.
.
Spica Zoe
Present
AKKG Fiction
.
Disclaimer
Chara : Kadokawa Games
Story : Spica Zoe
.
"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."
.
Akagi - Kaga
.
Berdusta pun percuma. Rindu itu tetap ada. Melekat bersama embun pagi hari yang menguap menjelang terang.
Rindu itu tetap jelas terasa. Mengakar ke dalam jiwa, mengikat kesesakan.
Yang sedang Kaga rasakan, jelas dinamakan rindu.
.
"Akagi-san..."
Akagi tidak merespon. Ini sudah kali keempat namanya terdengar, namun sekalipun ia tak merasa terpanggil. Kaga mengikutinya. Dengan langkah yang sama cepatnya dengan langkah kakinya.
"... ini tidak adil untuk ibu, 'kan?" serunya. Meski Akagi sama sekali tak peduli.
Bukankah Kaga orangnya? Yang memberinya keyakinan jika ia bisa mencoba untuk percaya pada orang lain? Dan sayangnya, Akagi merasa ia telah salah memilih seseorang yang ingin ia percayai. Padahal, ia merasa begitu yakin untuk merendahkan hati menemui ibunya.
"Akagi-neesan." Taruhannya, Akagi pasti akan meresponnya, meski itu dengan kemarahan.
"Aku bukan kakakmu!"
Benar 'kan? Kaga tersenyum. Menikmati seberapa jelas kemarahan Akagi yang kini telah berbalik menghadapnya. Ingin meluapkan semua kemarahannya. Lakukan saja, Akagi.
"Tapi kenyataannya, kita berdua memiliki ibu yang sama, bukan begitu? nee-san."
Saat itu, sore hari. Masih sama. Melodi indah itu masih tetap berputar dalam benaknya. Membawa tarian dalam angannya. Membuka batasan yang membungkus erat rindunya.
"Aku pikir, aku bisa memercayaimu. Kaga-san,"
Kelemahan Akagi sebenarnya hanya satu, menahan perasaan bukanlah keahliannya. Untuk itu, dari pada disuruh menggunakan hati, Akagi lebih memilih untuk tak melibatkan perasaannya. Seperti saat ini, yang Kaga lihat hanya sepasang mata yang telah basah oleh air bening. Tangan yang gemetar menahan keperihan, dan suara yang ia rindukan.
"Membunuhku pun, aku bersedia Akagi-san."
Ya, jika itu bisa membuat Akagi berhenti membencinya.
Kaga mendekatkan dirinya dengan beberapa langkah kecil ke hadapan Akagi. Wangi tubuh yang telah ia kenali. Rasa sakit dan keperihan yang telah ia pelajari. Akagi bukanlah pribadi yang sulit ia mengerti. Hanya saja, ia akui menaklukkannya bukanlah hal yang mudah.
Setelah mendengar pengakuan ibunya. Bahwa Kaga adalah anak yang mereka angkat menjadi pengganti dirinya, rasanya Akagi tidak terima. Tidak lagi banyak kata yang ingin ia dengar, sebelum akhirnya ia memilih untuk beranjak pergi. Meninggalkan ibunya yang menangis meraungi namanya. Berharap, kejadian belasan tahun lalu tak kembali ia alami. Ditinggal pergi putri yang paling berharga dalam hidupnya. Dan Kaga menyusulnya. Menjanjikan sebuah kepulangan sebelum meninggalkan ibunya dengan senyuman.
Diraihnya, tubuh gemetar Akagi. Wajah itu tertunduk melawan tangisan yang tak ingin ia tampilkan. Tapi percuma, rasanya Kaga sudah terlalu banyak melihatnya.
"Kau mengkhianatiku, Kaga-san."
Tidak perlu bagi Kaga untuk membela dirinya. Biarlah, Akagi mengatakan apa saja. Asal wanita itu tidak berniat untuk berlalu dari pandangannya. Tubuh yang selalu ingin ia dekap untuk menguapkan rindunya. Kini telah berada di hadapannya.
"Akagi-san."
Jarak diantara mereka semakin menipis. Bagai sebuah nada yang bergantian bersahutan tanpa jarak. Kaga meniadakannya. Diangkatnya dagu basah Akagi yang tersembunyi, membiarkan matanya, jiwanya, perasaannya mengambil kendali. Dan setelahnya.
Akagi merasakan satu sentuhan basah pada bibirnya. Lembut dan manis. Lalu, sebuah dekapan menghangatkan tubuhnya. Kaga meraih pinggul Akagi dan mendekapnya erat. Sedang bibirnya telah lebih dulu menikmati bagian terbaik dari yang ingin ia nikmati dari Akagi.
Bagi Akagi ini jelas berbeda. Ia tidak sedang mencintai siapapun saat ini. Tapi, mengapa rasanya menjadi berbeda. Amarah yang tadi ingin ia luapkan, tertahan di ujung lidah yang kini tengah Kaga sentuh, juga dengan lidahnya.
.
"Aku, tidak akan pernah meninggalkanmu Akagi."
Ah, kenapa disaat seperti ini, Akagi bisa mengenang kalimat itu. Membuat jiwanya bagai tersayat, dan air mata itu semakin deras membasahi wajahnya, juga Kaga.
Saat itu sore hari, gelap telah mengintip di kaki langit. Puluhan langkah mengabaikan mereka yang saling mengecup dinodai airmata. Namun, ratusan pasang mata menikmatinya. Kaga tahu, Akagi pasti akan menjadi miliknya.
"Ibu, aku akan pulang bersama dengan putri kesayanganmu."
Akagi, membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa sedikit berat dari biasanya. Juga, matanya yang terasa perih karena tangisan. Pemandangan yang cukup berbeda dari apa yang ia temukan setiap pagi saat ia membuka matanya. Langit-langit kamar yang ia rindukan. Juga bingkai jendela yang tak ia miliki saat ia terbangun di apertementnya. Ini kamarnya. Kamar masa kecilnya.
Ditariknya, selimut yang berada di sisi lain tubuhnya. Aroma tubuh Kaga ia kenali tertinggal di sana. Apa yang telah mereka lakukan semalaman? Akagi kembali menutup matanya untuk berusaha melupakan.
Ini rumahnya. Akagi tidak mungkin bisa lupa. Perlahan, ia turuni satu persatu anak tangga yang akan mengantarkannya menuju ruang makan dan dapur. Ini sudah hampir tengah hari, dan ia tidak mendapati siapapun di dalam rumah. Tidak ada Kaga, tidak ada ibunya, juga ayahnya. Tapi, saat ia baru saja ingin meninggalkan ruang makan, sebuah dekapan menariknya dengan cepat.
"Ahhhh-" pekiknya tertahan.
"Kau sudah bangun, nee-san?" tanya Kaga yang kini tengah menyempatkan diri untuk mengecup kepala Akagi. Sebelum wanita itu berbalik memandangnya, melepaskan dekapan yang menurutnya tertalu mengejutkannya.
"Kau mengagetkanku, Kaga-san!" kesalnya memandang Kaga yang tengah tersenyum.
"Ibu di mana?" alih-alih menikmati betapa hangat pancaran yang ia dapat dari senyum Kaga yang terlihat jauh lebih berbeda seperti ini, Akagi malah membuang khayalnya ke kesadaran lain saat mengetahui tak ia temukan wanita tua itu untuk pandangannya.
Kaga menarik langkahnya mundur. Meraih kursi dan memainkan ekspresi wajahnya saat memandang Akagi, memberinya isyarat untuk duduk. Akagi menurut.
"Ada sedikit urusan yang harus ia kerjakan. Ayah yang meminta bantuannya. Jadi..." Kaga menggantung ucapannya, saat didapatinya Akagi memandangnya begitu lekat. Sedikit berbeda, dengan Kaga yang ia kenal di lingkungan kerja. Celana pendek yang hanya menutupi pangkal pahanya. Dan kaos oblong dengan lubang leher yang begitu besar. Sedikit memberi keindahan dari betapa putih kulit leher dan bahu Kaga untuk dinikmati.
"Kau mau makan apa, Akagi-san?" tanyanya membuyarkan lamunan Akagi tentangnya.
"Ah-" Akagi mulai kalut dengan kegugupannya. "A-apa saja. Sebenarnya aku tidak terlalu lapar." Ucapnya berbisik pelan sambil menundukkan wajahnya. Menggarut pipi kanannya yang sama sekali tak terasa gatal. Hanya untuk mematahkan pandangan Kaga yang kini balas memandangnya intim.
"Tidak pernah melihatku berpenampilan seperti ini?" Kaga tersenyum. Ditinggalkannya Akagi yang masih mencoba melarikan diri dari segala hal pemikirannya tentang Kaga. "Atau kau lebih ingin memakanku?" celotehnya ringan. Membuat Akagi kembali mengingat kecupan yang Kaga hadiahkan untuknya sore kemarin.
"Kaga-san," ucapnya lemah. Kaga menoleh.
Haruskah Kaga mengulangi? Seberapa besar perasaannya untuk wanita ini. Wanita yang kini hanya duduk menundukkan wajahnya. Sedang kedua tangannya saling bertaut di atas meja. Suasana berubah menjadi sedikit dingin dari sebelumnya. Sepi menguliti waktu yang berjalan di antara mereka. Kaga menunggu dengan sabar apa yang mungkin akan ia dengar keluar dari bibir yang ia nikmati senja yang lalu. Bibir basah yang membuatnya ketagihan untuk kembali beradu rasa. Dengan menyandarkan dirinya di sisi bar dapur, Kaga melipat kedua tangannya di depan dada dengan sabar. Sambil memandangi kekasih hati yang belum diakui dunia untuknya.
"Tentang kejadian kemarin-"
"Tidak usah kau khawatirkan, Akagi-san." Kaga dengan cepat memotong kalimat Akagi yang belum ia selesaikan. Membuat Akagi dengan cepat mengangkat wajahnya dan mempertemukan pandangan mereka berdua.
"Jika kau mau, kita bisa melakukan hal yang lebih dari itu." membuat Akagi menahan napasnya. Bukan itu yang ingin ia maksudkan. Apa Kaga salah menanggapi maksudnya? Ia sebenarnya tidak suka jika harus mengingat kesalahan itu dalam pikirannya. Bukan ingin mengulanginya, atau meminta lebih.
"Bukan itu yang kumaksud." Akagi bangkit dari tempat duduknya. Bunyi hentakan pergeseran kaki kursi itu membuat suasana jadi agak sedikit berbeda. Tapi Kaga tidak peduli.
"Kau tahu kan? Ini salah. Sejak pertama bertemu denganmu, aku merasa kau memiliki pandangan yang berbeda dari yang orang berikan padaku. Seakan kau begitu ingin menelanjangiku. Pandanganmu liar, sikapmu pun terlihat begitu-" ucapan Akagi terhenti saat Kaga beranjak dari tempatnya, melangkah kecil kearahnya. Sambil matanya masih tak mau lepas dari seorang Akagi yang harusnya ia hormati sebagai kakaknya, ataupun atasannya.
"Jadi kau menyadarinya?" Kaga tersenyum. "Kau mengetahuinya lebih cepat dari aku yang sama sekali tak tahu apa makna dari apa yang tengah kurasakan, begitu Akagi-san?"
Akagi terdiam. Ya, kenapa ia mengatakannya. Seakan ia ingin mengakui begitulah Kaga padanya.
"Aku membuang-buang waktuku untuk mempelajari apa makna dari perasaanku padamu, dan kau sudah lebih dulu menyadarinya." Kaga menghentikan langkahnya.
Kini, di hadapannya telah berdiri seorang wanita yang sedang ia inginkan. Tak lain adalah atasannya, dan juga kakak angkatnya.
"Dimana hati nuranimu, Akagi-san?"
.
Akagi, masih ingat betapa hangat pelukan pria-pria yang membuatnya sanggup terlena oleh gairah nafsu yang seakan ingin merampas kesadarannya. Ia akui, ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang ia kandung saat ini. Kesalahannya membuatnya menyesal seumur hidupnya. Untuk itu, ia berusaha mendustai dirinya. Mengakui sendiri bagaimana ia tak menginginkan benih itu tumbuh dalam tubuhnya. Sebenarnya hanya ia yang tidak tahu harus bagaimana.
Akagi tahu ia salah. Membiarkan dirinya tak beralas, dan rela ditindih oleh pria-pria yang menginginkannya. Bahkan tanpa sebuah perkenalan, mereka sudah berakhir diujung nafsu. Bagi Akagi, cinta hanyalah sebuah mitos. Sebuah kesalahpahaman dunia, manipulasi cerdik antara perasaan dan ketidakberdayaan. Sudah sejak lama, Akagi menjadikan cinta sebagai mitos dunia. Sebuah legenda yang harusnya ditelan waktu dan tak lagi pernah menjadi sebuah kenangan.
"Ini menyedihkan." Akagi beranjak dari posisinya. Ditepisnya tangan Kaga yang menyentuh pipinya yang dingin. Ya, ini menyedihkan bagi orang yang menjadikan cinta sebagai sebuah mitos.
"Lebih menyedihkan mana Akagi-san?" meskipun begitu, Kaga tidak akan menyerah. "Antara aku yang mencintaimu. Atau kau yang lupa bagaimana caranya mencintai."
Sejak saat itu, Kaga tak pernah bisa memahami kenapa ia begitu ingin memberi Akagi pelajaran. Akagi menariknya jauh ke dalam kedamaian, menyelami betapa dalam makna cinta yang tengah ia rasakan. Akagi memberikannya berjuta rasa, sedih-senang, kesal-bahagia, apapun seluruhnya. Membuat wajahnya semakin menua karena senyum yang ia hadirkan.
Akagi memutuskan untuk tak lagi menginjakkan kakinya di sana. Rumah yang ia percaya sebagai tempatnya bertumbuh. Meskipun begitu, tak lagi ia rasa ada dendam yang harus ia tahan dalam hatinya. Ibunya telah memaafkannya, dan ia telah menyadari seberapa besar dosa yang ia lakukan, dan Kaga tak mau lagi memaksa.
"Biarkan saja dia begitu." Kaga menahan gerakan sumpitnya. Meski mulutnya masih berkerja untuk mengunyah. Suara ayahnya membuatnya terdiam. Mereka bertiga sedang berkumpul dalam suasana makan malam. Dan bercerita tentang Akagi yang kembali menampakkan dirinya setelah sekian lama.
"Dia telah dewasa, melakukan apapun yang dia mau adalah keputusannya. Akupun melihat dia baik-baik saja selama ini." Kaga kembali mengulurkan tangannya. Meraih tempura yang masih terhidang cukup banyak di atas meja. Mungkin apa yang ayahnya ucapkan ada benarnya.
"Dan kau Kaga, rasanya sudah cukup bagimu bermain-main sebagai seorang bawahan. Jika Akagi tidak mau, kau bisa menjadi pewaris di perusahaan tempatmu berkerja."
Detik itu juga, rasanya untuk pertama kali Kaga sulit menelan dalam hidupnya.
.
.
Kaga melangkah pelan di sepanjang koridor lantai tempatnya berkerja. Menimbang-nimbang, apakah ia sanggup melepas sedikit kebahagiaan yang kini ia rasa sudah cukup dalam hidupnya. Menjadi seorang karyawan, memiliki rekan yang cukup mampu membuatnya nyaman. Juga atasan yang membuatnya merasa hidup. Akagi orangnya.
"Wow Kaga-san. Tumben kau sedikit telat pagi ini." Kongou langsung memberi sapaan saat Kaga sudah menunujukkan dirinya dalam ruangan. Dan hanya ia balas dengan senyuman.
"Apa Akagi-san sudah datang?" Kaga meletakkan tas jinjingnya. Ditatapnya Kongou dan Kitakami bergantian. "Kalau tidak salah dia ada di ruangannya bersama dengan Shoukaku-san." balas Kitakami seadanya. Belum Kaga berhasil menerjemah dalam otaknya, Kongou langsung mendahului dengan ucapannya. "Setelah sekian lama mereka terpisah, akhirnya bersama juga." Celotehnya dengan cengiran yang entah mengapa membuat jiwa Kaga tiba-tiba terasa kesal.
Diabaikannya panggilan Kongou yang masih menatapnya bingung. Juga Mutsu yang berpapasan dengannya. Sampai Kitakami mengangkat kedua bahunya bingung saat mendapati isyarat kebingungan Mutsu yang menatap dirinya.
Ruangan itu, lagi-lagi membuat rindu Kaga meluap. Didorongnya keras pintu itu dan mendapati Akagi dan seorang wanita yang sudah lama tak ia lihat kini menatap tepat ke dalam matanya.
"Maaf, bisa aku masuk." ucapnya tanpa menunggu balasan Akagi si empunya. Shoukaku langsung bangkit gugup memandang Kaga yang saat itu sama sekali tak berniat memandangnya. Hanya Akagi yang mampu menyedot semua perhatiannya.
"Bisa kau tinggalkan aku bersama dengannya, Shoukaku-san?"
Shoukaku mengangkat kepalanya menatap Kaga yang sudah duduk menggantikan posisinya tadi. Menatap Akagi dengan tatapan yang terlalu sulit ia alihkan.
"Tapi, ada sesuatu yang harus kami bicarakan-"
"Ini perintah. Dari seseorang yang akan menjadi pewaris perusahaan ini. Shoukaku-san."
Akagi melepas blazer yang membungkus tubuhnya. Tak dibiarkannya matanya berpaling dari tatapan Kaga darinya. "Pergilah Shoukaku-san. Malam nanti temui aku di apertement-"
"Bahkan sampai subuh, kau akan tetap bersamaku." Kaga mematahkan perintahnya.
"Apa hubunganmu dengan wanita itu?" Kaga kembali setelah menutup pintu ruangan Akagi. Kembali mendekati wanita itu yang kini sudah duduk di sofa putih ruangannya.
"Yang pasti tidak seperti hubunganku denganmu." Balas Akagi, meraih kotak kecil yang terlihat menarik perhatiannya terselip di antara bantalan sofa. Kotak rokok yang selalu ia sediakan untuk tetap ada di dalam ruangannya.
.
"Selamat Kaga-san. Pria tua itu memberimu hak untuk mewarisi perusahaannya." Akagi tersenyum, sambil digigitnya lirih filter rokok yang mulai basah oleh mulutnya, dan menyalakan api untuk membakarnya. Membiarkan kepulan-kepulan asap tercipta untuk menodai udaranya. Akagi sudah mendengarnya langsung dari Nagato akhir-akhir ini. Yang ia tidak habis pikir, kenapa begitu cepat. Bukankah itu artinya ia yang harus pergi dari sana? Ya, ia harus pergi sebelum statusnya yang telah disembunyikannya dengan rapi, akan terkuak.
"Kenapa kau selalu menolaknya, Akagi-san. Dan kenapa kau menutupi identitasmu sebagai anak dari-"
"Aku tidak butuh itu. Jika seluruh dunia tahu aku anak kandung dari seorang pemilik, apa kau pikir aku bisa tersenyum bangga? Aku tidak perlu itu, Kaga-san." Akagi melepas kepulan asap yang jauh lebih besar dari kepulan-kepulan sebelumnya dari mulutnya. Seakan ia begitu menikmatinya. Tidak percuma ia menjadi dekat dengan Shoukaku, seorang wanita yang memberinya kehidupan lain meskipun itu menghancurkannya.
"Shoukaku-san, apa kau penasaran dengannya?" Akagi merasa sesak jika harus menyebut nama itu keluar dari bibirnya. Setidaknya, wanita itu lah yang membuatnya menjadi semenderita ini. Kaga menunggu Akagi melanjutkan ucapannya. Ekspresinya telah berubah menjadi senduh, ditatapnya langit-langit ruangannya dengan kepala yang menengadah ke atas. Sedang asap rokok itu mengaburkan pandangannya.
"Dia wanita yang kudapati mendesah dengan seorang pria yang dulu pernah kucintai."
Kaga, merasakan sesak di dalam dadanya semakin tak beraturan. Apalagi ketika sebulir air menetes dari ujung mata Akagi, dan jatuh melewati telinganya.
"Dan menarikku menjadi wanita sehancur ini." senyumnya lirih. Kesepian di antara mereka menjadi semakin dingin mencekam. Akagi tak mau peduli sedang bagaimana Kaga setelah mendengar penuturannya. Matanya masih tetap terpejam. Sedang sebatang rokok masih tersimpan dalam bibirnya. Sampai ia tak sadari Kaga sudah berdiri di hadapannya. Kaga menarik sebatang rokok di bibir Akagi dengan cepat, melemparnya tak peduli kemanapun, sambil salah satu lututnya ia selipkan di antara kedua kaki Akagi yang ia paksa semakin terbuka, sedang kedua tangannya ia tumpuhkan di kedua sisi kepala Akagi di atas sandaran sofa, sambil menahan beban dirinya yang kini membiarkan wajahnya menatap wajah Akagi yang masih mengarah ke langit-langit ruangan. Akagi seketika membuka matanya saat ia merasakan Kaga sudah mengunci gerakannya. Dan yang ia dapati adalah, langit-langit ruangan terganti oleh pandangan akan wajah Kaga yang terlalu dekat padanya. Rambut-rambut Kaga jatuh menurut gravitasi, menyentuh wajah Akagi yang cantiknya tak terkira. Napas mereka saling beradu, tatapan mereka saling mengikat, dan Kaga berinisitif merasakan pahit rokok yang tersisa dalam bibir Akagi.
.
.
Akagi mendesah kecil saat ia rasakan, tangan Kaga sudah menelusuri dadanya yang terbusung. Melepas satu persatu kancing kemeja yang menutupinya. Menyentuhkan ujung jarinya kepermukaan kulit dada Akagi yang begitu lembut dan menagih. Sedang bibir mereka masih saling terpaut dalam basahnya birahi. Birahi seorng gadis muda akan seorang wanita hamil yang dicintainya.
"Hentikan, Kaga-san."
Ruangan itu masih sunyi oleh kata-kata, namun banjir oleh desahan manis yang tak sengaja lepas dari bibir si empunya. Akagi menarik tangannya untuk tetap menahan gerakan Kaga. Menahan tubuh gadis itu, pergerakan tangannya, juga segala tindakannya.
"H-hentikan."
Masih batinnya yang membantah segala tindakan Kaga padanya.
Lantas dibukanya matanya. Dan hanya Kaga lah yang menguasai pikirannya. Bibir mereka masih bertemu, bersentuhan dan basah. Saling berinteraksi sehingga menimbulkan sensasi yang tiada duanya.
He-hentikan. Ini memalukan."
Suara-suara dalam otaknya masih terus bersuara. Akagi merasa ini salah. Ia tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini sebelumnya. Dalam hidupnya. Meski batinnya megutuk, tapi tubuhnya meminta lebih.
Kaga melepas kecupannya. Membiarkan bibir Akagi memerah karena tindakannya. Sedang Akagi langsung menutup matanya cepat saat Kaga kembali mulai menatapnya. Rasanya malu pada dirinya sendiri. Melihat itu, Kaga tersenyum. Di sentuhnya bibir basah Akagi dengan ibu jarinya, mengusap lelehan liur mereka yang menggenang di sana. Lalu ditekannya penuh dengan keintiman, seakan ia masih terlalu ingin menguasainya.
"Entah bagaimana Tuhan mengukir ragamu saat di dalam kandungan, Akagi-san. Yang aku temukan sekarang, kau benar-benar sebab dari segala dosa." Bisiknya tepat ke telinga Akagi. Sambil mengecup lembut si empunya. Memikirkan bagaimana tangan-tangan pria menyentuh kulit Akagi sampai membuat wanita ini hamil, membuat Kaga semakin ingin memilikinya seorang diri.
"Kaga-san."
Untuk saat ini. Hanya itulah yang berhasil Akagi ucapkan. Pikirannya sudah tak lagi bisa sejalan dengan batinnya. Tubuhnya menguasai semuanya.
"Entah bagaimana Tuhan membentuk jiwamu saat di dalam kandungan, sepertinya kau adalah jiwa yang sengaja diciptakan untuk menemuiku."
Akagi memejamkan matanya.
.
.
NB : Hancur! Dan nyaris TIDAK DILANJUTKAN.
