.

.

Spica Zoe

Present

AKKG Fiction

.

Disclaimer

Chara : Kadokawa Games

Story : Spica Zoe

.

"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."

.

Akagi - Kaga

.


Bersama

.

Seharusnya bagaimana. Akagi diam tak bersuara. Tetesan air dari langit membuatnya terpaku dalam pandangan yang nanar dan tak berarti. Sedang di sisi lain, seorang gadis tengah terpejam mengukir rupa dalam kegelapan.

Pukul sembilan malam, langit Tokyo menangis mengundang sendu. Meski hening membelenggu kedua sisi jiwa, tapi suara hati menyerukan nada lain yang tak tersampaikan.

"Kau mau berdiri sampai kapan, Akagi-san?"

Kaga membuka matanya. Rupa yang ia ukir dalam kegelapan, terbentuk menjadi nyata saat ia kembali menatap Akagi yang hanya diam mematung di sisi jendela.

"Diam!"

Hanya itu yang Kaga dapatkan. Arogansi yang terdengar begitu membara dari nada suara yang pertama kali ia pahami. Membuatnya tak ingin mematuhi perintah.

"Mulai lusa, aku adalah atasanmu. Akagi-san. Pantaskah kau memberiku perintah?"

Mendengar itu, Akagi menggeram.

Kaga mengangkat tangannya lembut. Menyentuh bahunya yang terasa perih dan ngiluh. Luka itu ulah Akagi, yang menolak ia sentuh pagi tadi. Luka gigitan yang membuat Kaga tersenyum miris karenanya. Luka berharga mungkin.

Karena itu dari Akagi.

"Hujan mungkin akan tetap turun sampai pagi,"

Kaga menarik tubuhnya bangkit. Berniat mengangkat kaki untuk kembali pulang.

"Ikutlah denganku pulang." Lanjutnya lemah. Ditatapnya bayangan tubuh Akagi yang masih berdiri membelakanginya. Punggung yang indah.

Jiwa yang terpenjara.

"Aku akan menginap jika hujan masih bersikap egois." Suara Akagi membuat Kaga merasa sesak.

"Kalau begitu, aku juga." Balas Kaga lemah.

Akagi habis sabar. Menghadapi gadis muda dengan pemikiran yang masih tak bisa ia mengerti ini membuat kesabarannya mulai redup.

"Jangan egois Kaga-san. Jika kau mau pulang, lakukan saja. Ini tidak ada urusannya denganku kan?" kesal juga akhirnya Akagi. Membuat Kaga merasa ingin terus memandangi wajahnya yang kini sudah bisa ia nikmati sepenuhnya. Sebab sejak tadi, wanita ini hanya terus menghindarinya.

"Hujan kau sebut egois," Kaga melangkah pelan. Mempersempit jarak antara ia dan wanitanya. Dengan rupa wajahnya yang khas. Diam dan tenang. "Aku pun kau sebut egois," tujuh langkah yang ia tinggalkan membuat jarak di antara mereka mulai menyatu. "Lalu dirimu kau sebut apa?" dan langkah terakhir berhasil membuat Kaga mampu merasakan deruh napas dingin Akagi pada wajahnya. Mereka beradu tatap. Saling menantang dan tak mau kalah. Menggeram dalam batin.

Yang satu terlalu ingin, yang satu terlalu dingin.

Kombinasi yang begitu menyiksa semesta yang ingin menyatukan mereka. Sepertinya memang tidak mudah.

Kaga bisa merasakan jika Akagi mulai mengeraskan rahangnya. Wajah yang ia rasa begitu ingin membunuhnya. Tapi, Kaga tak mau kalah. Ya, untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai, bahkan jiwanya pun sanggup ia berikan. Kurang bukti apa kesungguhannya selama ini ingin memiliki Akagi? Bahkan luka di bahunya pun tak membuatnya jerah.

.

Menggigitnya? Ah, Jika Kaga bisa mengulang masa pagi tadi. Dimana ia terus memaksa mencumbu Akagi, saat Akagi dengan jelas menyuruhnya berhenti. Tidak hanya bibir. Kaga bahkan menjalari leher Akagi, menahan gerakan kedua tangan mangsanya. Mengecupnya sana-sini. Menelanjangi dadanya. Membuat si wanita hamil itu hampir menjerit untuk meminta pertolongan. Untung saja ada celah bagi Akagi untuk memberi gadis itu pelajaran. Digigitnya bahu Kaga yang hanya itu lah yang ia bisa dapatkan. Membuat Kaga menjerit keras dan spontan melepaskan cengkramannya dari kedua tangan Akagi. Dan dengan napas terengah, Akagi hanya mampu memandang Kaga yang meringis kesakitan sambil meremas bahunya yang perih dan berdarah. Tak tega sebenarnya. Tapi apa boleh buat.

Suara jeritan Kaga memancing perhatian dari luar ruangan. Mutsu yang kebetulan lewat, mengetuk beberapa kali pintu ruangan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana. Sampai Akagi sendiri memberi perintah agar Mutsu tak berniat melangkah masuk dan memergoki mereka yang sedang dalam keadaan tak layak untuk memberi penjelasan.

"Maafkan aku."

Bagaimanapun Akagi tetap tidak sengaja. Diraihnya lengan Kaga dan menariknya untuk duduk di sofa. Sedang ia sendiri melangkah cepat mengambil sesuatu yang dingin untuk luka Kaga.

"Maafkan aku." Ucapnya lagi penuh penyesalan.

"Tak apa." Kaga meraih kaleng bir dari tangan Akagi. Sambil menatap mata wanita itu tulus. Wajah nyerihnya masih sangat jelas terlihat. Membuat Akagi merasa khawatir. "Mungkin ini bisa kujadikan kenangan karena telah nyaris memilikimu." Sambungnya menarik tatapannya. "Pakai bajumu. Aku tak ingin kau kedinginan karena berpenampilan seperti itu."

Sontak, Akagi langsung menunduk menatap tubuh atasnya yang tak lagi memakai kemeja yang sama dengan yang Kaga kenakan.

.

Perasaan apa ini? Kenapa begitu menyiksa memiliki perasaan yang seperti ini. Suka cita, gelisah, kepercayaan diri, khawatir, sengsara dan ratusan jenis lainnya. Kenapa jadi sering terasa. Tatapan Akagi yang seperti ini mengapa membuat Kaga semakin ingin disiksa oleh perasaannya sendiri.

"Kau mahkluk bedebah, Akagi-san. Membuatku semalang ini."

Kaga membiarkan hatinya menerjemah kesakitan perasaannya. Jutaan tetesan hujan di luar sana terasa berhenti bergerak hanya karena pandangan mereka serasa mampu menghentikan waktu yang membungkus dunia.

"Penciptamu adalah maha terkutuk karena telah membentukmu seberkuasa ini, yang telah mampu mengendalikanku."

Umpatan dan makian yang terdengar sunyi dan tak bernada, namun begitu nyata. Membuat tatapan mereka semakin mengikat. Jika ini sebuah panggung. Maka seluruh mulut akan menganga menunggu sebuah penantian menegangkan dari sepasang insan yang tengah bertarung dengan masing-masing pedang ditangan. Saling menghunus. Bersiap menusuk. Dalam wajah tergambar amarah dan kebencian. Namun dalam hati, merasa menahan rindu dan hasrat untuk saling memiliki.

Kaga dan Akagi.

"Jangan membuatku marah, Kaga-san."

Tegas sekali. Akagi nyaris tak berkedip menatap ke dalam mata Kaga. Amarahnya melapisi wajahnya. Kaga takut? Tidak. Jika takut, jangan sebut ia Kaga. Ancaman seperti itu, tak pernah bisa membuatnya mundur meski seluruh dunia menyentuhkan ujung pedang di seluruh permukaan kulitnya.

"Jangan membuatku semakin mencintaimu, Akagi-san."

Hanya hasrat sesederhana itu yang Kaga ingin ucapkan. Tapi tampaknya Akagi tak mau peduli.

"Menjijikkan." Ucap Akagi pedas. Mencintai seseorang yang tak layak kau cintai, bukankah itu menjijikan?

"Memang." Tak Akagi duga, Kaga membalasnya seperti itu. Tajam sekali mata Kaga menatap matanya. Tapi mengapa ia tak pernah merasa takut karenanya. "Mencintai seorang wanita yang tengah hamil oleh pria lain memang menjijikkan." Lanjutnya tak berpaling. "Tapi, apa dayaku?"

.

Cinta adalah kekejaman.

Seumur hidupnya, puluhan pria telah mengatakan itu berulang-ulang dihadapannya.

Cinta.

Cinta.

Cinta.

Kadang ketika ia terpejam.

Ketika ia tertawa.

Ketika ia bahagia.

Saat ia berpenampilan menarik.

Saat ia sukses dan sejaterah.

Saat ia kaya raya.

Bahkan saat ia mendesah.

Tapi baru ini ada seseorang yang selalu mengulang hal yang sama, berkali-kali disetiap keadaan dimana ia sedang marah, kesal, tak bersahabat dan menyebalkan seperti ini. Seorang perempuan pula.

"Apa yang kau inginkan dariku, Kaga-san?"

Lupakan segalanya. Memelihara amarah disaat seperti ini tak ada gunanya jika menghadapi Kaga.

"Biarkan aku bersamamu."


Kaga merasa terhormat. Seluruh orang di perusahaan ini bertepuk tangan padanya. Di ruang aula yang begitu besar. Ratusan karyawan memandang pada satu pusat di atas podium. Seorang gadis muda dengan wajah yang khas dan juga senyuman yang khas baru saja diumumkan menjadi seorang presiden utama yang mengepalai seluruh divisi. Dan di sampingnya, tengah berdiri seorang pria tua yang sudah lama Kaga sebut sebagai ayah.

"Ini bukan mimpi kan?"

Suara riuh tepuk tangan masih saling menyahut. Sedang Koungo sudah sangat ingin berbicara.

"Aku tak menyangka selama ini jika Kaga-san itu ternyata pewaris perusahaan ini." lanjutnya masih terheran-heran. Mereka se-divisi lebih memilih untuk berada di sudut ruangan. Kitakami, Musashi, Yamato dan yang lainnya juga berada di sana. Tak terkecuali Akagi yang memilih untuk berdiri di belakang mereka. Dan mau tak mau ocehan Koungo terdengar olehnya.

"Aku jadi takut mendapatkan masalah karena telah terlalu sembrono padanya. Aku pikir dia hanya seorang biasa." Bisik Kitakami tidak enak. Mengingat dulu ia sering menasehati Kaga yang ternyata sebenarnya orang dengan status yang jauh lebih tinggi darinya.

Akagi melipat kedua tangannya di dada. Meski matanya memandang podium dan sorotan-sorotan lain di depan sana. Tapi ucapan-ucapan rekannya pun tak dapat ia hindari.

"Jika aku tahu kalau anak itu pewaris, aku akan lebih menjaga sikap saat berteman dengannya." Bisik Koungo penuh penyesalan.

"Beruntung sekali kita, pernah menjadi temannya. Apa ia akan tetap menjadi Kaga kita setelah menjadi presiden nanti?" tak terduga juga, kalimat itu terucap dari mulut Musashi yang sebelumnya tidak begitu peduli dengan apapun tentang Kaga.

Ditengah pembicaraan tak berarti itu, ditengah riuh-riuh sambutan penuh senyuman di dalam ruangan itu, akhirnya Akagi memutuskan untuk berlalu. Ada atau tidak adanya ia di sana pun mungkin tak ada artinya. Ia hanya seorang manajer dari divisi yang tak begitu berpengaruh. Apalagi saat mendengar ocehan-ocehan tentang pewaris yang membuat jiwanya merasa tak pantas.

"Mau kemana, Akagi-san?" belum sempat melangkah, Akagi sudah mendapati Shoukaku memanggil namanya. Membuat semua orang disekitarnya secara langsung menatap matanya. Ada Koungo, Kitakami, juga yang lain di divisinya. Yang menjadi rekan sedivisinya. Bagi Akagi, tatapan mereka ibarat sebuah sorot lampu yang membuatnya lebih ingin bersembunyi di dalam kegelapan. Memaksanya untuk menghindari silaunya.

"Aku lelah." Ucapnya datar. Sampai membuat Koungo tak ingin memandangnya. Sedikit takut jika Akagi sudah berekspresi seperti itu.

"Kaga-sama berpesan akan mengundang divisi kita untuk merayakannya sore ini. Ia berpesan padaku kau juga harus ikut." Ucap Shoukaku lembut.

Akagi menatapi wajah rekan sedivisinya satu persatu. Membuat mereka tanpa perintah langsung menunduk takut. Ya, Akagi memang terkenal dengan auranya yang entah mengapa begitu kuat menekan aura lain yang berada di sekitarnya. Membuatnya merasa begitu mengerihkan.

'Kaga-sama' katanya? Bukankah itu terlalu berlebihan? Dan divisi 'kita'? Akagi mengulangnya dalam hati. Ucapan Shoukaku yang seharusnya tak begitu penting ia pikirkan.

"Tidak ada perayaan. Aku benci keramaian."

Setelah mengatakan penolakannya. Akagi melanjutkan niatnya untuk pergi dari sana. Membiarkan semua orang hanya memandangnya tak mengerti. Akagi memang begitu. Shoukaku pun tahu seberapa keras keteguhan wanita itu.

"Dia memang keras kepala. Cari mati. Padahal ini kebaikan hati Kaga-sama untuk mengundangnya. Apa dia tidak tahu bagaimana cara menghormati orang lain?" celetuk Koungo asal. Hingga Kitakami dengan cepat menegernya dengan satu senggolan kecil ditubuhnya.

"Sejak kapan kalian memanggilnya dengan panggilan itu?" seru Yamato menatap Koungo sedikit selidik.

"Semua orang sudah memanggilnya begitu, mau bagaimana lagi?" jawab Koungu datar.


Ucapan selamat yang membosankan. Perayaan yang membosankan. Senyuman yang membosankan. Perhatian yang membosankan. Akagi tidak pernah suka merasakannya. Lebih baik meninggalkan semua aroma kemewahan itu dan kembali ke ruangannya. Membereskan sisa pekerjaan yang masih bisa ia kerjakan sebelum waktu habis kerja memaksanya kembali ke jalan pulang.

.

Meski apertemen ini kecil, Akagi tidak mau peduli. Pulang dan membuka pintu, lalu mendapati keadaan rumah yang luar biasa berantakan pun adalah hal yang masih ingin ia rindukan. Tidak apa, begini saja cukup. Perasaan hangat seperti ini pun sudah mampu membuatnya merasa masih memiliki nurani sebagai manusia. Itu artinya ia masih bisa merasa.

Akagi memunguti beberapa potong pakaian yang berserakan di lantai. Lalu membereskan beberapa benda yang merusak pandangannya. Disingkirkannya perlahan, dirapikannya sebisanya. Hingga menjadi layak kembali. Sedangkan beberapa potong pakaian pria itu, ia sampirkan di atas sofa lain yang kosong di hadapannya.

Akagi memilih untuk duduk. Seragam kerja yang menyiksa, itu membuatnya sangat tidak nyaman. Diselidikinya setiap sudut ruang tamu yang membuatnya berhasil mengenang masalalu. Ruangan ini masih tetap sama. Tidak ada yang berubah. Bahkan bau nya sekalipun. Sunyinya malam membuat Akagi termenung dalam jangka waktu yang tidak singkat. Meski lama kelamaan suara desahan itu merusak kilasan masalalu yang ingin ia ulang.

Tidak perlu heran jika desahan itu menjadi hal yang paling membosankan dalam pendengarannya. Apertemen ini memiliki dua kamar. Satu untuknya, dan satu lagi untuk si penghuni kamar tempat dimana desahan itu berasal. Teriakan penuh nafsu. Kata-kata kotor yang telah sangat biasa Akagi dengar. Sekilas, Akagi kembali memandang potongan kain pria yang tadi ia kumpulkan. "Tak pernah ada habisnya." Bisiknya dalam hati.

Ah sudahlah. Akagi tak begitu ingin peduli. Rasanya malam ini ia begitu lelah. Tidur mungkin akan memulihkan seluruh kepenatan rasanya. Baru saja ia berniat untuk berhambur melangkah ke pintu kamarnya. Tiba-tiba suara ketukan dari pintu utama mengaggetkannya.

Bukan kaget karena siapa gerangan orang yang datang berkunjung ke tempatnya? Pasti bukan tamunya. Apa mungkin tamu-

Belum selesai memikirkannya. Suara ketukan itu lagi-lagi terdengar begitu memekakkan telinga. Begitu keras. Kasar. Penuh pemaksaan. Membuat Akagi merasa terganggu juga. Apalagi saat ini waktu sudah cukup larut. Akagi memutuskan untuk membukakan pintu. Tapi hal lain lebih dulu menghentikannya.

"Sialan! Siapa yang membuat keributan kampungan seperti itu?!" Akagi sudah mendapati pintu kamar lain dalam ruangan itu terbuka. Seorang gadis muda yang tinggal dengannya. Dengan hanya ditutupi kain tipis. Ia melangkah kesal ke arah pintu utama. Mengabaikan Akagi yang masih diam pada posisinya. Siapa yang tidak kesal coba, sedang asyik bercinta. Suara bising menggangg klimaksnya.

"Pakai dulu bajumu. Fubuki-san."

Gadis ini memang tak begitu peduli dengan apapun yang terjadi di dunia ini. Kesal sudah menodai jiwanya. Mana lagi ia mau peduli.

"Apa nee-chan pikir aku bisa lebih lama membiarkan bedebah ini membuat keributan saat aku membuang waktu untuk memakai pakaianku?" ucap gadis itu tanpa memandang. Terus melangkah dengan kesal sambil menarik pintu untuk terbuka. Dan menemukan seorang gadis yang sudah memasang tampang kesalnya di sana.

Mereka terdiam beberapa saat. Membuat Akagi menjadi ingin tahu siapa yang datang.

"Kau siapa?" tanya Kaga. Yang tak habis selidik menelusuri pandangannya pada tubuh gadis di depannya. Tanpa busana? Apa yang sedang terjadi dalam kamar apertemen ini?

Fubuki semakin kesal. Pertanyaan macam apa itu. Tuan rumahnya siapa?

Sedang di pintu utama Fubuki sedang menerima tamu yang masih tak Akagi ketahui. Di dalam, Akagi mendapati pria seumurannya keluar dari kamar Fubuki. Hanya dengan lilitan kain tipis untuk menutupi kemaluannya. Dan melangkah mengabaikan Akagi yang memandanginya datar.

"Dimana pakaianku?" tanyanya mencari.

Akagi tak menjawab.

.

"Apa yang kau lakukan dengan penampilan seperti itu di tempat Akagi-san?" Tanya Kaga cepat tanpa membuang waktu. Tujuannya hanya ingin menemui Akagi. Tidak yang lain. Mendapati gadis itu hanya diam. Kaga memaksa untuk masuk.

"Aku ingin masuk." namun langkahnya tertahan oleh penolakan Fubuki yang langsung mendorong tubuhnya. Membuat mereka saling memandang penuh kekesalan.

"Apa aku memberimu izin untuk masuk?" tanya Fubuki angkuh. Merasa kesal, Kaga menahan sabarnya. Perempuan ini terlihat begitu hina berpenampilan seperti ini di hadapannya.

.

"Sial sekali hari ini. Padahal aku baru beberapa kali keluar." Akagi mendengar ocehan pria itu. Sambil mengenakan pakaiannya di tempat yang sama dimana ia menemukannya. "Permainan Fubuki-chan tak lagi sebaik dulu. Dia sudah terlalu sering melakukannya. Membuatnya begitu mudah dimasuki. Tidak ada rasa." Ucap pria itu dengan sentuhan terakhir pada penampilannya. Ditatapnya wajah Akagi sesaat sebelum melangkah keluar meninggalkan tempat itu. Beberapa kali ia bercinta di sana, baru ini rasanya ia bisa puas memandangi Akagi yang selalu menjadi bahan perhatiannya. Mungkin, bercinta dengan wanita ini akan jauh lebih menggigit jika dibandingkan dengan Fubuki.

Mungkin.

.

"Tidak kau berikan izin pun aku akan tetap masuk." kesal juga rasanya. Gadis ini membuatnya membuang banyak waktu. Ia sudah sangat ingin menemui Akagi. Sangat.

.

Pria itu melangkah mendekati Akagi yang sama sekali tak begitu peduli pada kehadirannya. Tatapan penuh nafsu. Gairah liar dan bejat. Akagi begitu mengerti arti tatapan ini. Sangat mengerti apalagi saat pria itu sudah meraih tangannya.

"Apa kau tidak pernah berniat untuk bercinta denganku?" tanya pria itu tak tahu malu. Mendekati Akagi yang hanya diam tak bereaksi. Pria berengsek. Akagi rasa itu adalah sebutan yang paling cocok ia berikan untuk pria ini.

Tapi, tunggu dulu. Kenapa rasanya begitu berbeda. Saat dulu, awalnya dengan cara seperti ini juga ia berakhir dengan nafsu oleh pria-pria yang tidak ia kenal. Apa karena Kaga sudah lebih dulu mengusik jiwanya. Sentuhan Kaga jauh lebih diinginkannya dari pada sentuhan dari pria ini. Padahal yang namanya seks, sama saja.

Pria itu melangkah mendekati Akagi lebih dekat. Seperti diberi kesempatan untuk datang, pria itu tak lagi segan untuk menarik tangan Akagi yang satunya lagi lalu menariknya ke dalam pelukannya. Tapi, sebelum itu terjadi. Akagi sudah menahan gerakannya.

"Sebelum aku membunuhmu. Pergi dari pandanganku." Ucapnya menepis tangan pria itu. Bukannya takut, sang pria semakin berselera. Iblis mana yang dengan mudahnya tobat hanya dengan ancaman dan kata-kata.

"Kau pikir aku takut?" bisik pria itu dengan seringaian nakalnya. Ia semakin bernafsu saja dengan penolakan Akagi. Tatapan amarah Akagi membuat libido-nya naik entah karena apa. Ditariknya Akagi dengan satu sentakan keras, terlambat diantisipasi. Akagi sudah terhempas di atas sofa. Membuat pekikannya merajai ruangan. Belum ia selesai merasakan rasa sakit karena hempasan di tubuhnya. Pria itu sudah menindihnya paksa. Memaksanya.

Semakin bersemangat saat Akagi menolaknya begitu keras. Menghindari bibir kotor itu menyentuh kulitnya. Akagi bertahan.

.

"Kau tetap tidak boleh-"

Ucapan Fubuki terhenti saat pekikan Akagi sampai ke telinganya. Kaga pun sama. Bersamaan mereka menoleh ke dalam ruangan. Dan tanpa membuang waktu. Langkah kaki mereka pun berhamburan menuju ruang tamu. Mendapati Akagi tengah berusaha melindungi dirinya.

Fubuki marah.

Kaga? Dunianya seakan lenyap saat melihat pria itu menyentuh Akagi-nya.

"Apa yang kau lakukan? Berengsek!" Fubuki kesal setengah mati. Ditariknya tubuh pria itu menjauh dari tubuh Akagi. Memukulinya tak peduli. Sedang Kaga. Amarahnya telah berada diambang batas. Diraihnya sebuah helmet yang berada di sudut ruangan. Kemudian, sudah jelas siapa yang akan ia targetkan dalam amarahnya kali ini. Sedang Fubuki sudah berhasil menarik bajingan itu menjauh dari tubuh Akagi, dan memukulinya habis-habisan.

Kaga melangkah mendekati mereka berdua.

.

"Hentikan Kaga-san!"

Hampir saja terlambat. Jika Akagi tidak cepat menahan Kaga dan menariknya. Sudah Akagi pastikan, mungkin pria itu akan terkapar dengan lumuran darah di kepalanya.

Suara Akagi juga menghentikan amukan Fubuki. Dalam keadaan seperti ini. Sebelum amarah Kaga kembali menyala. Akagi memberi perintah agar Fubuki menyeret pria itu keluar.

Kaga tidak terima. Berusaha keras ia menepis tangan Akagi yang menahannya. Dan mengejar pria itu. Tapi tidak tega rasanya melepas genggaman Akagi dari miliknya.

Sampai pria itu menghilang dari pandangan mata.

Fubuki menjadi merasa sangat bersalah. Ditatapnya wajah Akagi yang kini hanya memfokuskan pandangannya pada Kaga. Amarah Kaga begitu membuatnya tak berdaya.

"Maafkan aku." Bisik Fubuki mendekati mereka berdua. Tapi Akagi mengabaikannya. Ditariknya Kaga untuk ikut ke kamarnya. Meninggalkan Fubuki yang terlalu menyesal karena kejadian ini.

.

Di dalam kamar. Kaga membantu Akagi melepas pakaiannya. Ada satu luka yang terbentuk di lengannya. Luka goresan yang membuat Kaga merasa bersalah.

"Apa ini sakit?" tanyanya peduli.

"Sebenarnya kalian terlalu berlebihan menanggapinya. Dia hanya menghempaskanku kasar dan membuatku menjadi hilang kendali." Ucap Akagi menatap luka ditangannya bergantian dengan wajah khawatir Kaga.

Kaga akui, amarahnya memang begitu tak terkendali saat melihat pria tadi menindih Akagi. Meski ia tahu Akagi pun bisa mengatasinya. Hanya saja suara pekikan Akagi tadi membuatnya menjadi sangat takut.

Tapi, Kaga bersyukur jika Akagi merasa baik-baik saja. Dan juga. Rasanya ini pertama kali Kaga berada dalam kamar Akagi. Bau tubuh Akagi begitu mendominasi. Akagi meninggalkan Kaga di posisinya. Sedang ia bangkit meraih pakaian tidur untuk malamnya.

"Selamat untuk perayaanmu, Kaga-san." ucap Akagi tanpa memandang. Dan karena ia tak memandang. Ia pun tak menyangka jika Kaga sudah berada dibelakang tubuhnya. Dan mendekapnya penuh rasa rindu.

"Ayo mandi bersama." Bisiknya pelan tepat ke telinga Akagi. Membuat mata Akagi membulat sempurna. "Bekas sentuhan pria itu, masih tertinggal di kulitmu." Lanjutnya penuh makna.

.

.

.

.

.

.

.


AN : "Bekas sentuhan pria itu, masih tertinggal di kulitmu." /Dibaca : Hanya aku yang boleh meninggalkan bekas sentuhan dikulitmu./

Udah saya bilang Hiatus. Trus ada yang nge-LINE minta dilanjut. Ya, saya coba. Asal besok-besok dia jangan nge-LINE minta dibuatin anak, saya gak bisa janji.