akagi hadiahkan padanya, Kaga rasa itu tak menjadi masalah.

"Semua mata akan tertuju padanya, bahkan dilangkah pertama kakinya memasuki ruangan ini."

Ucapan yang masih begitu jelas, yang Kaga ulangi dalam pikirannya. Ucapan yang ia dengar beberapa menit lalu.

"Terlalu banyak rumor tentangnya yang mengudara di seluruh isi perusahaan ini. Mungkin dia tidak suka. Atau semacamnya."

.

Kaga mendorong pelan pintu ruangan divisinya. Sepi. Tidak ada orang. Hanya suara bisikan mesin pendingin yang berhasil Kaga tangkap di telinganya. Diamatinya keadaan perlahan.

Sunyi. Teramat senyap. Jelas sekali, hanya ia lah satu-satunya manusia yang bernafas dalam ruangan ini. Belum lagi, saat ia tahu. Mungkin ada manusia lain selain dirinya yang berada di ruangan lain, yang sedang ia tuju.

Ruangan Akagi cukup besar. Sama persis dengan ruangan milik Mutsu dan Yamato yang sama-sama menjabat sebagai manager di divisi mereka. Namun bagi Kaga, ruangan milik Akagi terlalu didominasi dengan kekosongan yang mampu menggemakan detak jantungnya.

DEG

Semoga tidak terdengar oleh Akagi, yang kini berada tepat dalam pandangan mata Kaga. Kaga tak berniat meminta ijin Akagi untuk memasuki ruangannya. Karena ia rasa ini bukan kunjungan dalam misi pekerjaan. Tapi misi panggilan jiwa.

Kaga hanya bergeming. Berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang tak mau beranjak dari sosok Akagi yang kini juga hanya diam memandang matanya.

Biarlah waktu menari-nari mengelilingi mereka. Menertawai kegilaan Kaga yang masih tak mau lepas dari tatapan Akagi yang kini sudah menunduk memandangi kembali data yang tengah ia periksa. Duduk di atas sofa putih di sudut ruangannya. Dengan kaki saling bertaut dan, kacamata? Kaga baru ini melihat Akagi menggunakan benda semenawan itu.

"Apa aku boleh masuk Akagi-san?" Kaga tak menunggu respon Akagi untuk mempersilakannya. Karena ia pun tahu, Akagi tak akan menjawab pertanyaannya. Dilangkahkannya kakinya meninggalkan ambang pintu, dan kemudian mundur membalas langkah majunya sambil menutup pintu dengan punggung tubuhnya. Dan menguncinya. Tak ingin matanya berpaling dari sosok Akagi yang benar-benar terlihat jauh lebih menawan.

Rambut terikat, kemeja putih yang sama dengannya namun begitu sempurna untuknya-Akagi. Apalagi dengan kondisi kancing atas yang tertanggal. Apa Akagi sengaja?

Kaga tak gentar, memutuskan untuk duduk tepat di seberang Akagi, hanya berhalang meja sebagai pembatas antara mereka berdua.

"Rasanya jam makan siang masih belum berakhir," Akagi tak memandang Kaga. Berkas-berkas itu rasanya jauh lebih memikat dari segalanya. "Dan aku tidak memanggilmu untuk menghadap." Lanjut wanita tiga puluh dua tahun itu dingin.

Apanya yang harus ditakuti dari seorang Akagi. Suaranya yang lembut, wajah yang cantik, tubuh yang indah. Bagi Kaga, semua itu adalah hal yang pantas untuk dikagumi.

"Dan kau sendiri, apa sudah makan siang? Akagi-san."

Jangan ingatkan Akagi, tentang kali berapa ia selalu menyukai namanya keluar dari bibir Kaga. Entah karena apa, tapi rasanya memang terdengar terlalu manis. Akagi menutup bukunya, membiarkan lembaran yang ia teliti terselip di dalam sana. Sedang tangannya yang lain langsung menarik kacamata itu, untuk tidak memnghalangi seberapa ingin ia menatap wajah Kaga yang terkadang bisa menjadi sangat menyebalkan dan menarik perhatiannya.

"Apa aku menyuruhmu bertanya?" Akagi melipat kedua tangannya di depan dada. Membuat Kaga memperhatikan dengan jelas, seberapa indah kini dada nya terlihat.

"Apa karena tidak ada Shoukaku-senpai yang menemanimu?" Kaga bertanya.

Membuat Akagi terdiam.

Kaga mengamati respon diam Akagi secara menyeluruh. Sampai akhirnya ia kembali mengingat kejadian misterius di hari pertama ia bekerja. Mungkin ini saat yang tepat bukan?

"Apa kau memiliki hubungan khusus dengan Shoukaku-senpai" tanya Kaga gamblang.

.

.

Akagi menarik nafasnya dalam. Mungkin, karena ini Kaga selalu menganggunya. Diurungkannya niat untuk menutupi kesalahpahaman diantara mereka rapat-rapat. Bagaimanapun Kaga telah terlibat. Dan mungkin Kaga adalah orang yang bisa dipercaya, sebab sedikitpun Akagi tak mendengar rumor itu terdengar sampai ke telinganya.

Akagi bangkit berdiri. Melangkah mendekati meja kerjanya. Membiarkan Kaga mengikutinya dengan pandangan yang tajam. Lekuk tubuh itu indah. Pinggul yang sempurna. Tinggi yang sangat ideal bagi seorang wanita. Kaga mengagguminya.

Akagi meraih sesuatu yang tak Kaga tahu berada di antara berkas-berkasnya. Tersembunyi dan kini saat berbalik menatap Kaga, gadis muda itu pun tahu apa yang sedang Akagi raih dari sana.

"Apa seorang wanita hamil dilarang untuk mimiliki rasa welas asih, Kaga-san?"

Kaga bergeming.

.

Ia wanita yang nyaris sempurna. Wanita yang mampu membuat Kaga hilang kendali sebagai wanita.

Akagi membiarkan Kaga menghirup asap racun yang berasal darinya. Sejak tadi, tak ada yang mereka bicarakan. Diam adalah komunikasi paling sempurna untuk menunjukkan betapa sakit rasa perih yang meremuk batin Kaga.

Akagi hamil?

"Jadi, apa Shoukaku-senpai, pelakunya?" pertanyaan konyol dari wajah yang terlihat konyol. Meski Kaga bertanya penuh kesungguhan. Akagi malah terbatuk di tempatnya. Bukan asap dari rokok yang ia hirup penyebabnya. Namun pertanyaan Kaga membuatnya tersedak oleh kebodohan.

Kaga sontak bangkit. Diraihnya rokok yang masih menyala dari jari Akagi. Melemparnya ke lantai dan menginjaknya dengan cepat. Kemudian, tangannya meraih kedua pundak Akagi. Duduk di sampingnya. Dan mendampingi wanita itu menyelesaikan batuk tak elitnya.

"Kau baru belajar melakukannya, Akagi-san? tanyanya menyelidiki. Gaya yang amatiran, Kaga tahu itu.

"Bo-bodoh. Apa bisa seorang wanita menghamili wanita lain?" ucap Akagi yang mulai tenang.

Batuk sialan ini membuatnya terlihat begitu bodoh di hadapan Kaga.

"Jika itu aku, mungkin aku bisa menghamilimu."


Kaga, dua puluh dua tahun.

Menatap atasannya dengan tatapan paling memikat yang ia miliki. Kini mendekap sang manager dengan pelukan yang paling menyakitkan yang ia rasakan.

Air matanya mengalir tanpa sebab. Batinnya berbicara, Akagi ingin merusak semua hal yang telah terjadi padanya. Manager yang ditakuti apanya? Akagi butuh perhatian. Akagi butuh kasih sayang.

"Menangislah jika kau mau Akagi-san. Jika tidak, orang-orang tidak akan tahu betapa menderitanya menjadi dirimu."

Akagi tak menepis dekapan Kaga. Sekalipun ia berdusta, ucapan gadis muda ini terdengar lebih nyata dari kehancuran yang tengah ia jalani dalam hidupnya.

Akagi mengangkat tangannya ragu. Dibalas dekapan Kaga dengan menyentuh punggungnya. Kemudian ikut menangis menyembunyikan wajah di bahunya.

"Aku hamil Kaga-san. Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."

Ya, menangislah. Menangislah jika kau ingin dimengerti.


Melodi indah mengisi pendengarannya. Kaga menarik diri untuk bangkit. Meraih ponsel yang menyala di atas meja kerjanya. Sebuah pesan dari sang ibu tercinta. Dan Kaga membalasnya dengan sebuah senyuman.

"Ini akan menjadi weekend terpanjang dalam bulan ini." suara Kongou mengisi seluruh sudut ruangan divisi. Libur tiga hari berturut-turut. Bagi Kaga ini adalah kehampaan. Tiga hari tak memandang wajah Akagi, apalagi saat ia merasa Akagi sudah menjadi bagian dari napasnya. Rasanya ia tak mungkin sanggup.

Kaga terdiam sejenak. semua hasrat dalam hatinya bercampur menjadi satu. Mendung siang tadi masih mengisi batinnya. Tangisannya dan Akagi bercampur menjadi satu. Jika Akagi sedang hamil dan tak tahu harus melakukan apa. Rasanya Kaga lah yang harus paham ingin melakukan apa.

"Kau tidak pulang, Kaga-san?" Kitakami adalah orang terakhir yang akan meninggalkan ruangan ini. Meninggalkan dirinya sendiri, sedang Akagi masih berada di ruangannya.

"Segera." Balas Kaga terenyum. "Hati-hati dijalan, Kitakami-san." sambungnya. Membuat wanita itu tersenyum dan melambai lembut.

Hening.

Sudah berkali-kali Kaga merasakan suasana sehening ini. Ditariknya tas jinjing miliknya. Dan melangkah menuju ruangan Akagi berada.

.

"Kau tidak pulang Akagi-san?"

Akagi terdiam. Melihat Kaga, mendengar suaranya. Membuatnya merasakan aneh dalam dadanya. Kenapa gadis ini terlalu sering memergokinya.

"Pekerjaanku belum selesai." Ucapnya mengabaikan pandangan Kaga padanya.

Membayangkan dirinya menangis di pelukan gadis ini siang tadi, membuatnya merasa tak lagi sanggup memandangnya.

"Pulang larut tidak baik untuk wanita hamil, Akagi-san." Kaga kini bisa melihat Akagi mengangkat kepala memandang wajahnya.

"Berikan padaku sebagian. Dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang."

Gadis bodoh.

Akagi menurut. Sedang Kaga tanpa menunggu perintah sudah meletakkan tas jinjingnya di atas sofa, sedang dirinya pun sama. Memandangi Akagi yang kini sudah meletakkan beberapa berkas di atas meja di antara mereka berdua.

"Apa kau mengerti bagaimana caranya?" tanya Akagi lembut. Menahan hasratnya untuk tersenyum pada gadis muda itu entah karena apa. Mungkin karena kebaikan hatinya.
"Kau meremehkanku, ibu manager?" dan sebuah tawa mengisi ruangan itu seketika.

.

"Akagi-san..."

Kaga masih tetap fokus pada beberapa dokumen yang tengah dikerjakannya. Mudah baginya, sebab Akagi sengaja memilihkan pekerjaan yang paling mudah ia kerjakan. Sambil tangannya terus menari di atas mesin penghitung angka. Sedang Akagi terlihat sedang sibuk memberi paraf di atas puluhan lembar file di atas meja.

"Apa pria itu tak mau bertanggungjawab atas kehamilanmu?"

Pertanyaan yang begitu menyakiti hatinya. Kaga tak memandang wajah Akagi. Tapi ia tahu wanita itu sedang bergeming di tempatnya. Pertanyaan bodoh, Kaga menyesali dirinya untuk bertanya. Tapi, ia ingin Akagi tahu, jika dirinya pun ingin menjadi orang yang paling mengerti tentangnya.

Kaga mengeratkan kelima jemarinya. Menyesalpun tak lagi ada artinya. Apalagi saat ia mendapati Akagi tengah menggelengkan wajahnya dengan tangisan yang ia sembunyikan.

"Aku yang tidak ingin, Kaga-san."

Wanita itu tersenyum.

.

Biasanya, Akagi akan melangkah pulang sendirian. Apertemen-nya tidak terlalu jauh dari kantor, dan ia lebih memilih berjalan kaki untuk pergi maupun pulang. Seorang diri. Tapi kali ini berbeda. Malam ini terasa begitu berbeda. Kini ada seseorang yang sedang berjalan bersama dengannya. Seorang gadis muda yang entah mengapa sudah terlalu berani mengusik hidupnya. Tapi entah mengapa rasanya Akagi tak bisa menghindarinya.

Sambil memandangi puluhan lampu-lampu jalan, ramai-ramai kota. Mereka saling mengoceh bergantian. Akagi lebih banyak diam. Sedang Kaga begitu banyak pertanyaan.

"Apa makanmu cukup selama kehamilan?"

Kaga merasa begitu peduli. Merasa ingin peduli.

"Sebenarnya aku tidak menginginkannya, Kaga-san. Hidupku saja tidak diakui." Akagi tersenyum tak berdaya.

Masih banyak misteri akan Akagi yang ingin Kaga pahami. Begitu banyak, hingga ingin rasanya bagi Kaga untuk terus memandangi wajah wanita ini. Menelusuri, memahami, mencari tahu, atau jika bisa, ingin memiliki.

"Aku hanya bertanya, apa makanmu cukup. Aku tak bertanya apa kau menginginkan kehamilan itu atau tidak, Akagi-san." Kaga protes. Membuat Akagi tertawa. Dan secara tak sengaja menyentuh pipi Kaga.

"Kau seperti seorang ayah." ucapnya tak mengerti.

"Jika kau mau, biar aku yang bertanggung jawab." Hening sejenak "Menjadi ayahnya."

.

Seperti sebuah tarikan ringan, menahan Akagi untuk tak melanjutkan langkahnya. Dan berhenti di posisinya. Apa ia tidak salah dengar? Dipandangnya punggung Kaga yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Pungung seorang gadis muda yang bahkan sepuluh tahun lebih muda darinya. Namun begitu dewasa. Punggung seorang gadis muda yang terus melangkah di depannya, meski Akagi tak tahu. Tapi gadis muda itu menangis menahan gejolak amarah di dalam dadanya.

"Aku mencintaimu, Akagi-san." ucapnya berbisik. Meremuk kesakitan dalam dadanya seorang diri. Dalam langkahnya yang semakin menjauh dari cinta yang mungkin terlalu menyakitinya.


"Masuklah."

Akagi membukakan pintu apertemen-nya. Membuat mata sembab Kaga terbelalak tak percaya. Apertemen yang begitu kecil. Kotor, berantakan dan mengecewakan Kaga.

"Ini kamarmu?" tanyanya tak percaya. Seorang wanita yang menjabat sebagai manager di perusahaan besar di Tokyo tinggal di tempat seperti ini?

"Aku tinggal bersama seorang teman. Mungkin dia sedang tidur. Masuklah, nanti akan kukenalkan." Akagi memungut satu persatu pakaian yang berserakan di atas lantai. Namun Kaga segera menghentikannya.

"Kau saja yang duduk, biar aku yang membereskannya." Ucapnya tersenyum. "Kau sedang hamil, Akagi -san." membuat Akagi mengalah.

Butuh waktu belasan menit bagi Kaga untuk membereskan seluruhnya. Dan selagi ia berkerja, ia tak pernah ingin membiarkan Akagi bergerak di posisinya. Cukup memandanginya saja.

"Temanmu, pria atau wanita?" tanya Kaga setelah mengamati beberapa barang pungutannya mungkin pakaian seorang pria.

"Wanita, dia lebih muda dua tahun darimu. Duduk lah, apa kau ingin minum sesuatu?" Akagi menarik tangan Kaga untuk duduk menggantikan tempatnya. Sedang ia langsung bangkit dari sana.

"Tidak usah. Kau duduk saja Akagi-san."

Kaga menarik tangan Akagi untuk duduk di sampingnya. Menemaninya. Membantunya melepaskan satu persatu rasa yang ia tahan dalam benaknya. Melihat Akagi berbeda seperti ini membuatnya merasa menjadi manusia paling beruntung. Akagi tidak menakutkan, ia hanya tak ingin kehidupannya diusik. Akagi yang kini duduk di sampingnya, adalah Akagi yang berbeda. Akagi yang hangat.

"Apa kau tidak punya orang tua?" Kaga tak sanggup jika harus memandangi wajah wanita itu berlama-lama. Jadi, apa saja yang akan menjadi bahan pembicaraan akan menjadi alat untuknya agar bisa terlepas dari seberapa sempurna wajah ini memikatnya.

"Punya. Tapi aku tak pernah mengunjungi mereka." Akagi menimbang kenangannya.

"Kenapa? Sudah berapa lama?" tanya Kaga ingin tahu.

Memiliki orang tua tapi tak pernah mengunjungi mereka. Itu membuatnya sedikit penasaran.

"Masalah pribadi. Mungkin sejak aku berumur tujuh belas tahun." Akagi tersenyum.

Senyuman yang menyakitkan. Kaga bisa menyimpulkannya. Akagi memang penuh dengan ribuan misteri. Tapi mengapa ia tak begitu enggan jika Kaga mulai mengetahuinya.

"Kau sendiri?" Akagi mulai bertanya.

"Kedua orang tuaku sudah meninggal. Namun aku diangkat sebagai anak oleh orangtuaku yang sekarang. Dan itu membuatku bahagia."

Dan setelah itu, ribuan sepi memenuhi waktu diantara mereka berdua.

Mengingat jejak orangtua, membuat Akagi lelah untuk mengenang masalalunya. Sebuah ketidakpahaman menjadi hal yang paling sempurna untuk memperdalam jurang antara ia dan orang tuanya.

Kaga memandangi wajah senduh Akagi. Wanita yang ingin ia mengerti saat ini. Kerapuhannya, ketidakberdayaannya. Ingin ia lindungi.

"Jika kau merindukan kedua orangtuamu, pulanglah. Aku rasa merekapun sama rindunya denganmu. Berpuluh tahun tak bertemu. Apa kau tak merasa bersalah?" Kaga hanya ingin Akagi kembali bahagia. Mungkin jika Akagi kembali, ia akan merasa diakui.

Akagi melepas napas lelahnya bercampur bersama udara di sekitar mereka. Ribuan kali kepalanya memikirkan kapan ia punya keberanian untuk pulang dan menatap wajah ibunya. Tapi rasanya tak pernah bisa membuatnya mengambil keputusan untuk berjumpa. Ia takut, tak bernyali dan merasa tak lagi butuh apapun saat ia telah mampu mendapatkan segalanya seorang diri.

"Hidup sebatang kara itu tidak enak Akagi-san." Kaga bangkit dari duduknya. Memilih untuk menjauh hanya agar ia dapat menahan hasratnya untuk kembali mendekap tubuh wanita itu. Sebab, entah kenapa disaat-saat begini, ia bisa menjadi rapuh.

Disandarkannya punggungnya disisi dinding, melipat kedua tangannya di dada, sedang matanya memandang Akagi yang juga sama memandangnya.

Tersenyum, telalu manis.

"Besok libur panjang. Tiga hari mungkin cukup untuk sekedar melepas kerinduan." Tawar Kaga, yang ia rasa perlu dipertimbangkan Akagi. Sebab, ia pun sama. Jika waktu untuk Akagi berkurang tiga hari, ia bisa menggantinya dengan kebersamaan dengan ibunya di rumah.

Dan tanpa suara penolakan lagi, Akagi pun mengangguk setuju.


Gelap tergantikan oleh terang. Libur panjang. Tiga hari tak bertemu rasanya seperti maut hampir merenggut semua kehidupannya. Kaga sudah bangun sejak tadi. Dan setelah membersihkan diri. Ia lebih memilih untuk berbaur dengan sang ibu di dalam dapur. Membuat beberapa makanan favorit yang disukanya. Juga yang bisa dibuatnya. Sebab Kaga sangat suka kegiatan ini.

"Suamimu pasti akan sangat beruntung Kaga-san. Mendapatkan istri yang pandai memasak." Puji sang ibu, yang membuat Kaga hanya tersenyum. Disampirkannya kain lap di atas bahunya.

"Ya, seperti ayah yang selalu ingin berlama-lama menyantap setiap sajian yang ibu berikan, 'kan?" celoteh Kaga, membuat tawa di sana terdengar bahagia.

"Dia masih belum kembali ya?"

Kaga menghempas jemari basahnya. Pekerjaannya selesai. Mangkuk terakhir dan semuanya akan berakhir. Diraihnya kain di atas bahunya dan mengeringkan tangannya, juga tangan sang ibu. Menggenggamnya penuh makna.

"Ayah akan kembali secepatnya bu, pekerjaannya banyak bukan?" sedikitpun ia tak rela jika ibunya merasa sedih.

.

.

Ini tidak benar. Rindu dalam dadanya serasa ingin meledak kapan saja. Mencari kesibukanpun tak bisa mengabaikan pikirannya tentang Akagi yang entah dimanapun wanita itu berada. Apa ia akan benar-benar menemui orangtuanya? Meminta maaf dan melakukan pengakuan dosa? Apa ia sudah makan dan menjaga janin yang sedang ia kandung dalam rahimnya? Apa keadaan rumahnya dalam keadaan bersih, tidak seburuk malam saat ia berkunjung tadi? Semuanya menjadi bahan pikirnya. Ingin rasanya menghubungi Akagi, namun apa daya. Ia tak memiliki alamat emailnya. Dan dari pada dirinya menjadi gila. Lebih baik Kaga mengambil inisiatif untuk bangkit dari ranjangnya. Menuju dapur, tempat yang paling tepat untuk mengusik rasa bosannya. Memasak, mencoba menu baru adalah hal yang paling disenanginya dulu. Namun sekarang, menjadi hal yang kesekian setelah kesenangannya atas apapun tentang Akagi saat ini.

"Ini masih terlalu cepat untuk membuat makan malam, Kaga -san." seru sang ibu yang hanya memandangnya dari ruang keluarga. Tersenyum.

"Ini jauh lebih baik daripada aku mati kebosanan 'bu." Balasnya memandang ceria.

Ya, dari pada otakku meledak memikirkanmu, Akagi-san.

.

Dua puluh lima menit, adalah waktu yang cukup bagi Kaga untuk mengubah permukaan meja makan yang kosong menjadi terlihat lebih menyenangkan. Disusunnya beberapa hidangan penuh warna di atasnya. Membuatnya senyum memandangi keusilannya sendiri. Meski kepalanya masih terus memikirkan Akagi di sana.

"Ibu, makanannya telah siap-"

Tidak ada, batinnya. Kemana ibunya pergi? Bukankah sejak tadipun ia masih terus berceloteh dengan wanita tua itu disela-sela waktu memasaknya? Oh iya. Kaga hampir lupa. Bukankah tadi ada seseorang yang datang? Mengapa lama sekali menyambutnya.

Kaga melepaskan semua perlengkapan masak yang menempel di tubuhnya. Melangkah menuju pintu utama, untuk sekedar ingin tahu dengan siapa ibunya berbicara.

Jarak antara dapur dan pintu utama yang lumayan jauh. Iya, rumah ini memang sangat besar.

"Ibu, makanannya-" dan saat Kaga baru saja ingin bersuara. Semua hal yang bahkan baru ingin ia lakukan, tak lagi bisa dicerna otaknya.

Akagi di sana. Terpanah memandangnya tak percaya. Ekspresi yang tak pernah Kaga lihat sebelumnya. Bersama dengan sang ibu yang kini berurai airmata.

"Akagi-san?" bisik Kaga terdengar.

"Apa yang kau lakukan disini?" sambungnya, sambil mendekap sang ibu yang tengah terisak dalam kesedihan yang mendalam. Bukan, bukan kesedihan. Ini, kebahagiaan.

"Harusnya aku yang bertanya. Kaga-san." getaran dibibir Akagi tak lagi bisa ia tutupi. Belum tangis yang membasahi pipinya, mengering. Kini getaran itu membuatnya semakin lemah terlihat. Tidak mungkin. Jangan bilang jika...

"Aku-"

"Dia, anakku."

.

.

"Aku akan menuruti usulmu, Kaga-san. Rasanya aku memang merindukan wanita yang telah melahirkanku." Akagi tak sempat menghapus airmata yang kini menghiasi pipinya. Tangan Kaga lebih dulu menggapainya. Mengusapnya lembut sampai membuat Akagi begitu ingin berlama-lama dengan gadis didepannya kini.

"Tidak ada orangtua yang mengkhianati anaknya sendiri, Akagi-san. Dan untuk janinmu, aku harap pun kau begitu."

"Lantas, aku ini siapamu. Ibu?"

Akagi. Merasa telah dikhianati.

Bersamaan oleh dua wanita yang, satu adalah orang yang paling dirindukannya. Dan yang satunya lagi adalah orang yang baru saja menarik jati dirinya.

.

.


NB: Isinya koq membosankan ya?

maaf. Dari pada saya mati kutu gak bisa lanjut. Lebih baik saya campakkan semua isi otak saya dalam tulisan meski hasilnya hancur. Penyakit saya. Plot menari-nari dalam otak. Waktu nulis yang tidak ada.

Sekian,